Corona

Corona adalah tanda tanya yang menganga di depan muka.

Ia telah memberi kita banyak pertanyaan, tanpa jawaban. Juga banyak perenungan. Kita jadi bertanya-tanya apa makna dari perjalanan-perjalanan ini, jika ia hanya berakhir sebagai pandemi? Haruskah kita berangkat pulang ke rumah, dan tinggal diam selamanya di hutan-hutan terdalam di jantung ibu?

Kota-kota menjadi sepi. Isolasi dan solidaritas membentuk paradoksnya di tengah pandemi ini. Kita memahami bahwa kolektivitas dan individualitas itu bukan kontradiksi. Ia adalah semacam paket yang utuh. Kita bertanya-tanya tentang apa guna sendiri sendirian tanpa sendiri ramai-ramai?

Setelah ini, filsafat baru akan tumbuh di pusat bumi. Kita akan memahami biologi dengan mata berbeda. Makhluk hidup bukan-manusia, pada akhirnya, telah menjadi agensi yang menginterupsi kerakusan kita, yang memangkas hutan hingga ke akar-akar, hingga virus-virus paling jahat mekar di kota.

Di tengah karantina ini, sebenarnya kita diberi waktu untuk bertanya. Kita terlalu sibuk mengakumulasi, sehingga lupa menerka coreng di muka sendiri. Bagaimana caranya iklim bisa berkelahi dengan takdirnya sendiri? Haruskah kita berhenti berpergian dan duduk manis mengisi teka-teki silang di bibir teras?

Selama ini, demonstrasi telah gagal menghentikan pabrik, juga diktat-diktat tebal Marxisme. Tapi, sebuah virus telah menciptakan revolusinya sendiri. Ia datang tanpa undangan, dengan sebuah dor! yang bising. Huru-hara di supermarket. Huru-hara di kepala. Segulung tisu toilet muncrat dari mulutku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s