Magic Bus

Bus ajaib itu dipindahkan dari Denali dengan helikopter. Seperti kabar dukacita yang ugahari.

Saya tumbuh melewati masa muda dengan imaji tentang Chris McCandless. Entah berapa catatan pendek dan panjang yang saya tulis soal Into the Wild dan McCandless.

Bapak saya punya buku versi Bahasa Indonesia-nya, yang saya lumat dengan nikmat. Beberapa tahun setelahnya, saya menemukan versi Bahasa Inggris-nya di toko buku impor di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, pada sebuah senja oranye yang membekas.

Saya lupa apakah saya baca buku itu dulu lalu nonton filmnya, atau sebaliknya. Tapi, saya ingat menikmati filmya dalam format VCD. Ketika kuliah, setiap kali akan berangkat jalan-jalan, saya akan sempatkan nonton film itu.

Entah sudah berapa kali saya menontonnya. Terakhir, saya menikmati film garapan Sean Penn itu sampai ketiduran di sebuah rumah di Breda, musim panas 2017. Saya masih menyimpan file digital film tahun 2007 itu di hard disk.

Saya tak tahu persis bagaimana saya bisa merasa terkait dengan kisah heroik/tragik McCandless. Mungkin karena Sean Penn piawai menyutradarai filmnya dan Jon Krakauer adalah jurnalis-penulis yang ulung?

Apa pun itu, saya seperti kenal McCandless dari dekat, dan memahami alasan-alasannya untuk pergi jauh dari masyarakatnya, dan tinggal di keliaran Alaska sendirian. Dengan pongah, ia bilang: “You don’t need human relationships to be happy, God has placed it all around us.”

Terlebih setelah membaca The Wild Truth, ditulis Carine McCandless, adiknya, kisah Chris terasa lebih utuh dari sebelumnya (meski saya turut menyadari segala bentuk komodifikasi lanjutan terhadap kesuksesan Into the Wild).

Saya meninggalkan buku itu pada sebuah rak di hostel di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, membayangkan pejalan lain mungkin akan melihat-lihat rak itu pada suatu nanti dan tertarik membacanya di perjalanannya sendiri.

Salah satu bagian penting dari cerita perjalanan McCandless adalah Bus 142 Fairbanks City Transit System. ‘Magic bus’, tulis Chris di catatan hariannya. (Menulis ini menyadarkan bahwa cara saya mencatat perjalanan dipengaruhi gaya mencatat Chris.)

Bus itu adalah semacam episenter dan penanda kisah McCandless. Setelah ia ditemukan mati, maka bus ajaib itu menjadi situs ziarah pengagum Chris.

Saya belum sempat berziarah ke sana, dan sebenarnya tak pernah berkeinginan secara serius. Tapi, ketika bus ajaib itu diangkut dengan helikopter dan dipindahkan ke tempat yang bukan tempat seharusnya, saya merasa tak ikhlas sedikit.

Seperti ada penanda yang dicerabut dari tanahnya, dari ceritanya, dan dari ingatan tentang sebuah pria yang tergolek mati di sana.

Post-scriptum: Ditulis 19 Juni 2020. Sebenarnya tulisan ini belum selesai ketika saya tinggalkan begitu saja, mungkin kehabisan mood nulis waktu itu. Saya biarkan apa adanya seperti ini, dalam keadaan hampir-selesai.