Catatan Jalanan

Saya kerap membayangkan bagaimana caranya sebuah kota menghisap cerutu? Seperti sebatang sigar Kuba yang saya hisap di Droevendaal. Setelah gelas-gelas yang panjang, dan obrolan-obrolan semifilosofis tentang masa depan, hoek!

Mungkin seperti itu. Kita menelan asap-asap, yang diproduksi motor dan mobil buatan Jepang, Korea, Amerika atau Eropa, lalu kita muntah. Lalu kita kehilangan makna pada waktu, pada kecepatan, pada jarak.

Semua ini membuat saya mengingat Kundera, ketika ia memulai ‘Slowness’ dengan sebuah realisasi yang sederhana tentang bagaimana kecepatan menyandera kita. Membuat saya mengingat gerakan-gerakan slow (atau selo). Mungkin, revolusi yang sebenarnya berwujud lebih subtil dari demo-demo di pagar DPR atau aksi-aksi heroik di Amerika Latin.

Mungkin kita harus belajar berjalan kaki lagi, atau bersepeda, atau apa pun yang memaksa kita melambatkan laju, seraya memikirkan ulang: apa itu waktu dan jarak?

***

Dua hari ini saya melewati Godean yang murung dengan observasi selintas tentang mereka (dan kita) yang melawan arah. Saya membayangkan kemungkinan alasan-alasannya. Dan saya ingin keluar dari narasi moralis tentang warga yang patuh lalu lintas. Cuih!

Saya ingin menyelam lebih dalam. Mungkin saya harus berhenti dan menodong mereka dengan recorder, lalu menciptakan semacam etnografi yang mendadak. Dor! Tapi, saya etnografer di sana. Bukan moralis. Bukan polisi. Bukan mereka yang hidup lurus oleh regulasi dan undang-undang. Saya pikir: mungkin saja sebenarnya melawan arah di jalanan adalah sangat logis.

Lalu, saya mengingat-ingat saat-saat saya melawan arah. Dan memikirkan semacam hipotesa yang menggeneralisir. Sementara – namanya juga hipotesa. Kegiatan melawan arah logis pada situasi-kondisi tertentu. Itu fakta ontologis yang tak bisa kita pungkiri. Kenapa?

Mungkin karena kita telah lama hidup dengan kecepatan, dengan motor dan mobil yang meraung-raung dengan gegas, sehingga sangat sulit untuk menyebrang ke arah yang benar. Buang-buang waktu. Lagi pula, kita sebenarnya juga telah terbiasa dengan ketergegasan. Sehingga, apa salahnya melawan arah ketika tidak ada pak polisi dengan rompinya yang menyala-nyala?

***

Di Yogyakarta, saya kerap membayangkan Jabodetabek yang tak kalah murung. Mungkin saya rindu. Atau mungkin tidak. Mungkin saya hanya sekadar membandingkan kota-kota yang telah dan sedang saya lakoni. Mungkin sebenarnya, dengan membayangkan Jakarta, saya sedang belajar bagaimana caranya menjadi warga Yogyakarta yang baik.

Di jalanan Jogja, setidaknya saya lebih banyak belajar bersabar. Dan menunggu lampu merah dengan tenang. Dan tidak menyerobot. Dan menyalip dengan santun. Dan mengurangi sedikit rata-rata speedometer di motor pinjaman yang saya kendarai.

Bukan berarti Yogyakarta tak dijajah oleh kecepatan. Seiring waktu saya menyadari bahwa ketergesaan juga realitas yang tak bisa ditawar di sini. Ada banyak faktor. Mungkin kenaikan jumlah kelas menengah, yang selaras dengan kenaikan konsumsi kendaraan pribadi, yang selaras dengan kemacetan, yang selaras dengan siasat praktikal untuk mengakali kemacetan.

Melawan arah sebenarnya hanyalah siasat beradaptasi di tengah masyarakat yang sibuk mengakumulasi kapital. Ia logis, karena itu ia menjadi jamak. Dan karena itu aturan-aturan lalu lintas sebaiknya harus segera direvisi untuk mengakomodir perubahan ini.

Kemungkinan kedua, terkait dengan aturan lalu lintas, adalah struktur jalanan kita yang terlalu dikotomis. Ia hanya menyediakan dua opsi. Di situ tidak ada pilihan ketiga dan seterusnya. Padahal, di masyarakat posmodern yang kian blur dan non-dualistik, opsi ketiga akan selalu ditempuh. Masalahnya, ketika ia tak diakomodir oleh regulasi, ia berlabel ‘ilegal’.

Kemungkinan ketiga, terkait struktur sosio-material jalanan, adalah ketiadaan trotoar. Ini kasus yang sangat Indonesia. Setidaknya dari hasil amatan sambil lalu saya, praktik-praktik melawan arah lebih banyak terjadi pada jalan-jalan yang tidak memiliki trotoar, sehingga para pelawan arah – kebanyakan pengendara motor dan motornya – punya celah untuk memangkas waktu.

Dalam kota yang kian menyempit (involusi; mungkin itu istilah kerennya), spasi adalah kemewahan. Dan kita harus memanfaatkan peluang sekecil apa pun untuk mengambilnya. Seperti halnya anak-anak yang bermain bola di komplek pemakaman di Jakarta. Logis.

***

Jadi, sebenarnya tak ada yang terlalu salah dengan melawan arah di jalanan. Setidaknya ketika kita berani sedikit mengenyampingkan argumen moralis tentang taat aturan, menjadi warga kota budiman, dan klise-klise sampah lain yang hanya membikin polisi cengar-cengir.

Melawan itu selalu perlu. Saya jadi mengingat sebuah marka jalan di Depok, di dekat rel di Jalan Dewi Sartika. Di sana ada tulisan: ‘dilarang melawan arus’. Saya selalu tersenyum ketika mengantre kereta lewat di situ. Dan saya membayangkan betapa indahnya melawan arus.

2019

Saya mengingat 2019 sebagai maraton yang panjang dan melelahkan. Dan saya berhenti di garis finis nyaris sebelum panitia membubarkan acara.

Jika setahun silam saya menulis tentang ambivalensi sebagai hal terpenting yang saya pelajari dan pikirkan di tahun 2018, maka pada 2019 saya tak banyak belajar: kecuali kenyataan bahwa kehidupan bergulir dengan pelan dan cepat secara bersamaan, dan satu-satunya hal paling masuk akal yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan hari ini, melakukan apa yang di depan mata dengan langkah-langkah kecil yang pasti.

Tapi sebenarnya tak ada yang pasti. Kita hanya berjudi, seraya berdoa langkah-langkah itu akan berujung pada sesuatu. Di 2019 saya lebih banyak bersyukur dan mengutuk secara bersama-sama. Seperti seorang umat yang kelelahan menebak-nebak makna dari ayat-ayat yang mengawang di altar gereja.

Toh, saya juga memahami bahwa persistensi dan idealisme itu harus dirawat sama baiknya, dan harus dijalankan sama temponya. Satu tanpa yang lain hanyalah omong kosong. Dan kedunya memerlukan bahan-bahan lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar (keluarga, teman, pacar, dll) yang mendukung. Idealisme tanpa lingkungan yang suportif adalah nonsens besar.

Saya beruntung punya lingkungan yang kondusif itu. Itulah mengapa saya banyak bersyukur di sela-sela kesibukan saya mengutuk diri sendiri di malam hari.

Di ujung tahun 2019 kemarin, saya mengingat adagium usang yang selalu saya suka dan percayai. Bunyinya begini: good things happen when least expected. Setidaknya mantra itu nyata bagi saya. Sudah dua kali saya mengalaminya sendiri. Pertama, ketika mendapat beasiswa yang membawa saya studi ke Belanda. Kedua, baru-baru ini, ketika akhirnya saya bisa pindah ke Yogyakarta, kota yang selalu saya idam-idamkan sejak dulu, untuk mengajar di Universitas Gadjah Mada.

Setelahnya, saya ingin menikmati 2020 dengan pelan, dan dengan mencerna pemahaman bahwa 2019 begitu melelahkan secara energi dan emosi, sehingga saya perlu sedikit melambatkan laju, supaya saya bisa menikmati hidup yang indah ini, yang seringkali berkabut, gelap dan misterius.

Posted in ide

Vigo

Renfe berhenti di Vigo.

Saya punya beberapa jam — tiga atau empat jam kalau tidak salah — untuk membunuh waktu di Vigo. Sebelum kereta lain akan membawa saya ke Porto. Rute yang saya tempuh dari Santiago de Compostela memaksa saya transit di sana, dan saya punya cukup matahari musim semi untuk melihat-lihat.

Tapi, sebenarnya tak banyak yang terjadi dalam tiga/empat jam itu. Saya cuma berjalan kaki ke luar stasiun, belok kanan dan terus mengikuti trotoar hingga kelelahan. Lalu tiba-tiba lautan muncul di sisi kanan dan saya menikmati sunset yang asyik di Vigo. Dengan jaket winter yang tebal, lalu matahari menimpa mukamu, apa lagi yang bisa saya harapkan dari sore di tepian Atlantik itu?

Di dekat laut saya hanya duduk-duduk. Beberapa pria paruh baya sedang memancing, di sela-sela itu mereka bercengkrama. Entah tentang apa. Saya mendapati orang-orang Galicia bicara lebih pelan dibanding orang-orang Spanyol di Madrid dan Andalusia. Seperti ada yang mereka rahasiakan. Atau mungkin tinggal dekat lautan mengajari mereka untuk tak perlu banyak bicara.

Langit kian abu-abu, suhu makin turun. Saya terus berjalan untuk menciptakan sedikit keringat dan secuil hangat di tubuh. Setidaknya begitu teorinya. Pada satu titik, jam terus bergerak maju, dan saya memutuskan kembali ke arah stasiun. Di tengah jalan, anak-anak bermain bola di semacam cage court. Saya berhenti sebentar, mengamati mereka menendang bola kesana-sini. Juga mencetak gol.

Saya mampir di cafetaria di dekat stasiun untuk mengisi perut. Juga menghangatkan badan dengan segelas Estrella Galicia. Setelahnya saya merasa siap melanjutkan kelana. Porto telah menanti di ujung rel. Di selatan.

Monologues

Monologue on Giving Up

To be able to try is a privilege.

Some people don’t even have a chance to try, let alone to get. At least I have had that kind of chance, and that sort of privilege. I tried. I chose to try. And, not least importantly, I was totally supported – by family, lover, friends, etc. – to try.

This privilege contains many other things life has kindly given me. Great mom, great lover, great brother & sister, great friends, good fortunes, nice coincidences, and else. They all have provided me, essentially, with time (to try) and little savings (to ‘buy’ that time). But, there is always but, no? I have tried, but I seemingly haven’t reached the point I imagined in the beginning. Money runs out, time’s up. It’s time to give it up.

But, I have tried. And, it should always be okay to quit after you try. I think. I’ve done the trying, yet I have to learn the quitting. It’s not always easy to quit. Yet every champion learns how to quit once or twice in her/his lifetime. People are trying, people are quitting.

Why bother?

***

Monologue on Praying (or not)

What is prayer, anyway?

Is it a kind of words we spell for miracles, or hopes, or something we are no longer capable of doing? When we pray, who are we telling to? Some sort of magical/superior thing, or to ourselves, or to a universe, or to whom?

“Please pray for blah-blah-blah.” I heard it so many times these days and I’ve start to take it as a cliché. I cannot take it very seriously now, as I do not know who to believe, or whom to pray to, or whom I should telling my problems and hopes and dreams to. What is god, anyway? Or, more precisely, what are gods? Are they there listening to the prayers of humans, who are no longer able to hope, to do, to try, to see, to breath, to listen, to xxx?

Recently I prayed with no words. I prayed with all my bodies and souls. The prayers I told were not in the form of sentences. There were no grammars. There were no structures. No words. No letters. No intentions. No directions. But, I prayed. At least, that’s what I think. Perhaps this is a kind of prayer which hopeless and helpless. Still I prayed, anyway.

I don’t know why. Words may fail. So I no longer able to pray with words. If the body-prayer fails me too, I don’t know through which form I should pray.

Perhaps I should stop praying at all?

***

Monologue on a Death of a Friend

After a Saturday night dinner at Sagan, I came back to Wedomartani. I chilled on the bed and read the Whatsapp message, telling that my good friend has just passed away. It was so sudden. She was hit by a truck in her hometown of Kampala, Uganda. I was shocked. So do other friends in many corners of the world.

How can a death of a friend that is no longer physically close to you can be so unbearable? I mean, if we were still living in the same city and met quite regularly, then such a sudden death must logically be very painful. Yet we are already separated, living each separate life in each separate city. But, then, death has come and separate us even more. How do we actually measure distance, proximity, and (non)existence?

To console myself from the sadness and questions hanging uneasily in my head, I drove to the coast in the south. A death of a friend has apparently brought me to familiar things which I previously don’t know I miss. The scene along the way: rice field, long asphalt road ahead, smell of the sea, life so mundane that we barely think of, all the good things life has provided us but we are too busy to look for something else (something abstract, a concept).

At the beach, I found my spot to reflect. I ate my lunch and I gazed at the ocean. Across that ocean is Africa. A friend has died there yesterday. In a continent I’ve always dreamed to go to. She once encouraged us to save money to visit her in Uganda. She said she will fix all other things. We only need two-ways flight ticket. Yet, death has come.

And what has already been separated are separated even more.

Deventer-Zwolle (2)

Tiba di Zwolle, matahari tampak kian terang.

Saat berjalan ke arah centrum, saya mendapati sebuah museum gagah berdiri di hadapan bioskop tua. Dari tangga-tangga di depan museum, saya mengamati sepeda-sepeda yang dijejer sembarang di dinding bioskop. Sebuah bar ada di sebelahnya. Hari masih sore. Bar belum terisi. Saya melewatinya dan bergegas jalan lebih dalam ke jantung kota.

Centrum demi centrum telah saya jalani. Dan saya membayangkan sebuah dunia yang membosankan. McDonalds, H&M, Primark, Subway, dan merek-merek lain mendominasi pusat kota. Di Zwolle, kenyataan yang sama saya dapati. Saya jadi membayangkan Wageningen yang tenang, yang pusat kotanya tak diisi H&M atau McDonalds. Hanya sekumpulan kios yang namanya tak familiar, dan beberapa bar yang tak pernah terlalu sesak di akhir pekan.

Tapi, Zwolle kota yang asyik. Saya bisa menciumnya dari udaranya. Seperti ada yang sudah selesai di sini. Saya duduk santai di dekat kanal dengan kapal-kapal yang terparkir di sana. Matahari membanjiri retina dengan sinarnya, juga memanggang kulit wajah yang bosan digilas beku musim dingin. Waktu seperti melambat di bangku kayu panjang itu, di pinggir sebuah kanal.

Saya sempat berpikir untuk menonton bioskop di sana. Tapi jadwalnya tak pas. Terlalu malam, pikir saya di depan loket bioskop. Saya membatalkannya. Saya melanjutkan jalan kaki. Pada sebuah persimpangan, seseorang menyetop saya. Jalannya tampak gontai, matanya tampak sayu. Dia menanyakan letak coffee shop. Kebetulan saja saya baru melewatinya dan menunjukkan arahnya.

Di depan stasiun, saya mampir sebentar di Albert Heijn untuk sepotong croissant coklat. Gelap pelan-pelan jatuh di Zwolle. Udara kian dingin. Saya menggigil sedikit. Kereta tiba beberapa menit sebelum 18.30. Saya ingat karena hari itu saya menggunakan tiket promo khusus NS. Stasiun-stasiun terlewat. Perlahan Ede-Wageningen muncul di jendela.

(Selesai)

Post-scriptum: Keesokan harinya saya kembali ke meja tempat saya biasa mengerjakan tesis. Kalimat-kalimat meluncur dengan gegas, dengan bebasnya. Kata demi kata, paragraf demi paragraf. Pada akhirnya, saya tahu bahwa berhenti sejenak adalah bagian dari perjalanan. Seperti halnya tanda koma dalam kalimat. 

Deventer-Zwolle (1)

Ada kalanya writer’s block tiba di depan mata.

Seperti sebuah Senin yang kelabu di Wageningen. Saya membuka dokumen-dokumen tesis. Membaca-baca transkrip, field notes, dan artikel-artikel guna mencari inspirasi untuk menyusun temuan. Tapi, seperti ada batu bata yang menghalangi. Layar komputer seperti menatap balik dan mengernyitkan dahinya.

Pagi hingga sore berlalu. Tak sepatah kata pun tuntas oleh keyboard. Microsoft Word menganga. Putih bersih. Seperti ada yang keliru. Saya duduk berjam-jam untuk sebuah kekosongan. Beberapa menit lamanya saya keluar ke danau dekat kampus untuk menyegarkan pikiran, tapi writer’s block itu nyata.

Esoknya saya meliburkan diri dari tesis. Percuma jika hanya duduk di depan komputer dan tak menulis apa-apa. Saya berangkat ke Deventer untuk sebuah vakansi mini, semacam eskapisme dari tesis yang berontak untuk menulis dirinya sendiri. Lagi pula, apa yang lebih indah dari break di tengah pekan?

Langkah saya terayun ringan saat keluar stasiun Deventer dan berjalan ke arah centrum. Seperti flaneur, saya hanya melihat-lihat. Toko ini dan itu. Di salah satu toko itu, saya mampir membeli kaos kaki untuk Christal. Lalu, saya berjalan lebih jauh lagi. Sesekali berhenti di depan toko buku atau kios cd musik.

Deventer punya gemeente yang cukup asyik. Sidik jari warganya menjadi bagian dari arsitektur. Saya ingat di dalam gementee saya sempat duduk beristirahat, lalu matahari tiba-tiba muncul. Segar rasanya. Matahari musim dingin. Lalu saya berjalan ke arah sungai. Kapal-kapal tampak lalu lalang di perairan.

Apa lagi yang saya ingat dari Deventer? Menyantap kapsalon, duduk di bangku pusat kota sambil menikmati keramaian manusia (matahari bersinar hari itu, sehingga orang-orang keluar rumah), dan konstruksi jalanan di dekat stasiun. Selebihnya saya hanya berlalu-lalang, seperti turis yang mencari entah apa.

Kemudian saya ke Zwolle.

(Bersambung)

Sungailiat

Hujan jatuh begitu saja.

Kami buru-buru merapikan alas duduk, sebuah kain berlatar hitam dengan gambar Bob Marley di atasnya. Diberikan seorang kawan di Amsterdam, yang tumbuh dewasa dengan adagium don’t worry everything’s gonna be alright. Persis seperti saya. Saya menyibak kain itu agar pasir-pasir tak terbawa.

Dari Tanjung Pesona, kami berkendara ke arah Sungailiat. Hujan masih turun rintik-rintik. Tak masalah. Tapi, tangki motor nyaris kosong. Di tengah jalan, kami berhenti sebentar untuk mengisi bensin eceran. Entah di mana.

Memasuki Sungailiat, hujan menderas. Kami menepikan motor di sebuah rumah makan Padang. Kios-kios handphone berdiri tepat di seberangnya. Saya memesan ayam. Christal memesan entah apa. Dari kejauhan saya menikmati jalanan kota yang basah, dengan lalu lalang kendaraan yang tak terburu-buru.

Rambut saya lengket air laut. Ditambah udara yang irit masuk ke dalam helm. Rasanya anyep. Tidak enak. Tapi, Pangkal Pinang masih jauh dan kami tak berencana langsung kembali ke sana. Mungkin kami akan mampir ke Pantai Tikus dalam perjalanan pulang. Duduk-duduk di pasir sambil melihat ombak menjilati pantai.

Di Sungailiat, kami cuma berteduh dari hujan yang guyur di Bangka.

(Tapi, entah kenapa tiba-tiba saya mengingat Sungailiat.)

Varna

Bagaimana saya tiba di Varna? Mungkin kereta atau bus. Entahlah. Saya lupa.

Tapi, saya mengingat sebuah bangunan luas seperti terminal. Mungkin gabungan antara terminal bus dan stasiun kereta. Entahlah.

Yang jelas tak ada bus atau kereta langsung dari Burgas ke Romania. Maka, dari Burgas saya mesti singgah semalam di Varna. Lalu mencari kendaraan menuju Bukares.

Pada musim panas, Varna seperti disusun untuk pesta. Di kawasan pantai, musik disetel keras-keras. Langit belum gelap tapi alkohol sudah tumpah dimana-mana. Saat saya berjalan santai di pantai, rasanya seperti akan ada perayaan yang siap meledak kapan saja. Tapi, Varna terlalu sesak dan gegap.

Saya menginap di Yo-Ho Hostel. Agata rupanya juga tidur di sana. Sebelumnya, kami bertemu di Veliko Tarnovo. Kasur kami bersebelahan, di sebuah dorm sempit di Hostel Hikers, salah satu hostel paling laid back yang pernah saya singgahi. Maka, Varna menjelma semacam reuni. Kami bertukar kabar.

Perjalanannya akan segera berakhir. Ia akan terbang dari Bukares beberapa hari lagi. Sedang, saya akan ke Bukares besok. Entah dengan apa. Di common room hostel, kami membahas kemungkinan saya singgah di Brno, kota tempat tinggalnya, dalam perjalanan pulang saya ke Wageningen. Entahlah.

Varna adalah kota terakhir saya di Bulgaria. Setelah minggu-minggu yang menyenangkan. Dari situ saya akan bergerak ke utara sedikit, ke Bukares. Lalu dari ibukota Romania itu saya akan terus beranjak ke barat, entah itu dengan kereta, bus, atau transportasi darat lain. Mungkin saya singgah di Ceko.

Tapi, yang jelas saya ingin berhenti sebentar di Kassel. Untuk Documenta. Festival seni lima tahunan itu saya ketahui di Blablacar, dalam perjalanan dari Bremen ke Barneveld. Supir yang membawa saya berasal dari Kassel. Saya dan Agata sedang membahas Kassel dan Documenta ketika seorang perempuan menginterupsi.

Ia duduk di dekat kami, sedang membaca majalah. Lalu ia terhentak sedikit oleh kata Documenta. Rupanya ia baru saja dari pameran itu beberapa waktu lalu. Ia menunjukkan beberapa foto instalasi dan karya seni yang dipajang di sana, serta mana-mana saja yang membekas di ingatannya hingga sore itu.

Obrolan kami – seperti lazimnya obrolan di hostel-hostel – menjadi semakin kemana-mana. Semakin banyak orang yang nimbrung. Saya ingat satu gadis Spanyol yang manis, dengan tato yang asyik di punggungnya. Ia rupanya mahasiswi Erasmus. Ia masih mencari flat permanen, sehingga tinggal sementara di hostel.

Bla-bla-bla. Varna dan para pejalan. Setelah bosan, saya beranjak ke balkon. Saya mengambil minuman dan duduk di sana. Seorang lain menemani. Kami bicara sekenanya tentang hal-hal yang dibicarakan dua orang asing yang baru bertemu. Dari bawah, di jalanan, seorang pria mabuk meminta sebatang sigaret.

Sisa malam saya habiskan dengan mencari makan di pusat kota, lalu saya kembali dengan lelah ke dormitori, yang sayangnya diisi pria-pria Belanda yang berisik. Tapi setidaknya saya bisa tidur dengan lelap, lalu bangun di pagi yang dini untuk mencari kendaraan ke Bukares. Sayang, saya tak sempat pamit ke Agata.

Di terminal, saya memesan semacam minibus/travel ke Bukares. Sedikit kekacauan sempat terjadi saat seorang pria mengambil jatah kursi penumpang lain. Rupanya ada miskomunikasi antara si supir dan petugas di kounter agen. Peliknya pria itu tetap duduk dan ngotot ikut berangkat menyebrang perbatasan.

Imbasnya, saya dan seorang pejalan Jepang mesti menentukan siapa yang terusir. Saya ngotot untuk masuk karena sudah membeli tiket. “This is not jungle,” kata saya ke supir dan petugas agen. Orang Jepang itu akhirnya mengalah, pasrah. Ia akan diantar dengan mobil lain, tapi melewati rute yang lebih memutar.

Di dalam mobil, saya berdesakan dengan penumpang lain. Di sebelah saya adalah pria Belgia yang sedang mengambil PhD di Swiss. Istrinya orang Bulgaria, Varna tepatnya. Ia menyayangkan insiden yang baru saja berlalu di terminal.

Di bangku depan saya, seseorang menyindir pria yang ‘mencuri’ jatah kursi si orang Jepang. “Kita bisa lihat bedanya orang dari negara maju, kan?” tutur si penyindir. Saya tak tahu kebangsaan si ‘pencuri kursi’. Mungkin Bulgaria. Mungkin negara Balkan lain. Yang jelas ia tak menggubris. Ia tak bisa berbahasa Inggris.

Haddy: Obituari

In the place where my father came from, death is a truly important matter. Oftentimes, I have a feeling that it is even much more important than the life itself… as if life is a part of the death, but not vice versa. As a kid growing up with such cultural background, I have come to learn to see death differently. Death, in the place where my father came from, is glorious.

But nothing could console me when I got the news that our beloved friend Haddy passed away on 19 November 2019. It broke my heart. Any cultural explanation failed. I remember it was Saturday night in Yogyakarta, Indonesia, and I could feel the sky fell apart upon me.

In the next 24 hours or so, I mourned. My morning coffee felt more bitter. The day was done before it was even started. I went to the beach in the south to try to console myself… to look for the answers to the questions I did not even know who to ask to.

Why her? Why did it happen to her?

In the next 24 hours or so, I tried to recollect my memories of her. I remembered that night in her place in Bornsesteeg where we, the Emily (MLE class of 2016), had our first chapati party. I could almost remember Haddy smiled to me and teased me as I could not finish her hand-made chapati. From now on, whenever I see or hear ‘chapati’, I surely will remember her.

In Wageningen, whenever we met each other, he almost always called me ‘Hi Baby Boy!’ with her high-tone voice, the one that you cannot hear from anybody else. Not in Wageningen, not in Indonesia, not in anywhere in the world. Haddy is Haddy. She will be missed. Her smile, her out-of-nowhere choices of words, her ability to live up the group and party, her dance movement, her warm heart.

If one asks me one or two words to describe her, I would like to remember her as someone who stays true to herself. You cannot find that attitude in all people. So, I am really grateful to have a chance to meet her and to be her friend. “Really??????” she might respond me, with her typical tone. Yes, Haddy. Thank you for the memories.

Rest in Peace, our beautiful soul.

Till we meet again.

(Jogja-Jakarta, October 24th, 2019)