Sore

Seseorang berdiri setengah telanjang. Dadanya lepas. Berkilau seperti logam. Di dadanya, napas-napas teratur bergerak, memompa senyawa keluar-masuk, seperti mesin yang berderap. Lirih, tanpa seruan. Sinar matahari sedang jatuh, ketika ia keluar dari pintu, menatap udara yang oranye di sekitarnya. Cahaya bertubrukan. Bam! Oranye di udara dan logam di dada.

Dada itu naik-turun, seperti ingin mengambil jeda dari kehidupan yang berisik di kanan-kirinya. Kota berakhir di sana: sebuah pemakaman untuk hidup yang nonsens. Ditelannya pelan-pelan udara yang berkelabatan di sekitar tubuhnya. Ia menghirup. Ia membagi. Semuanya adalah ritme. Dimanakah napas bermula? Dan kemanakah ia bermuara?

Matanya lurus, menatap entah apa. Bayang-bayang pepohonan jatuh di retinanya yang kusam. Ia mencerna bunyi dari sinar yang mengelilingi. Ia mendekap cahaya dari suara yang memenuhi gendang telinganya: anak-anak anjing yang menyalak, ayam yang berkukuruyuk kala sore menjelang, dan desing motor yang terdengar sayup di utara jalan.

Ia terduduk, di ubin yang merah bukan-darah, di teras yang berdebu, setelah kemarau ganas menghantam desa-desa di barat. Hujan tak kunjung derap di sini. Air membuat kita bersendu. Udara kelewat garang, membuat sesak, membikin pengap. Dada-dada terbuka. Seperti logam mereka bercahaya. Memompa napas keluar-masuk. Pelan-pelan.

***

Di ujung setapak, aku mendaratkan pandang di jendela. Kacanya yang setengah gelap menangkap seseorang bertelanjang dada. Keluar rumah dengan senyum yang tanggal. Udara memekik hidungnya, menunda napasnya. Keringat mengucur dari kerongkongan. Perut tembaga. Mata tembaga, berbayang sore. Matahari tenggelam di sana. Sebuah hari berakhir.