Gaia

Ini cerita kecil tentang meja dan lift, di Gaia.

Di pojok barat, lantai tiga, saya terbiasa mengerjakan tesis mini disana. Di luar ruangan, ada coffee machine tempat saya biasa membuang uang untuk cappuccino, untuk memberi alasan yang (tidak) logis untuk terus bekerja, berada di depan komputer berjam-jam untuk entah-apa. Di luar ruangan, juga ada seperangkat meja dan kursi. Mereka ada di tengah-tengah antara dua sayap (wing A dan B). Mereka ada di-antara.

Suatu waktu, saya bosan di dalam ruangan, lalu keluar untuk mengusir suntuk. Lama saya mengamati meja dan kursi di tengah-tengah kedua sayap itu. Yang saya bayangkan ketika melihat meja-kursi itu adalah negeri di selatan sana. “Jika ini di Indonesia, pasti meja dan kursi itu takkan pernah berhenti diisi. Apalagi kalau di Mentawai,” pikir saya saat itu. Sementara, tidak di sini. Meja-kursi itu lebih sering kosong dan kesepian. Orang-orang lebih suka berada di ruang kecil masing-masing dan mengerjakan omong kosong masing-masing.

Oleh karena mengamati meja-kursi itulah, entah bagaimana caranya, saya sepenuhnya menyadari bahwa kita di selatan, di Indonesia, hidup dengan komunalisme yang begitu natural. Kita tak perlu diajari untuk berkumpul, kita pasti akan kumpul. “Makan nggak makan yang penting kumpul,” kira-kira begitu adagium populernya. Kita bernafas, tumbuh, belajar, hidup, dan bercita-cita sebagai komunal. Bukan individual. Semua ada dan dirumuskan di yang komunal itu. Mungkin itulah kenapa barat terasa begitu asing.

Tentu saja, ada kolonialisme, lalu poskolonialisme, lalu neokolonialisme. Barat menyetir cara berpikir kita, dan menggeser komunal dengan individual. Kita diajari untuk berdiri sendiri, menjadi ubermensch ala Nietzsche atau manusia merdeka ala filsafat-filsafat eksistensialis Prancis. Yang dihitung adalah yang tunggal, yang individual. Kelompok disulap cuma jadi statistik untuk kepentingan marketing. Eropa memberi kita diktat tebal tentang individualisme dan tetek-bengek lain yang akan menjadi konsekuensi organik darinya.

Jadi, saya rasa, kita terjebak pada ketegangan itu, pada ambivalensi antara individual dan komunal. Pada suatu tesis, seseorang menulis demikian di kata pengantar: “I write this text in a modern/colonial/scientific/egoistic I” bla bla. Sedang, lewat kasus-kasus orientalisme, saya menduga (European/Western) Self adalah akar masalah. Atau bukan. Masalah sebenarnya adalah kita menelan mentah-mentah konsep Self itu, dan menciptakan translasi yang terlalu dipaksakan di selatan. It should be selves (yes, without capital S) in the south.

Lalu, meminjam pikiran-pikiran decolonial, saya rasa kita harus sepenuhnya kembali ke we. Tak ada yang salah dengan menjadi dan berpikir sebagai komunal. Tak ada yang keliru apabila keputusan-keputusan kita disusun, tanpa sadar, secara komunal; dengan mempertimbangkan tubuh-tubuh lain di luar tubuh kita, yang tak hanya terkait, tapi secara inheren tak terpisahkan. Secara alamiah, itu semua memang realitas sehari-hari di selatan sana. Sebenarnya, tulisan ini cuma untuk mengingatkan diri sendiri, terlebih jelang pulang.

***

Setelah meja adalah lift. Gaia terdiri dari 4 lantai, termasuk lantai dasar. Jadi lift cukup sentral. Secara literal, ia ada di tengah-tengah. Seperti menjadi semacam episentrum dari kegaduhan akademik di seisi gedung. Ada dua lift dan mereka saling berhadapan. Yang satu lebih besar dari yang lain. Saya lebih suka yang kecil, tapi entah kenapa saya selalu menekan tombol keduanya saat ingin naik-turun lift. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Itu yang saya pikirkan, pada suatu sore saat pulang ke rumah. Seperti cerita meja, ini juga kisah yang absurd. Saya tak tahu menahu darimana datangnya. Kenapa saya tak menekan tombol lift kecil saja, lalu menunggu. Di Dijkgraaf, tempat tinggal saya, saya juga kadang suka menekan tombol ketiga lift yang ada di lantai dasar. Padahal, lift yang tiba tepat di lantai 15, dimana kamar saya berada, cuma satu. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Seperti yang sudah saya tulis di kesempatan lain, saya rasa generasi kita/saya punya masalah filosofis terhadap waktu. Kita dibesarkan oleh yang instan-instan. Kita tumbuh dengan sms dan whatsapp, bukan surat. Jadi, kita tak terbiasa menunggu. Kita tak boleh diam di depan lift yang satu dan harus mencari cara agar secepatnya bisa naik atau turun. Kita akan mengambil yang pertama tiba. Lebih cepat lebih baik, seperti kata Pak Wapres.

Advertisements

(non)paralel

I. Porto

Februari 2017. Porto, pada suatu hari musim dingin yang cerah. Saya mengikuti free walking tour. Grup kami kecil, tak lebih dari 10 orang. Dari patung seorang ksatria di atas kuda, kami berjalan kaki melintasi gang-gang Porto yang manis. Lalu, selesai. Setelah itu, saya dan seorang Amerika makan siang bersama. Kami melahap Francesinha, lalu menenggak Super Bock. Dan obrolan bergulir di atas meja.

Ia dari California. Tapi, beberapa tahun ke belakang tinggal dan mengajar di Madrid. Amerika melelahkan, katanya. Orang-orang dengan kehidupan seperti robot, katanya. Cuma uang yang di kepala. Spanyol, dan gaya hidupnya yang rileks, memikatnya. Siesta adalah simbolisme untuk itu. Tapi juga hal-hal lain, seperti minum bir pada jam 10 pagi. Kita bisa melihat betapa santainya orang Spanyol menjalani hidup.

Lalu, pada satu momen, ia memberi saya pertanyaan yang mengejutkan. Apa hal yang paling berharga buat kamu? Ini pertama kalinya saya diberi pertanyaan ini. Dan, yang lebih mengejutkan, saya menjawabnya dengan spontan dan lekas. Keluarga. Kata itu keluar begitu saja, tanpa proses translasi dari pikiran ke mulut. Ia seperti sudah lama berdiam di mulut dan menunggu untuk keluar sebagai ucapan.

II. Firenze

Juli 2018. Pagi yang sumuk di Toscana. Saya memulainya dengan malas, dengan membeli pisang di kios kecil dekat hostel. Pemiliknya sepasang kakek nenek yang ramah. Saya bertukar bahasa Italia yang patah-patah dengan mereka. Lalu, saya menyantapnya di dapur hostel, sambil menunggu kopi mendingin sedikit. Dan, seorang gadis Meksiko masuk ke dapur. “Here can we drink from tap water?” tanyanya.

Kemudian ia duduk di depan saya. Kita mengobrol. Ia tinggal di Dublin selama satu semester, untuk belajar dan memperlancar bahasa Inggris. Sialnya, lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi orang Brasil. Alih-alih lancar bahasa Inggris, sekarang ia bisa sedikit bahasa Portugis. Hidup kadang menarik. Hal-hal seperti inilah yang, saya duga, menyelamatkan kita dari keharusan bernama bunuh diri.

Pertanyaan itu tiba juga. Kamu mau pulang setelah lulus? Iya dong, jawab saya. I don’t see myself living in Europe, lanjut saya. Tentu saja Eropa menarik, tapi bukan untuk jangka panjang. ‘Dutch salary’ tak cukup menggiurkan. Sejak dulu saya percaya ada hal-hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Tapi saya tak bisa menjelaskan kenapa saya selalu ingin pulang. Saya rasa karena ‘rumah’ dalam artian yang filosofis.

Lalu, saya tanya gadis Meksiko itu dengan pertanyaan yang sama. Yes I also want to go back to Mexico, jawabnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang dari selatan ingin tinggal di utara. Katanya: saya cuma mau tinggal dekat dengan orang-orang yang saya cintai (‘loved ones’), dengan keluarga. Seketika itu saya mengingat Porto. Ada semacam garis imajiner yang menghubungkan dua peristiwa ini.

III. Leiden

Agustus 2018. Joshua membuka dialog di dalam kereta. Gue selalu bingung dan kesal setiap ditanya ‘do you want to go back to your country?’ Buatnya, pertanyaan itu sama sekali tak relevan. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas berarti bukan pertanyaan. Tentu saja ia ingin pulang. Paling lama 2020, katanya. Belanda terlalu menjemukan: keju, roti, musim dingin, angin. Kenya adalah rumah. Di situ persoalan tuntas.

Saya balas bahwa saya juga sering dapat pertanyaan yang sama saat jalan-jalan. Saya juga bingung kenapa selalu dapat pertanyaan semacam itu. Mungkin, di tengah isu pengungsi yang masih hangat di Eropa, orang-orang melihat pendidikan sebagai jalan menuju migrasi. Sekolah hanya kedok untuk mencari kehidupan yang lebih ‘layak’ (meh!) di utara. Di sini, kekerasan epistemik sedang terjadi.

Orang kerap lupa bahwa hidup itu plural, mengandung warna-warni pengetahuan. Lalu saya cerita ke Joshua tentang peristiwa di Firenze. Mungkin kita bisa punya banyak duit dan karir bagus di Belanda, tapi apa gunanya jauh dari keluarga. Kata-kata saya meniru si gadis Meksiko. Yang berharga di utara dan selatan belum tentu sama. Dan kita harusnya tahu itu sebelum ditelan eurosentrisme. Exactly, tandasnya.

A Season with Verona

Saya menikmati buku ini dengan pelan, seperti menyeduh kopi di pagi hari dan membiarkannya dingin. Bulan-bulan berlalu sejak saya mulai membuka halaman depan ‘A Season with Verona’ (selanjutnya disebut Season). Buku ini membantu saya melarikan diri dari narasi-narasi akademis saat tesis: literature review, problem statement, dan kesombongan universitas lainnya. Tak ada tesis di Season, cuma giornata-giornata yang secara kronologis menjalin nostalgi tentang musim yang jauh tertinggal disana.

Italia, pada 2000, adalah puncak sepak bola dunia. Ini narasi universalis yang kita telan mentah-mentah sebagai penikmat calcio. Saya tak ingin mendebatnya hari ini. Pada tahun itu, il sette magnifico masih eksis. Utuh. Batistuta, Totti, dan Veron. Buffon masih  begitu belia di Parma. Ronaldo, Inzaghi, Maldini. Masa-masa yang indah dengan pemain-pemain yang memberi kita sepak bola yang melenakan. Tapi, Tim Parks tak terlena oleh bintang-bintang itu, oleh tujuh klub yang kita gaungkan sebagai ‘magnificent’. Ia  cuma mau bercerita tentang Verona — tanpa Romeo & Juliet.

Singkat cerita, orang Inggris ini mengikuti Hellas Verona — kandang dan tandang — selama semusim penuh. Ia bukan orang asli Verona, tapi ia (belajar) mengimani Hellas dengan ketaatan yang membingungkan. Tapi, saya pikir logis-logis saja. Sepak bola, pada dasarnya, adalah peristiwa sosial-kultural. Di dalamnya kisah-kisah manusia berkelindan, membentuk mitos-mitos, lalu perlahan menjadi semacam agama. Italia adalah tempat yang luhur untuk memeluk agama bernama sepak bola. Tim tinggal di Verona bertahun-tahun, datang ke Bentegodi secara rutin, dan berkawan dengan orang-orang yang mencintai Hellas. Semuanya terjalin begitu wajar.

Season menarik sejak awal karena Verona bertandang di Bari pada giornata perdana. Bari ada di selatan sana, di region Puglia. Verona ada di utara, di region Veneto. Jadi, bayangkan sebuah bus berisi suporter fanatik sepak bola melintasi Italia dari utara ke selatan, dengan alkohol dan cori yang tak putus-putus ditenggak/dinyanyikan sepanjang jalan. Disitulah Tim berada, bersama Brigate Gialloblu yang dikenal sebagai kelompok suporter bola yang fasis, rasis, dan tentu saja doyan berkelahi di jalan. Tim, orang Inggris yang aksen Italianya mungkin tak sempurna, seperti sedang menjalani misi suci di bus menuju Bari.

Setelahnya puluhan giornata lain diceritakan. Kadang dengan bayangan yang begitu jelas tentang sepak bola yang dimainkan di atas lapangan. Kadang sama sekali tak ada urusan tentang lapangan. Yang menyenangkan dari Season adalah Tim memilinnya dengan narasi-narasi di luar sepak bola yang kadang-kadang tampak begitu jauh dari urusan lapangan hijau. Saya teringat, suatu kali ia membandingkan Hellas dengan Inferno-nya Dante. Atau menukas soal wasit dengan melihat struktur yang lebih besar di masyarakat Italia. Atau membahas soal rasisme dengan menyangkutpautkan nyanyian monyet ala Brigate di Bentegodi dan kasus penipuan seorang guru asal Uruguay di kota Verona.

Kesan yang saya tangkap adalah: Tim membeberkan rahasia-rahasia Italia yang cuma bisa diserap ketika seseorang tinggal cukup lama di negeri itu, tapi bukan bagian sepenuhnya dari identitas bernama ‘Italia’. Tim ada di-antara, dia ada di luar sekaligus di dalam. Posisi itu menguntungkannya sebagai pencerita, karena ia tak harus ditelan momok bernama identitas, karena ia bagian tak terpisahkan dari identitas itu. Secara metodologis, Tim memiliki kesempatan dan insting ala antropolog untuk menjadi bagian dari komunitas, tapi sanggup mengambil jarak untuk melihat komunitas itu dengan perspektif yang lebih luas dan utuh.

Di Season, ada begitu banyak bagian yang saya suka. Tiap kalimat, tiap paragraf, atau tiap giornata bisa menjadi ceritanya tersendiri. Masing-masing sanggup memaku saya di sofa dan duduk lama, membayangkan tahun-tahun yang jauh di belakang sana saat saya sedang belajar mencintai permainan ini. Musim 2000-01 adalah yang pertama buat saya. Jadi, itulah kenapa Season begitu nostalgik buat saya. Ia membuat saya mengingat alasan-alasan dan kepingan-kepingan dari perjalanan panjang mencintai sepak bola. Di balik halaman-halaman Season, saya seperti menjadi anak kecil lagi; yang duduk membaca/menonton sepak bola Italia ditulis/ditayangkan.

Oh khidmatnya.

I should (not) write an apology

I should write an apology for the past
But life goes on
And I can only jump on
The fleeting moments of life
Like catching the rolling packed train
In Jakarta, or Utrecht, or wherever else
A constant run with
Endless/pointless breathing

I should write an apology for the future
But life is here/now
So I am busy making (un)poetic efforts
Of catching my own (un)imaginary trains
The days ahead are the days forgotten
And it got to be a sin to think
Of tomorrows, or whatever-what-nexts
As they’re illusive, never arriving, breathless

I should not write any apologies
If I die today
I die today
End of stories
Then I am caught by the train of death
The inescapable human tragedy/beauty
It should be always today
So my last breath will be a relief

(Wageningen, 06-08-2018)

Suatu Pagi di Semolon

Tubuh seperti dihujam batu. Nyeri dimana-mana. Untungnya, matahari bersinar dengan cerah dan suara monyet yang sedang melompat-lompat di antara pepohonan terdengar. Di tengah hutan ini, dengan alas lantai kayu di sebuah pondok dekat air terjun Semolon, aku rebah semalam. Aku melewati malam dengan berperang melawan nyamuk dan angin yang dingin di sekeliling. Kedinginan itu membuatku memeluk diri erat-erat, menyilangkan kedua tangan hingga menyentuh punggung demi mengusir rasa dingin. Bersama dua orang teman, kami tidur rapat-rapat dengan alasan yang sama.

Semalaman aku mungkin terbangun puluhan kali saking tidak nyenyaknya. Ketika cahaya muncul sedikit, resahku hilang meski badanku payah akibat tidur yang seadanya. Matahari selalu menghadirkan sesuatu yang menenangkan. Seterik apa pun, paling-paling dia hanya membikin gerah dan keringat mengucur, tapi tak pernah menimbulkan resah. Apalagi di pagi di tengah Taman Nasional Kayan Mentarang itu.

Ketika mataku mengintip ke depan dan melihat cahaya mentari pertama, aku mengucap doa yang spontan. Semacam doa tanpa kata-kata yang mengalir dengan murni tanpa hiasan. Biasanya doa-doa semacam itu timbul dalam situasi seperti ini, saat merasa begitu lega atas malam yang menyusahkan. Atau di saat yang lain ketika menyerah pada sesuatu dan menjadi pasrah, sehingga kata-kata semrawut dan yang meluncur hanyalah doa yang bisu.

Aku tak langsung berdiri dan terbangun. Masih dalam posisi rebah dan mata memejam, tapi tidak tertidur. Aku suka momen setelah bangun tidur. Saat pikiranku kosong dan setengah sadar. Seperti berdiri di antara yang nyata dan tidak. Tapi itu saat yang menyenangkan karena setelah itu pikiranku menyala dan mulai terbayang apa saja. Kemudian kepala menjadi sesak oleh macam-macam bayangan, pikiran, dan gumam yang berputar seperti film. Keindahan pagi menjadi buyar.

Setelah lima belas menit dalam kondisi rebah dan pejam mata, aku memutuskan diri untuk bergerak. Mula-mula aku duduk bersila, sebuah kebiasaan yang kulakukan sejak masih kecil. Lalu aku berdoa dengan kata-kata yang sudah semacam mantra dan hafalan. Ini tipe doa yang berbeda dari doa ketika aku melihat cahaya matahari pertama sebelumnya. Doa macam ini adalah buatan, tidak murni. Hanya pengulangan bertahun-tahun sehingga menjadi sesuatu yang otomatis. Tidak ada makna lagi di dalamnya.

Doaku tak lama, tak sampai satu menit. Bahkan sebelum kata ‘amin’, mataku sudah membuka dengan malas. Aku mulai menguap. Asap! Asap keluar dari mulutku. Ini mengingatkanku saat masih kecil diajak jalan-jalan ke Puncak oleh ayah ibu. Aku begitu senang melihat asap keluar dari mulutku. Biasanya aku mulai berlagak seperti seorang perokok ulung, menirukan gerak-gerak ayahku ketika menghisap cerutunya. Asap dari mulutku membuatku senang, sebentuk kesenangan yang sederhana dan arkaik. Aku mendadak siap menyongsong hari.

Aku melihat ke sekeliling, dua temanku belum terbangun. Namun, tidur mereka juga bukan tidur yang lelap. Keduanya bergerak-gerak mencari posisi tidur yang pas. Terlebih setelah aku terbangun, pasti mereka rasa ada sesuatu yang berbeda. Seluruh badan mereka tertutup sarung, sehingga gerak-gerik keduanya seperti sepasang ulat daun.

Sebenarnya, kami tidak hanya bertiga. Di suatu sudut yang lain dari pondok itu, tiga orang lain juga masih terlelap. Ketiganya adalah orang asli Dayak. Dua orang kakak-beradik berumur sekitar 25 tahun. Pasangan saudara itu berbadan kekar dan berambut panjang lurus sebahu, mengingatkan pada Apache. Di samping badan salah satu pemuda Dayak itu terdapat senapan yang mereka gunakan untuk berburu. Mereka terbiasa memakan daging apa saja, seperti yang diakui oleh salah seorang. Tapi meraka datang ke kawasan air terjun Semolon ini bukan untuk plesir, mereka bertugas memunguti kayu-kayu yang tumbang dari pohon yang sekiranya menghambat aliran sungai dan air terjun.

Mereka datang bersama seorang keponakan berumur kira-kira 7 tahun. Anak kecil ini berkulit lebih putih dari dua pamannya. Dia dalam masa liburan sekolah sehingga berkesempatan mengikuti dua pamannya ke tengah hutan. Indah rasanya melihat anak kecil di tengah hutan seperti ini. Aku tak bisa menjelaskan kenapa, namun perasaan itu nyata meski tanpa alasan. Anak kecil itu cukup pendiam. Dia tidak banyak bicara dan hanya berkata-kata jika sedang ditanya.

Dengan memeluk kedua lututku, aku memandangi ketiga orang asing itu. Aku ingat kemarin siang kami bertemu di pondok ini. Kami baru tiba dari sebuah desa bernama Paking, melewati perjalanan empat jam melewati hutan dan sungai yang sedang kering. Kami sempat singgah sebentar di sebuah kampung yang lebih kecil dan terpencil dengan kehidupan yang begitu apa adanya. Dari kampung itu kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Semolon.

Kami bertemu tiga orang Dayak itu saat mereka sedang memasak makan siang. Mereka memasak nasi dan menggoreng ikan sungai di atas tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Sejak awal mereka menunjukkan keterbukaan dan kebaikan. Mereka dengan sukarela membagi jatah makannya dengan kami. Adalah sebuah kemegahan ketika kita datang ke tempat asing dan bertemu orang-orang yang menerima kita seperti saudara. Kami makan bergantian karena piring dan sendok yang terbatas. Selama proses itu kami berbicara ini dan itu.

Salah seorang temanku bercerita bahwa kami dari Pulau Jawa dan hendak bertualang menengok bagian-bagian Indonesia yang lain. Kami sudah dua malam tinggal di Desa Paking dan berencana pergi ke Desa Long Berang besok. Konon, Long Berang cukup sulit dijangkau dan harus melalui sungai dengan jeram-jeram yang jahat, begitulah orang di sana menyebut jeram sungai yang membahayakan. Dua orang mirip Apache itu menceritakan pengalaman mereka ketika pergi kesana. Mereka bercerita panjang lebar hingga akhirnya nasi dan lauk tandas. Sebagai ucapan terima kasih, aku dan dua temanku mencuci piring dan sendok yang kami pakai makan.

Bayanganku buyar. Seorang temanku terbangun dan langsung berduduk sila sambil mengusap matanya yang sembab. Tak ada ucapan selamat pagi atau senyum, kami bukan tipe teman yang suka bermanis-manis. Kami relatif cuek satu sama lain. Tapi kami cocok dalam melakukan hal-hal yang orang lain tak suka lakukan, semacam pergi ke tengah hutan Kalimantan saat teman-teman lain sedang sibuk di kubikel masing-masing.

Dia hanya duduk sebentar lalu berdiri ke arah ranselnya. Ia mengambil minum dan menegak beberapa kali. Aku memberi kode bahwa aku juga ingin minum. Dia menutup botol dan melemparkan ke arahku. Tangkapanku sempurna. Aku minum sedikit. Tadinya aku berniat melempar balik, tapi temanku itu sudah keluar pondok dan melihat ke arah air terjun sambil meregangkan badannya. Untuk menjelaskan, pondok itu bukan pondok dengan dinding-dinding terutup, tapi terbuka. Itulah mengapa udara semalam begitu dingin menyengat.

Aku meletakkan botol air minum itu sekenanya di atas lantai sebelum berdiri dan berjalan menyusul temanku. Angin pagi menyapu mukaku sementara suara monyet bergelantungan dari pohon ke pohon masih bergema. Ini keindahan yang tak bisa kujumpai setiap harinya. Aku mesti menikmati pagi ini sepuas-puasnya, kataku dalam hati, karena pagi seperti ini tidak akan berulang. Aku mengamati aliran sungai dan juga air terjun di atasnya. Daun-daun dan ranting-ranting gugur mengambang dan sesekali terbawa arus yang tak deras.

Seketika temanku melirik ke arahku. Mulutnya bungkam, tapi mata dan gerakan kepalanya menunjuk ke air terjun. Tanpa menunggu reaksiku dia berjalan ke arah yang ditunjukkannya. Untuk menuju air terjun kami harus melewati jembatan, tapi sebenarnya kami bisa juga menyeberangi aliran sungai kecil itu dan mendaki sedikit. Temanku memakai jalur jembatan, aku mengikutinya dari belakang sambil melipat tangan ke belakang untuk melepaskan kekakuan tubuh.

Temanku langsung membuka baju dan celananya. Kini ia hanya bercelana dalam. Ia meletakkan pakaiannya itu di atas bebatuan yang kering dan sekiranya tak akan terkena aliran air atau cipratan. Perlahan ia masuk ke dalam kolam air terjun. Kata-kata pertamanya hari itu keluar. “Dingin!” ucapnya sambil memeragakan bahasa tubuh dan raut muka orang yang kedinginan. Ia tak lantas keluar, justru semakin masuk ke dalam dan mulai mencelupkan kepalanya ke air. “Segar,” teriaknya. Itulah kata keduanya hari itu.

Melihat wajah temanku yang begitu semringah, aku langsung melepas pakaian. Tanpa basa-basi kulemparkan kaus dan celana jins pendekku ke tempat yang aman. Tanpa aba-aba aku melompat ke dalam air dan byur. Air menciprat kemana-mana dan membasahi pakaian kami berdua. Monyet-monyet semakin berisik di atas sana, di pucuk pohon-pohon yang mungkin setinggi gedung 8 lantai. Saat kepalaku muncul di permukaan, temanku menghentakku sebelum akhirnya tertawa. “Brengsek,” umpatnya sambil tersenyum, menimbulkan semacam ironi.

Pagi itu adalah kemewahan yang tak mungkin kami dapatkan di hotel bintang berapa pun. Tidur beralas lantai kayu di sebuah pondok terbuka di tengah hutan, bangun dengan suara monyet-monyet menyambut pagi, dan berenang di air terjun dengan cuaca segar khas alam yang belum cemar. “Ini adalah surga,” temanku mulai bermetafora. Mungkin itu sebuah metafora yang klise, tapi aku tak bisa tidak setuju dengannya. “Aku percaya pada surga. Dan aku yakin surga seindah ini. Carpe diem!” teriakannya memecah pagi yang tentram itu. Kami berdua tertawa riang.

Dari kejauhan kami melihat teman kami yang satu akhirnya bangun. Dia berdiri dan menggeleng-geleng kepalanya. Dengan langkah malas ia keluar dari pondok dan menggeleng sekali lagi. Suaranya tak terdengar, tapi dari membaca mulutnya aku bisa tahu dia mengucapkan kata ‘gila’. Kami berdua hanya tersenyum dan tak berniat membalas. Dia lalu berjalan ke arah kami melewati sungai kecil di bawah dan mendaki ke air terjun. Mukanya khas orang yang baru bangun tidur. Tapi temanku itu juga tak suka berbasa-basi. Tanpa melepas pakaian dia terjun ke air terjun. Byur!

(11 Agustus 2014)

Ode for tourism

Saya berjalan di Assisi, seperti mayat hidup yang melintasi lanskap Umbria, gereja-gereja tua, toko-toko cinderamata, restoran, pizzeria, cafetaria, dan tanda-tanda yang memuaskan pengalaman yang saya/kita cari sejak dulu di rumah. Turisme, saya rasa, telah menjadi terlampau banal hari-hari ini.

Saya bagian dari ‘golden hordes’ yang mengerikan itu. Gerombolan manusia yang mencari omong kosong di kota yang asing. Saya berjalan di (dan menuju ke) Assisi seperti mayat tanpa nyawa, dituntun Lonely Planet atau panduan wisata atau rekomendasi tourist center. Setelahnya adalah repetisi.

Kita hidup di ketegangan antara mixophobia dan mixopholia, Bauman seperti berbisik di telinga. Suaranya seperti datang dari tempat yang jauh, tapi terasa dekat. Oh Zygmunt yang malang, kenapa kau mati terlalu lekas? Turisme ada di sentral ketegangan itu. Kita mencari yang liyan lewat paket-paket wisata, tapi takut setengah mati oleh pengungsi yang kulit dan agamanya tak sama. Kita ini bajingan atau apa sih?

Di Perugia, pada suatu siang yang sendu, di tengah bangunan-bangunan abad pertengahan yang memusingkan, di antara alunan jazz yang sedih, saya dipukul telak oleh pikiran sendiri: dia yang tinggal di kotanya hari-hari ini, yang tak pergi kemana pun, sebenarnya sedang menawarkan revolusi.

Kita dibuai imaji heroik tentang petualang-petualang Iberia jaman dulu, atau orang-orang kulit putih yang melintasi gurun-gurun sepi di Afrika Utara dan hutan-hutan liar di Kalimantan. Tapi tidak hari ini kawan. Yang heroik adalah ia yang duduk santai di teras rumahnya; ia yang tak bernafsu untuk keluar melihat dunia; ia yang tak dijejal gairah melihat yang liyan; ia yang tak berkelana kemana-mana.

Hari ini, di masa dimana kita mengenal istilah overtourism, yang menandai era paska-kapitalisme, dimana kemakmuran dan keserakahan tersebar seperti daun-daun musim gugur, memutuskan tak kemana-mana adalah revolusi. Hari ini, saya cuma ingin minum kopi di teras rumah dan membaca Pramoedya.

Rusia ’18

Piala Dunia seperti memberi kita mata baru. Yang ia tawarkan, sebenarnya, adalah kesempatan untuk melihat cara bermain sepak bola yang berbeda, beragam, plural. Yang universal itu cuma rekaan. Sudah sejak lama imajinasi kita – yang dimediasi televisi, internet, dan lain-lain – dikurung cara berpikir yang Eurosentris. Premier League, La Liga, Serie A, Bundesliga, dan liga-liga Eropa Barat beserta papan klasemennya selalu muncul jelas di kanal-kanal sepak bola. Dan kita merayakan Liga Champions (Eropa) dengan meriah/gairah. Sudah sejak lama, Eropa menyetir imajinasi dan cara berpikir tentang apa itu baik/buruk, modern/primitif, maju/berkembang, pusat/periferi, dan kategori-kategori Cartesian lain.

“Ketika sepak bola dimainkan, saya bersyukur akan keajaiban ini dan peduli setan tim atau negara mana yang main.” Kira-kira begitulah kata Galeano. Orang-orang mencari Messi atau Ronaldo atau Salah. Dan kita lupa anak-anak Senegal, Jepang, Panama, Tunisia, dan ratusan pemain lain sedang menjalani mimpi masa kecilnya. Di Rusia, harusnya kita sejenak melupakan narasi-narasi besar dan universalis tentang apa itu sepak bola yang baik dan belajar merayakan pluriversitas. Ada banyak cara untuk hidup dan bermain bola (atau tidak sama sekali!).

‘Menyadari’ selalu jadi langkah pertama setiap revolusi. Tanpanya, Soeharto akan duduk selamanya di istana. Tanpanya, kita akan selalu menelan mentah-mentah omong kosong Descartes. Jadi, yang diberikan hari-hari ini – from Russia with love – adalah kans; adalah jalan yang membawa kita pada kenyataan bahwa sepak bola dimainkan dengan banyak ide. Maroko-Iran, misalnya. Tak banyak yang tertarik. Orang-orang kadung menelan manifesto bahwa yang jago cuma Jerman, Brazil, Argentina, Spanyol, Prancis. Di lapangan, terlepas apa pun hasilnya (persetan hasil!), para pemain Maroko dan Iran memberikan seluruh keringatnya; dan memberi kita ingatan yang nostalgik tentang sepak bola yang asyik.

Memang sepak bola disulap jadi ruang olah manajemen. Dulu kita punya pelatih, sekarang kita punya manajer. Pelatih mengajak kita bermain, manajer mengajak kita bekerja. Itu kata Galeano (lagi). Bermain dan bekerja mengandung semesta yang berbeda. Orang bekerja dengan skema, yang kadang diulang-ulang, dan itulah kenapa Argentina tampak membosankan dan Jerman seperti kehabisan ide untuk mencetak gol. Bermain adalah sudut pandang yang tak ada di kamus orang-orang yang kepalanya sudah diisi mantra-mantra modern tentang efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan rumor-rumus neoliberal lainnya.

Hari-hari ini, betapa menyenangkannya melihat Iran, Nigeria, Korea Selatan, Peru. Mereka yang bermain sepak bola dengan gema yang diusung Galeano: sepak bola adalah kenikmatan yang menyakitkan. Hasil akhir, tentu saja, selalu bisa mengkhianati perasaan-perasaan kekanak-kanakan yang tumpah di lapangan; atau mengecoh orang-orang yang cuma mau menonton Neymar jatuh dan Messi kebingungan (lalu mengecek skor via livescore). Di 90 menit ++ yang sering kali dilupakan, yang banyak orang tak rela menghabiskan waktu kronosnya untuk itu, sepak bola yang asing sekaligus tak asing itu sebenarnya sedang dimainkan.

 

yang paling nyeri

Yang paling nyeri dari bangun kepagian adalah ingatan tentang rumah.

Hari ini, tidak seperti biasanya, saya terbangun jam enam pagi. Lalu saya gegoleran di sofa, lalu saya mandi. Setelah itu saya ke dapur, untuk menyeduh kopi.

Yang paling nyeri dari kopi adalah ingatan tentang rumah.

Kopi yang saya seduh dari Sorong, Kopi Senang. Wanginya, astaganaga, menguar dan seketika membentuk bayangan tentang teras dan dapur di rumah. Saya tiba-tiba teringat bapak dan nenek saya. Kita bertiga peminum kopi paling giat di rumah. Dulu waktu kecil, saya suka menciumi wangi kopi yang baru mereka seduh.

Pagi ini, saya meminum kopi untuk mereka.

Bangun kepagian juga membuat saya mengingat ritual-ritual pagi yang biasa saya lakukan di rumah. Seperti menonton berita olahraga di televisi, atau tidur-tiduran di sofa. Dulu sebelum bapak mengantar saya ke sekolah, saya suka malas-malasan dulu. Sebangun tidur, saya langsung minum susu, lalu beranjak ke sofa sejenak. Setelah mandi, saya ganti baju sambil nonton televisi.

Hari ini, saya membuka laptop untuk itu. Tapi ternyata berita pagi sudah habis — karena di Indonesia sudah siang.

Yang paling nyeri, dari semuanya, adalah waktu yang berjarak.

(Wageningen, 20 Juni 2018)

Menari di Utara

Disclaimer: Catatan kecil ini saya tulis untuk mengingat dan merawat bulan-bulan yang berlalu di Belanda. Saya menaruh catatan ini dalam kerangka berpikir poskolonial dengan menghayati posisi saya sebagai ‘anak dari periferi’ yang belajar di ‘metropole’. Mengabaikan relasi dan esensi historis-poskolonial semacam ini adalah separah-parahnya penyangkalan diri.

Yang paling problematik dari situasi poskolonial adalah orientalisme internal. Kira-kira begitu yang dikatakan Brickenridge dan Veer (1993) dalam Orientalism and the Post-colonial Predicament: Perspectives on South Asia. Narasi-narasi orientalis telah ditulis di utara sejak lama, dan anak-anak selatan belajar menyerapnya utuh-utuh. Maka, kengerian itu tiba: self-orientalism. Kita membaca diri sendiri dengan cara yang telah diajari utara/barat. Lupakan kemerdekaan. Orientalisme telah menjadi darah yang mengalir di nadi-nadi kita, tepat di bawah kulit sawo matang kita. Kita adalah orientalis berkulit coklat.

Di kampus-kampus Belanda – juga di negeri-negeri utara lain – anak-anak selatan duduk di kelas dengan ketegangan-ketegangan poskolonial yang kadang tak diacuhkan. Wageningen, misalnya, dihuni mahasiswa dari ratusan negara, termasuk berbagai negara selatan. Orang-orang dari dunia kedua dan ketiga berkumpul dan merajut harapan di dunia pertama. Anak-anak Yunani, Spanyol, dan Italia paham betapa brengseknya ekonomi dan politik di dalam negeri masing-masing. Pantai, pizza, dan siesta tak cukup. Neoliberalisme ala Eropa Barat adalah destinasi. Brussels adalah kenyataan brutal yang tak bisa dibendung.

Lalu, anak-anak dari Asia, Afrika, dan Amerika (yang bukan Serikat). Disini kita menikmati kemewahan-kemewahan dunia yang kita sebut ‘modern’, ‘beradab’, dan yang paling penting, ‘maju’. Kita terpesona oleh ‘kecanggihan’ ala metropole: transportasi, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Sistem-sistem ala utara membuat kita merenungi betapa tengiknya negara yang kita tinggalkan di selatan sana; betapa ringseknya sendi-sendi kehidupan sehari-hari di periferi sana. Sayangnya, banyak dari kita yang lupa bahwa sebenarnya kita sedang membaca selatan dengan kacamata utara; dengan mengabaikan fakta bahwa pengalaman historis-sosiokultural utara dan selatan tak sama; dengan menelan mentah-mentah narasi soal modernitas, pembangunan, kemajuan, dan omong kosong lainnya.

Pada catatan kecil ini, saya sebenarnya ingin mengajak untuk berkaca dan bertanya tentang dua hal besar: kebudayaan dan relasi poskolonial metropole-periferi. Saya ingin membaca keduanya dengan menengok acara-acara ‘kebudayaan’ yang saya amati di utara, dan dengan merenungi betapa melelahkannya (dan mencurigakannya) wacana bernama kosmopolitanisme.

‘Budaya Indonesia’: Pertunjukan dan pemuasan gairah orientalis

Dekolonialisasi, kata del Arco (2017), harusnya jangan dilihat sebagai proyek tapi sebagai everyday ethics. Tapi, bagaimana bisa mendekolonialisasi pikiran di tengah gairah orientalis/kolonial yang tak kunjung redup? Di utara, benturan itu nyata dalam wujud ‘budaya’. Entah berapa kali saya melihat poster di linimasa Facebook tentang pentas seni budaya Indonesia. Tentu saja, yang dijual adalah Indonesia ‘tradisional’; kebudayaan yang diserap dari daerah-daerah, lalu dipayungi label ‘budaya Indonesia’; dan kita menyuapi orang-orang kulit putih itu dengan eksotisme. Ini 2018 dan yang eksotis masih dicari: tubuh-tubuh sawo matang yang berlenggang-lenggok di depan meneer-meneer; suara-suara yang keluar dari alat-alat musik berbentuk aneh; dan makanan berbau rempah-rempah timur – alasan 350 tahun yang mengerikan itu.

Jadi, ketika perkumpulan-perkumpulan pelajar menghelat acara-acara ‘budaya’ di metropole, yang secara tidak langsung terjadi adalah pemuasan gairah kolonial. Kita terbang dari jauh ke ‘pusat’ untuk mereproduksi colonial psyche. Penjajahan telah selesai, buat sebagian orang; tapi residu-residunya masih bisa kita cium hari ini. Realitas poskolonial ada dimana-mana, di selatan dan utara. Kita mungkin mengingat tempat-tempat di Indonesia dimana budaya lokal dipertontonkan, dimodifikasi, dikomodifikasi, direifikasi, didangkalkan, dan dikomersialisasi untuk memuaskan nafsu turis-turis pirang itu. Di Eropa, pada hari-hari akhir pekan, hal yang sama kerap terjadi. Oposise biner itu pun terjaga: selatan adalah budaya, utara adalah sains; utara adalah penonton, selatan adalah tontonan; selatan adalah objek, utara adalah subjek.

Jika orientalisme masih sahih dibicarakan hari ini, maka kita adalah aktor kunci. Seperti yang saya tulis di awal, yang paling mengerikan dari realitas poskolonial adalah self-orientalism. Kita mengorientalisasi diri sendiri (self). Orientalisme internal ini bisa didasari banyak hal. Dalam konteks pariwisata, misalnya, self-orientalism kadung diterima sebagai normalitas. Dokumenter Framing the Other menunjukkan bagaimana suku Mursi di Etiopia menyesuaikan diri terhadap gairah orientalis turis-turis Belanda atas nama uang. Saat orang-orang Eropa itu mendekat ke desa, mereka sibuk memasang atribut-atribut ‘budaya’, supaya terkesan ‘etnik’, ‘primitif’, dan ‘tradisional’. Kita bisa berkaca dan harusnya sepakat bahwa hal yang sama terjadi dimana-mana. Indonesia, yang kaya budaya, tak luput dari pertunjukan/drama turistik semacam itu.

Jadi, dengan cara berpikir ini, pentas ‘budaya’ Indonesia di utara hanyalah pengejewantahan self-orientalism. Retorikanya bisa macam-macam. Seperti suku Mursi, uang bisa jadi satu alasan; yang berarti ‘budaya’ telah menjadi komoditi. Beberapa lainnya memakai retorika bernama ‘pelestarian budaya’, ‘mengenalkan budaya Indonesia’, ‘memamerkan kekayaan budaya’, dan sebagainya. Retorika-retorika semacam itu memang masuk akal, entah untuk alasan praktikal atau ideologis. Masalahnya, ketika kita menganggap semua itu ‘masuk akal’, kita sebenarnya telah kehabisan paradigma di luar narasi-narasi orientalis. Kita sudah kehabisan cara untuk berpikir di luar yang telah diajarkan/diarahkan metropole.

‘Kosmopolit dan internasional’: Dua jebakan

Untuk memahami bagaimana self-orientalism dalam wujud pertunjukan ‘budaya’ dinormalisasi, saya menganjurkan kita menengok ke persoalan kosmopolitanisme dan internasionalisasi. Wageningen bisa menjadi studi kasus yang menarik. Dalam satu video Youtube, seorang mahasiswa menyebut Wageningen sebagai ‘the most cosmopolitan village in the world’. Wacana-wacana semacam ini, buat saya pribadi, terlanjur menjadi basi. Sejak awal masa orientasi, rektor sudah menyebut ‘atmosfer internasional’ sebagai keunggulan universitas. Memang tak ada yang bisa mengelak dari kenyataan itu. Ribuan mahasiswa dari ratusan negara menghuni desa kecil kami. Adalah di Wageningen saya berkesempatan bertemu manusia dari Kazakhstan, Lithuania, Guatemala, Rwanda, Suriname, dll. ‘Internasional’ adalah mantra yang tak habis-habisnya saya dengar hingga penghujung masa studi ini.

Apa yang terjadi pada pertemuan, dialog, atau interaksi internasional adalah pertukaran budaya. Dalam hal ini, budaya bisa mencakup hal-hal yang abstrak seperti sudut pandang, cara hidup, atau kepercayaan; juga hal-hal yang konkrit seperti makanan, pakaian, atau bahasa. Di dalam ruang yang di luar ‘sehari-hari’, budaya bisa menyerupai tarian, kesenian, musik, dan lain-lain. Pada titik inilah, ketika ‘budaya’ dipertukarkan dalam sebuah pertemuan internasional, praktik dan narasi soal (self-)orientalisme bisa saja menemukan momentumnya.

Salah satu wujud paling banal adalah One World Week. Di acara tahunan ini, retorika yang muncul di permukaan adalah ‘merayakan keberagaman’, ‘kooperasi interkultural’, ‘berbagi tradisi budaya’, dan sebagainya. Di One World Week, pertunjukan seni budaya menjelma bagian penting. Mahasiswa dari berbagai negara menunjukkan budaya, kesenian, kuliner, dan keunikan masing-masing. Menariknya, berdasarkan amatan saya yang lancang, kebanyakan pementas adalah mereka yang berasal dari negara-negara ‘selatan’; yang budaya dan manusianya kerap diberi label ‘eksotis’. Kecuali Belanda sebagai ‘tuan rumah’, saya kesulitan menemukan ‘budaya’ dari negara-negara ‘barat’ lain; yang kerap kita sebut sebagai ‘negara maju’.

Yang sebenarnya terjadi, kemungkinan tanpa intensi, adalah orang-orang selatan diberi panggung untuk mengorientalisasi diri dan budayanya di hadapan publik ‘internasional’. Semua diamini atas mantra pergaulan internasional, pertukaran budaya, dan kosmpolitanisme (oh kita menjadi warga dunia!). Kita bisa saja curiga bahwa yang dimaksud ‘publik internasional’ sebenarnya didominasi orang-orang barat. Tapi, dalam konteks Wageningen, saya tak ingin mereduksi kemungkinan interaksi selatan-selatan. Kendati begitu, kecurigaan saya pada kosmopolitanisme tetap pada tempatnya. Beberapa penulis telah memakai istilah ‘Wester cosmopolitanism’ untuk merujuk praktik dan ide kosmpolit yang secara epistemik lahir di barat. Tak ada keadilan dan keseimbangan yang bisa diharapkan dari proses epistemik semacam itu.

Ujung catatan

Di catatan singkat ini, saya hanya memberi gambaran sekilas tentang bagaimana anak-anak selatan, termasuk Indonesia, mengorientalisasi dirinya sendiri sesuai dengan apa yang telah ditetapkan narasi-narasi orientalis tentang seperti apa itu oriental, ‘yang liyan’, dan non-barat. Sudah lama saya ingin menulis catatan kritis untuk praktik-praktik self-orientalisme yang saya temui, amati, dan alami selama belajar di Belanda. Pentas seni budaya hanyalah satu sampel untuk mewakili realitas-realitas poskolonial dan interaksi metropole-periferi lain di utara sini. Setiap realitas dan interaksi punya retorika dan logikanya masing-masing.

Secara lebih luas, seperti yang sudah saya sebut di awal, saya hanya ingin mengajak untuk berkaca tentang kenyataan poskolonial yang kita hidup sehari-hari. Residu-residu orientalis/kolonial masih terasa, bukan? Jika kita berusaha menciumnya, iya. Jika tidak, ya tidak. Pengelakan terhadap ketimpangan/ketidakseimbangan relasi metropole-periferi hanya akan berujung pada pengelakan-pengelakan lain. Ujung-ujungnya, praktik-praktik reproduktif terhadap narasi-narasi orientalis/kolonial hanya akan berlanjut tanpa kontrol, tanpa kesadaran, tanpa kritik. Dan selamanya kita ‘kan jadi objek yang ditulis, dan dipertontonkan.

Versi lebih padat tayang disini.