Oldenburg

Di Oldenburg, bus kerap berhenti. Dan aku akan menatap ke luar jendela, atau ke pintu yang terbuka, melihat lalu-lalang orang yang masuk dan keluar. Seperti komidi putar.

Oldenburg sebuah halte di tengah perjalanan. Di antara Groningen-Hamburg, Oldenburg jadi pertanda. Biasanya aku ‘kan terbangun di sana, dari lelap yang meruap di dalam bus.

Jelang Natal, aku mengingat sebuah rute yang memanjang. Bus disetop di perbatasan. Ganja-ganja diperiksa, orang-orang diinterogasi. Satu-dua jam di sana, menunggu laju dilanjutkan, pada gigil musim yang dingin. Sedang, kehangatan rumah di Stade menghantuiku. Tapi, siapa kita di hadapan hukum yang agung? Entah bagaimana nasib daun-daun herbal itu. Apakah dia tertahan di perbatasan atau berlanjut ke HH?

Di rute itu, Oldenburg muncul di jendela setelah gelap, sore musim dingin yang kelam. Orang-orang tua tampak tak sabaran, menunggu anaknya turun dari bus. Semacam mudik ala utara?

Di Oldenburg, kita hanya berhenti sementara. Mengantar orang-orang yang merantau di seberang, membawa pulang mereka yang rindu rumah. Hanya aku di balik jendela, sesekali menguap di Oldenburg, tak sabar menanti mesin dinyalakan lagi, dan roda bergerak ke timur.