Monologues

Monologue on Giving Up

To be able to try is a privilege.

Some people don’t even have a chance to try, let alone to get. At least I have had that kind of chance, and that sort of privilege. I tried. I chose to try. And, not least importantly, I was totally supported – by family, lover, friends, etc. – to try.

This privilege contains many other things life has kindly given me. Great mom, great lover, great brother & sister, great friends, good fortunes, nice coincidences, and else. They all have provided me, essentially, with time (to try) and little savings (to ‘buy’ that time). But, there is always but, no? I have tried, but I seemingly haven’t reached the point I imagined in the beginning. Money runs out, time’s up. It’s time to give it up.

But, I have tried. And, it should always be okay to quit after you try. I think. I’ve done the trying, yet I have to learn the quitting. It’s not always easy to quit. Yet every champion learns how to quit once or twice in her/his lifetime. People are trying, people are quitting.

Why bother?

***

Monologue on Praying (or not)

What is prayer, anyway?

Is it a kind of words we spell for miracles, or hopes, or something we are no longer capable of doing? When we pray, who are we telling to? Some sort of magical/superior thing, or to ourselves, or to a universe, or to whom?

“Please pray for blah-blah-blah.” I heard it so many times these days and I’ve start to take it as a cliché. I cannot take it very seriously now, as I do not know who to believe, or whom to pray to, or whom I should telling my problems and hopes and dreams to. What is god, anyway? Or, more precisely, what are gods? Are they there listening to the prayers of humans, who are no longer able to hope, to do, to try, to see, to breath, to listen, to xxx?

Recently I prayed with no words. I prayed with all my bodies and souls. The prayers I told were not in the form of sentences. There were no grammars. There were no structures. No words. No letters. No intentions. No directions. But, I prayed. At least, that’s what I think. Perhaps this is a kind of prayer which hopeless and helpless. Still I prayed, anyway.

I don’t know why. Words may fail. So I no longer able to pray with words. If the body-prayer fails me too, I don’t know through which form I should pray.

Perhaps I should stop praying at all?

***

Monologue on a Death of a Friend

After a Saturday night dinner at Sagan, I came back to Wedomartani. I chilled on the bed and read the Whatsapp message, telling that my good friend has just passed away. It was so sudden. She was hit by a truck in her hometown of Kampala, Uganda. I was shocked. So do other friends in many corners of the world.

How can a death of a friend that is no longer physically close to you can be so unbearable? I mean, if we were still living in the same city and met quite regularly, then such a sudden death must logically be very painful. Yet we are already separated, living each separate life in each separate city. But, then, death has come and separate us even more. How do we actually measure distance, proximity, and (non)existence?

To console myself from the sadness and questions hanging uneasily in my head, I drove to the coast in the south. A death of a friend has apparently brought me to familiar things which I previously don’t know I miss. The scene along the way: rice field, long asphalt road ahead, smell of the sea, life so mundane that we barely think of, all the good things life has provided us but we are too busy to look for something else (something abstract, a concept).

At the beach, I found my spot to reflect. I ate my lunch and I gazed at the ocean. Across that ocean is Africa. A friend has died there yesterday. In a continent I’ve always dreamed to go to. She once encouraged us to save money to visit her in Uganda. She said she will fix all other things. We only need two-ways flight ticket. Yet, death has come.

And what has already been separated are separated even more.

Semenjana #8

Ketika November menjelang, saya ingin kembali ke puisi. Pencarian-pencarian lain sudah merontokkan tubuh saya jadi keping-keping, dan pikiran saya jadi remah-remah, dan hati saya jadi sisa-sisa kepasrahan. Karena itulah saya harus kembali ke perenungan soal mediokritas, yang berminggu-minggu tak tersentuh.

Sebenarnya tinggal setengah jalan lagi. Kira-kira begitu. Jadi saya hanya perlu mencari bunyi yang lama diam di tempat lindap di sudut-sudut tubuh, kepala, hati saya. Saya tidak pernah kuatir karena semua ini telah dimulai. Semua yang bermula akan berakhir, entah besok atau 1000 tahun lagi. Seperti mau Chairil.

Tapi, sebelum kembali ke file jahanam itu, saya akan membuka teks-teks dan buku-buku yang menggugah, yang menjadi picu untuk isi kepala saya, yang memberi jari jemari saya imajinasi untuk memencet tuts-tuts di laptop, yang memberi mata saya alasan untuk menatap layar dengan iman seorang umat.

Pada kata-kata, saya akan kembali. Di situlah rumah. Saya pergi kesana kemari untuk melarikan diri dari bukan-rumah, dari kota yang mendadak asing, dari orang-orang yang tiba-tiba menjadi seperti kumpulan orang aneh berbaju necis. Saya mencari kota-kota yang baru. Padahal saya hanya perlu kembali ke puisi.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #7

Jeda. Ketika malam ini saya membuka Afrizal Malna, saya mendapati bunyi yang hilang di kepala saya. Selama ini, saat saya membaca kata-kata yang ditulis Afrizal, saya akan mendengar bunyinya. Tapi, tidak kali ini. Rasanya ada yang keliru ketika saya membaca Afrizal tanpa suara yang mengalun di benak.

Beberapa pekan ke belakang, saya sedang mengambil jeda pada proyek personal ini. Naskah medioker.docx terabaikan begitu saja di folder Drafting. Itu folder yang diperuntukkan untuk file-file yang menggantung. Setiap membuka file itu dan hendak menulis, seperti ada batu bata yang menghalangi isi kepala saya, yang mematikan suara yang selama ini mendorong saya mengetik kalimat-kalimat.

Saya baru sadar, malam ini, ketika membuka Afrizal dan tak menemukan bunyi, bahwa selama ini proyek ini disusun oleh suara-suara yang ada di kepala saya. Sebenarnya, dalam banyak aktivitas menulis lain, saya cuma mengikuti suara yang ada di kepala. Lalu, ia sinkron dengan sendirinya ke jari-jemari yang tak-tik-tuk.

I listened to the sound inside my head when I wrote. Not only about rhymes, but how it sounds to me. Sometimes it surprised me too.” Kira-kira begitulah tulis saya ke ibu editor, sebagai justifikasi untuk kalimat-kalimat saya yang berantakan dan liar, yang kadang tak punya makna apa-apa. Tapi, setidaknya kalimat-kalimat itu menggugah saya, karena ia tumbuh dari bunyi yang berdiam di tubuh saya.

Seharusnya, seperti itulah puisi dan prosa ditulis, bukan? Seperti Kerouac, seperti Afrizal, kita berhutang pada suara/bunyi di kepala. Ketika mereka/kita menulis, suaralah yang menuntun. Ketika kita membaca, suara pulalah yang berdengung di retina. Saya jadi ingat Ingold, yang pada salah satu esai epiknya menolak dikotomi antara penglihatan, pendengaran, dan indera-indera lain.

When I read, I see the voice.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #6

Saya selalu ingin menulis seperti Albert Camus. Kumpulan cerita pendeknya, Summer, adalah favorit saya ketika berangkat ke toilet. Singkatnya, saya selalu ingin menulis buku yang bisa orang nikmati ketika berak.

Fabien, pria tua dari Bordeaux itu, mengingatkan saya untuk hati-hati ketika bicara soal buku Camus yang saya baca saat buang air besar. “Banyak orang yang suka Camus, mungkin saja mereka akan merasa terhina karenanya,” ujar dia. Tapi, apa yang salah dengan berak dan buku yang menemani tai-tai keluar?

Toilet adalah tempat kudus, pikir saya. Saya selalu ingin memiliki toilet dengan buku-buku di dalamnya. Saya membayangkan ada sebuah rak kecil, tepat di atas toilet duduk, tempat saya menaruh buku-buku. Ketika tai nyemplung, saya akan merayakannya dengan sastra. Kira-kira begitulah cita-cita saya.

Setidaknya saya ingin orang membaca ketika berak. Saya berhutang pada Camus, juga penulis-penulis lain yang bukunya suka saya baca ketika di toilet. Di tengah kota yang bising, toilet adalah salah satu persembunyian yang saya ciptakan untuk melarikan diri ke puisi. Jadi, sebenarnya saya hanya ingin berbalas budi.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Makan Malam Poskolonial

Maukah kau menraktirku makan malam di bistro Western di bilangan Gondangdia? Di sana aku akan memesan Fanon, Mbembe, dan Spivak, seraya pelan-pelan membiarkan Soekarno memenuhi gendang telingaku. Di atas meja, saus sambal berdiri gagah di samping mustard. Dan aku akan menceritakanmu sebuah kisah dari Banda, ketika kapal-kapal VOC itu…

Piring-piring putih kemudian disajikan. Lengkap dengan makanan-makanan orang kulit putih. Daging babi kuiris-iris. Darahnya luber hingga menggenang ke lantai yang putih pula. Oh putih-putih ini terasa terlalu menyilaukan. Malam jadi terang benderang. Di meja sebelah, sepasang bule totok dan seorang Indo tertawa keras bersama aksen Limburg yang khas.

Di perutmu, kau akan menimbun kentang-kentang gendut yang dikemas ala Germania. Lalu, Thüringer Bratwurst akan menyelip di sela-sela gigimu yang bengkok oleh garpu, yang entah dibikin di pabrik mana, mungkin Cina atau Bangladesh. Secarik serbet akan mengelap sisa-sisa kolonialisme di bibirmu. Dan aku akan membersihkannya total dengan sebuah ciuman antikolonial.

Setelah makan adalah minum. Bintang kecil di langit yang tidak-biru, demikian kau bernyanyi dan bersendawa di atas meja. Dan aku mengaduk-aduk Carlsberg dengan jari telunjukku yang basah oleh neoliberalisme, dan jari tengahku oleh falsafah Skandinavia. Di balik kerongkongkan, aku membayangkan Tuborg yang kutenggak di Kopenhagen, pada 31 Desember, sebelum tahun baru memberiku alasan baru untuk membenci oligarki.

Haruskah kita memesan dessert? Semacam gelato artisanal yang kau genggam di Assisi, atau seperti stroopwafel yang meleleh di lidahku? Atau mungkin kita sebaiknya menyelesaikan makan malam ini dengan selembar manifesto dari periferi. Aku akan memindahkan Bandung ke utara, agar orang-orang Rusia dan Amerika paham soal jalan ketiga, keempat, kelima, etcetera. Agar anak-anak selatan tak lagi sungkan menyembah kura-kura.

Semenjana #5

I see mediocrity as a neutral category to portray ontological projects of people living in urban context. Mediocrity, at best, is an escape from urban delirium. Work, traffic, and money have captured us, making us enjoying a state of being okay with un-okay stuffs on the road, inside the cubicle, and in front of the ATM.

Being mediocre, I begin to understand, is a wise tactic of surfing on the chaos. It’s okay to be not okay, as it happens to most people, especially the urban middle class. In this sense, we break away from the dreams we always revise and the misplaced hopes put on us by others (parents, universities, state, friends, bosses).

We were raised with too much superlatives, I suppose. Then, we were taught to accumulate anything, material things or immaterial desires. I blame a fallen Berlin wall that has given us this neoliberal mind of dreaming on accumulating, of accumulating the superlatives, of telling lies about changing the world.

Then comes the revelation: mediocrity. I use it as a heuristic method to understand the urban dwellings, in which I was/am a part of. After all the screams and spirits of revolutionizing anything (digital, economy, football, and else), we should now stop a bit. We talk/work/dream/change/accumulate too much anyway.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #4

Danijel Subotic. Saya membayangkan kenapa dia pergi meninggalkan Eropa dan berakhir di Kuwait. Pada sebuah malam, ia mencetak gol ke gawang Persipura. Gol itu yang membuat saya mula-mula merenungi soal kesemenjanaan ini. Apa salahnya menjadi medioker di dunia yang serba menuntut?

Subotic yang kosmopolit. Lahir di Zagreb, paspor Swiss & Serbia, malang-melintang di banyak negara. Ia memulai di Swiss, lari ke Inggris, lalu Italia, dan setelahnya berangkat ke timur: Romania, Ukraina, dan Azerbaijan. Hingga akhirnya ia tiba di Kuwait pada 2014. (Setelah itu Moldova, Korea, dan Kazakhstan.)

Saya membayangkan Subotic sebagai sampel. Anak-anak yang mengasah mimpinya untuk menjadi semacam Beckham atau Del Piero. Awalnya, semua baik-baik saja. Lalu usia bertambah, dan kenyataan tak bisa dikibuli. Mimpi-mimpi terus direvisi. Good bye, Becks, we are going east. We are going nowhere.

Apa salahnya menjadi biasa-biasa saja? Lewat golnya, di layar tv, Subotic seperti bertanya ke saya: apa salahya bermain di Qadsia dan membobol Persipura? Fuck the Alps, fuck Premier League. Dan semuanya baik-baik saja. Ia terus bermain bola dan mencari gawang berikutnya untuk dirobek. Tor!

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #3

Detil-detil yang mengosongkan kepalaku terjadi pada pukul 2.40 dinihari. Saat itu matahari belum tampak di timur dan kita terpaksa menyusun nyala dari lidi-lidi yang dirapatkan. Kita akan menanam pagi dengan puisi, dengan lukisan tentang perempuan yang buah dadanya menyala seperti api di Etna.

Ketika sepakbola dimainkan, aku melupakan hal-hal. Seperti ombak di Siberut. Kita perlu senjata untuk amnesia. Melupakan adalah sebuah seni yang masing-masing memelajarinya saat beranjak remaja. Ingatan itu mengerikan. Tapi, alzheimer juga. Kita terjebak pada dua kengerian yang terus menghimpit.

C’est la vie. Bangunan-bangunan tua di Lyon telah bicara tentang manusia yang terjebak nostalgi. Mereka bergerak maju dengan kepala yang diputar ke belakang. Sebenarnya, kita tak pernah hidup hari ini. Cuma kemarin atau lusa. Yang asing adalah sekarang. Mungkin karena itukah kita selalu bermuram durja?

Eropa membawaku ke sudut-sudut yang baru untuk mengerti misteri. Dan aku dibiarkannya tersesat di lorong-lorong gelap, penuh alkohol dan pelacur-pelacur dari Siberia. Saat aku keluar, aku menemukan diriku di belantara yang absurd. Di sana, cuma ada bayangan-bayangan samar tentang entah-apa.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #2

Perempuan itu terus melantur entah tentang apa. Bibirnya bicara a, tapi suaranya soal b. Semuanya surreal, seperti sebuah mimpi di malam yang becek. Jakarta Raya, pukul 7 petang, mengandung wangi keringat dan nestapa. Hari berakhir, dan gelas-gelas wiski diputar di dalam lingkaran. Hompimpaalaiumgambreng.

Adalah teduh pohon di samping warung Mang Kus. Ia telah jadi semacam refuge dari deadline, jadwal liputan, dan omong kosong bikinan hrd. Terduduklah kita di bangku seadanya di sana dan kita tak dituntut menjadi apa-apa. Kecuali manusia yang bercerita tentang aiueo dan xyz yang tak melulu soal kerja, kerja, kerja.

Melankolia telah kucampur dengan es dawet. Dan aku memesan teori dari Amerika untuk menjelaskan kenapa kota menjadi ruwet. Park dan Habermas mengisi layar komputer, lalu sistem mendadak mandek. Sebentar, mari kita pergi ke bawah dan memencet klakson. Tut, tut, tut. “Hai kota yang tua bangka.”

Seperti itulah hari-hariku terselip di laci, pada sebuah kubikel yang peyot di Bona Indah. Sebelas bulan terbaik. Tanpa hierarki yang mengular dari Palmerah sampai Panjang. Tanpa embel-embel #1, t.o.p, dan superlatif lain. Kita tak harus jadi apa-apa, kecuali manusia yang berbagi keluh kesah di sore merekah.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.