Di Reuvensplaats

Dijkgraaf: persepsi kita tentang matahari seperti dikoyak-koyak disini. Sinar matahari masuk ke jendela, membuatmu bangun dengan semringah. Tapi ada yang mencurigakan. Matahari di musim yang dingin adalah jebakan. Kita mempelajarinya lewat pengalaman, bukan dari buku-buku di perpustakaan. Saya keluar dengan imaji tentang siang-siang yang panas di Asmat. Tapi, tidak disini, tidak hari ini. Embun-embun menjelma es di rerumputan.

Intercity: Mata Hari mengantar ke hari-hari tua sebelum perang dunia pertama. Si femme fatale lari ke Den Haag dengan bayangan tentang Paris. Perang telah membuat mimpi-mimpi manusia berantakan. Hari ini, tak ada beda. Kota menjelma medan perang. Orang-orang menangisi ‘mimpinya yang tersapu’ (meminjam Silampukau). Konon, Mata Hari menghadapi regu penembak dengan ciuman dari jauh. Kiss bye. Saya mengingat Che.

Kuba: tak ada revolusi hari ini. Mungkin saja, revolusi sebenarnya ialah gimmick. Agar kita selalu punya alasan untuk mengeluh, untuk merongrong keadaan. Manusia, saya pikir, dikutuk untuk mengutuki hari ini. Di Eropa, orang-orang terjebak pada kegagahan masa lampau. Di Indonesia, surga adalah destinasi. Semua bergerak dengan imaji tentang yang di depan, tentang yang tak jelas, yang tanpa-bentuk. Apakah kita punya resep untuk carpe diem?

Leiden: hari makin menua disini. Orang-orang berkumpul di luar perpustakaan. Menghisap tembakau, bercerita tentang apa saja, melupakan tesis sejenak. Tak ada kretek, tak ada Marcopolo. Saya menulis tentang minggu-minggu yang berlalu di Ebay. Email dikirim, email dibalas. Semuanya begitu mekanikal. Seperti sebuah sistem menyetel kepala kita, membentuknya jadi kode-kode, jadi algoritma. Kapan kita pulang?

Leiden, pada sebuah hari yang cerah, nol derajat.

Advertisements

red wine blues

Give me a glass of wine and i’ll read you the poem i never like.

Perhaps we live with too much philosophy and reasoning. So we forget the practicalities, the what-happen-in-the-middle. No one tries to fix the agony of being lulled by fantasies and utopia and hopes and historical glorification.

One day, either tomorrow or 2084, we will look at human beings as pure melancholia. Western buddhism might be a mistake we cannot cancel. A faux carpe diem ways of life, mixed with the faux environmentalism (for the poor? meh), added with faux mindfulness cum instagramable illusion. Oh please.

Pour me another more. So i can read you a love letter from the poet i never like.

Too many falsity and deceit and tales. Can we still expect at least a piece of truth, from the night when work/life has collapsed into ontological revolution? Here, in this hypocrisy a la scientific-neolib-green-capitalistic-developed-colonial brain, we are gonna lose again against the war of black/white, a/z, i/you dichotomies.

No narrative. No malaise. Only discourse. And red wine. And the desire of being ethical without really being ethical and with accusation of unethical to the groups of men who perhaps more ethical than they who claim themselves ethical. But.. what is ethics by the way? Another western hubris? An alibi for collective amnesia?

(city of life sciences,

1 februari 2018)

Dan Salju Jatuh

Dan salju jatuh di Stade.

Letters bergema di telingaku, seperti sepotong teriakan dari masa lalu. Dulu kita suka mengirim surat, menanti tukang pos datang dengan sepedanya, lalu ia melempar amplop ke teras rumah. Di sana, sebenarnya kita membaca bulan-bulan yang panjang, yang telah berlalu sejak kita mengirim surat ke alamat lain. Pada akhirnya, ia berbalas. Atau mungkin tidak.

Di Ebay, aku membaca Ingold. Cukup dengan etnografi, katanya dengan nada manifesto. Lalu ia membandingkan antropologi dengan korespondensi, kegiatan surat-menyurat. “Seperti yang dilakukan para penulis surat, mencorat-coret pikiran dan perasaan mereka, dan menanti jawaban”. Seperti itulah antropologi, sebenarnya kita hanya harus menunggu.

Lalu smartphone datang dengan tergesa-gesa. Kita juga jadi tergesa-gesa. Tak ada lagi moile moile, seperti di sudut-sudut Siberut. Orang bergegas. Kita menjadi ganas terhadap waktu. Menunggu adalah neraka. Ketidakpastian adalah bencana. Surat memberi kita kebijaksanaan tentang waktu, menunggu, jawaban, dan ketidakpastian. Smartphone tidak.

Di Paking, kita menerima surat dari Long Berang. Adalah romantik membaca surat di tahun 2012. Surat itu dikirim lewat seseorang, yang kebetulan akan melintasi Paking untuk menuju Malinau. Kami, anak-anak Paking, membacanya dengan pelan dan khidmat. Anak-anak Long Berang berbagi kabar: tentang agas, anak-anak Dayak, dan remeh-temeh yang lain.

Kemudian Ebay. Di tempat dimana sinyal dan wifi adalah kemewahan, surat terasa biasa saja. Hiber membaca surat satu lembar dari Bruno. Kertas lecek itu telah bergerak: dari Padang, menaiki Mentawai Fast, jatuh di tangan orang lain di Muara Siberut, lalu berlayar ke Ebay melewati ombak-ombak yang mengayun. Hiber menerimanya dengan senyum.

Dan salju jatuh di Stade. Kita bicara tentang surat. Aku mendengar lagu tentang surat. Surat, surat, surat. Lalu kantor pos. Dan aku mengingat Balkan. Di sana, pusat-pusat kota ditandai oleh kantor pos. Bukan gereja, bukan masjid, bukan alun-alun. Kantor pos. Kita tak perlu menyembah tuhan, tapi kita harus mengirim surat agar kemanusiaan terjaga selamanya.

Stade, 18 Januari 2018

Do we need revolution or revelation?

Do we need revolution or revelation?

I was reading Camus in Muntei. People here live simply, at least to my standard. Ladang, sugar pleasure, and moile moile philosophy. In the terrace, you can see communalism. One white scholar called them primitive communist. I always have a problem with the term ‘primitive’.

This late afternoon, I was thinking about primitive. I remembered Papua. We, urban people, are more primitive, aren’t we? We live for money like crazy, we live for fantasies. Here, people are living a carpe diem way of life. It is only today. Forget that fuckin calendar, darling!

I feel so fit with this people, with this way of life. Life for lazy people like me. One time, I imagined those central government and missionary bastards came to the island, then judged them as lazy, as against modernity. Oh, but we have never been modern – to borrow Latour.

People are always smiling. You can always jump to people’s terrace and talk. Silence is never awkward here. It is a part of conversation, because we need to swallow the words into thought, or into nothingness. It is always okay to have nothing and to be nothing. Why bother?

I write bullshit. Anthropology is bullshit. Research is unethical. Ethics is unethical. Sociology is even more bullshit. Bullshit is ethical. Ethics are bullshit. The notions of bullshit and ethics filled up my mind. They are intertwined into melancholy, later into tragedy, then comedy.

In the night, rains poured down. I was reminded of the rains of Wageningen, of Ebay, of Torino. I was remembering the life in pulau. Those sorrowful days, those amazing nights. One day, I will go back to Ebay. But without research, without the necessity of doing something.

Moile moile, my friends.

(Siberut, 3 Januari 2018)

Jakarta di Torino

‘If you stay, then I will stay. Even though this town is not what it used to be.’

Di perpustakaan di Parco del Valentino, saya membayangkan Jakarta. Lalu saya membuka Spotify dan spontan mengetik ‘Jakarta’ di kolom search. Lalu lagu-lagu itu mengalun di telinga, seperti sepotong mimpi yang liris. Dan saya merindukan Jakarta dengan perasaan yang aneh. Disana ada kengerian tentang macet, tentang hal-hal yang asing di Eropa. Tapi, disana, saya merasa ada sesuatu yang akrab, yang tak pernah saya temui di kota-kota di utara. Entah apa. Mungkin semacam keterikatan yang subtil, kelekatan yang remeh, atau sense-of-belonging yang tak diinginkan.

Tak sehari dua hari kegiatan itu saya pelihara. Termasuk di perpustakaan di Lingotto, lagu-lagu tentang Jakarta menghiasi hari-hari saya menyusun tinjauan pustaka tentang air dan laut. ‘I forget Jakarta, all the friendly faces in disguise,’ kata Adhitia Sofyan. Di Torino, dua perasaan itu bertubrukan seperti biji-biji kopi di dalam blender. Saya membenci dan merindu secara bersamaan, seperti kisah cinta yang tak mudah. Pada Jakarta, sebenarnya saya merindu sesuatu yang kacau, yang chaotic. Sebab Eropa terlalu membosankan, terlalu lurus-lurus saja. Saya ingin mengendarai motor di trotoar!

Distance

Distance is poetic. Like an unblossomed flower in the first day of spring. One day it grows and we know it with no doubt. With no question marks.

It was a sunny day in The Hague. I was looking for winter. Checking price tags in the stores I hate to visit. Putting a self in the agony of consumerism. Tourists everywhere in the streets. Was beautiful, but Wageningen came into mind with melancholy. A countryside story never fails me. Nature, river, and the famous ‘berg’. Give me nothing but silence. Cities are made with appetite for destruction, with an archaic zest for things. It was a sound inside me who preach with gusto: too much hypocrisy in the city.

Here I am again. I meant to write a poetic-romantic-melancholic narrative on distance and 6-hours space in the days of winter of the north there. It is failed as I am sitting in my room. Romanticism filled my eyes and burned my mind. Do not blame me, darling. It was a long cold winter in the Netherlands. (It was great days, do not mistaken me.) But a man from the south will always miss the south. The sun, here, shines with honesty. Sometimes too brutal. But, as a friend once said, ‘I just miss the place where I know its rules.’

See? Distance is poetic. Like you and me in front of the beers. The foam in the head of the glasses never lies. One day it will be gone. Like the distance of ours.

(October 29, 2017)

di-antara

Sebenarnya ini cerita tentang tipsy.

Ceritanya saya sedang ngobrol via Whatsapp dengan perempuan yang hobinya minum anggur, entah Merlot atau cap orang tua, kalau kata Silampukau. Dan kita membahas soal tipsy. Mungkin tak sepenuhnya ‘kita’, atau tak sepenuhnya ‘membahas’, karena saya merasa saat itu saya hanya melantur tidak jelas saja. Seperti saat ini, atau banyak saat-saat yang lain.

Ceritanya saya sedang menulis tesis tentang surfing. Dari salah satu artikel, saya jadi tahu bahwa area paling accessible buat main surfing disebut littoral area. Secara oseanografi, kata teman saya yang banyak tahu soal laut, littoral area adalah daerah dimana swell (gelombang) dari laut lepas mulai pecah, lalu menggulung menjadi surf. Ombak surf inilah yang jadi mainan surfer-surfer itu. Surfing, pada dasarnya, adalah apa yang dilakukan di littoral area tadi, di daerah yang, mengutip Anderson, both between and beyond land and sea. Ia berada di antara keduanya, tapi bukan keduanya. Ia ada di tengah-tengah. Seperti jembatan. Seperti spasi yang menghubungkan kata.

Di di-antara (in-between) itulah sebenarnya banyak hal terjadi. Surfing salah satunya. Anderson menyebutnya sebagai liminal space. Coba bayangkan kalau saya menulis tidak pakai spasi, andakanjadiagaksusahbacanya. Coba bayangkan kalau tidak ada jembatan, bagaimana caranya sepasang kekasih dari dua desa yang bersebrangan bisa ciuman. Tanpa disadari, kita berhutang pada banyak di-antara ini. Mungkin bukan hutang yang perlu dibayar sih, tapi tetap saja. Hutang adalah hutang.

Tipsy adalah salah satu di antara di-antara itu. Ia adalah posisi di antara mabuk dan tidak-mabuk, antara sadar dan tidak-sadar. Tapi ia bukan salah satunya. Ia bukan apa-apa. Ia hanya perantara. Ia nyaris menjadi mabuk atau sadar, tapi tidak keduanya. Pada titik itu, segalanya bisa terjadi. Kita bisa melantur, kita bisa tertawa, kita bisa menulis puisi seperti Kerouac. Tapi kita tidak mabuk. Tapi kita tidak sadar. Jadi, kita akan baik-baik saja. Kita masih bisa berpikir agak lurus layaknya orang sadar, tapi kita sudah memasuki fase agak enak layaknya orang mabuk. Disana, kesadaran dan ketidaksadaran bertemu, seperti dua orang yang berpapasan di jalan.

Menjadi tipsy, seperti halnya berjalan di jembatan atau mengetik spasi di komputer, sebenarnya adalah tentang jarak dan jeda. Selama ini, dalam kesadaran, kita berjarak dengan sesuatu yang sublim di dalam diri kita, yang kadang tak tersentuh oleh sobriety. Kesadaran memisahkan kita darinya, sampai kita minum atau menyerap substansi-substansi lain, dan sampai di titik itu: tipsy. Tapi awas jangan mabuk. Karena saat mabuk, semuanya akan berantakan. Yang sublim itu, bisa saja mengerikan. Kita harus memberinya garis batas. Seperti bluebird-nya Bukowski.

Dan, menyoal jeda, tipsy adalah area dimana kita tak perlu menjadi apa-apa. Kita belajar melupakan omong kosong di kampus dan kutipan-kutipan keren di novel. Kita mengambil jeda dari dunia, dari yang real, mungkin juga dari diri kita sendiri. Lalu, kita menjelma sesuatu yang berbeda, yang agak gamang, tapi sebenarnya adalah bagian dari diri kita, yang kita sembunyikan dalam-dalam, karena ia tak mendapat tempat di kesadaran. Tapi, sekali lagi, awas jangan sampai mabuk.

Ngomong-ngomong, ‘Diantara’ keren juga ya kalau jadi nama anak.

 

Senja di Dijkgraaf

Seseorang melipat matanya di balkon. Dari lantai 13, ia melongok ke barat. Matahari terbenam. Kita berbagi kesunyian. Dalam senja, kata-kata kehilangan maknanya. Dan asap-asap itu mengembara. Ia menggambar siluet, kadang membentuk sajak, kadang menjadi bukan apa pun. Tak ada ganja di sini. Tak ada narkotika. Hanya tembakau.

Di lantai 16, sepasang kekasih berciuman. Lewat jendela, bibir mereka berpagut. Mari kita rayakan senja dengan ciuman. Keduanya berciuman dengan panjang. Dan mesra. Lagi-lagi, kata-kata kehilangan maknanya. Langit menjadi jingga, lalu menggelap, dan mereka tetap berciuman. Panjang dan mesra. Setelah itu, malam menjadi panjang.

Ia memanggang kue kacang. Tepungnya organik, katanya. Ia membelinya di Lazuur, atas nama kesehatan. Ketika organik menjadi fashion, kita tahu ada yang berubah. Tapi di lantai 15, kita tak membahas kapitalisme hijau, atau Marx, atau gaya hidup urban. Kita melepas dapur di belakang dan menuju ke ufuk. Pada senja, kita mengambil jeda.

Balon udara itu terbang. Mengawang di barat, menjadi siluet hitam di lautan oranye. Fotografi akan meringkusnya jadi dua dimensi. Dan kita tak peduli kamera. Di lantai 14, mereka membahas entah apa. Ik begrijp het niet. Kata-kata bertukar, tapi mata mereka. Mata mereka fokus pada satu titik, seperti kamera. Barat, adalah akhir dari semua.

Menjelma Sapardi

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, kata Sapardi. Tapi kita mengutipnya terlalu sering hingga ia jadi bukan apa-apa. Kita memahaminya hanya sebagai mural di tembok kota dan omong kosong di dunia maya. Bisakah aku mencintaimu dengan sederhana?

Beri aku nyali seribu kuda dan aku akan membawamu ke duniaku. Dan kita akan berbagi hari-hari yang di depan, yang tidak kita ketahui, dan kadang membikin gemetar. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Setidaknya untuk hari ini. Selalu hari ini.

Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput, kata Sapardi. Aku ingin berhenti menjadi duri di tulangku sendiri. Dan aku akan menjumpaimu dengan ketakutan yang meledak-ledak. Lalu senyummu memberiku ketenangan sebuah rumah di tepi danau.

Kau entah memesan apa. Dan aku menebak-nebak, membuat teka-teka silang di kepalaku, dan menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Pada titik itu, ada yang keliru. Kita bicara dengan bahasa yang tak sama. Aku harus memesan rasa lapar yang asing itu.

(27 Agustus 2017)