Last Trains

The rain fell in Gondangdia. I was running to get the last train to Depok. The station was so serene and nice in the midnight. Last train, last people from the suburbs. I sat on the seat in the corner… and fell asleep.

I was dreaming about my last trains in The Netherlands.

In my second last night there, I catch the last train from Amstel to Ede-Wageningen. It was the goodbye, so don’t blame me. I arrived in Dijkgraaf with a little funny shock in 2A. I ate the left-over cake before sleeping.

Months before, I had a late flight from Bari to Maastricht. To go to Wageningen was a mess as the railways somewhere between Maastricht and Eindhoven were under maintainance. I had to pass some unusual route, before reaching Nijmegen, and catched a very late train to Ede-Wageningen. No bus 88 anymore, so I took the OV-fiets (rented the bike) and cycled to Wageningen. It was at 2 am.

There were more last trains I took to Ede-Wageningen. For instance, the one from Arnhem, when I had a long trip from Bayreuth to Dusseldorf to Arnhem by the combination of German Flixbus and DB Bahn.

Also, the one from Deventer. It was after the Friday football match of Eerstedivisie. Go Ahead Eagles was defeated at home by FC Eindhoven. It was a pathetic scene in the tribune. I walked from the stadium to the station, felt so hungry, and took the frikandel at Albert Heijn (along with a can of Hertog Jan).

And other last trains. I might not remember them all. But, I know there are always the last ones waiting for me to go home.

Advertisements

Prabowo, Juventus, dan Hal-hal yang Harus Dilepaskan

“Daripada kau hanyut tersiksa batin,

mendingan kau lepas dan terbang bersama angin.”

 

Ketika bapak meninggal, saya perlu waktu lama untuk mencernanya. Saya terbiasa pelan-pelan melumat perasaan. Hingga saya bisa memahaminya dengan utuh. Proses yang mungkin panjang itu, setelah dipikir-pikir, amat berharga. Saya membiarkan waktu menuntaskan adagium itu: only time will heal.

Dalam proses itu, penggalan lirik lagu dari Steven & Coconut Treez di atas menjadi monumen personal. Suatu waktu saya tengah buang air besar dan terngiang lirik itu di telinga, lalu menyanyikannya. Setelahnya saya cebok, membersihkan sisa tai di pantat, dan melepaskan kesedihan yang lama melumat saya.

Melepaskan. Itu kuncinya. Hermann Hesse merangkumnya dengan indah: Some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go. 

***

Saya berangkat dari Way Huwi menuju Bakauheni kira-kira jam 12 siang, dan baru tiba di Depok pada 10 malam. Jalanan macet Jakarta, satu hari sebelum Pemilu, membuat saya cepat-cepat merindukan Sumatra yang lengang. Kelelahan menghantam saya, dan saya harus bangun subuh nanti untuk sepak bola.

Juventus vs Ajax, leg kedua perempat final Liga Champions. Saya bangun jam 1.45 pagi dengan lelah yang masih tersisa. Lalu saya menikmati sepak bola yang mengecewakan. Sekali lagi Juventus menjauhi piala yang paling diidam-idamkannya. Cristiano Ronaldo gagal membawa sihirnya ke Torino tahun ini. Merda!

Saya pikir Juventus bisa juara tahun ini. Selalu seperti ini setiap musimnya. Dua tahun lalu, saya mematikan tv saat Real Madrid mencetak gol keempatnya di final tahun itu. Tahun lalu, di Dijkgraaf, saya patah hati melihat Juventus ditendang keluar secara paksa oleh kontroversi kartu merah Gianlugi Buffon.

Seharusnya saya bisa lebih ikhlas menerima realita pahit yang selalu datang tiap tahunnya. Setelah final 2017, saya sebenarnya telah melepaskan ambisi itu. Saya tak lagi bercita-cita melihat Juventus memenangi Liga Champions. Tapi, saya selalu jatuh ke lubang yang sama. Melepaskan itu tak selalu mudah.

***

Saya mematikan tv sebelum menit ke-90 dan melanjutkan tidur. Di pagi hari, saya bangun dengan badan yang masih capek. Pemilu sedang berlangsung dan saya tak berminat mencoblos. Tapi, siangnya, saya mengikuti proses quick count. Oh Prabowo Subianto yang malang, kenapa kau tak berhenti saja?

Kita tahu Prabowo cuma manusia biasa. Seperti saya, dan banyak orang lain, ia seringkali kesulitan melepaskan hal-hal yang bukan takdirnya.

Saya telah belajar menyadari bahwa Juventus memang bukan ditakdirkan untuk Liga Champions. Ada hal-hal yang tak bisa kita interupsi, entah oleh wasit atau Cristiano Ronaldo. Prabowo sebaiknya juga begitu. Kita mesti sama-sama belajar untuk melepaskan. Meski, pada akhirnya, itu takkan mudah.

Musim depan, mungkin saja, saya akan kembali berharap Juventus memenangi Liga Champions. Persis seperti seseorang yang tak pernah belajar dari kekecewaan. Lima tahun lagi, Prabowo mungkin akan kembali lagi ke mimbar debat capres. Dia mungkin kalah lagi, tapi tak masalah. Namanya juga manusia.

 

Wageningse Blues

Selalu ada masa-masa seperti ini. Saat Wageningen menjelma rindu yang pelik.

Saya bangun pagi dengan tik-tok jam yang sunyi, yang membuat saya mengingat hari-hari ketika pertama kali pulang ke rumah, setelah dua tahun yang gegas di utara. Jam itu, lalu bunyi dentingnya setiap menit ke-00, entah bagaimana, memberi saya nostalgi tentang Wageningen yang murung.

Lalu saya menyeduh kopi. Dan mengingat Vonnegut. Dan mengingat ibu-nya Agata. Dan mengingat Brno. Lalu perlahan Eropa menyusun ulang dirinya di benak saya dengan fragmen-fragmen yang tak beraturan. Padova di musim panas, Zwolle di kejenuhan tesis, dan bangunan-bangunan reot di Belgrade.

Saya naik ke atas, mencoba mencari arti dari sebuah hari. Lalu membuka laptop, masuk ke Facebook, dan menemukan foto-foto Nederrijn dari posting seorang kawan yang masih belajar di Wageningen. Tempat favorit saya di seantero kota (ngomong-ngomong, saya merinding ketika menulis ini).

Setelahnya, jalur-jalur sepeda di kota itu masuk ke kepala. Saya membayangkan diri duduk di sadel dan melewati manusia-manusia yang tak dikejar apa-apa. Hidup, pada akhirnya, adalah tentang berjalan melewati sore yang menua. Kita tak perlu tergesa-gesa, karena toh sunset akan tiba pada waktunya.

Sperziebonen

I have been back to Indonesia for some weeks when I suddenly missed cooking. In Wageningen, I always cooked for myself. But, here, in my home, kitchen is the territory of mom and grandma. Others can only enter as passers-by. I usually only cooked when both were away. Yet, that evening I felt the melancholic desire of preparing my own food.

(Or, perhaps, I just missed the north.)

I wanted to cook the recipe I ‘found’ in Holland. A messy mix of buncis/sperziebonen and tempeh. There was tempeh in refrigerator, but not the former. So, I had to go to Pasar Kemiri to buy some. Just five minutes away.

Buncis/sperziebonen is my favorite kind of veggie. I liked to mix it with many things: tempeh, tofu, tauge (bean sprouts), chicken, pork, egg, et cetera. In supermarkets in Wageningen, I always knew where the sperziebonen were. I also like to say that Dutch word: sperziebonen. I love the foreign feeling in spelling it.

When I arrived in Pasar Kemiri, I looked around. Sperziebonen were everywhere. There were many sellers and each seemed selling my favorite. “Buncis om,” I said to one seller, the closest from where I parked my motorcycle. I have that habit of calling strangers who sell something by om (uncle) or tante (aunt). Both words come from Dutch language. However, it will make no sense for Dutch to call strangers-sellers by familial call of om/tante. We absorb and make them ours. Unlike my sperziebonen.

“Berapa (how much)?” the seller asked. “Setengah (half),” I replied. I love this simple language of traditional markets. It is like possessing a secret language. My seller knew what I (and other buyers) meant by ‘half’. He started putting handful of buncis into the scale, making sure that the weight was half of kilogram. Slowly, he put my buncis in a plastic bag. All of those he did without saying a thing.

“Berapa (how much)?” I asked. “Delapan ribu (eight thousand),” he replied. I opened my wallet and gave him ten thousand rupiah. He gave me the change of two thousand. I thanked (“makasih om”) him and he thanked me back (“sama-sama”). The transaction was over in one blink of eye. Without Western-style formal greetings of “how are you”, “good evening”, or “good bye”. Without Dutch ‘tot ziens’.

I went back home and cooked my lekker sperziebonen.

Field notes day-xx

I read some articles today, mostly Ingold. I thought: this man is genius. I was wondered how many of his writings fit with my fieldwork. The discussion of sound, for instance. He said that sound is not the object of perception. Instead the perceiver perceives his environment in it (the sound). Sound is the medium for engagement, alike the light.

If he is right, how can I write about the sound of waves in this island? Before I was confused how to observe, or to ask people about their engagement with the sound of the waves. If I apply Ingold’s idea, then I don’t need to do so. Because, in this island, people are always in the sound of waves. Me, too. Practically, we cannot avoid the sound of waves when being-in-the-world of Mappadegat/Ebay. Before I thought there must be some meaning in the sound of waves. But I realized such view is a very Cartesian one, that sound of waves is a tabula rasa that must be filled with meaning which derived from our human mind.

Besides, to repeat, sound is not an object of perception, or even meaning-making process. Reading this also made me think more about meaning/perception. I started this thesis with the aim to know the meaning of waves. Now, I know I have to shift my thinking, because I think meaning is the product of human mind prior the actual engagement with environment. I should shift to perception. And, perception is derived from environmental engagement. Meaning is the product of interpretation of perception. But, as Ingold says, “sometimes we fail to interpret what we perceive”.

Then, I also read his article on painting/drawing and ethnography/anthropology. The former is a very cool philosophical one. He tried to make sense of life through the act of drawing (pen or pencil) and painting (oil painting tradition). Painting is about the compositionality and totality. Drawing is against both. Ingold recounts that there are two views on life. One is alike to painting, the other is alike to drawing.

Life as painting is about thinking/having/making composition. There is a blank surface which has to be filled. There is a frame as boundary. There is a final end, a product, a totality. On the other hand, life as drawing is against composition and totality. Life is always-in-process. There is no ending, only becoming. There is no boundary. The blank surface in the act of drawing is not meant to be filled with composition, but with any kind of marks. When we draw, we don’t think of the end. We are immersed in the actual act of it. In painting, we always imagine the outcome.

Ingold thinks that life-as-drawing is liberating. Because we are free to make mistake, we never think of the end, and there is no ‘frame’ of our action. This is a sort of carpe diem attitude, that life is always here and now. Always becoming. So, what matters is what happens in the middle, not the (imagination of) end per se.

On ethnography/anthropology. This one liberated me as well. There is too much over-use of ‘ethnographicness’ in anthropology and social sciences (ethnographic encounter, ethnographic fieldwork, etc.) His view on ethnography resonates his ideas of engagement with environment. Basically, fieldworker should be engaging, attending, and being attentive with environment (human and nonhuman) in the fieldwork area. He also criticizes the quest for result/data.

Then, come his discussion on ‘education’, ‘correspondence’, and ‘knowledge co-production/co-generation’. For him, anthropological fieldwork (participant-observation) should be the act of education, which means to ‘lead the learner out into the world’ rather than instilling knowledge in to the mind. By doing so, we will do correspondence. It is not about simple questioning and answering activities. It is about (co-)responding. Like letter writers do, they correspond. They write their feeling and thought and wait for the respond. Fieldwork should be like that, like correspondence, not merely question-answer rhetoric. We respond to whatever we encounter in fieldwork, the others (human, nonhuman, environment, society) will respond back. It keeps going on like that until we leave the field.

In correspondence, waiting is very important matter. Ingold argues that ‘waiting’ is necessary. Fieldworker has to be prepared to wait. “Waiting upon things is precisely what it means to attend to them,” he writes. So, prepare and wait and attend. It’s just like surfing. Then, the notion of correspondence relates to knowledge co-production. The knowledge derived from fieldwork is basically co-constituted not only by the fieldworker, but by engagement with environment (human, nonhuman, societal) in the fieldwork site. Reading this made me realize that this is not my fieldwork, this is our fieldwork. By ‘our’, I mean not only people, activities, conversation, feeling, interaction I attend during the fieldwork, but also theoretical discussion with friends and teachers in academic or non-academic settings.

Post-scriptum: I went through my research field notes once again a week ago. It was a kind of poetic-nostalgic to read it. It’s like going back again to Mentawai. This particular day notes, I think, are worthy to be shared here. Written on December 17th, 2017, in the beautiful Ebay settlement – surrounded by the sound of the waves.

Perenungan Digital

Angkot-angkot yang sepi penumpang di Jagakarsa membuat saya termangu. Apa yang telah diberikan ojek online dan bentuk-bentuk ‘revolusi digital’ lainnya? Sekadar disrupsi? Atau, total destruction?

Di kelas, saya menerangkan soal inovasi disruptif dengan elegi di kepala. Saya membayangkan apa yang hilang karena inovasi-inovasi itu. Di skena pejalan, misalnya, komunitas sudah tak banyak lagi. Apakah kita bergerak menjadi (semakin) lebih individualistik dan meninggalkan yang komunal?

Angkot, sebenarnya, memberi kita ruang (publik) untuk berinteraksi dengan warga masyarakat lain. Juga Miniarta yang kian lowong hari-hari ini. Saya selalu suka naik angkutan umum saat jalan-jalan, karena di sanalah sejumput sensasi tentang lokalitas bisa dirasakan. Di ojek online, semuanya cuma sekadar algoritma.

Entahlah. Hari-hari ini saya tiba-tiba saja banyak berpikir soal teori ini: bahwa revolusi digital, inovasi disruptif, atau hal-hal lain di sekitarnya telah membawa kita ke tatanan sosial baru yang lebih individualis. Kita mungkin bertaruh terlalu banyak dengan membiarkannya masuk terlalu dalam ke sendi-sendi kehidupan kita sehari-hari. Saya hanya takut tak ada jalan untuk pulang.

Saya tak tahu apakah paranoia semacam itu berlebihan. Teknologi digital dan berbagai turunannya membuat hidup kita kian (terasa) mudah. Kita cuma perlu duduk di teras dan makanan akan datang tepat di depan pagar. Dan, kita bisa berak sambil memesan tiket pesawat (voila!). Secara praktis, transaksi-transaksi itu memang membutuhkan orang lain. Namun, sebentar, adakah yang human-is di situ?

Entahlah, yang jelas mesin-mesin dan segenap algoritma ini terasa kian mengerikan. Rasanya ini bukan sekadar lagi disrupsi, tapi telah menjadi dominasi. Ia sudah menyetir epistemologi kita dan berusaha menutup ruang-ruang alternatif. Tapi itu cuma teori, kok. Semoga tidak.

Posted in ide

Aural

Suatu siang saya mengendarai motor di Depok, lalu melewati sepetak tanah lapang dimana orang-orang berkumpul, dan lagu Bojo Galak-nya Via Vallen didendangkan. Oh my god.

Seketika saya mengingat Wageningen. Di siang yang lain, di musim panas yang terik di utara, saya duduk-duduk di rumput antara Forum-Orion bersama berandalan mle-indo. Kami menyantap makan siang masing-masing. Setelahnya, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol ndak jelas. Lalu tiba-tiba, saya lupa bagaimana awalnya, lagu Via Vallen diputar di Spotify. Dan kami berdendang. Alamak.

Memori itu tersimpan dan ditengahi oleh suara mbak Via Vallen yang manis. Entah bagaimana caranya, tapi sejak itu, setiap mendengar lagu si biduan, saya selalu mengingat siang di Wageningen itu.

Lambat laun, saya menyadari bahwa pengalaman aural lah yang menjembatani saya-di-Depok dengan memori-memori saya tentang Wageningen. Kisah Via Vallen tadi cuma salah satu. Di lain waktu, saat mendengar azan maghrib dari masjid dekat rumah, saya teringat Sarajevo. Di situ saya pertama kali mendengar bunyi azan di Eropa, pada sebuah subuh setelah beberapa gelas Sarajevsko.

Yang paling sering terasa, sebenarnya, adalah suara knalpot yang terlampau bising. Kala suara itu muncul, saya langsung memejamkan mata, sambil menahan pening di kepala. Lalu, imajinasi saya terbang ke kota kecil yang tak berisik itu. Bising knalpot nyaris tak terdengar di Wageningen, tapi tidak-ada itulah yang justru membuat saya mengingatnya. Di titik ini, ada dan tidak-ada menjelma makna.

Suara dan bukan-suara. Itulah yang menjadi tali yang menghubungkan Jakarta dan Belanda, Depok dan Eropa, selatan dan utara. Setidaknya dalam kasus saya. Dengan itu pula, saya mengingat Ingold dan cendekia-cendekia lain yang banyak menggali soal pengalaman indrawi — yang di dalamnya termasuk pengalaman aural. Bunyi dan telinga menjadi medium yang menghubungkan kota-kota.

Tapi, entahlah. Seperti kata Christal, mungkin saya hiperbolik. Atau terlalu romantis. Atau terlalu banyak waktu luang sehingga sempat-sempatnya memikirkan dan menulis hal-hal seperti ini.

Yuk, dengerin Via Vallen dulu.

Ambivalen(si)

~sebuah catatan akhir tahun.

Ambivalen(si) mungkin kata favorit saya tahun ini. Sejak Siberut hingga berbulan-bulan setelah predikat MSc diberikan di Wageningen, kata itu senantiasa diam di kepala. Ia telah menjadi semacam paradigma. Seperti kacamata yang lewatnya saya belajar memahami hal-hal di dalam dan sekitar saya. Tentu saja saya berhutang pada orang dan ombak Mentawai.

Saya menjalani turlap akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 di Siberut. Penelitian itu untuk tesis saya. Dan salah satu temuan terpentingnya adalah ini: ambivalensi. Orang Mentawai berelasi dengan ombak dengan ambivalensi yang seringkali tak mudah dipahami. Saya membungkusnya lewat berbagai sub-bab.

Pertama adalah soal ombak bagus (maeru koat). Di Mentawai, ombak bagus bisa berarti tak banyak hal. Ia tak pernah tunggal, selalu ambivalen, dan seringkali kontradiktif. Ombak besar misalnya bagus buat surfing tapi tidak untuk memancing. Sebaliknya, ombak kecil bagus buat berpergian tapi tidak untuk aktivitas wisata selancar. Pada dasarnya, orang Mentawai selalu punya alasan untuk merayakan ombak (bagus).

Kedua adalah kontradiksi takut/menyenangkan. Ombak sejak dulu ditakuti orang-orang Mentawai. Ia bersinonim dengan badai dan kemalangan. Tapi, itu bukan narasi satu-satunya. Terlebih sejak kemunculan wisata selancar, orang-orang mulai belajar memahami ombak sebagai nonhuman agency yang menyenangkan. Ia asyik dan menakutkan secara bersamaan. Ambivalensi seperti ini akan sulit dipahami oleh Descartes.

Ketiga adalah apa yang saya konsepsikan sebagai avoidance/encounter. Artinya orang Mentawai menjalin hubungan dengan ombaknya lewat tegangan yang ambivalen untuk menemui/menghindari. Terlebih buat mereka yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau, ombak mau tak mau harus ditemui. Juga untuk mereka yang doyan surfing. Tapi dalam pertemuan itu, mereka juga tahu bahwa menghindari adalah sebuah keharusan.

Keempat adalah hubungan asosiatif yang ambivalen antara ombak dengan badai dan kepiting (aggau). Di Mentawai, musim ombak adalah musim badai sekaligus musim aggau. Dua hal itu mengandung kontradiksi. Jika badai dihindari dan ditakuti karena berpotensi menghadirkan kemalangan, aggau justru dicari-cari dan dinanti karena bermakna rejeki. Dalam tensi antara bahaya dan nikmat itulah orang Mentawai hidup dengan ombaknya.

Terakhir adalah soal keintiman. Walau dihantui kengerian akan ombak, orang Mentawai menjalin relasi yang intim dengan ombaknya. Intim tak melulu harus yang manis-manis, atau yang romantis-romantis. Keintiman seringkali adalah kedekatan yang ambivalen, yang kontradiktif, yang tak mudah dimengerti. Ia adalah sebuah keharusan untuk merespon kehidupan.

Ambivalensi-ambivalensi itu membantu saya memahami banyak hal lain di luar Siberut, universitas, maupun jurnal-jurnal ilmiah. Ternyata kita tak pernah luput dari yang ambivalen-ambivalen di kehidupan sehari-hari. Tengoklah. Renungkanlah. Hidup itu nyatanya tak pernah hitam atau putih, baik atau buruk, rajin atau malas, pintar atau bodoh. Selama ini, cara-cara berpikir yang dualistik itu telah memenjara kewarasan kita.

Oleh karena itu, di awal saya menyebut ambivalen(si) sebagai paradigma. Ia membantu kita berpikir, memahami, merasa, melihat, mendengar, atau mengecap di luar konstruk-konstruk Cartesian. Dualisme-dualisme telah menyatron kehidupan kita, telah meng-over simplify hidup menjadi label-label dan garis-garis yang tegas. Padalah, kehidupan tak pernah sekaku dan semembosankan itu. Ia cair, tak berbentuk, dan bergaris putus-putus.

Garis putus-putus itu yang menjadi inti hidup. Ia menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Kita bisa menjadi apa saja. Tak harus hitam, tak harus putih. Tak harus baik, tak harus buruk. Kita adalah keduanya, atau bukan sama sekali, atau campuran keduanya. Kita bisa baik dan jahat sekaligus, kita jenius dan bodoh sekaligus, kita bahagia dan sedih sekaligus. Sejak dulu begitu. Cuma kita lebih sering lupa akan kenyataan sederhana itu.

Maka, di penghujung tahun ini, saya ingin mengingat lagi soal itu. Saya ingin merekonsiliasi ontologi dan epistemologi kita yang selama ini disandera cara-cara berpikir Cartesian. Saya ingin merayakan hidup yang penuh ambivalensi ini. Bahwa hidup itu enak dan penuh onak secara bersamaan. Seperti orang Mentawai dan ombaknya, kita selalu punya alasan untuk merayakan kehidupan. Mari tertawa/menangis bersama-sama di bumi.

(Depok, 28 Desember 2018)

Siena

Bus antarkota yang saya tumpangi melaju kencang, melewati padang-padang Toscana yang manis. Bus stop La Colonna-Monteriggioni terlewat sudah, sedang saya lupa memencet bel tanda berhenti. Maka tubuh saya dibawa sampai ke halte Colle di Val d’Elsa, kira-kira 15 menit dari pemberhentian yang semestinya.

Tiket saya hangus. Cazzo. Dan saya harus membeli lagi di kios kecil dekat halte. Saya tak mau apes lagi. Hari sebelumnya, petugas bus menilang saya gara-gara saya lupa memvalidasi tiket yang sudah saya beli. Cazzo. Lebih dari 40 euro terkuras dari rekening bank. Karma mungkin benar eksis. Saya mengingat 9 hari di Torino tanpa membayar bus.

Jangan dicontoh. Secara umum, kota-kota Italia memberi kesempatan kita untuk ugal-ugalan. Klakson lebih sering terdengar daripada di Belanda. Makin ke selatan makin chaotic. Dan saya suka yang kacau-kacau. Membuat saya merindu Jakarta. Meski sedikit. Tapi lupakanlah soal tilang di Siena itu. Saya kapok tidak membayar bus.

Monteriggioni adalah semacam kota (atau mungkin desa) kecil di provinsi Siena. Saya tak tahu kenapa saya kesini. Malam sebelumnya, Raymundo mengajak saya keluar kota Siena dan berjalan-jalan ke kebun anggur di sana hingga ke San Gimignano yang konon adalah produsen wine terbaik di wilayah Toscana. Tapi saya ogah bangun pagi.

Maka, saya memulai pagi dengan rileks. Seperti biasa. Ketika saya bangun, cahaya matahari sudah merayap memasuki 2-bed dorm berbentuk tenda di campground Colleverde. Kira-kira macam glamping lah. Lengkap dengan kasur yang empuk, colokan listrik, wifi, lampu, dan sepasang meja-kursi di depan masing-masing tenda. Melenakan.

Nyamuk-nyamuk menghabisi sekujur tubuh. Saya sibuk menggaruk-garuk dan mengecek bagian mana yang memerah digigit nyamuk. Toscana di musim panas adalah padang bermain bagi nyamuk. Suhu yang hangat membuat mereka berkembang biak dengan rakus dan menjadi buas. Saya teringat malam penuh nyamuk di Firenze.

Lupakan nyamuk. Selesai mandi, saya naik bus ke kota. Saya mendapati petugas yang sama yang menilang saya kemarin. Cazzo. Kali ini saya punya tiket yang valid. Saya tersenyum pahit ketika dia memeriksa tiket saya. Di kota, turis-turis berjejalan. Mereka/kami membentuk simfoni yang ribut, gerak-gerik yang simbolik, dan foto-foto yang klise. Di depan Piazza del Campo, saya hanya termenung tanpa alasan.

Mungkin saya bosan. Maka saya teringat ajakan Raymundo. Kenapa tidak keluar kota? Saya ingin kabur dari gerombolan turis rupa warna ini. Maka, saya turun ke loket bus yang terletak di bawah tanah dekat terminal bus di tengah-tengah kota, dekat pula dengan Stadio Artemio Franchi. Saya membeli tiket pulang pergi ke Monteriggioni.

Di sana, satu-satunya yang saya lakukan pada dasarnya adalah berjalan kaki. Wilayah Toscana, termasuk Siena, memiliki banyak jalur camino. Awalnya, saya hendak menuju kastil yang entah apa namanya. Tapi saya malah tersesat di salah satu jalur camino yang mengasyikkan. Super sepi. Saya cuma sempat bertemu satu orang sepanjang jalan-jalan kaki santai di sana, kurang lebih tiga jam.

Tersesat mungkin cara terbaik untuk menikmati perjalanan. Lanskap yang luas, kadang ditambah pernik bunga warna-warni di beberapa sisinya. Kontur yang naik turun. Dan, yang utama, tak ada manusia. Siena, dengan turis-turisnya yang berjubel di pusat kota, terasa begitu jauh. Saya berjalan sendiri tanpa arah tanpa tujuan hingga ke kedalaman hutan, hingga saya mulai ketakutan dan memutuskan untuk kembali.

Di bus stop La Colonna-Monteriggioni, saya bertemu lagi dengan pria yang sempat saya temui di jalur camino tadi. Ia hendak menuju San Gimignano rupanya. Jalur kami bertolak belakang. Saya kembali ke Siena, dan bergegas secepatnya menuju campground untuk menonton laga perempatfinal Piala Dunia, Prancis vs Belgia. Oh pub akan segera penuh, pikir saya dalam hati.

Singkat cerita Prancis menang malam itu. Orang-orang Prancis yang singgah di campground itu berpesta pora. Orang-orang Belgia pulang ke caravan masing-masing dengan muka tertekuk. Saya kembali ke tenda bersama Raymundo dengan biasa-biasa saja. Kami cuma kelelahan dihantam siang yang terik, baik di San Gimignano maupun Monteriggioni.

Lalu, perlahan malam justru memanjang bagi saya. Ketika saya hendak tidur pulas, dan baru selesai menggosok gigi, Laurenz memanggil nama saya. “Sarani?” tanyanya ragu. Karena gelap saya mendekat dan mendapati dirinya sedang duduk memasak pasta, tepat di belakang tenda saya. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di sebuah hostel di Bologna.

Jadi, demikianlah. Saya duduk dan mengobrol dengan anak Jerman itu hingga berjam-jam lamanya. Kami menghabiskan anggur putih yang ia bawa entah dari mana. Ia bercerita tentang perjalanannya di Ancona dan Roma. Ia begitu menyukai wilayah Marche, di pantai timur sana. Dan Roma begitu penuh oleh manusia. “But still beautiful,” tukasnya.

Bla bla bla bertukar. Saya menguap beberapa kali. Botol wine sudah kosong. Dan akhirnya good bye diutarakan. Dia akan ke utara, sedang saya akan ke selatan. Kami berpisah di depan tenda dan saya menikmati tidur yang pulas malam itu. Akumulasi dari mini camino, matahari musim panas, dan sebotol wine putih yang ditenggak dua orang.