Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. Musik  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…

Advertisements

Teras #2

Sejak dulu, saya selalu suka teras. Tempat favorit saya di rumah adalah teras. Saya sedih ketika teras rumah diperkecil, pada suatu waktu. Saya suka baca buku atau ngelamun-ngelamun nggak jelas di teras. Atau liat hujan, tentu saja kalau ada hujan. Kalau tidak hujan, saya lihat-lihat tanaman aja. Kadang beberapa orang lewat di depan rumah, jadi obyek lamunan saya. Sering saya bayangkan gimana rasanya menjalani kehidupan orang lain.

Di Mentawai, passion terselubung saya terhadap teras menemukan wujudnya lagi. Secara filosofis, arsitektur rumah tradisional Mentawai menaruh titik berat yang penting pada teras. Di sana fungsi-fungsi sosio-kultural terbentuk dan terjalin, berpilin menjadi kerumitan-kerumitan yang kadang tak terselami. Laurens Bakkers menulis bahwa waktu senggang paling favorit bagi orang Mentawai adalah duduk-duduk di teras dan ngobrol.

Ngobrol adalah bagian penting bagi masyarakat yang punya tradisi lisan kuat. Seperti Mentawai. Cerita-cerita mengalir di teras. Dalam spasi itulah, kadang-kadang petuah, pepatah, sumpah serapah, dan konflik soal tanah tumpah ke pembahasan. “Kita ya biasa begini. Duduk-duduk di teras, ngopi sambil ngobrol. Kalau sendiri di teras nggak asik,” kata seseorang di Mappadegat. Disana ada nuansa komunalisme yang kuat. Mungkin juga egalitarianisme?

Intinya, teras itu penting buat orang Mentawai. Juga buat orang-orang lain juga, mungkin, seperti saya. Tinggal di Mentawai berminggu-minggu membuat saya berjanji ke diri sendiri: kalau nanti punya rumah sendiri, terasnya mesti gede kaya teras-teras rumah Mentawai. Spasi itu harus dibangun. Jarak itu harus dirancang. Supaya ruang-ruang sosial terbuka. Supaya cerita-cerita keluar. Supaya batas-batas yang tak diinginkan menguar. Lenyap ke luar.

Ngomong-ngomong, saya nulis ini juga di teras. Mungkin, selama tinggal disini, 90 persen aktivitas saya terjadi di teras. Sisanya di kamar, dapur, dan kamar mandi. Ruang privat adalah hal yang tak biasa di Siberut. Nyaris semuanya harus komunal. Harus bareng-bareng. Teras adalah manifestasi untuk itu. Mungkin juga faktor pendorong. Kok, tiba-tiba jadi ke-kuantitatif-an gini sih? Pakai persentase dan ‘faktor’ segala. Kangen kali ya. Caelah.

(Mappadegat, 9 Desember 2017)

Berkebun, Berladang, Membeli

Di homestay Yupi, aku memandang tanaman-tanaman di taman. Aku membayangkan prosesnya. Saat tanaman-tanaman itu ditanam, mungkin berbulan-bulan yang silam. Atau mungkin hitungan tahun. Aku mengingat halaman di depan rumahku. Aku mengingat seorang tukang kebun yang kerap datang ke rumah, untuk membantu ibu merangkai taman kecilnya. Aku mengingat Tante Lina di Stade, yang saat ini mungkin sedang mengurus kebunnya. “Berkebun itu seperti meditasi,” kata dia pada suatu waktu. Di Mappadegat, Hiber suatu sore bercerita soal hobinya mengurus taman. Ia suka menanam, melihat tanaman-tanaman itu tumbuh. Entah tahun depan atau kapan. Hingga taman itu menjadi penuh warna, menjadi indah seperti hari pertama musim semi. Menanam, mungkin saja, adalah sebuah perjudian. Atau mungkin ia sebentuk kesabaran. Menanam adalah proses yang tak sebentar. Ia perlu bulan-bulan yang panjang.

Begitu juga ladang. Kemarin aku pergi ke ladang bersama Yusuf dan Mamak. Aku memandang Lemanus menebang sagu yang sudah tinggi besar. Pohon raksasa itu jatuh begitu saja ke tanah, seperti seorang pejuang yang gugur. Ladang Mamak dipenuhi berbagai macam tanaman. Ada cengkeh, sagu, pisang, pinang, dan jenis-jenis lain yang tak ia ketahui dalam Bahasa Indonesia. Tanaman-tanaman itu telah menjadi bagian dirinya, bagian dari budayanya. Sehingga Bahasa tak sanggup membuatnya cerai dari tanaman-tanamannya. Mungkin saja ia menanam mereka bertahun-tahun yang lalu. Setiap sore ia pergi ke ladang, untuk melihat tanaman-tanaman itu tak berubah. Tapi, pada suatu hari, ia mendapati mereka sudah tumbuh besar. Berladang, seperti berkebun, adalah prosesi waktu yang tak bisa kita beli di internet. Orang Mentawai punya ungkapan favorit: Moili moili. Pelan-pelan, kata mereka. Kenapa harus buru-buru?

Dan aku mengingat kota. Serta orang-orang yang tak sabaran. Instan adalah mantra. Ia adalah jawaban segala persoalan urban. Di kota, proses menjadi semacam hantu. Semuanya ada di toko. Semua bisa disulap dalam hitungan detik. Semua serba tergesa-gesa. Mereka lupa bahwa selalu ada yang berdiri di tengah-tengah. Menuai, menabur. Menanam, memanen. Kita, anak-anak kota, telah mencabut diri dari tanah, dari laut, dari cuaca yang tak bisa diintervensi. Lalu, aku membayangkan diriku berdiri di depan rak-rak di Jumbo Tarthorst. Membeli pisang, paprika, dan sperziebonen. Mereka telah dipangkas dari tanahnya, mungkin di Afrika atau Amerika Selatan. Kemudian dikirim ke Eropa Barat sebagai komoditi, sebagai alasan untuk menjadi kaya. Dan kenyang. Dan kita tak peduli tentang itu semua. Tentang bulan-bulan yang berlalu sejak seorang peladang menanamnya di tanah. Sejak bibit-bibit itu terkurung di perut bumi.

(Mappadegat, 30 November 2017)

Choices

There is always something poetic about choices. However rational it is, the act of making choice is purely gambling. We never really know what we are going to get. At least, if you believe in uncertainty of everything in life. We choose and we may regret. We choose and we may not regret. That is what make us humane.

Imagine how many times we made choices in life. Imagine how many times we regretted and wished to turn back clock. But, maybe, it is not a matter of avoiding the regret. I remember one kind of post-modern suggestion: don’t regret the regret. It sounded catchy at the first time. Now, it makes more sense every time I think of it.

In the age of plethora of choices, from practical things in supermarket to philosophical matters, making choices is what define us. Even, not choosing is a choice. However, it has never been a skill. It is not something we can polish so it becomes better. Not like that. No matter how often we made choices, we can always be wrong.

Sometimes we follow the rationale. Sometimes we follow the guts. Sometimes it goes well. Sometimes it is not. There is no mathematic in it. There is no magic crystal ball. Maybe, we only need to accept it. That choices we make can always go south. But, it can also be the greatest decision we ever made. We never really know.

Whenever we make choice, just imagine the world without choices.

Posted in ide

Indrani

Pada suatu Sabtu, saya pergi ke Toko Indrani. Salah satu toko bahan makanan Asia di Wageningen. Memasuki Indrani adalah semacam ziarah ke rumah.

Saya tak mengerti bagaimana harum bumbu-bumbu makanan bisa menjadi kendaraan untuk pulang ke rumah. Tapi itu yang terjadi ketika saya berjalan memasuki lorong-lorong di Indrani. Setidaknya dalam satu atau dua detik.

Cabe rawit, lengkuas, asam jawa, dan lain sebagainya seperti membopong saya kembali ke dapur di rumah yang saya tinggali selama 24 tahun. Saya seperti melihat ibu dan nenek saya sedang memasak kering tempe atau soto ayam. Saya seperti memandangi ayah saya membakar ikan dan meracik sambal super pedas.

Saya jadi teringat salah satu artikel yang saya lupa dimana. Bukan tentang wangi atau harum atau bau makanan. Tapi tentang suara. Si penulis seperti mendengar suara ayahnya yang sudah meninggal ketika mendengar teman ayahnya berbicara lewat telepon. Ingatan tentang suara ayahnya seperti berkeliling di kepala.

Mungkin hal yang sama saya alami ketika menelusuri rak-rak Indrani. Semacam perasaan tanpa nama yang aneh. Mirip juga dengan ekstase yang saya rasakan kala menerobos rak-rak buku, entah itu di perpustakaan atau toko buku. Seperti ada impuls yang terpancing dan mengundang ingatan-ingatan usang kembali ke permukaan.

Setidaknya, sekarang saya tahu harus kemana ketika mendadak kangen rumah. Serta masakan ibu dan uti.

Posted in ide

Small City Life

From who-knows-when, I always want to live in small city where breaths are easy and life is calm. For 24 years I lived in suburban of urban jungle named Jakarta. There is always busy routine everyday as its patron has. Now, finally, I am moving to another place. A much quieter, less polluted big village named Wageningen. A place where its inhabitants seem like having nothing else to look for in life. Except a serene life.

Two or three days after moving to Wageningen, I visited a place called Stade in Niedersachsen state of Germany. And I found another peaceful space there. Forget Hamburg or Amsterdam, it is a kind of rural town where apples are everywhere. From very big industries that supply all Europe, to tiny garden in almost every house in the town. Pace is slow and days are gone fast in Stade. A breeze in the afternoon makes it perfect.

One day, I went to Amsterdam Centraal. Another day, I was in front of Rathaus of Hamburg. People everywhere. From travelers carrying big backpack, to locals hanging out with fashionable outfit. I never hate tourists or locals or people. But I may not like noisy crowd too much. There were headaches when I first got off the train in Centraal or walked around the Rathaus. The aches growing whenever the picture of going back to Jakarta-esque life comes in mind.

Now, I am going to forget such vision. I want to appreciate life here, life I dreamed of for who-knows-how-long. A small city life. 

Para Pemimpi

Suatu hari nanti, kita akan berpisah. Kita akan menuju ujung langit tempat kita menggantung cita-cita masing-masing. Tapi kita tahu bahwa langit adalah tempat yang misterius. Karenanya banyak yang tak berani, banyak yang patah di tengah jalan, banyak yang kalah sebelum memulai, banyak yang beralasan babibu. Beberapa lainnya melaju terus, meski dengan kompromi sesekali.

Ada hal-hal yang harus dikorbankan untuk menuju langit, menuju ujung dimana tergantung mimpi-mimpi. Kita harus melepaskan jarak dengan bumi, dengan rumah, dengan hal-hal yang biasa kita hirup setiap harinya. Kita harus melesat menuju angkasa yang luas, yang bahkan kita tak tahu dimana ujungnya, tapi kita yakini seutuhnya ujung itu ada. Mimpi-mimpi itu nyata.

Kita juga akan dianggap tak waras. Bahkan oleh diri kita sendiri. Langit dan mimpi-mimpi memang terdengar seperti omong kosong. Kita berusaha mencerna absurditas, hal-hal yang tak real, benda-benda yang imajiner. Kita hanya berbekal degup di dada, gairah primitif, dan kalkulasi seadanya. Sisanya adalah petualangan, kepercayaan pada entah-apa, dan bayangan kekalahan.

Tapi, saya selalu suka pada para pemimpi. Orang-orang yang didorong oleh misteri. Orang-orang yang berjudi demi sesuatu yang tak nyata. Orang-orang yang bernyali menciptakan jurang dengan realitas, dengan rutinitas, dengan kenyamanan. Orang-orang yang kepalanya penuh ide meletup. Orang-orang yang sadar betapa bengisnya wajah kekalahan, tapi tak mundur. Satu langkah pun.

Posted in ide

Selesai

“Sudah harus selesai dengan diri sendiri…”

Pesan di atas dikirim seorang teman. Kami sedang membahas tentang kultur traveling di Indonesia. Kami membahas tentang betapa tidak berubahnya jaman.  Ini 2016 dan segalanya tampak sama seperti 2013. Lalu kutipan di atas muncul. Tapi lupakanlah soal kaum pejalan cum selebtwit cum travel blogger itu.

Buat saya, “selesai dengan diri sendiri” adalah sesuatu yang akrab. Dulu kala, saat masih getol-getolnya mengagumi Buddha, frasa itu muncul begitu saja. Ia datang lagi setelah lulus. Ceritanya saya merasa bingung: sudah lulus, sudah kerja, tapi ada yang kurang. Dalam usaha lepas dari kebingungan, mantra itu muncul.

Kedirian, sejatinya, adalah proses. Ia terus menjadi, membentuk, dan merevisi wujudnya. Kita dituntut untuk selalu berkembang, berubah, dan menyesuaikan. Juga untuk selalu mengisi, memperbaiki, dan meningkatkan. “Diri sendiri” sebagai proses lantas menjadi kelana tanpa ujung, tanpa penghabisan.

Hingga pada satu masa, kita tersadar bahwa semuanya tak akan cukup. Seribu tahun dan seluruh semesta tak akan cukup untuk menanam ego, merawat kedirian, dan memperbaiki diri. Kita tak bisa terus bicara tentang aku, saya, gue. Kita perlu selesai dengan diri sendiri untuk bisa benar-benar utuh.

Mungkin sudah lebih dari dua tahun saya “selesai”. Kedirian tentu senantiasa ada. Tapi seperti ada cara baru dalam memandang hidup. Ambisi, hasrat, ego, keinginan, nafsu, cita-cita tak pernah sama seperti sebelumnya. Seperti ada yang melunak, ada yang menenangkan. Rasanya seperti siap mati kapan saja.

Posted in ide

Kemenangan-kemenangan Kecil

Merawat harapan di negeri bernama Indonesia itu susah-susah gampang. Tiap hari kita dihadapkan pada persoalan yang membikin nyeri dan tak jarang merontokkan harapan kita satu per satu. Mencintai Indonesia pun bukan hal yang mudah. Seringkali, logika dan nalar kita berdebat dengan dirinya sendiri dan menggugat, “kenapa kita harus mencintai negeri ini?” Namun, semua proses itu kadang memang harus dilalui agar kita bisa benar-benar meresapi rasanya menjadi Indonesia.

Terlalu angkuh jika saya melabeli diri sendiri sebagai seorang nasionalis. Terlalu bodoh pula jika saya menganggap kontibusi saya untuk negeri ini akan penting. Sebagai orang Indonesia, saya sering merasa berada di titik nadir atau situasi stagnan. Saya tak bisa lagi mundur untuk menata ulang sejarah bangsa. Saya juga tak bisa terlampau jauh menatap masa depan yang berkabut, terlebih dengan beban sejarah yang senantiasa memukul mundur. Tidak ada obat panasea untuk semua persoalan kita.

Apa yang bisa kita lakukan, pada akhirnya, adalah dengan mencatat kemenangan-kemenangan kecil. Apa maksudnya? Kita bisa berpijak pada hari ini saja dan mencetak peluang gol yang ada di depan. Kita tak perlu terbebani dengan sejarah atau dibutakan utopia masa depan. Kenapa kita tak memanfaatkan detik yang tengah kita lalui untuk memberi arti pada kehidupan berbangsa dan bernegara?

Itu pula yang saya pikirkan ketika memutuskan untuk melanjutkan studi. Banyak pertaruhan yang saya lakukan untuk mengambil putusan itu. Setelah lulus dari program sarjana Sosiologi, Universitas Indonesia, saya bekerja sebagai jurnalis di salah satu media sepak bola nasional. Saya menggenapi cita-cita masa remaja saya dengan persis. Bukan hanya pekerjaan sebagai jurnalis, tapi media yang saya targetkan pun benar-benar saya dapatkan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa ada yang tak pas pada tempatnya.

Ada lubang pada diri saya belum terisi dengan meraih cita-cita masa remaja itu. Saya berpikir dan merenung selama beberapa waktu, lalu mendapatkan sebuah hipotesis. Mungkin, pikir saya saat itu, saya terlalu fokus pada diri sendiri dan kurang memerhatikan apa yang di luar diri sendiri. Pemenuhan diri, pada akhirnya, bukanlah tentang kita sendiri, tapi bagaimana kita bermakna untuk orang lain dan hal-hal di luar kedirian kita.

Dengan itu, saya mulai menata mimpi untuk melanjutkan studi S2. Simpel saja, ketika berniat untuk berperan bagi orang lain, jalur akademis adalah yang pertama kali muncul di kepala. Dengan merenungi diri sendiri, saya merasa ranah akademis adalah tempat yang pas bagi saya untuk mengambil secuil peran untuk Indonesia. Semua atribut yang saya punya mengarah ke jalur itu. Meski saya tahu, saya harus mengorbankan cita-cita masa remaja saya demi mendapatkan hal itu.

Lalu kenapa studi di bidang pariwisata? Perjalanan hidup pula yang membawa saya ke sana. Saya gemar melakukan perjalanan, terutama ke berbagai tempat di Indonesia. Saya suka berkelana, melihat keindahan alam, dan mengecap kekayaan budaya Nusantara. Pada mulanya, perjalanan-perjalanan yang saya lakukan lebih bersifat eskapisme. Lambat laun, seiringnya banyaknya tempat yang saya kunjungi, saya mulai memahami dengan lebih seluruh tentang betapa besarnya potensi pariwisata yang negeri ini miliki.

Setelah itu, matematikanya menjadi lebih sederhana. Keinginan berperan untuk bangsa, niat melanjutkan studi, dan ketertarikan pada dunia pariwisata bermuara pada apa yang sedang saya usahakan sekarang. Menempuh studi MSc Leisure, Tourism, Environment di Wageningen University dan belajar di salah satu institusi pendidikan terbaik di dunia adalah jawaban matematika tersebut. Namun, ini bukan hasil akhir.

Saya bermimpi melihat Indonesia tumbuh sebagai negara yang kian matang di segala aspek, secara khusus di sektor pariwisata. Dan saya yakin, saya bisa mengambil peran di dalamnya melalui jalur akademis. Baik itu sebagai dosen, maupun sebagai peneliti bidang pariwisata. Sekecil apa pun, niat dan peran yang dilandasi semangat voluntarism pasti bermakna. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kemenangan-kemenangan kecil.

Post-scriptum: Esai ini saya tulis ketika mendaftar salah satu program beasiswa. Teman saya menyebutnya terlalu “pop”. “Yakin lo mau nulis kaya gitu?” Saya bisa saja membual akan ini dan itu setelah masa studi. Tapi, saya percaya carpe diem adalah jawaban sementara bagi persoalan-persoalan kita. Dan, seringkali kita memang tak kuasa mengkhianati bara ide di dalam kepala. Menulis esai ini adalah perjudian. Saya menang.

Posted in ide