Amstel

Kita berjalan di sepanjang Amstel, pada hari Minggu yang cerah di Amsterdam. Setelah menyesap Grolsch dan jus di rooftop Volkshotel, seraya mengunyah kalimat-kalimat elegis tentang keluarga, masa depan, dan peliknya menjadi anarko. Kita kehilangan banyak waktu dan kita mengejarnya. Tapi kita kelelahan.

Waktu memang jahanam, kata Silampukau, band asal Surabaya. Dan aku menelannya utuh-utuh saat kita berjalan melewati gang-gang sempit di sekitar sungai. Dan kau bawa diriku ke Massimo, “kedai es krim paling enak di Amsterdam”. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi yang jelas bibir kita belepotan di depan kedai, sambil menikmati kerumunan manusia yang menikmati akhir pekan yang asyik di kota.

Lalu kita bicara soal Italia. Kau soal Toscana, aku soal Umbria. Kita menyusun puzzle-puzzle yang menyusun imajinasi tentang sebuah negara di selatan, yang kita cintai dengan alasan dan retorika masing-masing. Aku calcio, kau bukit-bukit sunyi di Toscana. Tapi tentu saja Italia lebih dari itu. Ia rumit. Seperti kita.

Kau harus pulang dan mengayuh sepeda ke dekat pusat kota. Movie night. Kita berjalan melewati sebuah gedung jelek di pojok, sepertinya bekas gereja. Lalu bangunan-bangunan kecil, beberapa tampak miring. Dan kita berpegangan tangan sejenak di pinggir Amstel. Dan tertawa. Dan tersenyum. Dan aku (mungkin juga kau) akan mengingat senyum itu sebagai melankoli yang tak selesai.

Advertisements

jumat malam

Mari kita membayangkan jumat malam di sana.

Wageningen, pada sebuah malam 5 derajat di musim gugur. Ku duduk menghadap laptop, menyerong ke arah lukisan Buddha abu-abu di tembok biru laut. Aku dan Buddha berbagi kesunyian di Dijkgraaf.

Tak tik tak tik. Microsoft word terus berpacu. Seperti mesin ide. Jari-jari menari di keyboard. Seperti balerina. Puisi, tesis, dan omong kosong lainnya berjejalan di dokumen. Oh Wageningen yang melankolis, beri aku sepotong sunyi dari utara? Di sini, raung motor dan klakson-klakson menjadi koor yang sumbang.

Ping. Pesan whatsapp masuk. Di grup MLE 2016 kita membahas party di Loburg. ‘Who’s going?’ tanya Simo. Lalu pesan pribadinya masuk. Lalu berjejalan teks-teks dalam bahasa Inggris. Dan seruan. Dan ajakan. Dan gurauan. Dan canda. Oh Emily yang malang, kenapa kita harus berpisah di umur yang menua?

Dan kupacu sepedaku ke centrum. Diska mengikuti dari belakang. Dengan bunyi bising dari ban belakang sepedanya. Angin menepuk-nepuk pipi. Sunyi menepuk-nepuk kalbu. Wageningen, kota seribu satu sunyi. ‘Tempat mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,’ banggaku selalu ke manusia-manusia Randstad.

Setelahnya adalah euforia. Centrum menjelma lantai dansa. Dan bir-bir tumpah ke lantai. Kita menari sampai pagi di gelap yang kian beku. Botol-botol wine berpindah tangan. Dan kita bicara tentang nonsens di luar Loburg, atau di gang-gang sempit di Kerkstraat atau Kapelstraat. Sampai lelah menjelang.

Jelang pagi, berhamburan kita ke parkiran. Mencari sepeda masing-masing dengan kantuk di mata, dengan beban di kepala. Dan mulut yang terus melantur tentang dosen, harga pasta di Jumbo, atau puisi dari Persia. Lalu kita memecah malam dengan berteriak-teriak di atas sadel sepeda. Ciao ciao.

Bari

Saya tiba di Bari, pada suatu sore musim panas yang cerah. Saya tiba dari Napoli, menumpang bus yang melewati lembah-lembah indah Basilicata. Beberapa hari setelahnya, di Wageningen, saya bilang ke Simone, asal Mestre: “if I were you, if I am able to speak Italian, I would stop in Basilicata.” Sayangnya tidak. Maka saya menuju Bari saja, kota nan sibuk di semenanjung Puglia.

Pertama kali saya kenal Bari lewat sepakbola. AS Bari, Cassano, San Nicola, dan detil-detil lain. Cassano sudah lama bermasalah dan redup sinarnya. Ia tak punya klub hari ini. Sedangkan, AS Bari tak ada lagi sejak 2014. Bangkrut. Penggantinya, FC Bari pun bangkrut tahun ini. Mulai musim ini, yang ada SSC Bari. Mereka diusir dari Serie B dan diharuskan memulai ulang segalanya di Serie D.

Toh, saya datang ke Bari bukan untuk sepakbola. Untuk pulang. Pesawat akan membawa saya terbang dari Bari menuju Maastricht. Setelah berpekan-pekan dipanggang musim panas Italia, saya ingin kembali ke utara. Bari adalah akhir kembara.

***

“Selamat datang,” ucap seorang perempuan paruh baya, ketika saya tiba di hostel di Corso Luigi di Savoia dan menunjukkan paspor saya. Saya kaget. Ia penduduk asli Bari, tapi lama tinggal di Middelburg, Belanda. Lalu, saya bilang bahwa saya kuliah di Wageningen. “Spreek je Nederlands?” tanyanya. Dia sempat pacaran dengan pria berdarah Indonesia. Lalu kami bicara soal rendang dan sambal.

Setelah itu, saya keluar hostel. Lapar. Maka, saya berakhir di restoran kebab dekat Universitas Aldo Moro. Satu keluarga India duduk di meja di depan saya. Dan saya menyantap nasi briyani. Segalanya terasa familiar, tapi juga tidak. Saya pergi dengan perut yang senang, dan berjalan-jalan sore tanpa arah.

Lama saya terduduk di taman depan universitas. Dan saya melumat senja yang sederhana di sana. Di tengah orang-orang biasa di hari yang biasa-biasa saja. Di kota yang biasa saja. Setelah Bologna, Firenze, dan Assisi, saya lelah dengan omong kosong manis ala Italia. Mungkin karena itu saya menyukai Bari. Karena ia tampak normal. “Bari doesn’t pretend, or try to be beautiful like other cities,” ucap saya pada Monica, beberapa pekan kemudian, sambil duduk di rumput Rijnveste.

Juga di Bari, menjadi coklat adalah normal. Bari adalah kota pelabuhan, jadi ia terbiasa dengan orang asing. Ferry dari/menuju Albania banyak di dermaga Bari. Beberapa juga terhubung dengan Kroasia. Di sepanjang jalan, orang India, Bangladesh, Arab, atau Afrika mudah ditemui. Dan orang-orang kulit putih juga tak canggung. Tak ada ketegangan di antara warna-warna kulit yang tak sama di sana.

***

Esoknya hari mendung. Saya terjebak di antara perasaan senang dan sedih, bersyukur dan sebal. Setelah hari-hari terik, langit abu-abu terasa menyenangkan. Tapi, Bari ada di pesisir. Jadi, harusnya menyenangkan pula bila merebahkan diri di pasir pantai, di bawah terik matari musim panas. Tapi tidak hari itu. Maka saya berjalan-jalan gontai sekenanya di centro storico, kota lama. Membuang waktu.

Stadio San Nicola terlalu jauh. “Dan sulit kesana,” kata gadis di belakang meja tourist information. Tapi tak sulit untuk menghabiskan waktu di kota normal seperti Bari. Kita hanya perlu berlagak menjadi orang biasa, berjalan-jalan di pedestrian, atau duduk di bangku kayu yang menghadap laut Adriatik. Lalu memesan espresso di siang hari, atau bir di sore hari, atau sepotong pizza di sela-sela keduanya.

Atau jogging di sepanjang garis pantai. Seperti yang saya lakukan sore itu. Saya mengajak teman satu dorm di hostel, cewek Australia yang manis. Tapi ia kelelahan. Ia baru tiba menyebrang dari Dubrovnik. Dia memilih yoga. Maka saya menguras keringat, menikmati Bari dari perspektif yang lain, dari kaki-kaki yang berlari, sambil melewati lalu-lalang manusia di senja yang menua.

post-wageningen’s first poem yeah!

In the night commuter train
I red Meki’s WE ARE NOWHERE AND IT’S WOW
It made me forgettin ‘bout headsets
Oh how human-sound relation is reinvented
By stupid/smart technologies

In between poems
Imaginaries of Wageningen came
Like a melancholia from the past
De Kater and Nederrijn
And the girls I met in the park

In the way to parking lot
I remembered Djuran
And our wishy-washy convo in Grand Café
“I do things slowly now. I learned it from you.”
Was it a compliment?

In the streets heading home
Meghann’s email appeared up front
Within a form of yellowed silhouette
She demanded my stories of settling back in
: Moile moile

In the lights of laptop screen
I see Christal smiling sadly
She’s getting period and jaded
Djakarta lyfe
Why don’t we escape, darlin?

(6-11-2018)

can i borrow your melancholia?

​I will borrow your melancholia as fuel for my own. So I can cry in the middle of the road. Between Stade and Rotterdam, I gazed at the window and looked for your whisper. But you’re not there to be heard or looked at. Instead I found my own reflection and imagination of days forgotten.

Distances are getting longer here. With despair, everything gets harder. Even in the sunny day such as today. This is one of my Eurorepan days where I beg for rain to fall. So I can please my melancholic desire. So I can join you in the club of sadness. But I keep thinking o​​f seas and skies in Siberut.

Perhaps I will come back with nothing, for nothing. It is like I am missing something. Not a reason to live, but a reason to laugh. Smiles are temporary and mechanical. While headache comes constantly like little rains in Dutch autumn. Should I bring you dead flowers from dead joys of mine?

I miss beers more than anything now. My feeling is floating nowhere. I would like to wander more in the forest of uncertainties. So I am certain that I am uncertain. Life is paradoxical and full of ambivalences. I have always been trying to celebrate it. But now I am lost in my own wild thoughts.

(Flixbus HH-Rott, 13.09.18)

mimpi-mimpi

“Every movement needs to pause at times.” (Paulo Coelho)

Bunga-bunga tidur
berserakan di halaman
mereka seperti fragmen-fragmen
yang tak beraturan
tapi menyiratkan pesan
atau mungkin tidak

Di atas kasur
air mata dan air mani bercampur
dalam cangkir suci perjamuan
kita menangis
kita bercinta
kita merayakan hidup
yang sementara ini

Mabuklah!

(Stade, 4 September 2018)

Isar

​In Isar. A tiny curly-haired girl is drawing in front of me in her tiny drawing book. She brought a set of animal dools. They are tiny like her. They are cute like her. She suddenly reminds me of my sister. The curly-haired girls always fascinate me, either little or bigger girls.

Near the banks, a woman puts on her bra. Before, she was naked on top. She has​​ nice solid breasts. Now she is lying on the water, looking at nowhere but the streams of water. The weather is lovely. Summer is almost over, so we must grasp it while it lasts.

Next to me, on the left, an old man has been reading a newspaper for almost an hour. He is sitting in portable chair. He seems swallowing every words in paper very carefully. Perhaps he reads about the place he has never been to. Or maybe about the city he was grown up in.

And here I am. Sitting in Isar, pondering about random stuffs. On overtouristic places. On traffic jam in Jakarta. I am thinking how modernity may have created us crowd-phobia. That we always expect our neighbors, either fellow car drivers or tourists, are not exist.

(Munchen, 19-08-2018)

Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.

Post-thesis raving

So, I have given you unnecessary rhetoric of having and not-having. The kisses were melted down and we were/are/will be split by oceans. It is always a mistake to (not) talk. I fall in love with words but they scare me. In such ambivalence of loving/avoiding, I try to position myself in the chaotic (un)desire to say things. I have many bad habits. Two of them are: talking with too brutal honesty, sometimes too gross; and not talking at all, leaving things unsaid. At the end of the day, I am not sure anymore whether they are bad or not. Parcels of life.

I have offered you fantasies and dreams. They were/are too often melancholic. I love sad things; I have said this, no? They are more real and I borrow realism as my own escapism from the world where the real meaning of ‘virtual’ is lost. I am hiding in the parties and celebrations, but I will be in front of the coffins. Death is beautiful and sacred; that’s what we believe in highlands of Toraja. So, I will only drink for glorious despair of life. I will leave all the nice things to others who can make sense more of wild laughter, crazy smiles, and stupid screams.

I have left you smiles, anyway, and dummy wisdoms from the South/North/West/East. When I talk things, most of them are in between too good and too bad. I have been trying to avoid adjectives. That is my newest (ontological) revolution. That is my everyday resistance (along with consumerism, of course). But, I speak up, you know? I like silence and uninterrupted serenity. Yet, I realize that I like them because I try to find words there. So, I can make beautiful sentences from my inner being; from the place where poetic tales/thoughts grow wildly.

(Wageningen, 13 Agustus 2018)