Ambulans

Sirene ambulans yang meraung terus-menerus di Sekip membuat saya mengingat Bari, musim panas 2018. “Kota 1001 ambulans,” saya mencatat. Di hostel, kerap saya bertanya (entah kepada diri sendiri atau orang lain) tentang betapa seringnya ambulans melintas di Bari.

Hari-hari ini, ngiung-ngiung ambulans telah jadi terlalu familiar.

Apakah ia terdengar mengerikan? Di Bergamo, pada puncak pandemi, ambulans bahkan berhenti menggunakan sirene. Mungkin untuk menjaga psikis warga yang babak-belur dihajar pandemi—dan bunyi. Apakah kita takut bunyi? Atau makna yang menempelinya?

Di kantor, saat sirene ambulans menguar di udara, saya akan diam sejenak. Mungkin untuk merapal doa, tapi seringnya tidak. Saya hanya mengambil jeda dari riuh rutinitas yang kian terasa nonsens di hadapan maut yang menganga. Bunyi sirene ambulans jadi penanda.

Hari-hari ini, melihat ambulans di jalan kian terasa biasa. Ia kadung jadi sehari-hari. Kita makin terbiasa hidup bersamanya di jalanan: lajunya yang cepat mendesak, bunyi sirenenya yang meraung, dan warnanya yang putih, seringkali pucat, seperti lelah mengantar pasien.

Sirene ambulans di Sekip membuat saya mengingat Bari. “Bagaimana mungkin orang bisa hidup dengan bunyi sirene ambulans yang terus-menerus seperti ini?” pikir saya kala itu.