Wangi Hutan

Bau hutan bercampur dengan bau kaki-kakiku, yang berlari di jalan-jalan lengang di UI, pada sebuah akhir pekan yang biasa-biasa saja di musim pandemi.

Adalah sebuah rotunda yang familiar. Dekat sebuah menara air legendaris, yang berisi mitos-mitos urban tentang hantu, yang dulu mengisi haha-hihi kami di Takor.

Dari arah Balairung, ‘ku berbelok ke kiri, menyisir pinggir aspal yang agak basah. Lalu, tiba-tiba saja bau itu menguar dari balik pohon-pohon yang berbaris di kiri.

Seperti sebuah lagu lama yang begitu saja muncul di telinga.

***

Hujan turun konstan dari pagi hingga sore. Memberi kita konser tik-tik-tik, dengan iklim yang jatuh, dan sweater warna-warni dari Titisee yang akhirnya terpakai lagi.

Kursi goyang bergoyang di teras. Rintik memberi irama, juga sepotong angin dari utara. Di halaman, burung-burung berteduh di pohon-pohon yang ditanam ibuku.

Ibuku menanam hutan kecil di rumahnya, tempat burung-burung kini punya tempat untuk singgah. Cit-cit-cit, bunyi mereka suatu pagi, memberiku jeda dari buku.

Kenapa kita terus diajari menanam kebaikan? Atau menanam modal? Tapi, tak pernah diajari menanam pohon di halaman. Agar ia tumbuh menjadi rumah bagi yang lain.

***

Tanah basah. Baunya mengandung memori. Tapi entah apa. Seperti jamur yang menghiasi kursi kulit lancer bapakku. Jamur-jamur membuatku mengingat Tsing.

Bau dan ingatan. Bagaimana keduanya berbagi spasi di tubuh? Seperti aroma hutan UI, atau wangi hujan tropis, atau wangi oli dari sebuah bengkel di Padang.

Di teras, kursi bergoyang. Halaman-halaman terlewati. Dan bau itu masih di sana, seperti sebuah pertanyaan yang tak terjawab. Tanda tanya dengan tik-tik-tik bunyi hujan.

Buku membuatku bosan di sana. Dan wangi itu duduk di halaman, menjadi teka-teki yang menunggu diterka. Burung-burung masih berlompatan di pohon ibuku.