Ja-rak

Aku ingin menyublimkan jarak. Supaya kita bisa duduk mepet-mepet lagi. Seperti stadion yang penuh. Atau diskusi buku yang terlalu sesak, di kedai sempit bilangan Lebak Bulus. Atau bus-bus antarkota berbau keringat. Kita berbagi spasi yang tipis, seraya menyeberangi tembok kultural via dialog. Ketika droplet belum jadi kosakata sehari-hari.

2020 telah memberi kita aturan rigid tentang ‘jarak’. Yang fisik atau sosial (tidak) sama saja. Ia dipangkas habis oleh diktat-diktat WHO, juga telaah-telaah akademis di utara. Di selatan, atau di belahan dunia mana pun, kita kesulitan merangkai logika-logika ilmiah dengan tuntutan-tuntutan biologis. Tubuh-tubuh rindu dipeluk, rindu duduk-duduk bersinggung bahu.

Jika semua ini usai, kita perlu menggelar upacara untuk menguburkan jarak ajaib 1,5 meter itu. Dan kita kan merayakan the roaring 20s dengan berhimpitan di kereta menuju timur. Kita kan memadati konser-konser (dengan atau tanpa alkohol). Juga keintiman yang ugahari itu akan ditanam ulang, tanpa spasi yang membatasi kita berbagi droplet.

Ridwan Rais

Seekor kucing menyebrang. Lampu-lampu motor bersliweran, membuatnya linglung. 31 Desember dengan desing-desing motor. Tanpa pasar malam, tanpa huru-hara.

Di balik setir, menunggu nasi goreng Bang Kojol. Wajannya menyiratkan masa lalu. Juga suram lampu gerobaknya. Dan tenda-tenda berwarna krem usang. Radio mematikannya diri sendiri. Lampu-lampu motor tetap bersliweran. Orang-orang berjalan kaki, di bukan-trotoar.

Tak ada trotoar di Ridwan Rais. Di sini, jalanan punya teorinya sendiri soal urban planning, ruang publik, dan kota yang pecah oleh kendaraan. Tet-tet-tet, bunyi klakson.

15-20 menit yang asyik. Tok-tok-tok. Lamunan terhenti. Bang Kojol mengetuk jendela, menyodorkan plastik hitam kusam, dan 15 ribu perak berpindah ke tangannya.

Kucing itu sudah di seberang. Setelah motor-motor yang mengerem, memberinya jalan. Perlahan ia berjalan ke dalam Gang Turi. Entah kemana ia menuju. Stasiun?

Blok M

Tisu-tisu berloncatan ke bibirmu yang sayu. Adalah sebuah noda berbau tiramisu di meja kita. Di depan, entah-siapa cekrek-cekrek. Artis medsos dan omong kosong 4.0?

Blok M membuatku terbayang rak-rak pucat di basement. Buku-buku yang saling bertindihan, seperti membentuk gunung-gunung yang tak pernah didaki.

Maskermu mengendapkan karbondioksida. Hujan jatuh tik-tik-tik. Dan sepasang tua duduk romantik di dekat dapur. Mengebulkan asap yang kretek (atau bukan?).

Blok M… selalu semacam vakansi mini, di tengah dunia yang berteriak. Orang-orang gamang di sana memberiku liburan singkat dari rumah, komputer, pandemi.

Tumpul

Pensilku tumpul. Gagal diasah jalan-jalan yang lengang, dan kota-kota asing yang bicara tentang hal-hal yang subtil. Tanpa kelana, apakah aku?

Sedang, tugas-tugas kampus tertumpuk di meja. Pensilku tumpul. Dimakan kertas-kertas yang merayap. Juga tabel-tabel excel yang terlalu putih.

Lalu, 2020 menutup dirinya pelan-pelan. Seperti sebuah drama yang tragis, ia. Tirai dibungkus. Pensilku tumpul. Lupa caranya mengarang.

Wangi Hutan

Bau hutan bercampur dengan bau kaki-kakiku, yang berlari di jalan-jalan lengang di UI, pada sebuah akhir pekan yang biasa-biasa saja di musim pandemi.

Adalah sebuah rotunda yang familiar. Dekat sebuah menara air legendaris, yang berisi mitos-mitos urban tentang hantu, yang dulu mengisi haha-hihi kami di Takor.

Dari arah Balairung, ‘ku berbelok ke kiri, menyisir pinggir aspal yang agak basah. Lalu, tiba-tiba saja bau itu menguar dari balik pohon-pohon yang berbaris di kiri.

Seperti sebuah lagu lama yang begitu saja muncul di telinga.

***

Hujan turun konstan dari pagi hingga sore. Memberi kita konser tik-tik-tik, dengan iklim yang jatuh, dan sweater warna-warni dari Titisee yang akhirnya terpakai lagi.

Kursi goyang bergoyang di teras. Rintik memberi irama, juga sepotong angin dari utara. Di halaman, burung-burung berteduh di pohon-pohon yang ditanam ibuku.

Ibuku menanam hutan kecil di rumahnya, tempat burung-burung kini punya tempat untuk singgah. Cit-cit-cit, bunyi mereka suatu pagi, memberiku jeda dari buku.

Kenapa kita terus diajari menanam kebaikan? Atau menanam modal? Tapi, tak pernah diajari menanam pohon di halaman. Agar ia tumbuh menjadi rumah bagi yang lain.

***

Tanah basah. Baunya mengandung memori. Tapi entah apa. Seperti jamur yang menghiasi kursi kulit lancer bapakku. Jamur-jamur membuatku mengingat Tsing.

Bau dan ingatan. Bagaimana keduanya berbagi spasi di tubuh? Seperti aroma hutan UI, atau wangi hujan tropis, atau wangi oli dari sebuah bengkel di Padang.

Di teras, kursi bergoyang. Halaman-halaman terlewati. Dan bau itu masih di sana, seperti sebuah pertanyaan yang tak terjawab. Tanda tanya dengan tik-tik-tik bunyi hujan.

Buku membuatku bosan di sana. Dan wangi itu duduk di halaman, menjadi teka-teki yang menunggu diterka. Burung-burung masih berlompatan di pohon ibuku.

Turin

Hari ini, ketika matahari pukul 11 jatuh di pintu, dan masuk perlahan ke sela-sela mata, saya tiba-tiba mengingat Turin. Terutama pada sebuah pagi, ketika saya bergegas keluar hostel untuk menulis tesis di salah satu bangunan kampus Politecnico di Torino.

Sebuah tram membawa saya ke sana. Dan keramaian yang tak biasa muncul pagi itu. Rupanya itu hari wisuda. Orang-orang berlalu-lalang dengan jas dan gaun yang necis. Di sela-sela mereka, saya menerabas koridor-koridor untuk mencari perpustakaan atau sala studio.

Tapi, itu pagi yang sibuk. Mungkin terlalu sibuk. Saya pergi ke kampus utama Politecnico untuk sedikit mengganti suasana dari perpustakaan di Parco del Valentino. Saya masuk ke sebuah perpustakaan, tapi sepertinya tidak ada tempat yang asyik untuk menulis.

Selama beberapa menit, saya kebingungan di kota yang asing itu, dengan bahasa-bahasa yang tak saya mengerti, dan orang-orang yang riuh bicara tentang entah apa. Akhirnya saya memutuskan kembali ke halte, untuk mencari tram menuju Parco del Valentino.

Saya tiba di perpustakaan agak telat dari hari biasanya. Saya mengambil tempat duduk biasa dan mulai mengetik. Seperti biasa, saat jam makan siang, saya akan keluar dan pergi ke pizzeria yang tak jauh dari sana. Atau, jika ingin sedikit boros, akan pergi ke restoran cina.

Sebelum kembali ke perpustakaan, saya akan mampir di kedai dekat pizzeria untuk memesan espresso, kadang cappuccino, untuk memberi energi bagi siang yang menjelang. Jika sedang ingin berhemat, saya akan menebus kopi dari mesin kopi di kampus, dekat toilet.

Pagi ini, ketika matahari jam 11 masuk ke dalam rumah, detail-detail Turin seperti menguar begitu saja. Membuat saya rindu berjalan-jalan di gang-gangnya, di taman-taman kotanya, atau duduk santai di tram sambil menikmati mimpi masa kecil jadi nyata.

Di Pinggir Elbe

Ketika saya berkunjung ke Stade, tempat tante dan om saya, om sering membawa saya ke pinggir Elbe. Di sana, kami akan melihat sungai dari dermaga kecil. Jika beruntung, kapal-kapal raksasa lewat, dengan kontainer-kontainer sebesar rumah. Menuju Hamburg. Masuk dari Laut Utara.

Jika udara mendingin, kami akan masuk ke kafe kecil di pinggir Elbe itu, dan memesan bir apel atau bir apa pun. Stade adalah apel. Begitulah om-tante mengenalkan saya pada kota kecil itu. Di Eropa, mungkin itu kota kedua yang saya kenal dengan cukup baik setelah Wageningen.

Suatu waktu, di pinggir Elbe itu, saya dan tante berkendara ke sana. Hanya sekadar mencari angin. Musim sedang dingin kala itu. Kami hanya memarkir mobil, ia merokok, dan kami bicara tentang hal-hal yang di masa lalu dan depan. Setelah sepuntung atau dua, kami pulang.

Elbe tentu punya banyak pinggir. Tapi, pinggir yang satu itu terasa melankolis. Tak ada rumput atau pasir pantai. Hanya kapal-kapal jelek, yang kelelahan berlayar dari mungkin Rotterdam, menuju Hamburg, yang ketika langit sedang bersih, akan terlihat kerlip di timur.

Magic Bus

Bus ajaib itu dipindahkan dari Denali dengan helikopter. Seperti kabar dukacita yang ugahari.

Saya tumbuh melewati masa muda dengan imaji tentang Chris McCandless. Entah berapa catatan pendek dan panjang yang saya tulis soal Into the Wild dan McCandless.

Bapak saya punya buku versi Bahasa Indonesia-nya, yang saya lumat dengan nikmat. Beberapa tahun setelahnya, saya menemukan versi Bahasa Inggris-nya di toko buku impor di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, pada sebuah senja oranye yang membekas.

Saya lupa apakah saya baca buku itu dulu lalu nonton filmnya, atau sebaliknya. Tapi, saya ingat menikmati filmya dalam format VCD. Ketika kuliah, setiap kali akan berangkat jalan-jalan, saya akan sempatkan nonton film itu.

Entah sudah berapa kali saya menontonnya. Terakhir, saya menikmati film garapan Sean Penn itu sampai ketiduran di sebuah rumah di Breda, musim panas 2017. Saya masih menyimpan file digital film tahun 2007 itu di hard disk.

Saya tak tahu persis bagaimana saya bisa merasa terkait dengan kisah heroik/tragik McCandless. Mungkin karena Sean Penn piawai menyutradarai filmnya dan Jon Krakauer adalah jurnalis-penulis yang ulung?

Apa pun itu, saya seperti kenal McCandless dari dekat, dan memahami alasan-alasannya untuk pergi jauh dari masyarakatnya, dan tinggal di keliaran Alaska sendirian. Dengan pongah, ia bilang: “You don’t need human relationships to be happy, God has placed it all around us.”

Terlebih setelah membaca The Wild Truth, ditulis Carine McCandless, adiknya, kisah Chris terasa lebih utuh dari sebelumnya (meski saya turut menyadari segala bentuk komodifikasi lanjutan terhadap kesuksesan Into the Wild).

Saya meninggalkan buku itu pada sebuah rak di hostel di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, membayangkan pejalan lain mungkin akan melihat-lihat rak itu pada suatu nanti dan tertarik membacanya di perjalanannya sendiri.

Salah satu bagian penting dari cerita perjalanan McCandless adalah Bus 142 Fairbanks City Transit System. ‘Magic bus’, tulis Chris di catatan hariannya. (Menulis ini menyadarkan bahwa cara saya mencatat perjalanan dipengaruhi gaya mencatat Chris.)

Bus itu adalah semacam episenter dan penanda kisah McCandless. Setelah ia ditemukan mati, maka bus ajaib itu menjadi situs ziarah pengagum Chris.

Saya belum sempat berziarah ke sana, dan sebenarnya tak pernah berkeinginan secara serius. Tapi, ketika bus ajaib itu diangkut dengan helikopter dan dipindahkan ke tempat yang bukan tempat seharusnya, saya merasa tak ikhlas sedikit.

Seperti ada penanda yang dicerabut dari tanahnya, dari ceritanya, dan dari ingatan tentang sebuah pria yang tergolek mati di sana.

Post-scriptum: Ditulis 19 Juni 2020. Sebenarnya tulisan ini belum selesai ketika saya tinggalkan begitu saja, mungkin kehabisan mood nulis waktu itu. Saya biarkan apa adanya seperti ini, dalam keadaan hampir-selesai.

Perugia

Pagi yang terlalu pagi di Perugia. Saya tiba dari Siena, berhenti di Piazzale Umbria Jazz, lalu menumpang minimetro ke pusat kota.

Pagi yang terlalu pagi. Kota seperti sedang bersiap menyusun harinya sendiri. Gang-gang sempit di centro storico membuat saya tersasar sedikit. Mencari-cari hostel yang sempil di suatu sudut. Saya akan mengingat Perugia oleh gang-gangnya yang ajaib, yang membuat kita bertanya untuk apa jalan raya delapan jalur.

Terlalu pagi untuk check in. Maka saya duduk di dapur, memanaskan nasi biryani yang saya beli di Siena kemarin malam, sambil bercakap dengan satu-dua tamu yang menginap di sana. Sekadar hai-apa-kabar di pagi yang muda.

***

Perugia hari itu sedang bersiap untuk Umbria Jazz. Panggung-panggung yang sedang dibangun di dekat air mancur seperti menyiratkan bahwa sebuah pesta akan meledak di sana. Di luar sebuah gereja tua yang teduh. Dan, orang-orang seperti tengah bersiap untuk menikmati kota yang akan mabuk oleh jazz dan anggur.

Suasana festival tak bisa dielakkan di situ. Tapi, di saat yang sama, tak ada yang canggung. Haruskah sebuah pesta membuatmu tak biasa?

***

Saya menyingkir sejenak dari keriuhan pusat kota. Seperti di banyak kota Italia lain, saya mencari stadion. Perugia adalah AC Perugia. Renato Curi berdiri gagah di dekat Piazzale Umbria Jazz. Dan, seketika saya membayangkan Serse Cosmi, juga Materazzi, dan Ahn Jung-hwan yang malang. Memori-memori Liga Italia tempo dulu, yang berjejalan di kepala saya, seperti besi-besi yang menyusun rel panjang ke utara.

Setelah museum, saya mengelilingi Renato Curi satu kali. Sesekali mengintip ke dalam, mencoba mengais visual tentang bangku-bangku yang kosong, juga lapangan yang tak terurus di musim yang telah berakhir (dan urung dimulai). Tak ada siapa-siapa di sana. Saya hanya sendiri menikmati nostalgia masa kecil.

***

Piala Dunia 2018 memasuki babak akhir. Namun, televisi di hostel urung menyala, maka saya mesti mencari bar untuk nonton bareng. Layar-layar besar dipasang di kota, tapi eksklusif bagi tiap-tiap bar/restoran. Saya duduk di salah satunya, beratap langit, bersama riuh-rendah turis-turis lain yang siap melumat sepak bola.

Di dekat saya, dua orang gadis tampak tegang, dengan jersey kotak-kotak merah putih Kroasia. Keduanya tak terlalu banyak bicara. Mungkin karena turis-turis Inggris itu lebih berisik: beteriak, mengumpat, dan mungkin menangis. Di ujung malam, dua gadis Kroasia itu berdiri dan saling bersulang. Final, kata mereka.

Saya berjalan agak gontai menuju hostel, sambil mengingat bapak saya yang menggandrungi Kroasia di ’98. Davor Suker, dkk.

***

Umbria Jazz memberi alasan saya untuk memperpanjang durasi di Perugia. Saya mesti pindah hostel, kira-kira tiga-empat menit jalan kaki dari hostel pertama. Hostel kedua ini agak antik, dengan dapurnya yang lebar.

Di dapur itu saya mengobrol sekenanya dengan seorang Kiwi. “Saya hampir kuliah di Otago,” saya memulai bahasan. “Oh Otago, kota yang keren. Banyak pemabuk yang mengesankan disana,” kira-kira begitu jawabnya.

Juga, seorang pengelana klasik, yang konon pernah menyambangi Kalimantan dan Sulawesi. Hostel, pada akhirnya, adalah tempat dimana cerita-cerita berkelindan dengan fantasi, dan kita tak perlu tahu apa beda keduanya.

Hari itu adalah jazz. Saya berpindah-pindah panggung. Menikmati sore dengan suara sendu seorang gadis. Ia melantunkan jazz dengan melankoli yang sulit diutarakan, yang tanpa mengerti bahasa Italia pun kita bisa menangis karenanya.

***

Saya kembali ke hostel hampir tengah malam. Orang-orang masih berpesta-pora di pusat kota. Malam masih panjang bagi mereka.

Tapi saya mesti kembali, dan beristirahat barang sedikit. Esok hari saya akan turun lagi ke selatan, menumpang Blablacar seorang Neapolitan. Umbria, dengan bukit-bukitnya yang syahdu dan jazznya yang mabuk, telah berakhir.