Ridwan Rais

Seekor kucing menyebrang. Lampu-lampu motor bersliweran, membuatnya linglung. 31 Desember dengan desing-desing motor. Tanpa pasar malam, tanpa huru-hara.

Di balik setir, menunggu nasi goreng Bang Kojol. Wajannya menyiratkan masa lalu. Juga suram lampu gerobaknya. Dan tenda-tenda berwarna krem usang. Radio mematikannya diri sendiri. Lampu-lampu motor tetap bersliweran. Orang-orang berjalan kaki, di bukan-trotoar.

Tak ada trotoar di Ridwan Rais. Di sini, jalanan punya teorinya sendiri soal urban planning, ruang publik, dan kota yang pecah oleh kendaraan. Tet-tet-tet, bunyi klakson.

15-20 menit yang asyik. Tok-tok-tok. Lamunan terhenti. Bang Kojol mengetuk jendela, menyodorkan plastik hitam kusam, dan 15 ribu perak berpindah ke tangannya.

Kucing itu sudah di seberang. Setelah motor-motor yang mengerem, memberinya jalan. Perlahan ia berjalan ke dalam Gang Turi. Entah kemana ia menuju. Stasiun?