2019

Saya mengingat 2019 sebagai maraton yang panjang dan melelahkan. Dan saya berhenti di garis finis nyaris sebelum panitia membubarkan acara.

Jika setahun silam saya menulis tentang ambivalensi sebagai hal terpenting yang saya pelajari dan pikirkan di tahun 2018, maka pada 2019 saya tak banyak belajar: kecuali kenyataan bahwa kehidupan bergulir dengan pelan dan cepat secara bersamaan, dan satu-satunya hal paling masuk akal yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan hari ini, melakukan apa yang di depan mata dengan langkah-langkah kecil yang pasti.

Tapi sebenarnya tak ada yang pasti. Kita hanya berjudi, seraya berdoa langkah-langkah itu akan berujung pada sesuatu. Di 2019 saya lebih banyak bersyukur dan mengutuk secara bersama-sama. Seperti seorang umat yang kelelahan menebak-nebak makna dari ayat-ayat yang mengawang di altar gereja.

Toh, saya juga memahami bahwa persistensi dan idealisme itu harus dirawat sama baiknya, dan harus dijalankan sama temponya. Satu tanpa yang lain hanyalah omong kosong. Dan kedunya memerlukan bahan-bahan lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar (keluarga, teman, pacar, dll) yang mendukung. Idealisme tanpa lingkungan yang suportif adalah nonsens besar.

Saya beruntung punya lingkungan yang kondusif itu. Itulah mengapa saya banyak bersyukur di sela-sela kesibukan saya mengutuk diri sendiri di malam hari.

Di ujung tahun 2019 kemarin, saya mengingat adagium usang yang selalu saya suka dan percayai. Bunyinya begini: good things happen when least expected. Setidaknya mantra itu nyata bagi saya. Sudah dua kali saya mengalaminya sendiri. Pertama, ketika mendapat beasiswa yang membawa saya studi ke Belanda. Kedua, baru-baru ini, ketika akhirnya saya bisa pindah ke Yogyakarta, kota yang selalu saya idam-idamkan sejak dulu, untuk mengajar di Universitas Gadjah Mada.

Setelahnya, saya ingin menikmati 2020 dengan pelan, dan dengan mencerna pemahaman bahwa 2019 begitu melelahkan secara energi dan emosi, sehingga saya perlu sedikit melambatkan laju, supaya saya bisa menikmati hidup yang indah ini, yang seringkali berkabut, gelap dan misterius.

Posted in ide

3 thoughts on “2019”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s