Deventer-Zwolle (2)

Tiba di Zwolle, matahari tampak kian terang.

Saat berjalan ke arah centrum, saya mendapati sebuah museum gagah berdiri di hadapan bioskop tua. Dari tangga-tangga di depan museum, saya mengamati sepeda-sepeda yang dijejer sembarang di dinding bioskop. Sebuah bar ada di sebelahnya. Hari masih sore. Bar belum terisi. Saya melewatinya dan bergegas jalan lebih dalam ke jantung kota.

Centrum demi centrum telah saya jalani. Dan saya membayangkan sebuah dunia yang membosankan. McDonalds, H&M, Primark, Subway, dan merek-merek lain mendominasi pusat kota. Di Zwolle, kenyataan yang sama saya dapati. Saya jadi membayangkan Wageningen yang tenang, yang pusat kotanya tak diisi H&M atau McDonalds. Hanya sekumpulan kios yang namanya tak familiar, dan beberapa bar yang tak pernah terlalu sesak di akhir pekan.

Tapi, Zwolle kota yang asyik. Saya bisa menciumnya dari udaranya. Seperti ada yang sudah selesai di sini. Saya duduk santai di dekat kanal dengan kapal-kapal yang terparkir di sana. Matahari membanjiri retina dengan sinarnya, juga memanggang kulit wajah yang bosan digilas beku musim dingin. Waktu seperti melambat di bangku kayu panjang itu, di pinggir sebuah kanal.

Saya sempat berpikir untuk menonton bioskop di sana. Tapi jadwalnya tak pas. Terlalu malam, pikir saya di depan loket bioskop. Saya membatalkannya. Saya melanjutkan jalan kaki. Pada sebuah persimpangan, seseorang menyetop saya. Jalannya tampak gontai, matanya tampak sayu. Dia menanyakan letak coffee shop. Kebetulan saja saya baru melewatinya dan menunjukkan arahnya.

Di depan stasiun, saya mampir sebentar di Albert Heijn untuk sepotong croissant coklat. Gelap pelan-pelan jatuh di Zwolle. Udara kian dingin. Saya menggigil sedikit. Kereta tiba beberapa menit sebelum 18.30. Saya ingat karena hari itu saya menggunakan tiket promo khusus NS. Stasiun-stasiun terlewat. Perlahan Ede-Wageningen muncul di jendela.

(Selesai)

Post-scriptum: Keesokan harinya saya kembali ke meja tempat saya biasa mengerjakan tesis. Kalimat-kalimat meluncur dengan gegas, dengan bebasnya. Kata demi kata, paragraf demi paragraf. Pada akhirnya, saya tahu bahwa berhenti sejenak adalah bagian dari perjalanan. Seperti halnya tanda koma dalam kalimat. 

Deventer-Zwolle (1)

Ada kalanya writer’s block tiba di depan mata.

Seperti sebuah Senin yang kelabu di Wageningen. Saya membuka dokumen-dokumen tesis. Membaca-baca transkrip, field notes, dan artikel-artikel guna mencari inspirasi untuk menyusun temuan. Tapi, seperti ada batu bata yang menghalangi. Layar komputer seperti menatap balik dan mengernyitkan dahinya.

Pagi hingga sore berlalu. Tak sepatah kata pun tuntas oleh keyboard. Microsoft Word menganga. Putih bersih. Seperti ada yang keliru. Saya duduk berjam-jam untuk sebuah kekosongan. Beberapa menit lamanya saya keluar ke danau dekat kampus untuk menyegarkan pikiran, tapi writer’s block itu nyata.

Esoknya saya meliburkan diri dari tesis. Percuma jika hanya duduk di depan komputer dan tak menulis apa-apa. Saya berangkat ke Deventer untuk sebuah vakansi mini, semacam eskapisme dari tesis yang berontak untuk menulis dirinya sendiri. Lagi pula, apa yang lebih indah dari break di tengah pekan?

Langkah saya terayun ringan saat keluar stasiun Deventer dan berjalan ke arah centrum. Seperti flaneur, saya hanya melihat-lihat. Toko ini dan itu. Di salah satu toko itu, saya mampir membeli kaos kaki untuk Christal. Lalu, saya berjalan lebih jauh lagi. Sesekali berhenti di depan toko buku atau kios cd musik.

Deventer punya gemeente yang cukup asyik. Sidik jari warganya menjadi bagian dari arsitektur. Saya ingat di dalam gementee saya sempat duduk beristirahat, lalu matahari tiba-tiba muncul. Segar rasanya. Matahari musim dingin. Lalu saya berjalan ke arah sungai. Kapal-kapal tampak lalu lalang di perairan.

Apa lagi yang saya ingat dari Deventer? Menyantap kapsalon, duduk di bangku pusat kota sambil menikmati keramaian manusia (matahari bersinar hari itu, sehingga orang-orang keluar rumah), dan konstruksi jalanan di dekat stasiun. Selebihnya saya hanya berlalu-lalang, seperti turis yang mencari entah apa.

Kemudian saya ke Zwolle.

(Bersambung)

Sungailiat

Hujan jatuh begitu saja.

Kami buru-buru merapikan alas duduk, sebuah kain berlatar hitam dengan gambar Bob Marley di atasnya. Diberikan seorang kawan di Amsterdam, yang tumbuh dewasa dengan adagium don’t worry everything’s gonna be alright. Persis seperti saya. Saya menyibak kain itu agar pasir-pasir tak terbawa.

Dari Tanjung Pesona, kami berkendara ke arah Sungailiat. Hujan masih turun rintik-rintik. Tak masalah. Tapi, tangki motor nyaris kosong. Di tengah jalan, kami berhenti sebentar untuk mengisi bensin eceran. Entah di mana.

Memasuki Sungailiat, hujan menderas. Kami menepikan motor di sebuah rumah makan Padang. Kios-kios handphone berdiri tepat di seberangnya. Saya memesan ayam. Christal memesan entah apa. Dari kejauhan saya menikmati jalanan kota yang basah, dengan lalu lalang kendaraan yang tak terburu-buru.

Rambut saya lengket air laut. Ditambah udara yang irit masuk ke dalam helm. Rasanya anyep. Tidak enak. Tapi, Pangkal Pinang masih jauh dan kami tak berencana langsung kembali ke sana. Mungkin kami akan mampir ke Pantai Tikus dalam perjalanan pulang. Duduk-duduk di pasir sambil melihat ombak menjilati pantai.

Di Sungailiat, kami cuma berteduh dari hujan yang guyur di Bangka.

(Tapi, entah kenapa tiba-tiba saya mengingat Sungailiat.)

Varna

Bagaimana saya tiba di Varna? Mungkin kereta atau bus. Entahlah. Saya lupa.

Tapi, saya mengingat sebuah bangunan luas seperti terminal. Mungkin gabungan antara terminal bus dan stasiun kereta. Entahlah.

Yang jelas tak ada bus atau kereta langsung dari Burgas ke Romania. Maka, dari Burgas saya mesti singgah semalam di Varna. Lalu mencari kendaraan menuju Bukares.

Pada musim panas, Varna seperti disusun untuk pesta. Di kawasan pantai, musik disetel keras-keras. Langit belum gelap tapi alkohol sudah tumpah dimana-mana. Saat saya berjalan santai di pantai, rasanya seperti akan ada perayaan yang siap meledak kapan saja. Tapi, Varna terlalu sesak dan gegap.

Saya menginap di Yo-Ho Hostel. Agata rupanya juga tidur di sana. Sebelumnya, kami bertemu di Veliko Tarnovo. Kasur kami bersebelahan, di sebuah dorm sempit di Hostel Hikers, salah satu hostel paling laid back yang pernah saya singgahi. Maka, Varna menjelma semacam reuni. Kami bertukar kabar.

Perjalanannya akan segera berakhir. Ia akan terbang dari Bukares beberapa hari lagi. Sedang, saya akan ke Bukares besok. Entah dengan apa. Di common room hostel, kami membahas kemungkinan saya singgah di Brno, kota tempat tinggalnya, dalam perjalanan pulang saya ke Wageningen. Entahlah.

Varna adalah kota terakhir saya di Bulgaria. Setelah minggu-minggu yang menyenangkan. Dari situ saya akan bergerak ke utara sedikit, ke Bukares. Lalu dari ibukota Romania itu saya akan terus beranjak ke barat, entah itu dengan kereta, bus, atau transportasi darat lain. Mungkin saya singgah di Ceko.

Tapi, yang jelas saya ingin berhenti sebentar di Kassel. Untuk Documenta. Festival seni lima tahunan itu saya ketahui di Blablacar, dalam perjalanan dari Bremen ke Barneveld. Supir yang membawa saya berasal dari Kassel. Saya dan Agata sedang membahas Kassel dan Documenta ketika seorang perempuan menginterupsi.

Ia duduk di dekat kami, sedang membaca majalah. Lalu ia terhentak sedikit oleh kata Documenta. Rupanya ia baru saja dari pameran itu beberapa waktu lalu. Ia menunjukkan beberapa foto instalasi dan karya seni yang dipajang di sana, serta mana-mana saja yang membekas di ingatannya hingga sore itu.

Obrolan kami – seperti lazimnya obrolan di hostel-hostel – menjadi semakin kemana-mana. Semakin banyak orang yang nimbrung. Saya ingat satu gadis Spanyol yang manis, dengan tato yang asyik di punggungnya. Ia rupanya mahasiswi Erasmus. Ia masih mencari flat permanen, sehingga tinggal sementara di hostel.

Bla-bla-bla. Varna dan para pejalan. Setelah bosan, saya beranjak ke balkon. Saya mengambil minuman dan duduk di sana. Seorang lain menemani. Kami bicara sekenanya tentang hal-hal yang dibicarakan dua orang asing yang baru bertemu. Dari bawah, di jalanan, seorang pria mabuk meminta sebatang sigaret.

Sisa malam saya habiskan dengan mencari makan di pusat kota, lalu saya kembali dengan lelah ke dormitori, yang sayangnya diisi pria-pria Belanda yang berisik. Tapi setidaknya saya bisa tidur dengan lelap, lalu bangun di pagi yang dini untuk mencari kendaraan ke Bukares. Sayang, saya tak sempat pamit ke Agata.

Di terminal, saya memesan semacam minibus/travel ke Bukares. Sedikit kekacauan sempat terjadi saat seorang pria mengambil jatah kursi penumpang lain. Rupanya ada miskomunikasi antara si supir dan petugas di kounter agen. Peliknya pria itu tetap duduk dan ngotot ikut berangkat menyebrang perbatasan.

Imbasnya, saya dan seorang pejalan Jepang mesti menentukan siapa yang terusir. Saya ngotot untuk masuk karena sudah membeli tiket. “This is not jungle,” kata saya ke supir dan petugas agen. Orang Jepang itu akhirnya mengalah, pasrah. Ia akan diantar dengan mobil lain, tapi melewati rute yang lebih memutar.

Di dalam mobil, saya berdesakan dengan penumpang lain. Di sebelah saya adalah pria Belgia yang sedang mengambil PhD di Swiss. Istrinya orang Bulgaria, Varna tepatnya. Ia menyayangkan insiden yang baru saja berlalu di terminal.

Di bangku depan saya, seseorang menyindir pria yang ‘mencuri’ jatah kursi si orang Jepang. “Kita bisa lihat bedanya orang dari negara maju, kan?” tutur si penyindir. Saya tak tahu kebangsaan si ‘pencuri kursi’. Mungkin Bulgaria. Mungkin negara Balkan lain. Yang jelas ia tak menggubris. Ia tak bisa berbahasa Inggris.

Ska-P & Blablacar

Musim mulai mendingin. Saya berangkat dari Wageningen menuju stasiun Ede-Wageningen, seperti biasa dengan bus 88. Dari situ, saya menumpang kereta Valleilijn ke arah Amersfoort, lalu turun di Barneveld Noord. Dari semua stasiun yang pernah saya alami di Belanda, Barneveld Noord mungkin salah satu yang paling berkesan. Secara arsitektural, ia unik. Secara lokasi, ia berada entah-dimana. Secara mood, ia sunyi. Tak pernah ada kerumunan ketika saya singgah di sana. Entah itu siang, pagi, atau malam hari.

Saya hendak menuju Stade. Dan, seperti biasa, saya mengandalkan Blablacar. Saya mendapat tumpangan. Kami janjian bertemu di dekat Barneveld Noord. Saat itu, kawasan sekitar stasiun sedang banyak perbaikan jalan, sehingga saya mesti berjalan kaki lebih jauh dari biasanya, untuk mencapai titik temu di dekat pom bensin. Saya ingat siang itu langit sedang gloomy. Sedang beban di punggung saya agak berat. Dan itu mungkin perjalanan terakhir saya dari Wageningen menuju Stade.

Til menyilakan saya masuk ke mobilnya. Kami berkenalan. Dia asal Jerman dan baru mengunjungi temannya di Amsterdam. Temannya blasteran Belanda-Maluku. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita. Obrolan menjadi agak sedikit lebih mudah karena dia pernah kuliah di Bangkok, untuk belajar HAM, dan meneliti di Filipina tentang kasus-kasus HAM era Duterte. Jadi, lanskap Asia Tenggara cukup familiar baginya. Dan ia tahu sedikit soal Soekarno, Soeharto, dan kasus-kasus HAM di Indonesia. Obrolan menjadi agak serius, tapi tetap santai. Lalu kami lelah mengobrol dan diam sejenak.

Pada hening Blablacar, saat dua orang asing berada dalam kedap interior mobil, terlebih di musim yang tak hangat, radio kerap menjadi segara. Ia meminta tolong saya mencari kumpulan CD musiknya di laci mobil, dan mempersilakan saya memilah-milih. Saya melihat-lihat dan tak menemukan musik yang saya inginkan. Ia bertanya musik seperti apa yang saya dengarkan, lalu menyarankan Ska-P.

Hingga hari ini, lebih dari setahun setelahnya, saya masih sering mendengarkan Ska-P. Setiap mendengarnya, saya membayangkan autobahn yang kami lewati kala itu, saat langit mendung dan ska menghentak. Ia bisa berbahasa Spanyol dan menceritakan bahwa Ska-P adalah band yang lumayan kiri, cenderung anarko, dan pro-Catalunya. Dari situ kami membahas hal-hal yang agak serius lain: ideologi, separatisme, anarkisme. Ska-P menjadi latar obrolan.

Perlahan kami memasuki wilayah HH, Hansestadt Hamburg. Saya turun di Heimfeld untuk mencari S-Bahn menuju Stade. Kami berpisah di sana, di tikungan jalan dekat bahnhof, di tengah sore yang makin gloomy.

Migrasi: Teori dari Travel

Travel yang saya tumpangi mulai menjauhi wilayah Grobogan dan perlahan memasuki Sragen kabupaten. Jalan-jalan kecil memisahkan sawah-sawah di kanan-kiri. Rumah-rumah penduduk tersebar di sekitarnya, di titik-titik yang sedikit lebih rimbun, seperti sedang mencari teduh di hari yang kemarau.

Pada sebuah kelokan, sang supir memulai narasinya. Di situ ada sebuah rumah kecil nan sederhana, lengkap dengan genteng batu bata merah yang lusuh terpanggang waktu. “Itu rumahnya model rumah desa lama ya?” ujar sang supir, memantik teori dari mulutnya sendiri. Saya, yang duduk di bangku depan, menimpali dengan “iya”. Saya mencatat ceritanya kemudian lewat recorder bernama ingatan.

Kira-kira beginilah ceracau sang supir.

Rumah bermodel jadul seperti itu dibangun bertahun-tahun lalu, mungkin sejak jaman pra-kemerdekaan. Yang memiliki rumah-rumah seperti itu, bisa ditebak, adalah keluarga petani. Setidaknya dulu. Sekarang petani-petani telah menua. Anak-cucunya sudah pergi ke kota untuk sekolah atau bekerja yang jauh dari persoalan tanah dan padi.

“Sudah jarang rumah model lama seperti itu, karena sekarang anak-anak desa banyak yang sukses di kota, lalu kembali untuk memperbaiki rumah orang tua dan kakek-neneknya. Modelnya ya jadi beda, tidak seperti dulu,” ucap sang supir cum pencerita.

Anak-anak desa yang sudah pindah ke kota itu memberi warna baru untuk rumah-rumah di pedesaan. Seperti mencetak garis yang memisahkan rumah desa model lama dan baru, jadul dan kekinian. Desa-desa tumbuh bersama keramik-keramik, dan genteng-genteng batu bata merah yang tahan terhadap matahari musim kemarau.

“Tapi ya kadang anak-anak kalo sudah ke kota malah lupa pulang ke desa. Kadang ya rumah di desa bukan diperbaiki, malah orang tuanya yang diajak pindah ke kota saja. Ngapain tinggal di desa,” lanjut supir di sebelah kanan saya, dengan mata lurus menatap aspal-aspal yang memisahkan padi-padi yang akan berakhir di piring-piring kita.

Pada mulanya, migrasi desa-kota memindahkan orang-orang dari desa ke kota. Lambat laun ia juga turut memindahkan rumah beserta isinya. Dan mengubah alamat di banyak KTP, dari tadinya warga desa jadi warga kota. Dan kota bertumbuh terus. Dan rumah-rumah model lama semakin jarang di temui di desa-desa.

(Sleman, 20 Juli 2019)

USA & Jakarta

Tiba-tiba pikiran saya tiba di Modena, pada suatu sore musim panas yang cerah.

Saya hendak menuju Soliera untuk sebuah konser. Sambil menunggu teman datang menjemput, saya duduk-duduk di common room Ostello San Filippo Neri. Saat itu, televisi menyetel laga fase gugur Piala Dunia, Brazil vs Belgia. Saya duduk semeja dengan seorang ibu paruh baya. Saya berbasa-basi dengannya.

Pertanyaan basa-basi paling basa-basi di hostel-hostel adalah: where are you come from? (Belakangan saya menghindari pertanyaan semacam ini, yang rasanya mengabaikan berbagai pengalaman sosio-kultural kita yang kompleks dengan berbagai tempat. Seakan-akan dari mana berasal lebih penting dimana kau merasa berada di rumah.)

“I am from North America,” jawabnya. Dahi saya terkenyit. Amerika Utara?

Dia seperti membaca kernyit di dahi saya, lalu menimpali: “I’m from California”. Lega rasanya mendengar jawaban itu.

Lalu ia terus meracau tentang kenapa ia menjawab “North America”, bukan “USA” atau “US” seperti lazimnya pejalan-pejalan lain dari sana. Ia menyadari “USA” mengandung konotasi yang negatif di dunia. Seakan-akan menjadi “US citizen” adalah semacam dosa sejarah. Ia menyebut beberapa hal seperti perang, Hollywood, cultural imperialism, dan lain-lain. Ia menyadari posisinya sebagai seseorang yang berasal dari sebuah tempat yang (potensial) dipandang sebagai biang kerok oleh banyak orang lain di dunia.

Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dalam perjalanan di banyak tempat di Indonesia. Ketika ditanya dari mana saya berasal, jawaban paling mudah tentu saja adalah “Jakarta”, karena orang-orang akan langsung mengetahuinya, walau sebenarnya saya tinggal di Depok. Depok, pikir saya, hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan: “Dimana tuh Depok?” Dan, ujung-ujungnya saya akan menjawab “Jakarta”.

Jadi, seringkali, saya justru menyebut Bogor. “Saya dari Bogor, Jawa Barat,” ucap saya kepada banyak orang di daerah-daerah lain yang bukan di Jawa. Seakan-akan dengan jawaban itu saya melarikan diri dan menghindar dari konotasi negatif yang diemban Jakarta, dimana kekuasaan negara terpusat, dimana kebijakan-kebijakan didesain untuk mengatur (atau tidak mengatur) warga sipil, termasuk mereka yang ada di tempat-tempat yang amat jauh dari “pusat”.

Saya menegasikan relasi saya dengan Jakarta, seperti ibu paruh baya di Modena menegasikan relasinya dengan USA. Mungkin karena kami sama-sama menganggap dan menyadari bahwa daerah/negara asal kami bukan tempat yang syahdu dan lebih banyak mencetak petaka daripada harapan. Jakarta dan Amerika, dimana sinonim “pusat” sering diletakkan di atasnya, bukanlah kata yang kami suka.

Maka, ia menyebut “North America” dan saya menyebut “Bogor”. Begitulah.

(Cepu, 13 Juli 2019)

Para Peziarah di Santiago

Santiago de Compostela, pada sebuah musim dingin yang basah.

Stasiun basah. Apa-apa basah. Kota jadi murung. Saya melangkahi pusat kota dengan wangi burger yang menguar ke jalan. Di Parque de Alameda, segala jadi lebih sendu. Pohon-pohon tanpa daun menanti datangnya musim semi. Langit kian kelam, malam menjelang. Saya tiba di hostel sebelum gelap merayap.

Roots and Boots nama hostelnya. Saya naik ke dorm dan mendapati jendela yang menganga. Katedral ada di seberang. Ia tampak kecil dari lantai dua hostel. Gagah menjulang, meski ditopang besi-besi restorasi. Di Eropa, orang tergila-gila pada masa lalu. Maka, bangunan tua direstorasi dan nostalgia dipupuki.

Nostalgia. Itu juga yang membawa saya ke Galicia, di barat laut Spanyol. Tujuan awal saya ialah A Coruna, kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Atlantik. Saya hendak mencari jejak Deportivo La Coruna, klub sepak bola yang ketika saya kecil hingga memasuki masa remaja sedang bagus-bagusnya.

Namun, tak ada penginapan murah di kota itu. Maka saya melipir ke Santiago. Menginap di sana dan ke A Coruna pulang-pergi naik kereta. Kedua kota ditempuh dalam 30 menit. Tapi, meski saya ‘tersasar’ di Santiago, bukan berarti kota ini tak punya apa-apa. Banyak orang mengenalnya karena Camino de Santiago.

DSC_1491

Camino de Santiago ialah salah satu jalur ziarah paling terkenal di dunia. Setiap tahunnya, manusia dari berbagai belahan dunia pergi menuju Santiago de Compostela dengan berjalan kaki. Jalur paling umum disebut Camino Frances, the French way. Para peziarah memulai dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis. Beberapa jalur lain dimulai dari Basque (Spanyol utara), Andalusia (Spanyol selatan), Lisbon (Portugal), dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada aturan yang benar-benar kaku soal jalur. Ide utamanya adalah berjalan kaki menuju Santiago, biasanya melintasi kota-kota yang dianggap suci bagi umat Katolik. Meski begitu, sekarang ini banyak juga peziarah yang menggunakan sepeda untuk mencapai Santiago. Camino de Santiago terus berubah mengikuti jejak jaman. Ia bermula dari ziarah relijius umat Katolik menuju makam Santo Yakobus (Santiago, dalam bahasa Spanyol) dan kini berubah menjadi cara lain untuk traveling/berwisata.

Di hostel, saya sempat bertemu beberapa peziarah. Misalnya, dua anak muda Korea. Seperti banyak orang lain, mereka berangkat dari Saint-Jean-Pied-de-Port, melintasi berbagai kota di utara Spanyol, hingga akhirnya tiba di Santiago. Lebih dari satu bulan waktu yang mereka lalui untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka berhenti dan menginap di hostel-hostel peziarah. Harga per malam untuk peziarah lebih murah dibanding untuk turis lain. Selain itu, peziarah Camino memiliki semacam paspor yang diberi stempel setiap mereka melalui atau singgah di kota-kota penting.

Ada juga seorang pemuda yang terbang jauh dari Meksiko untuk menjalani Camino de Santiago. Ia datang sendirian, meski akhirnya sering bergabung bersama peziarah lain. Sama seperti dua orang Korea tadi, dia memulai dari Prancis. Sementara itu, saya bertemu seorang kakek yang memulai dari Basque dan seorang bapak yang berjalan kaki dari Italia. Peziarah bisa memulai dari mana-mana, tapi tujuan akhirnya satu: Santiago de Compostela.

Peziarah ada dimana-mana di Santiago. Bahkan, di tengah-tengah kota ada Museum Perziarahan (Museum of Pilgrimage). Ketika saya berjalan-jalan gontai di kota, tak sulit melihat orang-orang dengan tas punggung besar, sepatu gunung, dan tongkat. Terlebih di dekat Katedral. Para peziarah itu duduk-duduk di pelataran atau berdiri merenungi akhir perjalanan mereka. Betis-betis mereka tampak bengkak, hasil dari berjalan kaki ratusan kilometer. Mengapa mereka mau berjalan begitu jauhnya dalam Camino de Santiago?

Motifnya bisa macam-macam. Pada mulanya, ini soal kepercayaan iman Katolik untuk meningkatkan spiritualitas rohani. Lambat laun ia berubah jadi bentuk turisme yang populer. Dua anak muda Korea yang saya temui di hostel contohnya. Mereka terpengaruh melakukan Camino karena iklan tv. Kata mereka, iklan-iklan yang mempromosikan Camino de Santiago cukup marak di Korea Selatan. Mereka berdua hanya segelintir dari banyak orang Korea lain yang terpikat.

Ketika saya tanya apakah mereka melakukan Camino karena kaitan dengan iman Katolik, mereka menggeleng kepala. Bagi mereka pribadi, ini tak ada sangkut pautnya dengan agama. Mereka tertarik pada Camino de Santiago karena pengalaman berbeda yang ditawarkannya. Ini semacam jalan-jalan versi slow, pelan dan tak terburu-buru. Dengan itu pula keduanya mengapresiasi cara orang-orang Katolik jaman dulu dalam berziarah. Lagi pula, untuk apa tergesa-gesa?

(Januari 2019)

P.S.: Ditulis untuk Kawruh.

Siena

Bus antarkota yang saya tumpangi melaju kencang, melewati padang-padang Toscana yang manis. Bus stop La Colonna-Monteriggioni terlewat sudah, sedang saya lupa memencet bel tanda berhenti. Maka tubuh saya dibawa sampai ke halte Colle di Val d’Elsa, kira-kira 15 menit dari pemberhentian yang semestinya.

Tiket saya hangus. Cazzo. Dan saya harus membeli lagi di kios kecil dekat halte. Saya tak mau apes lagi. Hari sebelumnya, petugas bus menilang saya gara-gara saya lupa memvalidasi tiket yang sudah saya beli. Cazzo. Lebih dari 40 euro terkuras dari rekening bank. Karma mungkin benar eksis. Saya mengingat 9 hari di Torino tanpa membayar bus.

Jangan dicontoh. Secara umum, kota-kota Italia memberi kesempatan kita untuk ugal-ugalan. Klakson lebih sering terdengar daripada di Belanda. Makin ke selatan makin chaotic. Dan saya suka yang kacau-kacau. Membuat saya merindu Jakarta. Meski sedikit. Tapi lupakanlah soal tilang di Siena itu. Saya kapok tidak membayar bus.

Monteriggioni adalah semacam kota (atau mungkin desa) kecil di provinsi Siena. Saya tak tahu kenapa saya kesini. Malam sebelumnya, Raymundo mengajak saya keluar kota Siena dan berjalan-jalan ke kebun anggur di sana hingga ke San Gimignano yang konon adalah produsen wine terbaik di wilayah Toscana. Tapi saya ogah bangun pagi.

Maka, saya memulai pagi dengan rileks. Seperti biasa. Ketika saya bangun, cahaya matahari sudah merayap memasuki 2-bed dorm berbentuk tenda di campground Colleverde. Kira-kira macam glamping lah. Lengkap dengan kasur yang empuk, colokan listrik, wifi, lampu, dan sepasang meja-kursi di depan masing-masing tenda. Melenakan.

Nyamuk-nyamuk menghabisi sekujur tubuh. Saya sibuk menggaruk-garuk dan mengecek bagian mana yang memerah digigit nyamuk. Toscana di musim panas adalah padang bermain bagi nyamuk. Suhu yang hangat membuat mereka berkembang biak dengan rakus dan menjadi buas. Saya teringat malam penuh nyamuk di Firenze.

Lupakan nyamuk. Selesai mandi, saya naik bus ke kota. Saya mendapati petugas yang sama yang menilang saya kemarin. Cazzo. Kali ini saya punya tiket yang valid. Saya tersenyum pahit ketika dia memeriksa tiket saya. Di kota, turis-turis berjejalan. Mereka/kami membentuk simfoni yang ribut, gerak-gerik yang simbolik, dan foto-foto yang klise. Di depan Piazza del Campo, saya hanya termenung tanpa alasan.

Mungkin saya bosan. Maka saya teringat ajakan Raymundo. Kenapa tidak keluar kota? Saya ingin kabur dari gerombolan turis rupa warna ini. Maka, saya turun ke loket bus yang terletak di bawah tanah dekat terminal bus di tengah-tengah kota, dekat pula dengan Stadio Artemio Franchi. Saya membeli tiket pulang pergi ke Monteriggioni.

Di sana, satu-satunya yang saya lakukan pada dasarnya adalah berjalan kaki. Wilayah Toscana, termasuk Siena, memiliki banyak jalur camino. Awalnya, saya hendak menuju kastil yang entah apa namanya. Tapi saya malah tersesat di salah satu jalur camino yang mengasyikkan. Super sepi. Saya cuma sempat bertemu satu orang sepanjang jalan-jalan kaki santai di sana, kurang lebih tiga jam.

Tersesat mungkin cara terbaik untuk menikmati perjalanan. Lanskap yang luas, kadang ditambah pernik bunga warna-warni di beberapa sisinya. Kontur yang naik turun. Dan, yang utama, tak ada manusia. Siena, dengan turis-turisnya yang berjubel di pusat kota, terasa begitu jauh. Saya berjalan sendiri tanpa arah tanpa tujuan hingga ke kedalaman hutan, hingga saya mulai ketakutan dan memutuskan untuk kembali.

Di bus stop La Colonna-Monteriggioni, saya bertemu lagi dengan pria yang sempat saya temui di jalur camino tadi. Ia hendak menuju San Gimignano rupanya. Jalur kami bertolak belakang. Saya kembali ke Siena, dan bergegas secepatnya menuju campground untuk menonton laga perempatfinal Piala Dunia, Prancis vs Belgia. Oh pub akan segera penuh, pikir saya dalam hati.

Singkat cerita Prancis menang malam itu. Orang-orang Prancis yang singgah di campground itu berpesta pora. Orang-orang Belgia pulang ke caravan masing-masing dengan muka tertekuk. Saya kembali ke tenda bersama Raymundo dengan biasa-biasa saja. Kami cuma kelelahan dihantam siang yang terik, baik di San Gimignano maupun Monteriggioni.

Lalu, perlahan malam justru memanjang bagi saya. Ketika saya hendak tidur pulas, dan baru selesai menggosok gigi, Laurenz memanggil nama saya. “Sarani?” tanyanya ragu. Karena gelap saya mendekat dan mendapati dirinya sedang duduk memasak pasta, tepat di belakang tenda saya. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di sebuah hostel di Bologna.

Jadi, demikianlah. Saya duduk dan mengobrol dengan anak Jerman itu hingga berjam-jam lamanya. Kami menghabiskan anggur putih yang ia bawa entah dari mana. Ia bercerita tentang perjalanannya di Ancona dan Roma. Ia begitu menyukai wilayah Marche, di pantai timur sana. Dan Roma begitu penuh oleh manusia. “But still beautiful,” tukasnya.

Bla bla bla bertukar. Saya menguap beberapa kali. Botol wine sudah kosong. Dan akhirnya good bye diutarakan. Dia akan ke utara, sedang saya akan ke selatan. Kami berpisah di depan tenda dan saya menikmati tidur yang pulas malam itu. Akumulasi dari mini camino, matahari musim panas, dan sebotol wine putih yang ditenggak dua orang.