Here Comes the Sun

Matahari cerah di Wageningen. Saya bersepeda, membonceng Adiska di belakang. Kami menuju Aula di dekat pusat kota, untuk wisuda kami. Dengan jas abu-abu yang juga saya pakai di wisuda sarjana, saya menggowes sepeda dengan gontai, di siang yang asyik di Wageningen. Oh wisuda, lalu pulang, lalu apa?

Di perempatan lampu merah dekat Lidl, di dekat stasiun bus, saya berhenti. Lampu merah. Saya memencet tombol untuk lampu hijau. Tik-tok-tik-tok. Angka bergerak mundur. Saya memegang tiang lampu merah, lalu pelan-pelan melantunkan “here comes the sun and I say it’s alright…”

Dari bangku belakang, Adiska memprotes. “Here comes the sun mulu bos,” katanya. Di musim yang menghangat, lagu itu memang menjadi lantunan saya dimana-mana, terutama kala bersepeda, entah dari dan ke Jumbo, stasiun kereta, kampus, Droevendaal, atau tempat-tempat lain di kota kecil kami.

“It’s been a long cold lonely winter…” Cerah musim semi begitu melenakan. Senyum-senyum mengembang. Kacamata hitam terpasang terus, seperti siap menikmati hari yang panjang di depan. Sampai jam 10 malam? Boleh. Maka kita kan menggelar piknik yang asyik di De Rijn: bir, barbekyu, dan buku.

Lampu hijau. Saya melanjutkan gowesan. Lurus terus hingga perempatan ketika aspal berhenti, dan batu-batu bata coklat-merah menemui roda sepeda. Lurus terus, kemudian belok kiri, hingga Hotel de Wereld tiba di kiri. Sedikit lagi, dan sepeda berhenti di depan Aula. Adiska melompat. Saya memarkir sepeda.

Pembakaran Sampah: Fragmen

Seorang kakek membakar sampah di halaman. Asapnya kemana-mana. Seperti membawa cerita dari masa yang jauh. Sore-sore dihabiskannya untuk mengumpulkan daun-daun yang kering, jika tidak hujan, dan menyalakan api di gunungan daun-daun kering yang ditumpuknya. Wajahnya mengandung melankolia yang tak kita pahami. Ia menyiratkan sebuah buku yang sampulnya keropos, tapi di dalamnya ada kisah-kisah yang asyik dibaca. Terlebih di hari-hari ketika wabah melanda.

Aku membaca buku itu dengan pelan, setiap pagi saat asap dari cangkir kopiku mengepul ke langit-langit teras. Halaman demi halaman, seperti kota yang mendadak vakum oleh bakteria, atau epidemi, atau apalah yang bukan-manusia. Sementara sekolah-sekolah ditutup, dan universitas dipindah ke internet, buku itu rutin mengisi pagi, siang, sore, malamku dengan ketabahan yang tak terpemanai. Di sela-sela paragraf, aku pergi ke kompor dan merebus jahe, membiarkan wanginya merebak ke sendi-sendi dan saraf-saraf, serta memberi makna untuk tanah yang melahirkannya. Lalu, pendar jingga sore muncrat di balik jendela, dan aku mematikan kompor untuk menyesapnya di bibir teras.

Saat-saat itulah si kakek sedang sibuk dengan vakansinya, yang rutin ia jalani sejak entah kapan. Daun-daun kering itu telah memberinya alasan yang juga entah apa. Dan asap-asap yang dihasilkannya memberinya jawaban atas pertanyaan yang urung diselesaikannya. Bagaimana caranya kita bertahan hidup di tengah dunia yang serba salah, ketika mesin-mesin terganas masuk ke hutan terdalam untuk membabat pohon-pohon dan menciptakan tanah-tanah perkebunan luas sebagai pembangkangan untuk Ibu Bumi? Lalu, daun-daun perlahan lenyap, menjadi abu, dan asap menjadi abu-abu, dan kota menjadi kelabu.

Corona

Corona adalah tanda tanya yang menganga di depan muka.

Ia telah memberi kita banyak pertanyaan, tanpa jawaban. Juga banyak perenungan. Kita jadi bertanya-tanya apa makna dari perjalanan-perjalanan ini, jika ia hanya berakhir sebagai pandemi? Haruskah kita berangkat pulang ke rumah, dan tinggal diam selamanya di hutan-hutan terdalam di jantung ibu?

Kota-kota menjadi sepi. Isolasi dan solidaritas membentuk paradoksnya di tengah pandemi ini. Kita memahami bahwa kolektivitas dan individualitas itu bukan kontradiksi. Ia adalah semacam paket yang utuh. Kita bertanya-tanya tentang apa guna sendiri sendirian tanpa sendiri ramai-ramai?

Setelah ini, filsafat baru akan tumbuh di pusat bumi. Kita akan memahami biologi dengan mata berbeda. Makhluk hidup bukan-manusia, pada akhirnya, telah menjadi agensi yang menginterupsi kerakusan kita, yang memangkas hutan hingga ke akar-akar, hingga virus-virus paling jahat mekar di kota.

Di tengah karantina ini, sebenarnya kita diberi waktu untuk bertanya. Kita terlalu sibuk mengakumulasi, sehingga lupa menerka coreng di muka sendiri. Bagaimana caranya iklim bisa berkelahi dengan takdirnya sendiri? Haruskah kita berhenti berpergian dan duduk manis mengisi teka-teki silang di bibir teras?

Selama ini, demonstrasi telah gagal menghentikan pabrik, juga diktat-diktat tebal Marxisme. Tapi, sebuah virus telah menciptakan revolusinya sendiri. Ia datang tanpa undangan, dengan sebuah dor! yang bising. Huru-hara di supermarket. Huru-hara di kepala. Segulung tisu toilet muncrat dari mulutku.

Sebuah Taman

Aku mendamba sebuah taman. Di petak-petaknya aku ingin menanam brokoli dan melankoli. Aku ‘kan memanennya setiap sabtu, supaya bisa menikmati akhir pekan dengan sepiring brokoli campur melankoli. Kan kusantap ia dengan secentong nasi merah, dan kulap sisa-sisa makanan dengan likuor.

Di taman itu, sebentuk orang-orangan kan kudirikan, untuk mengusir gagak yang mengintai tanamanku. Aku kan memberinya seragam abri, lengkap dengan pangkat-pangkat yang mengerikan, supaya si gagak tak berani masuk menggasak brokoli dan melankoliku. Jika tidak, ia kan didor oleh pak abri.

Taman itu penuh dengan hujan. Aku tak perlu memupukinya dengan cita-cita yang jauh, karena hujan ‘kan datang tepat waktu, setiap kali tanahku mendambakan air dan tanamanku menginginkan mineral. Kemarau takkan mampir di tamanku. Ia akan stop di depan pagar dan melipir pergi tanpa permisi.

Sebuah taman, yang kugarap di tepi kota itu, akan menjelma iklim yang berontak. Ontologinya tak bernama. Filsafat akan kehilangan makna di dalamnya. Dan kita tak perlu menjadi apa-apa di luarnya. Kita hanya perlu membiarkannya tumbuh, dan ia akan memberi kita apa-apa yang secukupnya.

Manila

Manila, pada sebuah pagi.

Bus-bus berloncatan kesana-kemari. Fragmen-fragmen dalam film ‘Metro Manila’ memenuhi isi kepala saya, sedang perut saya kosong. Apa gunanya kepala yang penuh tanpa perut yang terisi? Omong kosong?

Dari atas pesawat, beberapa menit sebelumnya, saya melihat sebuah kota dengan gedung-gedung yang tinggi. Mau tak mau saya mengingat Jakarta. Saya bertanya-tanya bagaimana caranya manusia membangun gedung-gedung setinggi itu? Dan untuk apa? Dan saya mengingat Menara Babel, yang selalu diceritakan guru sekolah minggu di gereja, dan Pak Poniman, guru agama di SD dulu.

Di dalam Grabcar yang saya tumpangi dari NAIA, saya duduk diam. Bapak supir saya tak banyak bicara. Mungkin ia murung. Atau mungkin ia hanya malas berbahasa yang bukan bahasa ibunya. Berbahasa Inggris itu melelahkan. Dan saya bersyukur bapak itu tak banyak bicara, terlebih perut saya masih kosong pagi itu.

Saya menuju Terminal Buendia. Suzy menunggu saya. Kami akan sama-sama naik bus menuju Los Banos, kira-kira 2 jam dari Manila. Saya turun di dekat terminal dengan koper kabin yang harus saya tenteng melewati Manila pukul 7 pagi. Mungkin jam tersibuk sepanjang 24 jam. Mungkin saya takkan selamat.

Tapi, ternyata tidak. Jakarta telah memberi saya pelajaran berharga tentang bagaimana caranya menyebrang dengan baik dan benar, dan dengan koper yang mesti dijinjing, dan pada peak hour ketika banyak orang berlalu-lalang, dan ketika bus-bus besar bergerak seperti siap menggilas siapa pun yang menghalangi.

Suzy sudah menunggu di McDonald’s. Kami berkenalan. Lalu, bergerak menuju bus yang akan mengantar kami ke Los Banos. Perut saya masih kosong. Tapi, saya lebih lelah daripada lapar. Setelah sedikit basa-basi dua orang beda negara yang baru pertama kali bertemu, saya pamit ke Suzy untuk rehat sejenak.

Catatan Jalanan

Saya kerap membayangkan bagaimana caranya sebuah kota menghisap cerutu? Seperti sebatang sigar Kuba yang saya hisap di Droevendaal. Setelah gelas-gelas yang panjang, dan obrolan-obrolan semifilosofis tentang masa depan, hoek!

Mungkin seperti itu. Kita menelan asap-asap, yang diproduksi motor dan mobil buatan Jepang, Korea, Amerika atau Eropa, lalu kita muntah. Lalu kita kehilangan makna pada waktu, pada kecepatan, pada jarak.

Semua ini membuat saya mengingat Kundera, ketika ia memulai ‘Slowness’ dengan sebuah realisasi yang sederhana tentang bagaimana kecepatan menyandera kita. Membuat saya mengingat gerakan-gerakan slow (atau selo). Mungkin, revolusi yang sebenarnya berwujud lebih subtil dari demo-demo di pagar DPR atau aksi-aksi heroik di Amerika Latin.

Mungkin kita harus belajar berjalan kaki lagi, atau bersepeda, atau apa pun yang memaksa kita melambatkan laju, seraya memikirkan ulang: apa itu waktu dan jarak?

***

Dua hari ini saya melewati Godean yang murung dengan observasi selintas tentang mereka (dan kita) yang melawan arah. Saya membayangkan kemungkinan alasan-alasannya. Dan saya ingin keluar dari narasi moralis tentang warga yang patuh lalu lintas. Cuih!

Saya ingin menyelam lebih dalam. Mungkin saya harus berhenti dan menodong mereka dengan recorder, lalu menciptakan semacam etnografi yang mendadak. Dor! Tapi, saya etnografer di sana. Bukan moralis. Bukan polisi. Bukan mereka yang hidup lurus oleh regulasi dan undang-undang. Saya pikir: mungkin saja sebenarnya melawan arah di jalanan adalah sangat logis.

Lalu, saya mengingat-ingat saat-saat saya melawan arah. Dan memikirkan semacam hipotesa yang menggeneralisir. Sementara – namanya juga hipotesa. Kegiatan melawan arah logis pada situasi-kondisi tertentu. Itu fakta ontologis yang tak bisa kita pungkiri. Kenapa?

Mungkin karena kita telah lama hidup dengan kecepatan, dengan motor dan mobil yang meraung-raung dengan gegas, sehingga sangat sulit untuk menyebrang ke arah yang benar. Buang-buang waktu. Lagi pula, kita sebenarnya juga telah terbiasa dengan ketergegasan. Sehingga, apa salahnya melawan arah ketika tidak ada pak polisi dengan rompinya yang menyala-nyala?

***

Di Yogyakarta, saya kerap membayangkan Jabodetabek yang tak kalah murung. Mungkin saya rindu. Atau mungkin tidak. Mungkin saya hanya sekadar membandingkan kota-kota yang telah dan sedang saya lakoni. Mungkin sebenarnya, dengan membayangkan Jakarta, saya sedang belajar bagaimana caranya menjadi warga Yogyakarta yang baik.

Di jalanan Jogja, setidaknya saya lebih banyak belajar bersabar. Dan menunggu lampu merah dengan tenang. Dan tidak menyerobot. Dan menyalip dengan santun. Dan mengurangi sedikit rata-rata speedometer di motor pinjaman yang saya kendarai.

Bukan berarti Yogyakarta tak dijajah oleh kecepatan. Seiring waktu saya menyadari bahwa ketergesaan juga realitas yang tak bisa ditawar di sini. Ada banyak faktor. Mungkin kenaikan jumlah kelas menengah, yang selaras dengan kenaikan konsumsi kendaraan pribadi, yang selaras dengan kemacetan, yang selaras dengan siasat praktikal untuk mengakali kemacetan.

Melawan arah sebenarnya hanyalah siasat beradaptasi di tengah masyarakat yang sibuk mengakumulasi kapital. Ia logis, karena itu ia menjadi jamak. Dan karena itu aturan-aturan lalu lintas sebaiknya harus segera direvisi untuk mengakomodir perubahan ini.

Kemungkinan kedua, terkait dengan aturan lalu lintas, adalah struktur jalanan kita yang terlalu dikotomis. Ia hanya menyediakan dua opsi. Di situ tidak ada pilihan ketiga dan seterusnya. Padahal, di masyarakat posmodern yang kian blur dan non-dualistik, opsi ketiga akan selalu ditempuh. Masalahnya, ketika ia tak diakomodir oleh regulasi, ia berlabel ‘ilegal’.

Kemungkinan ketiga, terkait struktur sosio-material jalanan, adalah ketiadaan trotoar. Ini kasus yang sangat Indonesia. Setidaknya dari hasil amatan sambil lalu saya, praktik-praktik melawan arah lebih banyak terjadi pada jalan-jalan yang tidak memiliki trotoar, sehingga para pelawan arah – kebanyakan pengendara motor dan motornya – punya celah untuk memangkas waktu.

Dalam kota yang kian menyempit (involusi; mungkin itu istilah kerennya), spasi adalah kemewahan. Dan kita harus memanfaatkan peluang sekecil apa pun untuk mengambilnya. Seperti halnya anak-anak yang bermain bola di komplek pemakaman di Jakarta. Logis.

***

Jadi, sebenarnya tak ada yang terlalu salah dengan melawan arah di jalanan. Setidaknya ketika kita berani sedikit mengenyampingkan argumen moralis tentang taat aturan, menjadi warga kota budiman, dan klise-klise sampah lain yang hanya membikin polisi cengar-cengir.

Melawan itu selalu perlu. Saya jadi mengingat sebuah marka jalan di Depok, di dekat rel di Jalan Dewi Sartika. Di sana ada tulisan: ‘dilarang melawan arus’. Saya selalu tersenyum ketika mengantre kereta lewat di situ. Dan saya membayangkan betapa indahnya melawan arus.

2019

Saya mengingat 2019 sebagai maraton yang panjang dan melelahkan. Dan saya berhenti di garis finis nyaris sebelum panitia membubarkan acara.

Jika setahun silam saya menulis tentang ambivalensi sebagai hal terpenting yang saya pelajari dan pikirkan di tahun 2018, maka pada 2019 saya tak banyak belajar: kecuali kenyataan bahwa kehidupan bergulir dengan pelan dan cepat secara bersamaan, dan satu-satunya hal paling masuk akal yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan hari ini, melakukan apa yang di depan mata dengan langkah-langkah kecil yang pasti.

Tapi sebenarnya tak ada yang pasti. Kita hanya berjudi, seraya berdoa langkah-langkah itu akan berujung pada sesuatu. Di 2019 saya lebih banyak bersyukur dan mengutuk secara bersama-sama. Seperti seorang umat yang kelelahan menebak-nebak makna dari ayat-ayat yang mengawang di altar gereja.

Toh, saya juga memahami bahwa persistensi dan idealisme itu harus dirawat sama baiknya, dan harus dijalankan sama temponya. Satu tanpa yang lain hanyalah omong kosong. Dan kedunya memerlukan bahan-bahan lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar (keluarga, teman, pacar, dll) yang mendukung. Idealisme tanpa lingkungan yang suportif adalah nonsens besar.

Saya beruntung punya lingkungan yang kondusif itu. Itulah mengapa saya banyak bersyukur di sela-sela kesibukan saya mengutuk diri sendiri di malam hari.

Di ujung tahun 2019 kemarin, saya mengingat adagium usang yang selalu saya suka dan percayai. Bunyinya begini: good things happen when least expected. Setidaknya mantra itu nyata bagi saya. Sudah dua kali saya mengalaminya sendiri. Pertama, ketika mendapat beasiswa yang membawa saya studi ke Belanda. Kedua, baru-baru ini, ketika akhirnya saya bisa pindah ke Yogyakarta, kota yang selalu saya idam-idamkan sejak dulu, untuk mengajar di Universitas Gadjah Mada.

Setelahnya, saya ingin menikmati 2020 dengan pelan, dan dengan mencerna pemahaman bahwa 2019 begitu melelahkan secara energi dan emosi, sehingga saya perlu sedikit melambatkan laju, supaya saya bisa menikmati hidup yang indah ini, yang seringkali berkabut, gelap dan misterius.

Vigo

Renfe berhenti di Vigo.

Saya punya beberapa jam — tiga atau empat jam kalau tidak salah — untuk membunuh waktu di Vigo. Sebelum kereta lain akan membawa saya ke Porto. Rute yang saya tempuh dari Santiago de Compostela memaksa saya transit di sana, dan saya punya cukup matahari musim semi untuk melihat-lihat.

Tapi, sebenarnya tak banyak yang terjadi dalam tiga/empat jam itu. Saya cuma berjalan kaki ke luar stasiun, belok kanan dan terus mengikuti trotoar hingga kelelahan. Lalu tiba-tiba lautan muncul di sisi kanan dan saya menikmati sunset yang asyik di Vigo. Dengan jaket winter yang tebal, lalu matahari menimpa mukamu, apa lagi yang bisa saya harapkan dari sore di tepian Atlantik itu?

Di dekat laut saya hanya duduk-duduk. Beberapa pria paruh baya sedang memancing, di sela-sela itu mereka bercengkrama. Entah tentang apa. Saya mendapati orang-orang Galicia bicara lebih pelan dibanding orang-orang Spanyol di Madrid dan Andalusia. Seperti ada yang mereka rahasiakan. Atau mungkin tinggal dekat lautan mengajari mereka untuk tak perlu banyak bicara.

Langit kian abu-abu, suhu makin turun. Saya terus berjalan untuk menciptakan sedikit keringat dan secuil hangat di tubuh. Setidaknya begitu teorinya. Pada satu titik, jam terus bergerak maju, dan saya memutuskan kembali ke arah stasiun. Di tengah jalan, anak-anak bermain bola di semacam cage court. Saya berhenti sebentar, mengamati mereka menendang bola kesana-sini. Juga mencetak gol.

Saya mampir di cafetaria di dekat stasiun untuk mengisi perut. Juga menghangatkan badan dengan segelas Estrella Galicia. Setelahnya saya merasa siap melanjutkan kelana. Porto telah menanti di ujung rel. Di selatan.

Monologues

Monologue on Giving Up

To be able to try is a privilege.

Some people don’t even have a chance to try, let alone to get. At least I have had that kind of chance, and that sort of privilege. I tried. I chose to try. And, not least importantly, I was totally supported – by family, lover, friends, etc. – to try.

This privilege contains many other things life has kindly given me. Great mom, great lover, great brother & sister, great friends, good fortunes, nice coincidences, and else. They all have provided me, essentially, with time (to try) and little savings (to ‘buy’ that time). But, there is always but, no? I have tried, but I seemingly haven’t reached the point I imagined in the beginning. Money runs out, time’s up. It’s time to give it up.

But, I have tried. And, it should always be okay to quit after you try. I think. I’ve done the trying, yet I have to learn the quitting. It’s not always easy to quit. Yet every champion learns how to quit once or twice in her/his lifetime. People are trying, people are quitting.

Why bother?

***

Monologue on Praying (or not)

What is prayer, anyway?

Is it a kind of words we spell for miracles, or hopes, or something we are no longer capable of doing? When we pray, who are we telling to? Some sort of magical/superior thing, or to ourselves, or to a universe, or to whom?

“Please pray for blah-blah-blah.” I heard it so many times these days and I’ve start to take it as a cliché. I cannot take it very seriously now, as I do not know who to believe, or whom to pray to, or whom I should telling my problems and hopes and dreams to. What is god, anyway? Or, more precisely, what are gods? Are they there listening to the prayers of humans, who are no longer able to hope, to do, to try, to see, to breath, to listen, to xxx?

Recently I prayed with no words. I prayed with all my bodies and souls. The prayers I told were not in the form of sentences. There were no grammars. There were no structures. No words. No letters. No intentions. No directions. But, I prayed. At least, that’s what I think. Perhaps this is a kind of prayer which hopeless and helpless. Still I prayed, anyway.

I don’t know why. Words may fail. So I no longer able to pray with words. If the body-prayer fails me too, I don’t know through which form I should pray.

Perhaps I should stop praying at all?

***

Monologue on a Death of a Friend

After a Saturday night dinner at Sagan, I came back to Wedomartani. I chilled on the bed and read the Whatsapp message, telling that my good friend has just passed away. It was so sudden. She was hit by a truck in her hometown of Kampala, Uganda. I was shocked. So do other friends in many corners of the world.

How can a death of a friend that is no longer physically close to you can be so unbearable? I mean, if we were still living in the same city and met quite regularly, then such a sudden death must logically be very painful. Yet we are already separated, living each separate life in each separate city. But, then, death has come and separate us even more. How do we actually measure distance, proximity, and (non)existence?

To console myself from the sadness and questions hanging uneasily in my head, I drove to the coast in the south. A death of a friend has apparently brought me to familiar things which I previously don’t know I miss. The scene along the way: rice field, long asphalt road ahead, smell of the sea, life so mundane that we barely think of, all the good things life has provided us but we are too busy to look for something else (something abstract, a concept).

At the beach, I found my spot to reflect. I ate my lunch and I gazed at the ocean. Across that ocean is Africa. A friend has died there yesterday. In a continent I’ve always dreamed to go to. She once encouraged us to save money to visit her in Uganda. She said she will fix all other things. We only need two-ways flight ticket. Yet, death has come.

And what has already been separated are separated even more.