Catatan Jalanan

Saya kerap membayangkan bagaimana caranya sebuah kota menghisap cerutu? Seperti sebatang sigar Kuba yang saya hisap di Droevendaal. Setelah gelas-gelas yang panjang, dan obrolan-obrolan semifilosofis tentang masa depan, hoek!

Mungkin seperti itu. Kita menelan asap-asap, yang diproduksi motor dan mobil buatan Jepang, Korea, Amerika atau Eropa, lalu kita muntah. Lalu kita kehilangan makna pada waktu, pada kecepatan, pada jarak.

Semua ini membuat saya mengingat Kundera, ketika ia memulai ‘Slowness’ dengan sebuah realisasi yang sederhana tentang bagaimana kecepatan menyandera kita. Membuat saya mengingat gerakan-gerakan slow (atau selo). Mungkin, revolusi yang sebenarnya berwujud lebih subtil dari demo-demo di pagar DPR atau aksi-aksi heroik di Amerika Latin.

Mungkin kita harus belajar berjalan kaki lagi, atau bersepeda, atau apa pun yang memaksa kita melambatkan laju, seraya memikirkan ulang: apa itu waktu dan jarak?

***

Dua hari ini saya melewati Godean yang murung dengan observasi selintas tentang mereka (dan kita) yang melawan arah. Saya membayangkan kemungkinan alasan-alasannya. Dan saya ingin keluar dari narasi moralis tentang warga yang patuh lalu lintas. Cuih!

Saya ingin menyelam lebih dalam. Mungkin saya harus berhenti dan menodong mereka dengan recorder, lalu menciptakan semacam etnografi yang mendadak. Dor! Tapi, saya etnografer di sana. Bukan moralis. Bukan polisi. Bukan mereka yang hidup lurus oleh regulasi dan undang-undang. Saya pikir: mungkin saja sebenarnya melawan arah di jalanan adalah sangat logis.

Lalu, saya mengingat-ingat saat-saat saya melawan arah. Dan memikirkan semacam hipotesa yang menggeneralisir. Sementara – namanya juga hipotesa. Kegiatan melawan arah logis pada situasi-kondisi tertentu. Itu fakta ontologis yang tak bisa kita pungkiri. Kenapa?

Mungkin karena kita telah lama hidup dengan kecepatan, dengan motor dan mobil yang meraung-raung dengan gegas, sehingga sangat sulit untuk menyebrang ke arah yang benar. Buang-buang waktu. Lagi pula, kita sebenarnya juga telah terbiasa dengan ketergegasan. Sehingga, apa salahnya melawan arah ketika tidak ada pak polisi dengan rompinya yang menyala-nyala?

***

Di Yogyakarta, saya kerap membayangkan Jabodetabek yang tak kalah murung. Mungkin saya rindu. Atau mungkin tidak. Mungkin saya hanya sekadar membandingkan kota-kota yang telah dan sedang saya lakoni. Mungkin sebenarnya, dengan membayangkan Jakarta, saya sedang belajar bagaimana caranya menjadi warga Yogyakarta yang baik.

Di jalanan Jogja, setidaknya saya lebih banyak belajar bersabar. Dan menunggu lampu merah dengan tenang. Dan tidak menyerobot. Dan menyalip dengan santun. Dan mengurangi sedikit rata-rata speedometer di motor pinjaman yang saya kendarai.

Bukan berarti Yogyakarta tak dijajah oleh kecepatan. Seiring waktu saya menyadari bahwa ketergesaan juga realitas yang tak bisa ditawar di sini. Ada banyak faktor. Mungkin kenaikan jumlah kelas menengah, yang selaras dengan kenaikan konsumsi kendaraan pribadi, yang selaras dengan kemacetan, yang selaras dengan siasat praktikal untuk mengakali kemacetan.

Melawan arah sebenarnya hanyalah siasat beradaptasi di tengah masyarakat yang sibuk mengakumulasi kapital. Ia logis, karena itu ia menjadi jamak. Dan karena itu aturan-aturan lalu lintas sebaiknya harus segera direvisi untuk mengakomodir perubahan ini.

Kemungkinan kedua, terkait dengan aturan lalu lintas, adalah struktur jalanan kita yang terlalu dikotomis. Ia hanya menyediakan dua opsi. Di situ tidak ada pilihan ketiga dan seterusnya. Padahal, di masyarakat posmodern yang kian blur dan non-dualistik, opsi ketiga akan selalu ditempuh. Masalahnya, ketika ia tak diakomodir oleh regulasi, ia berlabel ‘ilegal’.

Kemungkinan ketiga, terkait struktur sosio-material jalanan, adalah ketiadaan trotoar. Ini kasus yang sangat Indonesia. Setidaknya dari hasil amatan sambil lalu saya, praktik-praktik melawan arah lebih banyak terjadi pada jalan-jalan yang tidak memiliki trotoar, sehingga para pelawan arah – kebanyakan pengendara motor dan motornya – punya celah untuk memangkas waktu.

Dalam kota yang kian menyempit (involusi; mungkin itu istilah kerennya), spasi adalah kemewahan. Dan kita harus memanfaatkan peluang sekecil apa pun untuk mengambilnya. Seperti halnya anak-anak yang bermain bola di komplek pemakaman di Jakarta. Logis.

***

Jadi, sebenarnya tak ada yang terlalu salah dengan melawan arah di jalanan. Setidaknya ketika kita berani sedikit mengenyampingkan argumen moralis tentang taat aturan, menjadi warga kota budiman, dan klise-klise sampah lain yang hanya membikin polisi cengar-cengir.

Melawan itu selalu perlu. Saya jadi mengingat sebuah marka jalan di Depok, di dekat rel di Jalan Dewi Sartika. Di sana ada tulisan: ‘dilarang melawan arus’. Saya selalu tersenyum ketika mengantre kereta lewat di situ. Dan saya membayangkan betapa indahnya melawan arus.

One thought on “Catatan Jalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s