Ziarah

​Kita sebenernya sedang berziarah kan? Melewati kota-kota yang asing seperti masa lalu, menjadikannya kenangan, dan menggalinya beberapa tahun lagi.

Di Karlsruhe, aku mengingat musim gugur yang dingin, di tengah malam yang gigil. Menunggu bus menuju Arnhem: setelah Freiburg dan Colmar. Dan aku mengingatnya dengan detil. Potongan roti, pagar dekat halte, dan artwork di dalam hauptbahnhof.

Segalanya terasa seperti kemarin. Tapi sebenarnya tidak juga. Kita tahu ada yang melintas di tengah, di antara hari ini dan yang silam. Detik dan menit dan jam berloncatan, membentuk ribuan kejadian yang mungkin tak paralel sama sekali. Semuanya adalah fragmen.

Dan kita, juga waktu, hanyalah potongan-potongan kecil. Seperti sebuah puzzle, kita merangkai momen menjadi gambar. Tapi tak selalu berhasil. Ziarah-ziarah ini mungkin tak perlu bermakna, mungkin tak akan pernah utuh, dan mungkin dua puzzle yang tak sama. Tapi bukan berarti ia tak berarti.

Seperti halnya utopia yang tak pernah sia-sia, kita butuh berziarah. Kita perlu berkelana untuk merawat kewarasan di arus waktu yang melahap kita habis-habisan. Atau mungkin sebaliknya, untuk menjadi setara dengan jaman yang gila ini. Entahlah.

(Karlsruhe, 11 Agustus 2017
setelah kopi yang berlebihan)

Fragmen

Sore itu, kita bercerita tentang laki-laki yang menua di pinggiran sungai. Dia berjalan dengan kaki telanjang dan terrier coklat di sampingnya. Di wajahnya, kita membaca tahun-tahun yang mengapung, yang mengambang, serta yang setengah tuntas. Di matanya, kita melihat buku yang robek dan asap pabrik di kota yang menyedihkan. Kita melafalkan namanya dengan melodi yang terlampau liris.

Api unggun menikam malam yang tak terlalu gelap di musim yang menghangat. Lalu kita berciuman. Panjang dan mesra. Kita memberi nada pada jeda, kita memberi sunyi pada bunyi. Di bibirmu, aku seperti mendapati gereja abad pertengahan di kota yang tak pernah dibaca di peta. Dan aku ingin menyanyikan himne di telingamu. Lalu kita berciuman lagi sampai air sungai memercik menghantam ilalang.

Kereta melintasi desa-desa. Hutan-hutan itu tumbuh lagi. Aku mengingat musim gugur dengan kesedihan yang menggebu-gebu. Karena itu aku menyukai matamu yang sayu, yang sedih, yang mengandung seribu satu elegi. “Aku benci pujian,” katamu. Kita bicara dengan bahasa yang sama, sayang. Kita lari ke alkohol untuk bersedih. Kebahagiaan membuat kita curiga dan kita mencium hipokrisi di dalamnya.

Dan salju jatuh. Aku ingin kembali kesini pada Januari dan berselancar di es. Lalu kita akan terduduk dan membagi nafas yang sama. Potongan-potongan musik menjadi latar. Di atas meja, Cabarnet-Sauvignon terbuka begitu saja. Wanginya tak mengaur. Tapi ia akan busuk. Kita harus segera menghabiskannya sebelum ia menjadi mengerikan. Kita tak boleh berlama-lama larut dalam nostalgi. Kita harus mabuk.

Musim Panas

Adalah hari-hari yang pengap.

Di kelas, aku membayangkan bus kota di Blok M yang mengantre untuk keluar terminal. Dan aku mengendari mio merah menuju lapak buku bekas di basement. Tersesat aku di rak-rak, di wangi kertas-kertas yang kecoklatan. Disana, di tumpukan buku-buku itu, aku mencari kau yang bersembunyi entah dimana. Saat kalimat menjadi makna.

Adalah hari-hari yang terik.

Di jalan, aku membayangkan kereta di Stasiun Manggarai yang ganas. Orang-orang dengan kemeja dan keringat menggantung di dahi. Kita berebut spasi di dalam gerbong, kita mencari waktu yang dicuri dari kita setiap pagi. Saat alarm menjadi semacam ritual yang dipaksakan. Saat bangun pagi adalah kewajiban yang melelahkan.

Adalah hari-hari yang panas.

Di sungai, aku membayangkan ibuku. Mungkin dia sedang di taman depan rumah, menyiram bunga atau memotong daun yang sudah layu. Mungkin ia sedang pergi menengok adiyuswa yang sakit. Mungkin ia sedang membaca puisi bapak atau memasak kering kesukaanku. Mungkin ia sedang mengingatku yang entah dimana.

Adalah hari-hari yang lembab.

Di kamar, aku membayangkan Uti yang sedang menyeduh kopi di pagi hari. Menakar gula dengan perasaan dan mengaduknya dengan irama yang melankolis. Lalu ia akan solat saat senja, membentangkan sajadah dan menyebut namaku disana. Waktu kecil dulu, aku suka duduk di sampingnya saat solat. Saat agama tak dicampur politik.

Rijn Blues

nothing was blurred in the Rijn
neither fire nor sky
voice of yours filled the ears with melancholic rhythm
like a song from distant lands in the south
we kept talking on agony, on ballad, on brutality
the lives we live on is the broken ones since it began
but it was not an apathy that keeps fire burning
it was the archaic wisdom that fire will die someday

(21 Juni 2017)

Vilnius

Di Vilnius, saya bertemu seorang gadis Argentina yang manis di tengah-tengah balaikota, saat matahari sedang bersahabat. Kita bertukar senyuman dan saya memberinya kuesioner. Lalu kata-kata berpindah.

“Do you like Vilnius?” tanya saya.

“Yes. I like this city, because it is chaotic.”

Kita bicara dengan bahasa yang sama, bahasa yang diucap orang-orang dari selatan ketika membaca kota-kota Eropa. Eropa barat, bagi kita, adalah semacam struktur kaku yang rapi dan terlalu mekanikal. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, Amsterdam dan Milan terlampau menjemukan. Bangunan-bangunan yang serbatertata, jalanan yang supermulus, dan ritme hidup yang disebut “beradab” oleh banyak orang.

Tapi, kita tahu ada yang keliru. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, kita merindu yang chaotic, yang kacau, yang ribut, yang tak karuan, yang tak tertata, yang serbaberantakan. And we put value in chaos, because we find humanity in it.

Vilnius, bagi kita, terasa lebih humane. Kota-kota di barat sana terlalu palsu. Kita butuh yang dinamis. Dinamis yang sebenarnya, bukan yang diatur-atur negara atau walikota.

Maka, kita menikmati Vilnius seperti menikmati rumah, seperti menikmati Jakarta dan Buenos Aires. Tempat kita mengeluh setiap hari: mengutuk jalanan yang macet, atau kereta yang selalu sesak, atau pengemis di mana-mana, atau pemerintah yang tak becus mengurusi warga negara.

Di Vilnius, kita merindu itu semua seraya menemukan sudut pandang yang baru. Kita melihat dunia dengan cara yang tak sama lagi. Karena kita tumbuh di selatan, belajar di Wageningen dan Milan, lalu berkelana kemana-mana. Ke Vilnius atau kota-kota lain yang tak disebut sebagai “barat”.

Suatu hari nanti, kita akan pulang. Jakarta dan Buenos Aires akan menjadi jarak yang tak terkendali. Tapi kita tetap memelihara agama yang sama, kita masih bicara dengan bahasa yang sama. Kita adalah anak-anak selatan yang memahami bahwa khaos adalah manusiawi dan Barat adalah konstruk yang membosankan. Kita ingin hidup bebas di selatan, bukan menjadi neolib di utara sana.

Totti

Totti adalah (sebuah) Roma(n). Di hari Minggu kemarin, kita membacanya sebagai epilog. Bahwa waktu adalah gerak yang tak bisa dihadang. Kita boleh menulis roman seromantik apapun, tapi ujung akan selalu ada. Di Olimpico, Totti memberi kita air mata dan kenyataan itu. Kita larut dalam melonkolia bersama kota nan abadi.

Menjelang laga terakhir Totti, seorang teman asal Venezia berseloroh ringan. “Totti pensiun berarti kita benar-benar sudah tua,” ujarnya. Kita melewati masa kecil dengan Totti di televisi. Dan ia bertahan hingga kita melewati pubertas, masa remaja, dan pelan-pelan menua. Dan ia masih memakai seragam yang sama. Totti menjelma jadi nasihat: bahwa selalu ada yang berubah, bahwa selalu ada yang tidak berubah.

Kemarin, di Hollandseweg, saya berbincang dengan seorang gadis cantik dari Roma. Tentu saja, kita bicara soal Totti. Ia berkisah betapa linimasa Facebook-nya dipenuhi kata-kata manis untuk Totti. Semua temannya, entah perempuan atau laki-laki, mengumbar puisi untuk Sang Pangeran. Totti pergi dengan sajak nan harum.

Hari ini, di sela-sela kerja kelompok yang membosankan, saya menyetel video perpisahan Totti. Seorang teman asal Sardinia menerjemahkan beberapa kata dari Totti, saat ia memberi kata-kata terakhirnya di Olimpico. Lalu air mata tetes begitu saja. Setelahnya adalah nostalgia bercampur roman bercampur melankoli.

Kemarin dan hari ini, kita telah membaca Totti dengan romantisme yang berlarut-larut. Kita mengingat yang di belakang. Nostalgia menjebak kita. Juga kisah tentang betapa tengiknya sepakbola modern, saat Totti menjadi manifestasi terakhir dari antitesisnya. Dan waktu terus bergerak. Totti telah berakhir. Dan kita juga suatu nanti.

30°

Aku ingin meminjam matahari yang terbenam di pukul 10 dan menaruhnya di sudut meja. Agar aku terjaga terus, walau lejar menghantam sekujur tubuh. Keringat mengucur di hari-hari 30 derajat di musim semi yang menggairahkan. Di pantai Rijn, aku menikmati nyanyi tropikal di tengah negara yang tampak begitu suram sebelumnya.

Adalah Sumbawa. Adalah Sumba. Dari balik ranting-ranting, aku mengintip terik matahari pukul 4 sore. Anak-anak bermain bola di sungai dan aku rebah di dekat pohon. Beralas kaos bertulis Ljubljana dan sandal untuk bantal. Aku mengingat Bali-Lombok di tengah malam. Saat ferry melintasi selat dan membawaku tiba di Mataram pada pagi yang dini.

Di hutan kecil di tepi Rijn, aku mengingat tempat-tempat asing yang kulewati dahulu. Saat masa muda berupa perjalanan-perjalanan yang tak pernah terlalu direncanakan. Saat masa depan berupa kaleng bir kosong yang terlupakan begitu saja. Aku mengingat orangutan di Mentarang yang menghiasi pagi saat ku bermandian di air terjun Semolon.

Hari-hari ini begitu memilukan. Karena matahari membuatmu merindu rumah. Dan tanaman-tanaman yang ditanam ibuku di halaman. Waktu kecil dulu, aku suka menyapu daun-daun pohon nangka kami. Aku suka menyiram mawar atau membasahi rumput supaya ia tak mati. Di akhir Mei yang hangat, rumah menghiasi mimpi-mimpiku.

Setelah ini, aku harus membaca banyak. Mentawai kan menjelma pintu yang membawaku pulang. Aku kan menulis omong kosong untuk universitas dan Garuda mengantarku ke peluk ibu. Aku kan rebah di kamar dan bermalas-malasan di teras. Aku kan mengunjungi bapak dan memberinya cerita-cerita soal Eropa. Lalu aku kan  ke Mentawai.

Lalu Belanda lagi. Fyuh.

Oh journalism

It was a beautiful sunny afternoon in Nederrijn. And I miss journalism a lot. Oh the deadline, editorial meeting, and conference press.

It was a nice goodbye BBQ party in Droevendaal. And I was asked about going back to journalism. Oh life of mine, where are you heading to?

There were great great days in the field, in Karang Tengah, in Kebon Jeruk. And I am stuck here in the library that speaks nothing, but hypocrisy.

It was a pleasure to go back to university. And going somewhere out of Jakarta life. And, I believe nothing. Neither journalism nor academia. Nihilo.

Ahok

There are always those sad days. When life burned into ruptures.

Today was one of them. When you started morning with the disappointment, deep deep agony. It was like you lose hope of everything. It was a day when you stop believing in anything, not in democracy or post-democracy or whatever it is.

It was an exam. I did a lot of bullshit around many things: land tenure, biopower, politic of ontology, post-democracy, post-development, and bla bla.

But, there was one phrase which never failed to catch me every time: disavowal of antagonism. That we are, basically, created through antagonism, difference. It is through antagonism that we shape and reshape ourselves. We disavow antagonism too often, meaning we disavow the chance for egalitarianism too often.

It is what always happens, right? We have been trying too hard to become same, to become equal, but we will have never been. We are antagonistic. But, not in negative way. It is just the way things are. And we disavow it for so many times. Thus, we fail to grasp the essence. We believe we practice democracy well, but we are not.

Fuck everything.