Para Peziarah di Santiago

Santiago de Compostela, pada sebuah musim dingin yang basah.

Stasiun basah. Apa-apa basah. Kota jadi murung. Saya melangkahi pusat kota dengan wangi burger yang menguar ke jalan. Di Parque de Alameda, segala jadi lebih sendu. Pohon-pohon tanpa daun menanti datangnya musim semi. Langit kian kelam, malam menjelang. Saya tiba di hostel sebelum gelap merayap.

Roots and Boots nama hostelnya. Saya naik ke dorm dan mendapati jendela yang menganga. Katedral ada di seberang. Ia tampak kecil dari lantai dua hostel. Gagah menjulang, meski ditopang besi-besi restorasi. Di Eropa, orang tergila-gila pada masa lalu. Maka, bangunan tua direstorasi dan nostalgia dipupuki.

Nostalgia. Itu juga yang membawa saya ke Galicia, di barat laut Spanyol. Tujuan awal saya ialah A Coruna, kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Atlantik. Saya hendak mencari jejak Deportivo La Coruna, klub sepak bola yang ketika saya kecil hingga memasuki masa remaja sedang bagus-bagusnya.

Namun, tak ada penginapan murah di kota itu. Maka saya melipir ke Santiago. Menginap di sana dan ke A Coruna pulang-pergi naik kereta. Kedua kota ditempuh dalam 30 menit. Tapi, meski saya ‘tersasar’ di Santiago, bukan berarti kota ini tak punya apa-apa. Banyak orang mengenalnya karena Camino de Santiago.

DSC_1491

Camino de Santiago ialah salah satu jalur ziarah paling terkenal di dunia. Setiap tahunnya, manusia dari berbagai belahan dunia pergi menuju Santiago de Compostela dengan berjalan kaki. Jalur paling umum disebut Camino Frances, the French way. Para peziarah memulai dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis. Beberapa jalur lain dimulai dari Basque (Spanyol utara), Andalusia (Spanyol selatan), Lisbon (Portugal), dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada aturan yang benar-benar kaku soal jalur. Ide utamanya adalah berjalan kaki menuju Santiago, biasanya melintasi kota-kota yang dianggap suci bagi umat Katolik. Meski begitu, sekarang ini banyak juga peziarah yang menggunakan sepeda untuk mencapai Santiago. Camino de Santiago terus berubah mengikuti jejak jaman. Ia bermula dari ziarah relijius umat Katolik menuju makam Santo Yakobus (Santiago, dalam bahasa Spanyol) dan kini berubah menjadi cara lain untuk traveling/berwisata.

Di hostel, saya sempat bertemu beberapa peziarah. Misalnya, dua anak muda Korea. Seperti banyak orang lain, mereka berangkat dari Saint-Jean-Pied-de-Port, melintasi berbagai kota di utara Spanyol, hingga akhirnya tiba di Santiago. Lebih dari satu bulan waktu yang mereka lalui untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka berhenti dan menginap di hostel-hostel peziarah. Harga per malam untuk peziarah lebih murah dibanding untuk turis lain. Selain itu, peziarah Camino memiliki semacam paspor yang diberi stempel setiap mereka melalui atau singgah di kota-kota penting.

Ada juga seorang pemuda yang terbang jauh dari Meksiko untuk menjalani Camino de Santiago. Ia datang sendirian, meski akhirnya sering bergabung bersama peziarah lain. Sama seperti dua orang Korea tadi, dia memulai dari Prancis. Sementara itu, saya bertemu seorang kakek yang memulai dari Basque dan seorang bapak yang berjalan kaki dari Italia. Peziarah bisa memulai dari mana-mana, tapi tujuan akhirnya satu: Santiago de Compostela.

Peziarah ada dimana-mana di Santiago. Bahkan, di tengah-tengah kota ada Museum Perziarahan (Museum of Pilgrimage). Ketika saya berjalan-jalan gontai di kota, tak sulit melihat orang-orang dengan tas punggung besar, sepatu gunung, dan tongkat. Terlebih di dekat Katedral. Para peziarah itu duduk-duduk di pelataran atau berdiri merenungi akhir perjalanan mereka. Betis-betis mereka tampak bengkak, hasil dari berjalan kaki ratusan kilometer. Mengapa mereka mau berjalan begitu jauhnya dalam Camino de Santiago?

Motifnya bisa macam-macam. Pada mulanya, ini soal kepercayaan iman Katolik untuk meningkatkan spiritualitas rohani. Lambat laun ia berubah jadi bentuk turisme yang populer. Dua anak muda Korea yang saya temui di hostel contohnya. Mereka terpengaruh melakukan Camino karena iklan tv. Kata mereka, iklan-iklan yang mempromosikan Camino de Santiago cukup marak di Korea Selatan. Mereka berdua hanya segelintir dari banyak orang Korea lain yang terpikat.

Ketika saya tanya apakah mereka melakukan Camino karena kaitan dengan iman Katolik, mereka menggeleng kepala. Bagi mereka pribadi, ini tak ada sangkut pautnya dengan agama. Mereka tertarik pada Camino de Santiago karena pengalaman berbeda yang ditawarkannya. Ini semacam jalan-jalan versi slow, pelan dan tak terburu-buru. Dengan itu pula keduanya mengapresiasi cara orang-orang Katolik jaman dulu dalam berziarah. Lagi pula, untuk apa tergesa-gesa?

(Januari 2019)

P.S.: Ditulis untuk Kawruh.

Advertisements

Kesenduan Balkan

Apa yang telah diberikan revolusi? Entahlah. Orang-orang pada umumnya tak merasa mendapat apa-apa dari bergantinya sebuah orde. Yang diberikan revolusi, mungkin, hanyalah kesenduan yang baru. Toh, setidaknya kita tahu ada yang berubah. Ada alasan untuk bersyukur karena sebuah masa suram sudah berakhir. Dan kesuraman lain telah menanti di depan pintu. Yang kekal, pada akhirnya, adalah pencarian.

Ini adalah catatan yang berantakan dan berserakan tentang negeri-negeri sendu yang saya jumpai di Eropa yang bukan-barat, mencakup sebagian besar Semenanjung Balkan serta tanah-tanah lain di dekatnya. Negeri-negeri ini memberi saya berbagai hal yang melankolis dan puitis: ingatan tentang rumah, pelarian dari kemonotonan Barat, dan sejarah/mimpi yang tak mudah. Saya memulainya di Slovenia, lalu Romania, dan akhirnya Bosnia.

 

Suara dari bawah permukaan

Yang menuntun saya ke Slovenia adalah monumen France Preseren di pusat kota Ljubljana. “Bagaimana sebuah negara menaruh patung seorang penyair di tengah-tengah pusat kota ibukota-nya?” pikir saya. Pertanyaan semacam itu berujung pada perjalanan bus selama 22 jam, sebelum tiba pada pagi yang baru merekah di Ljubljana. Sepekan lamanya saya habiskan di negara pecahan Yugoslavia itu.

Slovenia menulis sendiri kemerdekaannya pada Juni 1991. Tapi tidak dengan mulus. Seperti Indonesia, negeri kecil di selatan Austria ini harus melewati perang pasca-deklarasi kemerdekaan. Sejarah mencatatnya sebagai Perang Sepuluh Hari. Inilah perang yang mengawali perang-perang lain di (bekas) wilayah Yugoslavia, seperti Kroasia dan Bosnia. Setelah menuntaskan revolusi yang berdarah itu, Slovenia beranjak meninggalkan sosialisme. Pada 2004, mereka resmi menjadi anggota Uni Eropa.

Apakah setelah itu keadaan membaik? Bisa iya, bisa tidak. Tapi, setidaknya menurut seorang ibu paruh baya asal Koper, situasi justru semakin payah. Saya menemuinya di stasiun kereta saat hendak bertolak dari Koper menuju Bled. Ia menuntun saya dalam rute yang rumit itu, karena ternyata saya harus naik bus dulu ke Divaca, lalu menyambung kereta ke Ljubljana, sebelum melompat ke bus tujuan Bled. Fyuh.

Kami duduk bersebrangan di gerbong kereta dan saling bercerita. Pada satu titik, kami membahas politik. Suaranya adalah suara orang-orang kebanyakan. Nada bicaranya terdengar sangat akrab. “Bagi orang-orang normal seperti saya, Uni Eropa itu omong kosong,” ujarnya ketus. Suaranya juga suara orang-orang yang telah dikecewakan revolusi. Katanya, ekonomi justru runtuh ketika Slovenia merdeka. Saat itu, ia kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan ekspor asal Prancis dan terpaksa menganggur selama tiga tahun.

Menurutnya, narasi tentang Slovenia sebagai negara hijau dan tenang cuma di permukaan. Di bawahnya, orang-orang bergelut dengan hidup yang tak mudah. Ceritanya melabrak persepsi saya tentang Slovenia yang asyik. Setelah bicara panjang lebar, saya dan ibu itu saling diam. Kami terbuai lamunan masing-masing. Saya menatap ke luar jendela dan kota-kota kecil yang terlewat. Perlahan, kereta tiba di Ljubljana. Saya dan ibu itu berpisah di sana.

DSC_1936 (2)

Yang tersisa dari revolusi

Saya selalu mengingat Bukares lewat punggung seorang gadis di 21 December 1989 Square dan penggalan puisi Rene Char: “gadis itu berjalan gegas / matahari terbenam di punggungnya” (diterjemahkan Mikael Johani).

Waktu itu, hari kian tua di sana. Free walking tour hampir usai dan pemandu berambut pink terus bicara tanpa jeda tentang revolusi. Saya membayangkan tank, demonstrasi, dan mahasiswa yang jengah oleh bajingan yang duduk di kursi penguasa. Di hari natal 1989, diktator Nicolae Ceausescu ditembak mati oleh regu penembak. Romania selesai menulis revolusinya. Dan alun-alun di depan Universitas Bukares jadi pengingat.

Hari itu, hari pertama Agustus, matahari tampak sedang ganas-ganasnya di Balkan. Saya baru saja menyeberang dari Varna di Bulgaria, melintasi pos perbatasan yang sedih, dan tiba di Bukares pada siang yang super terik. Teduh pohon membuat kota tersingkir. Dan sepotong puisi menguar begitu saja: pada Bukares 31 derajat / aku menjelma Jakarta / yang pucat dan merambat / mencari jeda. Kemudian matahari redup sedikit.

Romania mungkin semacam hibrida. Italia dan Prancis bercampur, lebur jadi bahasa. “Merci”, ucap saya setelah menukar leva dengan leu. Di sana, identitas dan kebudayaan tak pernah hitam-putih. Terbentur, terbentur, terbentuk. Mungkin Tan benar. Atau, mungkin memang seperti itulah realitas di dunia yang bukan Eropa Barat dan Amerika Utara. Kita terpaksa menelan semuanya utuh-utuh, lalu memilih/milahnya secara organik.

Di kota, orang-orang Romania terus menekuk bibirnya. Seperti ada yang dirahasiakan. Juga gadis pemandu berambut merah muda. Ia tak banyak tersenyum. Gerombolan manusia memenuhi pusat kota dengan es krim di tangan, atau cocktail di atas meja, tapi tanpa senyum. Apa yang telah diberikan Ceausescu yang lekang hingga hari ini?

Dan, seperti itulah Bukares. Saya hanya singgah sementara di sana. Jadi, catatan ini mungkin gegabah. Mengutip kawan dari seorang kawan: “pejalan yang baik selalu bercerita dari mata kaki, dan dia memberikan definisi tentang tempat yang disinggahi dengan sembrono.” Esok harinya, saya menuju barat dengan kereta. Di Gara de Nord, perut saya merintih – entah karena croissant, atau kisah revolusi, atau orang-orang murung.

 

Sebelum azan berkumandang

Malam tiba-tiba memanjang di Sarajevo. Kami bercengkrama di dapur hostel, menghabiskan spaghetti yang tersisa, dan akhirnya menyadari keragaman itu. Enam pejalan dari enam negara yang berbeda datang sendirian ke Sarajevo dan dipertemukan ruang-waktu yang sama. Kami merayakan impromptu itu dengan bir. Memulainya di hostel, beranjak ke Irish Pub, lalu bergerak ke pub lain yang lebih lokal dan artisanal.

Di pub lokal itulah kami bertemu seorang pria paruh baya yang mengelola tempat itu. Dari belakang meja bar, ia bicara banyak hal tentang kota yang dicintainya: Sarajevo yang malang. Kota ini dicatat di buku-buku sejarah sebagai pelatuk yang memicu Perang Dunia I. Pada suatu siang musim panas 1914, Franz Ferdinand ditembak mati di dekat Latin Bridge. Perang berkecamuk setelahnya. Sejak itu, Sarajevo seperti lekat dengan tragedi.

Pria itu menuturkan ulang kisah-kisah dari masa lalu. Ia bicara tentang Perang Bosnia, Olimpiade Musim Dingin 1984, Bono, Festival Film Sarajevo, dan hal-hal lain. Rupanya, ia tampil di Olimpiade sebagai atlet bobsleigh. Itu jauh sebelum perang meletus di Bosnia dan menelan ratusan ribu nyawa. Jauh sebelum Bono tiba di Sarajevo pada masa perang, menyanyikan lagunya di sebuah bar, lalu kembali ke sana setelah perang untuk berkonser. Jauh sebelum Festival Film Sarajevo dihelat pertama kali pada 1995, saat perang masih melanda.

Yang membuat saya takjub: pria itu baru saja membagi cerita pribadinya tentang perang tapi dengan senyum di bibir. Kata-katanya keluar tanpa bergetar. Ia seperti menceritakan hal yang sehari-hari tentang sesuatu yang di media disebut sebagai ‘genosida’. “Apakah ada trauma atau dendam yang tersisa?” tanya saya, memberanikan diri. Saya takkan lupa kata-katanya. “Perang sudah berakhir dan kita harus terus melanjutkan hidup. Dan kita hanya bisa melakukannya jika kita memaafkan. Saya telah memaafkan perang itu,” tukasnya.

Kepala saya pening, entah karena Sarajevsko atau kata-kata bapak tadi. Bagaimana caranya seseorang memaafkan perang? Entahlah. Kami berpamitan dengan pelukan. Setelah itu malam menutup dirinya sendiri di Sarajevo. Ketika saya melompat ke kasur, azan subuh berkumandang dan memenuhi udara. Membuat saya rindu rumah.

(Maret 2019)

Calvin Stengs dkk.

12 November 2016. Musim sudah begitu dingin di Wageningen. Saya menyiapkan sarung tangan, kupluk, dan perlengkapan lain untuk melawan udara yang dingin. Hari itu temperatur tak pernah lebih dari 5 derajat. Dari kamar di Haarweg, saya bersepeda melewati jalan-jalan kecil nan sepi, melalui banyak peternakan, sebelum tiba di Veenendaal setelah lebih dari 12 km mengayuh.

Itu akhir pekan. Dan artinya sepak bola. Saya ke Veenendaal untuk itu. GVVV Veenendaal berhadapan dengan Jong AZ Alkmaar dalam lanjutan Tweede Divisie. Di tribun, saya tak sendirian kedinginan. Bapak, ibu, pemuda, pemudi, dan anak-anak, semua tampak menggigil. Tangan selalu ada di kantung jaket. Syal rapat melindungi leher dan kupluk menutup telinga. Semua siap.

Di lapangan, situasi berjalan payah bagi GVVV. Sempat unggul lebih dulu, tuan rumah menyerah 1-4 dari Jong AZ. Tak ada yang terlalu spesial di lapangan hari itu, kecuali satu pemain yang menarik perhatian saya sejak pertama kali bola berada di kakinya.

Namanya Calvin Stengs, dengan nomor 34 di punggungnya. Larinya kencang di sisi kanan penyerangan Jong AZ. Akselerasinya merepotkan pertahanan GVVV. Satu gol ia sumbang di laga itu, dan gol terakhir tak lepas dari key pass-nya. Tapi, terlepas dari semua catatan itu, pergerakannya yang membuat saya terpikat sejak awal. “Suatu hari dia akan jadi pemain besar,” pikir saya dalam hati.

12 Mei 2019. Saya menonton streaming laga antara AZ Alkmaar dan PSV Eindhoven. Selain Ajax vs Utrecht, laga itu akan menentukan juara Eredivisie tahun ini. Di lapangan, pemain nomor 7 tampak familiar. Lalu, komentator menyebut namanya: Stengs.

Seketika saya mengingat siang yang dingin di Veenendaal itu. Stengs telah beranjak dari Jong AZ ke tim senior. Pelan-pelan ia memantapkan posisinya di AZ. Ia naik tingkat ke tim utama sejak musim lalu, namun baru pada musim 2018-19 namanya sering menghiasi susunan pemain AZ. Terhitung 20 kali ia tampil di Eredivisie, 19 di antaranya sebagai starter. Tiga gol dihasilkannya. Mungkin, beberapa tahun lagi, tebakan saya di Veenendaal bukan sekadar bualan belaka.

DSC_0685

Stengs-Stengs lain

Saya memang punya kebiasaan seperti itu: menonton seorang pemain untuk kali pertama, langsung terpikat, lalu menebak ia akan jadi pemain besar. Stengs bukan yang pertama. Beberapa di antaranya jadi kenyataan, tapi ada pula yang malah mandek kariernya. Namanya juga manusia, cuma bisa menebak-nebak.

Fredy Guarin, misalnya. Saya lupa kapan dan pada laga apa pertama kali menyaksikan Guarin lewat tv. Saat itu ia masih di FC Porto. Di lapangan tengah, ia berlari tanpa lelah dari satu kotak ke kotak lain, dengan atau tanpa bola. Saat itu ia belum dikenal banyak orang, tapi saya yakin ia ditakdirkan untuk klub yang lebih besar. Inter Milan akhirnya merekrutnya, tapi rasanya cukup sampai di situ ‘puncak’ karier Guarin.

Terkait Inter, ada satu pemain lagi: Mathias Ezequiel Schelotto. Awal 2013 silam, saya sempat menulis tentang Schelotto dan membandingkan dia dengan Mauro Camoranesi, legenda Juventus. Secara fisik, keduanya mirip: awak yang kurus dan rambut gondrong. Keduanya juga sama dalam hal posisi (gelandang kanan), negara kelahiran (Argentina), dan tim nasional (Italia – karena punya dua kewarganegaraan).  Schelotto mulai melesat bersama Cesena, tapi di Atalanta-lah saya “mengendus” bakatnya. Ia lalu dipanggil ke timnas Italia (meski hanya sempat bermain selama empat menit di laga persahabatan). Saya pikir ia akan jadi Camoranesi jilid dua. Tapi, setelah pindah ke Inter, kariernya justru perlahan redup.

Cukup sudah yang sendu-sendu. Dua nama terakhir harusnya (akan) lebih benderang. Pertama, Willian kala masih berkostum Shakhtar Donetsk. Skuat Shakhtar saat itu diisi Fernandinho, Douglas Costa, Henrikh Mkhitaryan, dan Luiz Adriano. Bahkan, bersama nama-nama itu, Willian tampak begitu menonjol. Liukan-liukannya meyakinkan saya bahwa dia terlalu besar untuk Shakhtar. Benar saja. Setelah transit sebentar di Anzhi, Willian berlabuh di Chelsea hingga kini dan bakatnya tak kunjung padam.

Yang terakhir, Frenkie De Jong. Saya pertama kali sadar oleh bakat besar Frenkie saat menonton langsung laga ADO Den Haag versus Ajax, September 2017. Ajax tampil biasa saja siang itu dan akhirnya pulang dengan satu poin. Tapi, pendar sinar Frenkie sudah terlihat di sana. Ia bermain di “posisi Pirlo” dan dari sana ia mengalirkan bola ke rekan-rekannya. Saya menonton bersama teman dan ia juga sadar. “Siapa pemain nomor 21, Tor?” tanyanya. Musim ini, kita semua tahu siapa Frenkie.

(Mei 2019)

Masa Lalu

Banyak hal yang sudah selesai. Seperti masa lalu. Kita bisa saja menggambarnya ulang di dalam kepala, tapi itu hanya berhenti di situ saja. Yang berlalu telah berlalu. Kadang ia berupa nostalgi, kadang ia berupa pesan dari jauh. Kadang ia berupa bukan apa-apa – hanya sekadar lamunan di tengah malam yang kosong, saat kantuk tak jelang tiba.

Yang menarik adalah berubahnya nuansa. Mulanya memori masa lalu lebih berupa nostalgia yang elegis, tentang sesuatu yang sudah berakhir dan tak ada lagi di sini hari ini. Kita terus mengunyahnya dengan pasrah. Hingga, lambat laun, elegi itu berganti dengan perasaan kangen yang dewasa, yang tak mendamba yang lalu untuk terjadi lagi.

Mungkinkah kita tumbuh dewasa dengan cara seperti ini? Dengan membiarkan masa-masa yang sudah lewat – beserta kenangan tentangnya – mengajari kita perlahan tentang arti kehilangan, menerima, menyintas, dan pasrah? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau mungkin kita hanya terlampau kesepian di dunia yang hiruk pikuk ini.

***

Kota-kota melintasi kepala seperti rangkaian kereta yang berderap di punggung gunung. Satu per satu muncul di hadapan, tapi terlalu segera. Sepersekian detik hilang, berganti dengan yang lain. Begitu terus, hingga tiba-tiba kantuk datang dan lelap membunuh kereta-kereta imajiner itu. Menyudahi kota-kota yang berlarian liar di kepala.

Juga manusia-manusia. Kita berbagi spasi dengan yang lain. Dan dari spasi yang dibagi-bagi itu, cerita mengalir, terpotong-potong menjadi puzzle yang melengkapi keutuhan fragmen. Seringkali, kota tak ada artinya tanpa orang-orang di dalamnya, dimana kita berbagi waktu dan ruang dengan kerinduan masing-masing akan rumah.

Rumah. Dimana rumah? Kita pergi dari rumah, mencari rumah, mendapat rumah, mendamba rumah, kehilangan rumah, merindu rumah. Rumah, akhirnya, bukanlah kediaman. Atau tempat yang ajeg. Ia hanyalah alasan kita untuk bergerak, untuk selalu pulang, untuk selalu mencari yang bukan di sini hari ini. Untuk tersesat sekali lagi.

***

Kepingan-kepingan itu lalu berjejalan. Kadang kita harus melukiskannya, entah lewat kata-kata atau gambar. Tapi, lebih sering, kita membiarkannya hanyut entah kemana. Karena – bukan apa-apa – kita tak sanggup untuk bergerak. Kita pasrah diam mendapati takdir yang pilu ini, yang berwujud ingatan-ingatan dari masa yang lalu.

Lalu, apakah kita harus melawannya? Saya rasa tidak. Yang lalu akan selalu datang sebagai bayangan. Kita tak perlu cemas, karena ia sudah datang berkali-kali dan semua toh baik-baik saja. Justru, semua itu tanda yang asyik bahwa kita telah melalui waktu-waktu yang berharga. Senang dan sedih itu niscaya, berharga itu soal memilih.

Jadi begitu. Ketika nostalgia masa lalu menerkam, sebaiknya kita bernafas dengan tenang. Dan menutup mata. Dan kereta-kereta itu melintasi neuron-neuron yang menghubungkan hari-hari yang berjarak, kota-kota yang berjauhan, dan manusia-manusia yang terpisah. Bersama nostalgia, kita tak akan pernah benar-benar kesepian.

(Depok, 5 Mei 2019)

Posted in ide

Ode untuk Masa Depan

Jadi begini saja.

Berikan aku kuas dan pastel warna-warni supaya aku bisa melukis hari depan dengan sembarang. Di kanvas, aku akan melukis mukamu, matamu, dan bibirmu yang tersenyum di balik americano. Lalu jendela di belakangmu mengarah ke timur. Matahari ada di barat, dan oranye menyebar jadi siluet yang seluruh.

Jadi kau duduk di dekat jendela, pada sebuah senja.

Dan aku dimana? Aku melukis tahun-tahun yang akan datang dengan sembarang. Tapi tidak juga ah. Kata-kata memberiku makna pada titik, garis, dan ruang. Dan aku mengisi kanvas putih kosong tidak dengan ide yang percis, tapi dengan harapan. Juga kemampuan menerka pagi. Tak ada yang pasti, kecuali jawaban yang sementara.

Jadi begini sajalah, kita ini sementara.

Aku duduk di kursi dan memandang matamu yang lurus menatap mataku. Dan rambutmu yang terurai sebahu, dan bibirmu yang bicara tentang kota-kota. Momen itu selalu sementara. Kau dan aku hanya sementara di sini, berbagi bulan-bulan yang melelahkan di internet dan Cikini. Dan aku ingin sementara bersamamu selamanya.

Jadi, apa yang akan diberikan esok?

Mungkin sepotong roti rasa markisa, atau sirup rasa ketiak. Kita mendamba cabernet sauvignon, tapi untuk apa anggur merah tanpa gairah. Di situ, aku mencari nada-nada tua yang kusimpan entah dimana. Dan aku ingin menyanyikannya persis di kupingmu. Dengan merdu. Dengan sendu. Dengan rindu yang selalu rindu.

Jadi, aku menangisi masa depan.

Terduduklah kita di bukit yang pendek. Pada sebuah musim yang cerah, bunga-bunga mekar dan burung-burung terbang riang. Kita menjadi tua begitu saja tanpa aba-aba. Dan aku melalui semua dengan bayangan yang samar. Mungkin kau juga. Tapi, toh, tangan kita bergandengan. Berjalan pelan-pelan melalui samar yang (tak) asing itu.

(Depok, 30 April 2019)

Last Trains

The rain fell in Gondangdia. I was running to get the last train to Depok. The station was so serene and nice in the midnight. Last train, last people from the suburbs. I sat on the seat in the corner… and fell asleep.

I was dreaming about my last trains in The Netherlands.

In my second last night there, I catch the last train from Amstel to Ede-Wageningen. It was the goodbye, so don’t blame me. I arrived in Dijkgraaf with a little funny shock in 2A. I ate the left-over cake before sleeping.

Months before, I had a late flight from Bari to Maastricht. To go to Wageningen was a mess as the railways somewhere between Maastricht and Eindhoven were under maintainance. I had to pass some unusual route, before reaching Nijmegen, and catched a very late train to Ede-Wageningen. No bus 88 anymore, so I took the OV-fiets (rented the bike) and cycled to Wageningen. It was at 2 am.

There were more last trains I took to Ede-Wageningen. For instance, the one from Arnhem, when I had a long trip from Bayreuth to Dusseldorf to Arnhem by the combination of German Flixbus and DB Bahn.

Also, the one from Deventer. It was after the Friday football match of Eerstedivisie. Go Ahead Eagles was defeated at home by FC Eindhoven. It was a pathetic scene in the tribune. I walked from the stadium to the station, felt so hungry, and took the frikandel at Albert Heijn (along with a can of Hertog Jan).

And other last trains. I might not remember them all. But, I know there are always the last ones waiting for me to go home.

Prabowo, Juventus, dan Hal-hal yang Harus Dilepaskan

“Daripada kau hanyut tersiksa batin,

mendingan kau lepas dan terbang bersama angin.”

 

Ketika bapak meninggal, saya perlu waktu lama untuk mencernanya. Saya terbiasa pelan-pelan melumat perasaan. Hingga saya bisa memahaminya dengan utuh. Proses yang mungkin panjang itu, setelah dipikir-pikir, amat berharga. Saya membiarkan waktu menuntaskan adagium itu: only time will heal.

Dalam proses itu, penggalan lirik lagu dari Steven & Coconut Treez di atas menjadi monumen personal. Suatu waktu saya tengah buang air besar dan terngiang lirik itu di telinga, lalu menyanyikannya. Setelahnya saya cebok, membersihkan sisa tai di pantat, dan melepaskan kesedihan yang lama melumat saya.

Melepaskan. Itu kuncinya. Hermann Hesse merangkumnya dengan indah: Some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go. 

***

Saya berangkat dari Way Huwi menuju Bakauheni kira-kira jam 12 siang, dan baru tiba di Depok pada 10 malam. Jalanan macet Jakarta, satu hari sebelum Pemilu, membuat saya cepat-cepat merindukan Sumatra yang lengang. Kelelahan menghantam saya, dan saya harus bangun subuh nanti untuk sepak bola.

Juventus vs Ajax, leg kedua perempat final Liga Champions. Saya bangun jam 1.45 pagi dengan lelah yang masih tersisa. Lalu saya menikmati sepak bola yang mengecewakan. Sekali lagi Juventus menjauhi piala yang paling diidam-idamkannya. Cristiano Ronaldo gagal membawa sihirnya ke Torino tahun ini. Merda!

Saya pikir Juventus bisa juara tahun ini. Selalu seperti ini setiap musimnya. Dua tahun lalu, saya mematikan tv saat Real Madrid mencetak gol keempatnya di final tahun itu. Tahun lalu, di Dijkgraaf, saya patah hati melihat Juventus ditendang keluar secara paksa oleh kontroversi kartu merah Gianlugi Buffon.

Seharusnya saya bisa lebih ikhlas menerima realita pahit yang selalu datang tiap tahunnya. Setelah final 2017, saya sebenarnya telah melepaskan ambisi itu. Saya tak lagi bercita-cita melihat Juventus memenangi Liga Champions. Tapi, saya selalu jatuh ke lubang yang sama. Melepaskan itu tak selalu mudah.

***

Saya mematikan tv sebelum menit ke-90 dan melanjutkan tidur. Di pagi hari, saya bangun dengan badan yang masih capek. Pemilu sedang berlangsung dan saya tak berminat mencoblos. Tapi, siangnya, saya mengikuti proses quick count. Oh Prabowo Subianto yang malang, kenapa kau tak berhenti saja?

Kita tahu Prabowo cuma manusia biasa. Seperti saya, dan banyak orang lain, ia seringkali kesulitan melepaskan hal-hal yang bukan takdirnya.

Saya telah belajar menyadari bahwa Juventus memang bukan ditakdirkan untuk Liga Champions. Ada hal-hal yang tak bisa kita interupsi, entah oleh wasit atau Cristiano Ronaldo. Prabowo sebaiknya juga begitu. Kita mesti sama-sama belajar untuk melepaskan. Meski, pada akhirnya, itu takkan mudah.

Musim depan, mungkin saja, saya akan kembali berharap Juventus memenangi Liga Champions. Persis seperti seseorang yang tak pernah belajar dari kekecewaan. Lima tahun lagi, Prabowo mungkin akan kembali lagi ke mimbar debat capres. Dia mungkin kalah lagi, tapi tak masalah. Namanya juga manusia.

 

Wageningse Blues

Selalu ada masa-masa seperti ini. Saat Wageningen menjelma rindu yang pelik.

Saya bangun pagi dengan tik-tok jam yang sunyi, yang membuat saya mengingat hari-hari ketika pertama kali pulang ke rumah, setelah dua tahun yang gegas di utara. Jam itu, lalu bunyi dentingnya setiap menit ke-00, entah bagaimana, memberi saya nostalgi tentang Wageningen yang murung.

Lalu saya menyeduh kopi. Dan mengingat Vonnegut. Dan mengingat ibu-nya Agata. Dan mengingat Brno. Lalu perlahan Eropa menyusun ulang dirinya di benak saya dengan fragmen-fragmen yang tak beraturan. Padova di musim panas, Zwolle di kejenuhan tesis, dan bangunan-bangunan reot di Belgrade.

Saya naik ke atas, mencoba mencari arti dari sebuah hari. Lalu membuka laptop, masuk ke Facebook, dan menemukan foto-foto Nederrijn dari posting seorang kawan yang masih belajar di Wageningen. Tempat favorit saya di seantero kota (ngomong-ngomong, saya merinding ketika menulis ini).

Setelahnya, jalur-jalur sepeda di kota itu masuk ke kepala. Saya membayangkan diri duduk di sadel dan melewati manusia-manusia yang tak dikejar apa-apa. Hidup, pada akhirnya, adalah tentang berjalan melewati sore yang menua. Kita tak perlu tergesa-gesa, karena toh sunset akan tiba pada waktunya.

Sperziebonen

I have been back to Indonesia for some weeks when I suddenly missed cooking. In Wageningen, I always cooked for myself. But, here, in my home, kitchen is the territory of mom and grandma. Others can only enter as passers-by. I usually only cooked when both were away. Yet, that evening I felt the melancholic desire of preparing my own food.

(Or, perhaps, I just missed the north.)

I wanted to cook the recipe I ‘found’ in Holland. A messy mix of buncis/sperziebonen and tempeh. There was tempeh in refrigerator, but not the former. So, I had to go to Pasar Kemiri to buy some. Just five minutes away.

Buncis/sperziebonen is my favorite kind of veggie. I liked to mix it with many things: tempeh, tofu, tauge (bean sprouts), chicken, pork, egg, et cetera. In supermarkets in Wageningen, I always knew where the sperziebonen were. I also like to say that Dutch word: sperziebonen. I love the foreign feeling in spelling it.

When I arrived in Pasar Kemiri, I looked around. Sperziebonen were everywhere. There were many sellers and each seemed selling my favorite. “Buncis om,” I said to one seller, the closest from where I parked my motorcycle. I have that habit of calling strangers who sell something by om (uncle) or tante (aunt). Both words come from Dutch language. However, it will make no sense for Dutch to call strangers-sellers by familial call of om/tante. We absorb and make them ours. Unlike my sperziebonen.

“Berapa (how much)?” the seller asked. “Setengah (half),” I replied. I love this simple language of traditional markets. It is like possessing a secret language. My seller knew what I (and other buyers) meant by ‘half’. He started putting handful of buncis into the scale, making sure that the weight was half of kilogram. Slowly, he put my buncis in a plastic bag. All of those he did without saying a thing.

“Berapa (how much)?” I asked. “Delapan ribu (eight thousand),” he replied. I opened my wallet and gave him ten thousand rupiah. He gave me the change of two thousand. I thanked (“makasih om”) him and he thanked me back (“sama-sama”). The transaction was over in one blink of eye. Without Western-style formal greetings of “how are you”, “good evening”, or “good bye”. Without Dutch ‘tot ziens’.

I went back home and cooked my lekker sperziebonen.