Buffon

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita lawan, entah oleh bom atau revolusi. Seperti perpisahan. Gianluigi Buffon telah menyelesaikan bait terakhirnya di Juventus. Tiang-tiang gawang di Corso Gaetano Scirea jadi saksi bisu tahun-tahun yang panjang sejak ia meletakkan kaki – dan tangannya – di Turin. Setelah tujuh belas tahun, Buffon telah menjadi legenda, totem, ikon, simbol; menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Bianconeri. Untuk itu semua, ia pantas menangis.

Di dunia partiarkal ini, dimana laki-laki dilarang menangis, sepakbola adalah alasan yang macho untuk menitikkan air mata. “Saya sering menangis,” kata Buffon, menjelaskan soal air matanya setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Baginya, menangis itu membebaskan (it frees you) dan membuat kita menjadi manusia (it makes you feel human). “Ini bukan tentang kekalahan itu sendiri, tapi sesuatu yang lebih rumit dan romantik,” ujarnya. Di pekan ini, Buffon telah menjelma kata-katanya sendiri. Ia terkesan sangat melankolis.

Di konferensi pers, Kamis lalu, Buffon seperti ingin menangis sejak awal. Toh, air mata itu tak jatuh sama sekali hingga pertanyaan jurnalis terakhir. Tapi, kita tahu matanya sembab. Seperti ada yang tertahan. Kata ‘emosional’ berkali-kali keluar dari mulutnya. Misalnya, “musim ini sangat emosional” untuk menjelaskan kegagalan timnas Italia dan kemarahannya di Santiago Bernabeu. Kita bisa bayangkan betapa wajarnya itu semua. Ia sudah empat puluh tahun, Italia gagal ke Rusia, ia pensiun dari tim nasional, ia gagal lagi di Liga Champions (satu-satunya trofi penting yang belum ia menangkan), dan hal-hal lain. Di lapangan, semua itu tak terlihat. Buffon tampak baik-baik saja. Kiper yang baik adalah ia yang (tampak) tenang.

“Saya pria yang tenang,” kata Buffon. Tenang. Kata itu juga sering keluar di konferensi pers – ‘serene’ menurut penerjemah. ‘Tenang’ itu jualah alasan kenapa ia belum memutuskan kemana ia berlabuh setelah Juventus. “Saya akan memutuskannya minggu depan. Setelah semua emosi ini reda. Saya ingin tenang saat membuat keputusan besar soal masa depan saya,” kira-kira seperti itu.  Maka, spekulasi merebak. Buffon pria yang tenang, tapi kita semua tidak – dan sibuk menebak-nebak. Saya membayangkan kontradiksi di tubuh Buffon, Sabtu ini, saat emosi dan ketenangan bercampur aduk tak karuan di dadanya.

Kita bisa melihat ada yang janggal pada senyumnya. (Hari-hari ini saya sedang banyak membaca soal Barthes dan semiotik, jadi maafkan interpretasi semiotik saya – yang mungkin berlebihan, personal, dan emosional – terhadap gerak-gerik Buffon.) Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti di ruang pers, Buffon seperti menahan sesuatu di laga terakhirnya. Ia seperti seorang pecinta yang gagal menemukan kata yang tepat. Maka, ia memilih tenang – seperti yang selalu ia lakukan sebagai kiper. (Saya selalu terkesima pada posisi kiper: orang yang berada “di-luar” permainan itu, satu-satunya pemain yang boleh memakai tangan dalam permainan yang dinamai football. Buat saya, ketenangan adalah kualitas utama yang mutlak dimiliki kiper.)

Toh, akhirnya yang ditahan-tahan itu tak tertahankan. Air mata jatuh dari kedua matanya. Kita melihat bola matanya berlinang. Air mata itu telah menjadi pesan yang ingin disampaikannya sejak siang di ruang pers itu. Mengikuti kata-katanya sendiri, Buffon telah (merasa) menjadi manusia – meski curva sud membentangkan banner ‘Superman’ untuknya. Ia manusia biasa, sama seperti kita, sama seperti ribuan orang yang memadati Allianz Stadium dan mendapati kenyataan getir ini. Setelah Del Piero, Buffon adalah perpisahan paling rumit untuk kita – fans Juventus. Air mata Buffon telah menjadi alegori untuk perpisahan.

Saya tumbuh besar dengan imaji tentang Buffon. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari kegilaan ini – terhadap sepakbola dan Juventus. Saya menikmati konferensi pers Buffon, Kamis lalu, dengan bayangan-bayangan tak paralel tentang tujuh belas tahun yang berlarian di belakang. Semuanya membentuk fragmen-fragmen yang patah dan utuh secara bersamaan: calciopoli, Piala Dunia 2006, cinque maggio, Santiago Bernabeu, Trieste 2012, dan sebagainya. Buffon menjadi (salah satu) pusat dari kejadian-kejadian itu. Ia boleh jauh sendirian di dekat gawangnya, tapi ia adalah benang yang menghubungkan rentetan sejarah – setidaknya setelah millennium baru. Kini, benang itu telah putus.

Yang rumit dari sepakbola adalah emosi-emosi semacam ini. Sulit untuk menjelaskan kenapa kita harus menangis saat Del Piero pergi, atau saat Italia dicurangi Korea Selatan enam belas tahun silam. Jorge Luis Borges mengaitkan sepakbola dengan ketololan. Dan mari kita rayakan ketololan ini dengan air mata! Buffon telah menangis. Ia tak kuat lagi menahan air matanya, terlebih setelah ratusan pelukan dengan pemain, staf, dan suporter di stadion. Dari layar kaca, komentator menyebut: “Buffon adalah nama yang akan kita ceritakan ke anak cucu kita kelak.” Tentu saja. Suatu hari nanti, saya akan duduk di teras rumah dan bercerita ke anak (cucu) saya, tentang sebuah malam di Lyon saat Buffon menepis penalti itu. Buffon akan kekal, lewat cerita-cerita yang kita sampaikan; entah hari ini atau kelak. Ciao, capitano.

Advertisements

Jelang Pulang

Sebentar lagi kita akan menyusun ulang bait-bait yang tertunda di Jakarta Raya. Belanda hampir selesai. Bayangan tentang masakan ibu di dapur rumah mulai membayang seperti semacam melankoli yang menghanyutkan. Koper-koper akan segera diisi. Kita kan mengemas sudut-sudut Eropa dengan senyum yang tak jelas maksudnya apa. Di antara selatan dan utara, kita terkoyak jadi dua.

Saya pikir tak ada yang terlalu puitik pada pulang. Ia adalah semacam niscaya. Seperti kematian, saya akan pulang. Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa imaji tentang rumah, tentang kota yang saya tinggali sejak kecil, tentang gang-gang yang berbau nyinyir ketika saya melewatinya dengan yamaha/honda. Pengalaman-pengalaman semacam itu bukan sesuatu yang diromantisir.

Segalanya berjalan terasa cepat? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya selalu merasa generasi saya sangat menyedihkan dalam hal yang satu ini; dalam hal mengelola waktu dan meresapinya. Time flies telah menjadi frasa yang banal. Mungkin ini semua karena transisi digital yang tergesa-gesa. Sebagai anak tiri internet dan kawan-kawannya, generasi ini punya masalah filosofis soal waktu.

Semua akan berakhir pada waktunya. Sama seperti ketika ia dimulai, ia akan terasa biasa saja. Gegar budaya mungkin akan terjadi. Tapi kita akan baik-baik saja, seperti kala pertama merasakan musim gugur ala Belanda. Jakarta akan baik-baik saja. Kita, sejatinya, memilin keintiman dengan apa-apa yang di sekeliling. Kita akan belajar mencintai yang di sekitar dengan tekun dan taat.

Jadi, hari-hari ini akan berlalu dengan perasaan yang sama seperti ketika kita berada di dalam kereta (atau bus). Stasiun/halte yang kita tuju akan segera muncul di jendela. Kita menantinya dengan perasaan-perasaan yang tak pernah dinamai. Seperti campuran was-was, dan siaga, dan kenyataan bahwa perjalanan akan segera usai. Kita harus bersiap-siap, karena rumah sudah di depan mata.

west/south and we who are trapped in the middle

O my body, make of me always a man who questions!

It was Fanon; either screaming or whispering. But he begged to his body. The thought we have in the head is inseparable with the body we have. Mignolo frames it as body-politics of knowledge. Skin matters. But also anything else.

Do you know what westerners should do? We should build a culture of shame.

It was Monica; preaching in the kitchen at Droef. I thought westerners should shut up. But not for her. Silence is not an option. Shame is. Still, with shame, come development. Isn’t that true? Then, with development, come World Bank.

We always have to jump to be on level with first world citizens. I am tired.

It was Chandra; responding to a question he arranged himself. I am tired, too. Can we just think and know with our own epistemologies? Then, we live in the pluriverse. The Others not as an exotica or an object of govern-ing/ment/ance.

Can the subaltern speak?

It was Spivak; asking rhetoric through the helps of Foucault and Deleuze. It all begins with the (western/modern/colonial) Self. Maybe, decolonial thinking offers us liberation with delinking. Why don’t we turn to communal instead?

yang sederhana

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita bungkam. Juga oleh puisi. Atau roman yang melenakan. Kita berbagi ruang imajiner, dengan jarak yang membentang ribuan mil. Kata-kata sering patah di tengah, ditelan arus samudra, atau hanyut dilindas angin muson dari barat. Di kupingmu, musikku mengalun bak nyanyi yang sumbang.

Kita berlari, berlari, sesekali berjalan cepat. Tapi kita seperti lupa caranya berhenti. Kota menghisapku/mu habis. Masa depan merongrong seperti hantu yang mabuk. Dan Mentawai masuk sebagai alegori untuk revolusi. Atau wahyu. Sudut-sudut Siberut telah memberiku mata baru untuk memandang dunia. Lupakan Eropa, lupakan PBB.

Hari-hari ini hal-hal yang simpel, sederhana, sehari-hari, remeh, ugahari, dan apa-adanya menjelma manifesto. Aku membacanya dengan kerinduan yang telak; seperti seorang pecinta/pejuang yang lelah bertarung dan menguras keringat di medan dunia/laga. Bisakah kita berbagi secangkir cappuccino saja di sore yang makin oranye?

Titik-titik di buku membentuk ulang dirinya sendiri; menjadi kalimat-kalimat yang sukar. Anak manusia ditelan tensi-tensi yang mendidih di kepala: change/sustainability, berubah/berkelanjutan? Kita menelan retorika-retorika yang membikin pusing. Seperti seorang tua yang tak jelas mau apa. Dan kita lupa berhenti merenung.

Wageningen, 6 April 2018

Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. Musik  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…

meracau seperti biasa di tengah malam

Ketika ada yang patah, kita meminjam doa dari seberang. Dari lorong-lorong yang kesepian di kota. Orang-orang menabrak dinding dan merampas es krim dari tangan anak kecil. Kita bernyanyi tentang dosa-dosa kecil, lalu pergi ke tiang untuk kencing di trotoar. Hari-hari ini, debu membasuh kita, memandikan kita dengan kenyataan yang mungkin tak beraturan. Ia seperti puisi yang prematur, ia seperti prosa yang tak ingin ditulis.

Besok kita akan berangkat ke nestapa. Mendaki bukit-bukit yang diisi dengan air mata, dipupuki dengan rapalan doa yang tak sampai. Tuhan sedang sibuk hari ini, silakan kembali lagi besok. Orang menangisi hari yang terlanjur panas dan malam yang basah oleh hujan. Dua puluh ribu rupiah jatuh di jalan dan kita membeli sepotong kebahagiaan di pinggir taman. Duduk kita di bawah bulan yang kian meng-oranye. Membentuk nostalgi tentang Belanda.

Mendung siang memberi kita tenaga untuk meludahi buku-buku yang kecoklatan. Klasik tak lagi dibaca, masa depan tak lagi dipercaya. Cuma hari ini. Selebihnya adalah bayangan yang jauh. Seorang perempuan jatuh sakit disana. Baiknya kita mengirim doa ke sebuah kotak pos di Utrecht, bukan? Lalu menggelar sajadah panjang dari Jakarta Raya hingga Gelderland, agar kita bisa berbagi pesta yang sederhana. Tanpa alkohol dan mariyuana.

Barangkali, do(s)a adalah semacam bahasa yang tak kita mengerti. Kita membacanya dengan gemetar, dengan kaki yang lemas. Seperti sebuah hari yang dingin di De Kuip. Ketika siang begitu terik tapi udara mencekik. Orang-orang mengingat tuhan; entah dalam bentuk yesus atau api. Animisme menjadi tampak masuk akal. Ombak, pohon, dan matahari. Kenapa kita harus menyembah konsepsi, dan sains, dan lagu patah hati?

(Depok, 8 Maret 2018)

Setelah Espresso

Setelah espresso
Dan puntung kretek
Aku berdansa dengan jam
Yang bergerak mundur
Ke masa-masa yang jauh
Saat pagi berupa bola
Berbentuk kertas
Atau biji pohon entah-apa

Di sekolah dulu
Kita menyepaknya
Dan ribut di lorong-lorong
Guru-guru tak hirau
Karena begitulah
Menjadi anak-anak
Bermain, berisik, menangis

Seketika waktu berlari
Kencang kembali kesini
Pagi minus lima derajat
Cerah matahari silau
Tubuh anak kecil itu
Lenyap ditelan tahun
Tinggal sisa potongan
Jiwa yang berteriak
Tanpa suara

Sosok itu masih ada
Mengendap di dalam
Dada yang sesak
Oleh keharusan
Menjadi dewasa
Mengetik, diam, tanpa tangis
Suatu hari ia akan
Meledak, boom!
Menjelma kesenangan
Yang sederhana

(Leeuwenborch – 8 februari 2018)

 

Di Reuvensplaats

Dijkgraaf: persepsi kita tentang matahari seperti dikoyak-koyak disini. Sinar matahari masuk ke jendela, membuatmu bangun dengan semringah. Tapi ada yang mencurigakan. Matahari di musim yang dingin adalah jebakan. Kita mempelajarinya lewat pengalaman, bukan dari buku-buku di perpustakaan. Saya keluar dengan imaji tentang siang-siang yang panas di Asmat. Tapi, tidak disini, tidak hari ini. Embun-embun menjelma es di rerumputan.

Intercity: Mata Hari mengantar ke hari-hari tua sebelum perang dunia pertama. Si femme fatale lari ke Den Haag dengan bayangan tentang Paris. Perang telah membuat mimpi-mimpi manusia berantakan. Hari ini, tak ada beda. Kota menjelma medan perang. Orang-orang menangisi ‘mimpinya yang tersapu’ (meminjam Silampukau). Konon, Mata Hari menghadapi regu penembak dengan ciuman dari jauh. Kiss bye. Saya mengingat Che.

Kuba: tak ada revolusi hari ini. Mungkin saja, revolusi sebenarnya ialah gimmick. Agar kita selalu punya alasan untuk mengeluh, untuk merongrong keadaan. Manusia, saya pikir, dikutuk untuk mengutuki hari ini. Di Eropa, orang-orang terjebak pada kegagahan masa lampau. Di Indonesia, surga adalah destinasi. Semua bergerak dengan imaji tentang yang di depan, tentang yang tak jelas, yang tanpa-bentuk. Apakah kita punya resep untuk carpe diem?

Leiden: hari makin menua disini. Orang-orang berkumpul di luar perpustakaan. Menghisap tembakau, bercerita tentang apa saja, melupakan tesis sejenak. Tak ada kretek, tak ada Marcopolo. Saya menulis tentang minggu-minggu yang berlalu di Ebay. Email dikirim, email dibalas. Semuanya begitu mekanikal. Seperti sebuah sistem menyetel kepala kita, membentuknya jadi kode-kode, jadi algoritma. Kapan kita pulang?

Leiden, pada sebuah hari yang cerah, nol derajat.

red wine blues

Give me a glass of wine and i’ll read you the poem i never like.

Perhaps we live with too much philosophy and reasoning. So we forget the practicalities, the what-happen-in-the-middle. No one tries to fix the agony of being lulled by fantasies and utopia and hopes and historical glorification.

One day, either tomorrow or 2084, we will look at human beings as pure melancholia. Western buddhism might be a mistake we cannot cancel. A faux carpe diem ways of life, mixed with the faux environmentalism (for the poor? meh), added with faux mindfulness cum instagramable illusion. Oh please.

Pour me another more. So i can read you a love letter from the poet i never like.

Too many falsity and deceit and tales. Can we still expect at least a piece of truth, from the night when work/life has collapsed into ontological revolution? Here, in this hypocrisy a la scientific-neolib-green-capitalistic-developed-colonial brain, we are gonna lose again against the war of black/white, a/z, i/you dichotomies.

No narrative. No malaise. Only discourse. And red wine. And the desire of being ethical without really being ethical and with accusation of unethical to the groups of men who perhaps more ethical than they who claim themselves ethical. But.. what is ethics by the way? Another western hubris? An alibi for collective amnesia?

(city of life sciences,

1 februari 2018)