Suatu Pagi di Semolon

Tubuh seperti dihujam batu. Nyeri dimana-mana. Untungnya, matahari bersinar dengan cerah dan suara monyet yang sedang melompat-lompat di antara pepohonan terdengar. Di tengah hutan ini, dengan alas lantai kayu di sebuah pondok dekat air terjun Semolon, aku rebah semalam. Aku melewati malam dengan berperang melawan nyamuk dan angin yang dingin di sekeliling. Kedinginan itu membuatku memeluk diri erat-erat, menyilangkan kedua tangan hingga menyentuh punggung demi mengusir rasa dingin. Bersama dua orang teman, kami tidur rapat-rapat dengan alasan yang sama.

Semalaman aku mungkin terbangun puluhan kali saking tidak nyenyaknya. Ketika cahaya muncul sedikit, resahku hilang meski badanku payah akibat tidur yang seadanya. Matahari selalu menghadirkan sesuatu yang menenangkan. Seterik apa pun, paling-paling dia hanya membikin gerah dan keringat mengucur, tapi tak pernah menimbulkan resah. Apalagi di pagi di tengah Taman Nasional Kayan Mentarang itu.

Ketika mataku mengintip ke depan dan melihat cahaya mentari pertama, aku mengucap doa yang spontan. Semacam doa tanpa kata-kata yang mengalir dengan murni tanpa hiasan. Biasanya doa-doa semacam itu timbul dalam situasi seperti ini, saat merasa begitu lega atas malam yang menyusahkan. Atau di saat yang lain ketika menyerah pada sesuatu dan menjadi pasrah, sehingga kata-kata semrawut dan yang meluncur hanyalah doa yang bisu.

Aku tak langsung berdiri dan terbangun. Masih dalam posisi rebah dan mata memejam, tapi tidak tertidur. Aku suka momen setelah bangun tidur. Saat pikiranku kosong dan setengah sadar. Seperti berdiri di antara yang nyata dan tidak. Tapi itu saat yang menyenangkan karena setelah itu pikiranku menyala dan mulai terbayang apa saja. Kemudian kepala menjadi sesak oleh macam-macam bayangan, pikiran, dan gumam yang berputar seperti film. Keindahan pagi menjadi buyar.

Setelah lima belas menit dalam kondisi rebah dan pejam mata, aku memutuskan diri untuk bergerak. Mula-mula aku duduk bersila, sebuah kebiasaan yang kulakukan sejak masih kecil. Lalu aku berdoa dengan kata-kata yang sudah semacam mantra dan hafalan. Ini tipe doa yang berbeda dari doa ketika aku melihat cahaya matahari pertama sebelumnya. Doa macam ini adalah buatan, tidak murni. Hanya pengulangan bertahun-tahun sehingga menjadi sesuatu yang otomatis. Tidak ada makna lagi di dalamnya.

Doaku tak lama, tak sampai satu menit. Bahkan sebelum kata ‘amin’, mataku sudah membuka dengan malas. Aku mulai menguap. Asap! Asap keluar dari mulutku. Ini mengingatkanku saat masih kecil diajak jalan-jalan ke Puncak oleh ayah ibu. Aku begitu senang melihat asap keluar dari mulutku. Biasanya aku mulai berlagak seperti seorang perokok ulung, menirukan gerak-gerak ayahku ketika menghisap cerutunya. Asap dari mulutku membuatku senang, sebentuk kesenangan yang sederhana dan arkaik. Aku mendadak siap menyongsong hari.

Aku melihat ke sekeliling, dua temanku belum terbangun. Namun, tidur mereka juga bukan tidur yang lelap. Keduanya bergerak-gerak mencari posisi tidur yang pas. Terlebih setelah aku terbangun, pasti mereka rasa ada sesuatu yang berbeda. Seluruh badan mereka tertutup sarung, sehingga gerak-gerik keduanya seperti sepasang ulat daun.

Sebenarnya, kami tidak hanya bertiga. Di suatu sudut yang lain dari pondok itu, tiga orang lain juga masih terlelap. Ketiganya adalah orang asli Dayak. Dua orang kakak-beradik berumur sekitar 25 tahun. Pasangan saudara itu berbadan kekar dan berambut panjang lurus sebahu, mengingatkan pada Apache. Di samping badan salah satu pemuda Dayak itu terdapat senapan yang mereka gunakan untuk berburu. Mereka terbiasa memakan daging apa saja, seperti yang diakui oleh salah seorang. Tapi meraka datang ke kawasan air terjun Semolon ini bukan untuk plesir, mereka bertugas memunguti kayu-kayu yang tumbang dari pohon yang sekiranya menghambat aliran sungai dan air terjun.

Mereka datang bersama seorang keponakan berumur kira-kira 7 tahun. Anak kecil ini berkulit lebih putih dari dua pamannya. Dia dalam masa liburan sekolah sehingga berkesempatan mengikuti dua pamannya ke tengah hutan. Indah rasanya melihat anak kecil di tengah hutan seperti ini. Aku tak bisa menjelaskan kenapa, namun perasaan itu nyata meski tanpa alasan. Anak kecil itu cukup pendiam. Dia tidak banyak bicara dan hanya berkata-kata jika sedang ditanya.

Dengan memeluk kedua lututku, aku memandangi ketiga orang asing itu. Aku ingat kemarin siang kami bertemu di pondok ini. Kami baru tiba dari sebuah desa bernama Paking, melewati perjalanan empat jam melewati hutan dan sungai yang sedang kering. Kami sempat singgah sebentar di sebuah kampung yang lebih kecil dan terpencil dengan kehidupan yang begitu apa adanya. Dari kampung itu kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Semolon.

Kami bertemu tiga orang Dayak itu saat mereka sedang memasak makan siang. Mereka memasak nasi dan menggoreng ikan sungai di atas tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Sejak awal mereka menunjukkan keterbukaan dan kebaikan. Mereka dengan sukarela membagi jatah makannya dengan kami. Adalah sebuah kemegahan ketika kita datang ke tempat asing dan bertemu orang-orang yang menerima kita seperti saudara. Kami makan bergantian karena piring dan sendok yang terbatas. Selama proses itu kami berbicara ini dan itu.

Salah seorang temanku bercerita bahwa kami dari Pulau Jawa dan hendak bertualang menengok bagian-bagian Indonesia yang lain. Kami sudah dua malam tinggal di Desa Paking dan berencana pergi ke Desa Long Berang besok. Konon, Long Berang cukup sulit dijangkau dan harus melalui sungai dengan jeram-jeram yang jahat, begitulah orang di sana menyebut jeram sungai yang membahayakan. Dua orang mirip Apache itu menceritakan pengalaman mereka ketika pergi kesana. Mereka bercerita panjang lebar hingga akhirnya nasi dan lauk tandas. Sebagai ucapan terima kasih, aku dan dua temanku mencuci piring dan sendok yang kami pakai makan.

Bayanganku buyar. Seorang temanku terbangun dan langsung berduduk sila sambil mengusap matanya yang sembab. Tak ada ucapan selamat pagi atau senyum, kami bukan tipe teman yang suka bermanis-manis. Kami relatif cuek satu sama lain. Tapi kami cocok dalam melakukan hal-hal yang orang lain tak suka lakukan, semacam pergi ke tengah hutan Kalimantan saat teman-teman lain sedang sibuk di kubikel masing-masing.

Dia hanya duduk sebentar lalu berdiri ke arah ranselnya. Ia mengambil minum dan menegak beberapa kali. Aku memberi kode bahwa aku juga ingin minum. Dia menutup botol dan melemparkan ke arahku. Tangkapanku sempurna. Aku minum sedikit. Tadinya aku berniat melempar balik, tapi temanku itu sudah keluar pondok dan melihat ke arah air terjun sambil meregangkan badannya. Untuk menjelaskan, pondok itu bukan pondok dengan dinding-dinding terutup, tapi terbuka. Itulah mengapa udara semalam begitu dingin menyengat.

Aku meletakkan botol air minum itu sekenanya di atas lantai sebelum berdiri dan berjalan menyusul temanku. Angin pagi menyapu mukaku sementara suara monyet bergelantungan dari pohon ke pohon masih bergema. Ini keindahan yang tak bisa kujumpai setiap harinya. Aku mesti menikmati pagi ini sepuas-puasnya, kataku dalam hati, karena pagi seperti ini tidak akan berulang. Aku mengamati aliran sungai dan juga air terjun di atasnya. Daun-daun dan ranting-ranting gugur mengambang dan sesekali terbawa arus yang tak deras.

Seketika temanku melirik ke arahku. Mulutnya bungkam, tapi mata dan gerakan kepalanya menunjuk ke air terjun. Tanpa menunggu reaksiku dia berjalan ke arah yang ditunjukkannya. Untuk menuju air terjun kami harus melewati jembatan, tapi sebenarnya kami bisa juga menyeberangi aliran sungai kecil itu dan mendaki sedikit. Temanku memakai jalur jembatan, aku mengikutinya dari belakang sambil melipat tangan ke belakang untuk melepaskan kekakuan tubuh.

Temanku langsung membuka baju dan celananya. Kini ia hanya bercelana dalam. Ia meletakkan pakaiannya itu di atas bebatuan yang kering dan sekiranya tak akan terkena aliran air atau cipratan. Perlahan ia masuk ke dalam kolam air terjun. Kata-kata pertamanya hari itu keluar. “Dingin!” ucapnya sambil memeragakan bahasa tubuh dan raut muka orang yang kedinginan. Ia tak lantas keluar, justru semakin masuk ke dalam dan mulai mencelupkan kepalanya ke air. “Segar,” teriaknya. Itulah kata keduanya hari itu.

Melihat wajah temanku yang begitu semringah, aku langsung melepas pakaian. Tanpa basa-basi kulemparkan kaus dan celana jins pendekku ke tempat yang aman. Tanpa aba-aba aku melompat ke dalam air dan byur. Air menciprat kemana-mana dan membasahi pakaian kami berdua. Monyet-monyet semakin berisik di atas sana, di pucuk pohon-pohon yang mungkin setinggi gedung 8 lantai. Saat kepalaku muncul di permukaan, temanku menghentakku sebelum akhirnya tertawa. “Brengsek,” umpatnya sambil tersenyum, menimbulkan semacam ironi.

Pagi itu adalah kemewahan yang tak mungkin kami dapatkan di hotel bintang berapa pun. Tidur beralas lantai kayu di sebuah pondok terbuka di tengah hutan, bangun dengan suara monyet-monyet menyambut pagi, dan berenang di air terjun dengan cuaca segar khas alam yang belum cemar. “Ini adalah surga,” temanku mulai bermetafora. Mungkin itu sebuah metafora yang klise, tapi aku tak bisa tidak setuju dengannya. “Aku percaya pada surga. Dan aku yakin surga seindah ini. Carpe diem!” teriakannya memecah pagi yang tentram itu. Kami berdua tertawa riang.

Dari kejauhan kami melihat teman kami yang satu akhirnya bangun. Dia berdiri dan menggeleng-geleng kepalanya. Dengan langkah malas ia keluar dari pondok dan menggeleng sekali lagi. Suaranya tak terdengar, tapi dari membaca mulutnya aku bisa tahu dia mengucapkan kata ‘gila’. Kami berdua hanya tersenyum dan tak berniat membalas. Dia lalu berjalan ke arah kami melewati sungai kecil di bawah dan mendaki ke air terjun. Mukanya khas orang yang baru bangun tidur. Tapi temanku itu juga tak suka berbasa-basi. Tanpa melepas pakaian dia terjun ke air terjun. Byur!

(11 Agustus 2014)

Advertisements

Lelaki dan Bulan Perak

Di balik malam, aku berjalan gontai. Aku berpapasan dengan rembulan yang keperakan. Aku bercerita dengannya sambil menghabiskan malam yang terlanjur terbuang sia-sia. Aku bercerita soal matahari yang sangar akhir-akhir ini. Juga soal lautan dan gunung yang sering mengamuk. Bulan diam mendengarkan dengan seksama.

Aku lalu terkantuk-kantuk pulang ke kamarku. Aku membanting keras pintu kamar dan menjatuhkan diri ke tempat tidur seperti tertembak senapan. Aku mati sesaat ditelan lelah dan malam. Pagi lalu datang membangunkanku pelan. Ia agak marah tapi tak butuh air untuk mengangkatku dari tempat tidur.

Aku mencuci mukaku yang masih berlipat-lipat. Dari balik jendela aku lihat langit biru menantang. Matahari masih hangat. Lalu kuarahkan diri ke balkon untuk menelan habis kopi yang baru aku seduh. Sambil menunggu suhunya turun, aku ambil buku puisi koleksiku. Adakah yang lebih indah dari pagi dengan puisi?

Lalu lalang orang sesekali menganggu pemandanganku. Bunyi anak-anak yang bermain di bawah sana memecah konsentrasi. Aku hirup wangi kopi dan pelan menyeruputnya. Aku senderkan kepalaku di kursi malas. Kursi itu bergoyang selayaknya ombak yang menari-nari di bibir pesisir. Aku bahkan mulai mengantuk lagi.

Aku kembali ke dalam kamar. Menutup pintu balkon sambil tanganku memegang gelas kopi yang tinggal separuh. Aku rebahkan badanku lagi di atas tempat tidur yang bahkan belum sempat jadi rapi. Aku hanya berniat tidur-tiduran barang sebentar. Tapi tak apa jika tidur pulas, toh aku tak mengejar apa-apa hari ini.

Jangankan hari ini. Dalam hidup ini, aku pun tak tahu mengejar apa. Aku hanya petualang yang tersesat dan menikmatinya. Aku coba berjalan perlahan tanpa ada niatan mencari jalan keluar karena aku terlanjur meresapi jejak-jejak langkah yang salah arah. Hingga akhirnya aku sampai di jalan utama, aku pun masih merasa sesat.

Seperti itulah aku. Aku bukanlah pelari dalam kehidupan ini, yang mencari garis akhir dan bersorak-sorai. Aku memang pemimpi yang punya hasrat, tapi aku lupa kapan terakhir kali punya cita-cita. Tapi harus aku akui, aku memang punya beberapa harapan kecil yang tak terlalu aku usahakan. Hanya menggantungkan mimpi itu di ujung pelangi. Siapa tahu mimpi itu bisa jadi pelita yang membuat jalan hidupku masih berlanjut.

Aku ternyata tidur cukup pulas entah berapa lama. Aku memang bukan orang yang menghitung waktu. Di kamarku ini, aku tak menaruh barang temuan bernama jam atau kalender. Bagiku waktu hanya pagar pembatas yang harusnya kita loncati dan bukan jadi jeruji besi yang memenjara, yang mengekang. Jadi aku putuskan untuk hidup tanpa tahu sekarang jam berapa dan hari apa. Aku hanya tahu pagi, siang, dan malam.

Kadang aku mempertanyakan kenapa dulu mau diperintah jarum jam dan diatur angka-angka dalam kotak tanggal. Merasa bodoh sekali mengingat hal-hal semacam itu. Tak ada yang lebih bodoh dari kehidupan yang terpaku jadwal buatan orang lain.

Aku lalu berdiri menuju meja, menuju gelas kopi yang sisa setengah. Aku tegak semuanya hingga habis. Kutaruh gelasnya di bak cucian piring yang bertumpuk tak keruan. Aku menyalakan televisi tanpa alasan. Mungkin karena kebiasaan. Mungkin karena ada berita yang menungguku untuk menontonnya.

Aku gonta-ganti channel televisi hingga aku tak sabar dan mematikannya dengan segera. Televisi kini jadi tempat kebohongan berbalut elegan dengan kekuasaan dan kemampuan pundi emas. Tipuan dihias secantik mungkin hingga orang hidup dalam kepalsuan, dalam bingkai omong kosong manis. Televisi kini mengaburkan batas antara nyata dan fiksi. Aku tak tahu apakah aku hidup dalam realita atau imajinasi. Aku tak terlampau peduli.

Aku kembali beranjak ke balkon. Mungkin ini bagian favorit dari kamar kecilku. Di sini aku seperti melihat lukisan yang bisa berganti-ganti tiap saat. Mungkin seperti video, tapi aku lebih suka istilah lukisan. Karena video adalah buatan jaman modern, sementara aku selalu merasa hidup di jaman yang keliru. Aku pun tak tahu apakah aku masih merasa salah jaman jika ditempatkan di jaman batu atau jaman pencerahan Eropa. Atau aku memang sebenarnya pembenci kehidupan.

Awan putih berbaris bergerak entah menuju mana. Ia mungkin kehilangan arah dan lupa membawa kompas. Mungkin juga ia tak suka terarah dan ingin bebas mencapai segala kemungkinan yang tersedia di keliaran langit biru nan telanjang.

Sepasang burung pipit berterbangan kian kemari hingga berhenti di sepotong dahan kering yang telah jatuh di bebatuan. Kicaunya membangunkan angin yang kemudian mulai bergerak kian kemari menghadirkan kesejukkan tropis.

Aku masih di kursi malasku. Kursi yang mungkin memang dirancang untuk pemalas sepertiku. Mungkin juga ia dibuat bagi orang rajin yang butuh waktu untuk bermalas-malasan sejenak. Untuk mengingatkan bahwa ada waktu-waktu yang harus dihabiskan dengan santai dan tak melulu mesti berlari mengejar layangan yang putus.

Layangan itu bisa saja putus karena ditarik terlalu kuat. Ia tak tahan dan terbang selamanya menjauhi bumi. Coba dikejar sedemikian rupa namun kenyataan tak bisa dicurangi seperti kita menipu teman sepermainan dalam permainan petak umpet. Di saat seperti itu mungkin kursi malas jadi tempat terbaik untuk beristirahat dan menyadari bahwa masih banyak layang-layang yang bisa diterbangkan.

Aku sendiri pernah punya layang-layang. Ia lepas karena aku melirik gadis berambut ikal yang sedang tertawa sambil mengejar anjingnya. Aku lalu coba mengejar layanganku sementara gadis itu masih mengejar anjingnya. Kami berdua saling mengejar kesayangan masing-masing hingga terpisah dan tak pernah bertemu lagi.

Aku bangkit dari kursi yang baik itu. Aku berdiri memandangi apa yang tampak di bawah. Sepasang muda-mudi sedang berbagi sebuah sepeda. Si pemuda di depan, si pemudi di belakang sambil duduk miring memeluk pinggang pemuda. Seorang nenek yang modis menyirami tanamannya yang warna warni, yang tampak lebih memesona dari baju yang dikenakannya.

Aku masuk ke dalam kamar didorong oleh bunyi perutku yang berteriak kelaparan. Aku melongok ke kedalaman kulkasku yang lengang. Rupanya ada pizza bekas kemarin malam. Aku bebaskan ia dari dingin yang membekukannya. Aku taruh ia di meja makan bundar kecil yang kubuat dengan tangan sendiri. Aku duduk dan mulai memotonginya, lalu memasukannya ke dalam mulut dan perut.

Ku ambil sekaleng minuman soda terkenal yang sedang ramai di media karena demonstrasi buruh-buruhnya. Kutuang sedikit demi sedikit memasuki badanku yang berbau matahari. Aku kemudian masuk toilet untuk melengkungkan sebuah seni dengan air. Aku kembali menuju balkon sambil menenteng sebuah novel perang yang satir.

Aku baca lembar demi lembar berharap sebuah inspirasi yang memabukkan. Tapi buku bukanlah sebuah doa yang mujarab. Ia hanyalah pemantik yang tak akan membakar apa pun jika tak ada sumbu sama sekali. Buku mungkin pesawat kertas yang sanggup menerbangkan pembacanya keliling dunia, tapi ia tetap tak kuasa membangunkan putri yang tak mencintainya.

Aku mulai bosan setelah seharian hanya menjejali balkon sempit ini dengan kemalasanku yang tak berujung. Aku beranjak ke kamar untuk merapikan tempat tidur. Tiba-tiba aku sudah dibawah pancuran yang menyiramiku dengan hujan air artifisial yang menyegarkan badan dan mungkin jiwaku.

Setelah berpakaian sekadarnya, aku akhirnya keluar. Berjalan kaki dengan sandal jepit murah dan celana pendek bekas menuju pantai. Aku memang manusia yang beruntung. Tiba di negeri asing ini beberapa waktu yang lalu dengan serangkaian keajaiban, aku terdampar di sebuah kota kecil yang tak jauh dari laut.

Sebagai anak yang tumbuh dengan tarian di bawah matahari terbenam, aku hampir tak bisa lepas dari nyiur dan desir ombak. Aku mungkin salah satu dari mereka yang kulitnya tak pernah gelap meski terus dijemur matahari pantai. Aku sering menghabiskan berjam-jam masa remajaku dengan tiduran di atas karpet pasir putih yang luas.

Sekarang aku di belahan bumi lain. Dan dengan menjumpa biru laut, aku seperti di rumah sendiri. Aku seperti menjadi anak-anak kembali. Seperti halnya langit dan matahari, aku percaya bahwa lautan juga hanya satu di dunia. Ketiga hal itulah yang sesungguhnya menyatukan seluruh warga bumi meski lidah bergelut dengan aksen yang unik.

Kaki sudah menjejak pasir. Aku sedang menghadap lautan. Nyanyinya sungguh merdu ketika sampai di telingaku. Ia menari dengan iringan angin dan coretan jingga. Matahari ingin berpulang. Dan orang-orang ramai menantikannya di pantai damai ini. Sambil bercengkerama dengan pemikiran aku duduk lemas menghadap langit yang berubah warna.

Sunset memang selalu dinanti. Aneh sekali. Padahal ia hanya beberapa menit. Mungkin karena itu ia spesial. Kadang yang tak terlalu banyak memang lebih berkesan. Yang berlebihan seringkali jadi membosankan. Sama halnya dengan benda-benda yang kita temui tiap hari jadi biasa. Padahal mungkin mereka memesona diawalnya.

Matahari turun perlahan memberikan sepenggal waktu bagi jiwa untuk berkontemplasi. Tentang diri sendiri yang aneh, tentang dunia yang cantik karena berantakan, tentang Tuhan yang misterius itu. Aku seperti petapa yang kesepian di pantai sore itu. Duduk sendiri sambil pikiran mengelana kemana-mana.

Aku lalu tersentak oleh tabrakan seorang anak kecil yang berlari sambil menghadap belakang. Aku bangkit berdiri sambil membuka kaos murahku. Aku berlari menuju lautan yang menggelap, menuju matahari yang tinggal ujungnya. Aku bermandian bersama wangi malam yang perlahan mengusik.

Usai sudah aku membasuh tubuhku dengan garam lautan. Mandi di laut selalu punya arti sendiri. Seperti sebuah kewajiban, atau mungkin kebutuhan. Kebutuhan untuk menenggelamkan noda-noda kehidupan yang hitam dan membiarkannya terhanyut bersama samudra.

Aku kini terduduk kembali di pantai. Kini langit telah menggelap. Bulan muncul dengan senyumnya yang genit. Setelah badanku agak mengering, kakiku berjalan kembali menuju kamar. Aku banting tubuhku ke empuknya tempat tidur. Bermalasan meski ditertawai bulan perak yang kemarin aku goda dengan dialog.

Aku ganti celanaku yang basah, lalu keluar kamar mencari belaian udara malam. Aku berjalan di bawah temaram lampu jalan berbentuk daun nyiur. Kaki-kakiku memasuki sebuah kedai tua yang reyot dengan keadaan yang tak pantas disebut kedai. Tapi entah kenapa setiap memasukinya ada rasa nyaman yang tak bisa ditulis dengan kata dan aksara.

Aku duduk di salah satu meja. Memesan sepiring spaghetti dan segelas anggur lokal. Aku benamkan diri pada pemandangan di sekitar. Pria tua yang sedang menenggak bir gandum produksi Jerman. Ia sedang bercakap-cakap dengan temannya dengan bahasa Italia yang terpatah-patah.

Lalu aku melihat ke kaca yang tembus pandang. Tatapan ku kosong. Seperti ada ruang dalam diri yang mencari dan berkelana menembus waktu. Seperti sedang terbang melintasi dunia menuju masa lalu. Aku tiba di sebuah negeri tropis yang kaku. Aku lihat seorang anak kecil sedang berlarian di ujung jalan sambil memegangi mainan kayunya.

Lamunanku terbangun hentakan kecil sang pelayan. Aku menyantap makan malamku sambil meresapi kedai sunyi di kota yang mati. Setelah selesai, aku menuju meja kasir dan membayar tagihan, lalu keluar membelakangi mereka yang mengamatiku dari dalam kedai.

Aku kini di taman mengamati langit, bintang, dan bulan. Seakan dalam kesatuan dengan mereka. Aku menyalakan rokokku yang terakhir sambil diiring nyanyi sendu khas malam-malam di kota kecil. Aku coba memikirkan soal kehidupan. Akalku ingin, tapi hati dan jiwaku enggan.

Aku tak tahu berapa lama lagi akan hidup. Yang jelas selama itu aku akan tetap membuang waktu. Aku tak terlalu suka hidup dan bisa bertahan hanya karena malas memikirkan caranya menyerah. Jadi di sinilah aku dengan siang dan malamku. Aku mungkin bosan tapi belum ingin mati juga. Seperti ada sesuatu yang menunggu. Seperti ada keinginan yang ingin timbul namun takut dipukul kenyataan yang tak baik.

Di taman inilah aku sendiri hingga malam melarut bersama jiwaku yang tak peduli apa-apa. Aku yang beberapa tahun lalu datang sebagai petualang namun jatuh cinta dengan suasana kota. Hingga memutuskan tinggal bersama cinta itu seolah enggan lepas. Tapi aku punya cinta yang lain di seberang lautan. Cinta itu mungkin terbungkus rapi bersama masa lalu. Ia mungkin menungguku untuk menemukannya dan diam bersamanya.

Tapi aku belum mau pulang. Di sini hari-hari sungguh sederhana dan malam tak pura-pura. Semuanya serba apa adanya, tanpa hiasan, tanpa gincu. Aku belum mau meracuni diriku lagi dengan tipu daya dan mendandani mukaku dengan gurat wajah buatan. Aku juga belum sanggup melihat semua hal itu dalam wajah orang yang kulihat, dalam tingkah mereka, dalam bentuk kota, dalam wangi malam, dalam embun pagi.

Desir angin malam melingkari tubuhku. Langit tampak menggelap dan bulan perak itu mencolekku. Ia seperti menyuruhku bicara. Entah telah berapa cerita yang kubeberkan padanya. Malam ini aku hanya diam dan menantangnya untuk bercerita. Aku diam melihatnya, mencoba untuk mendengar suaranya. Ia diam tetap tak bersuara. Aku biarkan suasana saling diam ini.

Menjelang tengah malam aku pulang ke kamarku dengan sebuah langkah pasti di tengah ketidakpastian. Aku tak tahu apa yang pasti itu, aku tak tahu apa yang tidak pasti itu. Yang kutahu besok aku akan bangun tidur, duduk di balkon kesayanganku, membaca puisi yang bergetar, berpikir macam-macam, makan pagi dan siang, duduk depan televisi sambil mengutuk, melihat matahari tenggelam, membasahi diri dengan lautan, makan malam di kedai tua, lalu tertidur sesuka hati tanpa memasang alarm.