Varna

Bagaimana saya tiba di Varna? Mungkin kereta atau bus. Entahlah. Saya lupa.

Tapi, saya mengingat sebuah bangunan luas seperti terminal. Mungkin gabungan antara terminal bus dan stasiun kereta. Entahlah.

Yang jelas tak ada bus atau kereta langsung dari Burgas ke Romania. Maka, dari Burgas saya mesti singgah semalam di Varna. Lalu mencari kendaraan menuju Bukares.

Pada musim panas, Varna seperti disusun untuk pesta. Di kawasan pantai, musik disetel keras-keras. Langit belum gelap tapi alkohol sudah tumpah dimana-mana. Saat saya berjalan santai di pantai, rasanya seperti akan ada perayaan yang siap meledak kapan saja. Tapi, Varna terlalu sesak dan gegap.

Saya menginap di Yo-Ho Hostel. Agata rupanya juga tidur di sana. Sebelumnya, kami bertemu di Veliko Tarnovo. Kasur kami bersebelahan, di sebuah dorm sempit di Hostel Hikers, salah satu hostel paling laid back yang pernah saya singgahi. Maka, Varna menjelma semacam reuni. Kami bertukar kabar.

Perjalanannya akan segera berakhir. Ia akan terbang dari Bukares beberapa hari lagi. Sedang, saya akan ke Bukares besok. Entah dengan apa. Di common room hostel, kami membahas kemungkinan saya singgah di Brno, kota tempat tinggalnya, dalam perjalanan pulang saya ke Wageningen. Entahlah.

Varna adalah kota terakhir saya di Bulgaria. Setelah minggu-minggu yang menyenangkan. Dari situ saya akan bergerak ke utara sedikit, ke Bukares. Lalu dari ibukota Romania itu saya akan terus beranjak ke barat, entah itu dengan kereta, bus, atau transportasi darat lain. Mungkin saya singgah di Ceko.

Tapi, yang jelas saya ingin berhenti sebentar di Kassel. Untuk Documenta. Festival seni lima tahunan itu saya ketahui di Blablacar, dalam perjalanan dari Bremen ke Barneveld. Supir yang membawa saya berasal dari Kassel. Saya dan Agata sedang membahas Kassel dan Documenta ketika seorang perempuan menginterupsi.

Ia duduk di dekat kami, sedang membaca majalah. Lalu ia terhentak sedikit oleh kata Documenta. Rupanya ia baru saja dari pameran itu beberapa waktu lalu. Ia menunjukkan beberapa foto instalasi dan karya seni yang dipajang di sana, serta mana-mana saja yang membekas di ingatannya hingga sore itu.

Obrolan kami – seperti lazimnya obrolan di hostel-hostel – menjadi semakin kemana-mana. Semakin banyak orang yang nimbrung. Saya ingat satu gadis Spanyol yang manis, dengan tato yang asyik di punggungnya. Ia rupanya mahasiswi Erasmus. Ia masih mencari flat permanen, sehingga tinggal sementara di hostel.

Bla-bla-bla. Varna dan para pejalan. Setelah bosan, saya beranjak ke balkon. Saya mengambil minuman dan duduk di sana. Seorang lain menemani. Kami bicara sekenanya tentang hal-hal yang dibicarakan dua orang asing yang baru bertemu. Dari bawah, di jalanan, seorang pria mabuk meminta sebatang sigaret.

Sisa malam saya habiskan dengan mencari makan di pusat kota, lalu saya kembali dengan lelah ke dormitori, yang sayangnya diisi pria-pria Belanda yang berisik. Tapi setidaknya saya bisa tidur dengan lelap, lalu bangun di pagi yang dini untuk mencari kendaraan ke Bukares. Sayang, saya tak sempat pamit ke Agata.

Di terminal, saya memesan semacam minibus/travel ke Bukares. Sedikit kekacauan sempat terjadi saat seorang pria mengambil jatah kursi penumpang lain. Rupanya ada miskomunikasi antara si supir dan petugas di kounter agen. Peliknya pria itu tetap duduk dan ngotot ikut berangkat menyebrang perbatasan.

Imbasnya, saya dan seorang pejalan Jepang mesti menentukan siapa yang terusir. Saya ngotot untuk masuk karena sudah membeli tiket. “This is not jungle,” kata saya ke supir dan petugas agen. Orang Jepang itu akhirnya mengalah, pasrah. Ia akan diantar dengan mobil lain, tapi melewati rute yang lebih memutar.

Di dalam mobil, saya berdesakan dengan penumpang lain. Di sebelah saya adalah pria Belgia yang sedang mengambil PhD di Swiss. Istrinya orang Bulgaria, Varna tepatnya. Ia menyayangkan insiden yang baru saja berlalu di terminal.

Di bangku depan saya, seseorang menyindir pria yang ‘mencuri’ jatah kursi si orang Jepang. “Kita bisa lihat bedanya orang dari negara maju, kan?” tutur si penyindir. Saya tak tahu kebangsaan si ‘pencuri kursi’. Mungkin Bulgaria. Mungkin negara Balkan lain. Yang jelas ia tak menggubris. Ia tak bisa berbahasa Inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s