Ode untuk Masa Depan

Jadi begini saja.

Berikan aku kuas dan pastel warna-warni supaya aku bisa melukis hari depan dengan sembarang. Di kanvas, aku akan melukis mukamu, matamu, dan bibirmu yang tersenyum di balik americano. Lalu jendela di belakangmu mengarah ke timur. Matahari ada di barat, dan oranye menyebar jadi siluet yang seluruh.

Jadi kau duduk di dekat jendela, pada sebuah senja.

Dan aku dimana? Aku melukis tahun-tahun yang akan datang dengan sembarang. Tapi tidak juga ah. Kata-kata memberiku makna pada titik, garis, dan ruang. Dan aku mengisi kanvas putih kosong tidak dengan ide yang percis, tapi dengan harapan. Juga kemampuan menerka pagi. Tak ada yang pasti, kecuali jawaban yang sementara.

Jadi begini sajalah, kita ini sementara.

Aku duduk di kursi dan memandang matamu yang lurus menatap mataku. Dan rambutmu yang terurai sebahu, dan bibirmu yang bicara tentang kota-kota. Momen itu selalu sementara. Kau dan aku hanya sementara di sini, berbagi bulan-bulan yang melelahkan di internet dan Cikini. Dan aku ingin sementara bersamamu selamanya.

Jadi, apa yang akan diberikan esok?

Mungkin sepotong roti rasa markisa, atau sirup rasa ketiak. Kita mendamba cabernet sauvignon, tapi untuk apa anggur merah tanpa gairah. Di situ, aku mencari nada-nada tua yang kusimpan entah dimana. Dan aku ingin menyanyikannya persis di kupingmu. Dengan merdu. Dengan sendu. Dengan rindu yang selalu rindu.

Jadi, aku menangisi masa depan.

Terduduklah kita di bukit yang pendek. Pada sebuah musim yang cerah, bunga-bunga mekar dan burung-burung terbang riang. Kita menjadi tua begitu saja tanpa aba-aba. Dan aku melalui semua dengan bayangan yang samar. Mungkin kau juga. Tapi, toh, tangan kita bergandengan. Berjalan pelan-pelan melalui samar yang (tak) asing itu.

(Depok, 30 April 2019)

Advertisements

Last Trains

The rain fell in Gondangdia. I was running to get the last train to Depok. The station was so serene and nice in the midnight. Last train, last people from the suburbs. I sat on the seat in the corner… and fell asleep.

I was dreaming about my last trains in The Netherlands.

In my second last night there, I catch the last train from Amstel to Ede-Wageningen. It was the goodbye, so don’t blame me. I arrived in Dijkgraaf with a little funny shock in 2A. I ate the left-over cake before sleeping.

Months before, I had a late flight from Bari to Maastricht. To go to Wageningen was a mess as the railways somewhere between Maastricht and Eindhoven were under maintainance. I had to pass some unusual route, before reaching Nijmegen, and catched a very late train to Ede-Wageningen. No bus 88 anymore, so I took the OV-fiets (rented the bike) and cycled to Wageningen. It was at 2 am.

There were more last trains I took to Ede-Wageningen. For instance, the one from Arnhem, when I had a long trip from Bayreuth to Dusseldorf to Arnhem by the combination of German Flixbus and DB Bahn.

Also, the one from Deventer. It was after the Friday football match of Eerstedivisie. Go Ahead Eagles was defeated at home by FC Eindhoven. It was a pathetic scene in the tribune. I walked from the stadium to the station, felt so hungry, and took the frikandel at Albert Heijn (along with a can of Hertog Jan).

And other last trains. I might not remember them all. But, I know there are always the last ones waiting for me to go home.

Wageningse Blues

Selalu ada masa-masa seperti ini. Saat Wageningen menjelma rindu yang pelik.

Saya bangun pagi dengan tik-tok jam yang sunyi, yang membuat saya mengingat hari-hari ketika pertama kali pulang ke rumah, setelah dua tahun yang gegas di utara. Jam itu, lalu bunyi dentingnya setiap menit ke-00, entah bagaimana, memberi saya nostalgi tentang Wageningen yang murung.

Lalu saya menyeduh kopi. Dan mengingat Vonnegut. Dan mengingat ibu-nya Agata. Dan mengingat Brno. Lalu perlahan Eropa menyusun ulang dirinya di benak saya dengan fragmen-fragmen yang tak beraturan. Padova di musim panas, Zwolle di kejenuhan tesis, dan bangunan-bangunan reot di Belgrade.

Saya naik ke atas, mencoba mencari arti dari sebuah hari. Lalu membuka laptop, masuk ke Facebook, dan menemukan foto-foto Nederrijn dari posting seorang kawan yang masih belajar di Wageningen. Tempat favorit saya di seantero kota (ngomong-ngomong, saya merinding ketika menulis ini).

Setelahnya, jalur-jalur sepeda di kota itu masuk ke kepala. Saya membayangkan diri duduk di sadel dan melewati manusia-manusia yang tak dikejar apa-apa. Hidup, pada akhirnya, adalah tentang berjalan melewati sore yang menua. Kita tak perlu tergesa-gesa, karena toh sunset akan tiba pada waktunya.

Sperziebonen

I have been back to Indonesia for some weeks when I suddenly missed cooking. In Wageningen, I always cooked for myself. But, here, in my home, kitchen is the territory of mom and grandma. Others can only enter as passers-by. I usually only cooked when both were away. Yet, that evening I felt the melancholic desire of preparing my own food.

(Or, perhaps, I just missed the north.)

I wanted to cook the recipe I ‘found’ in Holland. A messy mix of buncis/sperziebonen and tempeh. There was tempeh in refrigerator, but not the former. So, I had to go to Pasar Kemiri to buy some. Just five minutes away.

Buncis/sperziebonen is my favorite kind of veggie. I liked to mix it with many things: tempeh, tofu, tauge (bean sprouts), chicken, pork, egg, et cetera. In supermarkets in Wageningen, I always knew where the sperziebonen were. I also like to say that Dutch word: sperziebonen. I love the foreign feeling in spelling it.

When I arrived in Pasar Kemiri, I looked around. Sperziebonen were everywhere. There were many sellers and each seemed selling my favorite. “Buncis om,” I said to one seller, the closest from where I parked my motorcycle. I have that habit of calling strangers who sell something by om (uncle) or tante (aunt). Both words come from Dutch language. However, it will make no sense for Dutch to call strangers-sellers by familial call of om/tante. We absorb and make them ours. Unlike my sperziebonen.

“Berapa (how much)?” the seller asked. “Setengah (half),” I replied. I love this simple language of traditional markets. It is like possessing a secret language. My seller knew what I (and other buyers) meant by ‘half’. He started putting handful of buncis into the scale, making sure that the weight was half of kilogram. Slowly, he put my buncis in a plastic bag. All of those he did without saying a thing.

“Berapa (how much)?” I asked. “Delapan ribu (eight thousand),” he replied. I opened my wallet and gave him ten thousand rupiah. He gave me the change of two thousand. I thanked (“makasih om”) him and he thanked me back (“sama-sama”). The transaction was over in one blink of eye. Without Western-style formal greetings of “how are you”, “good evening”, or “good bye”. Without Dutch ‘tot ziens’.

I went back home and cooked my lekker sperziebonen.

Jumat Malam

Mari kita membayangkan jumat malam di sana.

Wageningen, pada sebuah malam 5 derajat di musim gugur. Ku duduk menghadap laptop, menyerong ke arah lukisan Buddha abu-abu di tembok biru laut. Aku dan Buddha berbagi kesunyian di Dijkgraaf.

Tak tik tak tik. Microsoft word terus berpacu. Seperti mesin ide. Jari-jari menari di keyboard. Seperti balerina. Puisi, tesis, dan omong kosong lainnya berjejalan di dokumen. Oh Wageningen yang melankolis, beri aku sepotong sunyi dari utara? Di sini, raung motor dan klakson-klakson menjadi koor yang sumbang.

Ping. Pesan whatsapp masuk. Di grup MLE 2016 kita membahas party di Loburg. ‘Who’s going?’ tanya Simo. Lalu pesan pribadinya masuk. Lalu berjejalan teks-teks dalam bahasa Inggris. Dan seruan. Dan ajakan. Dan gurauan. Dan canda. Oh Emily yang malang, kenapa kita harus berpisah di umur yang menua?

Dan kupacu sepedaku ke centrum. Diska mengikuti dari belakang. Dengan bunyi bising dari ban belakang sepedanya. Angin menepuk-nepuk pipi. Sunyi menepuk-nepuk kalbu. Wageningen, kota seribu satu sunyi. ‘Tempat mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,’ banggaku selalu ke manusia-manusia Randstad.

Setelahnya adalah euforia. Centrum menjelma lantai dansa. Dan bir-bir tumpah ke lantai. Kita menari sampai pagi di gelap yang kian beku. Botol-botol wine berpindah tangan. Dan kita bicara tentang nonsens di luar Loburg, atau di gang-gang sempit di Kerkstraat atau Kapelstraat. Sampai lelah menjelang.

Jelang pagi, berhamburan kita ke parkiran. Mencari sepeda masing-masing dengan kantuk di mata, dengan beban di kepala. Dan mulut yang terus melantur tentang dosen, harga pasta di Jumbo, atau puisi dari Persia. Lalu kita memecah malam dengan berteriak-teriak di atas sadel sepeda. Ciao ciao.

can i borrow your melancholia?

​I will borrow your melancholia as fuel for my own. So I can cry in the middle of the road. Between Stade and Rotterdam, I gazed at the window and looked for your whisper. But you’re not there to be heard or looked at. Instead I found my own reflection and imagination of days forgotten.

Distances are getting longer here. With despair, everything gets harder. Even in the sunny day such as today. This is one of my Eurorepan days where I beg for rain to fall. So I can please my melancholic desire. So I can join you in the club of sadness. But I keep thinking o​​f seas and skies in Siberut.

Perhaps I will come back with nothing, for nothing. It is like I am missing something. Not a reason to live, but a reason to laugh. Smiles are temporary and mechanical. While headache comes constantly like little rains in Dutch autumn. Should I bring you dead flowers from dead joys of mine?

I miss beers more than anything now. My feeling is floating nowhere. I would like to wander more in the forest of uncertainties. So I am certain that I am uncertain. Life is paradoxical and full of ambivalences. I have always been trying to celebrate it. But now I am lost in my own wild thoughts.

(Flixbus HH-Rott, 13.09.18)

Post-thesis raving

So, I have given you unnecessary rhetoric of having and not-having. The kisses were melted down and we were/are/will be split by oceans. It is always a mistake to (not) talk. I fall in love with words but they scare me. In such ambivalence of loving/avoiding, I try to position myself in the chaotic (un)desire to say things. I have many bad habits. Two of them are: talking with too brutal honesty, sometimes too gross; and not talking at all, leaving things unsaid. At the end of the day, I am not sure anymore whether they are bad or not. Parcels of life.

I have offered you fantasies and dreams. They were/are too often melancholic. I love sad things; I have said this, no? They are more real and I borrow realism as my own escapism from the world where the real meaning of ‘virtual’ is lost. I am hiding in the parties and celebrations, but I will be in front of the coffins. Death is beautiful and sacred; that’s what we believe in highlands of Toraja. So, I will only drink for glorious despair of life. I will leave all the nice things to others who can make sense more of wild laughter, crazy smiles, and stupid screams.

I have left you smiles, anyway, and dummy wisdoms from the South/North/West/East. When I talk things, most of them are in between too good and too bad. I have been trying to avoid adjectives. That is my newest (ontological) revolution. That is my everyday resistance (along with consumerism, of course). But, I speak up, you know? I like silence and uninterrupted serenity. Yet, I realize that I like them because I try to find words there. So, I can make beautiful sentences from my inner being; from the place where poetic tales/thoughts grow wildly.

(Wageningen, 13 Agustus 2018)

yang paling nyeri

Yang paling nyeri dari bangun kepagian adalah ingatan tentang rumah.

Hari ini, tidak seperti biasanya, saya terbangun jam enam pagi. Lalu saya gegoleran di sofa, lalu saya mandi. Setelah itu saya ke dapur, untuk menyeduh kopi.

Yang paling nyeri dari kopi adalah ingatan tentang rumah.

Kopi yang saya seduh dari Sorong, Kopi Senang. Wanginya, astaganaga, menguar dan seketika membentuk bayangan tentang teras dan dapur di rumah. Saya tiba-tiba teringat bapak dan nenek saya. Kita bertiga peminum kopi paling giat di rumah. Dulu waktu kecil, saya suka menciumi wangi kopi yang baru mereka seduh.

Pagi ini, saya meminum kopi untuk mereka.

Bangun kepagian juga membuat saya mengingat ritual-ritual pagi yang biasa saya lakukan di rumah. Seperti menonton berita olahraga di televisi, atau tidur-tiduran di sofa. Dulu sebelum bapak mengantar saya ke sekolah, saya suka malas-malasan dulu. Sebangun tidur, saya langsung minum susu, lalu beranjak ke sofa sejenak. Setelah mandi, saya ganti baju sambil nonton televisi.

Hari ini, saya membuka laptop untuk itu. Tapi ternyata berita pagi sudah habis — karena di Indonesia sudah siang.

Yang paling nyeri, dari semuanya, adalah waktu yang berjarak.

(Wageningen, 20 Juni 2018)

Jelang Pulang

Sebentar lagi kita akan menyusun ulang bait-bait yang tertunda di Jakarta Raya. Belanda hampir selesai. Bayangan tentang masakan ibu di dapur rumah mulai membayang seperti semacam melankoli yang menghanyutkan. Koper-koper akan segera diisi. Kita kan mengemas sudut-sudut Eropa dengan senyum yang tak jelas maksudnya apa. Di antara selatan dan utara, kita terkoyak jadi dua.

Saya pikir tak ada yang terlalu puitik pada pulang. Ia adalah semacam niscaya. Seperti kematian, saya akan pulang. Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa imaji tentang rumah, tentang kota yang saya tinggali sejak kecil, tentang gang-gang yang berbau nyinyir ketika saya melewatinya dengan yamaha/honda. Pengalaman-pengalaman semacam itu bukan sesuatu yang diromantisir.

Segalanya berjalan terasa cepat? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya selalu merasa generasi saya sangat menyedihkan dalam hal yang satu ini; dalam hal mengelola waktu dan meresapinya. Time flies telah menjadi frasa yang banal. Mungkin ini semua karena transisi digital yang tergesa-gesa. Sebagai anak tiri internet dan kawan-kawannya, generasi ini punya masalah filosofis soal waktu.

Semua akan berakhir pada waktunya. Sama seperti ketika ia dimulai, ia akan terasa biasa saja. Gegar budaya mungkin akan terjadi. Tapi kita akan baik-baik saja, seperti kala pertama merasakan musim gugur ala Belanda. Jakarta akan baik-baik saja. Kita, sejatinya, memilin keintiman dengan apa-apa yang di sekeliling. Kita akan belajar mencintai yang di sekitar dengan tekun dan taat.

Jadi, hari-hari ini akan berlalu dengan perasaan yang sama seperti ketika kita berada di dalam kereta (atau bus). Stasiun/halte yang kita tuju akan segera muncul di jendela. Kita menantinya dengan perasaan-perasaan yang tak pernah dinamai. Seperti campuran was-was, dan siaga, dan kenyataan bahwa perjalanan akan segera usai. Kita harus bersiap-siap, karena rumah sudah di depan mata.