Lelaki Tua dan Ombak

Seorang lelaki tua memandang ombak. Tak ada senyum di wajahnya. Mukanya datar. Tak ada rokok di sela-sela jarinya. Tak ada baju menggantung di tubuhnya. Hanya celana pendek lecek yang kecoklatan. Matanya mengandung tahun-tahun panjang yang berlalu. Saat anda melihat ke kedalaman dua matanya, anda melihat lautan. Lelaki tua itu menanam ombak di dalam dirinya. Ia berkawan dengan ombak, tanpa harus berdiri di atasnya.

Adalah kelapa dan cengkeh. Juga jenis-jenis tanaman tropis lain yang mengisi hari-harinya. Sedari muda, si lelaki tua mengarungi laut, memutari ombak, dan mendarat di bibir pantai. Lalu ia bekerja sepanjang siang, demi batang-batang kelapa yang tinggi, demi biji-biji cengkeh yang akan dibawa ke kios-kios tengkulak di Muara.

Ia tak banyak bicara. Orang-orang dengan papan selancar selalu melintasi rumahnya. Dan mereka akan melihatnya di teras rumah kayunya yang mungil. Bertelanjang dada. Hanya duduk-duduk memandangi ombak yang memecah, menggulung ke tepian. Tahun-tahun telah berlalu sejak ia pertama kali pergi ke pulau, sebagai anak kecil yang dibawa ayahnya untuk belajar menanam kelapa dan cengkeh. Pulau ini miliknya. Orang-orang lain menumpang. Tapi ia bukan tuan tanah ala Jakarta. Ia hanya suka melihat ombak saat malam menjelang.

Suatu hari, saya ke ujung tanjung untuk menikmati matahari terbenam. Seorang peselancar berambut pirang duduk. Bintang di sebelahnya. Ia melihat lurus ke arah entah langit, entah ombak, entah apapun itu. Si lelaki tua duduk di dekatnya. Mereka tak bertukar kata. Keduanya khidmat menelan suara ombak. Karang-karang itu memecah gelombang, membentuk semacam parade laut-ombak-buih. Ia seperti tarian. Biru, putih, lazuardi, coklat, oranye: semuanya berpilin menjadi semacam lukisan yang senantiasa membentuk ulang dirinya sendiri.

Kita bertiga berbagi kesunyian. Hanya bunyi ombak. Pada titik itu, kata-kata tak diperlukan. Kalimat hanyalah kesia-siaan, akal-akalan untuk merangkum makna jadi simbol. Lelaki tua itu tahu betul tentang kebijaksanaan tanpa kata-kata. Ia tak banyak bicara. Matanya mencerminkan kesedihan laut, menekuk ke bawah, nyaris membentuk melankolia. Tapi ia tak bersedih. Ia hanya terduduk, memandang ombak menggulung. Tak lebih. Ia adalah ombak itu sendiri. Di tiup angin, membentur karang, dan menggulung sekenanya.

Hingga suatu nanti, semuanya berakhir. Dan lautan menjadi tenang.

(Mappadegat, 18 November 2017)

Advertisements

Berkebun, Berladang, Membeli

Di homestay Yupi, aku memandang tanaman-tanaman di taman. Aku membayangkan prosesnya. Saat tanaman-tanaman itu ditanam, mungkin berbulan-bulan yang silam. Atau mungkin hitungan tahun. Aku mengingat halaman di depan rumahku. Aku mengingat seorang tukang kebun yang kerap datang ke rumah, untuk membantu ibu merangkai taman kecilnya. Aku mengingat Tante Lina di Stade, yang saat ini mungkin sedang mengurus kebunnya. “Berkebun itu seperti meditasi,” kata dia pada suatu waktu. Di Mappadegat, Hiber suatu sore bercerita soal hobinya mengurus taman. Ia suka menanam, melihat tanaman-tanaman itu tumbuh. Entah tahun depan atau kapan. Hingga taman itu menjadi penuh warna, menjadi indah seperti hari pertama musim semi. Menanam, mungkin saja, adalah sebuah perjudian. Atau mungkin ia sebentuk kesabaran. Menanam adalah proses yang tak sebentar. Ia perlu bulan-bulan yang panjang.

Begitu juga ladang. Kemarin aku pergi ke ladang bersama Yusuf dan Mamak. Aku memandang Lemanus menebang sagu yang sudah tinggi besar. Pohon raksasa itu jatuh begitu saja ke tanah, seperti seorang pejuang yang gugur. Ladang Mamak dipenuhi berbagai macam tanaman. Ada cengkeh, sagu, pisang, pinang, dan jenis-jenis lain yang tak ia ketahui dalam Bahasa Indonesia. Tanaman-tanaman itu telah menjadi bagian dirinya, bagian dari budayanya. Sehingga Bahasa tak sanggup membuatnya cerai dari tanaman-tanamannya. Mungkin saja ia menanam mereka bertahun-tahun yang lalu. Setiap sore ia pergi ke ladang, untuk melihat tanaman-tanaman itu tak berubah. Tapi, pada suatu hari, ia mendapati mereka sudah tumbuh besar. Berladang, seperti berkebun, adalah prosesi waktu yang tak bisa kita beli di internet. Orang Mentawai punya ungkapan favorit: Moili moili. Pelan-pelan, kata mereka. Kenapa harus buru-buru?

Dan aku mengingat kota. Serta orang-orang yang tak sabaran. Instan adalah mantra. Ia adalah jawaban segala persoalan urban. Di kota, proses menjadi semacam hantu. Semuanya ada di toko. Semua bisa disulap dalam hitungan detik. Semua serba tergesa-gesa. Mereka lupa bahwa selalu ada yang berdiri di tengah-tengah. Menuai, menabur. Menanam, memanen. Kita, anak-anak kota, telah mencabut diri dari tanah, dari laut, dari cuaca yang tak bisa diintervensi. Lalu, aku membayangkan diriku berdiri di depan rak-rak di Jumbo Tarthorst. Membeli pisang, paprika, dan sperziebonen. Mereka telah dipangkas dari tanahnya, mungkin di Afrika atau Amerika Selatan. Kemudian dikirim ke Eropa Barat sebagai komoditi, sebagai alasan untuk menjadi kaya. Dan kenyang. Dan kita tak peduli tentang itu semua. Tentang bulan-bulan yang berlalu sejak seorang peladang menanamnya di tanah. Sejak bibit-bibit itu terkurung di perut bumi.

(Mappadegat, 30 November 2017)

Ziarah

​Kita sebenernya sedang berziarah kan? Melewati kota-kota yang asing seperti masa lalu, menjadikannya kenangan, dan menggalinya beberapa tahun lagi.

Di Karlsruhe, aku mengingat musim gugur yang dingin, di tengah malam yang gigil. Menunggu bus menuju Arnhem: setelah Freiburg dan Colmar. Dan aku mengingatnya dengan detil. Potongan roti, pagar dekat halte, dan artwork di dalam hauptbahnhof.

Segalanya terasa seperti kemarin. Tapi sebenarnya tidak juga. Kita tahu ada yang melintas di tengah, di antara hari ini dan yang silam. Detik dan menit dan jam berloncatan, membentuk ribuan kejadian yang mungkin tak paralel sama sekali. Semuanya adalah fragmen.

Dan kita, juga waktu, hanyalah potongan-potongan kecil. Seperti sebuah puzzle, kita merangkai momen menjadi gambar. Tapi tak selalu berhasil. Ziarah-ziarah ini mungkin tak perlu bermakna, mungkin tak akan pernah utuh, dan mungkin dua puzzle yang tak sama. Tapi bukan berarti ia tak berarti.

Seperti halnya utopia yang tak pernah sia-sia, kita butuh berziarah. Kita perlu berkelana untuk merawat kewarasan di arus waktu yang melahap kita habis-habisan. Atau mungkin sebaliknya, untuk menjadi setara dengan jaman yang gila ini. Entahlah.

(Karlsruhe, 11 Agustus 2017
setelah kopi yang berlebihan)

Vilnius

Di Vilnius, saya bertemu seorang gadis Argentina yang manis di tengah-tengah balaikota, saat matahari sedang bersahabat. Kita bertukar senyuman dan saya memberinya kuesioner. Lalu kata-kata berpindah.

“Do you like Vilnius?” tanya saya.

“Yes. I like this city, because it is chaotic.”

Kita bicara dengan bahasa yang sama, bahasa yang diucap orang-orang dari selatan ketika membaca kota-kota Eropa. Eropa barat, bagi kita, adalah semacam struktur kaku yang rapi dan terlalu mekanikal. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, Amsterdam dan Milan terlampau menjemukan. Bangunan-bangunan yang serbatertata, jalanan yang supermulus, dan ritme hidup yang disebut “beradab” oleh banyak orang.

Tapi, kita tahu ada yang keliru. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, kita merindu yang chaotic, yang kacau, yang ribut, yang tak karuan, yang tak tertata, yang serbaberantakan. And we put value in chaos, because we find humanity in it.

Vilnius, bagi kita, terasa lebih humane. Kota-kota di barat sana terlalu palsu. Kita butuh yang dinamis. Dinamis yang sebenarnya, bukan yang diatur-atur negara atau walikota.

Maka, kita menikmati Vilnius seperti menikmati rumah, seperti menikmati Jakarta dan Buenos Aires. Tempat kita mengeluh setiap hari: mengutuk jalanan yang macet, atau kereta yang selalu sesak, atau pengemis di mana-mana, atau pemerintah yang tak becus mengurusi warga negara.

Di Vilnius, kita merindu itu semua seraya menemukan sudut pandang yang baru. Kita melihat dunia dengan cara yang tak sama lagi. Karena kita tumbuh di selatan, belajar di Wageningen dan Milan, lalu berkelana kemana-mana. Ke Vilnius atau kota-kota lain yang tak disebut sebagai “barat”.

Suatu hari nanti, kita akan pulang. Jakarta dan Buenos Aires akan menjadi jarak yang tak terkendali. Tapi kita tetap memelihara agama yang sama, kita masih bicara dengan bahasa yang sama. Kita adalah anak-anak selatan yang memahami bahwa khaos adalah manusiawi dan Barat adalah konstruk yang membosankan. Kita ingin hidup bebas di selatan, bukan menjadi neolib di utara sana.

Gereja dan Hal-Hal yang Tak Dibicarakan

Eropa dan gereja adalah semacam pasangan yang bercerai, tapi tak pernah benar-benar berpisah. Ada ujar-ujar di sini: jika kau berkelana di sebuah kota Eropa dan lalu tersesat, carilah menara gereja yang tinggi menjulang, di sanalah pusat kota. Seperti masjid agung dan alun-alun yang nyaris selalu duduk berdampingan di pusat kota-kota di Jawa, demikianlah gereja dan kota-kota Eropa. Tapi, sepertinya tak lebih dari itu.

Sejarah Eropa adalah sejarah yang berdarah-darah. Waktu kecil dulu saya selalu ingat bagaimana Galileo Galilei dan Copernicus dimaki-maki oleh gereja karena menyatakan matahari adalah pusat, bertentangan dengan kepercayaan gereja pada waktu itu yang percaya bumi adalah pusat. Belakangan, kita semua tahu bahwa Galilei dan Copernicus yang benar. Pelan-pelan Eropa tumbuh menjadi skeptis terhadap gereja. Kita lalu mengenal enlightenment, abad pencerahan. Eropa hari ini adalah tradisi yang diteruskan dari semangat pencerahan itu.

Namun, gereja tak pernah benar-benar selesai. Tentu saja, seperti tempat lain di muka bumi, ada kelompok-kelompok yang tetap setia pergi ke gereja di hari Minggu. Demikian juga di sini. Bedanya sekularisme mendidik orang-orang Eropa untuk tak menyangkutpautkan agama dengan urusan sehari-hari, apalagi politik. Agama adalah urusan personal, kata seorang lelaki paruh baya ketika saya berkunjung ke sebuah gereja tua di Freiburg. Tentu kita bisa membantah ucapannya karena Alkitab menyebut sejarah gereja mula-mula tumbuh dari komunitas.

Tentu saja ada rantai histori panjang yang telah merangkai benang pikiran manusia-manusia Eropa hari ini. Kita manusia adalah proses yang tak berkeseduhan, yang dibentuk jauh sebelum kita lahir, dan mungkin akan bertahan melampaui hari kematian. Saya bicara tentang budaya, tradisi, dan ide: hal-hal yang dirawat dan diperbarui oleh setiap generasi. Tapi lupakanlah hal-hal abstrak ini, mari kita berwisata sejenak.

Seperti saya sebut di awal, gereja adalah penanda pusat kota-kota di Eropa. Maka, ia menjadi simbol penting. Dan setelahnya menjadi atraksi wisata yang tak luput dikunjungi. Orang-orang masuk ke gereja, mengagumi arsitekturnya, dan pergi. Ia seperti Disneyland. Saya ingat ketika di Ljubljana (Slovenia), saat itu hari Minggu pagi, dan gereja tetap dibuka untuk turis pada saat misa berjalan. Bayangkan situasi ini: kita sedang beribadah di gereja, lalu turis-turis masuk ke dalam untuk melihat-lihat dan sesekali memotret.

Saat itu saya kaget. Tapi saya lihat para jemaat biasa-biasa saja, demikian juga Pastor yang memimpin ibadah. Ibadah tetap berlangsung sesuai liturgi, meski saya tak tahu apakah itu misa yang khidmat atau tidak. Pengalaman ini seperti jembatan saya yang membawa saya memahami (atau semakin tidak memahami) budaya lain. Eropa, bagi manusia-manusia Indonesia seperti saya, adalah narasi yang sulit dimengerti. Demikian pula soal ibadah Minggu.

Ibadah Minggu pertama saya di Eropa adalah di Gereja St. Wilhadi, Stade, Jerman. Gereja itu adalah bekas gereja Katolik yang eksis sejak abad ke-11, dan kemudian digubah menjadi gereja Protestan setelah masyarakat ramai-ramai menjadi Lutheran ratusan tahun lalu. Ibadah pagi itu digelar dalam bahasa Jerman. Karena tak mengerti isi ibadahnya, saya jadi sibuk mengamati sekeliling. Ruangan gereja tak terisi penuh dan mayoritas jemaat adalah adiyuswa. Kata tante saya, adik kandung bapak, hari itu mendingan karena ada prosesi baptis anak. “Biasanya tante dan om jemaat yang paling muda,” ucap tante saya, yang usianya 50-an.

Ucapan itu memang terbukti ketika saya bergereja di kota tempat tinggal saat ini, Wageningen. Memasuki gereja, saya cuma bisa melihat rambut-rambut beruban. Cuma sedikit orang muda yang terlihat. Jumlah jemaat pun bisa dibilang sedikit. Sepanjang tinggal disini, saya tak pernah melihat gereja penuh. Lambat-laun saya mulai terbiasa dengan suasana ibadah seperti ini. Sesekali, saat ingin sesuatu yang lebih “muda”, saya pergi ke ibadah Minggu oikumene berbahasa Inggris yang digagas dan diikuti mahasiswa-mahasiswa internasional.

Kita mungkin bertanya, kemana perginya anak-anak muda itu? Jawabannya bisa banyak. Ateisme adalah hal normal di Eropa, apalagi Belanda, negara yang super-bebas. Beberapa teman tak ragu mendaku diri sebagai ateis, beberapa yang lain berhenti pergi ke gereja sejak remaja karena gereja membosankan. Tapi selebihnya, lingkaran pertemanan disini tak banyak membahas soal agama. Jadi saya tak pernah benar-benar tahu urusan agama teman-teman saya. Karena seperti ucapan seorang bapak di Freiburg pada awal tulisan, agama adalah urusan masing-masing. Kita boleh setuju atau tidak. Tapi, setidaknya, demikianlah faktanya.

(20 Januari 2017)

Tentang Kota Kecil yang Tak Berisik

Kemarin saya pulang ke rumah setelah menyantap french fries 2 euro di samping Jumbo. Hujan turun rintik-rintik. Jalanan sepi. Di tengah jalan saya seperti mencerna bulan-bulan yang berlarian di belakang. Sudah setengah tahun saya tinggal di kota kecil ini. Segalanya berjalan sangat cepat seperti mimpi indah di malam yang gegas.

Dan saya nyaris tak pernah mencatat apa-apa soal kota ini, kota yang suatu nanti di macet Jakarta akan saya rindukan dengan teramat sangat. Disini, saya meresapi sunyi dengan ketaatan yang total. Kita tak perlu kata-kata untuk menjadi ada di Wageningen. Kita hanya perlu diam dan membiarkan kata-kata membentuk dirinya sendiri.

Seperti lonceng Grote Kerk yang berdentang berkali-kali di hari Minggu, dan tetap saja sepi, kita mungkin perlu sesekali bicara: tentang bir yang leleh di pub atau toko Asia di centrum, tentang blues night yang memabukkan atau betapa melelahkannya bersepeda di tengah angin. Selebihnya, bisakah kita nikmati saja udara tanpa bunyi disini?

Kota ini seperti menyanyikan lagu yang tak bersuara, mirip 4’33’’-nya John Cage tapi dengan melankoli yang tak bisa diserap ke Youtube. Disini, suara menjadi definisi yang tak lagi sama. Ia adalah bukan-kata, bukan-nada, bukan-klakson, bukan-teriak, bukan-makian. Ia hanyalah sekumpulan senyawa yang tak pernah bisa kita pahami.

Setelah ini kalender akan salip-menyalip dengan jam dinding. Kita akan kembali, bukan? Kita akan mendekap lagi bantal di kamar dan menikmati sore di teras rumah. Lalu, kita akan berkawan lagi dengan suara-suara yang tak pernah ada di kota ini. Di suatu pagi beberapa tahun lagi, kita akan mengingat Wageningen. Justru karena ia diam.

(Februari 2, 2017)

Solilokui Øresund

I.
Mungkin kita harus berhenti berkelana? Tourist gaze memasungku dan muntah aku menelan atraksi. Kopenhagen dan seisinya membuatku lelah. Aku dan ribuan pendatang lain bersliweran di pusat kota: mencari entah-apa, memandang entah-apa. Mungkin kita mencari makna pada patung Frederik V atau memutar memori masa kecil di depan replika HC Andersen. Atau mungkin tidak keduanya. Kita hanya berjalan mengikuti arus, melakukan apa yang diajarkan brosur panduan wisata kepada kita: “pandanglah mereka, potretlah, dan berbahagialah di negeri paling bahagia di dunia”.

II.
Liburan musim dingin berjalan seperti eksebisi. Kita melihat fotografi di smartphone dan terkesima. Di Malmö, aku masuk ke Konsthall dan menikmati Rita Ackermann. The Aesthetic of Disappearance membuatku ingin menangis. “These works are made by multiple erasures,” katanya di pengantar pameran. Di papan tulis, ia tak menggambar untuk menjadi seniman: ia menghapus, kadang dengan kasar. Mungkin saja kita perlu destruction, kita perlu erasure, kita perlu disappearance. Haruskah kita berhenti memotret dan belajar menjadi manusia saja saat Disneyland dimana-mana?

III.
Bersepeda aku ke Rosengård di terik matari musim dingin. “Jangan pergi kesana saat gelap,” pria Swedia menasihati dari balik meja. Lari aku menjauh dari pusat kota, dari titik-titik yang didandani untuk dilihat. Bayangan Ibrahimovic kecil melintas di kepala: berlarian di gang dan menyepak bola di lapangan. Setidaknya ia lebih real. Tak ada manipulasi, tak ada modifikasi. Kota jadi lebih apa adanya. Semua ini karena post-industrialisasi, bukan? Kita menutup pabrik dan mengusir warga miskin ke pinggiran, lalu mengubah layout kota dan mengundang turis berpose di depan Charles X Gustav.

IV.
Saat pagi belum tiba, kereta membawaku ke Vallensbæk. Artwork soal Jakarta mendapatiku di dalam stasiun. Video berulang tanpa henti: repetisi terjadi di sebuah rumah di Jakarta. Batas menjadi kabur di kota yang selalu tergesa. Batas menjadi kabur! Mungkin saja semua ini hanya pengulangan. Mungkin sebenarnya kita tak pernah benar-benar menikmati. Kita hanya terperangkap dalam paranoia, dalam fantasia, dalam ekstase tak berkesudahan. Mungkin kita punya terlalu banyak waktu luang dan menjadi clueless. Di luar stasiun, Volvo yang membawaku pulang ke selatan sudah menanti.

Freiburg

Di Freiburg, saya mendapati apa yang disebut Bourdieu sebagai ‘a sense of one’s place’. Ada ruang-ruang spasial yang, entah bagaimana, terasa spesial bagi masing-masing orang. Misalnya, saya selalu merasa berada di tempat yang ‘gue banget nih’ saat duduk di tribun stadion atau menelusuri rak-rak di perpustakaan atau toko buku. Sebaliknya, seperti ada yang terenggut dari diri saya di hiruk-pikuk pesta, entah kondangan atau EDM party. Seperti ada yang bilang: ‘this is not your place’.

Di Freiburg, saya mendapati ‘a sense of one’s place’ itu di Universitat Freiburg. Memasuki lorong-lorong kampus atau duduk-duduk nyari wifi di halaman kampus sudah cukup meyakinkan saya. Juga sebuah poster protes bertuliskan ‘No student tuition fees! For anybody!’ Juga orang-orang yang bersliweran kesana-kemari di lingkungan universitas. Membuat saya merasa telah memilih kampus yang salah.

Di Wageningen, kampus terasa sebagai sesuatu yang kikuk buat saya. Dan itu baru saya sadari di Freiburg. Di kampus yang didominasi anak-anak ilmu eksak, menjadi ‘anak sosial’ adalah elegi tersendiri. Tak ada pembedaan atau bentuk eksklusi yang terlegitimasi. Tapi perasaan tak bisa dibohongi. Pada akhirnya, kita selalu tahu jika ada sesuatu yang tak pas pada tempatnya. Masalahnya, kita akui atau tidak?

Di Leiden, seperti di Freiburg, sense itu muncul dalam bentuknya yang lebih halus. Tak terang-terangan, tak blak-blakan. Tak ada pamflet pergerakan atau cerita-cerita soal Heidegger. Tapi, atmosfer itu tak bisa ditipu-tipu. Jelas ada yang berbeda di udara yang mengalir di kampus sosial dan kampus non-sosial. Empat tahun (lebih) di FISIP membuat saya peka tentang hitam-putih itu. Tentang apa yang tak pernah bisa sama.

Di Wageningen, saya menjadi manusia seutuhnya: yang selalu tak puas pada nasib, termasuk nasib yang dipilih sendiri. Tapi, tak ada yang salah dengan menjadi manusia. Tak ada yang salah dengan mengakui ada yang salah, ada yang keliru, ada yang tak pada tempatnya. Pada akhirnya, saya hanya perlu kembali ke mantra itu. Accept life.

Orang-orang Normal

Minggu lalu saya pergi ke Slovenia. Melihat-lihat Ljubljana yang “young and restless”, Koper yang tampak dimakan usia, dan Bled yang cantik. Serta kota-kota kecil yang sempat saya kunjungi dalam beberapa jam atau terlewat saat menumpang bus.

Saat hendak menuju Bled dari Koper, saya harus ke Ljubljana lebih dulu. Ljubljana adalah semacam pusat. Orang-orang harus ke Ljubljana dulu jika ingin ke kota lain. Tak ada opsi transportasi langsung dari Koper ke Bled. Maka, saya harus naik bus dan kereta dari Koper ke Ljubljana, sebelum menuju Bled yang terletak di kaki Alpen itu.

Sekitar jam 9 pagi saya meninggalkan hostel dan menuju stasiun kereta/bus Koper. Saya hendak membeli tiket kereta senilai nyaris 10 euro. Namun, khaos terjadi di loket. Entah ada apa, antrian mandek selama berpuluh-puluh menit. Saya dan banyak orang lain tak jadi membeli tiket di loket. Imbasnya kami harus membeli tiket di luar loket, yang artinya sedikit lebih mahal beberapa euro.

Dalam khaos itu saya bertemu dengan seorang perempuan paruh baya asli Koper. Saya tak tahu namanya, tapi dia kerja di Ljubljana dan mahir berbahasa Prancis. Awalnya saya tanya pada ibu itu perihal masalah yang terjadi di loket. Lalu, saya mengikutinya sepanjang perjalanan ke Ljubljana. Karena perjalanan tak sesimpel yang saya kira. Kami harus naik bus dulu kira-kira 30 menit ke Divaca. Baru dari kota itu, kami naik kereta ke Ljubljana. Perempuan itu menuntun saya dengan kesabaran seorang ibu.

Di dalam kereta Divaca-Ljubljana, kami duduk bersebrangan. Kami berbicara banyak hal. Dia memberi saya banyak tips tentang tempat-tempat yang mungkin ingin saya kunjungi selama di Slovenia. Dia juga membahas Italia, Venezia, dan gempa yang baru mengoyak negara tetangga Slovenia itu. Dia menyebut Italia sebagai “monumen yang hidup”. Gempa yang terjadi Italia tengah awal September disebutnya “menyedihkan”.

Lalu, dia bicara soal politik dan Uni-Eropa. Suaranya adalah suara orang-orang kebanyakan, orang-orang normal, orang-orang awam. Seperti kebanyakan orang di kategori-kategori itu, dia tampak tak suka pada politik dan politisi. Atau mungkin tak peduli. Nada bicaranya terdengar sangat akrab di telinga saya. “For normal people like me, European Union is shit. I don’t care at all,” katanya ketus.

Suaranya juga suara orang-orang yang terpinggirkan. Dia, sama seperti banyak orang di Indonesia, adalah orang yang dikecewakan reformasi. Pada tahun 1991, Slovenia merdeka dari Yugoslavia. Namun, apakah kemerdekaan itu dirasakan orang-orang sepertinya? Dia menggeleng. Dia bilang ekonomi runtuh justru ketika Slovenia merdeka. Dia menjadikan dirinya sebagai contoh. Dia kehilangan pekerjaan di salah satu perusahaan ekspor asal Prancis dan jadi pengangguran selama tiga tahun. Ya, tiga tahun.

Menurutnya, cerita Slovenia tentang negara yang hijau dan tenang hanyalah di permukaan. Di bawah permukaan, orang-orang sepertinya bergelut dengan hidup yang tak mudah. Ceritanya seperti merusak persepsi saya tentang Slovenia yang santai dan asyik. Saya jadi teringat Papua, yang sangat indah tapi menyimpan banyak persoalan di dalamnya. Dan saya yakin tak hanya Papua dan Slovenia yang seperti itu.

Setelah berbicara panjang lebar, saya dan ibu itu saling diam. Kami terbuai lamunan masing-masing. Saya menatap ke luar jendela. Melihat kota-kota kecil di salah satu negara yang jarang dibaca di Eropa, melihat ke lanskap-lanskap hijau, melihat ke wajah-wajah Slovenski di stasiun-stasiun yang terlewat. Lalu, kereta tiba di Ljubljana. Saya dan ibu itu berpisah di depan loket-loket bus di Ljubljana.