Sibiu

Saya teringat Sibiu, pada sebuah malam yang terang di musim panas. Bukares memberi saya nyeri di perut, entah karena Tuborg atau croissant yang aneh. Maka, saya melewati jam-jam yang melelahkan di central station. Di ruang tunggu, saya nyaris menghabiskan seperempat The Wild Truth. Gadis-gadis Romania berpantat seksi memasuki ruangan, mengganggu kalimat-kalimat yang saya baca. Lalu jam kian dekat ke jadwal kereta.

Bukares-Sibiu, saya nyaris selalu sendiri di kompartemen. Jadi saya bisa tidur telentang. Saat terduduk, bukit-bukit hijau mengisi mata saya. Lalu sawah-sawah yang panjang dan lebar. Di Brasov, sepasang ibu-anak masuk ke kompartemen saya. Kami mengobrol seadanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Lalu mereka meninggalkan saya: pertama lewat obrolan berbahasa Romania, kedua secara literal keluar kereta.

Tiba di Sibiu, saya berjalan ke hostel masih dengan perut yang nyeri. Lalu saya keluar mencari makan di restoran Italia yang agak fancy. Saya ingin nasi. Maka, risotto adalah solusi. Restoran Cina ada entah dimana, jauh dari pusat kota. Tapi, nasi tak cukup mengusir nyeri. Tidur, pada akhirnya, adalah jawaban. Saya tidur begitu pulas di malam pertama di Sibiu. Namun, saya masih bangun dengan sedikit nyeri di perut. Tinggal sedikit lagi, pikir saya.

Saya mencari sarapan di carrefour: pisang dan yogurt, atas nama kesehatan. Seorang gadis Romania menemani saya sarapan, kita mengobrol dengan bahasa Inggris yang tak terlalu patah-patah. Ia berasal dari sebuah desa di selatan, di perbatasan dengan Bulgaria. Ia cerita, dulu ia sering dadah-dadah dengan orang-orang Bulgaria di seberang sungai. Di Eropa, sungai menyambungkan kota-kota, tapi juga menjadi garis pembatas.

Siang begitu terik di Sibiu. Perempuan-perempuan Romania begitu menggoda di musim panas. Rambut yang hitam dan baju seadanya. Lalu saya mengunjungi Jorge dan Thais di hostel sebelah. Bir urung bersahabat, jadi saya memesan jus jeruk. Ada seorang Kolombia yang diadopsi pasangan Norwegia sejak kecil. Ia tak berbahasa Spanyol. Wajahnya begitu Latino, tapi Nordic adalah budaya yang mengalir di darahnya. Ia adalah semacam hybrid.

Jorge dan Thais menukar uang untuk Dinar Serbia. Mereka akan menuju Beograd malam nanti. Dengan kereta menuju Timisoara, lalu ke perbatasan, lalu menyambung dengan entah apa hingga sampai ke tengah-tengah Serbia. Kami berpisah dengan pelukan. See you again. Saya akan menemui mereka di Beograd. Mereka telah memesan AirBnb selama sebulan. Setelah berpindah-pindah hostel, mereka kelelahan. Beograd akan menjadi semacam tetirah.

Dengan perut yang nyeri, tak banyak yang saya lakukan di sisa hari. Makan malam seadanya dan tidur yang cepat. Gadis Inggris itu tiba di sore hari. Dia akan tidur di kasur tepat di atas saya. Di malam hari, dia begitu gelisah karena dengkuran pria di kasur sebelah. Saya bangun begitu dini, kira-kira pukul enam. Taksi membawa saya ke terminal kecil di dekat stadion kecil. Flixbus itu tiba juga. Sebelas jam akan berlalu sebelum Budapest muncul di jendela.

Advertisements

Malmo-Siberut

Tahun baru. Orang-orang pergi ke gereja di Minggu pagi, di hari terakhir 2017. Ibu-ibu dengan kebaya, anak-anak dengan kemeja yang keren, dan bapak-bapak yang tampil necis. Semua ingin bergaya di gereja. Terlebih di ujung tahun. Saya berjalan sepanjang Muntei-Muara dengan pemandangan itu semua: mereka yang berbondong-bondong pergi beribadah. Saya tak merasakan dorongan untuk masuk ke kebaktian. Gereja, sepertinya, tak lagi menarik buat saya.

Saya justru mengingat Malmo. Tahun lalu, di pagi terakhir 2016, saya bangun begitu dini di sebuah hostel di Kopenhagen. Saya hendak menuju Malmo. Tentu saja dengan Flixbus. Sekitar sejam, saya tiba di Malmo. Saat itu, saya merasa Kopenhagen terlalu megah, terlalu wah, terlebih di tahun baru. Orang-orang dari berbagai sudut pergi kesana untuk melepas tahun. Maka, saya mendamba yang lebih sepi, yang lebih ugahari. Malmo menjadi pilihan yang logis.

Benar saja. Malmo di akhir tahun 2016 tampak begitu sepi. Ketika saya turun bus dan berjalan menuju hostel, saya melewati pusat-pusat kota yang kesepian. Tak banyak aktivitas manusia. Toko-toko telah tutup. Saya mengingat seseorang bersepeda dengan gegas. Itu saja. Sisanya satu-dua manusia yang berjalan-jalan santai, atau sekadar mengajak jalan anjingnya. Saya mengingat Malmo dengan kesenduan yang indah, dengan kesedihan yang filosofis.

Di Malmo, perayaan tutup tahun dilakukan dengan epik. Opera dipentaskan di pusat kesenian. Tak ada pesta-pesta elektronik. Saya begitu terkesima dengan pilihan ini. Seriosa menggema di udara. Lalu bariton yang menghangatkan udara. Dingin mengisi malam. Kaleng-kaleng bir ditenggak, botol-botol wine dibuka. Orang-orang siap merayakan tahun baru. Perlahan angka dihitung mundur, lalu kembang api aneka warna muncrat di langit. 2017 membuka dirinya.

Hari ini, hari pertama di 2018, saya bangun dengan malas pada pukul 9 pagi. Hujan turun di Siberut. Orang-orang pergi ke gereja dengan malas. Saya duduk-duduk di teras, membaca Camus dan mengabaikan suara-suara dari kebaktian. Lalu saya melewati Muntei-Puro dengan motor, membelah ladang-ladang penduduk. Di teras-teras rumah, teh dan kue sapi dihidangkan. Lalu obrolan-obrolan sekenanya. Orang-orang tampak biasa saja di tahun baru.

Persis seperti Malmo. Di hari pertama 2017, setahun yang lalu, saya bersepeda melintasi jalan-jalan Malmo: menuju Rosengard, memesan McDonalds di dekat stasiun Triangle, dan mendaki ke kastil kecil di dekat danau. Udara begitu membekukan di musim dingin ala Swedia. Tapi matahari bersinar begitu terik. Jadi, orang-orang semringah untuk keluar rumah. Entah pergi ke pameran lukisan di Konsthall, atau bertamasya ke kincir angin di dekat centrum.

Saat ini, di ujung malam, Malmo dan Siberut berbaur di dalam kepala, membentuk rentetan peristiwa yang tak bersinggungan. Semuanya adalah kepingan. Tapi ada benang merah di antara keduanya. Kita boleh tak merayakan tahun baru, tapi kalender adalah kenyataan yang sukar dielak. Tahun depan, entah di sudut bumi yang mana, saya akan mengingat lagi saat saya tersesat di Malmo atau saat saya melintasi jalan Puro-Muntei yang baru setengah jadi.

(Muntei, 1 Januari 2018)

Lelaki Tua dan Ombak

Seorang lelaki tua memandang ombak. Tak ada senyum di wajahnya. Mukanya datar. Tak ada rokok di sela-sela jarinya. Tak ada baju menggantung di tubuhnya. Hanya celana pendek lecek yang kecoklatan. Matanya mengandung tahun-tahun panjang yang berlalu. Saat anda melihat ke kedalaman dua matanya, anda melihat lautan. Lelaki tua itu menanam ombak di dalam dirinya. Ia berkawan dengan ombak, tanpa harus berdiri di atasnya.

Adalah kelapa dan cengkeh. Juga jenis-jenis tanaman tropis lain yang mengisi hari-harinya. Sedari muda, si lelaki tua mengarungi laut, memutari ombak, dan mendarat di bibir pantai. Lalu ia bekerja sepanjang siang, demi batang-batang kelapa yang tinggi, demi biji-biji cengkeh yang akan dibawa ke kios-kios tengkulak di Muara.

Ia tak banyak bicara. Orang-orang dengan papan selancar selalu melintasi rumahnya. Dan mereka akan melihatnya di teras rumah kayunya yang mungil. Bertelanjang dada. Hanya duduk-duduk memandangi ombak yang memecah, menggulung ke tepian. Tahun-tahun telah berlalu sejak ia pertama kali pergi ke pulau, sebagai anak kecil yang dibawa ayahnya untuk belajar menanam kelapa dan cengkeh. Pulau ini miliknya. Orang-orang lain menumpang. Tapi ia bukan tuan tanah ala Jakarta. Ia hanya suka melihat ombak saat malam menjelang.

Suatu hari, saya ke ujung tanjung untuk menikmati matahari terbenam. Seorang peselancar berambut pirang duduk. Bintang di sebelahnya. Ia melihat lurus ke arah entah langit, entah ombak, entah apapun itu. Si lelaki tua duduk di dekatnya. Mereka tak bertukar kata. Keduanya khidmat menelan suara ombak. Karang-karang itu memecah gelombang, membentuk semacam parade laut-ombak-buih. Ia seperti tarian. Biru, putih, lazuardi, coklat, oranye: semuanya berpilin menjadi semacam lukisan yang senantiasa membentuk ulang dirinya sendiri.

Kita bertiga berbagi kesunyian. Hanya bunyi ombak. Pada titik itu, kata-kata tak diperlukan. Kalimat hanyalah kesia-siaan, akal-akalan untuk merangkum makna jadi simbol. Lelaki tua itu tahu betul tentang kebijaksanaan tanpa kata-kata. Ia tak banyak bicara. Matanya mencerminkan kesedihan laut, menekuk ke bawah, nyaris membentuk melankolia. Tapi ia tak bersedih. Ia hanya terduduk, memandang ombak menggulung. Tak lebih. Ia adalah ombak itu sendiri. Di tiup angin, membentur karang, dan menggulung sekenanya.

Hingga suatu nanti, semuanya berakhir. Dan lautan menjadi tenang.

(Mappadegat, 18 November 2017)

Berkebun, Berladang, Membeli

Di homestay Yupi, aku memandang tanaman-tanaman di taman. Aku membayangkan prosesnya. Saat tanaman-tanaman itu ditanam, mungkin berbulan-bulan yang silam. Atau mungkin hitungan tahun. Aku mengingat halaman di depan rumahku. Aku mengingat seorang tukang kebun yang kerap datang ke rumah, untuk membantu ibu merangkai taman kecilnya. Aku mengingat Tante Lina di Stade, yang saat ini mungkin sedang mengurus kebunnya. “Berkebun itu seperti meditasi,” kata dia pada suatu waktu. Di Mappadegat, Hiber suatu sore bercerita soal hobinya mengurus taman. Ia suka menanam, melihat tanaman-tanaman itu tumbuh. Entah tahun depan atau kapan. Hingga taman itu menjadi penuh warna, menjadi indah seperti hari pertama musim semi. Menanam, mungkin saja, adalah sebuah perjudian. Atau mungkin ia sebentuk kesabaran. Menanam adalah proses yang tak sebentar. Ia perlu bulan-bulan yang panjang.

Begitu juga ladang. Kemarin aku pergi ke ladang bersama Yusuf dan Mamak. Aku memandang Lemanus menebang sagu yang sudah tinggi besar. Pohon raksasa itu jatuh begitu saja ke tanah, seperti seorang pejuang yang gugur. Ladang Mamak dipenuhi berbagai macam tanaman. Ada cengkeh, sagu, pisang, pinang, dan jenis-jenis lain yang tak ia ketahui dalam Bahasa Indonesia. Tanaman-tanaman itu telah menjadi bagian dirinya, bagian dari budayanya. Sehingga Bahasa tak sanggup membuatnya cerai dari tanaman-tanamannya. Mungkin saja ia menanam mereka bertahun-tahun yang lalu. Setiap sore ia pergi ke ladang, untuk melihat tanaman-tanaman itu tak berubah. Tapi, pada suatu hari, ia mendapati mereka sudah tumbuh besar. Berladang, seperti berkebun, adalah prosesi waktu yang tak bisa kita beli di internet. Orang Mentawai punya ungkapan favorit: Moili moili. Pelan-pelan, kata mereka. Kenapa harus buru-buru?

Dan aku mengingat kota. Serta orang-orang yang tak sabaran. Instan adalah mantra. Ia adalah jawaban segala persoalan urban. Di kota, proses menjadi semacam hantu. Semuanya ada di toko. Semua bisa disulap dalam hitungan detik. Semua serba tergesa-gesa. Mereka lupa bahwa selalu ada yang berdiri di tengah-tengah. Menuai, menabur. Menanam, memanen. Kita, anak-anak kota, telah mencabut diri dari tanah, dari laut, dari cuaca yang tak bisa diintervensi. Lalu, aku membayangkan diriku berdiri di depan rak-rak di Jumbo Tarthorst. Membeli pisang, paprika, dan sperziebonen. Mereka telah dipangkas dari tanahnya, mungkin di Afrika atau Amerika Selatan. Kemudian dikirim ke Eropa Barat sebagai komoditi, sebagai alasan untuk menjadi kaya. Dan kenyang. Dan kita tak peduli tentang itu semua. Tentang bulan-bulan yang berlalu sejak seorang peladang menanamnya di tanah. Sejak bibit-bibit itu terkurung di perut bumi.

(Mappadegat, 30 November 2017)

Ziarah

​Kita sebenernya sedang berziarah kan? Melewati kota-kota yang asing seperti masa lalu, menjadikannya kenangan, dan menggalinya beberapa tahun lagi.

Di Karlsruhe, aku mengingat musim gugur yang dingin, di tengah malam yang gigil. Menunggu bus menuju Arnhem: setelah Freiburg dan Colmar. Dan aku mengingatnya dengan detil. Potongan roti, pagar dekat halte, dan artwork di dalam hauptbahnhof.

Segalanya terasa seperti kemarin. Tapi sebenarnya tidak juga. Kita tahu ada yang melintas di tengah, di antara hari ini dan yang silam. Detik dan menit dan jam berloncatan, membentuk ribuan kejadian yang mungkin tak paralel sama sekali. Semuanya adalah fragmen.

Dan kita, juga waktu, hanyalah potongan-potongan kecil. Seperti sebuah puzzle, kita merangkai momen menjadi gambar. Tapi tak selalu berhasil. Ziarah-ziarah ini mungkin tak perlu bermakna, mungkin tak akan pernah utuh, dan mungkin dua puzzle yang tak sama. Tapi bukan berarti ia tak berarti.

Seperti halnya utopia yang tak pernah sia-sia, kita butuh berziarah. Kita perlu berkelana untuk merawat kewarasan di arus waktu yang melahap kita habis-habisan. Atau mungkin sebaliknya, untuk menjadi setara dengan jaman yang gila ini. Entahlah.

(Karlsruhe, 11 Agustus 2017
setelah kopi yang berlebihan)

Vilnius

Di Vilnius, saya bertemu seorang gadis Argentina yang manis di tengah-tengah balaikota, saat matahari sedang bersahabat. Kita bertukar senyuman dan saya memberinya kuesioner. Lalu kata-kata berpindah.

“Do you like Vilnius?” tanya saya.

“Yes. I like this city, because it is chaotic.”

Kita bicara dengan bahasa yang sama, bahasa yang diucap orang-orang dari selatan ketika membaca kota-kota Eropa. Eropa barat, bagi kita, adalah semacam struktur kaku yang rapi dan terlalu mekanikal. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, Amsterdam dan Milan terlampau menjemukan. Bangunan-bangunan yang serbatertata, jalanan yang supermulus, dan ritme hidup yang disebut “beradab” oleh banyak orang.

Tapi, kita tahu ada yang keliru. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, kita merindu yang chaotic, yang kacau, yang ribut, yang tak karuan, yang tak tertata, yang serbaberantakan. And we put value in chaos, because we find humanity in it.

Vilnius, bagi kita, terasa lebih humane. Kota-kota di barat sana terlalu palsu. Kita butuh yang dinamis. Dinamis yang sebenarnya, bukan yang diatur-atur negara atau walikota.

Maka, kita menikmati Vilnius seperti menikmati rumah, seperti menikmati Jakarta dan Buenos Aires. Tempat kita mengeluh setiap hari: mengutuk jalanan yang macet, atau kereta yang selalu sesak, atau pengemis di mana-mana, atau pemerintah yang tak becus mengurusi warga negara.

Di Vilnius, kita merindu itu semua seraya menemukan sudut pandang yang baru. Kita melihat dunia dengan cara yang tak sama lagi. Karena kita tumbuh di selatan, belajar di Wageningen dan Milan, lalu berkelana kemana-mana. Ke Vilnius atau kota-kota lain yang tak disebut sebagai “barat”.

Suatu hari nanti, kita akan pulang. Jakarta dan Buenos Aires akan menjadi jarak yang tak terkendali. Tapi kita tetap memelihara agama yang sama, kita masih bicara dengan bahasa yang sama. Kita adalah anak-anak selatan yang memahami bahwa khaos adalah manusiawi dan Barat adalah konstruk yang membosankan. Kita ingin hidup bebas di selatan, bukan menjadi neolib di utara sana.

Gereja dan Hal-Hal yang Tak Dibicarakan

Eropa dan gereja adalah semacam pasangan yang bercerai, tapi tak pernah benar-benar berpisah. Ada ujar-ujar di sini: jika kau berkelana di sebuah kota Eropa dan lalu tersesat, carilah menara gereja yang tinggi menjulang, di sanalah pusat kota. Seperti masjid agung dan alun-alun yang nyaris selalu duduk berdampingan di pusat kota-kota di Jawa, demikianlah gereja dan kota-kota Eropa. Tapi, sepertinya tak lebih dari itu.

Sejarah Eropa adalah sejarah yang berdarah-darah. Waktu kecil dulu saya selalu ingat bagaimana Galileo Galilei dan Copernicus dimaki-maki oleh gereja karena menyatakan matahari adalah pusat, bertentangan dengan kepercayaan gereja pada waktu itu yang percaya bumi adalah pusat. Belakangan, kita semua tahu bahwa Galilei dan Copernicus yang benar. Pelan-pelan Eropa tumbuh menjadi skeptis terhadap gereja. Kita lalu mengenal enlightenment, abad pencerahan. Eropa hari ini adalah tradisi yang diteruskan dari semangat pencerahan itu.

Namun, gereja tak pernah benar-benar selesai. Tentu saja, seperti tempat lain di muka bumi, ada kelompok-kelompok yang tetap setia pergi ke gereja di hari Minggu. Demikian juga di sini. Bedanya sekularisme mendidik orang-orang Eropa untuk tak menyangkutpautkan agama dengan urusan sehari-hari, apalagi politik. Agama adalah urusan personal, kata seorang lelaki paruh baya ketika saya berkunjung ke sebuah gereja tua di Freiburg. Tentu kita bisa membantah ucapannya karena Alkitab menyebut sejarah gereja mula-mula tumbuh dari komunitas.

Tentu saja ada rantai histori panjang yang telah merangkai benang pikiran manusia-manusia Eropa hari ini. Kita manusia adalah proses yang tak berkeseduhan, yang dibentuk jauh sebelum kita lahir, dan mungkin akan bertahan melampaui hari kematian. Saya bicara tentang budaya, tradisi, dan ide: hal-hal yang dirawat dan diperbarui oleh setiap generasi. Tapi lupakanlah hal-hal abstrak ini, mari kita berwisata sejenak.

Seperti saya sebut di awal, gereja adalah penanda pusat kota-kota di Eropa. Maka, ia menjadi simbol penting. Dan setelahnya menjadi atraksi wisata yang tak luput dikunjungi. Orang-orang masuk ke gereja, mengagumi arsitekturnya, dan pergi. Ia seperti Disneyland. Saya ingat ketika di Ljubljana (Slovenia), saat itu hari Minggu pagi, dan gereja tetap dibuka untuk turis pada saat misa berjalan. Bayangkan situasi ini: kita sedang beribadah di gereja, lalu turis-turis masuk ke dalam untuk melihat-lihat dan sesekali memotret.

Saat itu saya kaget. Tapi saya lihat para jemaat biasa-biasa saja, demikian juga Pastor yang memimpin ibadah. Ibadah tetap berlangsung sesuai liturgi, meski saya tak tahu apakah itu misa yang khidmat atau tidak. Pengalaman ini seperti jembatan saya yang membawa saya memahami (atau semakin tidak memahami) budaya lain. Eropa, bagi manusia-manusia Indonesia seperti saya, adalah narasi yang sulit dimengerti. Demikian pula soal ibadah Minggu.

Ibadah Minggu pertama saya di Eropa adalah di Gereja St. Wilhadi, Stade, Jerman. Gereja itu adalah bekas gereja Katolik yang eksis sejak abad ke-11, dan kemudian digubah menjadi gereja Protestan setelah masyarakat ramai-ramai menjadi Lutheran ratusan tahun lalu. Ibadah pagi itu digelar dalam bahasa Jerman. Karena tak mengerti isi ibadahnya, saya jadi sibuk mengamati sekeliling. Ruangan gereja tak terisi penuh dan mayoritas jemaat adalah adiyuswa. Kata tante saya, adik kandung bapak, hari itu mendingan karena ada prosesi baptis anak. “Biasanya tante dan om jemaat yang paling muda,” ucap tante saya, yang usianya 50-an.

Ucapan itu memang terbukti ketika saya bergereja di kota tempat tinggal saat ini, Wageningen. Memasuki gereja, saya cuma bisa melihat rambut-rambut beruban. Cuma sedikit orang muda yang terlihat. Jumlah jemaat pun bisa dibilang sedikit. Sepanjang tinggal disini, saya tak pernah melihat gereja penuh. Lambat-laun saya mulai terbiasa dengan suasana ibadah seperti ini. Sesekali, saat ingin sesuatu yang lebih “muda”, saya pergi ke ibadah Minggu oikumene berbahasa Inggris yang digagas dan diikuti mahasiswa-mahasiswa internasional.

Kita mungkin bertanya, kemana perginya anak-anak muda itu? Jawabannya bisa banyak. Ateisme adalah hal normal di Eropa, apalagi Belanda, negara yang super-bebas. Beberapa teman tak ragu mendaku diri sebagai ateis, beberapa yang lain berhenti pergi ke gereja sejak remaja karena gereja membosankan. Tapi selebihnya, lingkaran pertemanan disini tak banyak membahas soal agama. Jadi saya tak pernah benar-benar tahu urusan agama teman-teman saya. Karena seperti ucapan seorang bapak di Freiburg pada awal tulisan, agama adalah urusan masing-masing. Kita boleh setuju atau tidak. Tapi, setidaknya, demikianlah faktanya.

(20 Januari 2017)

Tentang Kota Kecil yang Tak Berisik

Kemarin saya pulang ke rumah setelah menyantap french fries 2 euro di samping Jumbo. Hujan turun rintik-rintik. Jalanan sepi. Di tengah jalan saya seperti mencerna bulan-bulan yang berlarian di belakang. Sudah setengah tahun saya tinggal di kota kecil ini. Segalanya berjalan sangat cepat seperti mimpi indah di malam yang gegas.

Dan saya nyaris tak pernah mencatat apa-apa soal kota ini, kota yang suatu nanti di macet Jakarta akan saya rindukan dengan teramat sangat. Disini, saya meresapi sunyi dengan ketaatan yang total. Kita tak perlu kata-kata untuk menjadi ada di Wageningen. Kita hanya perlu diam dan membiarkan kata-kata membentuk dirinya sendiri.

Seperti lonceng Grote Kerk yang berdentang berkali-kali di hari Minggu, dan tetap saja sepi, kita mungkin perlu sesekali bicara: tentang bir yang leleh di pub atau toko Asia di centrum, tentang blues night yang memabukkan atau betapa melelahkannya bersepeda di tengah angin. Selebihnya, bisakah kita nikmati saja udara tanpa bunyi disini?

Kota ini seperti menyanyikan lagu yang tak bersuara, mirip 4’33’’-nya John Cage tapi dengan melankoli yang tak bisa diserap ke Youtube. Disini, suara menjadi definisi yang tak lagi sama. Ia adalah bukan-kata, bukan-nada, bukan-klakson, bukan-teriak, bukan-makian. Ia hanyalah sekumpulan senyawa yang tak pernah bisa kita pahami.

Setelah ini kalender akan salip-menyalip dengan jam dinding. Kita akan kembali, bukan? Kita akan mendekap lagi bantal di kamar dan menikmati sore di teras rumah. Lalu, kita akan berkawan lagi dengan suara-suara yang tak pernah ada di kota ini. Di suatu pagi beberapa tahun lagi, kita akan mengingat Wageningen. Justru karena ia diam.

(Februari 2, 2017)

Solilokui Øresund

I.
Mungkin kita harus berhenti berkelana? Tourist gaze memasungku dan muntah aku menelan atraksi. Kopenhagen dan seisinya membuatku lelah. Aku dan ribuan pendatang lain bersliweran di pusat kota: mencari entah-apa, memandang entah-apa. Mungkin kita mencari makna pada patung Frederik V atau memutar memori masa kecil di depan replika HC Andersen. Atau mungkin tidak keduanya. Kita hanya berjalan mengikuti arus, melakukan apa yang diajarkan brosur panduan wisata kepada kita: “pandanglah mereka, potretlah, dan berbahagialah di negeri paling bahagia di dunia”.

II.
Liburan musim dingin berjalan seperti eksebisi. Kita melihat fotografi di smartphone dan terkesima. Di Malmö, aku masuk ke Konsthall dan menikmati Rita Ackermann. The Aesthetic of Disappearance membuatku ingin menangis. “These works are made by multiple erasures,” katanya di pengantar pameran. Di papan tulis, ia tak menggambar untuk menjadi seniman: ia menghapus, kadang dengan kasar. Mungkin saja kita perlu destruction, kita perlu erasure, kita perlu disappearance. Haruskah kita berhenti memotret dan belajar menjadi manusia saja saat Disneyland dimana-mana?

III.
Bersepeda aku ke Rosengård di terik matari musim dingin. “Jangan pergi kesana saat gelap,” pria Swedia menasihati dari balik meja. Lari aku menjauh dari pusat kota, dari titik-titik yang didandani untuk dilihat. Bayangan Ibrahimovic kecil melintas di kepala: berlarian di gang dan menyepak bola di lapangan. Setidaknya ia lebih real. Tak ada manipulasi, tak ada modifikasi. Kota jadi lebih apa adanya. Semua ini karena post-industrialisasi, bukan? Kita menutup pabrik dan mengusir warga miskin ke pinggiran, lalu mengubah layout kota dan mengundang turis berpose di depan Charles X Gustav.

IV.
Saat pagi belum tiba, kereta membawaku ke Vallensbæk. Artwork soal Jakarta mendapatiku di dalam stasiun. Video berulang tanpa henti: repetisi terjadi di sebuah rumah di Jakarta. Batas menjadi kabur di kota yang selalu tergesa. Batas menjadi kabur! Mungkin saja semua ini hanya pengulangan. Mungkin sebenarnya kita tak pernah benar-benar menikmati. Kita hanya terperangkap dalam paranoia, dalam fantasia, dalam ekstase tak berkesudahan. Mungkin kita punya terlalu banyak waktu luang dan menjadi clueless. Di luar stasiun, Volvo yang membawaku pulang ke selatan sudah menanti.