Kantor

Kadang saya kangen ngantor. Datang paling pagi, lalu membuka jendela model lama yang lebar itu. Lalu saya menikmati matahari masuk ke ruangan.

Sambil menunggu laptop menyala, saya akan beranjak ke dispenser untuk minum sedikit, setelah 20 menit berkendara. Saya mengisi penuh botol dan membawanya ke meja. Lalu saya duduk dan mulai masuk ke Youtube. Menyetel musik syahdu untuk menemani pagi yang masih sunyi di kantor.

Matahari bersinar di balik punggung saya. Membuat ruang makin temaram. Pelan-pelan saya mengetik entah apa, atau kadang mengecek pekerjaan yang belum selesai kemarin. Kadang pula saya hanya duduk menonton highlight sepak bola akhir pekan, atau video-video kecil sambil mengumpulkan niat kerja.

Lalu, perlahan teman-teman seruangan datang. Ada yang membawa jajanan pasar. Ada yang membawa cerita kehujanan. Ada yang menanyakan ini itu. Sesi setelahnya adalah obrolan pagi, entah sampai kapan. Di situ gosip-gosip mengalir, juga keluh kesah rumah tangga, atau topik semi-serius soal penelitian.

Jam makan siang tiba. Satu per satu beranjak menuju kantin. Kadang sendiri, kadang dalam kelompok. Yang malas ya diam di meja dan meminta orang kantin mengantarkan makan. Kadang saya juga suka begitu, apalagi ketika matahari sedang terik-teriknya menghujam jalannan di sekitar Sekip.

Setelah makan siang adalah obrolan pasca-rehat. Kadang menyusul topik pagi hari, kadang topik baru. Biasanya, kantuk mulai pelan-pelan tiba di sana. Lalu saya akan pamit membikin kopi sebentar di ruang sebelah; lalu kembali dengan wangi arabika menguar ke seluruh ruangan. Nikmat bukan, ngopi?

Sambil ngopi saya kembali ke laptop. Mencoba menulis paper, atau membuat proposal riset, atau mengerjakan urusan jurusan. Pukul tiga sore, satu per satu pulang. Tergantung harinya, kadang saya juga ikutan pulang. Tapi, jika masih ingin santai, saya akan menunggu sedikit lebih lama. Pulang paling akhir.

Biasanya, jam empat ke atas suasana akan seperti pagi ketika orang-orang belum datang. Sepi. Jendela kadang saya buka untuk membiarkan matahari sore masuk, juga angin sepoi dari timur. Lambat laun saya akan membereskan barang, mengepak tas, mematikan ac dan lampu, lalu mengunci pintu.

Pembakaran Sampah: Fragmen

Seorang kakek membakar sampah di halaman. Asapnya kemana-mana. Seperti membawa cerita dari masa yang jauh. Sore-sore dihabiskannya untuk mengumpulkan daun-daun yang kering, jika tidak hujan, dan menyalakan api di gunungan daun-daun kering yang ditumpuknya. Wajahnya mengandung melankolia yang tak kita pahami. Ia menyiratkan sebuah buku yang sampulnya keropos, tapi di dalamnya ada kisah-kisah yang asyik dibaca. Terlebih di hari-hari ketika wabah melanda.

Aku membaca buku itu dengan pelan, setiap pagi saat asap dari cangkir kopiku mengepul ke langit-langit teras. Halaman demi halaman, seperti kota yang mendadak vakum oleh bakteria, atau epidemi, atau apalah yang bukan-manusia. Sementara sekolah-sekolah ditutup, dan universitas dipindah ke internet, buku itu rutin mengisi pagi, siang, sore, malamku dengan ketabahan yang tak terpemanai. Di sela-sela paragraf, aku pergi ke kompor dan merebus jahe, membiarkan wanginya merebak ke sendi-sendi dan saraf-saraf, serta memberi makna untuk tanah yang melahirkannya. Lalu, pendar jingga sore muncrat di balik jendela, dan aku mematikan kompor untuk menyesapnya di bibir teras.

Saat-saat itulah si kakek sedang sibuk dengan vakansinya, yang rutin ia jalani sejak entah kapan. Daun-daun kering itu telah memberinya alasan yang juga entah apa. Dan asap-asap yang dihasilkannya memberinya jawaban atas pertanyaan yang urung diselesaikannya. Bagaimana caranya kita bertahan hidup di tengah dunia yang serba salah, ketika mesin-mesin terganas masuk ke hutan terdalam untuk membabat pohon-pohon dan menciptakan tanah-tanah perkebunan luas sebagai pembangkangan untuk Ibu Bumi? Lalu, daun-daun perlahan lenyap, menjadi abu, dan asap menjadi abu-abu, dan kota menjadi kelabu.

Corona

Corona adalah tanda tanya yang menganga di depan muka.

Ia telah memberi kita banyak pertanyaan, tanpa jawaban. Juga banyak perenungan. Kita jadi bertanya-tanya apa makna dari perjalanan-perjalanan ini, jika ia hanya berakhir sebagai pandemi? Haruskah kita berangkat pulang ke rumah, dan tinggal diam selamanya di hutan-hutan terdalam di jantung ibu?

Kota-kota menjadi sepi. Isolasi dan solidaritas membentuk paradoksnya di tengah pandemi ini. Kita memahami bahwa kolektivitas dan individualitas itu bukan kontradiksi. Ia adalah semacam paket yang utuh. Kita bertanya-tanya tentang apa guna sendiri sendirian tanpa sendiri ramai-ramai?

Setelah ini, filsafat baru akan tumbuh di pusat bumi. Kita akan memahami biologi dengan mata berbeda. Makhluk hidup bukan-manusia, pada akhirnya, telah menjadi agensi yang menginterupsi kerakusan kita, yang memangkas hutan hingga ke akar-akar, hingga virus-virus paling jahat mekar di kota.

Di tengah karantina ini, sebenarnya kita diberi waktu untuk bertanya. Kita terlalu sibuk mengakumulasi, sehingga lupa menerka coreng di muka sendiri. Bagaimana caranya iklim bisa berkelahi dengan takdirnya sendiri? Haruskah kita berhenti berpergian dan duduk manis mengisi teka-teki silang di bibir teras?

Selama ini, demonstrasi telah gagal menghentikan pabrik, juga diktat-diktat tebal Marxisme. Tapi, sebuah virus telah menciptakan revolusinya sendiri. Ia datang tanpa undangan, dengan sebuah dor! yang bising. Huru-hara di supermarket. Huru-hara di kepala. Segulung tisu toilet muncrat dari mulutku.

Sebuah Taman

Aku mendamba sebuah taman. Di petak-petaknya aku ingin menanam brokoli dan melankoli. Aku ‘kan memanennya setiap sabtu, supaya bisa menikmati akhir pekan dengan sepiring brokoli campur melankoli. Kan kusantap ia dengan secentong nasi merah, dan kulap sisa-sisa makanan dengan likuor.

Di taman itu, sebentuk orang-orangan kan kudirikan, untuk mengusir gagak yang mengintai tanamanku. Aku kan memberinya seragam abri, lengkap dengan pangkat-pangkat yang mengerikan, supaya si gagak tak berani masuk menggasak brokoli dan melankoliku. Jika tidak, ia kan didor oleh pak abri.

Taman itu penuh dengan hujan. Aku tak perlu memupukinya dengan cita-cita yang jauh, karena hujan ‘kan datang tepat waktu, setiap kali tanahku mendambakan air dan tanamanku menginginkan mineral. Kemarau takkan mampir di tamanku. Ia akan stop di depan pagar dan melipir pergi tanpa permisi.

Sebuah taman, yang kugarap di tepi kota itu, akan menjelma iklim yang berontak. Ontologinya tak bernama. Filsafat akan kehilangan makna di dalamnya. Dan kita tak perlu menjadi apa-apa di luarnya. Kita hanya perlu membiarkannya tumbuh, dan ia akan memberi kita apa-apa yang secukupnya.

Monologues

Monologue on Giving Up

To be able to try is a privilege.

Some people don’t even have a chance to try, let alone to get. At least I have had that kind of chance, and that sort of privilege. I tried. I chose to try. And, not least importantly, I was totally supported – by family, lover, friends, etc. – to try.

This privilege contains many other things life has kindly given me. Great mom, great lover, great brother & sister, great friends, good fortunes, nice coincidences, and else. They all have provided me, essentially, with time (to try) and little savings (to ‘buy’ that time). But, there is always but, no? I have tried, but I seemingly haven’t reached the point I imagined in the beginning. Money runs out, time’s up. It’s time to give it up.

But, I have tried. And, it should always be okay to quit after you try. I think. I’ve done the trying, yet I have to learn the quitting. It’s not always easy to quit. Yet every champion learns how to quit once or twice in her/his lifetime. People are trying, people are quitting.

Why bother?

***

Monologue on Praying (or not)

What is prayer, anyway?

Is it a kind of words we spell for miracles, or hopes, or something we are no longer capable of doing? When we pray, who are we telling to? Some sort of magical/superior thing, or to ourselves, or to a universe, or to whom?

“Please pray for blah-blah-blah.” I heard it so many times these days and I’ve start to take it as a cliché. I cannot take it very seriously now, as I do not know who to believe, or whom to pray to, or whom I should telling my problems and hopes and dreams to. What is god, anyway? Or, more precisely, what are gods? Are they there listening to the prayers of humans, who are no longer able to hope, to do, to try, to see, to breath, to listen, to xxx?

Recently I prayed with no words. I prayed with all my bodies and souls. The prayers I told were not in the form of sentences. There were no grammars. There were no structures. No words. No letters. No intentions. No directions. But, I prayed. At least, that’s what I think. Perhaps this is a kind of prayer which hopeless and helpless. Still I prayed, anyway.

I don’t know why. Words may fail. So I no longer able to pray with words. If the body-prayer fails me too, I don’t know through which form I should pray.

Perhaps I should stop praying at all?

***

Monologue on a Death of a Friend

After a Saturday night dinner at Sagan, I came back to Wedomartani. I chilled on the bed and read the Whatsapp message, telling that my good friend has just passed away. It was so sudden. She was hit by a truck in her hometown of Kampala, Uganda. I was shocked. So do other friends in many corners of the world.

How can a death of a friend that is no longer physically close to you can be so unbearable? I mean, if we were still living in the same city and met quite regularly, then such a sudden death must logically be very painful. Yet we are already separated, living each separate life in each separate city. But, then, death has come and separate us even more. How do we actually measure distance, proximity, and (non)existence?

To console myself from the sadness and questions hanging uneasily in my head, I drove to the coast in the south. A death of a friend has apparently brought me to familiar things which I previously don’t know I miss. The scene along the way: rice field, long asphalt road ahead, smell of the sea, life so mundane that we barely think of, all the good things life has provided us but we are too busy to look for something else (something abstract, a concept).

At the beach, I found my spot to reflect. I ate my lunch and I gazed at the ocean. Across that ocean is Africa. A friend has died there yesterday. In a continent I’ve always dreamed to go to. She once encouraged us to save money to visit her in Uganda. She said she will fix all other things. We only need two-ways flight ticket. Yet, death has come.

And what has already been separated are separated even more.

Semenjana #8

Ketika November menjelang, saya ingin kembali ke puisi. Pencarian-pencarian lain sudah merontokkan tubuh saya jadi keping-keping, dan pikiran saya jadi remah-remah, dan hati saya jadi sisa-sisa kepasrahan. Karena itulah saya harus kembali ke perenungan soal mediokritas, yang berminggu-minggu tak tersentuh.

Sebenarnya tinggal setengah jalan lagi. Kira-kira begitu. Jadi saya hanya perlu mencari bunyi yang lama diam di tempat lindap di sudut-sudut tubuh, kepala, hati saya. Saya tidak pernah kuatir karena semua ini telah dimulai. Semua yang bermula akan berakhir, entah besok atau 1000 tahun lagi. Seperti mau Chairil.

Tapi, sebelum kembali ke file jahanam itu, saya akan membuka teks-teks dan buku-buku yang menggugah, yang menjadi picu untuk isi kepala saya, yang memberi jari jemari saya imajinasi untuk memencet tuts-tuts di laptop, yang memberi mata saya alasan untuk menatap layar dengan iman seorang umat.

Pada kata-kata, saya akan kembali. Di situlah rumah. Saya pergi kesana kemari untuk melarikan diri dari bukan-rumah, dari kota yang mendadak asing, dari orang-orang yang tiba-tiba menjadi seperti kumpulan orang aneh berbaju necis. Saya mencari kota-kota yang baru. Padahal saya hanya perlu kembali ke puisi.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #7

Jeda. Ketika malam ini saya membuka Afrizal Malna, saya mendapati bunyi yang hilang di kepala saya. Selama ini, saat saya membaca kata-kata yang ditulis Afrizal, saya akan mendengar bunyinya. Tapi, tidak kali ini. Rasanya ada yang keliru ketika saya membaca Afrizal tanpa suara yang mengalun di benak.

Beberapa pekan ke belakang, saya sedang mengambil jeda pada proyek personal ini. Naskah medioker.docx terabaikan begitu saja di folder Drafting. Itu folder yang diperuntukkan untuk file-file yang menggantung. Setiap membuka file itu dan hendak menulis, seperti ada batu bata yang menghalangi isi kepala saya, yang mematikan suara yang selama ini mendorong saya mengetik kalimat-kalimat.

Saya baru sadar, malam ini, ketika membuka Afrizal dan tak menemukan bunyi, bahwa selama ini proyek ini disusun oleh suara-suara yang ada di kepala saya. Sebenarnya, dalam banyak aktivitas menulis lain, saya cuma mengikuti suara yang ada di kepala. Lalu, ia sinkron dengan sendirinya ke jari-jemari yang tak-tik-tuk.

I listened to the sound inside my head when I wrote. Not only about rhymes, but how it sounds to me. Sometimes it surprised me too.” Kira-kira begitulah tulis saya ke ibu editor, sebagai justifikasi untuk kalimat-kalimat saya yang berantakan dan liar, yang kadang tak punya makna apa-apa. Tapi, setidaknya kalimat-kalimat itu menggugah saya, karena ia tumbuh dari bunyi yang berdiam di tubuh saya.

Seharusnya, seperti itulah puisi dan prosa ditulis, bukan? Seperti Kerouac, seperti Afrizal, kita berhutang pada suara/bunyi di kepala. Ketika mereka/kita menulis, suaralah yang menuntun. Ketika kita membaca, suara pulalah yang berdengung di retina. Saya jadi ingat Ingold, yang pada salah satu esai epiknya menolak dikotomi antara penglihatan, pendengaran, dan indera-indera lain.

When I read, I see the voice.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #6

Saya selalu ingin menulis seperti Albert Camus. Kumpulan cerita pendeknya, Summer, adalah favorit saya ketika berangkat ke toilet. Singkatnya, saya selalu ingin menulis buku yang bisa orang nikmati ketika berak.

Fabien, pria tua dari Bordeaux itu, mengingatkan saya untuk hati-hati ketika bicara soal buku Camus yang saya baca saat buang air besar. “Banyak orang yang suka Camus, mungkin saja mereka akan merasa terhina karenanya,” ujar dia. Tapi, apa yang salah dengan berak dan buku yang menemani tai-tai keluar?

Toilet adalah tempat kudus, pikir saya. Saya selalu ingin memiliki toilet dengan buku-buku di dalamnya. Saya membayangkan ada sebuah rak kecil, tepat di atas toilet duduk, tempat saya menaruh buku-buku. Ketika tai nyemplung, saya akan merayakannya dengan sastra. Kira-kira begitulah cita-cita saya.

Setidaknya saya ingin orang membaca ketika berak. Saya berhutang pada Camus, juga penulis-penulis lain yang bukunya suka saya baca ketika di toilet. Di tengah kota yang bising, toilet adalah salah satu persembunyian yang saya ciptakan untuk melarikan diri ke puisi. Jadi, sebenarnya saya hanya ingin berbalas budi.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Makan Malam Poskolonial

Maukah kau menraktirku makan malam di bistro Western di bilangan Gondangdia? Di sana aku akan memesan Fanon, Mbembe, dan Spivak, seraya pelan-pelan membiarkan Soekarno memenuhi gendang telingaku. Di atas meja, saus sambal berdiri gagah di samping mustard. Dan aku akan menceritakanmu sebuah kisah dari Banda, ketika kapal-kapal VOC itu…

Piring-piring putih kemudian disajikan. Lengkap dengan makanan-makanan orang kulit putih. Daging babi kuiris-iris. Darahnya luber hingga menggenang ke lantai yang putih pula. Oh putih-putih ini terasa terlalu menyilaukan. Malam jadi terang benderang. Di meja sebelah, sepasang bule totok dan seorang Indo tertawa keras bersama aksen Limburg yang khas.

Di perutmu, kau akan menimbun kentang-kentang gendut yang dikemas ala Germania. Lalu, Thüringer Bratwurst akan menyelip di sela-sela gigimu yang bengkok oleh garpu, yang entah dibikin di pabrik mana, mungkin Cina atau Bangladesh. Secarik serbet akan mengelap sisa-sisa kolonialisme di bibirmu. Dan aku akan membersihkannya total dengan sebuah ciuman antikolonial.

Setelah makan adalah minum. Bintang kecil di langit yang tidak-biru, demikian kau bernyanyi dan bersendawa di atas meja. Dan aku mengaduk-aduk Carlsberg dengan jari telunjukku yang basah oleh neoliberalisme, dan jari tengahku oleh falsafah Skandinavia. Di balik kerongkongkan, aku membayangkan Tuborg yang kutenggak di Kopenhagen, pada 31 Desember, sebelum tahun baru memberiku alasan baru untuk membenci oligarki.

Haruskah kita memesan dessert? Semacam gelato artisanal yang kau genggam di Assisi, atau seperti stroopwafel yang meleleh di lidahku? Atau mungkin kita sebaiknya menyelesaikan makan malam ini dengan selembar manifesto dari periferi. Aku akan memindahkan Bandung ke utara, agar orang-orang Rusia dan Amerika paham soal jalan ketiga, keempat, kelima, etcetera. Agar anak-anak selatan tak lagi sungkan menyembah kura-kura.