Sore

Seseorang berdiri setengah telanjang. Dadanya lepas. Berkilau seperti logam. Di dadanya, napas-napas teratur bergerak, memompa senyawa keluar-masuk, seperti mesin yang berderap. Lirih, tanpa seruan. Sinar matahari sedang jatuh, ketika ia keluar dari pintu, menatap udara yang oranye di sekitarnya. Cahaya bertubrukan. Bam! Oranye di udara dan logam di dada.

Dada itu naik-turun, seperti ingin mengambil jeda dari kehidupan yang berisik di kanan-kirinya. Kota berakhir di sana: sebuah pemakaman untuk hidup yang nonsens. Ditelannya pelan-pelan udara yang berkelabatan di sekitar tubuhnya. Ia menghirup. Ia membagi. Semuanya adalah ritme. Dimanakah napas bermula? Dan kemanakah ia bermuara?

Matanya lurus, menatap entah apa. Bayang-bayang pepohonan jatuh di retinanya yang kusam. Ia mencerna bunyi dari sinar yang mengelilingi. Ia mendekap cahaya dari suara yang memenuhi gendang telinganya: anak-anak anjing yang menyalak, ayam yang berkukuruyuk kala sore menjelang, dan desing motor yang terdengar sayup di utara jalan.

Ia terduduk, di ubin yang merah bukan-darah, di teras yang berdebu, setelah kemarau ganas menghantam desa-desa di barat. Hujan tak kunjung derap di sini. Air membuat kita bersendu. Udara kelewat garang, membuat sesak, membikin pengap. Dada-dada terbuka. Seperti logam mereka bercahaya. Memompa napas keluar-masuk. Pelan-pelan.

***

Di ujung setapak, aku mendaratkan pandang di jendela. Kacanya yang setengah gelap menangkap seseorang bertelanjang dada. Keluar rumah dengan senyum yang tanggal. Udara memekik hidungnya, menunda napasnya. Keringat mengucur dari kerongkongan. Perut tembaga. Mata tembaga, berbayang sore. Matahari tenggelam di sana. Sebuah hari berakhir.

Ambulans

Sirene ambulans yang meraung terus-menerus di Sekip membuat saya mengingat Bari, musim panas 2018. “Kota 1001 ambulans,” saya mencatat. Di hostel, kerap saya bertanya (entah kepada diri sendiri atau orang lain) tentang betapa seringnya ambulans melintas di Bari.

Hari-hari ini, ngiung-ngiung ambulans telah jadi terlalu familiar.

Apakah ia terdengar mengerikan? Di Bergamo, pada puncak pandemi, ambulans bahkan berhenti menggunakan sirene. Mungkin untuk menjaga psikis warga yang babak-belur dihajar pandemi—dan bunyi. Apakah kita takut bunyi? Atau makna yang menempelinya?

Di kantor, saat sirene ambulans menguar di udara, saya akan diam sejenak. Mungkin untuk merapal doa, tapi seringnya tidak. Saya hanya mengambil jeda dari riuh rutinitas yang kian terasa nonsens di hadapan maut yang menganga. Bunyi sirene ambulans jadi penanda.

Hari-hari ini, melihat ambulans di jalan kian terasa biasa. Ia kadung jadi sehari-hari. Kita makin terbiasa hidup bersamanya di jalanan: lajunya yang cepat mendesak, bunyi sirenenya yang meraung, dan warnanya yang putih, seringkali pucat, seperti lelah mengantar pasien.

Sirene ambulans di Sekip membuat saya mengingat Bari. “Bagaimana mungkin orang bisa hidup dengan bunyi sirene ambulans yang terus-menerus seperti ini?” pikir saya kala itu.

Oldenburg

Di Oldenburg, bus kerap berhenti. Dan aku akan menatap ke luar jendela, atau ke pintu yang terbuka, melihat lalu-lalang orang yang masuk dan keluar. Seperti komidi putar.

Oldenburg sebuah halte di tengah perjalanan. Di antara Groningen-Hamburg, Oldenburg jadi pertanda. Biasanya aku ‘kan terbangun di sana, dari lelap yang meruap di dalam bus.

Jelang Natal, aku mengingat sebuah rute yang memanjang. Bus disetop di perbatasan. Ganja-ganja diperiksa, orang-orang diinterogasi. Satu-dua jam di sana, menunggu laju dilanjutkan, pada gigil musim yang dingin. Sedang, kehangatan rumah di Stade menghantuiku. Tapi, siapa kita di hadapan hukum yang agung? Entah bagaimana nasib daun-daun herbal itu. Apakah dia tertahan di perbatasan atau berlanjut ke HH?

Di rute itu, Oldenburg muncul di jendela setelah gelap, sore musim dingin yang kelam. Orang-orang tua tampak tak sabaran, menunggu anaknya turun dari bus. Semacam mudik ala utara?

Di Oldenburg, kita hanya berhenti sementara. Mengantar orang-orang yang merantau di seberang, membawa pulang mereka yang rindu rumah. Hanya aku di balik jendela, sesekali menguap di Oldenburg, tak sabar menanti mesin dinyalakan lagi, dan roda bergerak ke timur.

Ja-rak

Aku ingin menyublimkan jarak. Supaya kita bisa duduk mepet-mepet lagi. Seperti stadion yang penuh. Atau diskusi buku yang terlalu sesak, di kedai sempit bilangan Lebak Bulus. Atau bus-bus antarkota berbau keringat. Kita berbagi spasi yang tipis, seraya menyeberangi tembok kultural via dialog. Ketika droplet belum jadi kosakata sehari-hari.

2020 telah memberi kita aturan rigid tentang ‘jarak’. Yang fisik atau sosial (tidak) sama saja. Ia dipangkas habis oleh diktat-diktat WHO, juga telaah-telaah akademis di utara. Di selatan, atau di belahan dunia mana pun, kita kesulitan merangkai logika-logika ilmiah dengan tuntutan-tuntutan biologis. Tubuh-tubuh rindu dipeluk, rindu duduk-duduk bersinggung bahu.

Jika semua ini usai, kita perlu menggelar upacara untuk menguburkan jarak ajaib 1,5 meter itu. Dan kita kan merayakan the roaring 20s dengan berhimpitan di kereta menuju timur. Kita kan memadati konser-konser (dengan atau tanpa alkohol). Juga keintiman yang ugahari itu akan ditanam ulang, tanpa spasi yang membatasi kita berbagi droplet.

Ridwan Rais

Seekor kucing menyebrang. Lampu-lampu motor bersliweran, membuatnya linglung. 31 Desember dengan desing-desing motor. Tanpa pasar malam, tanpa huru-hara.

Di balik setir, menunggu nasi goreng Bang Kojol. Wajannya menyiratkan masa lalu. Juga suram lampu gerobaknya. Dan tenda-tenda berwarna krem usang. Radio mematikannya diri sendiri. Lampu-lampu motor tetap bersliweran. Orang-orang berjalan kaki, di bukan-trotoar.

Tak ada trotoar di Ridwan Rais. Di sini, jalanan punya teorinya sendiri soal urban planning, ruang publik, dan kota yang pecah oleh kendaraan. Tet-tet-tet, bunyi klakson.

15-20 menit yang asyik. Tok-tok-tok. Lamunan terhenti. Bang Kojol mengetuk jendela, menyodorkan plastik hitam kusam, dan 15 ribu perak berpindah ke tangannya.

Kucing itu sudah di seberang. Setelah motor-motor yang mengerem, memberinya jalan. Perlahan ia berjalan ke dalam Gang Turi. Entah kemana ia menuju. Stasiun?

Blok M

Tisu-tisu berloncatan ke bibirmu yang sayu. Adalah sebuah noda berbau tiramisu di meja kita. Di depan, entah-siapa cekrek-cekrek. Artis medsos dan omong kosong 4.0?

Blok M membuatku terbayang rak-rak pucat di basement. Buku-buku yang saling bertindihan, seperti membentuk gunung-gunung yang tak pernah didaki.

Maskermu mengendapkan karbondioksida. Hujan jatuh tik-tik-tik. Dan sepasang tua duduk romantik di dekat dapur. Mengebulkan asap yang kretek (atau bukan?).

Blok M… selalu semacam vakansi mini, di tengah dunia yang berteriak. Orang-orang gamang di sana memberiku liburan singkat dari rumah, komputer, pandemi.

Tumpul

Pensilku tumpul. Gagal diasah jalan-jalan yang lengang, dan kota-kota asing yang bicara tentang hal-hal yang subtil. Tanpa kelana, apakah aku?

Sedang, tugas-tugas kampus tertumpuk di meja. Pensilku tumpul. Dimakan kertas-kertas yang merayap. Juga tabel-tabel excel yang terlalu putih.

Lalu, 2020 menutup dirinya pelan-pelan. Seperti sebuah drama yang tragis, ia. Tirai dibungkus. Pensilku tumpul. Lupa caranya mengarang.

Wangi Hutan

Bau hutan bercampur dengan bau kaki-kakiku, yang berlari di jalan-jalan lengang di UI, pada sebuah akhir pekan yang biasa-biasa saja di musim pandemi.

Adalah sebuah rotunda yang familiar. Dekat sebuah menara air legendaris, yang berisi mitos-mitos urban tentang hantu, yang dulu mengisi haha-hihi kami di Takor.

Dari arah Balairung, ‘ku berbelok ke kiri, menyisir pinggir aspal yang agak basah. Lalu, tiba-tiba saja bau itu menguar dari balik pohon-pohon yang berbaris di kiri.

Seperti sebuah lagu lama yang begitu saja muncul di telinga.

***

Hujan turun konstan dari pagi hingga sore. Memberi kita konser tik-tik-tik, dengan iklim yang jatuh, dan sweater warna-warni dari Titisee yang akhirnya terpakai lagi.

Kursi goyang bergoyang di teras. Rintik memberi irama, juga sepotong angin dari utara. Di halaman, burung-burung berteduh di pohon-pohon yang ditanam ibuku.

Ibuku menanam hutan kecil di rumahnya, tempat burung-burung kini punya tempat untuk singgah. Cit-cit-cit, bunyi mereka suatu pagi, memberiku jeda dari buku.

Kenapa kita terus diajari menanam kebaikan? Atau menanam modal? Tapi, tak pernah diajari menanam pohon di halaman. Agar ia tumbuh menjadi rumah bagi yang lain.

***

Tanah basah. Baunya mengandung memori. Tapi entah apa. Seperti jamur yang menghiasi kursi kulit lancer bapakku. Jamur-jamur membuatku mengingat Tsing.

Bau dan ingatan. Bagaimana keduanya berbagi spasi di tubuh? Seperti aroma hutan UI, atau wangi hujan tropis, atau wangi oli dari sebuah bengkel di Padang.

Di teras, kursi bergoyang. Halaman-halaman terlewati. Dan bau itu masih di sana, seperti sebuah pertanyaan yang tak terjawab. Tanda tanya dengan tik-tik-tik bunyi hujan.

Buku membuatku bosan di sana. Dan wangi itu duduk di halaman, menjadi teka-teki yang menunggu diterka. Burung-burung masih berlompatan di pohon ibuku.

Turin

Hari ini, ketika matahari pukul 11 jatuh di pintu, dan masuk perlahan ke sela-sela mata, saya tiba-tiba mengingat Turin. Terutama pada sebuah pagi, ketika saya bergegas keluar hostel untuk menulis tesis di salah satu bangunan kampus Politecnico di Torino.

Sebuah tram membawa saya ke sana. Dan keramaian yang tak biasa muncul pagi itu. Rupanya itu hari wisuda. Orang-orang berlalu-lalang dengan jas dan gaun yang necis. Di sela-sela mereka, saya menerabas koridor-koridor untuk mencari perpustakaan atau sala studio.

Tapi, itu pagi yang sibuk. Mungkin terlalu sibuk. Saya pergi ke kampus utama Politecnico untuk sedikit mengganti suasana dari perpustakaan di Parco del Valentino. Saya masuk ke sebuah perpustakaan, tapi sepertinya tidak ada tempat yang asyik untuk menulis.

Selama beberapa menit, saya kebingungan di kota yang asing itu, dengan bahasa-bahasa yang tak saya mengerti, dan orang-orang yang riuh bicara tentang entah apa. Akhirnya saya memutuskan kembali ke halte, untuk mencari tram menuju Parco del Valentino.

Saya tiba di perpustakaan agak telat dari hari biasanya. Saya mengambil tempat duduk biasa dan mulai mengetik. Seperti biasa, saat jam makan siang, saya akan keluar dan pergi ke pizzeria yang tak jauh dari sana. Atau, jika ingin sedikit boros, akan pergi ke restoran cina.

Sebelum kembali ke perpustakaan, saya akan mampir di kedai dekat pizzeria untuk memesan espresso, kadang cappuccino, untuk memberi energi bagi siang yang menjelang. Jika sedang ingin berhemat, saya akan menebus kopi dari mesin kopi di kampus, dekat toilet.

Pagi ini, ketika matahari jam 11 masuk ke dalam rumah, detail-detail Turin seperti menguar begitu saja. Membuat saya rindu berjalan-jalan di gang-gangnya, di taman-taman kotanya, atau duduk santai di tram sambil menikmati mimpi masa kecil jadi nyata.