Turin

Hari ini, ketika matahari pukul 11 jatuh di pintu, dan masuk perlahan ke sela-sela mata, saya tiba-tiba mengingat Turin. Terutama pada sebuah pagi, ketika saya bergegas keluar hostel untuk menulis tesis di salah satu bangunan kampus Politecnico di Torino.

Sebuah tram membawa saya ke sana. Dan keramaian yang tak biasa muncul pagi itu. Rupanya itu hari wisuda. Orang-orang berlalu-lalang dengan jas dan gaun yang necis. Di sela-sela mereka, saya menerabas koridor-koridor untuk mencari perpustakaan atau sala studio.

Tapi, itu pagi yang sibuk. Mungkin terlalu sibuk. Saya pergi ke kampus utama Politecnico untuk sedikit mengganti suasana dari perpustakaan di Parco del Valentino. Saya masuk ke sebuah perpustakaan, tapi sepertinya tidak ada tempat yang asyik untuk menulis.

Selama beberapa menit, saya kebingungan di kota yang asing itu, dengan bahasa-bahasa yang tak saya mengerti, dan orang-orang yang riuh bicara tentang entah apa. Akhirnya saya memutuskan kembali ke halte, untuk mencari tram menuju Parco del Valentino.

Saya tiba di perpustakaan agak telat dari hari biasanya. Saya mengambil tempat duduk biasa dan mulai mengetik. Seperti biasa, saat jam makan siang, saya akan keluar dan pergi ke pizzeria yang tak jauh dari sana. Atau, jika ingin sedikit boros, akan pergi ke restoran cina.

Sebelum kembali ke perpustakaan, saya akan mampir di kedai dekat pizzeria untuk memesan espresso, kadang cappuccino, untuk memberi energi bagi siang yang menjelang. Jika sedang ingin berhemat, saya akan menebus kopi dari mesin kopi di kampus, dekat toilet.

Pagi ini, ketika matahari jam 11 masuk ke dalam rumah, detail-detail Turin seperti menguar begitu saja. Membuat saya rindu berjalan-jalan di gang-gangnya, di taman-taman kotanya, atau duduk santai di tram sambil menikmati mimpi masa kecil saya menjadi nyata.

Di Pinggir Elbe

Ketika saya berkunjung ke Stade, tempat tante dan om saya, om sering membawa saya ke pinggir Elbe. Di sana, kami akan melihat sungai dari dermaga kecil. Jika beruntung, kapal-kapal raksasa lewat, dengan kontainer-kontainer sebesar rumah. Menuju Hamburg. Masuk dari Laut Utara.

Jika udara mendingin, kami akan masuk ke kafe kecil di pinggir Elbe itu, dan memesan bir apel atau bir apa pun. Stade adalah apel. Begitulah om-tante mengenalkan saya pada kota kecil itu. Di Eropa, mungkin itu kota kedua yang saya kenal dengan cukup baik setelah Wageningen.

Suatu waktu, di pinggir Elbe itu, saya dan tante berkendara ke sana. Hanya sekadar mencari angin. Musim sedang dingin kala itu. Kami hanya memarkir mobil, ia merokok, dan kami bicara tentang hal-hal yang di masa lalu dan depan. Setelah sepuntung atau dua, kami pulang.

Elbe tentu punya banyak pinggir. Tapi, pinggir yang satu itu terasa melankolis. Tak ada rumput atau pasir pantai. Hanya kapal-kapal jelek, yang kelelahan berlayar dari mungkin Rotterdam, menuju Hamburg, yang ketika langit sedang bersih, akan terlihat kerlip di timur.

Magic Bus

Bus ajaib itu dipindahkan dari Denali dengan helikopter. Seperti kabar dukacita yang ugahari.

Saya tumbuh melewati masa muda dengan imaji tentang Chris McCandless. Entah berapa catatan pendek dan panjang yang saya tulis soal Into the Wild dan McCandless.

Bapak saya punya buku versi Bahasa Indonesia-nya, yang saya lumat dengan nikmat. Beberapa tahun setelahnya, saya menemukan versi Bahasa Inggris-nya di toko buku impor di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, pada sebuah senja oranye yang membekas.

Saya lupa apakah saya baca buku itu dulu lalu nonton filmnya, atau sebaliknya. Tapi, saya ingat menikmati filmya dalam format VCD. Ketika kuliah, setiap kali akan berangkat jalan-jalan, saya akan sempatkan nonton film itu.

Entah sudah berapa kali saya menontonnya. Terakhir, saya menikmati film garapan Sean Penn itu sampai ketiduran di sebuah rumah di Breda, musim panas 2017. Saya masih menyimpan file digital film tahun 2007 itu di hard disk.

Saya tak tahu persis bagaimana saya bisa merasa terkait dengan kisah heroik/tragik McCandless. Mungkin karena Sean Penn piawai menyutradarai filmnya dan Jon Krakauer adalah jurnalis-penulis yang ulung?

Apa pun itu, saya seperti kenal McCandless dari dekat, dan memahami alasan-alasannya untuk pergi jauh dari masyarakatnya, dan tinggal di keliaran Alaska sendirian. Dengan pongah, ia bilang: “You don’t need human relationships to be happy, God has placed it all around us.”

Terlebih setelah membaca The Wild Truth, ditulis Carine McCandless, adiknya, kisah Chris terasa lebih utuh dari sebelumnya (meski saya turut menyadari segala bentuk komodifikasi lanjutan terhadap kesuksesan Into the Wild).

Saya meninggalkan buku itu pada sebuah rak di hostel di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, membayangkan pejalan lain mungkin akan melihat-lihat rak itu pada suatu nanti dan tertarik membacanya di perjalanannya sendiri.

Salah satu bagian penting dari cerita perjalanan McCandless adalah Bus 142 Fairbanks City Transit System. ‘Magic bus’, tulis Chris di catatan hariannya. (Menulis ini menyadarkan bahwa cara saya mencatat perjalanan dipengaruhi gaya mencatat Chris.)

Bus itu adalah semacam episenter dan penanda kisah McCandless. Setelah ia ditemukan mati, maka bus ajaib itu menjadi situs ziarah pengagum Chris.

Saya belum sempat berziarah ke sana, dan sebenarnya tak pernah berkeinginan secara serius. Tapi, ketika bus ajaib itu diangkut dengan helikopter dan dipindahkan ke tempat yang bukan tempat seharusnya, saya merasa tak ikhlas sedikit.

Seperti ada penanda yang dicerabut dari tanahnya, dari ceritanya, dan dari ingatan tentang sebuah pria yang tergolek mati di sana.

Post-scriptum: Ditulis 19 Juni 2020. Sebenarnya tulisan ini belum selesai ketika saya tinggalkan begitu saja, mungkin kehabisan mood nulis waktu itu. Saya biarkan apa adanya seperti ini, dalam keadaan hampir-selesai.

Perugia

Pagi yang terlalu pagi di Perugia. Saya tiba dari Siena, berhenti di Piazzale Umbria Jazz, lalu menumpang minimetro ke pusat kota.

Pagi yang terlalu pagi. Kota seperti sedang bersiap menyusun harinya sendiri. Gang-gang sempit di centro storico membuat saya tersasar sedikit. Mencari-cari hostel yang sempil di suatu sudut. Saya akan mengingat Perugia oleh gang-gangnya yang ajaib, yang membuat kita bertanya untuk apa jalan raya delapan jalur.

Terlalu pagi untuk check in. Maka saya duduk di dapur, memanaskan nasi biryani yang saya beli di Siena kemarin malam, sambil bercakap dengan satu-dua tamu yang menginap di sana. Sekadar hai-apa-kabar di pagi yang muda.

***

Perugia hari itu sedang bersiap untuk Umbria Jazz. Panggung-panggung yang sedang dibangun di dekat air mancur seperti menyiratkan bahwa sebuah pesta akan meledak di sana. Di luar sebuah gereja tua yang teduh. Dan, orang-orang seperti tengah bersiap untuk menikmati kota yang akan mabuk oleh jazz dan anggur.

Suasana festival tak bisa dielakkan di situ. Tapi, di saat yang sama, tak ada yang canggung. Haruskah sebuah pesta membuatmu tak biasa?

***

Saya menyingkir sejenak dari keriuhan pusat kota. Seperti di banyak kota Italia lain, saya mencari stadion. Perugia adalah AC Perugia. Renato Curi berdiri gagah di dekat Piazzale Umbria Jazz. Dan, seketika saya membayangkan Serse Cosmi, juga Materazzi, dan Ahn Jung-hwan yang malang. Memori-memori Liga Italia tempo dulu, yang berjejalan di kepala saya, seperti besi-besi yang menyusun rel panjang ke utara.

Setelah museum, saya mengelilingi Renato Curi satu kali. Sesekali mengintip ke dalam, mencoba mengais visual tentang bangku-bangku yang kosong, juga lapangan yang tak terurus di musim yang telah berakhir (dan urung dimulai). Tak ada siapa-siapa di sana. Saya hanya sendiri menikmati nostalgia masa kecil.

***

Piala Dunia 2018 memasuki babak akhir. Namun, televisi di hostel urung menyala, maka saya mesti mencari bar untuk nonton bareng. Layar-layar besar dipasang di kota, tapi eksklusif bagi tiap-tiap bar/restoran. Saya duduk di salah satunya, beratap langit, bersama riuh-rendah turis-turis lain yang siap melumat sepak bola.

Di dekat saya, dua orang gadis tampak tegang, dengan jersey kotak-kotak merah putih Kroasia. Keduanya tak terlalu banyak bicara. Mungkin karena turis-turis Inggris itu lebih berisik: beteriak, mengumpat, dan mungkin menangis. Di ujung malam, dua gadis Kroasia itu berdiri dan saling bersulang. Final, kata mereka.

Saya berjalan agak gontai menuju hostel, sambil mengingat bapak saya yang menggandrungi Kroasia di ’98. Davor Suker, dkk.

***

Umbria Jazz memberi alasan saya untuk memperpanjang durasi di Perugia. Saya mesti pindah hostel, kira-kira tiga-empat menit jalan kaki dari hostel pertama. Hostel kedua ini agak antik, dengan dapurnya yang lebar.

Di dapur itu saya mengobrol sekenanya dengan seorang Kiwi. “Saya hampir kuliah di Otago,” saya memulai bahasan. “Oh Otago, kota yang keren. Banyak pemabuk yang mengesankan disana,” kira-kira begitu jawabnya.

Juga, seorang pengelana klasik, yang konon pernah menyambangi Kalimantan dan Sulawesi. Hostel, pada akhirnya, adalah tempat dimana cerita-cerita berkelindan dengan fantasi, dan kita tak perlu tahu apa beda keduanya.

Hari itu adalah jazz. Saya berpindah-pindah panggung. Menikmati sore dengan suara sendu seorang gadis. Ia melantunkan jazz dengan melankoli yang sulit diutarakan, yang tanpa mengerti bahasa Italia pun kita bisa menangis karenanya.

***

Saya kembali ke hostel hampir tengah malam. Orang-orang masih berpesta-pora di pusat kota. Malam masih panjang bagi mereka.

Tapi saya mesti kembali, dan beristirahat barang sedikit. Esok hari saya akan turun lagi ke selatan, menumpang Blablacar seorang Neapolitan. Umbria, dengan bukit-bukitnya yang syahdu dan jazznya yang mabuk, telah berakhir.

Mongolians in Budapest

I was waiting. And waiting.

The bus had not arrived. Perhaps, the longest delay I got in Europe, or wherever. It was a Sunday summer afternoon in Budapest main bus station. I was waiting for a Flixbus that would bring me to Belgrade.

In the morning, I was checking out from a tiny hostel near the Liberty Bridge, and walking through the city center to go to metro station, while buying a red Che Guevara t-shirt on the way. I was ready to go to the south, to Serbia.

I arrived early, as usual. The bus had not arrived, and would not until 6 hours later. I was waiting and waiting. The SMS from Flixbus, at least, arrived. It said that the schedule was moved to 6 pm and we, the passengers, could only wait.

There were some passengers who hopelessly waited with me. But, in particular, I remember a middle-aged Mongolian couple, with their friendly, charismatic faces.

They were traveling through Europe, heading to Paris, if I remember well. But, their Schengen visa would expire tomorrow if they did not manage to exit Schengen area today. Borders are complicated, indeed, as a wise man never told.

They did not intend to go to Belgrade, or Serbia at large. They needed them only as a stamp in their passports, so they could be able to go to Western Europe tomorrow. All the roads lead to the west. What a postcolonial bullshit that is!

That was why the delay worried them most. They needed a stamp of that day’s date, not tomorrow’s. I guessed they were afraid the bus schedule would be delayed again, making them unable to cross the border before the midnight.

Amid the chaos, we managed to kill time by talking to each other. A group of strangers waiting for a delayed bus in a strange city, on a hot long summer day. Me, the Mongolians, two Italian girls, a Serbian, and few Hungarians.

“We, Mongolians, are nomads,” the husband said.

It was strange to hear the word ‘nomad’ came from a mouth of, perhaps, the nomad in  a classical sense. All this time, nomad was mostly used by urban or peri-urban travelers to explain their romanticism of wandering the strange lands.

Then, the couple put me in an imaginary Mongolian landscape. They talked about horses, sheep, yurt, ger, grass, and water, and how all of them knit the Mongolian nomadic lifestyle. There was nothing romantic about their story, though.

That lifestyle is what brought them to Budapest. They were traveling to embrace what they always do: moving between lands. But, this time with no yurt, no horse, huge luggage, and passports to be stamped at Hungarian-Serbian border.

Post-scriptum: Around 6, the bus finally came. We arrived at Belgrade at about 11. The Mongolian couple managed to have their passports stamped. They were heading to Paris tomorrow. Balkan, I guess, did not really interest them.

Seperti Sebuah Puisi

Pada sebuah puisi, aku mendapatimu duduk, termangu, dengan kelopak-kelopak bunga yang tercecer. Kota-kota luruh di rambutmu. Tembok dipenuhi cat-cat merah, seperti sebuah graffiti yang enggan memekik marah, yang urung menjadi gemuruh di jalan-jalan.

Sebuah puisi ditulis dengan sungai yang mengalir. Di sana, jeram-jeram saling melompat, membentuk semacam konjungtur yang berakhir di muara, dan terus menjadi kembara di laut yang entah menuju mana. Apakah kita perlu menulis eulogi untuk sungai, ketika kita tahu omega adalah narasi yang konseptual, tentang kita yang bosan pada konstan, yang enggan pada gairah/kelana/pemberontakan yang terus mengaduh? Seperti sebuah tanah yang tak pernah selesai.

Doa-doa yang dirapal di Santiago, atau di Sarajevo, ketika kaki-kakiku menginjak debu, atau bekas hujan semalam, adalah doa yang sederhana. Ia diucap dengan kau yang tak perlu apa-apa untuk menjadi apa. Di dadamu, jalanan lengang menuju nirwana, menuju kota di bukit. Setelah kelana yang payah, dengan makna-makna yang rontok, apakah sebuah akhir adalah bibirmu yang terkatup? Atau, perlukah sebuah matrimoni kugelar di matamu, sebelum mata hari terbit di sana?

Kau dan aku, kita, di jalanan masing-masing, goyah menerka ribut angin di kepala masing-masing. Kota-kota terlewat. Bibir berbagai bahasa. Omong kosong pop, Descartes, Marx. Veganisme barat, buddhisme barat, apa-apa barat. Kau dan aku, kita, di jalanan masing-masing mencoba menulis resep untuk hidup yang belum selesai. Akumulasi, kalkulasi, mimpi-mimpi ditenggak jadi nasi, nasi-nasi dilahap jadi basa-basi, basa-basi ditelan jadi akumulasi, kalkulasi.

Di situ ada yang urung diutarakan. Sebuah puisi yang lindap. Ia ditulis dengan gairah yang tinggal separuh, dan harapan yang seperempat. Retorikamu, retorikaku, semua tak berarti apa-apa di depan waktu. Waktuku, waktumu, semua jadi teka-teki tanpa klu, tanpa jawab. Teka-tekimu, teka-tekiku, semua bergerak ke kota yang tak lagi sama.

Di kota itu, tepat di jantungnya yang robek, anak-anak bermain riang. Seperti pagi musim semi pertama, ketika bunga-bunga mekar, ketika matahari hangat betul, ketika senyum-senyum terbit. Di sana tak ada translasi, analisis, atau konseptualisasi tentang menjadi ada. Menjadi kita adalah sebuah kota yang tak pernah selesai. Ia ditulis dengan puisi yang berisik, yang tak jelas bicara apa, bukan dengan teori-teori jauh tentang hal-hal yang tak ada di sini hari ini.

Godean, 23 Agustus 2020

Paranoia

Aku ingin menggambar paranoiamu di tembokku.
Jamur-jamur tembokku merayapinya.
Menjadi warna.
Menjadi warni.

Masker-masker bergantungan bergelayutan di jemuran.
Sebuah kota, 2020,
disusun oleh masker-masker.
Maskara tak ada arti lagi hari ini.

Di emberku, cucian mengepulkan asap.
Seperti tanda bahaya di sore yang janggal,
seperti kemah yang menyiratkan unggun.

Bagaimana caranya menenggak alkohol,
ketika bakteria-bakteria kosmopolit
mengkoloni tanganku,
menyabotase bibirku?

Adalah jarak.
Ketika ufuk jatuh di barat,
aku akan memberimu sepotong puisi yang koyak.
Dan kau ‘kan menelannya.
Utuh.

Amerika yang Malang

Amerika Serikat memasuki satu babak pedihnya lagi. Rasisme adalah kenyataan sehari-hari di sana, dan sesekali ia mencuat sebagai demonstrasi, protes, dan kerusuhan. Pembangkangan sipil adalah respons yang valid, terutama untuk negara yang dikendalikan oleh seorang pria kulit putih yang kurang ajar.

Membaca berita-berita tentang AS, saya jadi mengingat pagi kelabu itu. Pagi ketika Trump dinyatakan menang, dan diberikan kursi empuk di gedung putih.

Saya ingat masuk ke dapur komunal di tempat tinggal saya di Haarweg, untuk mengambil sesuatu di kulkas, mungkin susu atau roti. Seorang teman satu koridor duduk termenung di sofa, di depan televisi, wajahnya menyiratkan luka. Ia pria Belanda, kulit putih, asal Rotterdam. “Trump menang,” katanya dengan merengut.

Kami mengobrol sedikit soal bagaimana itu bisa terjadi, sistem pemilu yang rumit di AS, dan detil-detil subtil lain. Bagaimana seorang rasialis bisa memenangi pemilu di negara (yang katanya) paling adidaya di dunia adalah persoalan bersama. Dan saya mendapati itu di hari yang sulit itu: bahwa kita telah kalah.

Mood yang keruh di dapur pagi itu berlanjut di kampus. Hari itu, saya ada kelas metodologi di kampus Leeuwenborch. Masuk ke dalam kelas, suasana lebih sepi dari biasanya. Orang-orang tak banyak bicara pagi itu. Saya ingat seorang teman peranakan Prancis-AS melongok kosong ke arah jendela. Ia seperti mencari jawaban.

Saat jeda kuliah, kami perlahan mulai bicara sedikit demi sedikit, membahas soal pemilu yang mengecewakan di belahan dunia lain, serta membayangkan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi: perang, perubahan iklim, dan lain-lain. Percakapan itu terasa getir, ditambah melankoli musim gugur yang ada di luar jendela.

Begitulah rasanya menjadi kalah di musim gugur yang sendu. Langit kelabu, matahari sudah lama tidak muncul, rintik hujan menambah murung suasana, dan dingin menyeruak ke sela-sela tubuh. Tak ada suaka hari itu. Kita hanya dipaksa menikmati takdir yang pilu dengan seluruh. Langit masih abu-abu di luar.

Kantor

Kadang saya kangen ngantor. Datang paling pagi, lalu membuka jendela model lama yang lebar itu. Lalu saya menikmati matahari masuk ke ruangan.

Sambil menunggu laptop menyala, saya akan beranjak ke dispenser untuk minum sedikit, setelah 20 menit berkendara. Saya mengisi penuh botol dan membawanya ke meja. Lalu saya duduk dan mulai masuk ke Youtube. Menyetel musik syahdu untuk menemani pagi yang masih sunyi di kantor.

Matahari bersinar di balik punggung saya. Membuat ruang makin temaram. Pelan-pelan saya mengetik entah apa, atau kadang mengecek pekerjaan yang belum selesai kemarin. Kadang pula saya hanya duduk menonton highlight sepak bola akhir pekan, atau video-video kecil sambil mengumpulkan niat kerja.

Lalu, perlahan teman-teman seruangan datang. Ada yang membawa jajanan pasar. Ada yang membawa cerita kehujanan. Ada yang menanyakan ini itu. Sesi setelahnya adalah obrolan pagi, entah sampai kapan. Di situ gosip-gosip mengalir, juga keluh kesah rumah tangga, atau topik semi-serius soal penelitian.

Jam makan siang tiba. Satu per satu beranjak menuju kantin. Kadang sendiri, kadang dalam kelompok. Yang malas ya diam di meja dan meminta orang kantin mengantarkan makan. Kadang saya juga suka begitu, apalagi ketika matahari sedang terik-teriknya menghujam jalannan di sekitar Sekip.

Setelah makan siang adalah obrolan pasca-rehat. Kadang menyusul topik pagi hari, kadang topik baru. Biasanya, kantuk mulai pelan-pelan tiba di sana. Lalu saya akan pamit membikin kopi sebentar di ruang sebelah; lalu kembali dengan wangi arabika menguar ke seluruh ruangan. Nikmat bukan, ngopi?

Sambil ngopi saya kembali ke laptop. Mencoba menulis paper, atau membuat proposal riset, atau mengerjakan urusan jurusan. Pukul tiga sore, satu per satu pulang. Tergantung harinya, kadang saya juga ikutan pulang. Tapi, jika masih ingin santai, saya akan menunggu sedikit lebih lama. Pulang paling akhir.

Biasanya, jam empat ke atas suasana akan seperti pagi ketika orang-orang belum datang. Sepi. Jendela kadang saya buka untuk membiarkan matahari sore masuk, juga angin sepoi dari timur. Lambat laun saya akan membereskan barang, mengepak tas, mematikan ac dan lampu, lalu mengunci pintu.