Siena

Bus antarkota yang saya tumpangi melaju kencang, melewati padang-padang Toscana yang manis. Bus stop La Colonna-Monteriggioni terlewat sudah, sedang saya lupa memencet bel tanda berhenti. Maka tubuh saya dibawa sampai ke halte Colle di Val d’Elsa, kira-kira 15 menit dari pemberhentian yang semestinya.

Tiket saya hangus. Cazzo. Dan saya harus membeli lagi di kios kecil dekat halte. Saya tak mau apes lagi. Hari sebelumnya, petugas bus menilang saya gara-gara saya lupa memvalidasi tiket yang sudah saya beli. Cazzo. Lebih dari 40 euro terkuras dari rekening bank. Karma mungkin benar eksis. Saya mengingat 9 hari di Torino tanpa membayar bus.

Jangan dicontoh. Secara umum, kota-kota Italia memberi kesempatan kita untuk ugal-ugalan. Klakson lebih sering terdengar daripada di Belanda. Makin ke selatan makin chaotic. Dan saya suka yang kacau-kacau. Membuat saya merindu Jakarta. Meski sedikit. Tapi lupakanlah soal tilang di Siena itu. Saya kapok tidak membayar bus.

Monteriggioni adalah semacam kota (atau mungkin desa) kecil di provinsi Siena. Saya tak tahu kenapa saya kesini. Malam sebelumnya, Raymundo mengajak saya keluar kota Siena dan berjalan-jalan ke kebun anggur di sana hingga ke San Gimignano yang konon adalah produsen wine terbaik di wilayah Toscana. Tapi saya ogah bangun pagi.

Maka, saya memulai pagi dengan rileks. Seperti biasa. Ketika saya bangun, cahaya matahari sudah merayap memasuki 2-bed dorm berbentuk tenda di campground Colleverde. Kira-kira macam glamping lah. Lengkap dengan kasur yang empuk, colokan listrik, wifi, lampu, dan sepasang meja-kursi di depan masing-masing tenda. Melenakan.

Nyamuk-nyamuk menghabisi sekujur tubuh. Saya sibuk menggaruk-garuk dan mengecek bagian mana yang memerah digigit nyamuk. Toscana di musim panas adalah padang bermain bagi nyamuk. Suhu yang hangat membuat mereka berkembang biak dengan rakus dan menjadi buas. Saya teringat malam penuh nyamuk di Firenze.

Lupakan nyamuk. Selesai mandi, saya naik bus ke kota. Saya mendapati petugas yang sama yang menilang saya kemarin. Cazzo. Kali ini saya punya tiket yang valid. Saya tersenyum pahit ketika dia memeriksa tiket saya. Di kota, turis-turis berjejalan. Mereka/kami membentuk simfoni yang ribut, gerak-gerik yang simbolik, dan foto-foto yang klise. Di depan Piazza del Campo, saya hanya termenung tanpa alasan.

Mungkin saya bosan. Maka saya teringat ajakan Raymundo. Kenapa tidak keluar kota? Saya ingin kabur dari gerombolan turis rupa warna ini. Maka, saya turun ke loket bus yang terletak di bawah tanah dekat terminal bus di tengah-tengah kota, dekat pula dengan Stadio Artemio Franchi. Saya membeli tiket pulang pergi ke Monteriggioni.

Di sana, satu-satunya yang saya lakukan pada dasarnya adalah berjalan kaki. Wilayah Toscana, termasuk Siena, memiliki banyak jalur camino. Awalnya, saya hendak menuju kastil yang entah apa namanya. Tapi saya malah tersesat di salah satu jalur camino yang mengasyikkan. Super sepi. Saya cuma sempat bertemu satu orang sepanjang jalan-jalan kaki santai di sana, kurang lebih tiga jam.

Tersesat mungkin cara terbaik untuk menikmati perjalanan. Lanskap yang luas, kadang ditambah pernik bunga warna-warni di beberapa sisinya. Kontur yang naik turun. Dan, yang utama, tak ada manusia. Siena, dengan turis-turisnya yang berjubel di pusat kota, terasa begitu jauh. Saya berjalan sendiri tanpa arah tanpa tujuan hingga ke kedalaman hutan, hingga saya mulai ketakutan dan memutuskan untuk kembali.

Di bus stop La Colonna-Monteriggioni, saya bertemu lagi dengan pria yang sempat saya temui di jalur camino tadi. Ia hendak menuju San Gimignano rupanya. Jalur kami bertolak belakang. Saya kembali ke Siena, dan bergegas secepatnya menuju campground untuk menonton laga perempatfinal Piala Dunia, Prancis vs Belgia. Oh pub akan segera penuh, pikir saya dalam hati.

Singkat cerita Prancis menang malam itu. Orang-orang Prancis yang singgah di campground itu berpesta pora. Orang-orang Belgia pulang ke caravan masing-masing dengan muka tertekuk. Saya kembali ke tenda bersama Raymundo dengan biasa-biasa saja. Kami cuma kelelahan dihantam siang yang terik, baik di San Gimignano maupun Monteriggioni.

Lalu, perlahan malam justru memanjang bagi saya. Ketika saya hendak tidur pulas, dan baru selesai menggosok gigi, Laurenz memanggil nama saya. “Sarani?” tanyanya ragu. Karena gelap saya mendekat dan mendapati dirinya sedang duduk memasak pasta, tepat di belakang tenda saya. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di sebuah hostel di Bologna.

Jadi, demikianlah. Saya duduk dan mengobrol dengan anak Jerman itu hingga berjam-jam lamanya. Kami menghabiskan anggur putih yang ia bawa entah dari mana. Ia bercerita tentang perjalanannya di Ancona dan Roma. Ia begitu menyukai wilayah Marche, di pantai timur sana. Dan Roma begitu penuh oleh manusia. “But still beautiful,” tukasnya.

Bla bla bla bertukar. Saya menguap beberapa kali. Botol wine sudah kosong. Dan akhirnya good bye diutarakan. Dia akan ke utara, sedang saya akan ke selatan. Kami berpisah di depan tenda dan saya menikmati tidur yang pulas malam itu. Akumulasi dari mini camino, matahari musim panas, dan sebotol wine putih yang ditenggak dua orang.

Advertisements

Amstel

Kita berjalan di sepanjang Amstel, pada hari Minggu yang cerah di Amsterdam. Setelah menyesap Grolsch dan jus di rooftop Volkshotel, seraya mengunyah kalimat-kalimat elegis tentang keluarga, masa depan, dan peliknya menjadi anarko. Kita kehilangan banyak waktu dan kita mengejarnya. Tapi kita kelelahan.

Waktu memang jahanam, kata Silampukau, band asal Surabaya. Dan aku menelannya utuh-utuh saat kita berjalan melewati gang-gang sempit di sekitar sungai. Dan kau bawa diriku ke Massimo, “kedai es krim paling enak di Amsterdam”. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi yang jelas bibir kita belepotan di depan kedai, sambil menikmati kerumunan manusia yang menikmati akhir pekan yang asyik di kota.

Lalu kita bicara soal Italia. Kau soal Toscana, aku soal Umbria. Kita menyusun puzzle-puzzle yang menyusun imajinasi tentang sebuah negara di selatan, yang kita cintai dengan alasan dan retorika masing-masing. Aku calcio, kau bukit-bukit sunyi di Toscana. Tapi tentu saja Italia lebih dari itu. Ia rumit. Seperti kita.

Kau harus pulang dan mengayuh sepeda ke dekat pusat kota. Movie night. Kita berjalan melewati sebuah gedung jelek di pojok, sepertinya bekas gereja. Lalu bangunan-bangunan kecil, beberapa tampak miring. Dan kita berpegangan tangan sejenak di pinggir Amstel. Dan tertawa. Dan tersenyum. Dan aku (mungkin juga kau) akan mengingat senyum itu sebagai melankoli yang tak selesai.

Bari

Saya tiba di Bari, pada suatu sore musim panas yang cerah. Saya tiba dari Napoli, menumpang bus yang melewati lembah-lembah indah Basilicata. Beberapa hari setelahnya, di Wageningen, saya bilang ke Simone, asal Mestre: “if I were you, if I am able to speak Italian, I would stop in Basilicata.” Sayangnya tidak. Maka saya menuju Bari saja, kota nan sibuk di semenanjung Puglia.

Pertama kali saya kenal Bari lewat sepakbola. AS Bari, Cassano, San Nicola, dan detil-detil lain. Cassano sudah lama bermasalah dan redup sinarnya. Ia tak punya klub hari ini. Sedangkan, AS Bari tak ada lagi sejak 2014. Bangkrut. Penggantinya, FC Bari pun bangkrut tahun ini. Mulai musim ini, yang ada SSC Bari. Mereka diusir dari Serie B dan diharuskan memulai ulang segalanya di Serie D.

Toh, saya datang ke Bari bukan untuk sepakbola. Untuk pulang. Pesawat akan membawa saya terbang dari Bari menuju Maastricht. Setelah berpekan-pekan dipanggang musim panas Italia, saya ingin kembali ke utara. Bari adalah akhir kembara.

***

“Selamat datang,” ucap seorang perempuan paruh baya, ketika saya tiba di hostel di Corso Luigi di Savoia dan menunjukkan paspor saya. Saya kaget. Ia penduduk asli Bari, tapi lama tinggal di Middelburg, Belanda. Lalu, saya bilang bahwa saya kuliah di Wageningen. “Spreek je Nederlands?” tanyanya. Dia sempat pacaran dengan pria berdarah Indonesia. Lalu kami bicara soal rendang dan sambal.

Setelah itu, saya keluar hostel. Lapar. Maka, saya berakhir di restoran kebab dekat Universitas Aldo Moro. Satu keluarga India duduk di meja di depan saya. Dan saya menyantap nasi briyani. Segalanya terasa familiar, tapi juga tidak. Saya pergi dengan perut yang senang, dan berjalan-jalan sore tanpa arah.

Lama saya terduduk di taman depan universitas. Dan saya melumat senja yang sederhana di sana. Di tengah orang-orang biasa di hari yang biasa-biasa saja. Di kota yang biasa saja. Setelah Bologna, Firenze, dan Assisi, saya lelah dengan omong kosong manis ala Italia. Mungkin karena itu saya menyukai Bari. Karena ia tampak normal. “Bari doesn’t pretend, or try to be beautiful like other cities,” ucap saya pada Monica, beberapa pekan kemudian, sambil duduk di rumput Rijnveste.

Juga di Bari, menjadi coklat adalah normal. Bari adalah kota pelabuhan, jadi ia terbiasa dengan orang asing. Ferry dari/menuju Albania banyak di dermaga Bari. Beberapa juga terhubung dengan Kroasia. Di sepanjang jalan, orang India, Bangladesh, Arab, atau Afrika mudah ditemui. Dan orang-orang kulit putih juga tak canggung. Tak ada ketegangan di antara warna-warna kulit yang tak sama di sana.

***

Esoknya hari mendung. Saya terjebak di antara perasaan senang dan sedih, bersyukur dan sebal. Setelah hari-hari terik, langit abu-abu terasa menyenangkan. Tapi, Bari ada di pesisir. Jadi, harusnya menyenangkan pula bila merebahkan diri di pasir pantai, di bawah terik matari musim panas. Tapi tidak hari itu. Maka saya berjalan-jalan gontai sekenanya di centro storico, kota lama. Membuang waktu.

Stadio San Nicola terlalu jauh. “Dan sulit kesana,” kata gadis di belakang meja tourist information. Tapi tak sulit untuk menghabiskan waktu di kota normal seperti Bari. Kita hanya perlu berlagak menjadi orang biasa, berjalan-jalan di pedestrian, atau duduk di bangku kayu yang menghadap laut Adriatik. Lalu memesan espresso di siang hari, atau bir di sore hari, atau sepotong pizza di sela-sela keduanya.

Atau jogging di sepanjang garis pantai. Seperti yang saya lakukan sore itu. Saya mengajak teman satu dorm di hostel, cewek Australia yang manis. Tapi ia kelelahan. Ia baru tiba menyebrang dari Dubrovnik. Dia memilih yoga. Maka saya menguras keringat, menikmati Bari dari perspektif yang lain, dari kaki-kaki yang berlari, sambil melewati lalu-lalang manusia di senja yang menua.

Isar

​In Isar. A tiny curly-haired girl is drawing in front of me in her tiny drawing book. She brought a set of animal dools. They are tiny like her. They are cute like her. She suddenly reminds me of my sister. The curly-haired girls always fascinate me, either little or bigger girls.

Near the banks, a woman puts on her bra. Before, she was naked on top. She has​​ nice solid breasts. Now she is lying on the water, looking at nowhere but the streams of water. The weather is lovely. Summer is almost over, so we must grasp it while it lasts.

Next to me, on the left, an old man has been reading a newspaper for almost an hour. He is sitting in portable chair. He seems swallowing every words in paper very carefully. Perhaps he reads about the place he has never been to. Or maybe about the city he was grown up in.

And here I am. Sitting in Isar, pondering about random stuffs. On overtouristic places. On traffic jam in Jakarta. I am thinking how modernity may have created us crowd-phobia. That we always expect our neighbors, either fellow car drivers or tourists, are not exist.

(Munchen, 19-08-2018)

Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.

Suatu Pagi di Semolon

Tubuh seperti dihujam batu. Nyeri dimana-mana. Untungnya, matahari bersinar dengan cerah dan suara monyet yang sedang melompat-lompat di antara pepohonan terdengar. Di tengah hutan ini, dengan alas lantai kayu di sebuah pondok dekat air terjun Semolon, aku rebah semalam. Aku melewati malam dengan berperang melawan nyamuk dan angin yang dingin di sekeliling. Kedinginan itu membuatku memeluk diri erat-erat, menyilangkan kedua tangan hingga menyentuh punggung demi mengusir rasa dingin. Bersama dua orang teman, kami tidur rapat-rapat dengan alasan yang sama.

Semalaman aku mungkin terbangun puluhan kali saking tidak nyenyaknya. Ketika cahaya muncul sedikit, resahku hilang meski badanku payah akibat tidur yang seadanya. Matahari selalu menghadirkan sesuatu yang menenangkan. Seterik apa pun, paling-paling dia hanya membikin gerah dan keringat mengucur, tapi tak pernah menimbulkan resah. Apalagi di pagi di tengah Taman Nasional Kayan Mentarang itu.

Ketika mataku mengintip ke depan dan melihat cahaya mentari pertama, aku mengucap doa yang spontan. Semacam doa tanpa kata-kata yang mengalir dengan murni tanpa hiasan. Biasanya doa-doa semacam itu timbul dalam situasi seperti ini, saat merasa begitu lega atas malam yang menyusahkan. Atau di saat yang lain ketika menyerah pada sesuatu dan menjadi pasrah, sehingga kata-kata semrawut dan yang meluncur hanyalah doa yang bisu.

Aku tak langsung berdiri dan terbangun. Masih dalam posisi rebah dan mata memejam, tapi tidak tertidur. Aku suka momen setelah bangun tidur. Saat pikiranku kosong dan setengah sadar. Seperti berdiri di antara yang nyata dan tidak. Tapi itu saat yang menyenangkan karena setelah itu pikiranku menyala dan mulai terbayang apa saja. Kemudian kepala menjadi sesak oleh macam-macam bayangan, pikiran, dan gumam yang berputar seperti film. Keindahan pagi menjadi buyar.

Setelah lima belas menit dalam kondisi rebah dan pejam mata, aku memutuskan diri untuk bergerak. Mula-mula aku duduk bersila, sebuah kebiasaan yang kulakukan sejak masih kecil. Lalu aku berdoa dengan kata-kata yang sudah semacam mantra dan hafalan. Ini tipe doa yang berbeda dari doa ketika aku melihat cahaya matahari pertama sebelumnya. Doa macam ini adalah buatan, tidak murni. Hanya pengulangan bertahun-tahun sehingga menjadi sesuatu yang otomatis. Tidak ada makna lagi di dalamnya.

Doaku tak lama, tak sampai satu menit. Bahkan sebelum kata ‘amin’, mataku sudah membuka dengan malas. Aku mulai menguap. Asap! Asap keluar dari mulutku. Ini mengingatkanku saat masih kecil diajak jalan-jalan ke Puncak oleh ayah ibu. Aku begitu senang melihat asap keluar dari mulutku. Biasanya aku mulai berlagak seperti seorang perokok ulung, menirukan gerak-gerak ayahku ketika menghisap cerutunya. Asap dari mulutku membuatku senang, sebentuk kesenangan yang sederhana dan arkaik. Aku mendadak siap menyongsong hari.

Aku melihat ke sekeliling, dua temanku belum terbangun. Namun, tidur mereka juga bukan tidur yang lelap. Keduanya bergerak-gerak mencari posisi tidur yang pas. Terlebih setelah aku terbangun, pasti mereka rasa ada sesuatu yang berbeda. Seluruh badan mereka tertutup sarung, sehingga gerak-gerik keduanya seperti sepasang ulat daun.

Sebenarnya, kami tidak hanya bertiga. Di suatu sudut yang lain dari pondok itu, tiga orang lain juga masih terlelap. Ketiganya adalah orang asli Dayak. Dua orang kakak-beradik berumur sekitar 25 tahun. Pasangan saudara itu berbadan kekar dan berambut panjang lurus sebahu, mengingatkan pada Apache. Di samping badan salah satu pemuda Dayak itu terdapat senapan yang mereka gunakan untuk berburu. Mereka terbiasa memakan daging apa saja, seperti yang diakui oleh salah seorang. Tapi meraka datang ke kawasan air terjun Semolon ini bukan untuk plesir, mereka bertugas memunguti kayu-kayu yang tumbang dari pohon yang sekiranya menghambat aliran sungai dan air terjun.

Mereka datang bersama seorang keponakan berumur kira-kira 7 tahun. Anak kecil ini berkulit lebih putih dari dua pamannya. Dia dalam masa liburan sekolah sehingga berkesempatan mengikuti dua pamannya ke tengah hutan. Indah rasanya melihat anak kecil di tengah hutan seperti ini. Aku tak bisa menjelaskan kenapa, namun perasaan itu nyata meski tanpa alasan. Anak kecil itu cukup pendiam. Dia tidak banyak bicara dan hanya berkata-kata jika sedang ditanya.

Dengan memeluk kedua lututku, aku memandangi ketiga orang asing itu. Aku ingat kemarin siang kami bertemu di pondok ini. Kami baru tiba dari sebuah desa bernama Paking, melewati perjalanan empat jam melewati hutan dan sungai yang sedang kering. Kami sempat singgah sebentar di sebuah kampung yang lebih kecil dan terpencil dengan kehidupan yang begitu apa adanya. Dari kampung itu kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Semolon.

Kami bertemu tiga orang Dayak itu saat mereka sedang memasak makan siang. Mereka memasak nasi dan menggoreng ikan sungai di atas tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Sejak awal mereka menunjukkan keterbukaan dan kebaikan. Mereka dengan sukarela membagi jatah makannya dengan kami. Adalah sebuah kemegahan ketika kita datang ke tempat asing dan bertemu orang-orang yang menerima kita seperti saudara. Kami makan bergantian karena piring dan sendok yang terbatas. Selama proses itu kami berbicara ini dan itu.

Salah seorang temanku bercerita bahwa kami dari Pulau Jawa dan hendak bertualang menengok bagian-bagian Indonesia yang lain. Kami sudah dua malam tinggal di Desa Paking dan berencana pergi ke Desa Long Berang besok. Konon, Long Berang cukup sulit dijangkau dan harus melalui sungai dengan jeram-jeram yang jahat, begitulah orang di sana menyebut jeram sungai yang membahayakan. Dua orang mirip Apache itu menceritakan pengalaman mereka ketika pergi kesana. Mereka bercerita panjang lebar hingga akhirnya nasi dan lauk tandas. Sebagai ucapan terima kasih, aku dan dua temanku mencuci piring dan sendok yang kami pakai makan.

Bayanganku buyar. Seorang temanku terbangun dan langsung berduduk sila sambil mengusap matanya yang sembab. Tak ada ucapan selamat pagi atau senyum, kami bukan tipe teman yang suka bermanis-manis. Kami relatif cuek satu sama lain. Tapi kami cocok dalam melakukan hal-hal yang orang lain tak suka lakukan, semacam pergi ke tengah hutan Kalimantan saat teman-teman lain sedang sibuk di kubikel masing-masing.

Dia hanya duduk sebentar lalu berdiri ke arah ranselnya. Ia mengambil minum dan menegak beberapa kali. Aku memberi kode bahwa aku juga ingin minum. Dia menutup botol dan melemparkan ke arahku. Tangkapanku sempurna. Aku minum sedikit. Tadinya aku berniat melempar balik, tapi temanku itu sudah keluar pondok dan melihat ke arah air terjun sambil meregangkan badannya. Untuk menjelaskan, pondok itu bukan pondok dengan dinding-dinding terutup, tapi terbuka. Itulah mengapa udara semalam begitu dingin menyengat.

Aku meletakkan botol air minum itu sekenanya di atas lantai sebelum berdiri dan berjalan menyusul temanku. Angin pagi menyapu mukaku sementara suara monyet bergelantungan dari pohon ke pohon masih bergema. Ini keindahan yang tak bisa kujumpai setiap harinya. Aku mesti menikmati pagi ini sepuas-puasnya, kataku dalam hati, karena pagi seperti ini tidak akan berulang. Aku mengamati aliran sungai dan juga air terjun di atasnya. Daun-daun dan ranting-ranting gugur mengambang dan sesekali terbawa arus yang tak deras.

Seketika temanku melirik ke arahku. Mulutnya bungkam, tapi mata dan gerakan kepalanya menunjuk ke air terjun. Tanpa menunggu reaksiku dia berjalan ke arah yang ditunjukkannya. Untuk menuju air terjun kami harus melewati jembatan, tapi sebenarnya kami bisa juga menyeberangi aliran sungai kecil itu dan mendaki sedikit. Temanku memakai jalur jembatan, aku mengikutinya dari belakang sambil melipat tangan ke belakang untuk melepaskan kekakuan tubuh.

Temanku langsung membuka baju dan celananya. Kini ia hanya bercelana dalam. Ia meletakkan pakaiannya itu di atas bebatuan yang kering dan sekiranya tak akan terkena aliran air atau cipratan. Perlahan ia masuk ke dalam kolam air terjun. Kata-kata pertamanya hari itu keluar. “Dingin!” ucapnya sambil memeragakan bahasa tubuh dan raut muka orang yang kedinginan. Ia tak lantas keluar, justru semakin masuk ke dalam dan mulai mencelupkan kepalanya ke air. “Segar,” teriaknya. Itulah kata keduanya hari itu.

Melihat wajah temanku yang begitu semringah, aku langsung melepas pakaian. Tanpa basa-basi kulemparkan kaus dan celana jins pendekku ke tempat yang aman. Tanpa aba-aba aku melompat ke dalam air dan byur. Air menciprat kemana-mana dan membasahi pakaian kami berdua. Monyet-monyet semakin berisik di atas sana, di pucuk pohon-pohon yang mungkin setinggi gedung 8 lantai. Saat kepalaku muncul di permukaan, temanku menghentakku sebelum akhirnya tertawa. “Brengsek,” umpatnya sambil tersenyum, menimbulkan semacam ironi.

Pagi itu adalah kemewahan yang tak mungkin kami dapatkan di hotel bintang berapa pun. Tidur beralas lantai kayu di sebuah pondok terbuka di tengah hutan, bangun dengan suara monyet-monyet menyambut pagi, dan berenang di air terjun dengan cuaca segar khas alam yang belum cemar. “Ini adalah surga,” temanku mulai bermetafora. Mungkin itu sebuah metafora yang klise, tapi aku tak bisa tidak setuju dengannya. “Aku percaya pada surga. Dan aku yakin surga seindah ini. Carpe diem!” teriakannya memecah pagi yang tentram itu. Kami berdua tertawa riang.

Dari kejauhan kami melihat teman kami yang satu akhirnya bangun. Dia berdiri dan menggeleng-geleng kepalanya. Dengan langkah malas ia keluar dari pondok dan menggeleng sekali lagi. Suaranya tak terdengar, tapi dari membaca mulutnya aku bisa tahu dia mengucapkan kata ‘gila’. Kami berdua hanya tersenyum dan tak berniat membalas. Dia lalu berjalan ke arah kami melewati sungai kecil di bawah dan mendaki ke air terjun. Mukanya khas orang yang baru bangun tidur. Tapi temanku itu juga tak suka berbasa-basi. Tanpa melepas pakaian dia terjun ke air terjun. Byur!

(11 Agustus 2014)

Ode for tourism

Saya berjalan di Assisi, seperti mayat hidup yang melintasi lanskap Umbria, gereja-gereja tua, toko-toko cinderamata, restoran, pizzeria, cafetaria, dan tanda-tanda yang memuaskan pengalaman yang saya/kita cari sejak dulu di rumah. Turisme, saya rasa, telah menjadi terlampau banal hari-hari ini.

Saya bagian dari ‘golden hordes’ yang mengerikan itu. Gerombolan manusia yang mencari omong kosong di kota yang asing. Saya berjalan di (dan menuju ke) Assisi seperti mayat tanpa nyawa, dituntun Lonely Planet atau panduan wisata atau rekomendasi tourist center. Setelahnya adalah repetisi.

Kita hidup di ketegangan antara mixophobia dan mixopholia, Bauman seperti berbisik di telinga. Suaranya seperti datang dari tempat yang jauh, tapi terasa dekat. Oh Zygmunt yang malang, kenapa kau mati terlalu lekas? Turisme ada di sentral ketegangan itu. Kita mencari yang liyan lewat paket-paket wisata, tapi takut setengah mati oleh pengungsi yang kulit dan agamanya tak sama. Kita ini bajingan atau apa sih?

Di Perugia, pada suatu siang yang sendu, di tengah bangunan-bangunan abad pertengahan yang memusingkan, di antara alunan jazz yang sedih, saya dipukul telak oleh pikiran sendiri: dia yang tinggal di kotanya hari-hari ini, yang tak pergi kemana pun, sebenarnya sedang menawarkan revolusi.

Kita dibuai imaji heroik tentang petualang-petualang Iberia jaman dulu, atau orang-orang kulit putih yang melintasi gurun-gurun sepi di Afrika Utara dan hutan-hutan liar di Kalimantan. Tapi tidak hari ini kawan. Yang heroik adalah ia yang duduk santai di teras rumahnya; ia yang tak bernafsu untuk keluar melihat dunia; ia yang tak dijejal gairah melihat yang liyan; ia yang tak berkelana kemana-mana.

Hari ini, di masa dimana kita mengenal istilah overtourism, yang menandai era paska-kapitalisme, dimana kemakmuran dan keserakahan tersebar seperti daun-daun musim gugur, memutuskan tak kemana-mana adalah revolusi. Hari ini, saya cuma ingin minum kopi di teras rumah dan membaca Pramoedya.

Kind People

Orang baik ada dimana-mana, tulis seorang teman. Benar juga. Tapi mungkin tak sepenuhnya. Di banyak tempat, orang-orang lebih suka menebar ancaman, kebencian, dan ketakutan. Di Mentawai, semua itu tak ada. Saya selalu berpikir, selama disini, bahwa orang Mentawai adalah orang-orang paling baik yang pernah saya temui. Apapun definisi ‘baik’ itu, atau apakah baik-jahat hanya sekadar penjara konseptual, tak akan mereduksi persepsi saya tentang orang-orang Mentawai.

Tentu saja, saya tak akan luput membawa-bawa stereotip. Namun, saya tak peduli. Buat saya, stereotip bukan sesuatu yang negatif. Orang-orang telah lama menempelkan konotasi negatif pada kata ‘stereotip’. Yang berbahaya sebenarnya adalah generalisasi, bukan stereotyping.

Orang-orang Jawa, misalnya, dikenal sebagai orang dengan tutur kata yang halus. Tapi itu tak bersinonim dengan ‘baik’. Keris di punggung adalah simbolisasi untuk itu. Orang-orang Jawa, saya pikir, lebih suka berbicara di belakang, di balik kata-kata halus yang mereka utarakan. Di Toraja, kita bicara dengan lebih terus terang. Tapi, kadang-kadang kebiasaan itu malah jadi kebablasan. Perkelahian, entah mulut atau fisik, sudah jadi hal yang normal. Kita tak perlu mempersoalkannya.

Jelas sekali bahwa saya main aman dengan mengambil contoh Jawa dan Toraja. Keduanya mengalir dalam darah saya. Jadi, setidaknya saya tahu bahwa saya hidup dalam kontradiksi-kontradiksi itu. Baik-jahat selalu jadi persoalan yang relatif. Kita akan mendebatnya selamanya.

Dulu, bapak saya selalu bilang bahwa saya harus jadi orang baik. Itu yang utama. Pintar dan hal-hal lain adalah persoalan ke sekian. Baik adalah kunci. Tapi, menjadi baik bukan hal yang mudah. Saya pikir saya selalu gagal untuk menjadi baik, bahkan untuk sekadar menjadi tidak jahat. Di Siberut, saya mengingat nasihat bapak lagi, dengan contoh yang di depan mata. Orang-orang Mentawai, buat saya secara personal, adalah representasi paling paripurna untuk ‘orang baik’. Sejauh ini.

Sekarang saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa yang saya maksud ‘baik’ dan ‘orang baik’. Tapi saya pikir itu tak perlu. Usaha semacam itu akan menjadi kesia-siaan. Baik-jahat, sekali lagi, adalah personal dan relatif. Saya bisa menyebut ajektif ‘tulus’, ‘tidak pemarah’, ‘tidak pendendam’, ‘santai’, ‘tidak suka bikin masalah’, ‘tidak mencuri’, ‘tidak mengancam’, dan lain-lain untuk menjelaskan maksud saya. Tapi rasanya tidak perlu. Ini urusan yang lebih personal dari agama.

Sekarang, cita-cita saya cuma ingin jadi orang baik. Apa pun maksudnya.

(Muntei, 2 Januari 2018)

Sofia

Semuanya selalu berupa ingatan-ingatan. Ia berasal dari masa lampau yang tak pernah dicatat. Ia mengerak menjadi partikel-partikel di dalam kepala. Lalu, pada suatu masa yang tak pernah direncanakan, ia akan menguar ke udara. Seperti hari ini. Saat saya berdiri di bibir pantai, di Mappadegat, Sofia mendekat dan menjelma melankolia dari musim panas.

Persisnya adalah hari penuh pertama. Setelah Mestre, Venezia, dan Redentore yang memabukkan. Hari itu begitu jauh. Tapi saya mengingatnya dengan detil-detil yang melenakan. Pada sebuah siang, di jalan-jalan kota. Setelah katedral Levski yang megah, setelah orang Afrika itu mengobrol sekenanya: tentang Amsterdam dan dosa-dosa masa muda.

Saya menuju galeri nasional: mencari-cari celah untuk mengisi hari, mencari kesenian untuk mengisi apa-apa yang kosong di dalam paru-paru. Adalah foto-foto tentang mulut yang terbuka. Sebuah epik. Saya selalu bingung bagaimana cara kerja seniman-seniman itu. Ide, mungkin saja, meletus di kepala mereka tanpa aba-aba. Setelahnya adalah maestro.

Jalan-jalan Sofia tampak terang. Taman kota menjadi tempat berteduh, dari matahari yang menyengat, di sebuah musim panas 30-an derajat di Balkan. Free walking tour di pagi hari telah menyandera tubuh ke dalam keringat-keringat. Shakira berpose di depan tulisan Sofia, di dekat gedung besar yang terlupakan. Di sini, orang begitu mudah melupakan sejarah.

Komunisme telah berakhir. Orang-orang sedang beranjak ‘Eropa Barat’. Ia telah jadi semacam ajektif, sebuah mantra development. Atas nama taraf hidup, atas nama uang di saku celana, anak-anak Bulgaria belajar melupakan kiri. Demi janji manis bernama Uni-Eropa. Mereka ingin setara. Mereka ingin lepas dari label itu: negara paling miskin di Uni Eropa.

Saya menyantap coklat dan cappuccino, di sebuah kedai antik dekat Vitosha. Shakira mulai bercerita tentang banyak hal: London, Australia, Spanyol, Balkan. Sehabis ini adalah Georgia, katanya. Di ujung malam, kita berpelukan di antara jendela. Gelas-gelas alkohol telah tandas bersama anak-anak dari Mexico City: tiga orang guru dan satu pengarang.

Hari pertama di Sofia telah berakhir begitu saja. Bulgaria telah membuka dirinya untuk saya. Tiga minggu yang menyenangkan akan berlalu. Begitu lekas, begitu membekas. Bulgaria is one of the best things that ever happened to me. Hari ini, di sebuah teras di Mappadegat, saya merindukannya dengan menggebu-gebu. Dengan keinginan untuk kembali.

(Mappadegat, 28 November 2017)