Oooo Mademoiselle

“Jauh-jauh puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama..”

Di kaki Pangrango, wajahmu membayang. Dua pria Surabaya berdendang. Dengan mulut berbau ciu dan nikotin. Silampukau bernyanyi dan bergitar. Kepala memutar fragmen-fragmen Prancis. Champs-Elysees dan Rene Descartes.

Dingin pegunungan dan mulut dihujam bir. “Kau penuhiku kepalaku yang kosong.” Di depan kerumunan dan bau rumput taman nasional. Terpaku oleh kata, bunyi, dan remang Petromaks. Mampus kau dikoyak-koyak bunyi.

Kau muncul begitu saja. Dari udara. Bersayap liberte, egalite, fraternite. Paris dan Eiffel merangkul dan Barthes yang muram di ujung bangku. “Prancis membuat kita sombong.” Post-modern, post-structuralism, post-entah-apalah-itu.

Winter atau spring, atau entah kapan, aku akan melumat Seine. Mengaduk-aduk isinya dan mencari namamu. Lalu, bayangmu mendapatiku. Murung dan tak berubah. Di Pangrango dan Seine, kau berdegup dalam gendang telingaku.

Advertisements

Carpe Diem is The Answer

“Hidup lo mau lo pake ngapain sih?” tanya seorang teman, tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, pada sebuah malam dingin di bulan Desember, saat saya baru selesai liputan tentang sebuah metode fitness gaya baru.

“What the fuck that question,” balas saya, sekenanya saja.

Katanya, dia sedang di kereta Jakarta-Bogor dan melihat banyak orang. Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan buat orang lain, bukan untuknya. “Gue juga gitu,” kata teman saya, jujur dan menerima kekalahan.

Saya tak berusaha menjawabnya, apa lagi dengan serius. Lagi pula, menurut saya, ada yang tak pas pada pertanyaan itu. Kata “pakai” mengganggu pikiran saya. Seakan hidup adalah barang yang mesti dipakai. Atau alat, atau instrumen, atau pelacur, atau apalah.

Bagaimana kalau kita yang dipakai oleh hidup?

***

Saya selalu percaya bahwa hidup, kebanyakan, adalah sia-sia. Dan karena itu ia tak perlu terlalu dianggap serius. Ntar juga mati, kok. Namun, di sela-sela kepercayaan itu, saya ingin menjadi abadi, seperti puisi. Saya tahu suatu waktu tubuh saya koyak, tapi saya ingin tetap bersuara.

Mungkin karena itu saya menulis, apa saja. Bahkan, hal-hal tak penting seperti ini.

***

Akhir-akhir ini, saya sedang sering liputan acara seni: teater, eksebisi seni, pameran foto, dan semacamnya. Saya jadi banyak bertemu seniman. Dan saya senang setiap melihat para seniman, atau datang ke acara kesenian. Rasanya seperti pulang ke rumah.

Hari ini saya melihat pertunjukan puppet di British Council. Saya bertanya-tanya: bagaimana seseorang bisa hidup dan bahagia hanya dengan bermain boneka?

Tapi mungkin bahagia bukan hal yang terpenting. Camus bilang, “those who prefer their principles over their happiness, they refuse to be happy outside the conditions they seem to have attached to their happiness.”

Background

Saya sedang menatap langit Lebak Bulus dari jendela yang terbuka. Dan saya memikirkan latar, memikirkan background. Kenapa kita terobsesi dengan latar? Lautan biru, puncak gunung, awan-awan, desain restoran edgy, monumen, nama jalan, apa saja.

Mengapa ia begitu penting saya tak tahu. Dan mungkin ia memang penting. Tanpa latar belakang, apa yang di depan tak ada arti. Ia menjadi bermakna dengan background. Namun, jika hanya latar yang kosong, tanpa persona atau benda, akankah ia berarti?

Fotografi adalah satu hal. Tapi soal latar ini bisa jadi lebih dalam. Kita bicara tentang manusia dan bagaimana berhadapan dengannya. Pada mulanya kita melihat dari luaran: baju yang dipakai, wangi parfurm, cara berkata-kata, dan detil-detil lain yang tampak.

Tapi kita tak berhenti di sana. Kita mencari tahu yang di belakang: asal sekolah, bacaan favorit, anak siapa, tinggal dimana, kepercayaan, identitas suku, dan hal-hal lain yang tersembunyi di belakang. Kita ingin menguaknya dan membuatnya terang.

Dari sanalah kita menilai: jelek-bagus, baik-buruk, keren-norak, dalam-dangkal, atas-bawah, dan berbagai kontradiksi lain. Tanpa latar, tanpa background, sesuatu hanyalah separuh. Latar membuatnya jelas. Entah itu di foto, panggung teater, buku, atau kisah-kisah tentang manusia.

Posted in ide

Lokus

Saya percaya beberapa tempat memang spesial.

Semakin sering berjalan, saya jadi tahu ada tempat-tempat yang berbeda, yang untuk alasan entah-apa terasa lekat. Ada semacam keterkaitan dan keterikatan yang subtil antara aku-pejalan dan ia-tempat. Kadang alasannya terlalu remeh, terlalu mengada-ada, terlalu mengawang-awang. Bahkan, kadang tak ada alasan sama sekali.

Bagaimana mungkin seseorang yang cuma singgah satu dua hari merasa memiliki keterikatan dengan suatu tempat? Bagaimana bisa seorang asing, yang tak tahu menahu apa-apa, merasa dekat dan menjadi bagian dari sebuah masyarakat, sebuah lokalitas, sebuah tempat? Bagaimana caranya orang jatuh cinta pada satu tempat pada detik pertama, pada injakan pertama, pada kepulangan pertama?

Belakangan ini, kepala saya terus memutar fragmen-fragmen soal Sumba: anak-anak kuda, matahari berwarna ungu, bukit meja, sabana hijau tak terpermanai, parang di pinggang pria-pria Sumba, Waikabubak yang basah, debu-debu di Waitabula, dan Waingapu yang maju di timur sana. Ada sesuatu yang romantik dan melankolis pada ingatan saya tentang Sumba. Tapi saya tak tahu apa.

Ada semacam perasaan terikat, dekat, dan terkait. Seperti saya pada Yogyakarta, pada Lombok, pada Bajawa. Sesuatu yang sukar untuk dijelaskan dan memang tak ada penjelasan. Sekadar perasaan yang muncul dan tak bisa dihindari. Lucunya, ingatan tentang Sumba seperti tali yang mengikat kenangan masa lalu dan kabut masa depan. Yang-lalu dan yang-akan seperti bergumul dalam satu ruang.

Saya jadi ingat ketika dulu ke Sumba, saya janji akan kesana lagi, jika sudah lebih tua, mungkin jika sudah berkeluarga dan punya anak. Saya pasti akan kembali lagi ke sana. Tapi kapan, untuk apa, dan bagaimana: itulah yang membikin penasaran? Perasaan saya, saya tak akan kembali sebagai pejalan saja. Rasanya ada misi khusus. Semua kerumitan ini membuat saya teringat Redfield dan Celestine Prophecy-nya. Entahlah.

Boom!

Kita terus memacu diri di rimba kota. Bermodalkan kendara, dan nelangsa, dan impian tentang hari tua. Kita jatuh dan terlena. Kerja, kerja, kerja pada akhirnya adalah sebuah klise. Dan kapitalisme selalu saja menang.

Tulisan demi tulisan, dan semuanya bukan untukku. Apa yang tersisa cuma kantuk dan lelah yang mengigit hari esok. Dan semuanya berputar terus, membentuk repetisi, kesia-siaan, dan kedunguan kekal saat rembulan perak ditutup langit bulan Desember.

Papua? Aku ingin ke Papua, dan Halmahera, Banda, Kei. Lalu mendamba puncak Rinjani, serta keliling Sulawesi, dari Sangihe sampai Kendari. Untuknya aku membantai hari, berkawan akrab dengan Words, tapi melupakan puisi, Bukowski, dan Theroux.

Factotum, kata Bukowski. Aku mengerjakan segala. Barbershop, Batanghari, dan Cristiano Ronaldo. Menumpuk modal ke Baliem. Dan aku kangen sekolah. Teoretika. Puitika. Dua-duanya yang terhempas di balik ribut jalan raya dan kuota dan deadline.

Suatu hari aku akan pulang ke puisi, dan tak kembali lagi.

Sajak Kosmopolit

Kupakai hari ini:
Converse seribu umat
Jeans Volcom nyaris sejuta
Polo shirt asal Munich

Dan aku merasa kosmopolit sekali

Menenteng Coetzee ke stasiun
Tak kubaca selembar saja
Alas untuk yogurt yang tandas
Memalukan

Dan aku sibuk dengan Xperia

Menulis sajak payah ini
Mendengar band folk Surabaya
Lewat earphone dari China
Dengan penjepit kabel Amerika

Dan aku warga dunia seutuhnya

(4 November 2015,
Di atas KRL)

Sekolah adalah Tempat Senggama

Sekolah adalah tempat senggama:
Kita mereproduksi kelas
Dan tipuan
Dan seribu omong kosong

Sekolah adalah tempat senggama:
Nikmatilah melaratmu selamanya
Hai orang miskin
Korban kekejaman sekat sosial

Sekolah adalah tempat senggama:
Kelas menengah santai di Starbucks
Menyesap bau Cappuccino
Dan terjebak di antara

Sekolah adalah tempat senggama:
Ayah-ibu memupuk deposito
Kau sekolah ke Eropa
Mewarisi bisnis, merawat kasta

Sekolah adalah tempat senggama:
Dan aku ingin mencokok
Para pembual bersuara parau
Apa itu pembebasan?

Sekolah adalah tempat senggama:
Ranjang gairah kemapanan
Hening tanpa gerak
Entah malas, entah terpaksa

Sekolah adalah tempat senggama:
Bayi budaya lahir, bubarkan saja?
Dan aku ingat Bourdieu, Illich, etc
Kangen sekolah

(4 November 2015)

Aku Rindu Hujan

Aku rindu hujan. Saat kemarau tak selama ini dan kota urung sombong. Lalu air tetes satu-satu di kaca depan, wiper dinyalakan. Kian deras dan jadi mengerikan. Wiper mati, embun perlahan tumbuh seperti kuman yang menyusahkan. Luaran tampak kabur, sayup, dan jauh. Hujan dan wiper yang mati ialah ingatan: mobil tua, ayah, kematian. Semua bercampur: Tuhan terasa dekat.

Aku rindu hujan yang jatuh di teras. Dan kusesap kopi hitam dalam cangkir bunga-bunga. Pelan merasuk ke hidung, bibir, dan kerongkongan. Tak ada pekerjaan, tak ada bau jalan metropolitan. Buku dan hari yang santai: oh masa muda! Kubalik halaman satu per satu. Hesse berkisah tentang perjalanan, orang gila, bunuh diri, Buddha. Hujan, teras, kopi, dan sastra yang mengalir: kubasuh muka.

Aku rindu hujan. Depok masih jauh kala langit menggelap cepat dan rakus. Matahari ditelan, siang berganti malam dalam hitungan speedometer. Di waralaba, motor-motor berhamburan. Mencari atap, berlindung dari air yang marah. 10, 20, 30 menit berlalu: mereda. Jok-jok terbuka: kanebo dan jas penangkal hujan. Deru knalpot serupa koor yang gegabah. Ngebut menuju tentram rumah.

Aku rindu hujan yang tiba-tiba. Mati lampu dan satu september: ambulans datang. Bohlam menyala seperti sulap. Peti diangkut dan raungan air mata. Duka menjalar: hitam, hitam, hitam. Terulang ribuan kilometer di timur laut, enam tahun kemudian. Sang kakak dalam upacara: doa-doa diumbar, langit terik, kerbau dipasung. Jelang penguburan, hujan tumpah begitu saja. Deras: kemarau usai.

La Semplice Vita

Aku pikir hidup harusnya seperti ini:
potongan-potongan kecil
narasi-narasi pendek
dan sedikit bumbu warna-warni

Lalu kita berdansa-dansi
di bawah terik lampu kota
di malam yang terlupakan
di bising jalan raya metropolitan

Semuanya adalah detail
Tak ada skenario mega dan basa-basi busuk
Kita minum, mabuk, dan melantur
Sesederhana itu

(27 Oktober 2015)