Small City Life

From who-knows-when, I always want to live in small city where breaths are easy and life is calm. For 24 years I lived in suburban of urban jungle named Jakarta. There is always busy routine everyday as its patron has. Now, finally, I am moving to another place. A much quieter, less polluted big village named Wageningen. A place where its inhabitants seem like having nothing else to look for in life. Except a serene life.

Two or three days after moving to Wageningen, I visited a place called Stade in Niedersachsen state of Germany. And I found another peaceful space there. Forget Hamburg or Amsterdam, it is a kind of rural town where apples are everywhere. From very big industries that supply all Europe, to tiny garden in almost every house in the town. Pace is slow and days are gone fast in Stade. A breeze in the afternoon makes it perfect.

One day, I went to Amsterdam Centraal. Another day, I was in front of Rathaus of Hamburg. People everywhere. From travelers carrying big backpack, to locals hanging out with fashionable outfit. I never hate tourists or locals or people. But I may not like noisy crowd too much. There were headaches when I first got off the train in Centraal or walked around the Rathaus. The aches growing whenever the picture of going back to Jakarta-esque life comes in mind.

Now, I am going to forget such vision. I want to appreciate life here, life I dreamed of for who-knows-how-long. A small city life. 

Advertisements

Para Pemimpi

Suatu hari nanti, kita akan berpisah. Kita akan menuju ujung langit tempat kita menggantung cita-cita masing-masing. Tapi kita tahu bahwa langit adalah tempat yang misterius. Karenanya banyak yang tak berani, banyak yang patah di tengah jalan, banyak yang kalah sebelum memulai, banyak yang beralasan babibu. Beberapa lainnya melaju terus, meski dengan kompromi sesekali.

Ada hal-hal yang harus dikorbankan untuk menuju langit, menuju ujung dimana tergantung mimpi-mimpi. Kita harus melepaskan jarak dengan bumi, dengan rumah, dengan hal-hal yang biasa kita hirup setiap harinya. Kita harus melesat menuju angkasa yang luas, yang bahkan kita tak tahu dimana ujungnya, tapi kita yakini seutuhnya ujung itu ada. Mimpi-mimpi itu nyata.

Kita juga akan dianggap tak waras. Bahkan oleh diri kita sendiri. Langit dan mimpi-mimpi memang terdengar seperti omong kosong. Kita berusaha mencerna absurditas, hal-hal yang tak real, benda-benda yang imajiner. Kita hanya berbekal degup di dada, gairah primitif, dan kalkulasi seadanya. Sisanya adalah petualangan, kepercayaan pada entah-apa, dan bayangan kekalahan.

Tapi, saya selalu suka pada para pemimpi. Orang-orang yang didorong oleh misteri. Orang-orang yang berjudi demi sesuatu yang tak nyata. Orang-orang yang bernyali menciptakan jurang dengan realitas, dengan rutinitas, dengan kenyamanan. Orang-orang yang kepalanya penuh ide meletup. Orang-orang yang sadar betapa bengisnya wajah kekalahan, tapi tak mundur. Satu langkah pun.

Posted in ide

Selesai

“Sudah harus selesai dengan diri sendiri…”

Pesan di atas dikirim seorang teman. Kami sedang membahas tentang kultur traveling di Indonesia. Kami membahas tentang betapa tidak berubahnya jaman.  Ini 2016 dan segalanya tampak sama seperti 2013. Lalu kutipan di atas muncul. Tapi lupakanlah soal kaum pejalan cum selebtwit cum travel blogger itu.

Buat saya, “selesai dengan diri sendiri” adalah sesuatu yang akrab. Dulu kala, saat masih getol-getolnya mengagumi Buddha, frasa itu muncul begitu saja. Ia datang lagi setelah lulus. Ceritanya saya merasa bingung: sudah lulus, sudah kerja, tapi ada yang kurang. Dalam usaha lepas dari kebingungan, mantra itu muncul.

Kedirian, sejatinya, adalah proses. Ia terus menjadi, membentuk, dan merevisi wujudnya. Kita dituntut untuk selalu berkembang, berubah, dan menyesuaikan. Juga untuk selalu mengisi, memperbaiki, dan meningkatkan. “Diri sendiri” sebagai proses lantas menjadi kelana tanpa ujung, tanpa penghabisan.

Hingga pada satu masa, kita tersadar bahwa semuanya tak akan cukup. Seribu tahun dan seluruh semesta tak akan cukup untuk menanam ego, merawat kedirian, dan memperbaiki diri. Kita tak bisa terus bicara tentang aku, saya, gue. Kita perlu selesai dengan diri sendiri untuk bisa benar-benar utuh.

Mungkin sudah lebih dari dua tahun saya “selesai”. Kedirian tentu senantiasa ada. Tapi seperti ada cara baru dalam memandang hidup. Ambisi, hasrat, ego, keinginan, nafsu, cita-cita tak pernah sama seperti sebelumnya. Seperti ada yang melunak, ada yang menenangkan. Rasanya seperti siap mati kapan saja.

Posted in ide

Kemenangan-kemenangan Kecil

Merawat harapan di negeri bernama Indonesia itu susah-susah gampang. Tiap hari kita dihadapkan pada persoalan yang membikin nyeri dan tak jarang merontokkan harapan kita satu per satu. Mencintai Indonesia pun bukan hal yang mudah. Seringkali, logika dan nalar kita berdebat dengan dirinya sendiri dan menggugat, “kenapa kita harus mencintai negeri ini?” Namun, semua proses itu kadang memang harus dilalui agar kita bisa benar-benar meresapi rasanya menjadi Indonesia.

Terlalu angkuh jika saya melabeli diri sendiri sebagai seorang nasionalis. Terlalu bodoh pula jika saya menganggap kontibusi saya untuk negeri ini akan penting. Sebagai orang Indonesia, saya sering merasa berada di titik nadir atau situasi stagnan. Saya tak bisa lagi mundur untuk menata ulang sejarah bangsa. Saya juga tak bisa terlampau jauh menatap masa depan yang berkabut, terlebih dengan beban sejarah yang senantiasa memukul mundur. Tidak ada obat panasea untuk semua persoalan kita.

Apa yang bisa kita lakukan, pada akhirnya, adalah dengan mencatat kemenangan-kemenangan kecil. Apa maksudnya? Kita bisa berpijak pada hari ini saja dan mencetak peluang gol yang ada di depan. Kita tak perlu terbebani dengan sejarah atau dibutakan utopia masa depan. Kenapa kita tak memanfaatkan detik yang tengah kita lalui untuk memberi arti pada kehidupan berbangsa dan bernegara?

Itu pula yang saya pikirkan ketika memutuskan untuk melanjutkan studi. Banyak pertaruhan yang saya lakukan untuk mengambil putusan itu. Setelah lulus dari program sarjana Sosiologi, Universitas Indonesia, saya bekerja sebagai jurnalis di salah satu media sepak bola nasional. Saya menggenapi cita-cita masa remaja saya dengan persis. Bukan hanya pekerjaan sebagai jurnalis, tapi media yang saya targetkan pun benar-benar saya dapatkan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa ada yang tak pas pada tempatnya.

Ada lubang pada diri saya belum terisi dengan meraih cita-cita masa remaja itu. Saya berpikir dan merenung selama beberapa waktu, lalu mendapatkan sebuah hipotesis. Mungkin, pikir saya saat itu, saya terlalu fokus pada diri sendiri dan kurang memerhatikan apa yang di luar diri sendiri. Pemenuhan diri, pada akhirnya, bukanlah tentang kita sendiri, tapi bagaimana kita bermakna untuk orang lain dan hal-hal di luar kedirian kita.

Dengan itu, saya mulai menata mimpi untuk melanjutkan studi S2. Simpel saja, ketika berniat untuk berperan bagi orang lain, jalur akademis adalah yang pertama kali muncul di kepala. Dengan merenungi diri sendiri, saya merasa ranah akademis adalah tempat yang pas bagi saya untuk mengambil secuil peran untuk Indonesia. Semua atribut yang saya punya mengarah ke jalur itu. Meski saya tahu, saya harus mengorbankan cita-cita masa remaja saya demi mendapatkan hal itu.

Lalu kenapa studi di bidang pariwisata? Perjalanan hidup pula yang membawa saya ke sana. Saya gemar melakukan perjalanan, terutama ke berbagai tempat di Indonesia. Saya suka berkelana, melihat keindahan alam, dan mengecap kekayaan budaya Nusantara. Pada mulanya, perjalanan-perjalanan yang saya lakukan lebih bersifat eskapisme. Lambat laun, seiringnya banyaknya tempat yang saya kunjungi, saya mulai memahami dengan lebih seluruh tentang betapa besarnya potensi pariwisata yang negeri ini miliki.

Setelah itu, matematikanya menjadi lebih sederhana. Keinginan berperan untuk bangsa, niat melanjutkan studi, dan ketertarikan pada dunia pariwisata bermuara pada apa yang sedang saya usahakan sekarang. Menempuh studi MSc Leisure, Tourism, Environment di Wageningen University dan belajar di salah satu institusi pendidikan terbaik di dunia adalah jawaban matematika tersebut. Namun, ini bukan hasil akhir.

Saya bermimpi melihat Indonesia tumbuh sebagai negara yang kian matang di segala aspek, secara khusus di sektor pariwisata. Dan saya yakin, saya bisa mengambil peran di dalamnya melalui jalur akademis. Baik itu sebagai dosen, maupun sebagai peneliti bidang pariwisata. Sekecil apa pun, niat dan peran yang dilandasi semangat voluntarism pasti bermakna. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kemenangan-kemenangan kecil.

Post-scriptum: Esai ini saya tulis ketika mendaftar salah satu program beasiswa. Teman saya menyebutnya terlalu “pop”. “Yakin lo mau nulis kaya gitu?” Saya bisa saja membual akan ini dan itu setelah masa studi. Tapi, saya percaya carpe diem adalah jawaban sementara bagi persoalan-persoalan kita. Dan, seringkali kita memang tak kuasa mengkhianati bara ide di dalam kepala. Menulis esai ini adalah perjudian. Saya menang.

Posted in ide

Tabrakan Budaya

Saya ingat, ketika pertama kali masuk area, yang terpikirkan adalah tabrakan budaya. Saya datang dengan kepala yang berisi konsep-konsep gaya hidup dari mazhab tertentu. Saya menulis skripsi mengenai gaya hidup, tapi dengan perspektif neo-marxism. Adorno adalah panutan saya dalam memandang gaya hidup.

Lalu, saya melenggang begitu saja menjadi jurnalis gaya hidup, di kota dimana gaya hidup disembah mati-matian dan diperjuangkan sebagai simbol status terpenting. Saat itu, saya sama sekali tak masalah. Perbedaan itu justru yang menarik buat saya. Apa yang lebih asyik dari membenturkan idealisme dengan realitas?

Tabrakan budaya adalah terma yang muncul di kepala saya saat itu. Ini mengingatkan saya pada perjalanan. Dalam sebuah perjalanan, yang menarik justru adalah tabrakan-tabrakan budaya itu. Kita misalnya datang dari kota tertentu dengan latar budaya tertentu, lalu menuju latar masyarakat yang sama sekali berbeda.

Mengutip salah satu edisi National Geographic, bukankah benturan-benturan itu yang membuat kita mencintai perjalanan? Mengecap apa-apa yang asing, menabrakkan isi kepala kita dengan kenyataan empirik, mengaduk teori-teori dengan data lapangan. Dengan semua itu, kita menguji cara pikir kita tentang dunia.

Membaca juga seperti itu. Buku yang baik adalah yang bisa memecahkan es dalam kepalamu, kata Kafka. Dengan membaca kita tak hanya ingin mencari apa-apa yang baru, tapi juga mencampur pikiran-pikiran kita dengan ide-ide si penulis. Keduanya lantas bertabrakan. Terbentur, terbentur, terbentuk: kata Tan.

Jadi begitulah, sudah hampir sepuluh bulan saya menabrak-nabrakan diri dengan sesuatu yang kontras dengan saya. Selama itu saya mengguncang isi kepala dengan kebanalan lifestyle. Saya memelajari bahwa gaya hidup memang ekstase, menggairahkan, dan mengasyikkan. Tapi, Adorno tetap ada di kepala saya.

Bahkan, ia semakin menggembung seiring dengan realitas-realitas empirik yang saya temukan dalam sepuluh bulan ke belakang. Semua ini justru memperkaya saya. Jika sebelumnya hanya duduk dari bangku kuliah dan menuding ini itu, saya punya kesempatan terjun ke lapangan dan menjadi subyek.

Saya seperti mencemplungkan diri dalam riset partisipatoris, menjadikan diri saya sebagai agen penyebar kebanalan. Semua ini tak membuat saya menyesal. Sama sekali tidak. Asal, semua ini tak sia-sia. Suatu hari, jika semua ini telah berakhir, saya harus mencatatnya dalam sebuah naskah panjang.

“A Life of Lifestyle Journalist Who Read Adorno” adalah judul yang berkali-kali muncul selama sepuluh bulan ke belakang. Dan waktunya kian dekat. Mungkin sebulan dua bulan lagi tabrak-menabrak ini akan usai. Setelah ini, saya ingin kembali ke literatur, kajian, dan filosofi. Jurnalisme gaya hidup bukan untuk saya.

Another Carpe Diem Thought

“…hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung” / sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4: 13-14)

Kita terus saja beretorika soal masa depan. Padahal, kata sebuah ayat di bible, hidup adalah semacam uap yang tampak sejenak, lalu hilang tanpa bekas. Dengan kesadaran itu, masihkah kita lancang berdiskusi tentang masa depan?

Hari-hari ini, entah kenapa, ungkapan kuno ‘carpe diem’ terus saja memenuhi isi kepala. Saya pertama kali mengenal adagium itu dari film Dead Poets Society, beberapa tahun lalu. Tapi, jauh sebelumnya di masa SMA, ternyata saya sudah mendapatinya dari sebuah lagu berjudul Seize The Day.

Awalnya, bagi saya, carpe diem adalah semacam statement pemberontakan terhadap dunia yang sibuk menebak-nebak hari esok. Tapi, belakangan ini, carpe diem terasa lebih make sense dengan caranya yang ugahari.

Saya rasa ini bukan soal berontak atau melawan, tapi tentang penghayatan terhadap keajaiban-keajaiban subtil di keseharian. Kita terlalu sibuk mengunyah ‘besok’, ‘akan’, ‘nanti’, ‘tahun depan’, ‘5 tahun lagi’, dan kata-kata lain yang merujuk ke masa depan. Saking sibuknya, kita lupa dimana kita berpijak. Pada titik itu, kita kehilangan.

Saya sempat berbincang dengan kurator Jakarta Biennale 2015. Biennale itu mengambil tema ‘Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang’. Saya pikir, awalnya, tema itu hanya gimmick yang lucu dan menjual, karena menyitir salah satu judul film Warkop. Setelah mengetahui proses penggodokannya, tema itu terasa lebih dalam.

Kita tak bisa mengubah masa lalu. Kita pun tak bisa melukis masa depan dengan rinci. Kita berada dalam stagnansi. Kita tak bisa bergerak, karena yang-lalu dan yang-akan-datang menghimpit dari dua arah. Kita seperti dipasung oleh sejarah yang terlanjur jadi ingatan. Kita seperti dibutakan oleh utopia-utopia masa depan yang mengecewakan.

Di titik itu, saat kita sadar kita tak bisa kemana-mana, carpe diem menemukan maknanya. Tak ada yang lebih penting dari menikmati detik ini.

Posted in ide

Ingin

Kita selalu saja terjebak pada nasihat-nasihat yang kontradiktif, adagium-adagium yang bersebrangan, dan logika-logika yang bertabrakan.

Suatu siang, di sebuah kafe “kelas atas” di Zakarta Raya, saya berbincang dengan seorang BMX Flatlander asal Spanyol. Tentu saja untuk kepentingan pekerjaan. Basa-basi meluncur, bahasa Inggris patah-patah bertukar dari dua pria yang berbahasa ibu bukan-Inggris. Secara keseluruhan, obrolan itu sangat menarik. Biasa, tentang kebebasan. Terlalu banyak detail bagus yang disampaikan sang flatlander.

Namun, malam ini, saya mengingatnya pada sebuah kutipan. “You can be anything you want to be in this life.” Kalimat itu seperti menemukan maginya sendiri. Saya seperti menemukan kata-kata yang telah lama menyangkut di ujung lidah. Kepercayaan itu, meskipun awalnya tanpa rumusan, mengendap sudah sejak lama.

I want to be everything or to be nothing at all. Saya ingin menjadi segala atau bukan apa-apa. Eksistensialisme macam ini yang telah lama saya rawat, bahkan pada masa dimana isme-isme terasa masam dan jaman terasa terlalu bebal untuk bermimpi barang sedikit. Saya pikir, begini, hidup kok sayang kalau cuma mengerjakan satu atau dua profesi.

Tapi, seperti biasa, saya menggugat. Benarkah?

Gugatan itu kembali terangkum manis dari bibir orang lain. Kali ini, beberapa bulan setelah obrolan dengan si atlet flatland, saya bertanya-jawab dengan seorang kurator sebuah hajatan seni terbesar di tanah air. Pada satu titik, saya bertanya, apa itu kurator?

Dia menjawab bahwa kurator adalah orang yang berada di tengah-tengah arus kepentingan: seniman, donatur, industri, media, negara, dan semua. Seniman mau ini, tapi donatur tak punya duit. Seniman mau itu, tapi dirasa kurang menjual oleh panitia. Industri mau ini, tapi seniman merasa dikencingi idealismenya.

Dalam khaos itulah, dalam tabrak-menabrak itulah, seorang kurator gagah berdiri. Dia adalah orang yang menegosiasikan gagasan-gagasan yang bertubrukan itu, lalu meramunya menjadi jalan keluar. “You can’t have anything you want in life,” kata si kurator, dengan ekspresi dan gerakan yang Italiano-esque banget.

Dua kutipan yang bersebrangan itu, malam ini, memenuhi isi kepala saya. Membikin semacam piknik yang filsafati dalam imajinasi. Eksistensialisme. Idealisme. Negosiasi. Mimpi. Masa depan. Ingin. Semuanya berkecamuk di ribut pikiran.

Posted in ide

Background

Saya sedang menatap langit Lebak Bulus dari jendela yang terbuka. Dan saya memikirkan latar, memikirkan background. Kenapa kita terobsesi dengan latar? Lautan biru, puncak gunung, awan-awan, desain restoran edgy, monumen, nama jalan, apa saja.

Mengapa ia begitu penting saya tak tahu. Dan mungkin ia memang penting. Tanpa latar belakang, apa yang di depan tak ada arti. Ia menjadi bermakna dengan background. Namun, jika hanya latar yang kosong, tanpa persona atau benda, akankah ia berarti?

Fotografi adalah satu hal. Tapi soal latar ini bisa jadi lebih dalam. Kita bicara tentang manusia dan bagaimana berhadapan dengannya. Pada mulanya kita melihat dari luaran: baju yang dipakai, wangi parfurm, cara berkata-kata, dan detil-detil lain yang tampak.

Tapi kita tak berhenti di sana. Kita mencari tahu yang di belakang: asal sekolah, bacaan favorit, anak siapa, tinggal dimana, kepercayaan, identitas suku, dan hal-hal lain yang tersembunyi di belakang. Kita ingin menguaknya dan membuatnya terang.

Dari sanalah kita menilai: jelek-bagus, baik-buruk, keren-norak, dalam-dangkal, atas-bawah, dan berbagai kontradiksi lain. Tanpa latar, tanpa background, sesuatu hanyalah separuh. Latar membuatnya jelas. Entah itu di foto, panggung teater, buku, atau kisah-kisah tentang manusia.

Posted in ide

Kecemasan-kecemasan Digital

Pada sebuah konferensi pers peluncuran salah satu produk smartphone generasi terbaru, sang manajer berbicara demikian, “Kita tak perlu lagi cemas akan kehabisan baterai, karena produk terbaru ini lebih cepat di-charge dan lebih awet.”

Diakui atau tidak, suka atau tidak, smartphone adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia hari ini. Saya ulangi, suka atau tidak! Dia tak terelakkan. Kita boleh mencari pembenaran apapun tentang kenapa smartphone penting dan harus selalu diperbarui. Kita boleh juga mencari alasan kenapa tidak suka dengan smartphone yang merajalela, seperti wabah tapi dalam bentuk budaya. Mengerikan. Apapun itu, kita tak dapat mengelak.

Saya seringkali termenung di halte busway atau peron stasiun dan memandang orang-orang di sekeliling. Semua menatap smartphone masing-masing. Entah membalas email, sms, chatting, main game, dengar musik, browsing asal-asalan, atau apa saja. Sesekali jika sedang tidak memikirkan apa-apa, melihat pemandangan itu membuat bulu kuduk saya bergidik. Ada kengerian dalam kultur dimana layar dan mata selalu saling menatap. Selalu.

Dengan smartphone dan varian gadget lain telah menjadi budaya yang tak terlepaskan, yang datang kemudian adalah kecemasan. Saya membayangkan raja-raja Jawa kuno mungkin takut setengah mati bila kerisnya terselip entah dimana, atau pria Sumba yang khawatir jika tak menemukan parangnya dimana-mana, atau pemeluk agama yang merasa tak enak jika tidak salat atau pergi ke gereja. Kecemasan adalah anak kebudayaan.

Oleh karena itu, wajar bila kultur smartphone melahirkan kecemasan-kecemasan baru yang di masa-masa sebelumnya tak ada. Seperti yang dikatakan sang manajer di atas, kita pasti pernah cemas jika baterai smartphone kita tinggal beberapa persen. Kalau dipikir-pikir biasa saja, kalau sudah waktunya mati ya mati saja. Tapi kita tak mau. Karena smartphone mati telah menjadi semacam kiamat mini. Dan kita seringkali takut kiamat, kan?

Smartphone mati bisa berarti macam-macam: melewatkan pesan, telepon, atau email penting; mati gaya tanpa musik atau game atau twitter; dan hal-hal lain. Tapi yang jelas, kita cemas karena kita akan tercerabut dari kebiasaan yang kita bangun dan dibangun oleh masyarakat di sekeliling kita. Saat lepas dari kebiasaan, kita akan cemas. Seperti seorang pengelana yang, sekecil apapun, pasti cemas saat menginjak kota yang asing.

Tapi semua sudah terlanjur. Smartphone telah menjadi budaya yang melekat. Dan ia melekat beserta anak-anaknya, termasuk kecemasan-kecemasan remeh yang tak pernah kita anggap remeh. Soal baterai habis hanya salah satu contoh. Setiap kita pasti pernah mengalami kecemasan-kecemasan lain yang diakibatkan era digital ini. Saat kita seolah ditolong kemajuan jaman, sebenarnya kita sedang diancam. 24/7.