Di Pinggir Elbe

Ketika saya berkunjung ke Stade, tempat tante dan om saya, om sering membawa saya ke pinggir Elbe. Di sana, kami akan melihat sungai dari dermaga kecil. Jika beruntung, kapal-kapal raksasa lewat, dengan kontainer-kontainer sebesar rumah. Menuju Hamburg. Masuk dari Laut Utara.

Jika udara mendingin, kami akan masuk ke kafe kecil di pinggir Elbe itu, dan memesan bir apel atau bir apa pun. Stade adalah apel. Begitulah om-tante mengenalkan saya pada kota kecil itu. Di Eropa, mungkin itu kota kedua yang saya kenal dengan cukup baik setelah Wageningen.

Suatu waktu, di pinggir Elbe itu, saya dan tante berkendara ke sana. Hanya sekadar mencari angin. Musim sedang dingin kala itu. Kami hanya memarkir mobil, ia merokok, dan kami bicara tentang hal-hal yang di masa lalu dan depan. Setelah sepuntung atau dua, kami pulang.

Elbe tentu punya banyak pinggir. Tapi, pinggir yang satu itu terasa melankolis. Tak ada rumput atau pasir pantai. Hanya kapal-kapal jelek, yang kelelahan berlayar dari mungkin Rotterdam, menuju Hamburg, yang ketika langit sedang bersih, akan terlihat kerlip di timur.