Rusia ’18

Piala Dunia seperti memberi kita mata baru. Yang ia tawarkan, sebenarnya, adalah kesempatan untuk melihat cara bermain sepak bola yang berbeda, beragam, plural. Yang universal itu cuma rekaan. Sudah sejak lama imajinasi kita – yang dimediasi televisi, internet, dan lain-lain – dikurung cara berpikir yang Eurosentris. Premier League, La Liga, Serie A, Bundesliga, dan liga-liga Eropa Barat beserta papan klasemennya selalu muncul jelas di kanal-kanal sepak bola. Dan kita merayakan Liga Champions (Eropa) dengan meriah/gairah. Sudah sejak lama, Eropa menyetir imajinasi dan cara berpikir tentang apa itu baik/buruk, modern/primitif, maju/berkembang, pusat/periferi, dan kategori-kategori Cartesian lain.

“Ketika sepak bola dimainkan, saya bersyukur akan keajaiban ini dan peduli setan tim atau negara mana yang main.” Kira-kira begitulah kata Galeano. Orang-orang mencari Messi atau Ronaldo atau Salah. Dan kita lupa anak-anak Senegal, Jepang, Panama, Tunisia, dan ratusan pemain lain sedang menjalani mimpi masa kecilnya. Di Rusia, harusnya kita sejenak melupakan narasi-narasi besar dan universalis tentang apa itu sepak bola yang baik dan belajar merayakan pluriversitas. Ada banyak cara untuk hidup dan bermain bola (atau tidak sama sekali!).

‘Menyadari’ selalu jadi langkah pertama setiap revolusi. Tanpanya, Soeharto akan duduk selamanya di istana. Tanpanya, kita akan selalu menelan mentah-mentah omong kosong Descartes. Jadi, yang diberikan hari-hari ini – from Russia with love – adalah kans; adalah jalan yang membawa kita pada kenyataan bahwa sepak bola dimainkan dengan banyak ide. Maroko-Iran, misalnya. Tak banyak yang tertarik. Orang-orang kadung menelan manifesto bahwa yang jago cuma Jerman, Brazil, Argentina, Spanyol, Prancis. Di lapangan, terlepas apa pun hasilnya (persetan hasil!), para pemain Maroko dan Iran memberikan seluruh keringatnya; dan memberi kita ingatan yang nostalgik tentang sepak bola yang asyik.

Memang sepak bola disulap jadi ruang olah manajemen. Dulu kita punya pelatih, sekarang kita punya manajer. Pelatih mengajak kita bermain, manajer mengajak kita bekerja. Itu kata Galeano (lagi). Bermain dan bekerja mengandung semesta yang berbeda. Orang bekerja dengan skema, yang kadang diulang-ulang, dan itulah kenapa Argentina tampak membosankan dan Jerman seperti kehabisan ide untuk mencetak gol. Bermain adalah sudut pandang yang tak ada di kamus orang-orang yang kepalanya sudah diisi mantra-mantra modern tentang efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan rumor-rumus neoliberal lainnya.

Hari-hari ini, betapa menyenangkannya melihat Iran, Nigeria, Korea Selatan, Peru. Mereka yang bermain sepak bola dengan gema yang diusung Galeano: sepak bola adalah kenikmatan yang menyakitkan. Hasil akhir, tentu saja, selalu bisa mengkhianati perasaan-perasaan kekanak-kanakan yang tumpah di lapangan; atau mengecoh orang-orang yang cuma mau menonton Neymar jatuh dan Messi kebingungan (lalu mengecek skor via livescore). Di 90 menit ++ yang sering kali dilupakan, yang banyak orang tak rela menghabiskan waktu kronosnya untuk itu, sepak bola yang asing sekaligus tak asing itu sebenarnya sedang dimainkan.

 

Advertisements

Buffon

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita lawan, entah oleh bom atau revolusi. Seperti perpisahan. Gianluigi Buffon telah menyelesaikan bait terakhirnya di Juventus. Tiang-tiang gawang di Corso Gaetano Scirea jadi saksi bisu tahun-tahun yang panjang sejak ia meletakkan kaki – dan tangannya – di Turin. Setelah tujuh belas tahun, Buffon telah menjadi legenda, totem, ikon, simbol; menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Bianconeri. Untuk itu semua, ia pantas menangis.

Di dunia partiarkal ini, dimana laki-laki dilarang menangis, sepakbola adalah alasan yang macho untuk menitikkan air mata. “Saya sering menangis,” kata Buffon, menjelaskan soal air matanya setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Baginya, menangis itu membebaskan (it frees you) dan membuat kita menjadi manusia (it makes you feel human). “Ini bukan tentang kekalahan itu sendiri, tapi sesuatu yang lebih rumit dan romantik,” ujarnya. Di pekan ini, Buffon telah menjelma kata-katanya sendiri. Ia terkesan sangat melankolis.

Di konferensi pers, Kamis lalu, Buffon seperti ingin menangis sejak awal. Toh, air mata itu tak jatuh sama sekali hingga pertanyaan jurnalis terakhir. Tapi, kita tahu matanya sembab. Seperti ada yang tertahan. Kata ‘emosional’ berkali-kali keluar dari mulutnya. Misalnya, “musim ini sangat emosional” untuk menjelaskan kegagalan timnas Italia dan kemarahannya di Santiago Bernabeu. Kita bisa bayangkan betapa wajarnya itu semua. Ia sudah empat puluh tahun, Italia gagal ke Rusia, ia pensiun dari tim nasional, ia gagal lagi di Liga Champions (satu-satunya trofi penting yang belum ia menangkan), dan hal-hal lain. Di lapangan, semua itu tak terlihat. Buffon tampak baik-baik saja. Kiper yang baik adalah ia yang (tampak) tenang.

“Saya pria yang tenang,” kata Buffon. Tenang. Kata itu juga sering keluar di konferensi pers – ‘serene’ menurut penerjemah. ‘Tenang’ itu jualah alasan kenapa ia belum memutuskan kemana ia berlabuh setelah Juventus. “Saya akan memutuskannya minggu depan. Setelah semua emosi ini reda. Saya ingin tenang saat membuat keputusan besar soal masa depan saya,” kira-kira seperti itu.  Maka, spekulasi merebak. Buffon pria yang tenang, tapi kita semua tidak – dan sibuk menebak-nebak. Saya membayangkan kontradiksi di tubuh Buffon, Sabtu ini, saat emosi dan ketenangan bercampur aduk tak karuan di dadanya.

Kita bisa melihat ada yang janggal pada senyumnya. (Hari-hari ini saya sedang banyak membaca soal Barthes dan semiotik, jadi maafkan interpretasi semiotik saya – yang mungkin berlebihan, personal, dan emosional – terhadap gerak-gerik Buffon.) Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti di ruang pers, Buffon seperti menahan sesuatu di laga terakhirnya. Ia seperti seorang pecinta yang gagal menemukan kata yang tepat. Maka, ia memilih tenang – seperti yang selalu ia lakukan sebagai kiper. (Saya selalu terkesima pada posisi kiper: orang yang berada “di-luar” permainan itu, satu-satunya pemain yang boleh memakai tangan dalam permainan yang dinamai football. Buat saya, ketenangan adalah kualitas utama yang mutlak dimiliki kiper.)

Toh, akhirnya yang ditahan-tahan itu tak tertahankan. Air mata jatuh dari kedua matanya. Kita melihat bola matanya berlinang. Air mata itu telah menjadi pesan yang ingin disampaikannya sejak siang di ruang pers itu. Mengikuti kata-katanya sendiri, Buffon telah (merasa) menjadi manusia – meski curva sud membentangkan banner ‘Superman’ untuknya. Ia manusia biasa, sama seperti kita, sama seperti ribuan orang yang memadati Allianz Stadium dan mendapati kenyataan getir ini. Setelah Del Piero, Buffon adalah perpisahan paling rumit untuk kita – fans Juventus. Air mata Buffon telah menjadi alegori untuk perpisahan.

Saya tumbuh besar dengan imaji tentang Buffon. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari kegilaan ini – terhadap sepakbola dan Juventus. Saya menikmati konferensi pers Buffon, Kamis lalu, dengan bayangan-bayangan tak paralel tentang tujuh belas tahun yang berlarian di belakang. Semuanya membentuk fragmen-fragmen yang patah dan utuh secara bersamaan: calciopoli, Piala Dunia 2006, cinque maggio, Santiago Bernabeu, Trieste 2012, dan sebagainya. Buffon menjadi (salah satu) pusat dari kejadian-kejadian itu. Ia boleh jauh sendirian di dekat gawangnya, tapi ia adalah benang yang menghubungkan rentetan sejarah – setidaknya setelah millennium baru. Kini, benang itu telah putus.

Yang rumit dari sepakbola adalah emosi-emosi semacam ini. Sulit untuk menjelaskan kenapa kita harus menangis saat Del Piero pergi, atau saat Italia dicurangi Korea Selatan enam belas tahun silam. Jorge Luis Borges mengaitkan sepakbola dengan ketololan. Dan mari kita rayakan ketololan ini dengan air mata! Buffon telah menangis. Ia tak kuat lagi menahan air matanya, terlebih setelah ratusan pelukan dengan pemain, staf, dan suporter di stadion. Dari layar kaca, komentator menyebut: “Buffon adalah nama yang akan kita ceritakan ke anak cucu kita kelak.” Tentu saja. Suatu hari nanti, saya akan duduk di teras rumah dan bercerita ke anak (cucu) saya, tentang sebuah malam di Lyon saat Buffon menepis penalti itu. Buffon akan kekal, lewat cerita-cerita yang kita sampaikan; entah hari ini atau kelak. Ciao, capitano.

Totti

Totti adalah (sebuah) Roma(n). Di hari Minggu kemarin, kita membacanya sebagai epilog. Bahwa waktu adalah gerak yang tak bisa dihadang. Kita boleh menulis roman seromantik apapun, tapi ujung akan selalu ada. Di Olimpico, Totti memberi kita air mata dan kenyataan itu. Kita larut dalam melonkolia bersama kota nan abadi.

Menjelang laga terakhir Totti, seorang teman asal Venezia berseloroh ringan. “Totti pensiun berarti kita benar-benar sudah tua,” ujarnya. Kita melewati masa kecil dengan Totti di televisi. Dan ia bertahan hingga kita melewati pubertas, masa remaja, dan pelan-pelan menua. Dan ia masih memakai seragam yang sama. Totti menjelma jadi nasihat: bahwa selalu ada yang berubah, bahwa selalu ada yang tidak berubah.

Kemarin, di Hollandseweg, saya berbincang dengan seorang gadis cantik dari Roma. Tentu saja, kita bicara soal Totti. Ia berkisah betapa linimasa Facebook-nya dipenuhi kata-kata manis untuk Totti. Semua temannya, entah perempuan atau laki-laki, mengumbar puisi untuk Sang Pangeran. Totti pergi dengan sajak nan harum.

Hari ini, di sela-sela kerja kelompok yang membosankan, saya menyetel video perpisahan Totti. Seorang teman asal Sardinia menerjemahkan beberapa kata dari Totti, saat ia memberi kata-kata terakhirnya di Olimpico. Lalu air mata tetes begitu saja. Setelahnya adalah nostalgia bercampur roman bercampur melankoli.

Kemarin dan hari ini, kita telah membaca Totti dengan romantisme yang berlarut-larut. Kita mengingat yang di belakang. Nostalgia menjebak kita. Juga kisah tentang betapa tengiknya sepakbola modern, saat Totti menjadi manifestasi terakhir dari antitesisnya. Dan waktu terus bergerak. Totti telah berakhir. Dan kita juga suatu nanti.

Porto

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Sebelum wasit meniup peluit tanda mulai laga, si bapak membuat tanda salib. Saya lihat bibirnya seperti mengucap sesuatu. Mungkin semacam doa dalam bahasa Portugis. Raut mukanya menunjukkan keseriusan dan ketulusan di saat bersamaan.

Sejak kecil, saya telah melihat banyak orang berdoa. Tapi, selamanya saya tak akan melupakan momen itu. Saya tahu persis bapak yang duduk di sebelah saya itu mengimani FC Porto dengan ketaatan yang penuh. Baginya, Porto tak lagi sekadar klub sepakbola. Saya tak mau menyebut agama. Karena saya rasa lebih dari itu.

Malam itu Porto bertemu Tondela yang duduk di peringkat paling bawah di klasemen. Empat hari setelahnya mereka akan menjamu Juventus di Liga Champions. Banyak pemain utama yang dicadangkan. Tapi stadion tetap sesak, setidaknya di bagian belakang kedua gawang. Do Dragao mungkin adalah semacam gereja.

Saya lihat orang-orang saling menyalami sebelum duduk di bangku masing-masing. Persis seperti kebiasaan yang saya pelajari sejak kecil di ibadah hari Minggu. Di sekeliling saya, kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Saya membayangkan mereka adalah pemegang tiket terusan selama berpuluh-puluh tahun.

Tapi, bapak di sebelah saya adalah yang paling saya ingat. Tentu saja karena ia dekat. Maka saya bisa mendengar helaan nafasnya saat Porto membuang peluang emas atau salah oper yang membahayakan pertahanan. Bapak itu tak pernah berteriak. Tampaknya ia bukan tipe fans yang bawel. Ia mengimani FC Porto dalam sunyi.

Melihat bapak itu membuat saya teringat cerita seorang teman asal Jerman. Dia fans Kaiserslautern. Pilihannya adalah warisan keluarga. Dia pernah cerita bahwa kakeknya pernah tiga kali terkena serangan jantung karena menonton Kaiserslautern. Salah satunya membuat sang kakek meninggal dunia. Ya, karena sepakbola.

Bapak itu mungkin saja adalah salah satu orang yang punya tendensi untuk mati karena sepakbola. Itu yang saya pikirkan saat mendengar helaan nafasnya yang berat. Saya yakin jantungnya berdegup kencang setiap menonton Porto. Saya tak tahu bapak itu punya masalah jantung atau tidak. Jika pun iya, saya yakin ia tak peduli.

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Di akhir laga, Porto menang telak empat gol tanpa balas. Bapak itu meninggalkan tribun sekitar 10 menit sebelum laga berakhir. Berkali-kali ia mengangkat telepon genggamnya. Mungkin ada hal penting yang menunggunya di luar stadion. Di luar sepakbola.

Sepakbola Kita

Sepakbola kita dibangun dengan keserakahan yang membabi-buta. Globalisasi menjadikannya rontok. Kita, para penonton yang antre dari pagi demi selembar tiket timnas, cuma korban yang malang. Bapak-bapak di dalam box sana menukar miliar dari tangan ke tangan, menjual harga diri, dan skor dirancang.

Kebudayaan sepakbola kita tak pernah lahir dengan matang. Orang-orang Eropa dan Jepang sudah sejak lama bicara soal industri. Kita terus meraba apa itu industri sepakbola? Sedang di sini yang ada hanyalah sepakbola sebagai kampanye politik, alat tukar bisnis, mainan cukong, dan simbol gaya hidup konsumen kelas tengah.

Kita tak pernah tertinggal dari Eropa. Tertinggal adalah posisi dimana seseorang hendak mengejar. Kita tak pernah mau mengejar. Kita sibuk dengan mimpi dan retorika, kita sibuk menyanyikan Indonesia Raya dalam riuh Gelora, kita sibuk menonton televisi di dini hari demi tim Italia atau Inggris. Kita tak mengejar apa-apa.

Semua yang terjadi hari ini adalah proses. Kita tak pernah tahu dimana muaranya. Tawar-menawar politik, uang mafia, dan kursi istana. Semua ditaruh di meja. Semua dibahas. Sepakbola di atas lapangan dibawa ke dalam sandi-sandi penguasa. Sepakbola dirayakan dengan kalkulasi rupiah dan singgasana. Persetan yang lain.

Sedang di lapangan-lapangan itu, anak-anak masih bermain dengan riang. Seorang pelatih dengan bara di dadanya. Mendidik anak belasan tahun. Cita-cita diasah di bawah terik. Sepakbola tak mati di atas rumput hijau. Sepakbola tak akan pernah mati, kata seorang kenalan. Namun, apakah “tak mati” saja cukup?

Medioker

Carrow Road, 23 Januari 2016

Drama terjadi di tambahan waktu. Bassong menyamakan skor jadi 4-4. Di menit akhir, Lallana membuat Klopp mematahkan tangkai kacamatanya. 5-4.

Lalu muncul fragmen para suporter Norwich. Seorang perempuan muda yang menangis. Kakek-nenek yang merawat kasih di tribun. Dan anak-anak yang terdiam.

Itu sebagian kecil. Mayoritas adalah muka yang biasa-biasa saja. Menjadi pendukung Norwich, atau klub medioker lain, adalah kisah tentang menerima kekalahan. Saya ingat pada satu fragmen di tv, saat Milner membuat skor menjadi 4-3 (tadinya Norwich unggul 3-1), seorang bersyal kuning-hijau tampak tak gusar. Wajahnya mengandung kepasrahan dan kebiasaan menelan pil pahit.

Saya lantas teringat seorang guru les bahasa Inggris asal Wales. Dia penggemar West Ham. Dia bukan asli West Ham, tapi memilih menjadi Hammers. Saya tanya: kenapa?

“Pendukung klub seperti Manchester United atau Arsenal paling punya 5-6 big match dalam semusim. Kami punya 38 big match,” kata guru saya tadi.

Saya pikir ada yang puitis dengan menjadi (pendukung klub) medioker. Tak ada mimpi yang terlalu tinggi, tak ada ambisi yang terlalu mengawang-awang, tak ada cita-cita yang kelewat batas. Tidak kalah, kadang, adalah sebuah kemenangan. Dan, jika pun kalah atau bahkan terdegradasi, ya sudahlah. Masih ada musim depan.

Menghayati itu membuat sepakbola terasa sederhana lagi. Persetan klasemen, piala, transfer, jersey, dan omong kosong lain. Sepakbola adalah tentang apa yang terjadi di atas lapangan. Titik. Seperti hidup, seringkali detil-detil yang sengaja diciptakan untuk memperumit keadaan justru menjadi fokus. Sepakbola pada khitahnya, yang bergulir di lapangan rumput, dilupakan dan diringkus jadi matematika menang-seri-kalah.

Harusnya kita belajar banyak dari fans Norwich dan tim medioker lain. Bahwa menikmati sepakbola (dan kehidupan) tanpa ambisi yang wah itu sah-sah saja.

Ia yang berdiri di antara tiang

Untuk mereka yang berdiri di bawah mistar dan jarang menendang bola dalam sebuah permainan yang dinamai sepak-bola.

Di salah satu tatal dalam ‘Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai’, Goenawan Mohamad menuliskan bait ini:

Seorang penjaga gawang adalah seorang yang soliter, tapi ia juga seorang yang solider: ia seorang yang paling tersisih tapi ia hadir dalam sebuah kesetiakawanan. Ia mungkin sang kapten kesebelasan, tapi dalam sebuah permainan yang agresif, ia jarang sekali sang pemberi arah, irama, ataupun semangat timnya di medan pergulatan. Ia teramat jauh di garis belakang.

Itu adalah tatal nomor 57 dari total 99. Pada tulisan itu, GM sedang bercerita tentang Albert Camus, “satu-satunya sastrawan yang pernah mengatakan bahwa ia mendapatkan pelajaran moralitasnya dari olahraga”. Lalu ia bicara tentang sedikit pemikiran Camus: l’exil, le royaume, dan pemberontakan.

Memang Camus sendiri ialah seorang penjaga gawang. Dalam sebuah tulisan di Telegraph, Jim White memulai dengan pertanyaan menarik: “Just because Camus was a goalkeeper, does that make all goalies intellectuals?” Tulisan White itu merupakan sebuah ulasan tentang buku Jonathan Wilson berjudul ‘The Outsider: A History of the Goalkeeper’. Judul ‘The Outisider’ itu pun mengingatkan pada salah satu karya Camus, L’Etranger yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sebagai ‘The Outsider’ (selain juga ‘The Stranger’).

Posisi penjaga gawang, seperti yang dikatakan GM, memang soliter dan solider. Ia adalah seorang yang kesepian dan sendirian. Meski begitu ia tetaplah bagian dari sebuah totalitas, bagian dari sistem yang menempatkannya di belakang, bersandar di tiang, atau sekedar mengamati dalam sebuah permainan yang menyerang. Tanpa kiper, sebuah tim bukanlah sebuah tim, sistem tidak akan berjalan tanpa orang yang rela terasing di kotaknya sendiri. Ia penting, tapi dalam sebuah situasi defensif ia begitu rentan, dan tak jarang menjadi kambing hitam yang dicecar dalam sebuah kekalahan.

Bermain sebagai kiper memang mengandung dilematika tersendiri. Bagaimana pun transformasi peran kiper dalam sepak bola modern (atau post-modern?), seorang yang berdiri di antara tiang adalah seorang yang berbeda, atau sengaja dibedakan.

Dari tampilan luar kita tahu bahwa kiper memakai seragam yang tak pernah sama dengan 10 pemain lain dalam tim. Ia tampak spesial. Sementara itu dalam statistik-statistik, terdapat semacam aturan tak tertulis bahwa kiper tidak boleh disamakan dengan pemain di posisi lain yang masuk dalam kategori outfield player. Ia eksentrik. Dari segi law of the game, kiper senantiasa mendapat perlakuan khusus: boleh memakai tangan di area tertentu, tidak boleh diganggu di wilayahnya, dan sebagainya. Ia eksklusif.

Perbedaan (atau pembedaan) itulah letak dilema penjaga gawang. Benarkah ia spesial? Atau jangan-jangan ia dikucilkan, sengaja diberi baju dan aturan khusus agar rela berdiri terpisah dan menjaga gawang agar tak ada bola masuk, sedang kawan-kawan lain berlarian demi tujuan permainan, demi goal? Debat ini tentu akan menghasilkan simpulan yang berbeda-beda di masing-masing konteks masyarakat. Orang Italia jelas lebih menghargai seorang penjaga gawang dibanding orang Brazil.

Meski begitu, secara umum dalam skena dan wacana sepak bola arus utama yang diselenggarakan FIFA, posisi kiper bukanlah posisi yang utama, ia hanyalah pinggiran, pelengkap. Tengoklah nama-nama yang pernah merebut Ballon D’Or: disana hanya ada seorang Lev Yashin. Sementara, kiper lain yang dihargai dengan award level dunia mungkin ialah Oliver Kahn, peraih Golden Ball World Cup 2002. Selebihnya, pemenang-pemenang penghargaan individu adalah outfield player, dan kebanyakan adalah gelandang atau penyerang.

Yang terlihat kemudian adalah orientasi sepak bola pada umumnya: bahwa mencetak gol lebih penting daripada menahan gol, menyerang lebih terpandang daripada bertahan, tendangan ke arah gawang lebih berharga dibanding jatuh menghalau bola. Menjadi kiper sering tampak seperti pilihan paling akhir dari keputusan seorang yang ingin menjadi pesepakbola. Karena tidak berbakat menggiring bola, tidak bisa lari dengan kencang, tidak bisa menendang dengan baik, maka seseorang menjadi kiper. Dalam permainan sepak bola waktu kecil dulu kita pasti pernah berdebat dengan teman-teman lain tentang siapa yang akan menjadi kiper. Semua enggan. Putusan lalu diambil dengan melakukan gambreng.

Pada akhirnya, posisi kiper selamanya akan selalu sama: terpisah, terasing, berbeda. Meski begitu, dalam segala keterpisahan, keterasingan, dan perbedaan itu seluruh pemain lain tahu bahwa di belakang mereka ada seorang yang rela tak diikutkan dalam permainan demi sebuah tanggung jawab yang seringkali dipandang tak berarti.

(Oktober 2013)

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.

Frustrasi Timo

“Saya berjuang demi sepakbola Indonesia karena sepakbola negeri ini punya potensi besar. Dan itu bikin frustrasi. Kalau tidak punya potensi dan hasilnya payah ya wajar, tidak bakal frustrasi. Tapi Indonesia potensinya luar biasa, cuma kok gini-gini aja. Makanya saya frustrasi,” ujar Timo Scheunemann dalam salah satu acara bertema Bundesliga yang diadakan di bilangan Kuningan, Rabu (12/8).

Soal potensi sepakbola Indonesia, siapa pun rasanya tak meragukan. Seorang teman yang pernah bekerja di SSB sempat bercerita bagaimana pelatih-pelatih asing kerap terpukau dengan olah bola anak-anak Indonesia. “Di Indonesia saya lihat banyak anak-anak yang seperti Messi. Makanya saya bingung kok sepakbola Indonesia jalan di tempat,” ucap teman saya menirukan kata-kata seorang pelatih asal Argentina. Hal yang sama tampaknya juga dirasakan Timo.

Sore itu, kata-kata yang meluncur dari bibir pria berdarah Jerman itu benar-benar memukau. Dengan alegoris, dia bercerita bagaimana sepakbola Jerman bisa maju seperti saat ini karena intervensi pemerintah. Tidak seperti Menteri Pemuda dan Olahraga yang takut-takut memakai kata ‘intervensi’, Timo terang-terangan menggunakan kata kontroversial itu di hadapan wartawan yang mayoritas meliput sepakbola. Dan kita tahu bagaimana kondisi sepakbola kita hari ini.

Timo berkisah panjang lebar tentang bagaimana pemerintah Jerman membuat aturan-aturan ketat soal sepakbola. Dari mulai urusan bisnis, organisasi, infrastruktur, dan sebagainya. Hasilnya adalah kebangkitan. Kita bisa melihat wajah sepakbola Jerman hari ini seperti apa. Liganya sangat profesional, klub-klubnya tidak bermasalah secara keuangan, antusiasme penonton Bundesliga adalah yang terbaik di dunia, pembinaan usia dini luar biasa, akademi untuk pelatih berjalan mulus, dan hasilnya adalah tim nasional yang menguasai dunia.

Ucapan Timo seperti percikan api. Salah seorang wartawan kemudian bertanya, “Dari ucapan anda, apakah anda mendukung pemerintah Indonesia?”

Jawaban Timo adalah sesuatu yang tak saya sangka-sangka. Sesuatu yang berkelas. Dia seperti penyair hebat yang lihai memilih kata. “Ketika tadi saya memakai kata ‘intervensi’, itu saya lakukan dengan sengaja kok. Jadi, ya anda tahu sendiri dong,” tutur sang pelatih dengan senyum mengembang. Saya pun ikut tersenyum.

Kemudian, seorang wartawan lain bertanya kepada Timo. “Banyak pemain Asia sekarang merumput di Jerman. Menurut anda, apakah ada pemain Indonesia yang pantas bermain di Bundesliga?” tukas si wartawan.

Sekali lagi, jawaban Timo seperti sihir yang mendiamkan pendengarnya. “Saya tidak ingin lips service. Saya orangnya kalau ngomong ya apa-adanya. Mungkin karena itu saya tidak disukai orang. Kalau ditanya demikian, menurut saya tidak ada pemain kita yang pantas. Evan Dimas, pemain terbaik Indonesia, kabarnya akan bermain di klub kasta kedua di Spanyol. Dan dia sangat cocok bermain di level itu. Itu pemain terbaik kita, lho. Jadi anda bisa bayangkan. Sama saja seperti pertanyaan kapan Indonesia bisa main di Piala Dunia. Itu tidak bisa dijawab. Rumahnya dulu harus dibangun, setelah mulai dibangun baru bisa tahu,” pungkas Timo.

Mendengar kata-kata Timo, saya tersenyum berkali-kali. Sosok seperti Timo Scheunemann merawat kembali optimisme saya, bahwa proses panjang perbaikan sepakbola kita akan berbuah manis. Semoga.

Balada Sepakbola Modern

Wacana “Against Modern Football” belakangan mulai dicuatkan oleh beberapa kelompok fans sepakbola. Banyak dari mereka mungkin menganggap bahwa modernisasi sepakbola sejatinya hanya menghempaskan esensi dari sepakbola itu sendiri sebagai olahraga. Menjadi modern, sepakbola lantas menjadi pabrik industri yang megah. Dalam proses pabrikisasi itu, segala yang termasuk dalam sepakbola kemudian hanya menjadi sesuatu yang bersifat artifisial. Esensi mati, yang sisa hanya industri tadi.

Sepakbola modern memang kian terasa semakin banal. Contoh kasus yang terngiang di kepala, entah mengapa, adalah perihal bocoran jersey-jersey klub-klub Eropa. Musim belum pula usai, sedang urusan kostum musim depan sudah terlampau dipikirkan. Sepenting itukah untuk mengetahui bagaimana gambaran seragam yang akan dipakai klub-klub itu musim depan?

Jawabnya adalah iya, dalam konteks sepakbola modern yang gila ini, yang konsumsi adalah salah satu aspek terpenting didalamnya. Namun kita seringkali luput, bahwa dalam konteks mengonsumsi tersebut, kesadaran palsulah yang hadir.

Konsumen sepakbola adalah siapapun yang menikmatinya. Dalam kenikmatan mengonsumsi sepakbola sebagai sebuah, entah budaya, hiburan, gaya hidup, atau waktu luang, itulah konsumen lalu mengidentifikasi simbol, tanda, atau asesori yang melekat dalam permainan itu. Jersey kemudian jadi simbolisasi paling mudah, mungkin bersinergi dengan perkembangan fashion yang juga turut melumasi kesadaran yang palsu itu. Atas nama identitas sebagai penggila bola, atau penggemar salah satu (atau dua atau tiga) klub maka membeli jersey menjadi semacam kewajiban tak tertulis.

Industri pintar betul mengemas apa yang akan dipasarkannya. Sepakbola, dalam hal ini sebagai komoditi, merupakan sesuatu yang pasti akan laku keras, dan jersey-jersey itulah manifestasi paling telanjang dari kelakuan itu. Berkembangnya teknologi internet lantas semakin menjadikan bisnis jersey sebagai ladang yang basah, dimana semakin banyak orang yang terlibat, entah sebagai produsen, distributor, ataupun konsumen. Tak ada yang salah dengan perputaran bisnis itu, tak ada yang salah. Dalam semangat pencarian keuntungan, apa yang dilakukan penggiat bisnis semacam itu adalah sesuatu yang progresif. Lagipula karena bisnis semacam itu sepakbola makin menjadi populer, dan seterusnya roda berputar hingga proses itu tak akan usai.

Kembali ke fenomena leaked jersey tadi, sejatinya ia hanya hasil akhir dari segala kebutuhan (atau keinginan?) untuk mengonsumsi tadi. Ia tak akan hadir dengan sendirinya bila pasar tak bergerak. Dan pasar tak bergerak seandainya pabrik tak berjalan. Bocoran jersey menunjukkan betapa buramnya sepakbola modern yang kadangkala memang mengagungkan hal-hal yang tidak esensial. Bukan berarti jersey sama sekali tak penting, bukan pula para pemain lantas bermain dengan telanjang, namun memamerkan calon jersey musim depan jelas tak penting-penting amat di dalam musim yang masih berjalan, bahkan mungkin lagi seru-serunya.

Sepakbola perlahan memang bergerak tak tentu arah tujuan. Ia terlalu dinamis hingga seringkali termakan arus jaman yang dengan teganya bisa menghabisi segala esensi luhur yang mungkin dimilikinya. Sudah lama memang sepakbola tak hanya sekedar sebuah olahraga, sudah lama ia lebih dari sekedar kebahagiaan mencetak gol ke gawang lawan. Sepakbola selain sifatnya untuk menyegarkan dan membahagiakan, bagaimanapun lekat dengan konteks tempatnya hidup.

Jadi apabila ia menjadi modern, itu adalah hakikat yang memang begitulah adanya. Tapi ketika ada sekelompok orang yang merasa risih dengan kecemaran sepakbola era ini, mereka tak bisa pula disalahkan. Mungkin ide “Against Modern Football” sesekali bisa membuat kita merenung sejenak tentang kegilaan apa yang sebenarnya kita cintai dan hidupi saat ini.

(Maret 2013)

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.