Gaia

Ini cerita kecil tentang meja dan lift, di Gaia.

Di pojok barat, lantai tiga, saya terbiasa mengerjakan tesis mini disana. Di luar ruangan, ada coffee machine tempat saya biasa membuang uang untuk cappuccino, untuk memberi alasan yang (tidak) logis untuk terus bekerja, berada di depan komputer berjam-jam untuk entah-apa. Di luar ruangan, juga ada seperangkat meja dan kursi. Mereka ada di tengah-tengah antara dua sayap (wing A dan B). Mereka ada di-antara.

Suatu waktu, saya bosan di dalam ruangan, lalu keluar untuk mengusir suntuk. Lama saya mengamati meja dan kursi di tengah-tengah kedua sayap itu. Yang saya bayangkan ketika melihat meja-kursi itu adalah negeri di selatan sana. “Jika ini di Indonesia, pasti meja dan kursi itu takkan pernah berhenti diisi. Apalagi kalau di Mentawai,” pikir saya saat itu. Sementara, tidak di sini. Meja-kursi itu lebih sering kosong dan kesepian. Orang-orang lebih suka berada di ruang kecil masing-masing dan mengerjakan omong kosong masing-masing.

Oleh karena mengamati meja-kursi itulah, entah bagaimana caranya, saya sepenuhnya menyadari bahwa kita di selatan, di Indonesia, hidup dengan komunalisme yang begitu natural. Kita tak perlu diajari untuk berkumpul, kita pasti akan kumpul. “Makan nggak makan yang penting kumpul,” kira-kira begitu adagium populernya. Kita bernafas, tumbuh, belajar, hidup, dan bercita-cita sebagai komunal. Bukan individual. Semua ada dan dirumuskan di yang komunal itu. Mungkin itulah kenapa barat terasa begitu asing.

Tentu saja, ada kolonialisme, lalu poskolonialisme, lalu neokolonialisme. Barat menyetir cara berpikir kita, dan menggeser komunal dengan individual. Kita diajari untuk berdiri sendiri, menjadi ubermensch ala Nietzsche atau manusia merdeka ala filsafat-filsafat eksistensialis Prancis. Yang dihitung adalah yang tunggal, yang individual. Kelompok disulap cuma jadi statistik untuk kepentingan marketing. Eropa memberi kita diktat tebal tentang individualisme dan tetek-bengek lain yang akan menjadi konsekuensi organik darinya.

Jadi, saya rasa, kita terjebak pada ketegangan itu, pada ambivalensi antara individual dan komunal. Pada suatu tesis, seseorang menulis demikian di kata pengantar: “I write this text in a modern/colonial/scientific/egoistic I” bla bla. Sedang, lewat kasus-kasus orientalisme, saya menduga (European/Western) Self adalah akar masalah. Atau bukan. Masalah sebenarnya adalah kita menelan mentah-mentah konsep Self itu, dan menciptakan translasi yang terlalu dipaksakan di selatan. It should be selves (yes, without capital S) in the south.

Lalu, meminjam pikiran-pikiran decolonial, saya rasa kita harus sepenuhnya kembali ke we. Tak ada yang salah dengan menjadi dan berpikir sebagai komunal. Tak ada yang keliru apabila keputusan-keputusan kita disusun, tanpa sadar, secara komunal; dengan mempertimbangkan tubuh-tubuh lain di luar tubuh kita, yang tak hanya terkait, tapi secara inheren tak terpisahkan. Secara alamiah, itu semua memang realitas sehari-hari di selatan sana. Sebenarnya, tulisan ini cuma untuk mengingatkan diri sendiri, terlebih jelang pulang.

***

Setelah meja adalah lift. Gaia terdiri dari 4 lantai, termasuk lantai dasar. Jadi lift cukup sentral. Secara literal, ia ada di tengah-tengah. Seperti menjadi semacam episentrum dari kegaduhan akademik di seisi gedung. Ada dua lift dan mereka saling berhadapan. Yang satu lebih besar dari yang lain. Saya lebih suka yang kecil, tapi entah kenapa saya selalu menekan tombol keduanya saat ingin naik-turun lift. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Itu yang saya pikirkan, pada suatu sore saat pulang ke rumah. Seperti cerita meja, ini juga kisah yang absurd. Saya tak tahu menahu darimana datangnya. Kenapa saya tak menekan tombol lift kecil saja, lalu menunggu. Di Dijkgraaf, tempat tinggal saya, saya juga kadang suka menekan tombol ketiga lift yang ada di lantai dasar. Padahal, lift yang tiba tepat di lantai 15, dimana kamar saya berada, cuma satu. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Seperti yang sudah saya tulis di kesempatan lain, saya rasa generasi kita/saya punya masalah filosofis terhadap waktu. Kita dibesarkan oleh yang instan-instan. Kita tumbuh dengan sms dan whatsapp, bukan surat. Jadi, kita tak terbiasa menunggu. Kita tak boleh diam di depan lift yang satu dan harus mencari cara agar secepatnya bisa naik atau turun. Kita akan mengambil yang pertama tiba. Lebih cepat lebih baik, seperti kata Pak Wapres.

Advertisements

(non)paralel

I. Porto

Februari 2017. Porto, pada suatu hari musim dingin yang cerah. Saya mengikuti free walking tour. Grup kami kecil, tak lebih dari 10 orang. Dari patung seorang ksatria di atas kuda, kami berjalan kaki melintasi gang-gang Porto yang manis. Lalu, selesai. Setelah itu, saya dan seorang Amerika makan siang bersama. Kami melahap Francesinha, lalu menenggak Super Bock. Dan obrolan bergulir di atas meja.

Ia dari California. Tapi, beberapa tahun ke belakang tinggal dan mengajar di Madrid. Amerika melelahkan, katanya. Orang-orang dengan kehidupan seperti robot, katanya. Cuma uang yang di kepala. Spanyol, dan gaya hidupnya yang rileks, memikatnya. Siesta adalah simbolisme untuk itu. Tapi juga hal-hal lain, seperti minum bir pada jam 10 pagi. Kita bisa melihat betapa santainya orang Spanyol menjalani hidup.

Lalu, pada satu momen, ia memberi saya pertanyaan yang mengejutkan. Apa hal yang paling berharga buat kamu? Ini pertama kalinya saya diberi pertanyaan ini. Dan, yang lebih mengejutkan, saya menjawabnya dengan spontan dan lekas. Keluarga. Kata itu keluar begitu saja, tanpa proses translasi dari pikiran ke mulut. Ia seperti sudah lama berdiam di mulut dan menunggu untuk keluar sebagai ucapan.

II. Firenze

Juli 2018. Pagi yang sumuk di Toscana. Saya memulainya dengan malas, dengan membeli pisang di kios kecil dekat hostel. Pemiliknya sepasang kakek nenek yang ramah. Saya bertukar bahasa Italia yang patah-patah dengan mereka. Lalu, saya menyantapnya di dapur hostel, sambil menunggu kopi mendingin sedikit. Dan, seorang gadis Meksiko masuk ke dapur. “Here can we drink from tap water?” tanyanya.

Kemudian ia duduk di depan saya. Kita mengobrol. Ia tinggal di Dublin selama satu semester, untuk belajar dan memperlancar bahasa Inggris. Sialnya, lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi orang Brasil. Alih-alih lancar bahasa Inggris, sekarang ia bisa sedikit bahasa Portugis. Hidup kadang menarik. Hal-hal seperti inilah yang, saya duga, menyelamatkan kita dari keharusan bernama bunuh diri.

Pertanyaan itu tiba juga. Kamu mau pulang setelah lulus? Iya dong, jawab saya. I don’t see myself living in Europe, lanjut saya. Tentu saja Eropa menarik, tapi bukan untuk jangka panjang. ‘Dutch salary’ tak cukup menggiurkan. Sejak dulu saya percaya ada hal-hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Tapi saya tak bisa menjelaskan kenapa saya selalu ingin pulang. Saya rasa karena ‘rumah’ dalam artian yang filosofis.

Lalu, saya tanya gadis Meksiko itu dengan pertanyaan yang sama. Yes I also want to go back to Mexico, jawabnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang dari selatan ingin tinggal di utara. Katanya: saya cuma mau tinggal dekat dengan orang-orang yang saya cintai (‘loved ones’), dengan keluarga. Seketika itu saya mengingat Porto. Ada semacam garis imajiner yang menghubungkan dua peristiwa ini.

III. Leiden

Agustus 2018. Joshua membuka dialog di dalam kereta. Gue selalu bingung dan kesal setiap ditanya ‘do you want to go back to your country?’ Buatnya, pertanyaan itu sama sekali tak relevan. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas berarti bukan pertanyaan. Tentu saja ia ingin pulang. Paling lama 2020, katanya. Belanda terlalu menjemukan: keju, roti, musim dingin, angin. Kenya adalah rumah. Di situ persoalan tuntas.

Saya balas bahwa saya juga sering dapat pertanyaan yang sama saat jalan-jalan. Saya juga bingung kenapa selalu dapat pertanyaan semacam itu. Mungkin, di tengah isu pengungsi yang masih hangat di Eropa, orang-orang melihat pendidikan sebagai jalan menuju migrasi. Sekolah hanya kedok untuk mencari kehidupan yang lebih ‘layak’ (meh!) di utara. Di sini, kekerasan epistemik sedang terjadi.

Orang kerap lupa bahwa hidup itu plural, mengandung warna-warni pengetahuan. Lalu saya cerita ke Joshua tentang peristiwa di Firenze. Mungkin kita bisa punya banyak duit dan karir bagus di Belanda, tapi apa gunanya jauh dari keluarga. Kata-kata saya meniru si gadis Meksiko. Yang berharga di utara dan selatan belum tentu sama. Dan kita harusnya tahu itu sebelum ditelan eurosentrisme. Exactly, tandasnya.

Ode for tourism

Saya berjalan di Assisi, seperti mayat hidup yang melintasi lanskap Umbria, gereja-gereja tua, toko-toko cinderamata, restoran, pizzeria, cafetaria, dan tanda-tanda yang memuaskan pengalaman yang saya/kita cari sejak dulu di rumah. Turisme, saya rasa, telah menjadi terlampau banal hari-hari ini.

Saya bagian dari ‘golden hordes’ yang mengerikan itu. Gerombolan manusia yang mencari omong kosong di kota yang asing. Saya berjalan di (dan menuju ke) Assisi seperti mayat tanpa nyawa, dituntun Lonely Planet atau panduan wisata atau rekomendasi tourist center. Setelahnya adalah repetisi.

Kita hidup di ketegangan antara mixophobia dan mixopholia, Bauman seperti berbisik di telinga. Suaranya seperti datang dari tempat yang jauh, tapi terasa dekat. Oh Zygmunt yang malang, kenapa kau mati terlalu lekas? Turisme ada di sentral ketegangan itu. Kita mencari yang liyan lewat paket-paket wisata, tapi takut setengah mati oleh pengungsi yang kulit dan agamanya tak sama. Kita ini bajingan atau apa sih?

Di Perugia, pada suatu siang yang sendu, di tengah bangunan-bangunan abad pertengahan yang memusingkan, di antara alunan jazz yang sedih, saya dipukul telak oleh pikiran sendiri: dia yang tinggal di kotanya hari-hari ini, yang tak pergi kemana pun, sebenarnya sedang menawarkan revolusi.

Kita dibuai imaji heroik tentang petualang-petualang Iberia jaman dulu, atau orang-orang kulit putih yang melintasi gurun-gurun sepi di Afrika Utara dan hutan-hutan liar di Kalimantan. Tapi tidak hari ini kawan. Yang heroik adalah ia yang duduk santai di teras rumahnya; ia yang tak bernafsu untuk keluar melihat dunia; ia yang tak dijejal gairah melihat yang liyan; ia yang tak berkelana kemana-mana.

Hari ini, di masa dimana kita mengenal istilah overtourism, yang menandai era paska-kapitalisme, dimana kemakmuran dan keserakahan tersebar seperti daun-daun musim gugur, memutuskan tak kemana-mana adalah revolusi. Hari ini, saya cuma ingin minum kopi di teras rumah dan membaca Pramoedya.

Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. Musik  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…

Teras #2

Sejak dulu, saya selalu suka teras. Tempat favorit saya di rumah adalah teras. Saya sedih ketika teras rumah diperkecil, pada suatu waktu. Saya suka baca buku atau ngelamun-ngelamun nggak jelas di teras. Atau liat hujan, tentu saja kalau ada hujan. Kalau tidak hujan, saya lihat-lihat tanaman aja. Kadang beberapa orang lewat di depan rumah, jadi obyek lamunan saya. Sering saya bayangkan gimana rasanya menjalani kehidupan orang lain.

Di Mentawai, passion terselubung saya terhadap teras menemukan wujudnya lagi. Secara filosofis, arsitektur rumah tradisional Mentawai menaruh titik berat yang penting pada teras. Di sana fungsi-fungsi sosio-kultural terbentuk dan terjalin, berpilin menjadi kerumitan-kerumitan yang kadang tak terselami. Laurens Bakkers menulis bahwa waktu senggang paling favorit bagi orang Mentawai adalah duduk-duduk di teras dan ngobrol.

Ngobrol adalah bagian penting bagi masyarakat yang punya tradisi lisan kuat. Seperti Mentawai. Cerita-cerita mengalir di teras. Dalam spasi itulah, kadang-kadang petuah, pepatah, sumpah serapah, dan konflik soal tanah tumpah ke pembahasan. “Kita ya biasa begini. Duduk-duduk di teras, ngopi sambil ngobrol. Kalau sendiri di teras nggak asik,” kata seseorang di Mappadegat. Disana ada nuansa komunalisme yang kuat. Mungkin juga egalitarianisme?

Intinya, teras itu penting buat orang Mentawai. Juga buat orang-orang lain juga, mungkin, seperti saya. Tinggal di Mentawai berminggu-minggu membuat saya berjanji ke diri sendiri: kalau nanti punya rumah sendiri, terasnya mesti gede kaya teras-teras rumah Mentawai. Spasi itu harus dibangun. Jarak itu harus dirancang. Supaya ruang-ruang sosial terbuka. Supaya cerita-cerita keluar. Supaya batas-batas yang tak diinginkan menguar. Lenyap ke luar.

Ngomong-ngomong, saya nulis ini juga di teras. Mungkin, selama tinggal disini, 90 persen aktivitas saya terjadi di teras. Sisanya di kamar, dapur, dan kamar mandi. Ruang privat adalah hal yang tak biasa di Siberut. Nyaris semuanya harus komunal. Harus bareng-bareng. Teras adalah manifestasi untuk itu. Mungkin juga faktor pendorong. Kok, tiba-tiba jadi ke-kuantitatif-an gini sih? Pakai persentase dan ‘faktor’ segala. Kangen kali ya. Caelah.

(Mappadegat, 9 Desember 2017)

Berkebun, Berladang, Membeli

Di homestay Yupi, aku memandang tanaman-tanaman di taman. Aku membayangkan prosesnya. Saat tanaman-tanaman itu ditanam, mungkin berbulan-bulan yang silam. Atau mungkin hitungan tahun. Aku mengingat halaman di depan rumahku. Aku mengingat seorang tukang kebun yang kerap datang ke rumah, untuk membantu ibu merangkai taman kecilnya. Aku mengingat Tante Lina di Stade, yang saat ini mungkin sedang mengurus kebunnya. “Berkebun itu seperti meditasi,” kata dia pada suatu waktu. Di Mappadegat, Hiber suatu sore bercerita soal hobinya mengurus taman. Ia suka menanam, melihat tanaman-tanaman itu tumbuh. Entah tahun depan atau kapan. Hingga taman itu menjadi penuh warna, menjadi indah seperti hari pertama musim semi. Menanam, mungkin saja, adalah sebuah perjudian. Atau mungkin ia sebentuk kesabaran. Menanam adalah proses yang tak sebentar. Ia perlu bulan-bulan yang panjang.

Begitu juga ladang. Kemarin aku pergi ke ladang bersama Yusuf dan Mamak. Aku memandang Lemanus menebang sagu yang sudah tinggi besar. Pohon raksasa itu jatuh begitu saja ke tanah, seperti seorang pejuang yang gugur. Ladang Mamak dipenuhi berbagai macam tanaman. Ada cengkeh, sagu, pisang, pinang, dan jenis-jenis lain yang tak ia ketahui dalam Bahasa Indonesia. Tanaman-tanaman itu telah menjadi bagian dirinya, bagian dari budayanya. Sehingga Bahasa tak sanggup membuatnya cerai dari tanaman-tanamannya. Mungkin saja ia menanam mereka bertahun-tahun yang lalu. Setiap sore ia pergi ke ladang, untuk melihat tanaman-tanaman itu tak berubah. Tapi, pada suatu hari, ia mendapati mereka sudah tumbuh besar. Berladang, seperti berkebun, adalah prosesi waktu yang tak bisa kita beli di internet. Orang Mentawai punya ungkapan favorit: Moili moili. Pelan-pelan, kata mereka. Kenapa harus buru-buru?

Dan aku mengingat kota. Serta orang-orang yang tak sabaran. Instan adalah mantra. Ia adalah jawaban segala persoalan urban. Di kota, proses menjadi semacam hantu. Semuanya ada di toko. Semua bisa disulap dalam hitungan detik. Semua serba tergesa-gesa. Mereka lupa bahwa selalu ada yang berdiri di tengah-tengah. Menuai, menabur. Menanam, memanen. Kita, anak-anak kota, telah mencabut diri dari tanah, dari laut, dari cuaca yang tak bisa diintervensi. Lalu, aku membayangkan diriku berdiri di depan rak-rak di Jumbo Tarthorst. Membeli pisang, paprika, dan sperziebonen. Mereka telah dipangkas dari tanahnya, mungkin di Afrika atau Amerika Selatan. Kemudian dikirim ke Eropa Barat sebagai komoditi, sebagai alasan untuk menjadi kaya. Dan kenyang. Dan kita tak peduli tentang itu semua. Tentang bulan-bulan yang berlalu sejak seorang peladang menanamnya di tanah. Sejak bibit-bibit itu terkurung di perut bumi.

(Mappadegat, 30 November 2017)

Choices

There is always something poetic about choices. However rational it is, the act of making choice is purely gambling. We never really know what we are going to get. At least, if you believe in uncertainty of everything in life. We choose and we may regret. We choose and we may not regret. That is what make us humane.

Imagine how many times we made choices in life. Imagine how many times we regretted and wished to turn back clock. But, maybe, it is not a matter of avoiding the regret. I remember one kind of post-modern suggestion: don’t regret the regret. It sounded catchy at the first time. Now, it makes more sense every time I think of it.

In the age of plethora of choices, from practical things in supermarket to philosophical matters, making choices is what define us. Even, not choosing is a choice. However, it has never been a skill. It is not something we can polish so it becomes better. Not like that. No matter how often we made choices, we can always be wrong.

Sometimes we follow the rationale. Sometimes we follow the guts. Sometimes it goes well. Sometimes it is not. There is no mathematic in it. There is no magic crystal ball. Maybe, we only need to accept it. That choices we make can always go south. But, it can also be the greatest decision we ever made. We never really know.

Whenever we make choice, just imagine the world without choices.

Posted in ide

Indrani

Pada suatu Sabtu, saya pergi ke Toko Indrani. Salah satu toko bahan makanan Asia di Wageningen. Memasuki Indrani adalah semacam ziarah ke rumah.

Saya tak mengerti bagaimana harum bumbu-bumbu makanan bisa menjadi kendaraan untuk pulang ke rumah. Tapi itu yang terjadi ketika saya berjalan memasuki lorong-lorong di Indrani. Setidaknya dalam satu atau dua detik.

Cabe rawit, lengkuas, asam jawa, dan lain sebagainya seperti membopong saya kembali ke dapur di rumah yang saya tinggali selama 24 tahun. Saya seperti melihat ibu dan nenek saya sedang memasak kering tempe atau soto ayam. Saya seperti memandangi ayah saya membakar ikan dan meracik sambal super pedas.

Saya jadi teringat salah satu artikel yang saya lupa dimana. Bukan tentang wangi atau harum atau bau makanan. Tapi tentang suara. Si penulis seperti mendengar suara ayahnya yang sudah meninggal ketika mendengar teman ayahnya berbicara lewat telepon. Ingatan tentang suara ayahnya seperti berkeliling di kepala.

Mungkin hal yang sama saya alami ketika menelusuri rak-rak Indrani. Semacam perasaan tanpa nama yang aneh. Mirip juga dengan ekstase yang saya rasakan kala menerobos rak-rak buku, entah itu di perpustakaan atau toko buku. Seperti ada impuls yang terpancing dan mengundang ingatan-ingatan usang kembali ke permukaan.

Setidaknya, sekarang saya tahu harus kemana ketika mendadak kangen rumah. Serta masakan ibu dan uti.

Posted in ide

Small City Life

From who-knows-when, I always want to live in small city where breaths are easy and life is calm. For 24 years I lived in suburban of urban jungle named Jakarta. There is always busy routine everyday as its patron has. Now, finally, I am moving to another place. A much quieter, less polluted big village named Wageningen. A place where its inhabitants seem like having nothing else to look for in life. Except a serene life.

Two or three days after moving to Wageningen, I visited a place called Stade in Niedersachsen state of Germany. And I found another peaceful space there. Forget Hamburg or Amsterdam, it is a kind of rural town where apples are everywhere. From very big industries that supply all Europe, to tiny garden in almost every house in the town. Pace is slow and days are gone fast in Stade. A breeze in the afternoon makes it perfect.

One day, I went to Amsterdam Centraal. Another day, I was in front of Rathaus of Hamburg. People everywhere. From travelers carrying big backpack, to locals hanging out with fashionable outfit. I never hate tourists or locals or people. But I may not like noisy crowd too much. There were headaches when I first got off the train in Centraal or walked around the Rathaus. The aches growing whenever the picture of going back to Jakarta-esque life comes in mind.

Now, I am going to forget such vision. I want to appreciate life here, life I dreamed of for who-knows-how-long. A small city life.