True Cost

True Cost hadir di saat yang tepat. Saat saya merasa sedang diperbudak habis-habisan oleh gaya hidup dan konsumerisme, film garapan Andrew Morgan itu muncul sebagai pencerah. Dalam setahun ke belakang, kritisme pudar sedikit dan ada yang terasa salah. Tapi melawan bukan hal yang selalu gampang. True Cost seperti menuang bensin dan kritisme itu menyala terang lagi. Setidaknya saya rasa seperti itu.

Pada dasarnya, True Cost bicara soal industri fashion. Morgan dan timnya seperti mengarungi proses pembuatan sebuah busana dari hulu hingga ke hilir. Ia tak mau berhenti di acara-acara fashion show. Tak mau pula stop di pabrik-pabrik garmen di Bangladesh. Ia bahkan terbang ke Texas, tempat dimana cotton ditanam. Kita semua tahu bahwa cotton adalah bahan baku baju yang kita pakai hari ini.

Dari telusur itu, True Cost ingin menyampaikan bahwa industri fashion memang sudah salah sejak dari awal. Proses penanaman cotton terbukti tidak ramah lingkungan. Hal itu bisa terjadi karena tuntutan yang serba tergesa-gesa dari kultur fast fashion. Semuanya mesti cepat dan berskala besar. Petani cotton dituntut untuk gesit, pestisida dipakai, proses tani yang tidak ramah lingkungan diterapkan. Dan korbannya adalah lingkungan serta komunitas lokal di sekitar.

Mata rantai berikutnya adalah para buruh di negara-negara dunia ketiga. Desainer, model, dan brand-brand fashion papan atas bergelimang uang. Namun di kutub yang lain, para pekerja kasar di Bangladesh, Kamboja, bahkan Indonesia hanya diupah 2-3 dolar per hari. Saya membayangkan sebuah dress bernilai jutaan rupiah dijual di mal ibukota, sedangkan penjahit yang membuatnya mungkin hanya menghasilkan satu atau dua persen saja dari harga jualnya. Oh betapa mengerikannya.

Industri fashion memang sebegitu mengerikannya. Bahkan, konon hanya kalah dari industri minyak sebagai industri paling destruktif di dunia. Dan itu semua karena sistem ekonomi yang menyembah konsumsi. Fashion menjadi tumpukan gairah memiliki, bukan kebutuhan untuk tak telanjang. Harga-harga menjadi murah, kita diperdaya untuk terus membeli, dan dihipnotis. Seolah-olah kita kaya karena bisa terus membeli, seolah-olah kita keren, seolah-olah kita bahagia karenanya.

Rasanya kita perlu menumbuhkan kritisme lagi. Kita perlu mempertanyaan baju yang kita pakai hari ini. Bahwa ada manusia dan lingkungan yang terluka karena apa yang kita kenakan. Bahwa kita bagian dari perusak itu. Namun, berhenti pada fashion saja tak cukup. True Cost menjadikan fashion hanya sebagai sampel. Semua industri lain sebenernya sama menjijikannya. Rantai produksinya bermasalah dan kita tak tahu apa-apa. Yang penting membeli, membeli, membeli.

Satu-satunya kritik saya pada True Cost adalah bagian akhirnya. Closing statement dari beberapa narasumbernya terlalu optimistik. Sangat Amerika sekali. Mereka masih percaya masa depan yang cerah akan tiba. Saya sendiri pesimis. Tapi bukan berarti pesimis lantas bisa seenaknya saja merusak dunia dengan apa yang kita beli. Saya hanya tak tahu kapan semua ini akan berakhir kalau kita masih seserakah ini.

Advertisements

Film Tourism

Suatu siang saya sedang membaca artikel-artikel berita di internet saat menemukan teks menarik di CNN Indonesia yang diberi judul ‘Film Oscar 2015 yang Bikin Naluri Wisata Makin Menggebu’. Artikel ini membuat saya lantas teringat dengan konsep film tourism yang beberapa kali saya temukan dan baca di jurnal-jurnal internasional.

Jaman sekarang, kaitan pariwisata dan film memang kian erat. Di Indonesia, ketika kita menyebut Laskar Pelangi pasti akan teringat Belitung, begitu pula sebaliknya. Tetralogi Laskar Pelangi memang menjadi contoh sukses bagaimana cerita buku dan film dapat mendorong gairah pariwisata di daerah. Entah berapa ribu atau juta orang yang mengunjungi Belitung karena terinspirasi dengan kisah Andrea Hirata itu.

Dalam masyarakat massa dimana media, termasuk film, adalah institusi yang menentukan nilai, norma, perilaku (mulai dari cara makan sampai cara menghabiskan waktu luang), film tourism mendapatkan panggungnya. Citra dan representasi yang timbul dalam film, terlebih ketika anda menyukai film itu, bisa menjadi stimuli untuk melakukan sesuatu, termasuk berpergian ke tempat-tempat yang ada dalam film.

Irena Ateljevic, dalam studinya tentang motivasi turis mengunjungi Selandia Baru, mengemukakan bahwa media, bersama latar belakang pendidikan, dapat menentukan citra sebuah destinasi bagi seseorang. Film sebagai salah satu produk media yang paling populer memegang peranan penting, terlebih dalam jaman dimana citra visual adalah segalanya.

Dalam kasus Selandia Baru, kita pasti akan teringat film The Lord of The Rings. Film itu menjadi media promosi nomor satu bagi pariwisata Selandia Baru. Saya pernah lihat iklan maskapai Selandia Baru yang memakai gimmick-gimmick khas The Lord of The Rings. Selain itu, tur wisata yang bertema film tersebut juga menjadi salah satu produk pariwisata yang laris di negeri sebelah timur Australia itu.

Meski tak disadari, pengaruh film dalam menentukan minat wisata seseorang cukup besar. Saya tak luput dari pengauh itu. Beberapa film dan serial televisi membuat saya bercita-cita ingin menyambangi suatu tempat. Sebut saja Alaska (Into The Wild) dan Albuquerque (Breaking Bad). Itu baru yang saya ingat dan hanya film. Pengaruh dari buku bagi saya lebih kuat.

Selain dua di atas, belakangan ini saya juga terpikat New Orleans. Tak lain dan tak bukan gara-gara serial NCIS: New Orleans. Sebelumnya saya sudah mendengar bahwa New Orleans adalah kota yang nyentrik. Namun, tak ada gairah mengunjunginya sebelum saya menonton NCIS. Melalui akting aktor-aktor dan skenario ceritanya, New Orleans digambarkan sebagai kota yang santai dan ekstentrik, sekaligus mendukung kutipan di iklan serial itu ‘New Orleans: the most unique city in U.S’.

Di Indonesia beberapa tahun belakangan, saya melihat ada keinginan untuk mendorong minat wisata ke suatu destinasi dengan menggunakan film sebagai jurus. Beberapa film (tampaknya) sengaja diciptakan untuk mempromosikan suatu daerah, yaitu dengan menampilkan panorama-panorama cantik yang menggugah gairah para pejalan. Tapi tampaknya tidak ada yang menyamai kisah sukses Laskar Pelangi dan Belitung.

Kenapa? Karena sebagian film-film itu hanya menjual gambar pemandangan yang indah. Mereka lupa bahwa sebuah film yang baik harus memiliki cerita, karakter, dan alur yang baik pula. Orang-orang ingin mengunjungi Belitung bukan hanya karena pulau itu digambarkan sangat cantik pada Laskar Pelangi, tapi juga karena kisah dan karakter-karakter di Laskar Pelangi begitu kuat dan melekat pada para penonton. Tanpa itu, jualan pariwisata lewat film hanyalah buang-buang duit.

Sah-sah saja memang upaya memasarkan pariwisata lewat film. Tapi terlalu fokus pada urusan uang adalah sebuah dosa besar khas industri. Saya yakin film-film yang telah menjadi ikon suatu daerah diciptakan bukan sebagai alat industri pariwisata dalam mendatangkan turis, tapi benar-benar sebagai sebuah kesenian visual (terlepas dari kesenian itu juga dihasilkan industri bernama Hollywood). Di situ ada proses berkesenian dan apresiasi dari penikmatnya.

Apresiasi itulah yang lantas menjadi stimuli bagi orang-orang untuk berkunjung. Proses ini harus dihormati. Film tourism adalah hasil yang didapat ketika seni dan apresiasi terhadap seni itu telah ada. Apa yang dilakukan film-film Indonesia belakangan ini seakan mengerdilkan proses seni dan apresiasi tadi, dan terlalu berkonsentrasi pada upaya promosi yang dangkal dan banal.

Tur-tur bertema The Walking Dead di Atlanta dan Breaking Bad di New Mexico, bukanlah sesuatu yang direncanakan. Dua serial itu diciptakan bukan oleh korporasi atau lembaga yang mengurusi pariwisata. Saya yakin itu. Ia adalah efek positif ketika sebuah karya dihargai oleh penikmatnya, baik dari segi cerita maupun karakter tokoh-tokohnya yang terus terngiang di kepala para penontonnya.

Lalu bagaimana dengan potensi film tourism di Indonesia? Yang jelas sebelum menggencarkan hal itu, industri film harus dibenahi dulu. Sampah-sampah jangan dihasilkan lagi. Sambil menunggu itu, lebih baik negara dan pelaku industri bergotong-royong membenahi infrastruktur yang payah di berbagai destinasi wisata. Percuma jualan panorama Pulau Sumba kalau akses jalan-jalan di sana masih payah. Meh.

The Beach

Suatu waktu saya pernah meminjam dvd film The Beach dari seorang teman. Saya menontonnya begitu saja, menikmati setiap detil tanpa banyak pikir. Film tenar yang dibintangi Leonardo Di Caprio itu berkisah tentang seorang backpacker yang sedang melancong ke Thailand. Disana, si petualang Amerika itu mendapatkan tak sekedar perjalanan biasa. Layaknya seorang backpacker, selalu ada yang lebih dari sekedar perjalanan.

Waktu kemudian berlalu hingga suatu sore sebuah stasiun televisi kabel khusus film menayangkan The Beach. Saya menontonnya untuk kali kedua. Tapi di kesempatan kedua itu saya berpikir lebih banyak dibanding saat menonton pertama kali. Terlalu banyak hingga bahkan masih terpikir hingga detik ini, mungkin 3 bulan setelahnya. Banyak yang mengusik saya soal film itu, mulai dari imaji surga, terminologi backpacker, hingga Redemption Song.

Katakanlah, The Beach memang salah satu film terbaik tentang backpacking yang pernah saya nikmati. Dari awal kisah saja sudah ditunjukkan imej backpacking yang dikonstruksi orang-orang dari Barat sana. Richard, si backpacker, ditantang oleh seorang warga lokal di Bangkok untuk menikmati kuliner yang tak biasa: darah ular. Awalnya ia menolak, namun setelah diejek sebagai turis, ia tak terima, lalu menyanggupi tantangan itu.

Terma backpacker memang seringkali menempatkan dirinya dalam oposisi dari turis. Backpacker adalah model berwisata yang merupakan alternatif dari turisme arus utama. Di dalamnya terkandung nilai, norma, aturan yang tak tertulis tentang banyak hal yang menjadikan backpacker sebagai oposisi sejati dari turis. Memang pemisahan keduanya bukan sesuatu yang kaku dan kadang keduanya membaur. Tapi tetap saja, mereka bertentangan.

Cerita kemudian beranjak menuju awal dari inti cerita. Richard dalam sebuah adegan yang agak sureal mendapatkan peta tentang sebuah pantai cantik dari tetangga di sebelah kamar hostelnya. Pantai ini merupakan pantai tersembunyi yang tak banyak orang tahu, serta bukanlah destinasi yang biasa dipadati turis. Plot ini sekali lagi kembali menunjukkan imej backpacker: mereka yang mencari lokasi-lokasi yang berbeda dari para turis.

Seorang backpacker memang dianggap sebagai pelancong yang tak biasa, termasuk urusan destinasi. Dari sejarahnya, backpacker ialah mereka yang mencari tempat-tempat yang ‘perawan’, yang masih belum terjamah, yang masih polos dan apa adanya. Sekali lagi, ciri ini menentang habis-habisan konsepsi turisme mainstream yang biasa identik dengan destinasi yang sesak, padat, dan itu-itu saja.

Kisah lalu berlanjut. Richard akhirnya dapat mencapai pantai di pulau yang tersembunyi yang ia ketahui dari peta itu. Bersama dua orang teman sesama backpacker, Richard melakukan perjalanan tak biasa untuk mencapai pantai cantik itu. Disana, konflik cerita yang paling mengusik saya hingga detik ini terjadi, yaitu perihal imaji tentang surga di bumi dan keinginan untuk menjaganya tetap surgawi.

Dalam pulau itu rupanya terdapat suatu perkumpulan kaum eksentrik, kebanyakan backpacker dan semacam hippie, yang menetap di pulau tersebut. Bukannya melancong dan kemudian pulang, mereka memilih tinggal lama didalamnya, hidup dalam persekutuan para backpacker, para pejalan yang tak biasa. Mereka semua menganggap pulau itu ialah surga yang harus dijaga keberadaannya, serta kerahasiaannya.

Para anggota perkumpulan tersebut dilarang keras untuk memberitahukan pada siapapun tentang keberadaan pulau itu. Mereka tak ingin tempat yang mereka anggap surga itu jadi ramai, jadi penuh sesak oleh pelancong, jadi tak lagi seperti surga. Mengutip Theroux, saat suatu tempat dianggap sebagai surga maka tak lama kemudian ia akan jadi neraka. Demikianlah sehingga perkumpulan itu nyatanya seketat penjara demi sebuah rahasia soal surga.

Tak boleh ada yang keluar pulau kecuali seijin ketua perkumpulan, itu pun hanya untuk membeli keperluan sehari-hari di kota. Maka kerahasiaan pulau itu pun tetap terjaga. Ironi bagi saya adalah ketika membayangkan bahwa untuk sepotong surga orang ingin menyimpannya sendiri dan tak ingin orang lain tahu, menikmatinya secara egois dan tak mau orang lain mencicipinya pula. Surga perlahan jadi konsepsi yang banal di film ini.

Tapi begitulah, film ini memang menggambarkan tentang backpacker yang ‘sebenarnya’. Mereka yang enggan membagi keindahan karena ketakutan bahwa yang indah itu nantinya akan menjadi rusak jika terlalu massal dinikmati. Saya lantas terombang-ambing dalam posisi yang tak jelas. Satu sisi saya miris membayangkan keegoisan memiliki surga itu, tapi di sisi lain saya pun setuju bahwa sebuah surga nyatanya harus disimpan agar tak cacat.

Film itu lalu berjalan menjadi sedikit liar dan makin sureal, meski tetap menarik hingga akhir. Perkumpulan itu dikisahkan mesti bubar karena satu dan lain hal. Masing-masing mereka pun pulang ke tempat asalnya. Di adegan akhir, Richard yang sudah di Amerika membuka surat elektroniknya dan mendapat email dari teman sesama anggota perkumpulan itu. Isinya sebuah foto yang menyimpan kenangan yang abadi.

The Big Year

Saya menemukan The Big Year di rak rental dvd langganan. Saya tak pernah dengar film ini sebelumnya. Yang membuat saya mengambil dan menyewanya adalah nama-nama yang tertera pada sampulnya. Owen Wilson, Jack Black, dan Steve Martin adalah pria-pria yang bisa kita percaya untuk menghadirkan humor segar yang menghibur di depan mata. Pilihan saya tak salah. Bahkan saya dapat lebih dari sekedar komedi ringan.

The Big Year bercerita tentang tiga orang pria yang terobsesi pada birding, bird watching, atau apalah yang terkait dengan burung. Ketiganya mengikuti semacam kompetisi selama setahun penuh untuk sebanyak-banyaknya melihat dan memotret aneka spesies burung seantero Amerika. Kenny Bostick yang diperankan Owen Wilson adalah sang pemegang rekor. Sementara Brad Harris (Jack Black) dan Stu Preissler (Steve Martin) adalah penantangnya.

Tentu tak hanya mereka bertiga yang mengikuti lomba tersebut. Puluhan bahkan ratusan orang mengikuti kompetisi unik  tersebut. Dikisahkan pada akhir kompetisi, Kenny Bostick memperbaharui catatan rekornya dengan jumlah 755 spesies burung ia lihat dalam setahun, sementara Brad Harris berada persis dibawahnya dengan catatan 754 spesies burung. Stu Preissler sendiri tak diceritakan berapa jumlah spesies burung yang akhirnya ia potret dalam setahun.

Ketiga pria tersebut memiliki latar kehidupan maupun kisah kehidupan yang berbeda selama mengikuti turnamen. Sang juara Bostick dikisahkan harus rela meninggalkan istrinya yang sangat mendambakan kehadiran seorang bayi. Bostick akhirnya balik ditinggal istrinya yang terlanjur kecewa pada dirinya yang tak serius membina rumah tangga akibat obsesinya pada burung. Meski memenangi obsesinya, ia kehilangan cintanya.

Brad adalah karyawan yang menganggap bahwa birding merupakan panggilan hidupnya. Ia sendiri dianggap aneh oleh ayahnya karena hasratnya terhadap burung. Namun pada akhirnya ayahnya mengerti mimpi anaknya dan bahkan menemaninya melihat spesies burung yang langka. Brad di ujung film hidup berbahagia dengan mendapatkan pasangan yang juga pecinta burung, meski gagal memecahkan rekor Bostick.

Sementara itu, Stu adalah pengusaha sukses yang sudah dua kali menunda pensiun. Ia akhirnya mengikuti lomba ini dengan mengorbankan pekerjaannya dan menuruti kata hatinya. Ia didukung penuh oleh istri dan keluarganya. Pada pertengahan tahun lomba, ia sempat pulang ke rumah dan menengok cucunya yang baru lahir. Stu sama seperti Brad digambarkan hidup bahagia pada akhirnya meski gagal memenangkan turnamen.

Meski terdapat perbedaan dalam kehidupan pribadi masing-masing, ketiganya juga mempunyai persamaan. Ketiganya adalah pemimpi yang gila, pria dengan obsesi aneh, pecinta burung. Meski banyak orang yang meremahkan gairah mereka terhadap burung, mereka tak peduli. Mereka hanya mengikuti kata hati, mengikuti tiap siulan burung di sepanjang Amerika. Mereka menjalani apa yang mereka ingin jalani. Simpel saja.

Tentu tak mudah di dunia yang teratur ini untuk melakukan yang dilakukan ketiga orang tersebut, yaitu melakukan kata hatinya. Stu sendiri baru menjalaninya pada umurnya yang sudah sangat tua karena tuntutan yang memang tak memungkinkan untuk berkompetisi setahun penuh dan meninggalkan segi kehidupan lainnya. Sulit untuk setahun penuh hidup hanya demi burung sementara dunia luar menuntut hal yang sama sekali berbeda.

Tapi toh pada akhirnya Stu menjalani juga jalan hidupnya. Tak ada kata telat untuk melakukan sesuatu yang dicita-citakan, tak terlalu tua pula untuk menghidupi hidup yang benar-benar diinginkan. Brad pun tak kalah hebatnya mendapat resistensi secara tersirat dari kantor dan ayahnya. Pun Bostick yang berulang kali dimarahi oleh istrinya yang kecewa berat padanya.

Stu, Brad, dan Bostick adalah tipikal orang yang berkeras pada kemauannya, meski kadang kemauan itu dianggap aneh dan gila oleh masyarakat. Mereka rela menukar kehidupan yang telah mapan dengan suatu keajaiban bernama burung, yang bagi mereka lebih berarti dari apapun juga dalam hidup, yang sayangnya bagi orang lain tak ada artinya. Mereka tak peduli. Mereka pergi. Meninggalkan bisnis, pekerjaan, keluarga, atau bahkan cinta keduanya, setelah burung.

?

Judul di atas sama dengan salah satu judul film nasional. Film yang penuh tanda tanya, sama seperti judulnya. Saya ingin cerita, tapi jangan anggap saya sosok yang mengerti film. Saya tak akan bicara soal sinematografi, dramaturgi, atau skenario. Saya hanya akan meracau seperti orang yang mabuk. Sesuka saya.

Film ini mungkin ingin bercerita soal agama, Tuhan, dan realitas tentang keduanya di negeri ini. Ketika agama dan Tuhan berubah jadi alasan untuk membunuh dan mencibir orang lain. Film ini juga bicara soal identitas lain diluar agama, misalnya etnisitas. Dan perbenturan identitas itu kadang menjadi ruwet seperti benang pikiran manusia modern. Ya, film ini mungkin saja hendak bicara soal pluralisme di negeri yang plural.

Realita yang terjadi adalah kita yang beragam ini sulit untuk menerima keragaman. Mungkin justru karena beragam jadi kita takkan pernah seragam. Semuanya selalu beragam, termasuk soal menghargai keragaman. Ada yang bisa, ada juga yang tidak. Akankah terus selalu seperti itu? Sulit memang jika bermimpi menjadikan keragaman sebagai kedamaian yang tak terusik. Suatu waktu yang sunyi akan terhenyak.

Tuhan bahkan diusik. Dengan agama kita seolah memikirkan Tuhan itu banyak, setiap agama punya Tuhannya masing-masing. Tapi ada satu dialog dalam film ini yang sadarkan kita. Kita ini punya jalan setapak yang berbeda-beda untuk tujuan yang sama. Dan tujuan itu ialah Tuhan. Kita mencari Tuhan lewat cara masing-masing. Kenapa sempat untuk mengusik cara orang lain padahal kita perlu konsentrasi pada tujuan itu?

Mungkin karena itu film ini berjudul tanda tanya. Mungkin karena Tuhan adalah suatu tanda tanya besar. Sebuah misteri kehidupan yang jawabannya tak pernah tertemu. Tapi Ia ada. Kita bertanya tentangnya, tapi tak ada jawabnya. Tuhan tetap jadi tanda tanya. Mungkin karena itulah pada tanda tanya ada titik. Supaya ketika tanya kita tak berujung jawab kita lebih baik berhenti. Beriman dan tak perlu bertanya lagi.

Kemungkinan lain kenapa judulnya tanda tanya adalah karena memang sang pembuat bertanya. Bertanya kenapa dalam hidup bersama kita harus bertanya tentang agama, tentang suku, tentang negara, tentang asal-usul, tentang sekolah, tentang ideologi, dan perbedaan-perbedaan lain. Tak bisakah tanda tanya hanya sebagai tanda yang mati, yang tak perlu terucap dan hidup dalam interaksi dengan manusia lain?

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Ini judul sebuah film nasional. Salah satu film nasional terbaik yang pernah saya lihat. Ceritanya tidak penting. Isi dari ceritanya yang penting. Film ini tentang cara menertawai negeri keparat, yang sebenarnya lebih pantas untuk dikutuk daripada ditertawai. Film ini menghadirkan secara ekspilsit maupun implisit carut-marut negeri itu. Entah negeri apa namanya.

Banyak persoalan yang dibahas dalam film. Banyak sekali. Banyak karena persoalan dalam negeri tanpa nama itu memang sudah menggunung. Akan terus menggunung entah sampai kapan. Persoalan tersebut kemudian jadi semacam tali kusut yang susah untuk dapat diluruskan kembali. Kebanyakan kita jadi malas untuk meluruskan kekusutan itu, jadilah selamanya tali itu tetap kusut. Jadilah selamanya negeri itu tetap begitu, rusak.

Dikisahkan tentang seorang sarjana manajemen yang penggangguran. Karena saking sulit mendapat pekerjaan, pemuda itu jadi kreatif. Dia bina sebuah perkumpulan copet anak-anak. Dia punya tujuan baik untuk menjadikan anak-anak kurang beruntung itu berhenti mencopet. Tapi proses itu dilakukan bertahap. Awalnya dia tetap membiarkan aktivitas pencopetan dan mengumpulkan hasilnya dalam sebuah tabungan.

Pada akhirnya hasil copetan itu sebanyak sepuluh persen masuk ke kantong kosongnya. Tapi dia tepati janjinya. Perlahan setelah hasil copetan semakin banyak dia menyiapkan anak-anak tadi untuk menjadi pengasong, yang penting halal, tak seperti mencopet yang dianggap haram. Ironinya, adalah dia makan dari uang hasil copetan. Lebih ironis lagi karena ayahnya adalah orang yang dikenal beragama dengan baik.

Meski tujuannya hampir tercapai dan dia juga bekali anak-anak tadi dengan pendidikan umum dan agama, tapi persoalan tetap berlanjut. Setelah ayahnya tau apa yang dikerjakannya, dia sadar bahwa perbuatannya salah, meski juga benar, seperti banyak hal-hal lain di dunia yang tak jelas benar atau salah. Dia stop dan melepaskan anak-anak tadi pada pilihan untuk tetap mencopet atau melanjutkan rencananya untuk menjadi pengasong. Sebagian terjebak dalam masa lalu, sebagian bikin masa depan baru tanpa copet mencopet.

Yang menarik dalam film ini adalah keseleruhan isi dalam film ini menyajikan problema-problema yang nyata dan kasat mata tampak dalam kehidupan di negeri tanpa nama tersebut. Persoalan yang sangat banyak, dari yang dianggap kecil hingga yang dianggap masalah besar. Persoalan yang entah dimana akarnya. Persoalan yang bergulir seperti roda yang bundar, bergulir tanpa enggan berhenti. Negeri itu sudah rusak parah. Negeri itu ditinggali pula oleh orang-orang yang rusak, dari atas sampai ke bawah. Negeri itu warnanya merah putih.

The Blind Side

Sebuah film humanis yang diangkat dari kisah nyata seorang atlit American football, Michael Oher. Michael adalah seorang pemuda negro yang gemuk dan kesepian, juga menyedihkan. Sampai kemudian dia bertemu dengan Leigh Anne Tuohy, istri dari Sean Tuohy dan ibu dari dua orang anak. Leigh Anne melihat sosok sedih itu ketika sedang berjalan sendirian ditemani kemurungan. Dia membujuk dan akhirnya berhasil mengajak Michael ke rumahnya, untuk tinggal. Mungkin hanya malam itu, ternyata tidak.

Michael, yang dijuluki Big Mike, perlahan justru semakin dicintai oleh keluarga Tuohy. Meski awalnya sangat pendiam dan misterius, namun perlahan Leigh Anne berhasil mengupas satu per satu kehidupan dan kedirian Big Mike. Hingga kemudian hampir semua terkupas dan Michael merasa cocok dan nyaman pula dengan keluarga Tuohy. Akhirnya juga, Michael diangkat secara resmi sebagai anak keluarga tersebut. Konflik kemudian timbul.

Michael yang bertubuh besar dan kuat itu tumbuh menjadi atlit sepakbola ala Amerika yang hebat. Dia memesona dalam karirnya di level SMA, hingga kemudian tak sedikit universitas menawarkan beasiswa baginya, termasuk Ole Mississippi dan Tennesse. Keluarga Tuohy yang alumnus Ole Miss tentu menginginkan Michael menerima tawaran dari Ole Miss, sementara Michael sebenarnya lebih menginginkan Tennessee yang tak lain adalah klub yang dibenci Leigh Anne. Pada akhirnya Michael menuju Ole Miss. Meski sempat membentur keraguan terhadap ketulusan keluarga Tuohy mengasuh dirinya, Michael teguh menuju Ole Miss. Karirnya gemilang hingga akhirnya dia menjadi atlit rugby pro dan bermain di NFL.

Film ini luar biasa. Bagi saya dan bagi penyanjung kehidupan tanpa curiga. Gaya kehidupan yang kini jarang tampak. Hampir sulit membayangkan seseorang tulus menampung negro tanpa rumah di jaman sekarang. Yang ada kita terlanjur dihantui ketakutan dan kecurigaan yang tak jelas, kadang melecehkan dan menodai prinsip persamaan antarmanusia. Tapi apa yang ditunjukkan Mrs. Tuohy agak menyadarkan kita dari mimpi buruk itu, mimpi yang bisa menghancurkan kehidupan bersama umat manusia, yang berbeda-beda dalam banyak sekali hal.

Tak hanya menampung, keluarga Tuohy pun membesarkan Michael menjadi seorang dewasa yang bahagia dan bermasa depan cerah. Sesuatu yang mungkin tak dibayangkan oleh Michael sendiri. Dengan saling mencintai dan mempercayai, film ini kemudian dapat menyampaikan pesan yang sangat humanis dan tulus. Pesan yang sulit, pesan yang klise. Pesan tentang mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Pesan untuk berusaha mengusir jauh-jauh kehidupan penuh curiga yang menjadi tren jaman kini. Agar kemudian kita dapat hidup dan melihat orang lain “tanpa curiga seperti tangan seorang anak”, seperti kata Hermann Hesse dalam karya sastranya, Siddharta.

Dark Comedy

Satir. Dark comedy atau banyak juga yang menyebut black comedy adalah genre film yang unik. Genre yang berciri cerita tentang hal-hal yang tabu namun dalam bentuk komedi. Singkatnya, cerita tentang hal yang sepantasnya tidak ditertawakan.

Dalam dark comedy terkadang kelucuan yang terjadi tersingkap di akhir cerita. Sementara hampir keseluruhan cerita adalah hal-hal yang serius atau bisa mengesalkan. Klimaks itulah yang sebenarnya membentuk dark comedy.

Penonton dark comedy kebanyakan tak sadar bahwa mereka sedang menonton sebuah film komedi. Sebenarnya lucu tapi samar. Dua dari banyak contoh genre ini adalah World’s Greatest Dad dan The Informant!.

World’s Greatest Dad dibintangi oleh Robin Williams yang berperan sebagai Lance Clayton, seorang ayah, guru, sekaligus penulis gagal. Dia memiliki seorang anak yang bodoh dan nakal, tanpa ada kebanggaan. Anaknya kemudian mati ketika sedang masturbasi. Lalu Lance mencoba mengubah alur cerita dengan menulis sebuah surat perpisahan yang ceritanya dibuat oleh anaknya. Jadilah kemudian sebuah surat pengakhir kehidupan yang haru dan sedih. Beberapa waktu berselang surat itu menjadi biang kehebohan di sekolah si anak, tempat Lance juga mengajar. Dengan memanfaatkan situasi demi mewujudkan ambisinya menjadi penulis yang dikenal, dia mengarang cerita demi cerita yang intinya meninggikan anaknya lewat tulisannya. Padahal sepanjang hidupnya, si anak hanya punya satu teman dan selalu menjadi siswa terbodoh yang dibenci guru-guru. Tulisan-tulisan Lance yang diatasnamakan sebagai karya anaknya kemudian menjadi buah bibir, bahkan akhirnya terbit versi bukunya. Impian Lance menjadi kenyataan: menulis sebuah buku yang diterbitkan. Bahkan dia juga diundang acara televisi untuk mengisahkan kebohongan yang menipu dan mengharukan banyak orang tersebut. Akhir cerita, Lance mengakui semua kebohongannya dan merasa puas akhirnya memenuhi keinginannya meski dengan cara memanfaatkan kematian anaknya. Sesuai dengan tagline film ini, Lance Clayton is about to get everything he deserves.

Sementara itu The Informant! berkisah tentang sebuah kisah nyata pada dekade 90-an. Tentang seorang informan bernama Mark Whitacre (diperankan Matt Damon) yang bekerja untuk FBI. Dia ditugasi untuk menginformasikan segala sesuatu tentang kasus kecurangan yang dilakukan perusahaan tempatnya bekerja, salah satu perusahaan agribisnis berskala besar. Sayangnya dia juga memanfaatkan situasi persis seperti Lance Clayton dalam World’s Greatest Dad. Dengan bekerja untuk FBI dia pun tetap bekerja di perusahaannya, bahkan terlibat dalam kecurangan yang dibuat perusahaannya. Dia berlaku baik di depan kedua belah pihak, bekerja sama dengan kedua belah pihak. Dengan lihainya dia berkelit dari beragam masalah yang bisa meruntuhkan reputasinya di mata dua belah pihak. Kebohongan-kebohongan yang dia lakukan kemudian berujung pada keuntungannya, dia memperoleh uang dalam jumlah besar melalui aksi kriminalnya itu. Pada akhirnya dia benar-benar terpojok dan dipaksa mengakui kesalahannya. Dengan gentle dia menerima tanggung jawab dari seluruh perbuatannya dan mendekam di penjara selama 9 tahun.

Adegan-adegan dalam kedua film di atas memang unik, sebenarnya lucu namun tersingkap dalam ketabuan untuk ditertawakan. Aksi Matt Damon dan Robin Williams pun sungguh mempesona, berperan sebagai pembohong lihai yang sanggup menipu banyak orang. Keduanya memainkan cerita dengan baik dan mengirimkan pesan dari film tersebut. Pesan yang kadang menyedihkan dan menggelikan khas komedi gelap.

Dark comedy adalah cara lain untuk menertawakan sesuatu. Sesuatu yang kurang pantas ditertawai. Dark comedy sekaligus mengajarkan kita untuk berani menertawakan sesuatu yang menyedihkan. Mungkin seperti menertawai kehidupan yang makin menyedihkan akhir-akhir ini. Satir dan optimistik.

McCandless

Christoper Johnson McCandless. Pemuda eksentrik yang fantastis, meski dia juga bodoh. McCandless yang lahir dan besar dari keluarga berada justru lebih menginginkan kehidupan yang serba terbatas dengan tantangan-tantangan yang tak terduga.

Dia membuang mobil Datsun antiknya dan membakar seluruh uangnya demi mendapat kepuasan batinnya menjelajahi Alaska, seorang diri. Pengagum karya-karya Thoreau dan Tolstoy yang jelas terbawa dalam setiap kisah dan tulisan yang digoreskan dua penulis kenamaan tersebut.

McCandless lalu mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp. Hal ini dilakukan demi menghilangkan identitasnya.  Sebelum benar-benar memasuki medan Alaska, Alex sempat bekelana menyusuri Amerika kemanapun angin membawanya. Ketika hasratnya tak tertahankan lagi untuk mencicipi Alaska yang jahat dia pun dengan gagah berani masuk ke dalam keliaran Alaska.

Petualangan Alex selama hampir dua tahun di jalanan dan di Alaska sungguh mencengangkan. Dia tegas mencari apa yang diinginkannya sebagai kompensasi kehidupannya di bangku kuliah yang mungkin menyiksanya, meski dia mahasiswa yang pandai.

Dia berani keluar dari kenyamananya sebagai pemuda cerdas bermasa depan cerah dan memasuki kehidupan lain yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Kehidupan liar yang penuh keterbatasan dengan bahaya mati selalu mengancam, kehidupan yang disukai dan memang diinginkannya.

Sedikit kecerobohan ternyata benar-benar membunuh Chris di Alaska, dia mati kelaparan setelah gagal menyebrang sungai ketika hendak menyelesaikan petualangannya. Di akhir hidupnya yang sulit dia sempat menulis happiness only real when shared.

Ini menunjukkan bahwa ternyata kebahagiaan yang hendak dicarinya dengan petualangan seorang diri itu tidak dapat menjamin sebuah kebahagiaan, dia akhirnya mengakui sendiri bahwa kebahagiaan akan nyata bila dibagi dengan orang lain. Meski untuk mendapatkannya perlu dicari seorang diri.