A Season with Verona

Saya menikmati buku ini dengan pelan, seperti menyeduh kopi di pagi hari dan membiarkannya dingin. Bulan-bulan berlalu sejak saya mulai membuka halaman depan ‘A Season with Verona’ (selanjutnya disebut Season). Buku ini membantu saya melarikan diri dari narasi-narasi akademis saat tesis: literature review, problem statement, dan kesombongan universitas lainnya. Tak ada tesis di Season, cuma giornata-giornata yang secara kronologis menjalin nostalgi tentang musim yang jauh tertinggal disana.

Italia, pada 2000, adalah puncak sepak bola dunia. Ini narasi universalis yang kita telan mentah-mentah sebagai penikmat calcio. Saya tak ingin mendebatnya hari ini. Pada tahun itu, il sette magnifico masih eksis. Utuh. Batistuta, Totti, dan Veron. Buffon masih  begitu belia di Parma. Ronaldo, Inzaghi, Maldini. Masa-masa yang indah dengan pemain-pemain yang memberi kita sepak bola yang melenakan. Tapi, Tim Parks tak terlena oleh bintang-bintang itu, oleh tujuh klub yang kita gaungkan sebagai ‘magnificent’. Ia  cuma mau bercerita tentang Verona — tanpa Romeo & Juliet.

Singkat cerita, orang Inggris ini mengikuti Hellas Verona — kandang dan tandang — selama semusim penuh. Ia bukan orang asli Verona, tapi ia (belajar) mengimani Hellas dengan ketaatan yang membingungkan. Tapi, saya pikir logis-logis saja. Sepak bola, pada dasarnya, adalah peristiwa sosial-kultural. Di dalamnya kisah-kisah manusia berkelindan, membentuk mitos-mitos, lalu perlahan menjadi semacam agama. Italia adalah tempat yang luhur untuk memeluk agama bernama sepak bola. Tim tinggal di Verona bertahun-tahun, datang ke Bentegodi secara rutin, dan berkawan dengan orang-orang yang mencintai Hellas. Semuanya terjalin begitu wajar.

Season menarik sejak awal karena Verona bertandang di Bari pada giornata perdana. Bari ada di selatan sana, di region Puglia. Verona ada di utara, di region Veneto. Jadi, bayangkan sebuah bus berisi suporter fanatik sepak bola melintasi Italia dari utara ke selatan, dengan alkohol dan cori yang tak putus-putus ditenggak/dinyanyikan sepanjang jalan. Disitulah Tim berada, bersama Brigate Gialloblu yang dikenal sebagai kelompok suporter bola yang fasis, rasis, dan tentu saja doyan berkelahi di jalan. Tim, orang Inggris yang aksen Italianya mungkin tak sempurna, seperti sedang menjalani misi suci di bus menuju Bari.

Setelahnya puluhan giornata lain diceritakan. Kadang dengan bayangan yang begitu jelas tentang sepak bola yang dimainkan di atas lapangan. Kadang sama sekali tak ada urusan tentang lapangan. Yang menyenangkan dari Season adalah Tim memilinnya dengan narasi-narasi di luar sepak bola yang kadang-kadang tampak begitu jauh dari urusan lapangan hijau. Saya teringat, suatu kali ia membandingkan Hellas dengan Inferno-nya Dante. Atau menukas soal wasit dengan melihat struktur yang lebih besar di masyarakat Italia. Atau membahas soal rasisme dengan menyangkutpautkan nyanyian monyet ala Brigate di Bentegodi dan kasus penipuan seorang guru asal Uruguay di kota Verona.

Kesan yang saya tangkap adalah: Tim membeberkan rahasia-rahasia Italia yang cuma bisa diserap ketika seseorang tinggal cukup lama di negeri itu, tapi bukan bagian sepenuhnya dari identitas bernama ‘Italia’. Tim ada di-antara, dia ada di luar sekaligus di dalam. Posisi itu menguntungkannya sebagai pencerita, karena ia tak harus ditelan momok bernama identitas, karena ia bagian tak terpisahkan dari identitas itu. Secara metodologis, Tim memiliki kesempatan dan insting ala antropolog untuk menjadi bagian dari komunitas, tapi sanggup mengambil jarak untuk melihat komunitas itu dengan perspektif yang lebih luas dan utuh.

Di Season, ada begitu banyak bagian yang saya suka. Tiap kalimat, tiap paragraf, atau tiap giornata bisa menjadi ceritanya tersendiri. Masing-masing sanggup memaku saya di sofa dan duduk lama, membayangkan tahun-tahun yang jauh di belakang sana saat saya sedang belajar mencintai permainan ini. Musim 2000-01 adalah yang pertama buat saya. Jadi, itulah kenapa Season begitu nostalgik buat saya. Ia membuat saya mengingat alasan-alasan dan kepingan-kepingan dari perjalanan panjang mencintai sepak bola. Di balik halaman-halaman Season, saya seperti menjadi anak kecil lagi; yang duduk membaca/menonton sepak bola Italia ditulis/ditayangkan.

Oh khidmatnya.

Advertisements

Membaca

Ada satu kutipan Pramoedya yang saya suka: “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Entah kenapa, menurut saya, kata-kata Pram senada dengan ucapan John Keating dalam Dead Poets Society: “We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for.”

Singkatnya, sastra menjadikan kita manusia. Oleh karenanya, membaca itu penting. Menulis juga. Soal membaca dan menulis, kadang saya meratapi masa SMP dan SMA yang amat jarang membaca buku, apalagi menulis. Waktu kecil dulu, saya suka baca. Setelah berhiatus pada masa remaja yang aneh itu, saya kembali doyan baca setelah masuk kuliah. Membaca adalah penjaga kewarasan saya dalam jaman dimana kegilaan adalah norma.

Soal membaca dan menulis, saya berutang banyak pada ayah saya. Dia adalah pembaca yang antusias dan penyair sambilan. Saya jadi ingat, ayah saya selalu membawa buku setiap menjemput saya saat SD dan SMP. Seringkali, sepulang sekolah, saya mendapati dirinya terduduk di suatu sudut, dengan mata menatap bukunya, sambil menunggu anak tengahnya menyelesaikan pelajaran sekolah.

Kebiasaan baca itu tak hanya saya rasakan. Teman-teman kantor ibu saya hafal benar kebiasaan itu. Jika sedang menjemput ibu dan harus menunggu, ia santai saja dan larut dalam bacaan yang dibawanya. Ia selalu kemana-mana dengan buku di genggaman. Kebiasaan itu coba saya tiru, meski seringkali gagal. Saya hampir selalu membawa buku dalam tas saat pergi kemana-mana, tapi sering buku itu tak terbuka sama sekali.

Saya juga jadi ingat cerita ayah saya ketika bertemu Andrea Hirata di bandara, beberapa tahun yang lalu, saat Laskar Pelangi baru masuk pasaran. Ia sedang membaca sambil menunggu kedatangan tante saya dari Jerman ketika melihat Andrea. Ia berbicara sejenak dengan penulis Belitong itu dan dengan bangga mengatakan, “Lihat, Bung, dari sekian banyak orang disini, cuma kita berdua yang pegang buku dan membaca.”

Dulu, cerita itu saya anggap sebagai keangkuhan yang keren. Ada semacam kebanggaan dalam nada bicara ayah saya kala itu. Di negeri dimana membaca belum menjadi kebiasaan, membaca di ruang publik memang bisa saja terasa membanggakan. Sayangnya, hal itu masih terjadi. Saya menantikan masa ketika tidak ada lagi kebanggaan saat membaca  buku di kereta, bandara, atau tempat umum lain.

Saat membaca, saya terkadang membayangkan para pengarang yang karyanya pernah saya lahap. Saya rasanya ingin menyalami mereka dan berterima kasih karena telah menulis. Tanpa mereka yang menulis, apa artinya manusia dan kehidupan dan alam semesta? Hal itu seringkali membuat saya merasa berutang. Saya merasa wajib menulis dan membagi cerita, ide, atau apalah.

Pada akhirnya, membaca dan menulis adalah sebuah rangkaian. Orang yang menulis tanpa membaca akan terlihat bodoh. Tulisannya pasti akan kering, dangkal, dan kusam karena referensi yang sedikit. Sedangkan, orang yang membaca tapi tidak menulis adalah egois dan tidak tahu berterima kasih. Membaca adalah ibadah, menulis adalah ungkapan syukur. Itu saja.

Big Sur

Bagi saya Big Sur adalah sebuah epik. Tak banyak cerita yang membuat bulu kudukmu merinding saking bagusnya atau matamu berkali-kali ingin menangis karena indahnya (bukan karena sedih). Big Sur, yang merupakan semi-autobiografi Jack Kerouac, berkisah tentang banyak hal dalam kehidupan sang raja beatnik. Jika sudah membaca On The Road (juga Dharma Bums), membaca Big Sur seperti membaca proses perubahan pada watak Kerouac.

Big Sur adalah daerah cantik di garis pantai California. Ketik frasa Big Sur pada Google Images dan yang akan muncul adalah gugusan bukit dan laut lepas, mengingatkan saya pada Lombok sebelah utara. Tadinya saya pikir Big Sur akan menceritakan perjalanan Kerouac kesana. Namun ini bukan kisah tentang perjalanan gila-gilaan seperti dalam On The Road. Ini ialah cerita tentang pengarang sukses cum tenar yang ingin menyendiri dan kembali ke dekapan alam.

Cerita diawali dengan Kerouac yang mengeluh tiap hari rumahnya diganggu puluhan jurnalis dan anak muda yang penasaran dengan sisi lain kehidupan si raja beatnik. Ketenaran, seperti dipercayai banyak pengarang, adalah hal terburuk dalam sebuah proses kreatif. Kerouac mengalami dan menyadari itu, maka ia ingin melarikan diri dari sorot kamera wartawan dan teriakan pemujanya. Ia kemudian pergi ke Big Sur, ke kabin milik kawannya.

Alur cerita dalam Big Sur sebenarnya biasa saja. Kerouac pergi ke Big Sur, menginap tiga pekan, lalu bosan dan kembali ke kota. Lantas ia bersama teman-temannya kembali ke Big Sur beberapa hari, lalu pulang lagi ke kota. Lalu ia kembali untuk kali ketiga bersama beberapa kawannya lagi dan cerita selesai. Yang indah dan ajaib dalam Big Sur, seperti biasa, adalah ide yang ditumpahkan Kerouac, terutama saat ia sendirian di Big Sur.

Banyak hal dipikirkan dan ditumpahkan Kerouac. Mulai dari perilaku turis-turis Amerika yang mengunjungi Big Sur, perubahan budaya perjalanan di Amerika yang mulai ragu untuk memberi tumpangan pada hitchhiker, kematian kucing peliharaan Kerouac yang membuatnya depresi, persahabatannya dengan Neal Cassady yang disadarinya muncul karena keduanya sama-sama Katolik yang taat, dan beragam ide lain.

Saat membacanya, saya seperti mengenal Kerouac lebih dalam. Saya merasa tahu persis ide itu lahir dari sosok yang seperti apa. Ide-ide itu hanya bisa lahir dari kepala seseorang yang terbiasa merenung, berkelana seorang diri, kecewa dengan kehidupan, dan menghayati ajaran Buddhisme tanpa melupakan dogma Kristiani. Big Sur dengan kesederhaannya menghadirkan kompleksitas yang sangat memesona.

Di bagian-bagian terakhir, Kerouac mengisahkan dimana dirinya diliputi kekalutan dahsyat. Ia benci dan kecewa dengan dirinya sendiri, ia sedih dan seperti tercerabut dari sekitarnya. Lantas ia tak bisa tidur karena dihantui anxiety yang tak tertahankan. Bagian tak bisa tidur ini mengingatkan saya pada malam pertama saya di Sumba. Saya terjaga sepanjang malam karena diliputi kegelisahan yang aneh dan tak biasa.

Namun, segala kegelisahan pada diri Kerouac itu akhirnya hilang dalam satu momen yang ajaib. Dia tertidur di kursi dan mendadak segalanya menjadi normal. Segala bayangan buruk di kepalanya sirna. Ia menjadi enteng dan bahagia seperti sediakala. Big Sur akhirnya ditutup dengan sempurna: something good will come out of all things. And it will be golden and eternal just like that. There’s no need to say another word.

In A Strange Room

Saya mendapati In A Strange Room di salah satu mal di Senayan satu hari sebelum Juventus bertanding di Gelora Bung Karno. Ceritanya saya sedang menunggu teman karena sore harinya ada sesi latihan terbuka di GBK. Menemukan buku ini saya jadi semakin percaya bahwa bukulah yang menemukan kita, bukan sebaliknya.

In A Strange Room ditulis oleh Damon Galgut, seorang novelis Afrika Selatan. Dalam versi Bahasa Indonesia, ada frasa ‘perjalanan tiga benua’ di bawah judulnya. Itulah yang membuat saya membelinya, disamping karena bocoran di halaman belakang. Saya baru membacanya beberapa bulan kemudian untuk melepaskan diri dari bacaan-bacaan Bahasa Inggris.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar: Si Pengikut, Si Pencinta, dan Si Pelindung. Tiap bagian adalah tiga kisah perjalanan yang berbeda, sehingga ada tiga cerita perjalanan di buku ini. Tapi, buku ini bukan panduan wisata murahan. Ini adalah cerita tentang perjalanan sebagai sebuah ritus yang kelam, bukan hore-hore industri pariwisata.

Di bagian pertama diceritakan Damon bertemu seorang bule Jerman di Yunani. Mereka lantas berteman dan bertahun-tahun setelahnya melakukan perjalanan bersama ke Lesotho, sebuah negara yang ada di tengah-tengah Afrika Selatan. Untuk siapa pun yang pernah melakukan perjalanan berdua, ini kisah yang bisa membuat anda tersenyum dan mengangguk-angguk.

Perjalanan keduanya adalah tipikal kelana yang dilakukan dua orang yang biasa berpergian seorang diri, tapi disatukan. Di dalamnya ada egoisme dan keinginan untuk bebas yang akrab bagi saya. Di akhir bagian pertama, Damon berpisah dengan kawan perjalanannya karena pendaman perasaan yang menggunung dan tak bisa ditahan lagi. Ia lantas kembali ke negaranya.

Bagian kedua semakin mengasyikkan karena Damon bertualang ke Zambia, Tanzania, Malawi. Saya menyukai bagian ini karena memberi imajinasi tentang Afrika di tengah gelontoran cerita-cerita perjalanan di Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, atau pun Asia. Bagian ini menawarkan sesuatu yang berbeda bagi siapa saja yang bercita-cita keliling dunia.

Kisah di bagian kedua sedikit lebih kompleks dari bagian pertama karena terdapat lebih banyak tokoh. Tapi, inti cerita berpusat pada hubungan misterius Damon dan Jerome, bule Swiss yang ditemuinya di perjalanan. Beberapa bulan setelahnya, Damon menemui Jerome di Swiss, lalu pulang satu hari sebelum Jerome meninggal dunia.

Yang menarik dari bagian ini juga adalah tentang fleksibilitas dalam perjalanan. Sebenarnya, Damon berniat hanya mengunjungi Zambia. Lalu, pertemuannya dengan orang-orang asing dan kata hatinya mendorongnya berkelana lebih jauh dan lebih lama. Ia mendapati perjalanan sebagai pelarian diri yang konstan, sebuah pencarian yang tanpa pusat.

Bagian ketiga adalah yang paling sentimentil. Damon pergi ke India bersama Anna, pacar dari sahabatnya yang lesbian. Anna menderita gangguan mental. Bayangkan, anda berpergian dengan seorang yang secara medis dinyatakan gila. Puncaknya, tentu saja drama ketika Anna melakukan usaha bunuh diri yang akhirnya gagal.

Yang paling seru di bagian ketiga ini bukanlah soal perjalanan, meski itu juga menarik, tapi tentang kematian dan kebencian pada hidup. Anna dikisahkan dengan simpatik sebagai sebuah representasi manusia yang tak suka hidup, namun dicintai oleh siapa saja dan punya segala bentuk keindahan untuk menikmati hidup, yang ditolaknya.

Novel ini memang terasa begitu gelap, meskipun disisipi detil-detil yang lucu, unik, dan warna-warni. Siapa pun yang menghargai perjalanan lebih dari sekadar konsumsi gaya hidup banal rasanya akan menyukai buku ini. Salah satu testimoni di bagian depan rasanya cukup mewakili apa yang saya rasakan: peringatan tegas bagi siapa pun yang pernah berkelana untuk melarikan diri.

White Fang

White Fang adalah cerita tentang kita. Jack London seperti berbicara tentang manusia dengan memakai serigala sebagai perumpamaan. Bahasanya liris dan mudah diikuti. Saya seperti menjadi seorang anak-anak lagi yang membaca kisah tentang serigala dan salju. Pada masa dewasa dimana cerita binatang dilupakan dan salju hanya gimmick yang kaku, membaca White Fang adalah melankoli tersendiri.

Memulainya dengan cerita dua orang manusia, dan bukan langsung menuju ke serigala, adalah kegeniusan London dalam mengajak pembacanya terpusar arus. Terutama bagi pembaca yang sangat berharap banyak pada bagian awal sebuah buku, selain bagian akhir tentunya. Jadi begitu kisah tentang serigala dituliskan, saya tak lagi bisa menaruh buku kembali ke rak. Saya harus membaca hingga tumpas.

Terlalu banyak detil yang indah dalam White Fang. Tiap bagian adalah proses yang penting dalam mendoktrin bahwa White Fang adalah kita. Mulai dari caranya memandang dunia pertama kali; pertarungan pertamanya dengan binatang alam liar; ditangkap oleh Indian, menjadi jinak, dan kehilangan sedikit insting alam liarnya; cambukan saat ia jadi serigala aduan; hingga pertemuan dengan manusia yang mencintainya.

Semua itu seperti aliran yang tak buru-buru, memberi kita waktu sejenak untuk membayangkan dan bertanya, apakah saya seperti White Fang? Apakah setiap kita punya insting alam liar yang tersisa dari penjinakkan oleh peradaban? Apakah kita sama tak beraninya dengan White Fang untuk kembali ke alam liar, ke hakikat, dan lebih memilih untuk nyaman dalam pelukan dunia yang telah diatur ini dan itu?

White Fang mengajarkan bahwa sosialisasi dan peradaban membuat kita lumpuh. Pilihan menjadi terbatas. Namun juga bahwa insting dasar tak akan pernah mati. Adalah tugas kita masing-masing untuk mencari, menemukan, dan berani menunjukkan. Setelah itu konsekuensi muncul. Kita menjadi dilematis dan harus memilih untuk patuh kemana: hakikat hidup atau tuntutan jaman? Pada titik itu peperangan meletus di kepala.

Belenggu

Suatu malam saya mampir di Blok M dan menuju kios-kios buku di basement yang legendaris itu. Saya mencari-cari, atau lebih tepatnya saya dicari-cari oleh, buku. Siapa tahu mendapat buku bagus disana. Akhirnya saya pulang membawa dua buah. Pertama, The Sicilian-nya Mario Puzo. Kedua adalah Belenggu.

Cerita soal saya dan Belenggu lumayan menarik. Pertama saya mengetahuinya di salah satu Majalah Horison yang tertumpuk di salah satu meja di sudut Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Sumatera Barat. Lantas dalam perjalanan menuju Parapat dari Bukittinggi, saya sempat melewati Muara Sipongi, tempat kelahiran si pengarang, Armijn Pane.

Maka ketika di Blok M malam itu saya melihatnya di antara buku-buku lain, angan saya berputar ke masa silam. Ke suatu sore di Aie Angek yang basah oleh gerimis. Ke fragmen Muara Sipongi yang terekam di kepala: kota kecil dengan rumah-rumah kayu kecil, sungai-sungai yang lumayan lebar, dan pemandangan Bukit Barisan yang megah.

Saya lantas membayarnya dan mulai membacanya beberapa hari kemudian. Dari gaya bahasanya, saya agak kaget. Sudah lama rasanya tidak membaca sastera dengan gaya lama seperti itu. Baik dari segi bahasa, ejaan, dan suasana yang dihadirkan Armijn, semuanya terkesan oldies bagi saya.

Inti cerita adalah pergulatan hidup yang dialami Sukartono, seorang dokter yang merupakan suami sah dari Tini. Sang dokter kemudian diceritakan “berselingkuh” dengan Yah atau Siti Haryati. Roman segitiga itu berakhir dengan berpisahnya Sukartono dari kedua perempuan itu di ujung novel.

Sejak awal buku, yang membuat saya bisa bertahan sampai akhir adalah rasa penasaran saya tentang kenapa judul buku tersebut Belenggu. Yang saya dapat adalah Armijn ingin membisikkan bahwa kita manusia dijerat oleh belenggu angan-angan masing-masing. Itulah yang menjadikan inti mengapa problematika muncul dalam hidup.

Konon, Belenggu memang dianggap sebagai novel psikologis pertama di Indonesia karena mengisahkan konflik batin tokoh didalamnya. Dalam menuliskannya, Armijn dikisahkan terinspirasi oleh psiko-analisis Sigmund Freud. Selain itu, Belenggu juga kerap dipandang sebagai salah satu titik penting dalam perkembangan sastera modern Indonesia.

Wacana soal emansipasi perempuan juga tampak mendapat tempat dalam Belenggu. Hal ini menjadi wajar mengetahui bahwa Armijn-lah yang menerjemahkan surat-surat RA Kartini menjadi kumpulan Habis Gelap Terbitlah Terang. Tokoh Tini dikisahkan sebagai contoh perempuan “modern” Indonesia.

Meski secara pribadi agak membosankan, saya tak kaget jika suatu waktu dalam hidup ini saya teringat lagi dengan Belenggu. Mengingat-ingat bahwa hidup hanyalah penjara yang membelenggu, dengan angan dan mimpi sebagai jeratnya. Selebihnya manusia hanyalah narapidana yang takkan pernah bebas.

The Alienist

The Alienist adalah novel detektif karya Caleb Carr yang pertama kali dipublikasikan pada 1994. Buku ini menemani saya saat melakukan perjalanan ke Sumatera bulan lalu. Agak tidak biasa memang saya membawa sebuah novel detektif saat melakukan perjalanan, apalagi tentang pembunuhan. Saya menemukan buku tersebut di lemari buku ayah saya. Saya tertarik karena judulnya: Alienist.

Judulnya mengingatkan saya pada novel The Heart is A Lonely Hunter yang menceritakan tentang pribadi-pribadi yang “teralienasi” dari masyarakatnya. Saya pikir The Alienist akan seperti itu. Saya tidak sepenuhnya salah. The Alienist memang menceritakan tentang orang-orang yang terpinggirkan, yang berbeda (atau dibedakan) dari masyarakat. Tapi jelas The Alienist dan The Heart is A Lonely Hunter beda tipe.

Latar yang dipakai Carr pada novelnya adalah New York tahun 1896. Cerita berpusat pada upaya sejumlah orang yang ditugaskan Theodore Roosevelt (yang saat itu menjadi kepala polisi NY, belum jadi presiden) untuk mengusut peristiwa pembunuhan berantai yang khas. Pembunuhan atas anak-anak pekerja seks waria yang berada di bawah umur, yang disiksa habis-habisan saat dibunuh.

Tokoh utama dalam novel ini bisa jadi adalah Laszlo Kreizler, seorang alienist. Alienist disini adalah psikolog yang tertarik untuk menangani kasus orang-orang dengan gejala kejiwaan yang “khusus” atau “aneh” atau “menyimpang”, dan biasanya sering terlibat di pengadilan kriminal untuk membela kriminal-kriminal yang diduga memiliki masalah mental yang membuatnya berlaku kriminal.

Kreizler, bersama dengan John Moore (wartawan NY Times), Sara Howard, Lucius dan Marcus Isaacson (ketiganya adalah detektif di kepolisian) merupakan anggota tim detektif tersebut. Cerita bermula dari pembunuhan Georgio “Gloria” Santorelli yang merupakan salah satu korban dari pembunuh serial kejam yang dicari-cari. Kekhasan pembunuh itu adalah mencongkel bola mata korban-korbannya sebagai “koleksi”.

Dengan metode psikologi dan sidik jari (yang waktu itu belum populer), tim detektif berusaha untuk menyingkap jati diri pembunuh. Dari serangkaian pengamatan terhadap bukti-bukti, didapat teori bahwa tampilan korban merupakan cerminan kerusakan-kerusakan (mental dan fisik) yang dimiliki si pembunuh. Kreizler meyakini teori bahwa apa yang dilakukan si pembunuh diakibatkan karena apa yang terjadi pada masa lalunya.

Setelah pencarian lama, si pembunuh akhirnya terungkap. Ia memang memiliki masa lalu yang menciptakannya menjadi pembunuh berseri yang kejam. Ia anak yang tak diharapkan oleh ibunya, sering diomeli ayahnya yang pendeta, pernah dicabuli saat remaja, menikmati saat-saat membunuh binatang kecil, meniru foto-foto yang dilihatnya tentang pembunuhan orang ala suku Indian, dan juga membunuh kedua orang tuanya.

Dengan segala latar belakangnya yang berhasil diungkap tim detektif, si pembunuh akhirnya dapat diketahui. Namun saat penangkapan yang sudah disusun dan ditebak waktunya (sesuai tanggal-tanggal relijius umat Kristen), si pembunuh justru tewas terkena tembakan. Cerita pun berakhir dengan kesimpulan bahwa si pembunuh secara mental tidak gila dan membunuh dengan kesadaran penuh untuk memuaskan dirinya.

Secara garis besar, Carr membuat novel ini menarik karena menggabungkan elemen detektif, psikologi, dan sejarah dalam penulisannya. Deskripsi yang tajam, tokoh-tokoh yang digambarkan memiliki kepribadian unik, dan cara Carr menggabungkan ulasan-ulasan psikologi maupun per-detektif-an juga brilian. Saya kira The Alienist memang bukan novel terbaik untuk dibawa saat perjalanan, tapi ia tetap salah satu karya yang indah.

Amba

Amba merupakan buku karya Laksmi Pamuntjak. Saya mendapatkannya sebagai hadiah ulang tahun dari adik saya. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dihadiahi sebuah buku saat ulang tahun. Seingat saya yang terakhir itu adalah buku Harry Potter entah edisi ke berapa. Saya tak pernah ada niatan sama sekali untuk membacanya meski buku itu masih ada di lemari koleksi buku di rumah.

Amba adalah cerita tentang seorang perempuan bernama Amba, yang namanya diambil dari tokoh dalam kisah pewayangan. Pusat cerita adalah pencarian Amba tentang sosok Bhisma (juga nama tokoh dalam wayang) yang membuatnya harus melakukan perjalanan ke Pulau Buru. Bhisma adalah salah satu tapol di Buru yang tertangkap saat terjadi kerusuhan di Yogyakarta pada sekitaran peristiwa G/30 S PKI.

Latar sejarah yang erat dengan peristiwa tersebut penting dalam buku ini. Seakan buku ini memang dijadikan sebagai usaha melawan lupa atas sejarah kelam bangsa ini. Mulai dari peristiwa 30 September hingga masa Orde Baru yang penuh kebiadaban. Laksmi dalam halaman persembahannya memang mempersembahkan buku ini untuk mereka yang pernah ditahan di Buru. Ia ada di pihak mereka yang dimusnahkan kehidupannya.

Dengan gaya bahasa yang sedikit mengingatkan saya pada gaya Goenawan Mohamad, Laksmi memakai alur maju-mundur dalam karyanya. Ia mulai dari pencarian Amba di Buru, lalu kembali ke masa kecil Amba di Kadipura hingga meneruskan sekolah di UGM. Lalu ia cerita tentang Amba dan kisah cintanya dengan 3 orang pria: Salwa, Bhisma, dan Adalhard. Lalu ke cerita tentang Bhisma. Lalu kembali ke pencarian Amba di Buru.

Gabungan kisah pewayangan, cerita sejarah bangsa, dan roman yang melankolis dan tragis membuat Amba menjadi sesuatu yang unik. Meski begitu, novel ini tak terlalu berkesan bagi saya. Bagus, tapi tak cukup untuk jadi monumental. Tapi paling tidak ada satu kalimat yang tak bisa saya lupa, yaitu kata-kata Bhisma pada Amba: “wajahmu mengandung kesedihan sebuah kota.” Saya rasa itu salah satu frasa terindah yang pernah saya baca.

Kuartet Buru

Setelah lulus saya jadi lebih banyak baca buku. Mungkin semacam bayar utang. Atau karena memang terlalu banyak waktu senggang. Jadi, saya ingin menulis tentang buku-buku yang saya baca dalam masa “sabbatical” ini. Tentu bukan bentuk resensi, hanya sekedar gumam sambil lalu tentang buku yang habis ditelan. Saya mulai dari Kuartet Buru. Membacanya termasuk dalam daftar “hal-hal yang harus saya lakukan dalam hidup.”

Sebelum membaca keempat buku Tetralogi Buru, saya adalah orang yang skeptis pada sastra Indonesia. Saya lebih sering dan lebih suka membaca buku-buku tulisan orang luar daripada tulisan orang sendiri. Buat saya pengarang-pengarang kita terlalu banyak basa-basi. Tentu itu anggapan dan tudingan yang tak terlalu berdasar, hanya asal kecap, hanya asal rasa. Skeptisme itu toh akhirnya luntur oleh hasil kerja Pramoedya Ananta Toer selama di Buru.

Tak usahlah saya ceritakan disini tentang Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Sudah banyak resensi yang ditulis untuk keempatnya. Singkatnya, keempatnya bicara tentang seorang bernama Minke. Tapi Minke dan kehidupannya disini hanyalah cara yang digunakan Pram untuk menggambarkan isu yang lebih besar, yang mencakup skala nasional, bahkan global.

Bagi saya disitulah kehebatan Kuartet Buru. Fenomena nasional (juga global) dalam periode-periode waktu tertentu dikisahkan dengan cantik dari sudut pandang mikro, sudut pandang yang personal dan dekat. Itulah rasanya yang membuat Kuartet Buru menjadi fenomenal, menjadi sastra terbaik Indonesia. Dari keempatnya, favorit saya adalah Anak Semua Bangsa.

Untuk total lebih dari 1000 halaman, keempat buku tersebut sama sekali tak membosankan untuk dibaca, termasuk bagi orang yang biasa membaca lama sebuah buku. Cerita Minke dan Pangemanann sangat mengalir dan membuat saya begitu larut, hingga jam-jam tak terasa, dan sebulan habis untuk membaca keempatnya. Sejak itu, saya jadi terbiasa membaca buku-buku tebal dalam waktu yang tak terlampau lama.

Namun, yang terpenting dari kesan saya terhadap Kuartet Buru adalah sebuah hal. Setelah selesai membaca, yang terpikir di kepala saya hanya satu (atau dua): setiap orang Indonesia harus pernah baca keempatnya dan seharusnya buku-buku tersebut dijadikan bahan bacaan wajib di sekolah-sekolah. Saya pikir itu penting untuk membuat orang Indonesia melek sastra Indonesia sejak di bangku sekolah, juga untuk menebus dosa Orde Baru yang membakar karya-karya Pram.

Pada akhirnya saya hanya ingin berterima kasih dengan meminjam kalimat persembahan Laksmi Pamuntjak pada awal buku-nya Amba: (terima kasih) untuk mereka yang pernah ditahan di Pulau Buru, yang telah memberiku sepasang mata baru.