Post-thesis raving

So, I have given you unnecessary rhetoric of having and not-having. The kisses were melted down and we were/are/will be split by oceans. It is always a mistake to (not) talk. I fall in love with words but they scare me. In such ambivalence of loving/avoiding, I try to position myself in the chaotic (un)desire to say things. I have many bad habits. Two of them are: talking with too brutal honesty, sometimes too gross; and not talking at all, leaving things unsaid. At the end of the day, I am not sure anymore whether they are bad or not. Parcels of life.

I have offered you fantasies and dreams. They were/are too often melancholic. I love sad things; I have said this, no? They are more real and I borrow realism as my own escapism from the world where the real meaning of ‘virtual’ is lost. I am hiding in the parties and celebrations, but I will be in front of the coffins. Death is beautiful and sacred; that’s what we believe in highlands of Toraja. So, I will only drink for glorious despair of life. I will leave all the nice things to others who can make sense more of wild laughter, crazy smiles, and stupid screams.

I have left you smiles, anyway, and dummy wisdoms from the South/North/West/East. When I talk things, most of them are in between too good and too bad. I have been trying to avoid adjectives. That is my newest (ontological) revolution. That is my everyday resistance (along with consumerism, of course). But, I speak up, you know? I like silence and uninterrupted serenity. Yet, I realize that I like them because I try to find words there. So, I can make beautiful sentences from my inner being; from the place where poetic tales/thoughts grow wildly.

(Wageningen, 13 Agustus 2018)

Advertisements

yang paling nyeri

Yang paling nyeri dari bangun kepagian adalah ingatan tentang rumah.

Hari ini, tidak seperti biasanya, saya terbangun jam enam pagi. Lalu saya gegoleran di sofa, lalu saya mandi. Setelah itu saya ke dapur, untuk menyeduh kopi.

Yang paling nyeri dari kopi adalah ingatan tentang rumah.

Kopi yang saya seduh dari Sorong, Kopi Senang. Wanginya, astaganaga, menguar dan seketika membentuk bayangan tentang teras dan dapur di rumah. Saya tiba-tiba teringat bapak dan nenek saya. Kita bertiga peminum kopi paling giat di rumah. Dulu waktu kecil, saya suka menciumi wangi kopi yang baru mereka seduh.

Pagi ini, saya meminum kopi untuk mereka.

Bangun kepagian juga membuat saya mengingat ritual-ritual pagi yang biasa saya lakukan di rumah. Seperti menonton berita olahraga di televisi, atau tidur-tiduran di sofa. Dulu sebelum bapak mengantar saya ke sekolah, saya suka malas-malasan dulu. Sebangun tidur, saya langsung minum susu, lalu beranjak ke sofa sejenak. Setelah mandi, saya ganti baju sambil nonton televisi.

Hari ini, saya membuka laptop untuk itu. Tapi ternyata berita pagi sudah habis — karena di Indonesia sudah siang.

Yang paling nyeri, dari semuanya, adalah waktu yang berjarak.

(Wageningen, 20 Juni 2018)

Jelang Pulang

Sebentar lagi kita akan menyusun ulang bait-bait yang tertunda di Jakarta Raya. Belanda hampir selesai. Bayangan tentang masakan ibu di dapur rumah mulai membayang seperti semacam melankoli yang menghanyutkan. Koper-koper akan segera diisi. Kita kan mengemas sudut-sudut Eropa dengan senyum yang tak jelas maksudnya apa. Di antara selatan dan utara, kita terkoyak jadi dua.

Saya pikir tak ada yang terlalu puitik pada pulang. Ia adalah semacam niscaya. Seperti kematian, saya akan pulang. Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa imaji tentang rumah, tentang kota yang saya tinggali sejak kecil, tentang gang-gang yang berbau nyinyir ketika saya melewatinya dengan yamaha/honda. Pengalaman-pengalaman semacam itu bukan sesuatu yang diromantisir.

Segalanya berjalan terasa cepat? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya selalu merasa generasi saya sangat menyedihkan dalam hal yang satu ini; dalam hal mengelola waktu dan meresapinya. Time flies telah menjadi frasa yang banal. Mungkin ini semua karena transisi digital yang tergesa-gesa. Sebagai anak tiri internet dan kawan-kawannya, generasi ini punya masalah filosofis soal waktu.

Semua akan berakhir pada waktunya. Sama seperti ketika ia dimulai, ia akan terasa biasa saja. Gegar budaya mungkin akan terjadi. Tapi kita akan baik-baik saja, seperti kala pertama merasakan musim gugur ala Belanda. Jakarta akan baik-baik saja. Kita, sejatinya, memilin keintiman dengan apa-apa yang di sekeliling. Kita akan belajar mencintai yang di sekitar dengan tekun dan taat.

Jadi, hari-hari ini akan berlalu dengan perasaan yang sama seperti ketika kita berada di dalam kereta (atau bus). Stasiun/halte yang kita tuju akan segera muncul di jendela. Kita menantinya dengan perasaan-perasaan yang tak pernah dinamai. Seperti campuran was-was, dan siaga, dan kenyataan bahwa perjalanan akan segera usai. Kita harus bersiap-siap, karena rumah sudah di depan mata.

west/south and we who are trapped in the middle

O my body, make of me always a man who questions!

It was Fanon; either screaming or whispering. But he begged to his body. The thought we have in the head is inseparable with the body we have. Mignolo frames it as body-politics of knowledge. Skin matters. But also anything else.

Do you know what westerners should do? We should build a culture of shame.

It was Monica; preaching in the kitchen at Droef. I thought westerners should shut up. But not for her. Silence is not an option. Shame is. Still, with shame, come development. Isn’t that true? Then, with development, come World Bank.

We always have to jump to be on level with first world citizens. I am tired.

It was Chandra; responding to a question he arranged himself. I am tired, too. Can we just think and know with our own epistemologies? Then, we live in the pluriverse. The Others not as an exotica or an object of govern-ing/ment/ance.

Can the subaltern speak?

It was Spivak; asking rhetoric through the helps of Foucault and Deleuze. It all begins with the (western/modern/colonial) Self. Maybe, decolonial thinking offers us liberation with delinking. Why don’t we turn to communal instead?

yang sederhana

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita bungkam. Juga oleh puisi. Atau roman yang melenakan. Kita berbagi ruang imajiner, dengan jarak yang membentang ribuan mil. Kata-kata sering patah di tengah, ditelan arus samudra, atau hanyut dilindas angin muson dari barat. Di kupingmu, musikku mengalun bak nyanyi yang sumbang.

Kita berlari, berlari, sesekali berjalan cepat. Tapi kita seperti lupa caranya berhenti. Kota menghisapku/mu habis. Masa depan merongrong seperti hantu yang mabuk. Dan Mentawai masuk sebagai alegori untuk revolusi. Atau wahyu. Sudut-sudut Siberut telah memberiku mata baru untuk memandang dunia. Lupakan Eropa, lupakan PBB.

Hari-hari ini hal-hal yang simpel, sederhana, sehari-hari, remeh, ugahari, dan apa-adanya menjelma manifesto. Aku membacanya dengan kerinduan yang telak; seperti seorang pecinta/pejuang yang lelah bertarung dan menguras keringat di medan dunia/laga. Bisakah kita berbagi secangkir cappuccino saja di sore yang makin oranye?

Titik-titik di buku membentuk ulang dirinya sendiri; menjadi kalimat-kalimat yang sukar. Anak manusia ditelan tensi-tensi yang mendidih di kepala: change/sustainability, berubah/berkelanjutan? Kita menelan retorika-retorika yang membikin pusing. Seperti seorang tua yang tak jelas mau apa. Dan kita lupa berhenti merenung.

Wageningen, 6 April 2018

meracau seperti biasa di tengah malam

Ketika ada yang patah, kita meminjam doa dari seberang. Dari lorong-lorong yang kesepian di kota. Orang-orang menabrak dinding dan merampas es krim dari tangan anak kecil. Kita bernyanyi tentang dosa-dosa kecil, lalu pergi ke tiang untuk kencing di trotoar. Hari-hari ini, debu membasuh kita, memandikan kita dengan kenyataan yang mungkin tak beraturan. Ia seperti puisi yang prematur, ia seperti prosa yang tak ingin ditulis.

Besok kita akan berangkat ke nestapa. Mendaki bukit-bukit yang diisi dengan air mata, dipupuki dengan rapalan doa yang tak sampai. Tuhan sedang sibuk hari ini, silakan kembali lagi besok. Orang menangisi hari yang terlanjur panas dan malam yang basah oleh hujan. Dua puluh ribu rupiah jatuh di jalan dan kita membeli sepotong kebahagiaan di pinggir taman. Duduk kita di bawah bulan yang kian meng-oranye. Membentuk nostalgi tentang Belanda.

Mendung siang memberi kita tenaga untuk meludahi buku-buku yang kecoklatan. Klasik tak lagi dibaca, masa depan tak lagi dipercaya. Cuma hari ini. Selebihnya adalah bayangan yang jauh. Seorang perempuan jatuh sakit disana. Baiknya kita mengirim doa ke sebuah kotak pos di Utrecht, bukan? Lalu menggelar sajadah panjang dari Jakarta Raya hingga Gelderland, agar kita bisa berbagi pesta yang sederhana. Tanpa alkohol dan mariyuana.

Barangkali, do(s)a adalah semacam bahasa yang tak kita mengerti. Kita membacanya dengan gemetar, dengan kaki yang lemas. Seperti sebuah hari yang dingin di De Kuip. Ketika siang begitu terik tapi udara mencekik. Orang-orang mengingat tuhan; entah dalam bentuk yesus atau api. Animisme menjadi tampak masuk akal. Ombak, pohon, dan matahari. Kenapa kita harus menyembah konsepsi, dan sains, dan lagu patah hati?

(Depok, 8 Maret 2018)

Di Reuvensplaats

Dijkgraaf: persepsi kita tentang matahari seperti dikoyak-koyak disini. Sinar matahari masuk ke jendela, membuatmu bangun dengan semringah. Tapi ada yang mencurigakan. Matahari di musim yang dingin adalah jebakan. Kita mempelajarinya lewat pengalaman, bukan dari buku-buku di perpustakaan. Saya keluar dengan imaji tentang siang-siang yang panas di Asmat. Tapi, tidak disini, tidak hari ini. Embun-embun menjelma es di rerumputan.

Intercity: Mata Hari mengantar ke hari-hari tua sebelum perang dunia pertama. Si femme fatale lari ke Den Haag dengan bayangan tentang Paris. Perang telah membuat mimpi-mimpi manusia berantakan. Hari ini, tak ada beda. Kota menjelma medan perang. Orang-orang menangisi ‘mimpinya yang tersapu’ (meminjam Silampukau). Konon, Mata Hari menghadapi regu penembak dengan ciuman dari jauh. Kiss bye. Saya mengingat Che.

Kuba: tak ada revolusi hari ini. Mungkin saja, revolusi sebenarnya ialah gimmick. Agar kita selalu punya alasan untuk mengeluh, untuk merongrong keadaan. Manusia, saya pikir, dikutuk untuk mengutuki hari ini. Di Eropa, orang-orang terjebak pada kegagahan masa lampau. Di Indonesia, surga adalah destinasi. Semua bergerak dengan imaji tentang yang di depan, tentang yang tak jelas, yang tanpa-bentuk. Apakah kita punya resep untuk carpe diem?

Leiden: hari makin menua disini. Orang-orang berkumpul di luar perpustakaan. Menghisap tembakau, bercerita tentang apa saja, melupakan tesis sejenak. Tak ada kretek, tak ada Marcopolo. Saya menulis tentang minggu-minggu yang berlalu di Ebay. Email dikirim, email dibalas. Semuanya begitu mekanikal. Seperti sebuah sistem menyetel kepala kita, membentuknya jadi kode-kode, jadi algoritma. Kapan kita pulang?

Leiden, pada sebuah hari yang cerah, nol derajat.

red wine blues

Give me a glass of wine and i’ll read you the poem i never like.

Perhaps we live with too much philosophy and reasoning. So we forget the practicalities, the what-happen-in-the-middle. No one tries to fix the agony of being lulled by fantasies and utopia and hopes and historical glorification.

One day, either tomorrow or 2084, we will look at human beings as pure melancholia. Western buddhism might be a mistake we cannot cancel. A faux carpe diem ways of life, mixed with the faux environmentalism (for the poor? meh), added with faux mindfulness cum instagramable illusion. Oh please.

Pour me another more. So i can read you a love letter from the poet i never like.

Too many falsity and deceit and tales. Can we still expect at least a piece of truth, from the night when work/life has collapsed into ontological revolution? Here, in this hypocrisy a la scientific-neolib-green-capitalistic-developed-colonial brain, we are gonna lose again against the war of black/white, a/z, i/you dichotomies.

No narrative. No malaise. Only discourse. And red wine. And the desire of being ethical without really being ethical and with accusation of unethical to the groups of men who perhaps more ethical than they who claim themselves ethical. But.. what is ethics by the way? Another western hubris? An alibi for collective amnesia?

(city of life sciences,

1 februari 2018)

Dan Salju Jatuh

Dan salju jatuh di Stade.

Letters bergema di telingaku, seperti sepotong teriakan dari masa lalu. Dulu kita suka mengirim surat, menanti tukang pos datang dengan sepedanya, lalu ia melempar amplop ke teras rumah. Di sana, sebenarnya kita membaca bulan-bulan yang panjang, yang telah berlalu sejak kita mengirim surat ke alamat lain. Pada akhirnya, ia berbalas. Atau mungkin tidak.

Di Ebay, aku membaca Ingold. Cukup dengan etnografi, katanya dengan nada manifesto. Lalu ia membandingkan antropologi dengan korespondensi, kegiatan surat-menyurat. “Seperti yang dilakukan para penulis surat, mencorat-coret pikiran dan perasaan mereka, dan menanti jawaban”. Seperti itulah antropologi, sebenarnya kita hanya harus menunggu.

Lalu smartphone datang dengan tergesa-gesa. Kita juga jadi tergesa-gesa. Tak ada lagi moile moile, seperti di sudut-sudut Siberut. Orang bergegas. Kita menjadi ganas terhadap waktu. Menunggu adalah neraka. Ketidakpastian adalah bencana. Surat memberi kita kebijaksanaan tentang waktu, menunggu, jawaban, dan ketidakpastian. Smartphone tidak.

Di Paking, kita menerima surat dari Long Berang. Adalah romantik membaca surat di tahun 2012. Surat itu dikirim lewat seseorang, yang kebetulan akan melintasi Paking untuk menuju Malinau. Kami, anak-anak Paking, membacanya dengan pelan dan khidmat. Anak-anak Long Berang berbagi kabar: tentang agas, anak-anak Dayak, dan remeh-temeh yang lain.

Kemudian Ebay. Di tempat dimana sinyal dan wifi adalah kemewahan, surat terasa biasa saja. Hiber membaca surat satu lembar dari Bruno. Kertas lecek itu telah bergerak: dari Padang, menaiki Mentawai Fast, jatuh di tangan orang lain di Muara Siberut, lalu berlayar ke Ebay melewati ombak-ombak yang mengayun. Hiber menerimanya dengan senyum.

Dan salju jatuh di Stade. Kita bicara tentang surat. Aku mendengar lagu tentang surat. Surat, surat, surat. Lalu kantor pos. Dan aku mengingat Balkan. Di sana, pusat-pusat kota ditandai oleh kantor pos. Bukan gereja, bukan masjid, bukan alun-alun. Kantor pos. Kita tak perlu menyembah tuhan, tapi kita harus mengirim surat agar kemanusiaan terjaga selamanya.

Stade, 18 Januari 2018