Seperti Sebuah Puisi

Pada sebuah puisi, aku mendapatimu duduk, termangu, dengan kelopak-kelopak bunga yang tercecer. Kota-kota luruh di rambutmu. Tembok dipenuhi cat-cat merah, seperti sebuah graffiti yang enggan memekik marah, yang urung menjadi gemuruh di jalan-jalan.

Sebuah puisi ditulis dengan sungai yang mengalir. Di sana, jeram-jeram saling melompat, membentuk semacam konjungtur yang berakhir di muara, dan terus menjadi kembara di laut yang entah menuju mana. Apakah kita perlu menulis eulogi untuk sungai, ketika kita tahu omega adalah narasi yang konseptual, tentang kita yang bosan pada konstan, yang enggan pada gairah/kelana/pemberontakan yang terus mengaduh? Seperti sebuah tanah yang tak pernah selesai.

Doa-doa yang dirapal di Santiago, atau di Sarajevo, ketika kaki-kakiku menginjak debu, atau bekas hujan semalam, adalah doa yang sederhana. Ia diucap dengan kau yang tak perlu apa-apa untuk menjadi apa. Di dadamu, jalanan lengang menuju nirwana, menuju kota di bukit. Setelah kelana yang payah, dengan makna-makna yang rontok, apakah sebuah akhir adalah bibirmu yang terkatup? Atau, perlukah sebuah matrimoni kugelar di matamu, sebelum mata hari terbit di sana?

Kau dan aku, kita, di jalanan masing-masing, goyah menerka ribut angin di kepala masing-masing. Kota-kota terlewat. Bibir berbagai bahasa. Omong kosong pop, Descartes, Marx. Veganisme barat, buddhisme barat, apa-apa barat. Kau dan aku, kita, di jalanan masing-masing mencoba menulis resep untuk hidup yang belum selesai. Akumulasi, kalkulasi, mimpi-mimpi ditenggak jadi nasi, nasi-nasi dilahap jadi basa-basi, basa-basi ditelan jadi akumulasi, kalkulasi.

Di situ ada yang urung diutarakan. Sebuah puisi yang lindap. Ia ditulis dengan gairah yang tinggal separuh, dan harapan yang seperempat. Retorikamu, retorikaku, semua tak berarti apa-apa di depan waktu. Waktuku, waktumu, semua jadi teka-teki tanpa klu, tanpa jawab. Teka-tekimu, teka-tekiku, semua bergerak ke kota yang tak lagi sama.

Di kota itu, tepat di jantungnya yang robek, anak-anak bermain riang. Seperti pagi musim semi pertama, ketika bunga-bunga mekar, ketika matahari hangat betul, ketika senyum-senyum terbit. Di sana tak ada translasi, analisis, atau konseptualisasi tentang menjadi ada. Menjadi kita adalah sebuah kota yang tak pernah selesai. Ia ditulis dengan puisi yang berisik, yang tak jelas bicara apa, bukan dengan teori-teori jauh tentang hal-hal yang tak ada di sini hari ini.

Godean, 23 Agustus 2020