Turin

Hari ini, ketika matahari pukul 11 jatuh di pintu, dan masuk perlahan ke sela-sela mata, saya tiba-tiba mengingat Turin. Terutama pada sebuah pagi, ketika saya bergegas keluar hostel untuk menulis tesis di salah satu bangunan kampus Politecnico di Torino.

Sebuah tram membawa saya ke sana. Dan keramaian yang tak biasa muncul pagi itu. Rupanya itu hari wisuda. Orang-orang berlalu-lalang dengan jas dan gaun yang necis. Di sela-sela mereka, saya menerabas koridor-koridor untuk mencari perpustakaan atau sala studio.

Tapi, itu pagi yang sibuk. Mungkin terlalu sibuk. Saya pergi ke kampus utama Politecnico untuk sedikit mengganti suasana dari perpustakaan di Parco del Valentino. Saya masuk ke sebuah perpustakaan, tapi sepertinya tidak ada tempat yang asyik untuk menulis.

Selama beberapa menit, saya kebingungan di kota yang asing itu, dengan bahasa-bahasa yang tak saya mengerti, dan orang-orang yang riuh bicara tentang entah apa. Akhirnya saya memutuskan kembali ke halte, untuk mencari tram menuju Parco del Valentino.

Saya tiba di perpustakaan agak telat dari hari biasanya. Saya mengambil tempat duduk biasa dan mulai mengetik. Seperti biasa, saat jam makan siang, saya akan keluar dan pergi ke pizzeria yang tak jauh dari sana. Atau, jika ingin sedikit boros, akan pergi ke restoran cina.

Sebelum kembali ke perpustakaan, saya akan mampir di kedai dekat pizzeria untuk memesan espresso, kadang cappuccino, untuk memberi energi bagi siang yang menjelang. Jika sedang ingin berhemat, saya akan menebus kopi dari mesin kopi di kampus, dekat toilet.

Pagi ini, ketika matahari jam 11 masuk ke dalam rumah, detail-detail Turin seperti menguar begitu saja. Membuat saya rindu berjalan-jalan di gang-gangnya, di taman-taman kotanya, atau duduk santai di tram sambil menikmati mimpi masa kecil saya menjadi nyata.