Sore

Seseorang berdiri setengah telanjang. Dadanya lepas. Berkilau seperti logam. Di dadanya, napas-napas teratur bergerak, memompa senyawa keluar-masuk, seperti mesin yang berderap. Lirih, tanpa seruan. Sinar matahari sedang jatuh, ketika ia keluar dari pintu, menatap udara yang oranye di sekitarnya. Cahaya bertubrukan. Bam! Oranye di udara dan logam di dada.

Dada itu naik-turun, seperti ingin mengambil jeda dari kehidupan yang berisik di kanan-kirinya. Kota berakhir di sana: sebuah pemakaman untuk hidup yang nonsens. Ditelannya pelan-pelan udara yang berkelabatan di sekitar tubuhnya. Ia menghirup. Ia membagi. Semuanya adalah ritme. Dimanakah napas bermula? Dan kemanakah ia bermuara?

Matanya lurus, menatap entah apa. Bayang-bayang pepohonan jatuh di retinanya yang kusam. Ia mencerna bunyi dari sinar yang mengelilingi. Ia mendekap cahaya dari suara yang memenuhi gendang telinganya: anak-anak anjing yang menyalak, ayam yang berkukuruyuk kala sore menjelang, dan desing motor yang terdengar sayup di utara jalan.

Ia terduduk, di ubin yang merah bukan-darah, di teras yang berdebu, setelah kemarau ganas menghantam desa-desa di barat. Hujan tak kunjung derap di sini. Air membuat kita bersendu. Udara kelewat garang, membuat sesak, membikin pengap. Dada-dada terbuka. Seperti logam mereka bercahaya. Memompa napas keluar-masuk. Pelan-pelan.

***

Di ujung setapak, aku mendaratkan pandang di jendela. Kacanya yang setengah gelap menangkap seseorang bertelanjang dada. Keluar rumah dengan senyum yang tanggal. Udara memekik hidungnya, menunda napasnya. Keringat mengucur dari kerongkongan. Perut tembaga. Mata tembaga, berbayang sore. Matahari tenggelam di sana. Sebuah hari berakhir.

Ja-rak

Aku ingin menyublimkan jarak. Supaya kita bisa duduk mepet-mepet lagi. Seperti stadion yang penuh. Atau diskusi buku yang terlalu sesak, di kedai sempit bilangan Lebak Bulus. Atau bus-bus antarkota berbau keringat. Kita berbagi spasi yang tipis, seraya menyeberangi tembok kultural via dialog. Ketika droplet belum jadi kosakata sehari-hari.

2020 telah memberi kita aturan rigid tentang ‘jarak’. Yang fisik atau sosial (tidak) sama saja. Ia dipangkas habis oleh diktat-diktat WHO, juga telaah-telaah akademis di utara. Di selatan, atau di belahan dunia mana pun, kita kesulitan merangkai logika-logika ilmiah dengan tuntutan-tuntutan biologis. Tubuh-tubuh rindu dipeluk, rindu duduk-duduk bersinggung bahu.

Jika semua ini usai, kita perlu menggelar upacara untuk menguburkan jarak ajaib 1,5 meter itu. Dan kita kan merayakan the roaring 20s dengan berhimpitan di kereta menuju timur. Kita kan memadati konser-konser (dengan atau tanpa alkohol). Juga keintiman yang ugahari itu akan ditanam ulang, tanpa spasi yang membatasi kita berbagi droplet.

Ridwan Rais

Seekor kucing menyebrang. Lampu-lampu motor bersliweran, membuatnya linglung. 31 Desember dengan desing-desing motor. Tanpa pasar malam, tanpa huru-hara.

Di balik setir, menunggu nasi goreng Bang Kojol. Wajannya menyiratkan masa lalu. Juga suram lampu gerobaknya. Dan tenda-tenda berwarna krem usang. Radio mematikannya diri sendiri. Lampu-lampu motor tetap bersliweran. Orang-orang berjalan kaki, di bukan-trotoar.

Tak ada trotoar di Ridwan Rais. Di sini, jalanan punya teorinya sendiri soal urban planning, ruang publik, dan kota yang pecah oleh kendaraan. Tet-tet-tet, bunyi klakson.

15-20 menit yang asyik. Tok-tok-tok. Lamunan terhenti. Bang Kojol mengetuk jendela, menyodorkan plastik hitam kusam, dan 15 ribu perak berpindah ke tangannya.

Kucing itu sudah di seberang. Setelah motor-motor yang mengerem, memberinya jalan. Perlahan ia berjalan ke dalam Gang Turi. Entah kemana ia menuju. Stasiun?

Blok M

Tisu-tisu berloncatan ke bibirmu yang sayu. Adalah sebuah noda berbau tiramisu di meja kita. Di depan, entah-siapa cekrek-cekrek. Artis medsos dan omong kosong 4.0?

Blok M membuatku terbayang rak-rak pucat di basement. Buku-buku yang saling bertindihan, seperti membentuk gunung-gunung yang tak pernah didaki.

Maskermu mengendapkan karbondioksida. Hujan jatuh tik-tik-tik. Dan sepasang tua duduk romantik di dekat dapur. Mengebulkan asap yang kretek (atau bukan?).

Blok M… selalu semacam vakansi mini, di tengah dunia yang berteriak. Orang-orang gamang di sana memberiku liburan singkat dari rumah, komputer, pandemi.

Tumpul

Pensilku tumpul. Gagal diasah jalan-jalan yang lengang, dan kota-kota asing yang bicara tentang hal-hal yang subtil. Tanpa kelana, apakah aku?

Sedang, tugas-tugas kampus tertumpuk di meja. Pensilku tumpul. Dimakan kertas-kertas yang merayap. Juga tabel-tabel excel yang terlalu putih.

Lalu, 2020 menutup dirinya pelan-pelan. Seperti sebuah drama yang tragis, ia. Tirai dibungkus. Pensilku tumpul. Lupa caranya mengarang.

Wangi Hutan

Bau hutan bercampur dengan bau kaki-kakiku, yang berlari di jalan-jalan lengang di UI, pada sebuah akhir pekan yang biasa-biasa saja di musim pandemi.

Adalah sebuah rotunda yang familiar. Dekat sebuah menara air legendaris, yang berisi mitos-mitos urban tentang hantu, yang dulu mengisi haha-hihi kami di Takor.

Dari arah Balairung, ‘ku berbelok ke kiri, menyisir pinggir aspal yang agak basah. Lalu, tiba-tiba saja bau itu menguar dari balik pohon-pohon yang berbaris di kiri.

Seperti sebuah lagu lama yang begitu saja muncul di telinga.

***

Hujan turun konstan dari pagi hingga sore. Memberi kita konser tik-tik-tik, dengan iklim yang jatuh, dan sweater warna-warni dari Titisee yang akhirnya terpakai lagi.

Kursi goyang bergoyang di teras. Rintik memberi irama, juga sepotong angin dari utara. Di halaman, burung-burung berteduh di pohon-pohon yang ditanam ibuku.

Ibuku menanam hutan kecil di rumahnya, tempat burung-burung kini punya tempat untuk singgah. Cit-cit-cit, bunyi mereka suatu pagi, memberiku jeda dari buku.

Kenapa kita terus diajari menanam kebaikan? Atau menanam modal? Tapi, tak pernah diajari menanam pohon di halaman. Agar ia tumbuh menjadi rumah bagi yang lain.

***

Tanah basah. Baunya mengandung memori. Tapi entah apa. Seperti jamur yang menghiasi kursi kulit lancer bapakku. Jamur-jamur membuatku mengingat Tsing.

Bau dan ingatan. Bagaimana keduanya berbagi spasi di tubuh? Seperti aroma hutan UI, atau wangi hujan tropis, atau wangi oli dari sebuah bengkel di Padang.

Di teras, kursi bergoyang. Halaman-halaman terlewati. Dan bau itu masih di sana, seperti sebuah pertanyaan yang tak terjawab. Tanda tanya dengan tik-tik-tik bunyi hujan.

Buku membuatku bosan di sana. Dan wangi itu duduk di halaman, menjadi teka-teki yang menunggu diterka. Burung-burung masih berlompatan di pohon ibuku.

Seperti Sebuah Puisi

Pada sebuah puisi, aku mendapatimu duduk, termangu, dengan kelopak-kelopak bunga yang tercecer. Kota-kota luruh di rambutmu. Tembok dipenuhi cat-cat merah, seperti sebuah graffiti yang enggan memekik marah, yang urung menjadi gemuruh di jalan-jalan.

Sebuah puisi ditulis dengan sungai yang mengalir. Di sana, jeram-jeram saling melompat, membentuk semacam konjungtur yang berakhir di muara, dan terus menjadi kembara di laut yang entah menuju mana. Apakah kita perlu menulis eulogi untuk sungai, ketika kita tahu omega adalah narasi yang konseptual, tentang kita yang bosan pada konstan, yang enggan pada gairah/kelana/pemberontakan yang terus mengaduh? Seperti sebuah tanah yang tak pernah selesai.

Doa-doa yang dirapal di Santiago, atau di Sarajevo, ketika kaki-kakiku menginjak debu, atau bekas hujan semalam, adalah doa yang sederhana. Ia diucap dengan kau yang tak perlu apa-apa untuk menjadi apa. Di dadamu, jalanan lengang menuju nirwana, menuju kota di bukit. Setelah kelana yang payah, dengan makna-makna yang rontok, apakah sebuah akhir adalah bibirmu yang terkatup? Atau, perlukah sebuah matrimoni kugelar di matamu, sebelum mata hari terbit di sana?

Kau dan aku, kita, di jalanan masing-masing, goyah menerka ribut angin di kepala masing-masing. Kota-kota terlewat. Bibir berbagai bahasa. Omong kosong pop, Descartes, Marx. Veganisme barat, buddhisme barat, apa-apa barat. Kau dan aku, kita, di jalanan masing-masing mencoba menulis resep untuk hidup yang belum selesai. Akumulasi, kalkulasi, mimpi-mimpi ditenggak jadi nasi, nasi-nasi dilahap jadi basa-basi, basa-basi ditelan jadi akumulasi, kalkulasi.

Di situ ada yang urung diutarakan. Sebuah puisi yang lindap. Ia ditulis dengan gairah yang tinggal separuh, dan harapan yang seperempat. Retorikamu, retorikaku, semua tak berarti apa-apa di depan waktu. Waktuku, waktumu, semua jadi teka-teki tanpa klu, tanpa jawab. Teka-tekimu, teka-tekiku, semua bergerak ke kota yang tak lagi sama.

Di kota itu, tepat di jantungnya yang robek, anak-anak bermain riang. Seperti pagi musim semi pertama, ketika bunga-bunga mekar, ketika matahari hangat betul, ketika senyum-senyum terbit. Di sana tak ada translasi, analisis, atau konseptualisasi tentang menjadi ada. Menjadi kita adalah sebuah kota yang tak pernah selesai. Ia ditulis dengan puisi yang berisik, yang tak jelas bicara apa, bukan dengan teori-teori jauh tentang hal-hal yang tak ada di sini hari ini.

Godean, 23 Agustus 2020

Kantor

Kadang saya kangen ngantor. Datang paling pagi, lalu membuka jendela model lama yang lebar itu. Lalu saya menikmati matahari masuk ke ruangan.

Sambil menunggu laptop menyala, saya akan beranjak ke dispenser untuk minum sedikit, setelah 20 menit berkendara. Saya mengisi penuh botol dan membawanya ke meja. Lalu saya duduk dan mulai masuk ke Youtube. Menyetel musik syahdu untuk menemani pagi yang masih sunyi di kantor.

Matahari bersinar di balik punggung saya. Membuat ruang makin temaram. Pelan-pelan saya mengetik entah apa, atau kadang mengecek pekerjaan yang belum selesai kemarin. Kadang pula saya hanya duduk menonton highlight sepak bola akhir pekan, atau video-video kecil sambil mengumpulkan niat kerja.

Lalu, perlahan teman-teman seruangan datang. Ada yang membawa jajanan pasar. Ada yang membawa cerita kehujanan. Ada yang menanyakan ini itu. Sesi setelahnya adalah obrolan pagi, entah sampai kapan. Di situ gosip-gosip mengalir, juga keluh kesah rumah tangga, atau topik semi-serius soal penelitian.

Jam makan siang tiba. Satu per satu beranjak menuju kantin. Kadang sendiri, kadang dalam kelompok. Yang malas ya diam di meja dan meminta orang kantin mengantarkan makan. Kadang saya juga suka begitu, apalagi ketika matahari sedang terik-teriknya menghujam jalannan di sekitar Sekip.

Setelah makan siang adalah obrolan pasca-rehat. Kadang menyusul topik pagi hari, kadang topik baru. Biasanya, kantuk mulai pelan-pelan tiba di sana. Lalu saya akan pamit membikin kopi sebentar di ruang sebelah; lalu kembali dengan wangi arabika menguar ke seluruh ruangan. Nikmat bukan, ngopi?

Sambil ngopi saya kembali ke laptop. Mencoba menulis paper, atau membuat proposal riset, atau mengerjakan urusan jurusan. Pukul tiga sore, satu per satu pulang. Tergantung harinya, kadang saya juga ikutan pulang. Tapi, jika masih ingin santai, saya akan menunggu sedikit lebih lama. Pulang paling akhir.

Biasanya, jam empat ke atas suasana akan seperti pagi ketika orang-orang belum datang. Sepi. Jendela kadang saya buka untuk membiarkan matahari sore masuk, juga angin sepoi dari timur. Lambat laun saya akan membereskan barang, mengepak tas, mematikan ac dan lampu, lalu mengunci pintu.

Pembakaran Sampah: Fragmen

Seorang kakek membakar sampah di halaman. Asapnya kemana-mana. Seperti membawa cerita dari masa yang jauh. Sore-sore dihabiskannya untuk mengumpulkan daun-daun yang kering, jika tidak hujan, dan menyalakan api di gunungan daun-daun kering yang ditumpuknya. Wajahnya mengandung melankolia yang tak kita pahami. Ia menyiratkan sebuah buku yang sampulnya keropos, tapi di dalamnya ada kisah-kisah yang asyik dibaca. Terlebih di hari-hari ketika wabah melanda.

Aku membaca buku itu dengan pelan, setiap pagi saat asap dari cangkir kopiku mengepul ke langit-langit teras. Halaman demi halaman, seperti kota yang mendadak vakum oleh bakteria, atau epidemi, atau apalah yang bukan-manusia. Sementara sekolah-sekolah ditutup, dan universitas dipindah ke internet, buku itu rutin mengisi pagi, siang, sore, malamku dengan ketabahan yang tak terpemanai. Di sela-sela paragraf, aku pergi ke kompor dan merebus jahe, membiarkan wanginya merebak ke sendi-sendi dan saraf-saraf, serta memberi makna untuk tanah yang melahirkannya. Lalu, pendar jingga sore muncrat di balik jendela, dan aku mematikan kompor untuk menyesapnya di bibir teras.

Saat-saat itulah si kakek sedang sibuk dengan vakansinya, yang rutin ia jalani sejak entah kapan. Daun-daun kering itu telah memberinya alasan yang juga entah apa. Dan asap-asap yang dihasilkannya memberinya jawaban atas pertanyaan yang urung diselesaikannya. Bagaimana caranya kita bertahan hidup di tengah dunia yang serba salah, ketika mesin-mesin terganas masuk ke hutan terdalam untuk membabat pohon-pohon dan menciptakan tanah-tanah perkebunan luas sebagai pembangkangan untuk Ibu Bumi? Lalu, daun-daun perlahan lenyap, menjadi abu, dan asap menjadi abu-abu, dan kota menjadi kelabu.