Ska-P & Blablacar

Musim mulai mendingin. Saya berangkat dari Wageningen menuju stasiun Ede-Wageningen, seperti biasa dengan bus 88. Dari situ, saya menumpang kereta Valleilijn ke arah Amersfoort, lalu turun di Barneveld Noord. Dari semua stasiun yang pernah saya alami di Belanda, Barneveld Noord mungkin salah satu yang paling berkesan. Secara arsitektural, ia unik. Secara lokasi, ia berada entah-dimana. Secara mood, ia sunyi. Tak pernah ada kerumunan ketika saya singgah di sana. Entah itu siang, pagi, atau malam hari.

Saya hendak menuju Stade. Dan, seperti biasa, saya mengandalkan Blablacar. Saya mendapat tumpangan. Kami janjian bertemu di dekat Barneveld Noord. Saat itu, kawasan sekitar stasiun sedang banyak perbaikan jalan, sehingga saya mesti berjalan kaki lebih jauh dari biasanya, untuk mencapai titik temu di dekat pom bensin. Saya ingat siang itu langit sedang gloomy. Sedang beban di punggung saya agak berat. Dan itu mungkin perjalanan terakhir saya dari Wageningen menuju Stade.

Til menyilakan saya masuk ke mobilnya. Kami berkenalan. Dia asal Jerman dan baru mengunjungi temannya di Amsterdam. Temannya blasteran Belanda-Maluku. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita. Obrolan menjadi agak sedikit lebih mudah karena dia pernah kuliah di Bangkok, untuk belajar HAM, dan meneliti di Filipina tentang kasus-kasus HAM era Duterte. Jadi, lanskap Asia Tenggara cukup familiar baginya. Dan ia tahu sedikit soal Soekarno, Soeharto, dan kasus-kasus HAM di Indonesia. Obrolan menjadi agak serius, tapi tetap santai. Lalu kami lelah mengobrol dan diam sejenak.

Pada hening Blablacar, saat dua orang asing berada dalam kedap interior mobil, terlebih di musim yang tak hangat, radio kerap menjadi segara. Ia meminta tolong saya mencari kumpulan CD musiknya di laci mobil, dan mempersilakan saya memilah-milih. Saya melihat-lihat dan tak menemukan musik yang saya inginkan. Ia bertanya musik seperti apa yang saya dengarkan, lalu menyarankan Ska-P.

Hingga hari ini, lebih dari setahun setelahnya, saya masih sering mendengarkan Ska-P. Setiap mendengarnya, saya membayangkan autobahn yang kami lewati kala itu, saat langit mendung dan ska menghentak. Ia bisa berbahasa Spanyol dan menceritakan bahwa Ska-P adalah band yang lumayan kiri, cenderung anarko, dan pro-Catalunya. Dari situ kami membahas hal-hal yang agak serius lain: ideologi, separatisme, anarkisme. Ska-P menjadi latar obrolan.

Perlahan kami memasuki wilayah HH, Hansestadt Hamburg. Saya turun di Heimfeld untuk mencari S-Bahn menuju Stade. Kami berpisah di sana, di tikungan jalan dekat bahnhof, di tengah sore yang makin gloomy.

Advertisements

Migrasi: Teori dari Travel

Travel yang saya tumpangi mulai menjauhi wilayah Grobogan dan perlahan memasuki Sragen kabupaten. Jalan-jalan kecil memisahkan sawah-sawah di kanan-kiri. Rumah-rumah penduduk tersebar di sekitarnya, di titik-titik yang sedikit lebih rimbun, seperti sedang mencari teduh di hari yang kemarau.

Pada sebuah kelokan, sang supir memulai narasinya. Di situ ada sebuah rumah kecil nan sederhana, lengkap dengan genteng batu bata merah yang lusuh terpanggang waktu. “Itu rumahnya model rumah desa lama ya?” ujar sang supir, memantik teori dari mulutnya sendiri. Saya, yang duduk di bangku depan, menimpali dengan “iya”. Saya mencatat ceritanya kemudian lewat recorder bernama ingatan.

Kira-kira beginilah ceracau sang supir.

Rumah bermodel jadul seperti itu dibangun bertahun-tahun lalu, mungkin sejak jaman pra-kemerdekaan. Yang memiliki rumah-rumah seperti itu, bisa ditebak, adalah keluarga petani. Setidaknya dulu. Sekarang petani-petani telah menua. Anak-cucunya sudah pergi ke kota untuk sekolah atau bekerja yang jauh dari persoalan tanah dan padi.

“Sudah jarang rumah model lama seperti itu, karena sekarang anak-anak desa banyak yang sukses di kota, lalu kembali untuk memperbaiki rumah orang tua dan kakek-neneknya. Modelnya ya jadi beda, tidak seperti dulu,” ucap sang supir cum pencerita.

Anak-anak desa yang sudah pindah ke kota itu memberi warna baru untuk rumah-rumah di pedesaan. Seperti mencetak garis yang memisahkan rumah desa model lama dan baru, jadul dan kekinian. Desa-desa tumbuh bersama keramik-keramik, dan genteng-genteng batu bata merah yang tahan terhadap matahari musim kemarau.

“Tapi ya kadang anak-anak kalo sudah ke kota malah lupa pulang ke desa. Kadang ya rumah di desa bukan diperbaiki, malah orang tuanya yang diajak pindah ke kota saja. Ngapain tinggal di desa,” lanjut supir di sebelah kanan saya, dengan mata lurus menatap aspal-aspal yang memisahkan padi-padi yang akan berakhir di piring-piring kita.

Pada mulanya, migrasi desa-kota memindahkan orang-orang dari desa ke kota. Lambat laun ia juga turut memindahkan rumah beserta isinya. Dan mengubah alamat di banyak KTP, dari tadinya warga desa jadi warga kota. Dan kota bertumbuh terus. Dan rumah-rumah model lama semakin jarang di temui di desa-desa.

(Sleman, 20 Juli 2019)

USA & Jakarta

Tiba-tiba pikiran saya tiba di Modena, pada suatu sore musim panas yang cerah.

Saya hendak menuju Soliera untuk sebuah konser. Sambil menunggu teman datang menjemput, saya duduk-duduk di common room Ostello San Filippo Neri. Saat itu, televisi menyetel laga fase gugur Piala Dunia, Brazil vs Belgia. Saya duduk semeja dengan seorang ibu paruh baya. Saya berbasa-basi dengannya.

Pertanyaan basa-basi paling basa-basi di hostel-hostel adalah: where are you come from? (Belakangan saya menghindari pertanyaan semacam ini, yang rasanya mengabaikan berbagai pengalaman sosio-kultural kita yang kompleks dengan berbagai tempat. Seakan-akan dari mana berasal lebih penting dimana kau merasa berada di rumah.)

“I am from North America,” jawabnya. Dahi saya terkenyit. Amerika Utara?

Dia seperti membaca kernyit di dahi saya, lalu menimpali: “I’m from California”. Lega rasanya mendengar jawaban itu.

Lalu ia terus meracau tentang kenapa ia menjawab “North America”, bukan “USA” atau “US” seperti lazimnya pejalan-pejalan lain dari sana. Ia menyadari “USA” mengandung konotasi yang negatif di dunia. Seakan-akan menjadi “US citizen” adalah semacam dosa sejarah. Ia menyebut beberapa hal seperti perang, Hollywood, cultural imperialism, dan lain-lain. Ia menyadari posisinya sebagai seseorang yang berasal dari sebuah tempat yang (potensial) dipandang sebagai biang kerok oleh banyak orang lain di dunia.

Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dalam perjalanan di banyak tempat di Indonesia. Ketika ditanya dari mana saya berasal, jawaban paling mudah tentu saja adalah “Jakarta”, karena orang-orang akan langsung mengetahuinya, walau sebenarnya saya tinggal di Depok. Depok, pikir saya, hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan: “Dimana tuh Depok?” Dan, ujung-ujungnya saya akan menjawab “Jakarta”.

Jadi, seringkali, saya justru menyebut Bogor. “Saya dari Bogor, Jawa Barat,” ucap saya kepada banyak orang di daerah-daerah lain yang bukan di Jawa. Seakan-akan dengan jawaban itu saya melarikan diri dan menghindar dari konotasi negatif yang diemban Jakarta, dimana kekuasaan negara terpusat, dimana kebijakan-kebijakan didesain untuk mengatur (atau tidak mengatur) warga sipil, termasuk mereka yang ada di tempat-tempat yang amat jauh dari “pusat”.

Saya menegasikan relasi saya dengan Jakarta, seperti ibu paruh baya di Modena menegasikan relasinya dengan USA. Mungkin karena kami sama-sama menganggap dan menyadari bahwa daerah/negara asal kami bukan tempat yang syahdu dan lebih banyak mencetak petaka daripada harapan. Jakarta dan Amerika, dimana sinonim “pusat” sering diletakkan di atasnya, bukanlah kata yang kami suka.

Maka, ia menyebut “North America” dan saya menyebut “Bogor”. Begitulah.

(Cepu, 13 Juli 2019)

Para Peziarah di Santiago

Santiago de Compostela, pada sebuah musim dingin yang basah.

Stasiun basah. Apa-apa basah. Kota jadi murung. Saya melangkahi pusat kota dengan wangi burger yang menguar ke jalan. Di Parque de Alameda, segala jadi lebih sendu. Pohon-pohon tanpa daun menanti datangnya musim semi. Langit kian kelam, malam menjelang. Saya tiba di hostel sebelum gelap merayap.

Roots and Boots nama hostelnya. Saya naik ke dorm dan mendapati jendela yang menganga. Katedral ada di seberang. Ia tampak kecil dari lantai dua hostel. Gagah menjulang, meski ditopang besi-besi restorasi. Di Eropa, orang tergila-gila pada masa lalu. Maka, bangunan tua direstorasi dan nostalgia dipupuki.

Nostalgia. Itu juga yang membawa saya ke Galicia, di barat laut Spanyol. Tujuan awal saya ialah A Coruna, kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Atlantik. Saya hendak mencari jejak Deportivo La Coruna, klub sepak bola yang ketika saya kecil hingga memasuki masa remaja sedang bagus-bagusnya.

Namun, tak ada penginapan murah di kota itu. Maka saya melipir ke Santiago. Menginap di sana dan ke A Coruna pulang-pergi naik kereta. Kedua kota ditempuh dalam 30 menit. Tapi, meski saya ‘tersasar’ di Santiago, bukan berarti kota ini tak punya apa-apa. Banyak orang mengenalnya karena Camino de Santiago.

DSC_1491

Camino de Santiago ialah salah satu jalur ziarah paling terkenal di dunia. Setiap tahunnya, manusia dari berbagai belahan dunia pergi menuju Santiago de Compostela dengan berjalan kaki. Jalur paling umum disebut Camino Frances, the French way. Para peziarah memulai dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis. Beberapa jalur lain dimulai dari Basque (Spanyol utara), Andalusia (Spanyol selatan), Lisbon (Portugal), dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada aturan yang benar-benar kaku soal jalur. Ide utamanya adalah berjalan kaki menuju Santiago, biasanya melintasi kota-kota yang dianggap suci bagi umat Katolik. Meski begitu, sekarang ini banyak juga peziarah yang menggunakan sepeda untuk mencapai Santiago. Camino de Santiago terus berubah mengikuti jejak jaman. Ia bermula dari ziarah relijius umat Katolik menuju makam Santo Yakobus (Santiago, dalam bahasa Spanyol) dan kini berubah menjadi cara lain untuk traveling/berwisata.

Di hostel, saya sempat bertemu beberapa peziarah. Misalnya, dua anak muda Korea. Seperti banyak orang lain, mereka berangkat dari Saint-Jean-Pied-de-Port, melintasi berbagai kota di utara Spanyol, hingga akhirnya tiba di Santiago. Lebih dari satu bulan waktu yang mereka lalui untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka berhenti dan menginap di hostel-hostel peziarah. Harga per malam untuk peziarah lebih murah dibanding untuk turis lain. Selain itu, peziarah Camino memiliki semacam paspor yang diberi stempel setiap mereka melalui atau singgah di kota-kota penting.

Ada juga seorang pemuda yang terbang jauh dari Meksiko untuk menjalani Camino de Santiago. Ia datang sendirian, meski akhirnya sering bergabung bersama peziarah lain. Sama seperti dua orang Korea tadi, dia memulai dari Prancis. Sementara itu, saya bertemu seorang kakek yang memulai dari Basque dan seorang bapak yang berjalan kaki dari Italia. Peziarah bisa memulai dari mana-mana, tapi tujuan akhirnya satu: Santiago de Compostela.

Peziarah ada dimana-mana di Santiago. Bahkan, di tengah-tengah kota ada Museum Perziarahan (Museum of Pilgrimage). Ketika saya berjalan-jalan gontai di kota, tak sulit melihat orang-orang dengan tas punggung besar, sepatu gunung, dan tongkat. Terlebih di dekat Katedral. Para peziarah itu duduk-duduk di pelataran atau berdiri merenungi akhir perjalanan mereka. Betis-betis mereka tampak bengkak, hasil dari berjalan kaki ratusan kilometer. Mengapa mereka mau berjalan begitu jauhnya dalam Camino de Santiago?

Motifnya bisa macam-macam. Pada mulanya, ini soal kepercayaan iman Katolik untuk meningkatkan spiritualitas rohani. Lambat laun ia berubah jadi bentuk turisme yang populer. Dua anak muda Korea yang saya temui di hostel contohnya. Mereka terpengaruh melakukan Camino karena iklan tv. Kata mereka, iklan-iklan yang mempromosikan Camino de Santiago cukup marak di Korea Selatan. Mereka berdua hanya segelintir dari banyak orang Korea lain yang terpikat.

Ketika saya tanya apakah mereka melakukan Camino karena kaitan dengan iman Katolik, mereka menggeleng kepala. Bagi mereka pribadi, ini tak ada sangkut pautnya dengan agama. Mereka tertarik pada Camino de Santiago karena pengalaman berbeda yang ditawarkannya. Ini semacam jalan-jalan versi slow, pelan dan tak terburu-buru. Dengan itu pula keduanya mengapresiasi cara orang-orang Katolik jaman dulu dalam berziarah. Lagi pula, untuk apa tergesa-gesa?

(Januari 2019)

P.S.: Ditulis untuk Kawruh.

Siena

Bus antarkota yang saya tumpangi melaju kencang, melewati padang-padang Toscana yang manis. Bus stop La Colonna-Monteriggioni terlewat sudah, sedang saya lupa memencet bel tanda berhenti. Maka tubuh saya dibawa sampai ke halte Colle di Val d’Elsa, kira-kira 15 menit dari pemberhentian yang semestinya.

Tiket saya hangus. Cazzo. Dan saya harus membeli lagi di kios kecil dekat halte. Saya tak mau apes lagi. Hari sebelumnya, petugas bus menilang saya gara-gara saya lupa memvalidasi tiket yang sudah saya beli. Cazzo. Lebih dari 40 euro terkuras dari rekening bank. Karma mungkin benar eksis. Saya mengingat 9 hari di Torino tanpa membayar bus.

Jangan dicontoh. Secara umum, kota-kota Italia memberi kesempatan kita untuk ugal-ugalan. Klakson lebih sering terdengar daripada di Belanda. Makin ke selatan makin chaotic. Dan saya suka yang kacau-kacau. Membuat saya merindu Jakarta. Meski sedikit. Tapi lupakanlah soal tilang di Siena itu. Saya kapok tidak membayar bus.

Monteriggioni adalah semacam kota (atau mungkin desa) kecil di provinsi Siena. Saya tak tahu kenapa saya kesini. Malam sebelumnya, Raymundo mengajak saya keluar kota Siena dan berjalan-jalan ke kebun anggur di sana hingga ke San Gimignano yang konon adalah produsen wine terbaik di wilayah Toscana. Tapi saya ogah bangun pagi.

Maka, saya memulai pagi dengan rileks. Seperti biasa. Ketika saya bangun, cahaya matahari sudah merayap memasuki 2-bed dorm berbentuk tenda di campground Colleverde. Kira-kira macam glamping lah. Lengkap dengan kasur yang empuk, colokan listrik, wifi, lampu, dan sepasang meja-kursi di depan masing-masing tenda. Melenakan.

Nyamuk-nyamuk menghabisi sekujur tubuh. Saya sibuk menggaruk-garuk dan mengecek bagian mana yang memerah digigit nyamuk. Toscana di musim panas adalah padang bermain bagi nyamuk. Suhu yang hangat membuat mereka berkembang biak dengan rakus dan menjadi buas. Saya teringat malam penuh nyamuk di Firenze.

Lupakan nyamuk. Selesai mandi, saya naik bus ke kota. Saya mendapati petugas yang sama yang menilang saya kemarin. Cazzo. Kali ini saya punya tiket yang valid. Saya tersenyum pahit ketika dia memeriksa tiket saya. Di kota, turis-turis berjejalan. Mereka/kami membentuk simfoni yang ribut, gerak-gerik yang simbolik, dan foto-foto yang klise. Di depan Piazza del Campo, saya hanya termenung tanpa alasan.

Mungkin saya bosan. Maka saya teringat ajakan Raymundo. Kenapa tidak keluar kota? Saya ingin kabur dari gerombolan turis rupa warna ini. Maka, saya turun ke loket bus yang terletak di bawah tanah dekat terminal bus di tengah-tengah kota, dekat pula dengan Stadio Artemio Franchi. Saya membeli tiket pulang pergi ke Monteriggioni.

Di sana, satu-satunya yang saya lakukan pada dasarnya adalah berjalan kaki. Wilayah Toscana, termasuk Siena, memiliki banyak jalur camino. Awalnya, saya hendak menuju kastil yang entah apa namanya. Tapi saya malah tersesat di salah satu jalur camino yang mengasyikkan. Super sepi. Saya cuma sempat bertemu satu orang sepanjang jalan-jalan kaki santai di sana, kurang lebih tiga jam.

Tersesat mungkin cara terbaik untuk menikmati perjalanan. Lanskap yang luas, kadang ditambah pernik bunga warna-warni di beberapa sisinya. Kontur yang naik turun. Dan, yang utama, tak ada manusia. Siena, dengan turis-turisnya yang berjubel di pusat kota, terasa begitu jauh. Saya berjalan sendiri tanpa arah tanpa tujuan hingga ke kedalaman hutan, hingga saya mulai ketakutan dan memutuskan untuk kembali.

Di bus stop La Colonna-Monteriggioni, saya bertemu lagi dengan pria yang sempat saya temui di jalur camino tadi. Ia hendak menuju San Gimignano rupanya. Jalur kami bertolak belakang. Saya kembali ke Siena, dan bergegas secepatnya menuju campground untuk menonton laga perempatfinal Piala Dunia, Prancis vs Belgia. Oh pub akan segera penuh, pikir saya dalam hati.

Singkat cerita Prancis menang malam itu. Orang-orang Prancis yang singgah di campground itu berpesta pora. Orang-orang Belgia pulang ke caravan masing-masing dengan muka tertekuk. Saya kembali ke tenda bersama Raymundo dengan biasa-biasa saja. Kami cuma kelelahan dihantam siang yang terik, baik di San Gimignano maupun Monteriggioni.

Lalu, perlahan malam justru memanjang bagi saya. Ketika saya hendak tidur pulas, dan baru selesai menggosok gigi, Laurenz memanggil nama saya. “Sarani?” tanyanya ragu. Karena gelap saya mendekat dan mendapati dirinya sedang duduk memasak pasta, tepat di belakang tenda saya. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di sebuah hostel di Bologna.

Jadi, demikianlah. Saya duduk dan mengobrol dengan anak Jerman itu hingga berjam-jam lamanya. Kami menghabiskan anggur putih yang ia bawa entah dari mana. Ia bercerita tentang perjalanannya di Ancona dan Roma. Ia begitu menyukai wilayah Marche, di pantai timur sana. Dan Roma begitu penuh oleh manusia. “But still beautiful,” tukasnya.

Bla bla bla bertukar. Saya menguap beberapa kali. Botol wine sudah kosong. Dan akhirnya good bye diutarakan. Dia akan ke utara, sedang saya akan ke selatan. Kami berpisah di depan tenda dan saya menikmati tidur yang pulas malam itu. Akumulasi dari mini camino, matahari musim panas, dan sebotol wine putih yang ditenggak dua orang.

Amstel

Kita berjalan di sepanjang Amstel, pada hari Minggu yang cerah di Amsterdam. Setelah menyesap Grolsch dan jus di rooftop Volkshotel, seraya mengunyah kalimat-kalimat elegis tentang keluarga, masa depan, dan peliknya menjadi anarko. Kita kehilangan banyak waktu dan kita mengejarnya. Tapi kita kelelahan.

Waktu memang jahanam, kata Silampukau, band asal Surabaya. Dan aku menelannya utuh-utuh saat kita berjalan melewati gang-gang sempit di sekitar sungai. Dan kau bawa diriku ke Massimo, “kedai es krim paling enak di Amsterdam”. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi yang jelas bibir kita belepotan di depan kedai, sambil menikmati kerumunan manusia yang menikmati akhir pekan yang asyik di kota.

Lalu kita bicara soal Italia. Kau soal Toscana, aku soal Umbria. Kita menyusun puzzle-puzzle yang menyusun imajinasi tentang sebuah negara di selatan, yang kita cintai dengan alasan dan retorika masing-masing. Aku calcio, kau bukit-bukit sunyi di Toscana. Tapi tentu saja Italia lebih dari itu. Ia rumit. Seperti kita.

Kau harus pulang dan mengayuh sepeda ke dekat pusat kota. Movie night. Kita berjalan melewati sebuah gedung jelek di pojok, sepertinya bekas gereja. Lalu bangunan-bangunan kecil, beberapa tampak miring. Dan kita berpegangan tangan sejenak di pinggir Amstel. Dan tertawa. Dan tersenyum. Dan aku (mungkin juga kau) akan mengingat senyum itu sebagai melankoli yang tak selesai.

Bari

Saya tiba di Bari, pada suatu sore musim panas yang cerah. Saya tiba dari Napoli, menumpang bus yang melewati lembah-lembah indah Basilicata. Beberapa hari setelahnya, di Wageningen, saya bilang ke Simone, asal Mestre: “if I were you, if I am able to speak Italian, I would stop in Basilicata.” Sayangnya tidak. Maka saya menuju Bari saja, kota nan sibuk di semenanjung Puglia.

Pertama kali saya kenal Bari lewat sepakbola. AS Bari, Cassano, San Nicola, dan detil-detil lain. Cassano sudah lama bermasalah dan redup sinarnya. Ia tak punya klub hari ini. Sedangkan, AS Bari tak ada lagi sejak 2014. Bangkrut. Penggantinya, FC Bari pun bangkrut tahun ini. Mulai musim ini, yang ada SSC Bari. Mereka diusir dari Serie B dan diharuskan memulai ulang segalanya di Serie D.

Toh, saya datang ke Bari bukan untuk sepakbola. Untuk pulang. Pesawat akan membawa saya terbang dari Bari menuju Maastricht. Setelah berpekan-pekan dipanggang musim panas Italia, saya ingin kembali ke utara. Bari adalah akhir kembara.

***

“Selamat datang,” ucap seorang perempuan paruh baya, ketika saya tiba di hostel di Corso Luigi di Savoia dan menunjukkan paspor saya. Saya kaget. Ia penduduk asli Bari, tapi lama tinggal di Middelburg, Belanda. Lalu, saya bilang bahwa saya kuliah di Wageningen. “Spreek je Nederlands?” tanyanya. Dia sempat pacaran dengan pria berdarah Indonesia. Lalu kami bicara soal rendang dan sambal.

Setelah itu, saya keluar hostel. Lapar. Maka, saya berakhir di restoran kebab dekat Universitas Aldo Moro. Satu keluarga India duduk di meja di depan saya. Dan saya menyantap nasi briyani. Segalanya terasa familiar, tapi juga tidak. Saya pergi dengan perut yang senang, dan berjalan-jalan sore tanpa arah.

Lama saya terduduk di taman depan universitas. Dan saya melumat senja yang sederhana di sana. Di tengah orang-orang biasa di hari yang biasa-biasa saja. Di kota yang biasa saja. Setelah Bologna, Firenze, dan Assisi, saya lelah dengan omong kosong manis ala Italia. Mungkin karena itu saya menyukai Bari. Karena ia tampak normal. “Bari doesn’t pretend, or try to be beautiful like other cities,” ucap saya pada Monica, beberapa pekan kemudian, sambil duduk di rumput Rijnveste.

Juga di Bari, menjadi coklat adalah normal. Bari adalah kota pelabuhan, jadi ia terbiasa dengan orang asing. Ferry dari/menuju Albania banyak di dermaga Bari. Beberapa juga terhubung dengan Kroasia. Di sepanjang jalan, orang India, Bangladesh, Arab, atau Afrika mudah ditemui. Dan orang-orang kulit putih juga tak canggung. Tak ada ketegangan di antara warna-warna kulit yang tak sama di sana.

***

Esoknya hari mendung. Saya terjebak di antara perasaan senang dan sedih, bersyukur dan sebal. Setelah hari-hari terik, langit abu-abu terasa menyenangkan. Tapi, Bari ada di pesisir. Jadi, harusnya menyenangkan pula bila merebahkan diri di pasir pantai, di bawah terik matari musim panas. Tapi tidak hari itu. Maka saya berjalan-jalan gontai sekenanya di centro storico, kota lama. Membuang waktu.

Stadio San Nicola terlalu jauh. “Dan sulit kesana,” kata gadis di belakang meja tourist information. Tapi tak sulit untuk menghabiskan waktu di kota normal seperti Bari. Kita hanya perlu berlagak menjadi orang biasa, berjalan-jalan di pedestrian, atau duduk di bangku kayu yang menghadap laut Adriatik. Lalu memesan espresso di siang hari, atau bir di sore hari, atau sepotong pizza di sela-sela keduanya.

Atau jogging di sepanjang garis pantai. Seperti yang saya lakukan sore itu. Saya mengajak teman satu dorm di hostel, cewek Australia yang manis. Tapi ia kelelahan. Ia baru tiba menyebrang dari Dubrovnik. Dia memilih yoga. Maka saya menguras keringat, menikmati Bari dari perspektif yang lain, dari kaki-kaki yang berlari, sambil melewati lalu-lalang manusia di senja yang menua.

Isar

​In Isar. A tiny curly-haired girl is drawing in front of me in her tiny drawing book. She brought a set of animal dools. They are tiny like her. They are cute like her. She suddenly reminds me of my sister. The curly-haired girls always fascinate me, either little or bigger girls.

Near the banks, a woman puts on her bra. Before, she was naked on top. She has​​ nice solid breasts. Now she is lying on the water, looking at nowhere but the streams of water. The weather is lovely. Summer is almost over, so we must grasp it while it lasts.

Next to me, on the left, an old man has been reading a newspaper for almost an hour. He is sitting in portable chair. He seems swallowing every words in paper very carefully. Perhaps he reads about the place he has never been to. Or maybe about the city he was grown up in.

And here I am. Sitting in Isar, pondering about random stuffs. On overtouristic places. On traffic jam in Jakarta. I am thinking how modernity may have created us crowd-phobia. That we always expect our neighbors, either fellow car drivers or tourists, are not exist.

(Munchen, 19-08-2018)

Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.