Masa Lalu

Banyak hal yang sudah selesai. Seperti masa lalu. Kita bisa saja menggambarnya ulang di dalam kepala, tapi itu hanya berhenti di situ saja. Yang berlalu telah berlalu. Kadang ia berupa nostalgi, kadang ia berupa pesan dari jauh. Kadang ia berupa bukan apa-apa – hanya sekadar lamunan di tengah malam yang kosong, saat kantuk tak jelang tiba.

Yang menarik adalah berubahnya nuansa. Mulanya memori masa lalu lebih berupa nostalgia yang elegis, tentang sesuatu yang sudah berakhir dan tak ada lagi di sini hari ini. Kita terus mengunyahnya dengan pasrah. Hingga, lambat laun, elegi itu berganti dengan perasaan kangen yang dewasa, yang tak mendamba yang lalu untuk terjadi lagi.

Mungkinkah kita tumbuh dewasa dengan cara seperti ini? Dengan membiarkan masa-masa yang sudah lewat – beserta kenangan tentangnya – mengajari kita perlahan tentang arti kehilangan, menerima, menyintas, dan pasrah? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau mungkin kita hanya terlampau kesepian di dunia yang hiruk pikuk ini.

***

Kota-kota melintasi kepala seperti rangkaian kereta yang berderap di punggung gunung. Satu per satu muncul di hadapan, tapi terlalu segera. Sepersekian detik hilang, berganti dengan yang lain. Begitu terus, hingga tiba-tiba kantuk datang dan lelap membunuh kereta-kereta imajiner itu. Menyudahi kota-kota yang berlarian liar di kepala.

Juga manusia-manusia. Kita berbagi spasi dengan yang lain. Dan dari spasi yang dibagi-bagi itu, cerita mengalir, terpotong-potong menjadi puzzle yang melengkapi keutuhan fragmen. Seringkali, kota tak ada artinya tanpa orang-orang di dalamnya, dimana kita berbagi waktu dan ruang dengan kerinduan masing-masing akan rumah.

Rumah. Dimana rumah? Kita pergi dari rumah, mencari rumah, mendapat rumah, mendamba rumah, kehilangan rumah, merindu rumah. Rumah, akhirnya, bukanlah kediaman. Atau tempat yang ajeg. Ia hanyalah alasan kita untuk bergerak, untuk selalu pulang, untuk selalu mencari yang bukan di sini hari ini. Untuk tersesat sekali lagi.

***

Kepingan-kepingan itu lalu berjejalan. Kadang kita harus melukiskannya, entah lewat kata-kata atau gambar. Tapi, lebih sering, kita membiarkannya hanyut entah kemana. Karena – bukan apa-apa – kita tak sanggup untuk bergerak. Kita pasrah diam mendapati takdir yang pilu ini, yang berwujud ingatan-ingatan dari masa yang lalu.

Lalu, apakah kita harus melawannya? Saya rasa tidak. Yang lalu akan selalu datang sebagai bayangan. Kita tak perlu cemas, karena ia sudah datang berkali-kali dan semua toh baik-baik saja. Justru, semua itu tanda yang asyik bahwa kita telah melalui waktu-waktu yang berharga. Senang dan sedih itu niscaya, berharga itu soal memilih.

Jadi begitu. Ketika nostalgia masa lalu menerkam, sebaiknya kita bernafas dengan tenang. Dan menutup mata. Dan kereta-kereta itu melintasi neuron-neuron yang menghubungkan hari-hari yang berjarak, kota-kota yang berjauhan, dan manusia-manusia yang terpisah. Bersama nostalgia, kita tak akan pernah benar-benar kesepian.

(Depok, 5 Mei 2019)

Posted in ide

Field notes day-xx

I read some articles today, mostly Ingold. I thought: this man is genius. I was wondered how many of his writings fit with my fieldwork. The discussion of sound, for instance. He said that sound is not the object of perception. Instead the perceiver perceives his environment in it (the sound). Sound is the medium for engagement, alike the light.

If he is right, how can I write about the sound of waves in this island? Before I was confused how to observe, or to ask people about their engagement with the sound of the waves. If I apply Ingold’s idea, then I don’t need to do so. Because, in this island, people are always in the sound of waves. Me, too. Practically, we cannot avoid the sound of waves when being-in-the-world of Mappadegat/Ebay. Before I thought there must be some meaning in the sound of waves. But I realized such view is a very Cartesian one, that sound of waves is a tabula rasa that must be filled with meaning which derived from our human mind.

Besides, to repeat, sound is not an object of perception, or even meaning-making process. Reading this also made me think more about meaning/perception. I started this thesis with the aim to know the meaning of waves. Now, I know I have to shift my thinking, because I think meaning is the product of human mind prior the actual engagement with environment. I should shift to perception. And, perception is derived from environmental engagement. Meaning is the product of interpretation of perception. But, as Ingold says, “sometimes we fail to interpret what we perceive”.

Then, I also read his article on painting/drawing and ethnography/anthropology. The former is a very cool philosophical one. He tried to make sense of life through the act of drawing (pen or pencil) and painting (oil painting tradition). Painting is about the compositionality and totality. Drawing is against both. Ingold recounts that there are two views on life. One is alike to painting, the other is alike to drawing.

Life as painting is about thinking/having/making composition. There is a blank surface which has to be filled. There is a frame as boundary. There is a final end, a product, a totality. On the other hand, life as drawing is against composition and totality. Life is always-in-process. There is no ending, only becoming. There is no boundary. The blank surface in the act of drawing is not meant to be filled with composition, but with any kind of marks. When we draw, we don’t think of the end. We are immersed in the actual act of it. In painting, we always imagine the outcome.

Ingold thinks that life-as-drawing is liberating. Because we are free to make mistake, we never think of the end, and there is no ‘frame’ of our action. This is a sort of carpe diem attitude, that life is always here and now. Always becoming. So, what matters is what happens in the middle, not the (imagination of) end per se.

On ethnography/anthropology. This one liberated me as well. There is too much over-use of ‘ethnographicness’ in anthropology and social sciences (ethnographic encounter, ethnographic fieldwork, etc.) His view on ethnography resonates his ideas of engagement with environment. Basically, fieldworker should be engaging, attending, and being attentive with environment (human and nonhuman) in the fieldwork area. He also criticizes the quest for result/data.

Then, come his discussion on ‘education’, ‘correspondence’, and ‘knowledge co-production/co-generation’. For him, anthropological fieldwork (participant-observation) should be the act of education, which means to ‘lead the learner out into the world’ rather than instilling knowledge in to the mind. By doing so, we will do correspondence. It is not about simple questioning and answering activities. It is about (co-)responding. Like letter writers do, they correspond. They write their feeling and thought and wait for the respond. Fieldwork should be like that, like correspondence, not merely question-answer rhetoric. We respond to whatever we encounter in fieldwork, the others (human, nonhuman, environment, society) will respond back. It keeps going on like that until we leave the field.

In correspondence, waiting is very important matter. Ingold argues that ‘waiting’ is necessary. Fieldworker has to be prepared to wait. “Waiting upon things is precisely what it means to attend to them,” he writes. So, prepare and wait and attend. It’s just like surfing. Then, the notion of correspondence relates to knowledge co-production. The knowledge derived from fieldwork is basically co-constituted not only by the fieldworker, but by engagement with environment (human, nonhuman, societal) in the fieldwork site. Reading this made me realize that this is not my fieldwork, this is our fieldwork. By ‘our’, I mean not only people, activities, conversation, feeling, interaction I attend during the fieldwork, but also theoretical discussion with friends and teachers in academic or non-academic settings.

Post-scriptum: I went through my research field notes once again a week ago. It was a kind of poetic-nostalgic to read it. It’s like going back again to Mentawai. This particular day notes, I think, are worthy to be shared here. Written on December 17th, 2017, in the beautiful Ebay settlement – surrounded by the sound of the waves.

Perenungan Digital

Angkot-angkot yang sepi penumpang di Jagakarsa membuat saya termangu. Apa yang telah diberikan ojek online dan bentuk-bentuk ‘revolusi digital’ lainnya? Sekadar disrupsi? Atau, total destruction?

Di kelas, saya menerangkan soal inovasi disruptif dengan elegi di kepala. Saya membayangkan apa yang hilang karena inovasi-inovasi itu. Di skena pejalan, misalnya, komunitas sudah tak banyak lagi. Apakah kita bergerak menjadi (semakin) lebih individualistik dan meninggalkan yang komunal?

Angkot, sebenarnya, memberi kita ruang (publik) untuk berinteraksi dengan warga masyarakat lain. Juga Miniarta yang kian lowong hari-hari ini. Saya selalu suka naik angkutan umum saat jalan-jalan, karena di sanalah sejumput sensasi tentang lokalitas bisa dirasakan. Di ojek online, semuanya cuma sekadar algoritma.

Entahlah. Hari-hari ini saya tiba-tiba saja banyak berpikir soal teori ini: bahwa revolusi digital, inovasi disruptif, atau hal-hal lain di sekitarnya telah membawa kita ke tatanan sosial baru yang lebih individualis. Kita mungkin bertaruh terlalu banyak dengan membiarkannya masuk terlalu dalam ke sendi-sendi kehidupan kita sehari-hari. Saya hanya takut tak ada jalan untuk pulang.

Saya tak tahu apakah paranoia semacam itu berlebihan. Teknologi digital dan berbagai turunannya membuat hidup kita kian (terasa) mudah. Kita cuma perlu duduk di teras dan makanan akan datang tepat di depan pagar. Dan, kita bisa berak sambil memesan tiket pesawat (voila!). Secara praktis, transaksi-transaksi itu memang membutuhkan orang lain. Namun, sebentar, adakah yang human-is di situ?

Entahlah, yang jelas mesin-mesin dan segenap algoritma ini terasa kian mengerikan. Rasanya ini bukan sekadar lagi disrupsi, tapi telah menjadi dominasi. Ia sudah menyetir epistemologi kita dan berusaha menutup ruang-ruang alternatif. Tapi itu cuma teori, kok. Semoga tidak.

Posted in ide

Aural

Suatu siang saya mengendarai motor di Depok, lalu melewati sepetak tanah lapang dimana orang-orang berkumpul, dan lagu Bojo Galak-nya Via Vallen didendangkan. Oh my god.

Seketika saya mengingat Wageningen. Di siang yang lain, di musim panas yang terik di utara, saya duduk-duduk di rumput antara Forum-Orion bersama berandalan mle-indo. Kami menyantap makan siang masing-masing. Setelahnya, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol ndak jelas. Lalu tiba-tiba, saya lupa bagaimana awalnya, lagu Via Vallen diputar di Spotify. Dan kami berdendang. Alamak.

Memori itu tersimpan dan ditengahi oleh suara mbak Via Vallen yang manis. Entah bagaimana caranya, tapi sejak itu, setiap mendengar lagu si biduan, saya selalu mengingat siang di Wageningen itu.

Lambat laun, saya menyadari bahwa pengalaman aural lah yang menjembatani saya-di-Depok dengan memori-memori saya tentang Wageningen. Kisah Via Vallen tadi cuma salah satu. Di lain waktu, saat mendengar azan maghrib dari masjid dekat rumah, saya teringat Sarajevo. Di situ saya pertama kali mendengar bunyi azan di Eropa, pada sebuah subuh setelah beberapa gelas Sarajevsko.

Yang paling sering terasa, sebenarnya, adalah suara knalpot yang terlampau bising. Kala suara itu muncul, saya langsung memejamkan mata, sambil menahan pening di kepala. Lalu, imajinasi saya terbang ke kota kecil yang tak berisik itu. Bising knalpot nyaris tak terdengar di Wageningen, tapi tidak-ada itulah yang justru membuat saya mengingatnya. Di titik ini, ada dan tidak-ada menjelma makna.

Suara dan bukan-suara. Itulah yang menjadi tali yang menghubungkan Jakarta dan Belanda, Depok dan Eropa, selatan dan utara. Setidaknya dalam kasus saya. Dengan itu pula, saya mengingat Ingold dan cendekia-cendekia lain yang banyak menggali soal pengalaman indrawi — yang di dalamnya termasuk pengalaman aural. Bunyi dan telinga menjadi medium yang menghubungkan kota-kota.

Tapi, entahlah. Seperti kata Christal, mungkin saya hiperbolik. Atau terlalu romantis. Atau terlalu banyak waktu luang sehingga sempat-sempatnya memikirkan dan menulis hal-hal seperti ini.

Yuk, dengerin Via Vallen dulu.

Ambivalen(si)

~sebuah catatan akhir tahun.

Ambivalen(si) mungkin kata favorit saya tahun ini. Sejak Siberut hingga berbulan-bulan setelah predikat MSc diberikan di Wageningen, kata itu senantiasa diam di kepala. Ia telah menjadi semacam paradigma. Seperti kacamata yang lewatnya saya belajar memahami hal-hal di dalam dan sekitar saya. Tentu saja saya berhutang pada orang dan ombak Mentawai.

Saya menjalani turlap akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 di Siberut. Penelitian itu untuk tesis saya. Dan salah satu temuan terpentingnya adalah ini: ambivalensi. Orang Mentawai berelasi dengan ombak dengan ambivalensi yang seringkali tak mudah dipahami. Saya membungkusnya lewat berbagai sub-bab.

Pertama adalah soal ombak bagus (maeru koat). Di Mentawai, ombak bagus bisa berarti tak banyak hal. Ia tak pernah tunggal, selalu ambivalen, dan seringkali kontradiktif. Ombak besar misalnya bagus buat surfing tapi tidak untuk memancing. Sebaliknya, ombak kecil bagus buat berpergian tapi tidak untuk aktivitas wisata selancar. Pada dasarnya, orang Mentawai selalu punya alasan untuk merayakan ombak (bagus).

Kedua adalah kontradiksi takut/menyenangkan. Ombak sejak dulu ditakuti orang-orang Mentawai. Ia bersinonim dengan badai dan kemalangan. Tapi, itu bukan narasi satu-satunya. Terlebih sejak kemunculan wisata selancar, orang-orang mulai belajar memahami ombak sebagai nonhuman agency yang menyenangkan. Ia asyik dan menakutkan secara bersamaan. Ambivalensi seperti ini akan sulit dipahami oleh Descartes.

Ketiga adalah apa yang saya konsepsikan sebagai avoidance/encounter. Artinya orang Mentawai menjalin hubungan dengan ombaknya lewat tegangan yang ambivalen untuk menemui/menghindari. Terlebih buat mereka yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau, ombak mau tak mau harus ditemui. Juga untuk mereka yang doyan surfing. Tapi dalam pertemuan itu, mereka juga tahu bahwa menghindari adalah sebuah keharusan.

Keempat adalah hubungan asosiatif yang ambivalen antara ombak dengan badai dan kepiting (aggau). Di Mentawai, musim ombak adalah musim badai sekaligus musim aggau. Dua hal itu mengandung kontradiksi. Jika badai dihindari dan ditakuti karena berpotensi menghadirkan kemalangan, aggau justru dicari-cari dan dinanti karena bermakna rejeki. Dalam tensi antara bahaya dan nikmat itulah orang Mentawai hidup dengan ombaknya.

Terakhir adalah soal keintiman. Walau dihantui kengerian akan ombak, orang Mentawai menjalin relasi yang intim dengan ombaknya. Intim tak melulu harus yang manis-manis, atau yang romantis-romantis. Keintiman seringkali adalah kedekatan yang ambivalen, yang kontradiktif, yang tak mudah dimengerti. Ia adalah sebuah keharusan untuk merespon kehidupan.

Ambivalensi-ambivalensi itu membantu saya memahami banyak hal lain di luar Siberut, universitas, maupun jurnal-jurnal ilmiah. Ternyata kita tak pernah luput dari yang ambivalen-ambivalen di kehidupan sehari-hari. Tengoklah. Renungkanlah. Hidup itu nyatanya tak pernah hitam atau putih, baik atau buruk, rajin atau malas, pintar atau bodoh. Selama ini, cara-cara berpikir yang dualistik itu telah memenjara kewarasan kita.

Oleh karena itu, di awal saya menyebut ambivalen(si) sebagai paradigma. Ia membantu kita berpikir, memahami, merasa, melihat, mendengar, atau mengecap di luar konstruk-konstruk Cartesian. Dualisme-dualisme telah menyatron kehidupan kita, telah meng-over simplify hidup menjadi label-label dan garis-garis yang tegas. Padalah, kehidupan tak pernah sekaku dan semembosankan itu. Ia cair, tak berbentuk, dan bergaris putus-putus.

Garis putus-putus itu yang menjadi inti hidup. Ia menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Kita bisa menjadi apa saja. Tak harus hitam, tak harus putih. Tak harus baik, tak harus buruk. Kita adalah keduanya, atau bukan sama sekali, atau campuran keduanya. Kita bisa baik dan jahat sekaligus, kita jenius dan bodoh sekaligus, kita bahagia dan sedih sekaligus. Sejak dulu begitu. Cuma kita lebih sering lupa akan kenyataan sederhana itu.

Maka, di penghujung tahun ini, saya ingin mengingat lagi soal itu. Saya ingin merekonsiliasi ontologi dan epistemologi kita yang selama ini disandera cara-cara berpikir Cartesian. Saya ingin merayakan hidup yang penuh ambivalensi ini. Bahwa hidup itu enak dan penuh onak secara bersamaan. Seperti orang Mentawai dan ombaknya, kita selalu punya alasan untuk merayakan kehidupan. Mari tertawa/menangis bersama-sama di bumi.

(Depok, 28 Desember 2018)

Gaia

Ini cerita kecil tentang meja dan lift, di Gaia.

Di pojok barat, lantai tiga, saya terbiasa mengerjakan tesis mini disana. Di luar ruangan, ada coffee machine tempat saya biasa membuang uang untuk cappuccino, untuk memberi alasan yang (tidak) logis untuk terus bekerja, berada di depan komputer berjam-jam untuk entah-apa. Di luar ruangan, juga ada seperangkat meja dan kursi. Mereka ada di tengah-tengah antara dua sayap (wing A dan B). Mereka ada di-antara.

Suatu waktu, saya bosan di dalam ruangan, lalu keluar untuk mengusir suntuk. Lama saya mengamati meja dan kursi di tengah-tengah kedua sayap itu. Yang saya bayangkan ketika melihat meja-kursi itu adalah negeri di selatan sana. “Jika ini di Indonesia, pasti meja dan kursi itu takkan pernah berhenti diisi. Apalagi kalau di Mentawai,” pikir saya saat itu. Sementara, tidak di sini. Meja-kursi itu lebih sering kosong dan kesepian. Orang-orang lebih suka berada di ruang kecil masing-masing dan mengerjakan omong kosong masing-masing.

Oleh karena mengamati meja-kursi itulah, entah bagaimana caranya, saya sepenuhnya menyadari bahwa kita di selatan, di Indonesia, hidup dengan komunalisme yang begitu natural. Kita tak perlu diajari untuk berkumpul, kita pasti akan kumpul. “Makan nggak makan yang penting kumpul,” kira-kira begitu adagium populernya. Kita bernafas, tumbuh, belajar, hidup, dan bercita-cita sebagai komunal. Bukan individual. Semua ada dan dirumuskan di yang komunal itu. Mungkin itulah kenapa barat terasa begitu asing.

Tentu saja, ada kolonialisme, lalu poskolonialisme, lalu neokolonialisme. Barat menyetir cara berpikir kita, dan menggeser komunal dengan individual. Kita diajari untuk berdiri sendiri, menjadi ubermensch ala Nietzsche atau manusia merdeka ala filsafat-filsafat eksistensialis Prancis. Yang dihitung adalah yang tunggal, yang individual. Kelompok disulap cuma jadi statistik untuk kepentingan marketing. Eropa memberi kita diktat tebal tentang individualisme dan tetek-bengek lain yang akan menjadi konsekuensi organik darinya.

Jadi, saya rasa, kita terjebak pada ketegangan itu, pada ambivalensi antara individual dan komunal. Pada suatu tesis, seseorang menulis demikian di kata pengantar: “I write this text in a modern/colonial/scientific/egoistic I” bla bla. Sedang, lewat kasus-kasus orientalisme, saya menduga (European/Western) Self adalah akar masalah. Atau bukan. Masalah sebenarnya adalah kita menelan mentah-mentah konsep Self itu, dan menciptakan translasi yang terlalu dipaksakan di selatan. It should be selves (yes, without capital S) in the south.

Lalu, meminjam pikiran-pikiran decolonial, saya rasa kita harus sepenuhnya kembali ke we. Tak ada yang salah dengan menjadi dan berpikir sebagai komunal. Tak ada yang keliru apabila keputusan-keputusan kita disusun, tanpa sadar, secara komunal; dengan mempertimbangkan tubuh-tubuh lain di luar tubuh kita, yang tak hanya terkait, tapi secara inheren tak terpisahkan. Secara alamiah, itu semua memang realitas sehari-hari di selatan sana. Sebenarnya, tulisan ini cuma untuk mengingatkan diri sendiri, terlebih jelang pulang.

***

Setelah meja adalah lift. Gaia terdiri dari 4 lantai, termasuk lantai dasar. Jadi lift cukup sentral. Secara literal, ia ada di tengah-tengah. Seperti menjadi semacam episentrum dari kegaduhan akademik di seisi gedung. Ada dua lift dan mereka saling berhadapan. Yang satu lebih besar dari yang lain. Saya lebih suka yang kecil, tapi entah kenapa saya selalu menekan tombol keduanya saat ingin naik-turun lift. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Itu yang saya pikirkan, pada suatu sore saat pulang ke rumah. Seperti cerita meja, ini juga kisah yang absurd. Saya tak tahu menahu darimana datangnya. Kenapa saya tak menekan tombol lift kecil saja, lalu menunggu. Di Dijkgraaf, tempat tinggal saya, saya juga kadang suka menekan tombol ketiga lift yang ada di lantai dasar. Padahal, lift yang tiba tepat di lantai 15, dimana kamar saya berada, cuma satu. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Seperti yang sudah saya tulis di kesempatan lain, saya rasa generasi kita/saya punya masalah filosofis terhadap waktu. Kita dibesarkan oleh yang instan-instan. Kita tumbuh dengan sms dan whatsapp, bukan surat. Jadi, kita tak terbiasa menunggu. Kita tak boleh diam di depan lift yang satu dan harus mencari cara agar secepatnya bisa naik atau turun. Kita akan mengambil yang pertama tiba. Lebih cepat lebih baik, seperti kata Pak Wapres.

(non)paralel

I. Porto

Februari 2017. Porto, pada suatu hari musim dingin yang cerah. Saya mengikuti free walking tour. Grup kami kecil, tak lebih dari 10 orang. Dari patung seorang ksatria di atas kuda, kami berjalan kaki melintasi gang-gang Porto yang manis. Lalu, selesai. Setelah itu, saya dan seorang Amerika makan siang bersama. Kami melahap Francesinha, lalu menenggak Super Bock. Dan obrolan bergulir di atas meja.

Ia dari California. Tapi, beberapa tahun ke belakang tinggal dan mengajar di Madrid. Amerika melelahkan, katanya. Orang-orang dengan kehidupan seperti robot, katanya. Cuma uang yang di kepala. Spanyol, dan gaya hidupnya yang rileks, memikatnya. Siesta adalah simbolisme untuk itu. Tapi juga hal-hal lain, seperti minum bir pada jam 10 pagi. Kita bisa melihat betapa santainya orang Spanyol menjalani hidup.

Lalu, pada satu momen, ia memberi saya pertanyaan yang mengejutkan. Apa hal yang paling berharga buat kamu? Ini pertama kalinya saya diberi pertanyaan ini. Dan, yang lebih mengejutkan, saya menjawabnya dengan spontan dan lekas. Keluarga. Kata itu keluar begitu saja, tanpa proses translasi dari pikiran ke mulut. Ia seperti sudah lama berdiam di mulut dan menunggu untuk keluar sebagai ucapan.

II. Firenze

Juli 2018. Pagi yang sumuk di Toscana. Saya memulainya dengan malas, dengan membeli pisang di kios kecil dekat hostel. Pemiliknya sepasang kakek nenek yang ramah. Saya bertukar bahasa Italia yang patah-patah dengan mereka. Lalu, saya menyantapnya di dapur hostel, sambil menunggu kopi mendingin sedikit. Dan, seorang gadis Meksiko masuk ke dapur. “Here can we drink from tap water?” tanyanya.

Kemudian ia duduk di depan saya. Kita mengobrol. Ia tinggal di Dublin selama satu semester, untuk belajar dan memperlancar bahasa Inggris. Sialnya, lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi orang Brasil. Alih-alih lancar bahasa Inggris, sekarang ia bisa sedikit bahasa Portugis. Hidup kadang menarik. Hal-hal seperti inilah yang, saya duga, menyelamatkan kita dari keharusan bernama bunuh diri.

Pertanyaan itu tiba juga. Kamu mau pulang setelah lulus? Iya dong, jawab saya. I don’t see myself living in Europe, lanjut saya. Tentu saja Eropa menarik, tapi bukan untuk jangka panjang. ‘Dutch salary’ tak cukup menggiurkan. Sejak dulu saya percaya ada hal-hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Tapi saya tak bisa menjelaskan kenapa saya selalu ingin pulang. Saya rasa karena ‘rumah’ dalam artian yang filosofis.

Lalu, saya tanya gadis Meksiko itu dengan pertanyaan yang sama. Yes I also want to go back to Mexico, jawabnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang dari selatan ingin tinggal di utara. Katanya: saya cuma mau tinggal dekat dengan orang-orang yang saya cintai (‘loved ones’), dengan keluarga. Seketika itu saya mengingat Porto. Ada semacam garis imajiner yang menghubungkan dua peristiwa ini.

III. Leiden

Agustus 2018. Joshua membuka dialog di dalam kereta. Gue selalu bingung dan kesal setiap ditanya ‘do you want to go back to your country?’ Buatnya, pertanyaan itu sama sekali tak relevan. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas berarti bukan pertanyaan. Tentu saja ia ingin pulang. Paling lama 2020, katanya. Belanda terlalu menjemukan: keju, roti, musim dingin, angin. Kenya adalah rumah. Di situ persoalan tuntas.

Saya balas bahwa saya juga sering dapat pertanyaan yang sama saat jalan-jalan. Saya juga bingung kenapa selalu dapat pertanyaan semacam itu. Mungkin, di tengah isu pengungsi yang masih hangat di Eropa, orang-orang melihat pendidikan sebagai jalan menuju migrasi. Sekolah hanya kedok untuk mencari kehidupan yang lebih ‘layak’ (meh!) di utara. Di sini, kekerasan epistemik sedang terjadi.

Orang kerap lupa bahwa hidup itu plural, mengandung warna-warni pengetahuan. Lalu saya cerita ke Joshua tentang peristiwa di Firenze. Mungkin kita bisa punya banyak duit dan karir bagus di Belanda, tapi apa gunanya jauh dari keluarga. Kata-kata saya meniru si gadis Meksiko. Yang berharga di utara dan selatan belum tentu sama. Dan kita harusnya tahu itu sebelum ditelan eurosentrisme. Exactly, tandasnya.

Ode for tourism

Saya berjalan di Assisi, seperti mayat hidup yang melintasi lanskap Umbria, gereja-gereja tua, toko-toko cinderamata, restoran, pizzeria, cafetaria, dan tanda-tanda yang memuaskan pengalaman yang saya/kita cari sejak dulu di rumah. Turisme, saya rasa, telah menjadi terlampau banal hari-hari ini.

Saya bagian dari ‘golden hordes’ yang mengerikan itu. Gerombolan manusia yang mencari omong kosong di kota yang asing. Saya berjalan di (dan menuju ke) Assisi seperti mayat tanpa nyawa, dituntun Lonely Planet atau panduan wisata atau rekomendasi tourist center. Setelahnya adalah repetisi.

Kita hidup di ketegangan antara mixophobia dan mixopholia, Bauman seperti berbisik di telinga. Suaranya seperti datang dari tempat yang jauh, tapi terasa dekat. Oh Zygmunt yang malang, kenapa kau mati terlalu lekas? Turisme ada di sentral ketegangan itu. Kita mencari yang liyan lewat paket-paket wisata, tapi takut setengah mati oleh pengungsi yang kulit dan agamanya tak sama. Kita ini bajingan atau apa sih?

Di Perugia, pada suatu siang yang sendu, di tengah bangunan-bangunan abad pertengahan yang memusingkan, di antara alunan jazz yang sedih, saya dipukul telak oleh pikiran sendiri: dia yang tinggal di kotanya hari-hari ini, yang tak pergi kemana pun, sebenarnya sedang menawarkan revolusi.

Kita dibuai imaji heroik tentang petualang-petualang Iberia jaman dulu, atau orang-orang kulit putih yang melintasi gurun-gurun sepi di Afrika Utara dan hutan-hutan liar di Kalimantan. Tapi tidak hari ini kawan. Yang heroik adalah ia yang duduk santai di teras rumahnya; ia yang tak bernafsu untuk keluar melihat dunia; ia yang tak dijejal gairah melihat yang liyan; ia yang tak berkelana kemana-mana.

Hari ini, di masa dimana kita mengenal istilah overtourism, yang menandai era paska-kapitalisme, dimana kemakmuran dan keserakahan tersebar seperti daun-daun musim gugur, memutuskan tak kemana-mana adalah revolusi. Hari ini, saya cuma ingin minum kopi di teras rumah dan membaca Pramoedya.

Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. Musik  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…