Haddy: Obituari

In the place where my father came from, death is a truly important matter. Oftentimes, I have a feeling that it is even much more important than the life itself… as if life is a part of the death, but not vice versa. As a kid growing up with such cultural background, I have come to learn to see death differently. Death, in the place where my father came from, is glorious.

But nothing could console me when I got the news that our beloved friend Haddy passed away on 19 November 2019. It broke my heart. Any cultural explanation failed. I remember it was Saturday night in Yogyakarta, Indonesia, and I could feel the sky fell apart upon me.

In the next 24 hours or so, I mourned. My morning coffee felt more bitter. The day was done before it was even started. I went to the beach in the south to try to console myself… to look for the answers to the questions I did not even know who to ask to.

Why her? Why did it happen to her?

In the next 24 hours or so, I tried to recollect my memories of her. I remembered that night in her place in Bornsesteeg where we, the Emily (MLE class of 2016), had our first chapati party. I could almost remember Haddy smiled to me and teased me as I could not finish her hand-made chapati. From now on, whenever I see or hear ‘chapati’, I surely will remember her.

In Wageningen, whenever we met each other, he almost always called me ‘Hi Baby Boy!’ with her high-tone voice, the one that you cannot hear from anybody else. Not in Wageningen, not in Indonesia, not in anywhere in the world. Haddy is Haddy. She will be missed. Her smile, her out-of-nowhere choices of words, her ability to live up the group and party, her dance movement, her warm heart.

If one asks me one or two words to describe her, I would like to remember her as someone who stays true to herself. You cannot find that attitude in all people. So, I am really grateful to have a chance to meet her and to be her friend. “Really??????” she might respond me, with her typical tone. Yes, Haddy. Thank you for the memories.

Rest in Peace, our beautiful soul.

Till we meet again.

(Jogja-Jakarta, October 24th, 2019)

Akung

Jauh sebelum internet meledak, imajinasi saya tentang dunia utara telah dibangun oleh Akung Cepu, ayah angkat ibu saya.

Sejak saya kecil hingga mahasiswa, setiap kali bertemu, Akung selalu menceritakan kisah yang sama saat dia dikirim negara untuk belajar di Uni Soviet. Saat itu dia ditempatkan di Baku yang sekarang adalah ibukota Azerbaijan. Ceritanya adalah narasi yang prosaik tentang seorang anak dari kota kecil di perbatasan Jateng-Jatim yang sukses menginjak sebuah negeri adidaya. Kira-kira tahun 1950-an.

Dari intensitasnya mengisahkan ulang cerita itu, saya menakar itulah titik tertinggi dalam hidupnya. Tentu selain menikahi perempuan yang dikasihi dan membesarkan anak-anak yang disayangi. Rupanya sedari dulu kita, anak-anak dunia selatan, selalu terkagum-kagum dan menatap utara sebagai simbol keberhasilan.

Hari Minggu kemarin, Akung meninggal. Saat mendengar kabar kematiannya, saya sedang membaca novel berlatar Alabama. Lantas imajinasi saya terbang ke Baku yang dingin. Lalu saya membayangkan sosok Akung dengan kacamata dan rambut putihnya. Sedang duduk di sofa sambil memangku album foto, menunjuk foto-foto dirinya di Soviet dengan mulutnya mengulang kisah yang berkali-kali saya dengar.

Lucunya, saya nyaris tak pernah bosan mendengar ceritanya. Padahal detilnya selalu sama. Termasuk saat Akung menjadi saksi mata keberhasilan timnas Indonesia menahan imbang Soviet yang kala itu masih diperkuat kiper legendarisnya, Lev Yashin. Pertandingan Kualifikasi Olimpiade 1956 itu adalah salah satu pertandingan paling dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Mungkin saya tak bosan karena cerita itu bukan basa-basi. Cerita itu terlontar tulus dan apa adanya. Bukan sekadar membunuh waktu, bukan sekadar mencairkan kesunyian. Benar-benar ada intensi untuk berkisah, bukan berbasa-basi.

Suatu hari nanti, saya ingin seperti itu. Duduk di sofa dan bercerita kepada cucu saya tentang Aceh-Papua, tentang Belanda, Italia, Afrika, dan Jamaika. Tentang negeri-negeri di utara yang jauh, tentang kehidupan yang lain. Saya mau membangun imajinasi itu. Sama seperti Akung menanam imajinasi soal Eropa di kepala saya.

Karena tanpa imajinasi, siapa sih kita?

Frustrasi Timo

“Saya berjuang demi sepakbola Indonesia karena sepakbola negeri ini punya potensi besar. Dan itu bikin frustrasi. Kalau tidak punya potensi dan hasilnya payah ya wajar, tidak bakal frustrasi. Tapi Indonesia potensinya luar biasa, cuma kok gini-gini aja. Makanya saya frustrasi,” ujar Timo Scheunemann dalam salah satu acara bertema Bundesliga yang diadakan di bilangan Kuningan, Rabu (12/8).

Soal potensi sepakbola Indonesia, siapa pun rasanya tak meragukan. Seorang teman yang pernah bekerja di SSB sempat bercerita bagaimana pelatih-pelatih asing kerap terpukau dengan olah bola anak-anak Indonesia. “Di Indonesia saya lihat banyak anak-anak yang seperti Messi. Makanya saya bingung kok sepakbola Indonesia jalan di tempat,” ucap teman saya menirukan kata-kata seorang pelatih asal Argentina. Hal yang sama tampaknya juga dirasakan Timo.

Sore itu, kata-kata yang meluncur dari bibir pria berdarah Jerman itu benar-benar memukau. Dengan alegoris, dia bercerita bagaimana sepakbola Jerman bisa maju seperti saat ini karena intervensi pemerintah. Tidak seperti Menteri Pemuda dan Olahraga yang takut-takut memakai kata ‘intervensi’, Timo terang-terangan menggunakan kata kontroversial itu di hadapan wartawan yang mayoritas meliput sepakbola. Dan kita tahu bagaimana kondisi sepakbola kita hari ini.

Timo berkisah panjang lebar tentang bagaimana pemerintah Jerman membuat aturan-aturan ketat soal sepakbola. Dari mulai urusan bisnis, organisasi, infrastruktur, dan sebagainya. Hasilnya adalah kebangkitan. Kita bisa melihat wajah sepakbola Jerman hari ini seperti apa. Liganya sangat profesional, klub-klubnya tidak bermasalah secara keuangan, antusiasme penonton Bundesliga adalah yang terbaik di dunia, pembinaan usia dini luar biasa, akademi untuk pelatih berjalan mulus, dan hasilnya adalah tim nasional yang menguasai dunia.

Ucapan Timo seperti percikan api. Salah seorang wartawan kemudian bertanya, “Dari ucapan anda, apakah anda mendukung pemerintah Indonesia?”

Jawaban Timo adalah sesuatu yang tak saya sangka-sangka. Sesuatu yang berkelas. Dia seperti penyair hebat yang lihai memilih kata. “Ketika tadi saya memakai kata ‘intervensi’, itu saya lakukan dengan sengaja kok. Jadi, ya anda tahu sendiri dong,” tutur sang pelatih dengan senyum mengembang. Saya pun ikut tersenyum.

Kemudian, seorang wartawan lain bertanya kepada Timo. “Banyak pemain Asia sekarang merumput di Jerman. Menurut anda, apakah ada pemain Indonesia yang pantas bermain di Bundesliga?” tukas si wartawan.

Sekali lagi, jawaban Timo seperti sihir yang mendiamkan pendengarnya. “Saya tidak ingin lips service. Saya orangnya kalau ngomong ya apa-adanya. Mungkin karena itu saya tidak disukai orang. Kalau ditanya demikian, menurut saya tidak ada pemain kita yang pantas. Evan Dimas, pemain terbaik Indonesia, kabarnya akan bermain di klub kasta kedua di Spanyol. Dan dia sangat cocok bermain di level itu. Itu pemain terbaik kita, lho. Jadi anda bisa bayangkan. Sama saja seperti pertanyaan kapan Indonesia bisa main di Piala Dunia. Itu tidak bisa dijawab. Rumahnya dulu harus dibangun, setelah mulai dibangun baru bisa tahu,” pungkas Timo.

Mendengar kata-kata Timo, saya tersenyum berkali-kali. Sosok seperti Timo Scheunemann merawat kembali optimisme saya, bahwa proses panjang perbaikan sepakbola kita akan berbuah manis. Semoga.

Zizek

Hari ini saya membaca Zizek lagi. Memancing saya melihat-lihat jenggot dan pipi penuhnya, juga mengecek latar belakangnya di Wikipedia. Anak Ljubljana sejati. Lahir, tumbuh dewasa, dan tetap disana di usia tuanya. Slavoj ialah lulusan Universitas Ljubljana dan sekarang mengajar disitu juga. Sempat juga menghabiskan beberapa tahun akademik di University of Paris VIII.

Saya membaca Zizek di tengah-tengah jam kerja, sambil menunggu liputan, sekaligus meretakkan otak yang beku karena rutinitas, tugas kantor, dan hal-hal tak penting lain. Lumayan.

Tapi gara-gara Zizek saya terbayang lagi saat-saat mencari sekolah di luar negeri. Mencari-cari kampus, mendaftar, diterima, mencari beasiswa, gagal, urung mencoba lagi, dan detail-detail lain. Pengalaman itu mengasyikkan sekaligus sedikit membikin ngilu. Tapi ketika saya sudah bercerita soal itu dengan lepas, berarti ada yang telah lega di dada dan menerima sepenuhnya takdir yang pahit ini.

Akhir-akhir ini, entah mengapa, keinginan melanjutkan sekolah tiba-tiba muncul lagi. Entahlah. Mungkin aktivitas sehari-hari saya tidak menggairahkan atau memang urusan saya belum selesai dengan sekolah. Tapi, dibanding beberapa bulan lalu yang penuh euforia dan gairah melanglang buana ke Eropa, saya merasa lebih kalem, lebih santai. Yogyakarta akan jadi tujuan yang tak buruk sama sekali.

Lalu Zizek mengingatkan saya. Bahwa menjadi pemikir dan akademisi yang diakui dunia tak perlu harus belajar di Oxford, Harvard, atau Leiden. Tak perlu mengajar di Inggris, Jerman, Belanda, atau Amerika. Bisa dimana saja. Apakah itu di Ljubljana, di Port Au Prince, di Yaounde, atau di Dhaka. Itu kalau memakai ukuran “diakui dunia”. Kalau hanya ingin jadi sebatas bagus dan berguna bagi orang lain, maka lebih bisa lagi.

Mungkin Zizek telah menyelamatkan saya.

Hesse

Saya mendadak kangen sama Hermann Hesse. Penyair, novelis, dan pelukis asal Jerman itu. Dan tiba-tiba saya mengingat kalimat-kalimatnya, salah satunya: some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go. Saya adalah pengagum setianya, meski Hesse bukan penulis yang bisa dibaca, apalagi disukai, oleh semua orang.

Tapi ada yang membuat kelu saat mengingat kutipan di paragraf di atas. Seperti ada yang tertabrak, dan terhimpit, oleh jendela-jendela waktu. Seakan ada yang meniup ke dalam lorong gelap menuju kalender-kalender yang terlanjur robek. Dan ada yang membuat bungkam, pasrah, dan hanyut dalam keadaan-keadaan itu. Keadaan yang bak campuran sopi dan calpico.

Mengingat Hesse adalah mengingat kemuraman, tapi juga cercah cahaya. Tokoh-tokohnya selalu tampak sayu dan kelam, tapi disitu ada sinar, ada berkas lampu yang memberi secuil terang. Dan mengagumi Hesse adalah mengagumi keburaman, negatif, pesimisme, dan segala yang serba-hitam. Namun, sepertinya hanya itu jalan menuju matahari.

Ketika merenung kutipan di atas, seakan ada yang menjebak untuk memilih: kau some yang mana? Oleh karena itulah ini seperti tabrakan. Ada suatu bagian yang mengamini some pertama, tapi juga tak menampik some kedua. Seperti ada sumbu yang siap meledak dan memuntahkan keping-keping kenangan, rindu, dan ulu hati yang koyak.

Segalanya selalu kabur, selalu abu-abu, selalu abstrak. Layaknya permukaan sungai yang keruh dan penuh lipatan, penuh bahaya, penuh jeram menganga di bawah, yang tak putusnya mengalir dan mengalir, melintas desa-desa yang bobrok dan pepohonan yang tumbang. Sungai itu bermuara pada apa yang transenden dan elok.

Jokowi

Jokowi telah resmi dilantik menjadi Presiden Indonesia untuk lima tahun ke depan pagi ini. Sorenya, sesaat setelah bangun dari tidur siang yang tak disengaja, saya mencuri dengar percakapan ibu dan nenek saya di dapur. Pertukaran kata-kata di antara dua perempuan yang saya sayangi itu membuat saya tersenyum-senyum saja dalam kegelapan kamar.

“Ternyata Jokowi hatinya baik, (jiwa) sosialnya bagus,” ujar nenek sebelum bercerita tentang anak Papua yang diajak ngobrol oleh Jokowi.

“Itu semua yang datang gak ada yang dibayar. Wah masih pake baju putih dari pagi tadi, belum mandi pasti,” tukas ibu menimpali.

Percakapan keduanya membuat saya tiba-tiba teringat beberapa orang yang saya temui dalam perjalanan-perjalanan saya dua tahun terakhir. Waktu saya menuju Flores bersama dua orang teman, awal 2013 silam, tak jarang kami bertemu orang lokal yang langsung menyebut nama Jokowi setelah tahu kami bertiga datang dari Jakarta.

Saya juga melihat sendiri bagaimana baju kotak-kotak yang identik dengan Jokowi saat memenangkan kursi gubernur Jakarta ditiru oleh salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTT dalam pemilihan gubernur tahun lalu. Itulah awal saya memahami dahsyatnya efek Jokowi dan dasar dalam meramal kesuksesan dia di pemilihan presiden tahun ini.

Tak hanya di Lombok, Sumbawa, dan Flores. Dalam perjalanan dari Kupang ke Kefamenanu, saya ingat mengobrol dengan beberapa warga lokal tentang Jokowi, sekali lagi setelah mereka tahu saya berasal dari Jakarta (meskipun persisnya bukan). Demikian pula ketika saya berpergian ke Sumatera sehabis lulus kuliah, September tahun lalu.

Tapi yang paling lekat dalam ingatan adalah saat ke Sumba, Maret lalu. Jokowi adalah topik yang sering saya pakai ketika kehabisan bahan obrolan dengan warga lokal. Saya ingat, selama 1,5 jam dari pesisir ke kota, saya dan tukang ojek tak putus berbincang soal Jokowi. Layaknya rokok pada social-smoker, Jokowi ialah penyambung dua orang yang tak saling mengenal.

Mulai hari ini, Jokowi sudah jadi Presiden, tidak lagi sekadar gubernur Jakarta. Saya penasaran obrolan apa lagi yang akan saya dengar di perjalanan lain, kelak.

Chairil

Hari baru saja berganti. Dan tiap hari adalah seremoni. Hari ini adalah hari puisi, tepatnya hari puisi Indonesia. Hari ini pula pada 91 tahun yang lalu seorang bayi lahir. Ia bukan anak siapa-siapa. Kelak ia akan jadi abadi. Hari lahirnya dijadikan sebagai hari puisi sebuah negeri. Orang mengingatnya sebagai binatang jalang. Saya ingin terasa akrab, saya menyebutnya Chairil.

Saya pertama kali mengenal Chairil di sekolah dasar. Siapa anak yang tak tahu Chairil. Saya bahkan memiliki semacam keyakinan bahwa Chairil Anwar adalah penyair pertama yang dikenal orang Indonesia dalam hidupnya. Sejak masih kanak-kanak kita membaca puisi “Aku” miliknya. Saat itu kita mungkin tak peduli, menganggapnya sebagai pelajaran yang tak penting. Suatu waktu kita tahu bahwa puisi itu bukan sembarangan.

Chairil juga bukan sembarangan. Ia hidup tak lama. Ia cuman sempat menghidupi “kesunyian masing-masing”-nya selama 27 tahun. Tapi itu cukup untuk membuatnya dikenang. Saya selalu kagum pada siapapun yang mati muda tapi abadi. Chairil bukan satu-satunya di daftar yang saya ingat. Tapi ia jelas spesial. Hidupnya jauh dari kata pantas, konon ia mati pun dengan penyakit seks.

Tapi penyair memang tak butuh hidup yang dianggap pantas. Ia hanya perlu puisi. Maka ia tak peduli. Ia jalani saja apa adanya apa yang mungkin saja dibencinya: hidup. Saya tak tahu pasti. Tapi kita tahu bahwa sejarah mencatat puisi pertama Chairil adalah sebuah sajak yang berjudul “Nisan”. Ia tuliskan sajak itu sesaat setelah neneknya meninggal dunia. Setelah itu puisi-puisi Chairil banyak yang tak jauh dari soal kematian.

Pada akhirnya ia memang mati. Tapi tak benar-benar mati. Negeri ini tak akan tak tahu ada seorang bernama Chairil Anwar. Ia adalah simbol. Ia adalah sosok yang tak mungkin tak ditengok bagi siapapun yang menulis puisi dan mencintainya. Chairil selalu akan hidup dalam tubuh-tubuh yang mengimani puisi dengan tulus. Saya percaya bahwa Chairil adalah salah satu hal yang lebih puitik dari puisi.

Selamat ulang tahun, Chairil.

Grosso

Saya baru saja membuka Twitter dan mendapati berita yang menarik. Fabio Grosso menjadi asisten pelatih Juventus Primavera. Ia akan menemani pelatih baru Primavera, yakni Andrea Zanchetta yang ditunjuk menggantikan Marco Baroni yang pindah ke Lanciano sebagai pelatih tim utama. Mendapati Grosso kembali menjadi bagian dari Juventus adalah sesuatu yang nostalgik.

Saya bingung bagaimana mendeskripsikan Grosso. Saya seperti menyukai sekaligus membencinya secara bersamaan. Ini tentu aneh: memelihara dua perasaan yang bertentangan. Tapi demikianlah hidup. Kita seringkali dibuat takjub tentang bagaimana perasaan bermain, dan selanjutnya kita hanya menerima dengan pasrah. Grosso adalah contoh paling nyata buat saya tentang gabungan dua rasa yang bertolak belakang.

Musim 2011/12 adalah musim terakhir Grosso sebagai pemain bola. Di Juventus musim itu, ia hanya bermain 2 kali, yaitu melawan Siena dan Catania. Setelah dua laga itu, ia seperti hilang atau dilupakan seperti barang rongsok. Namanya tak ada lagi dalam daftar pemain yang berlaga untuk Juve. Di akhir musim, kontrak Grosso berakhir. Beberapa saat setelah itu Grosso memutuskan pensiun mengingat tak ada tawaran dari klub manapun untuknya.

Sudah saya bilang, saya menyukai Grosso, tapi tak sepenuhnya. Saya membenci Grosso, tapi juga tak total. Ada area abu-abu yang dapat diisi olehnya. Semua jelas berawal di Jerman 2006. Kala itu, Italia menjadi juara dunia untuk kali keempat. Dari sekian legenda yang menghiasi skuad Azzurri saat itu, nama Grosso yang paling saya ingat sebagai sosok paling menentukan di turnamen.

Siapa yang akan lupa diving indahnya di 16 besar melawan Australia? Di injury time, wasit memberi hadiah penalti karena Grosso pura-pura terjatuh. Francesco Totti dengan dingin mengoyak jala gawang Mark Schwarzer. Italia terus melaju. Di perempat final, Ukraina dibantai. Lalu musuh berat sekaligus tuan rumah menanti di semifinal. Italia jelas tak diunggulkan. Tapi sejarah selalu punya cerita yang tak biasa.

Menghadapi Jerman yang tampak perkasa, Italia tampak terlalu tangguh bagi anak-anak muda bangsa yang sombong itu. Signal Iduna Park yang gemuruh tak sanggup meruntuhkan mental Italia. Grosso lantas jadi pahlawan. Pertandingan seperti akan berakhir lewat adu penalti sebelum Grosso mencetak gol ke gawang Jens Lehmann di menit 119. Del Piero kemudian menyempurnakan pesta semenit berselang.

Di final melawan Prancis, Grosso kembali jadi penentu. Gol heroiknya di partai versus Jerman rupanya bukanlah capaian monumentalnya di Jerman 2006. Adalah dirinya yang menjadi penendang penalti terakhir Italia yang memastikan gelar juara dunia kembali ke Eropa Selatan. Italia berpesta ditengah drama calciopoli. Grosso, dari bukan apa-apa menjadi pahlawan nasional.

Grosso melanjutkan hidup di Inter Milan dan Olympique Lyon sebelum berlabuh ke Juventus pada musim 2009/10. Di Juventus, Grosso datang dalam waktu yang tak baik. Dua musim penuh yang dijalaninya sebagai pemain tim utama adalah musim-musim dimana Juventus adalah tim yang sakit. Di dua musim itu secara berturut-turut, Juve menempati posisi 7 di klasemen akhir.

Grosso pun dianggap sebagai bagian penting dari kegagalan itu. Ia jelas bukan sosok yang sama yang memenangkan Italia di Olympiastadion. Tapi bagaimanapun parah permainannya, dan betapapun bencinya saya melihat namanya di starting eleven Juventus, Grosso tetaplah juara dunia. Dan predikat itu mengandung sesuatu yang tak main-main. Ia sendiri membuktikannya.

Saya ingat sebuah partai melawan AS Roma di Olimpico pada April 2011. Itu adalah partai pertama dimana sejak awal saya merasa Juventus akan kalah. Sebelumnya, meski separah apapun kondisi tim, sebelum laga saya selalu yakin Juve bisa menang. Tapi saat itu, saya pasrah. Juventus memberikan ban kapten pada Claudio Marchisio, kapten nomor 4. Del Piero, Buffon, dan Chiellini cedera.

Hal itu tentu menggambarkan bahwa skuad Juventus waktu itu porak-poranda akibat cedera. Tapi ditengah badai dan kepasrahan akan kekalahan, keajaiban kadang punya caranya sendiri untuk hadir. Fabio Grosso mencetak 2 umpan yang menjadi 2 gol bagi Bianconeri di laga itu. Pertama untuk Milos Krasic, kedua untuk Alessandro Matri. Tapi pertandingan itu belum tentu saya ingat hanya karena dua assist itu.

Saya ingat sebuah momen dimana Grosso berlari ke depan membantu serangan, lalu bola direbut pemain Roma. Bola sudah menyentuh lini pertahanan Juve ketika saya melihat seorang pemain berjalan dengan santai sambil melihat kawan-kawannya bertarung merebut bola. Pemain bernomor 6 itu berjalan, benar-benar berjalan. Ia tak peduli bahwa posisinya adalah pemain belakang. Ia berjalan.

Partai Juventus versus Roma itu pada akhirnya menjadi landmark bagi saya untuk melihat keseluruhan karir Grosso. Ia adalah pemain yang mencetak 2 assist dan berjalan santai menuju posnya. Ia selalu saya benci: pertama karena memang medioker, kedua karena sempat bermain di Inter. Tapi secara bersamaan, ia selalu saya cinta: pertama karena diving itu, kedua karena gol di Dortmund, ketiga karena penalti ke gawang Barthez.

Saya lantas bingung ketika Grosso pergi dari Juventus dan kemudian pensiun, juga ketika ia kembali ke Juve sebagai asisten pelatih tim junior. Ada kesenangan dan kebencian yang datang sekaligus pada saat-saat itu. Saya senang Grosso pergi dari Juve, tapi sedih juga. Saya kecewa manajemen menunjuknya sebagai asisten pelatih, tapi juga gembira ia kembali ke Turin. Entahlah.

Teringat Rendra

“Dan waktu senggang manusia,
serta masa berlibur untuk keluarga,
harus bisa direbut …
untuk diindustrikan”

Sajak Pulau Bali adalah puisi yang lantang sekaligus lirih tentang Bali yang masyhur itu. Rendra seperti biasa berbicara dengan bahasa yang tegas dan langsung menatap sasaran tanpa banyak pemanis dan wewangian. Dengan sudut pandang realis ia menghajar habis-habisan industri pariwisata yang sedang mekar-mekarnya di Bali. Baginya pariwisata yang marak bukan devisa, tapi degradasi banyak hal.

Saya teringat puisi ini di tengah-tengah revisi skripsi. Selalu, puisi adalah pelarian yang pas. Ia memberikan ruang yang tak sesak oleh istilah-istilah yang rumit untuk dimengerti, menyediakan kebebasan interpretasi seluas samudra. Rendra seolah datang di saat yang tepat, menyediakan sajak yang tegas, yang senada, yang sejiwa. Pariwisata yang industrial adalah tempat kebusukan bertebaran.

Saya pernah membaca entah dimana: di tengah lautan optimisme, menjadi pesimis tak ubahnya usaha bunuh diri. Rendra, juga mungkin saya, memang tampak seperti orang yang mengarahkan pisau ke nadi sendiri. Merayakan hari-hari dengan melihat apa yang tak disukai, apa yang dipandang busuk dan brengsek, apa yang dianggap dangkal dan banal. Tapi, bisa apa?

Semua sedang berpesta, merayakan pertumbuhan ekonomi, melampiaskan kebebasan semu di tengah eskapisme masing-masing dari rutinitas yang mengekang. Semua mencintai pariwisata, perjalanan, liburan, traveling, backpacking, apapun itu dengan seluruh. Menyembahnya layaknya nabi, lalu memamerkannya di jejaring. Hari ini tuhan memang direduksi dalam foto dan kicauan-kicauan.

Di tengah pesta, saya dan Rendra berjalan bersama dengan masing-masing menggenggam pisau. Semua tertawa, semua mabuk dalam halusinasi kesadaran masing-masing, semua terhipnotis oleh mekanisme yang sesat. Di tengah riang dan hiruk pikuk itu saya dan Rendra bertatapan, lalu merobek nadi masing-masing dengan tatapan yang lemas dan penuh iba. Mampus.