Ja-rak

Aku ingin menyublimkan jarak. Supaya kita bisa duduk mepet-mepet lagi. Seperti stadion yang penuh. Atau diskusi buku yang terlalu sesak, di kedai sempit bilangan Lebak Bulus. Atau bus-bus antarkota berbau keringat. Kita berbagi spasi yang tipis, seraya menyeberangi tembok kultural via dialog. Ketika droplet belum jadi kosakata sehari-hari.

2020 telah memberi kita aturan rigid tentang ‘jarak’. Yang fisik atau sosial (tidak) sama saja. Ia dipangkas habis oleh diktat-diktat WHO, juga telaah-telaah akademis di utara. Di selatan, atau di belahan dunia mana pun, kita kesulitan merangkai logika-logika ilmiah dengan tuntutan-tuntutan biologis. Tubuh-tubuh rindu dipeluk, rindu duduk-duduk bersinggung bahu.

Jika semua ini usai, kita perlu menggelar upacara untuk menguburkan jarak ajaib 1,5 meter itu. Dan kita kan merayakan the roaring 20s dengan berhimpitan di kereta menuju timur. Kita kan memadati konser-konser (dengan atau tanpa alkohol). Juga keintiman yang ugahari itu akan ditanam ulang, tanpa spasi yang membatasi kita berbagi droplet.