Air Mata Messi

Melihat Lionel Messi menangis di New Jersey adalah elegi tersendiri. Final keempat yang gagal dimenangkannya bersama timnas Argentina. Setelahnya adalah kejutan. Ia, kemungkinan besar masih dipengaruhi rasa frustrasi pasca-pertandingan, memutuskan pensiun dari tim nasional.

Keputusan itu jelas mengejutkan mengingat Messi baru berumur 29 tahun dan tentu saja masih dibutuhkan Albiceleste. Namun, patah hati adalah perkara lain. Saya membayangkan menjadi Messi: memanggul beban negara, disorot seluruh dunia, dan gagal untuk kali keempat. Empat! Frustrasi. Saya tak tahu apakah Messi mulai berhenti berdoa dan pergi ke gereja setelah ini.

Tak bisa disalahkan jika banyak orang meragukan keputusan pensiun Messi. Saya salah satunya. Saya menerka ucapannya hanyalah rasa frustrasi sesaat. Ia dilanda kekalutan tak terpermanai setelah Biglia gagal dan mengucapkan kata-kata yang mungkin akan disesalinya dua atau tiga hari kemudian. Namun, bagaimana jika ia benar-benar mundur dari tim nasional?

Jika Messi bersetia pada kata-katanya, toh kita harusnya bisa memahami. Messi, pada akhirnya, memang bukan alien. Kita telah melihat sisi manusiawi Messi di New Jersey. El Messiah ternyata bisa menangis, sama seperti Yesus yang meraung di atas kayu salib: Eli, Eli, lama sabakhtani? (Tuhanku, Tuhanku, kenapa Kau meninggalkan aku?)

Dan satu hal yang perlu diingat, memutuskan berhenti bukanlah hal yang mudah. Terlebih dalam dunia yang menuntut kita untuk terus berlari, berhenti mungkin ialah keputusan tersulit. Sedangkan, mengetahui kapan harus berhenti adalah kemampuan yang tak semua orang bisa memiliknya.

Memahami itu kita jadi menemukan paradoks dalam air mata yang menggenang di pipi Messi. Di satu sisi kita memandang betapa lemahnya dia. Di sisi lain kita mendapati betapa kuat dan tegarnya dia. Selemah-lemahnya Messi, ia masih bisa memancarakan kekuatan.

Kita bisa belajar banyak darinya. Jika pada suatu waktu kita gagal untuk entah-keberapa-kalinya, berhenti mencoba mungkin saja adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Pada satu titik, kita harus bisa memahami bahwa that is not belong to me. Sama seperti Messi yang sadar bahwa timnas Argentina bukan untuknya. Setidaknya kita dan Messi pernah mencoba.

Hal ini mungkin sulit dilakukan, sekali lagi karena kultur yang menuntut kita terus berusaha. Oh, buanglah buku-buku motivasi sialan itu! We cannot have everything in life.

Besok atau lusa, Messi mungkin akan bangun pagi dengan pikiran yang lebih jernih. Mungkin ia telah sanggup mencerna semua yang terjadi. Mungkin ia akan berubah pikiran atau mungkin tidak. Mungkin dua tahun lagi dia akan pergi ke Rusia dan menonton Argentina memenangkan Piala Dunia dari tribun. Mungkin ia akan senang, mungkin pula kecewa.

Tapi setidaknya ia bisa pulang ke Barcelona, ke rumahnya, dan menyadari ia memiliki segalanya.

(28 Juni 2016, setelah final Copa America 2016, sempat terbit di Farpost Journal)

1 thought on “Air Mata Messi”

Leave a Reply to morishige Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s