Bari

Saya tiba di Bari, pada suatu sore musim panas yang cerah. Saya tiba dari Napoli, menumpang bus yang melewati lembah-lembah indah Basilicata. Beberapa hari setelahnya, di Wageningen, saya bilang ke Simone, asal Mestre: “if I were you, if I am able to speak Italian, I would stop in Basilicata.” Sayangnya tidak. Maka saya menuju Bari saja, kota nan sibuk di semenanjung Puglia.

Pertama kali saya kenal Bari lewat sepakbola. AS Bari, Cassano, San Nicola, dan detil-detil lain. Cassano sudah lama bermasalah dan redup sinarnya. Ia tak punya klub hari ini. Sedangkan, AS Bari tak ada lagi sejak 2014. Bangkrut. Penggantinya, FC Bari pun bangkrut tahun ini. Mulai musim ini, yang ada SSC Bari. Mereka diusir dari Serie B dan diharuskan memulai ulang segalanya di Serie D.

Toh, saya datang ke Bari bukan untuk sepakbola. Untuk pulang. Pesawat akan membawa saya terbang dari Bari menuju Maastricht. Setelah berpekan-pekan dipanggang musim panas Italia, saya ingin kembali ke utara. Bari adalah akhir kembara.

***

“Selamat datang,” ucap seorang perempuan paruh baya, ketika saya tiba di hostel di Corso Luigi di Savoia dan menunjukkan paspor saya. Saya kaget. Ia penduduk asli Bari, tapi lama tinggal di Middelburg, Belanda. Lalu, saya bilang bahwa saya kuliah di Wageningen. “Spreek je Nederlands?” tanyanya. Dia sempat pacaran dengan pria berdarah Indonesia. Lalu kami bicara soal rendang dan sambal.

Setelah itu, saya keluar hostel. Lapar. Maka, saya berakhir di restoran kebab dekat Universitas Aldo Moro. Satu keluarga India duduk di meja di depan saya. Dan saya menyantap nasi briyani. Segalanya terasa familiar, tapi juga tidak. Saya pergi dengan perut yang senang, dan berjalan-jalan sore tanpa arah.

Lama saya terduduk di taman depan universitas. Dan saya melumat senja yang sederhana di sana. Di tengah orang-orang biasa di hari yang biasa-biasa saja. Di kota yang biasa saja. Setelah Bologna, Firenze, dan Assisi, saya lelah dengan omong kosong manis ala Italia. Mungkin karena itu saya menyukai Bari. Karena ia tampak normal. “Bari doesn’t pretend, or try to be beautiful like other cities,” ucap saya pada Monica, beberapa pekan kemudian, sambil duduk di rumput Rijnveste.

Juga di Bari, menjadi coklat adalah normal. Bari adalah kota pelabuhan, jadi ia terbiasa dengan orang asing. Ferry dari/menuju Albania banyak di dermaga Bari. Beberapa juga terhubung dengan Kroasia. Di sepanjang jalan, orang India, Bangladesh, Arab, atau Afrika mudah ditemui. Dan orang-orang kulit putih juga tak canggung. Tak ada ketegangan di antara warna-warna kulit yang tak sama di sana.

***

Esoknya hari mendung. Saya terjebak di antara perasaan senang dan sedih, bersyukur dan sebal. Setelah hari-hari terik, langit abu-abu terasa menyenangkan. Tapi, Bari ada di pesisir. Jadi, harusnya menyenangkan pula bila merebahkan diri di pasir pantai, di bawah terik matari musim panas. Tapi tidak hari itu. Maka saya berjalan-jalan gontai sekenanya di centro storico, kota lama. Membuang waktu.

Stadio San Nicola terlalu jauh. “Dan sulit kesana,” kata gadis di belakang meja tourist information. Tapi tak sulit untuk menghabiskan waktu di kota normal seperti Bari. Kita hanya perlu berlagak menjadi orang biasa, berjalan-jalan di pedestrian, atau duduk di bangku kayu yang menghadap laut Adriatik. Lalu memesan espresso di siang hari, atau bir di sore hari, atau sepotong pizza di sela-sela keduanya.

Atau jogging di sepanjang garis pantai. Seperti yang saya lakukan sore itu. Saya mengajak teman satu dorm di hostel, cewek Australia yang manis. Tapi ia kelelahan. Ia baru tiba menyebrang dari Dubrovnik. Dia memilih yoga. Maka saya menguras keringat, menikmati Bari dari perspektif yang lain, dari kaki-kaki yang berlari, sambil melewati lalu-lalang manusia di senja yang menua.

Advertisements

post-wageningen’s first poem yeah!

In the night commuter train
I red Meki’s WE ARE NOWHERE AND IT’S WOW
It made me forgettin ‘bout headsets
Oh how human-sound relation is reinvented
By stupid/smart technologies

In between poems
Imaginaries of Wageningen came
Like a melancholia from the past
De Kater and Nederrijn
And the girls I met in the park

In the way to parking lot
I remembered Djuran
And our wishy-washy convo in Grand Café
“I do things slowly now. I learned it from you.”
Was it a compliment?

In the streets heading home
Meghann’s email appeared up front
Within a form of yellowed silhouette
She demanded my stories of settling back in
: Moile moile

In the lights of laptop screen
I see Christal smiling sadly
She’s getting period and jaded
Djakarta lyfe
Why don’t we escape, darlin?

(6-11-2018)

can i borrow your melancholia?

​I will borrow your melancholia as fuel for my own. So I can cry in the middle of the road. Between Stade and Rotterdam, I gazed at the window and looked for your whisper. But you’re not there to be heard or looked at. Instead I found my own reflection and imagination of days forgotten.

Distances are getting longer here. With despair, everything gets harder. Even in the sunny day such as today. This is one of my Eurorepan days where I beg for rain to fall. So I can please my melancholic desire. So I can join you in the club of sadness. But I keep thinking o​​f seas and skies in Siberut.

Perhaps I will come back with nothing, for nothing. It is like I am missing something. Not a reason to live, but a reason to laugh. Smiles are temporary and mechanical. While headache comes constantly like little rains in Dutch autumn. Should I bring you dead flowers from dead joys of mine?

I miss beers more than anything now. My feeling is floating nowhere. I would like to wander more in the forest of uncertainties. So I am certain that I am uncertain. Life is paradoxical and full of ambivalences. I have always been trying to celebrate it. But now I am lost in my own wild thoughts.

(Flixbus HH-Rott, 13.09.18)

mimpi-mimpi

“Every movement needs to pause at times.” (Paulo Coelho)

Bunga-bunga tidur
berserakan di halaman
mereka seperti fragmen-fragmen
yang tak beraturan
tapi menyiratkan pesan
atau mungkin tidak

Di atas kasur
air mata dan air mani bercampur
dalam cangkir suci perjamuan
kita menangis
kita bercinta
kita merayakan hidup
yang sementara ini

Mabuklah!

(Stade, 4 September 2018)

Isar

​In Isar. A tiny curly-haired girl is drawing in front of me in her tiny drawing book. She brought a set of animal dools. They are tiny like her. They are cute like her. She suddenly reminds me of my sister. The curly-haired girls always fascinate me, either little or bigger girls.

Near the banks, a woman puts on her bra. Before, she was naked on top. She has​​ nice solid breasts. Now she is lying on the water, looking at nowhere but the streams of water. The weather is lovely. Summer is almost over, so we must grasp it while it lasts.

Next to me, on the left, an old man has been reading a newspaper for almost an hour. He is sitting in portable chair. He seems swallowing every words in paper very carefully. Perhaps he reads about the place he has never been to. Or maybe about the city he was grown up in.

And here I am. Sitting in Isar, pondering about random stuffs. On overtouristic places. On traffic jam in Jakarta. I am thinking how modernity may have created us crowd-phobia. That we always expect our neighbors, either fellow car drivers or tourists, are not exist.

(Munchen, 19-08-2018)

Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.

Post-thesis raving

So, I have given you unnecessary rhetoric of having and not-having. The kisses were melted down and we were/are/will be split by oceans. It is always a mistake to (not) talk. I fall in love with words but they scare me. In such ambivalence of loving/avoiding, I try to position myself in the chaotic (un)desire to say things. I have many bad habits. Two of them are: talking with too brutal honesty, sometimes too gross; and not talking at all, leaving things unsaid. At the end of the day, I am not sure anymore whether they are bad or not. Parcels of life.

I have offered you fantasies and dreams. They were/are too often melancholic. I love sad things; I have said this, no? They are more real and I borrow realism as my own escapism from the world where the real meaning of ‘virtual’ is lost. I am hiding in the parties and celebrations, but I will be in front of the coffins. Death is beautiful and sacred; that’s what we believe in highlands of Toraja. So, I will only drink for glorious despair of life. I will leave all the nice things to others who can make sense more of wild laughter, crazy smiles, and stupid screams.

I have left you smiles, anyway, and dummy wisdoms from the South/North/West/East. When I talk things, most of them are in between too good and too bad. I have been trying to avoid adjectives. That is my newest (ontological) revolution. That is my everyday resistance (along with consumerism, of course). But, I speak up, you know? I like silence and uninterrupted serenity. Yet, I realize that I like them because I try to find words there. So, I can make beautiful sentences from my inner being; from the place where poetic tales/thoughts grow wildly.

(Wageningen, 13 Agustus 2018)

Gaia

Ini cerita kecil tentang meja dan lift, di Gaia.

Di pojok barat, lantai tiga, saya terbiasa mengerjakan tesis mini disana. Di luar ruangan, ada coffee machine tempat saya biasa membuang uang untuk cappuccino, untuk memberi alasan yang (tidak) logis untuk terus bekerja, berada di depan komputer berjam-jam untuk entah-apa. Di luar ruangan, juga ada seperangkat meja dan kursi. Mereka ada di tengah-tengah antara dua sayap (wing A dan B). Mereka ada di-antara.

Suatu waktu, saya bosan di dalam ruangan, lalu keluar untuk mengusir suntuk. Lama saya mengamati meja dan kursi di tengah-tengah kedua sayap itu. Yang saya bayangkan ketika melihat meja-kursi itu adalah negeri di selatan sana. “Jika ini di Indonesia, pasti meja dan kursi itu takkan pernah berhenti diisi. Apalagi kalau di Mentawai,” pikir saya saat itu. Sementara, tidak di sini. Meja-kursi itu lebih sering kosong dan kesepian. Orang-orang lebih suka berada di ruang kecil masing-masing dan mengerjakan omong kosong masing-masing.

Oleh karena mengamati meja-kursi itulah, entah bagaimana caranya, saya sepenuhnya menyadari bahwa kita di selatan, di Indonesia, hidup dengan komunalisme yang begitu natural. Kita tak perlu diajari untuk berkumpul, kita pasti akan kumpul. “Makan nggak makan yang penting kumpul,” kira-kira begitu adagium populernya. Kita bernafas, tumbuh, belajar, hidup, dan bercita-cita sebagai komunal. Bukan individual. Semua ada dan dirumuskan di yang komunal itu. Mungkin itulah kenapa barat terasa begitu asing.

Tentu saja, ada kolonialisme, lalu poskolonialisme, lalu neokolonialisme. Barat menyetir cara berpikir kita, dan menggeser komunal dengan individual. Kita diajari untuk berdiri sendiri, menjadi ubermensch ala Nietzsche atau manusia merdeka ala filsafat-filsafat eksistensialis Prancis. Yang dihitung adalah yang tunggal, yang individual. Kelompok disulap cuma jadi statistik untuk kepentingan marketing. Eropa memberi kita diktat tebal tentang individualisme dan tetek-bengek lain yang akan menjadi konsekuensi organik darinya.

Jadi, saya rasa, kita terjebak pada ketegangan itu, pada ambivalensi antara individual dan komunal. Pada suatu tesis, seseorang menulis demikian di kata pengantar: “I write this text in a modern/colonial/scientific/egoistic I” bla bla. Sedang, lewat kasus-kasus orientalisme, saya menduga (European/Western) Self adalah akar masalah. Atau bukan. Masalah sebenarnya adalah kita menelan mentah-mentah konsep Self itu, dan menciptakan translasi yang terlalu dipaksakan di selatan. It should be selves (yes, without capital S) in the south.

Lalu, meminjam pikiran-pikiran decolonial, saya rasa kita harus sepenuhnya kembali ke we. Tak ada yang salah dengan menjadi dan berpikir sebagai komunal. Tak ada yang keliru apabila keputusan-keputusan kita disusun, tanpa sadar, secara komunal; dengan mempertimbangkan tubuh-tubuh lain di luar tubuh kita, yang tak hanya terkait, tapi secara inheren tak terpisahkan. Secara alamiah, itu semua memang realitas sehari-hari di selatan sana. Sebenarnya, tulisan ini cuma untuk mengingatkan diri sendiri, terlebih jelang pulang.

***

Setelah meja adalah lift. Gaia terdiri dari 4 lantai, termasuk lantai dasar. Jadi lift cukup sentral. Secara literal, ia ada di tengah-tengah. Seperti menjadi semacam episentrum dari kegaduhan akademik di seisi gedung. Ada dua lift dan mereka saling berhadapan. Yang satu lebih besar dari yang lain. Saya lebih suka yang kecil, tapi entah kenapa saya selalu menekan tombol keduanya saat ingin naik-turun lift. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Itu yang saya pikirkan, pada suatu sore saat pulang ke rumah. Seperti cerita meja, ini juga kisah yang absurd. Saya tak tahu menahu darimana datangnya. Kenapa saya tak menekan tombol lift kecil saja, lalu menunggu. Di Dijkgraaf, tempat tinggal saya, saya juga kadang suka menekan tombol ketiga lift yang ada di lantai dasar. Padahal, lift yang tiba tepat di lantai 15, dimana kamar saya berada, cuma satu. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Seperti yang sudah saya tulis di kesempatan lain, saya rasa generasi kita/saya punya masalah filosofis terhadap waktu. Kita dibesarkan oleh yang instan-instan. Kita tumbuh dengan sms dan whatsapp, bukan surat. Jadi, kita tak terbiasa menunggu. Kita tak boleh diam di depan lift yang satu dan harus mencari cara agar secepatnya bisa naik atau turun. Kita akan mengambil yang pertama tiba. Lebih cepat lebih baik, seperti kata Pak Wapres.

(non)paralel

I. Porto

Februari 2017. Porto, pada suatu hari musim dingin yang cerah. Saya mengikuti free walking tour. Grup kami kecil, tak lebih dari 10 orang. Dari patung seorang ksatria di atas kuda, kami berjalan kaki melintasi gang-gang Porto yang manis. Lalu, selesai. Setelah itu, saya dan seorang Amerika makan siang bersama. Kami melahap Francesinha, lalu menenggak Super Bock. Dan obrolan bergulir di atas meja.

Ia dari California. Tapi, beberapa tahun ke belakang tinggal dan mengajar di Madrid. Amerika melelahkan, katanya. Orang-orang dengan kehidupan seperti robot, katanya. Cuma uang yang di kepala. Spanyol, dan gaya hidupnya yang rileks, memikatnya. Siesta adalah simbolisme untuk itu. Tapi juga hal-hal lain, seperti minum bir pada jam 10 pagi. Kita bisa melihat betapa santainya orang Spanyol menjalani hidup.

Lalu, pada satu momen, ia memberi saya pertanyaan yang mengejutkan. Apa hal yang paling berharga buat kamu? Ini pertama kalinya saya diberi pertanyaan ini. Dan, yang lebih mengejutkan, saya menjawabnya dengan spontan dan lekas. Keluarga. Kata itu keluar begitu saja, tanpa proses translasi dari pikiran ke mulut. Ia seperti sudah lama berdiam di mulut dan menunggu untuk keluar sebagai ucapan.

II. Firenze

Juli 2018. Pagi yang sumuk di Toscana. Saya memulainya dengan malas, dengan membeli pisang di kios kecil dekat hostel. Pemiliknya sepasang kakek nenek yang ramah. Saya bertukar bahasa Italia yang patah-patah dengan mereka. Lalu, saya menyantapnya di dapur hostel, sambil menunggu kopi mendingin sedikit. Dan, seorang gadis Meksiko masuk ke dapur. “Here can we drink from tap water?” tanyanya.

Kemudian ia duduk di depan saya. Kita mengobrol. Ia tinggal di Dublin selama satu semester, untuk belajar dan memperlancar bahasa Inggris. Sialnya, lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi orang Brasil. Alih-alih lancar bahasa Inggris, sekarang ia bisa sedikit bahasa Portugis. Hidup kadang menarik. Hal-hal seperti inilah yang, saya duga, menyelamatkan kita dari keharusan bernama bunuh diri.

Pertanyaan itu tiba juga. Kamu mau pulang setelah lulus? Iya dong, jawab saya. I don’t see myself living in Europe, lanjut saya. Tentu saja Eropa menarik, tapi bukan untuk jangka panjang. ‘Dutch salary’ tak cukup menggiurkan. Sejak dulu saya percaya ada hal-hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Tapi saya tak bisa menjelaskan kenapa saya selalu ingin pulang. Saya rasa karena ‘rumah’ dalam artian yang filosofis.

Lalu, saya tanya gadis Meksiko itu dengan pertanyaan yang sama. Yes I also want to go back to Mexico, jawabnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang dari selatan ingin tinggal di utara. Katanya: saya cuma mau tinggal dekat dengan orang-orang yang saya cintai (‘loved ones’), dengan keluarga. Seketika itu saya mengingat Porto. Ada semacam garis imajiner yang menghubungkan dua peristiwa ini.

III. Leiden

Agustus 2018. Joshua membuka dialog di dalam kereta. Gue selalu bingung dan kesal setiap ditanya ‘do you want to go back to your country?’ Buatnya, pertanyaan itu sama sekali tak relevan. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas berarti bukan pertanyaan. Tentu saja ia ingin pulang. Paling lama 2020, katanya. Belanda terlalu menjemukan: keju, roti, musim dingin, angin. Kenya adalah rumah. Di situ persoalan tuntas.

Saya balas bahwa saya juga sering dapat pertanyaan yang sama saat jalan-jalan. Saya juga bingung kenapa selalu dapat pertanyaan semacam itu. Mungkin, di tengah isu pengungsi yang masih hangat di Eropa, orang-orang melihat pendidikan sebagai jalan menuju migrasi. Sekolah hanya kedok untuk mencari kehidupan yang lebih ‘layak’ (meh!) di utara. Di sini, kekerasan epistemik sedang terjadi.

Orang kerap lupa bahwa hidup itu plural, mengandung warna-warni pengetahuan. Lalu saya cerita ke Joshua tentang peristiwa di Firenze. Mungkin kita bisa punya banyak duit dan karir bagus di Belanda, tapi apa gunanya jauh dari keluarga. Kata-kata saya meniru si gadis Meksiko. Yang berharga di utara dan selatan belum tentu sama. Dan kita harusnya tahu itu sebelum ditelan eurosentrisme. Exactly, tandasnya.