Isar

​In Isar. A tiny curly-haired girl is drawing in front of me in her tiny drawing book. She brought a set of animal dools. They are tiny like her. They are cute like her. She suddenly reminds me of my sister. The curly-haired girls always fascinate me, either little or bigger girls.

Near the banks, a woman puts on her bra. Before, she was naked on top. She has​​ nice solid breasts. Now she is lying on the water, looking at nowhere but the streams of water. The weather is lovely. Summer is almost over, so we must grasp it while it lasts.

Next to me, on the left, an old man has been reading a newspaper for almost an hour. He is sitting in portable chair. He seems swallowing every words in paper very carefully. Perhaps he reads about the place he has never been to. Or maybe about the city he was grown up in.

And here I am. Sitting in Isar, pondering about random stuffs. On overtouristic places. On traffic jam in Jakarta. I am thinking how modernity may have created us crowd-phobia. That we always expect our neighbors, either fellow car drivers or tourists, are not exist.

(Munchen, 19-08-2018)

Advertisements

Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.

Suatu Pagi di Semolon

Tubuh seperti dihujam batu. Nyeri dimana-mana. Untungnya, matahari bersinar dengan cerah dan suara monyet yang sedang melompat-lompat di antara pepohonan terdengar. Di tengah hutan ini, dengan alas lantai kayu di sebuah pondok dekat air terjun Semolon, aku rebah semalam. Aku melewati malam dengan berperang melawan nyamuk dan angin yang dingin di sekeliling. Kedinginan itu membuatku memeluk diri erat-erat, menyilangkan kedua tangan hingga menyentuh punggung demi mengusir rasa dingin. Bersama dua orang teman, kami tidur rapat-rapat dengan alasan yang sama.

Semalaman aku mungkin terbangun puluhan kali saking tidak nyenyaknya. Ketika cahaya muncul sedikit, resahku hilang meski badanku payah akibat tidur yang seadanya. Matahari selalu menghadirkan sesuatu yang menenangkan. Seterik apa pun, paling-paling dia hanya membikin gerah dan keringat mengucur, tapi tak pernah menimbulkan resah. Apalagi di pagi di tengah Taman Nasional Kayan Mentarang itu.

Ketika mataku mengintip ke depan dan melihat cahaya mentari pertama, aku mengucap doa yang spontan. Semacam doa tanpa kata-kata yang mengalir dengan murni tanpa hiasan. Biasanya doa-doa semacam itu timbul dalam situasi seperti ini, saat merasa begitu lega atas malam yang menyusahkan. Atau di saat yang lain ketika menyerah pada sesuatu dan menjadi pasrah, sehingga kata-kata semrawut dan yang meluncur hanyalah doa yang bisu.

Aku tak langsung berdiri dan terbangun. Masih dalam posisi rebah dan mata memejam, tapi tidak tertidur. Aku suka momen setelah bangun tidur. Saat pikiranku kosong dan setengah sadar. Seperti berdiri di antara yang nyata dan tidak. Tapi itu saat yang menyenangkan karena setelah itu pikiranku menyala dan mulai terbayang apa saja. Kemudian kepala menjadi sesak oleh macam-macam bayangan, pikiran, dan gumam yang berputar seperti film. Keindahan pagi menjadi buyar.

Setelah lima belas menit dalam kondisi rebah dan pejam mata, aku memutuskan diri untuk bergerak. Mula-mula aku duduk bersila, sebuah kebiasaan yang kulakukan sejak masih kecil. Lalu aku berdoa dengan kata-kata yang sudah semacam mantra dan hafalan. Ini tipe doa yang berbeda dari doa ketika aku melihat cahaya matahari pertama sebelumnya. Doa macam ini adalah buatan, tidak murni. Hanya pengulangan bertahun-tahun sehingga menjadi sesuatu yang otomatis. Tidak ada makna lagi di dalamnya.

Doaku tak lama, tak sampai satu menit. Bahkan sebelum kata ‘amin’, mataku sudah membuka dengan malas. Aku mulai menguap. Asap! Asap keluar dari mulutku. Ini mengingatkanku saat masih kecil diajak jalan-jalan ke Puncak oleh ayah ibu. Aku begitu senang melihat asap keluar dari mulutku. Biasanya aku mulai berlagak seperti seorang perokok ulung, menirukan gerak-gerak ayahku ketika menghisap cerutunya. Asap dari mulutku membuatku senang, sebentuk kesenangan yang sederhana dan arkaik. Aku mendadak siap menyongsong hari.

Aku melihat ke sekeliling, dua temanku belum terbangun. Namun, tidur mereka juga bukan tidur yang lelap. Keduanya bergerak-gerak mencari posisi tidur yang pas. Terlebih setelah aku terbangun, pasti mereka rasa ada sesuatu yang berbeda. Seluruh badan mereka tertutup sarung, sehingga gerak-gerik keduanya seperti sepasang ulat daun.

Sebenarnya, kami tidak hanya bertiga. Di suatu sudut yang lain dari pondok itu, tiga orang lain juga masih terlelap. Ketiganya adalah orang asli Dayak. Dua orang kakak-beradik berumur sekitar 25 tahun. Pasangan saudara itu berbadan kekar dan berambut panjang lurus sebahu, mengingatkan pada Apache. Di samping badan salah satu pemuda Dayak itu terdapat senapan yang mereka gunakan untuk berburu. Mereka terbiasa memakan daging apa saja, seperti yang diakui oleh salah seorang. Tapi meraka datang ke kawasan air terjun Semolon ini bukan untuk plesir, mereka bertugas memunguti kayu-kayu yang tumbang dari pohon yang sekiranya menghambat aliran sungai dan air terjun.

Mereka datang bersama seorang keponakan berumur kira-kira 7 tahun. Anak kecil ini berkulit lebih putih dari dua pamannya. Dia dalam masa liburan sekolah sehingga berkesempatan mengikuti dua pamannya ke tengah hutan. Indah rasanya melihat anak kecil di tengah hutan seperti ini. Aku tak bisa menjelaskan kenapa, namun perasaan itu nyata meski tanpa alasan. Anak kecil itu cukup pendiam. Dia tidak banyak bicara dan hanya berkata-kata jika sedang ditanya.

Dengan memeluk kedua lututku, aku memandangi ketiga orang asing itu. Aku ingat kemarin siang kami bertemu di pondok ini. Kami baru tiba dari sebuah desa bernama Paking, melewati perjalanan empat jam melewati hutan dan sungai yang sedang kering. Kami sempat singgah sebentar di sebuah kampung yang lebih kecil dan terpencil dengan kehidupan yang begitu apa adanya. Dari kampung itu kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Semolon.

Kami bertemu tiga orang Dayak itu saat mereka sedang memasak makan siang. Mereka memasak nasi dan menggoreng ikan sungai di atas tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Sejak awal mereka menunjukkan keterbukaan dan kebaikan. Mereka dengan sukarela membagi jatah makannya dengan kami. Adalah sebuah kemegahan ketika kita datang ke tempat asing dan bertemu orang-orang yang menerima kita seperti saudara. Kami makan bergantian karena piring dan sendok yang terbatas. Selama proses itu kami berbicara ini dan itu.

Salah seorang temanku bercerita bahwa kami dari Pulau Jawa dan hendak bertualang menengok bagian-bagian Indonesia yang lain. Kami sudah dua malam tinggal di Desa Paking dan berencana pergi ke Desa Long Berang besok. Konon, Long Berang cukup sulit dijangkau dan harus melalui sungai dengan jeram-jeram yang jahat, begitulah orang di sana menyebut jeram sungai yang membahayakan. Dua orang mirip Apache itu menceritakan pengalaman mereka ketika pergi kesana. Mereka bercerita panjang lebar hingga akhirnya nasi dan lauk tandas. Sebagai ucapan terima kasih, aku dan dua temanku mencuci piring dan sendok yang kami pakai makan.

Bayanganku buyar. Seorang temanku terbangun dan langsung berduduk sila sambil mengusap matanya yang sembab. Tak ada ucapan selamat pagi atau senyum, kami bukan tipe teman yang suka bermanis-manis. Kami relatif cuek satu sama lain. Tapi kami cocok dalam melakukan hal-hal yang orang lain tak suka lakukan, semacam pergi ke tengah hutan Kalimantan saat teman-teman lain sedang sibuk di kubikel masing-masing.

Dia hanya duduk sebentar lalu berdiri ke arah ranselnya. Ia mengambil minum dan menegak beberapa kali. Aku memberi kode bahwa aku juga ingin minum. Dia menutup botol dan melemparkan ke arahku. Tangkapanku sempurna. Aku minum sedikit. Tadinya aku berniat melempar balik, tapi temanku itu sudah keluar pondok dan melihat ke arah air terjun sambil meregangkan badannya. Untuk menjelaskan, pondok itu bukan pondok dengan dinding-dinding terutup, tapi terbuka. Itulah mengapa udara semalam begitu dingin menyengat.

Aku meletakkan botol air minum itu sekenanya di atas lantai sebelum berdiri dan berjalan menyusul temanku. Angin pagi menyapu mukaku sementara suara monyet bergelantungan dari pohon ke pohon masih bergema. Ini keindahan yang tak bisa kujumpai setiap harinya. Aku mesti menikmati pagi ini sepuas-puasnya, kataku dalam hati, karena pagi seperti ini tidak akan berulang. Aku mengamati aliran sungai dan juga air terjun di atasnya. Daun-daun dan ranting-ranting gugur mengambang dan sesekali terbawa arus yang tak deras.

Seketika temanku melirik ke arahku. Mulutnya bungkam, tapi mata dan gerakan kepalanya menunjuk ke air terjun. Tanpa menunggu reaksiku dia berjalan ke arah yang ditunjukkannya. Untuk menuju air terjun kami harus melewati jembatan, tapi sebenarnya kami bisa juga menyeberangi aliran sungai kecil itu dan mendaki sedikit. Temanku memakai jalur jembatan, aku mengikutinya dari belakang sambil melipat tangan ke belakang untuk melepaskan kekakuan tubuh.

Temanku langsung membuka baju dan celananya. Kini ia hanya bercelana dalam. Ia meletakkan pakaiannya itu di atas bebatuan yang kering dan sekiranya tak akan terkena aliran air atau cipratan. Perlahan ia masuk ke dalam kolam air terjun. Kata-kata pertamanya hari itu keluar. “Dingin!” ucapnya sambil memeragakan bahasa tubuh dan raut muka orang yang kedinginan. Ia tak lantas keluar, justru semakin masuk ke dalam dan mulai mencelupkan kepalanya ke air. “Segar,” teriaknya. Itulah kata keduanya hari itu.

Melihat wajah temanku yang begitu semringah, aku langsung melepas pakaian. Tanpa basa-basi kulemparkan kaus dan celana jins pendekku ke tempat yang aman. Tanpa aba-aba aku melompat ke dalam air dan byur. Air menciprat kemana-mana dan membasahi pakaian kami berdua. Monyet-monyet semakin berisik di atas sana, di pucuk pohon-pohon yang mungkin setinggi gedung 8 lantai. Saat kepalaku muncul di permukaan, temanku menghentakku sebelum akhirnya tertawa. “Brengsek,” umpatnya sambil tersenyum, menimbulkan semacam ironi.

Pagi itu adalah kemewahan yang tak mungkin kami dapatkan di hotel bintang berapa pun. Tidur beralas lantai kayu di sebuah pondok terbuka di tengah hutan, bangun dengan suara monyet-monyet menyambut pagi, dan berenang di air terjun dengan cuaca segar khas alam yang belum cemar. “Ini adalah surga,” temanku mulai bermetafora. Mungkin itu sebuah metafora yang klise, tapi aku tak bisa tidak setuju dengannya. “Aku percaya pada surga. Dan aku yakin surga seindah ini. Carpe diem!” teriakannya memecah pagi yang tentram itu. Kami berdua tertawa riang.

Dari kejauhan kami melihat teman kami yang satu akhirnya bangun. Dia berdiri dan menggeleng-geleng kepalanya. Dengan langkah malas ia keluar dari pondok dan menggeleng sekali lagi. Suaranya tak terdengar, tapi dari membaca mulutnya aku bisa tahu dia mengucapkan kata ‘gila’. Kami berdua hanya tersenyum dan tak berniat membalas. Dia lalu berjalan ke arah kami melewati sungai kecil di bawah dan mendaki ke air terjun. Mukanya khas orang yang baru bangun tidur. Tapi temanku itu juga tak suka berbasa-basi. Tanpa melepas pakaian dia terjun ke air terjun. Byur!

(11 Agustus 2014)

Ode for tourism

Saya berjalan di Assisi, seperti mayat hidup yang melintasi lanskap Umbria, gereja-gereja tua, toko-toko cinderamata, restoran, pizzeria, cafetaria, dan tanda-tanda yang memuaskan pengalaman yang saya/kita cari sejak dulu di rumah. Turisme, saya rasa, telah menjadi terlampau banal hari-hari ini.

Saya bagian dari ‘golden hordes’ yang mengerikan itu. Gerombolan manusia yang mencari omong kosong di kota yang asing. Saya berjalan di (dan menuju ke) Assisi seperti mayat tanpa nyawa, dituntun Lonely Planet atau panduan wisata atau rekomendasi tourist center. Setelahnya adalah repetisi.

Kita hidup di ketegangan antara mixophobia dan mixopholia, Bauman seperti berbisik di telinga. Suaranya seperti datang dari tempat yang jauh, tapi terasa dekat. Oh Zygmunt yang malang, kenapa kau mati terlalu lekas? Turisme ada di sentral ketegangan itu. Kita mencari yang liyan lewat paket-paket wisata, tapi takut setengah mati oleh pengungsi yang kulit dan agamanya tak sama. Kita ini bajingan atau apa sih?

Di Perugia, pada suatu siang yang sendu, di tengah bangunan-bangunan abad pertengahan yang memusingkan, di antara alunan jazz yang sedih, saya dipukul telak oleh pikiran sendiri: dia yang tinggal di kotanya hari-hari ini, yang tak pergi kemana pun, sebenarnya sedang menawarkan revolusi.

Kita dibuai imaji heroik tentang petualang-petualang Iberia jaman dulu, atau orang-orang kulit putih yang melintasi gurun-gurun sepi di Afrika Utara dan hutan-hutan liar di Kalimantan. Tapi tidak hari ini kawan. Yang heroik adalah ia yang duduk santai di teras rumahnya; ia yang tak bernafsu untuk keluar melihat dunia; ia yang tak dijejal gairah melihat yang liyan; ia yang tak berkelana kemana-mana.

Hari ini, di masa dimana kita mengenal istilah overtourism, yang menandai era paska-kapitalisme, dimana kemakmuran dan keserakahan tersebar seperti daun-daun musim gugur, memutuskan tak kemana-mana adalah revolusi. Hari ini, saya cuma ingin minum kopi di teras rumah dan membaca Pramoedya.

Kind People

Orang baik ada dimana-mana, tulis seorang teman. Benar juga. Tapi mungkin tak sepenuhnya. Di banyak tempat, orang-orang lebih suka menebar ancaman, kebencian, dan ketakutan. Di Mentawai, semua itu tak ada. Saya selalu berpikir, selama disini, bahwa orang Mentawai adalah orang-orang paling baik yang pernah saya temui. Apapun definisi ‘baik’ itu, atau apakah baik-jahat hanya sekadar penjara konseptual, tak akan mereduksi persepsi saya tentang orang-orang Mentawai.

Tentu saja, saya tak akan luput membawa-bawa stereotip. Namun, saya tak peduli. Buat saya, stereotip bukan sesuatu yang negatif. Orang-orang telah lama menempelkan konotasi negatif pada kata ‘stereotip’. Yang berbahaya sebenarnya adalah generalisasi, bukan stereotyping.

Orang-orang Jawa, misalnya, dikenal sebagai orang dengan tutur kata yang halus. Tapi itu tak bersinonim dengan ‘baik’. Keris di punggung adalah simbolisasi untuk itu. Orang-orang Jawa, saya pikir, lebih suka berbicara di belakang, di balik kata-kata halus yang mereka utarakan. Di Toraja, kita bicara dengan lebih terus terang. Tapi, kadang-kadang kebiasaan itu malah jadi kebablasan. Perkelahian, entah mulut atau fisik, sudah jadi hal yang normal. Kita tak perlu mempersoalkannya.

Jelas sekali bahwa saya main aman dengan mengambil contoh Jawa dan Toraja. Keduanya mengalir dalam darah saya. Jadi, setidaknya saya tahu bahwa saya hidup dalam kontradiksi-kontradiksi itu. Baik-jahat selalu jadi persoalan yang relatif. Kita akan mendebatnya selamanya.

Dulu, bapak saya selalu bilang bahwa saya harus jadi orang baik. Itu yang utama. Pintar dan hal-hal lain adalah persoalan ke sekian. Baik adalah kunci. Tapi, menjadi baik bukan hal yang mudah. Saya pikir saya selalu gagal untuk menjadi baik, bahkan untuk sekadar menjadi tidak jahat. Di Siberut, saya mengingat nasihat bapak lagi, dengan contoh yang di depan mata. Orang-orang Mentawai, buat saya secara personal, adalah representasi paling paripurna untuk ‘orang baik’. Sejauh ini.

Sekarang saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa yang saya maksud ‘baik’ dan ‘orang baik’. Tapi saya pikir itu tak perlu. Usaha semacam itu akan menjadi kesia-siaan. Baik-jahat, sekali lagi, adalah personal dan relatif. Saya bisa menyebut ajektif ‘tulus’, ‘tidak pemarah’, ‘tidak pendendam’, ‘santai’, ‘tidak suka bikin masalah’, ‘tidak mencuri’, ‘tidak mengancam’, dan lain-lain untuk menjelaskan maksud saya. Tapi rasanya tidak perlu. Ini urusan yang lebih personal dari agama.

Sekarang, cita-cita saya cuma ingin jadi orang baik. Apa pun maksudnya.

(Muntei, 2 Januari 2018)

Sofia

Semuanya selalu berupa ingatan-ingatan. Ia berasal dari masa lampau yang tak pernah dicatat. Ia mengerak menjadi partikel-partikel di dalam kepala. Lalu, pada suatu masa yang tak pernah direncanakan, ia akan menguar ke udara. Seperti hari ini. Saat saya berdiri di bibir pantai, di Mappadegat, Sofia mendekat dan menjelma melankolia dari musim panas.

Persisnya adalah hari penuh pertama. Setelah Mestre, Venezia, dan Redentore yang memabukkan. Hari itu begitu jauh. Tapi saya mengingatnya dengan detil-detil yang melenakan. Pada sebuah siang, di jalan-jalan kota. Setelah katedral Levski yang megah, setelah orang Afrika itu mengobrol sekenanya: tentang Amsterdam dan dosa-dosa masa muda.

Saya menuju galeri nasional: mencari-cari celah untuk mengisi hari, mencari kesenian untuk mengisi apa-apa yang kosong di dalam paru-paru. Adalah foto-foto tentang mulut yang terbuka. Sebuah epik. Saya selalu bingung bagaimana cara kerja seniman-seniman itu. Ide, mungkin saja, meletus di kepala mereka tanpa aba-aba. Setelahnya adalah maestro.

Jalan-jalan Sofia tampak terang. Taman kota menjadi tempat berteduh, dari matahari yang menyengat, di sebuah musim panas 30-an derajat di Balkan. Free walking tour di pagi hari telah menyandera tubuh ke dalam keringat-keringat. Shakira berpose di depan tulisan Sofia, di dekat gedung besar yang terlupakan. Di sini, orang begitu mudah melupakan sejarah.

Komunisme telah berakhir. Orang-orang sedang beranjak ‘Eropa Barat’. Ia telah jadi semacam ajektif, sebuah mantra development. Atas nama taraf hidup, atas nama uang di saku celana, anak-anak Bulgaria belajar melupakan kiri. Demi janji manis bernama Uni-Eropa. Mereka ingin setara. Mereka ingin lepas dari label itu: negara paling miskin di Uni Eropa.

Saya menyantap coklat dan cappuccino, di sebuah kedai antik dekat Vitosha. Shakira mulai bercerita tentang banyak hal: London, Australia, Spanyol, Balkan. Sehabis ini adalah Georgia, katanya. Di ujung malam, kita berpelukan di antara jendela. Gelas-gelas alkohol telah tandas bersama anak-anak dari Mexico City: tiga orang guru dan satu pengarang.

Hari pertama di Sofia telah berakhir begitu saja. Bulgaria telah membuka dirinya untuk saya. Tiga minggu yang menyenangkan akan berlalu. Begitu lekas, begitu membekas. Bulgaria is one of the best things that ever happened to me. Hari ini, di sebuah teras di Mappadegat, saya merindukannya dengan menggebu-gebu. Dengan keinginan untuk kembali.

(Mappadegat, 28 November 2017)

Sibiu

Saya teringat Sibiu, pada sebuah malam yang terang di musim panas. Bukares memberi saya nyeri di perut, entah karena Tuborg atau croissant yang aneh. Maka, saya melewati jam-jam yang melelahkan di central station. Di ruang tunggu, saya nyaris menghabiskan seperempat The Wild Truth. Gadis-gadis Romania berpantat seksi memasuki ruangan, mengganggu kalimat-kalimat yang saya baca. Lalu jam kian dekat ke jadwal kereta.

Bukares-Sibiu, saya nyaris selalu sendiri di kompartemen. Jadi saya bisa tidur telentang. Saat terduduk, bukit-bukit hijau mengisi mata saya. Lalu sawah-sawah yang panjang dan lebar. Di Brasov, sepasang ibu-anak masuk ke kompartemen saya. Kami mengobrol seadanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Lalu mereka meninggalkan saya: pertama lewat obrolan berbahasa Romania, kedua secara literal keluar kereta.

Tiba di Sibiu, saya berjalan ke hostel masih dengan perut yang nyeri. Lalu saya keluar mencari makan di restoran Italia yang agak fancy. Saya ingin nasi. Maka, risotto adalah solusi. Restoran Cina ada entah dimana, jauh dari pusat kota. Tapi, nasi tak cukup mengusir nyeri. Tidur, pada akhirnya, adalah jawaban. Saya tidur begitu pulas di malam pertama di Sibiu. Namun, saya masih bangun dengan sedikit nyeri di perut. Tinggal sedikit lagi, pikir saya.

Saya mencari sarapan di carrefour: pisang dan yogurt, atas nama kesehatan. Seorang gadis Romania menemani saya sarapan, kita mengobrol dengan bahasa Inggris yang tak terlalu patah-patah. Ia berasal dari sebuah desa di selatan, di perbatasan dengan Bulgaria. Ia cerita, dulu ia sering dadah-dadah dengan orang-orang Bulgaria di seberang sungai. Di Eropa, sungai menyambungkan kota-kota, tapi juga menjadi garis pembatas.

Siang begitu terik di Sibiu. Perempuan-perempuan Romania begitu menggoda di musim panas. Rambut yang hitam dan baju seadanya. Lalu saya mengunjungi Jorge dan Thais di hostel sebelah. Bir urung bersahabat, jadi saya memesan jus jeruk. Ada seorang Kolombia yang diadopsi pasangan Norwegia sejak kecil. Ia tak berbahasa Spanyol. Wajahnya begitu Latino, tapi Nordic adalah budaya yang mengalir di darahnya. Ia adalah semacam hybrid.

Jorge dan Thais menukar uang untuk Dinar Serbia. Mereka akan menuju Beograd malam nanti. Dengan kereta menuju Timisoara, lalu ke perbatasan, lalu menyambung dengan entah apa hingga sampai ke tengah-tengah Serbia. Kami berpisah dengan pelukan. See you again. Saya akan menemui mereka di Beograd. Mereka telah memesan AirBnb selama sebulan. Setelah berpindah-pindah hostel, mereka kelelahan. Beograd akan menjadi semacam tetirah.

Dengan perut yang nyeri, tak banyak yang saya lakukan di sisa hari. Makan malam seadanya dan tidur yang cepat. Gadis Inggris itu tiba di sore hari. Dia akan tidur di kasur tepat di atas saya. Di malam hari, dia begitu gelisah karena dengkuran pria di kasur sebelah. Saya bangun begitu dini, kira-kira pukul enam. Taksi membawa saya ke terminal kecil di dekat stadion kecil. Flixbus itu tiba juga. Sebelas jam akan berlalu sebelum Budapest muncul di jendela.

Malmo-Siberut

Tahun baru. Orang-orang pergi ke gereja di Minggu pagi, di hari terakhir 2017. Ibu-ibu dengan kebaya, anak-anak dengan kemeja yang keren, dan bapak-bapak yang tampil necis. Semua ingin bergaya di gereja. Terlebih di ujung tahun. Saya berjalan sepanjang Muntei-Muara dengan pemandangan itu semua: mereka yang berbondong-bondong pergi beribadah. Saya tak merasakan dorongan untuk masuk ke kebaktian. Gereja, sepertinya, tak lagi menarik buat saya.

Saya justru mengingat Malmo. Tahun lalu, di pagi terakhir 2016, saya bangun begitu dini di sebuah hostel di Kopenhagen. Saya hendak menuju Malmo. Tentu saja dengan Flixbus. Sekitar sejam, saya tiba di Malmo. Saat itu, saya merasa Kopenhagen terlalu megah, terlalu wah, terlebih di tahun baru. Orang-orang dari berbagai sudut pergi kesana untuk melepas tahun. Maka, saya mendamba yang lebih sepi, yang lebih ugahari. Malmo menjadi pilihan yang logis.

Benar saja. Malmo di akhir tahun 2016 tampak begitu sepi. Ketika saya turun bus dan berjalan menuju hostel, saya melewati pusat-pusat kota yang kesepian. Tak banyak aktivitas manusia. Toko-toko telah tutup. Saya mengingat seseorang bersepeda dengan gegas. Itu saja. Sisanya satu-dua manusia yang berjalan-jalan santai, atau sekadar mengajak jalan anjingnya. Saya mengingat Malmo dengan kesenduan yang indah, dengan kesedihan yang filosofis.

Di Malmo, perayaan tutup tahun dilakukan dengan epik. Opera dipentaskan di pusat kesenian. Tak ada pesta-pesta elektronik. Saya begitu terkesima dengan pilihan ini. Seriosa menggema di udara. Lalu bariton yang menghangatkan udara. Dingin mengisi malam. Kaleng-kaleng bir ditenggak, botol-botol wine dibuka. Orang-orang siap merayakan tahun baru. Perlahan angka dihitung mundur, lalu kembang api aneka warna muncrat di langit. 2017 membuka dirinya.

Hari ini, hari pertama di 2018, saya bangun dengan malas pada pukul 9 pagi. Hujan turun di Siberut. Orang-orang pergi ke gereja dengan malas. Saya duduk-duduk di teras, membaca Camus dan mengabaikan suara-suara dari kebaktian. Lalu saya melewati Muntei-Puro dengan motor, membelah ladang-ladang penduduk. Di teras-teras rumah, teh dan kue sapi dihidangkan. Lalu obrolan-obrolan sekenanya. Orang-orang tampak biasa saja di tahun baru.

Persis seperti Malmo. Di hari pertama 2017, setahun yang lalu, saya bersepeda melintasi jalan-jalan Malmo: menuju Rosengard, memesan McDonalds di dekat stasiun Triangle, dan mendaki ke kastil kecil di dekat danau. Udara begitu membekukan di musim dingin ala Swedia. Tapi matahari bersinar begitu terik. Jadi, orang-orang semringah untuk keluar rumah. Entah pergi ke pameran lukisan di Konsthall, atau bertamasya ke kincir angin di dekat centrum.

Saat ini, di ujung malam, Malmo dan Siberut berbaur di dalam kepala, membentuk rentetan peristiwa yang tak bersinggungan. Semuanya adalah kepingan. Tapi ada benang merah di antara keduanya. Kita boleh tak merayakan tahun baru, tapi kalender adalah kenyataan yang sukar dielak. Tahun depan, entah di sudut bumi yang mana, saya akan mengingat lagi saat saya tersesat di Malmo atau saat saya melintasi jalan Puro-Muntei yang baru setengah jadi.

(Muntei, 1 Januari 2018)

Lelaki Tua dan Ombak

Seorang lelaki tua memandang ombak. Tak ada senyum di wajahnya. Mukanya datar. Tak ada rokok di sela-sela jarinya. Tak ada baju menggantung di tubuhnya. Hanya celana pendek lecek yang kecoklatan. Matanya mengandung tahun-tahun panjang yang berlalu. Saat anda melihat ke kedalaman dua matanya, anda melihat lautan. Lelaki tua itu menanam ombak di dalam dirinya. Ia berkawan dengan ombak, tanpa harus berdiri di atasnya.

Adalah kelapa dan cengkeh. Juga jenis-jenis tanaman tropis lain yang mengisi hari-harinya. Sedari muda, si lelaki tua mengarungi laut, memutari ombak, dan mendarat di bibir pantai. Lalu ia bekerja sepanjang siang, demi batang-batang kelapa yang tinggi, demi biji-biji cengkeh yang akan dibawa ke kios-kios tengkulak di Muara.

Ia tak banyak bicara. Orang-orang dengan papan selancar selalu melintasi rumahnya. Dan mereka akan melihatnya di teras rumah kayunya yang mungil. Bertelanjang dada. Hanya duduk-duduk memandangi ombak yang memecah, menggulung ke tepian. Tahun-tahun telah berlalu sejak ia pertama kali pergi ke pulau, sebagai anak kecil yang dibawa ayahnya untuk belajar menanam kelapa dan cengkeh. Pulau ini miliknya. Orang-orang lain menumpang. Tapi ia bukan tuan tanah ala Jakarta. Ia hanya suka melihat ombak saat malam menjelang.

Suatu hari, saya ke ujung tanjung untuk menikmati matahari terbenam. Seorang peselancar berambut pirang duduk. Bintang di sebelahnya. Ia melihat lurus ke arah entah langit, entah ombak, entah apapun itu. Si lelaki tua duduk di dekatnya. Mereka tak bertukar kata. Keduanya khidmat menelan suara ombak. Karang-karang itu memecah gelombang, membentuk semacam parade laut-ombak-buih. Ia seperti tarian. Biru, putih, lazuardi, coklat, oranye: semuanya berpilin menjadi semacam lukisan yang senantiasa membentuk ulang dirinya sendiri.

Kita bertiga berbagi kesunyian. Hanya bunyi ombak. Pada titik itu, kata-kata tak diperlukan. Kalimat hanyalah kesia-siaan, akal-akalan untuk merangkum makna jadi simbol. Lelaki tua itu tahu betul tentang kebijaksanaan tanpa kata-kata. Ia tak banyak bicara. Matanya mencerminkan kesedihan laut, menekuk ke bawah, nyaris membentuk melankolia. Tapi ia tak bersedih. Ia hanya terduduk, memandang ombak menggulung. Tak lebih. Ia adalah ombak itu sendiri. Di tiup angin, membentur karang, dan menggulung sekenanya.

Hingga suatu nanti, semuanya berakhir. Dan lautan menjadi tenang.

(Mappadegat, 18 November 2017)