Ska-P & Blablacar

Musim mulai mendingin. Saya berangkat dari Wageningen menuju stasiun Ede-Wageningen, seperti biasa dengan bus 88. Dari situ, saya menumpang kereta Valleilijn ke arah Amersfoort, lalu turun di Barneveld Noord. Dari semua stasiun yang pernah saya alami di Belanda, Barneveld Noord mungkin salah satu yang paling berkesan. Secara arsitektural, ia unik. Secara lokasi, ia berada entah-dimana. Secara mood, ia sunyi. Tak pernah ada kerumunan ketika saya singgah di sana. Entah itu siang, pagi, atau malam hari.

Saya hendak menuju Stade. Dan, seperti biasa, saya mengandalkan Blablacar. Saya mendapat tumpangan. Kami janjian bertemu di dekat Barneveld Noord. Saat itu, kawasan sekitar stasiun sedang banyak perbaikan jalan, sehingga saya mesti berjalan kaki lebih jauh dari biasanya, untuk mencapai titik temu di dekat pom bensin. Saya ingat siang itu langit sedang gloomy. Sedang beban di punggung saya agak berat. Dan itu mungkin perjalanan terakhir saya dari Wageningen menuju Stade.

Til menyilakan saya masuk ke mobilnya. Kami berkenalan. Dia asal Jerman dan baru mengunjungi temannya di Amsterdam. Temannya blasteran Belanda-Maluku. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita. Obrolan menjadi agak sedikit lebih mudah karena dia pernah kuliah di Bangkok, untuk belajar HAM, dan meneliti di Filipina tentang kasus-kasus HAM era Duterte. Jadi, lanskap Asia Tenggara cukup familiar baginya. Dan ia tahu sedikit soal Soekarno, Soeharto, dan kasus-kasus HAM di Indonesia. Obrolan menjadi agak serius, tapi tetap santai. Lalu kami lelah mengobrol dan diam sejenak.

Pada hening Blablacar, saat dua orang asing berada dalam kedap interior mobil, terlebih di musim yang tak hangat, radio kerap menjadi segara. Ia meminta tolong saya mencari kumpulan CD musiknya di laci mobil, dan mempersilakan saya memilah-milih. Saya melihat-lihat dan tak menemukan musik yang saya inginkan. Ia bertanya musik seperti apa yang saya dengarkan, lalu menyarankan Ska-P.

Hingga hari ini, lebih dari setahun setelahnya, saya masih sering mendengarkan Ska-P. Setiap mendengarnya, saya membayangkan autobahn yang kami lewati kala itu, saat langit mendung dan ska menghentak. Ia bisa berbahasa Spanyol dan menceritakan bahwa Ska-P adalah band yang lumayan kiri, cenderung anarko, dan pro-Catalunya. Dari situ kami membahas hal-hal yang agak serius lain: ideologi, separatisme, anarkisme. Ska-P menjadi latar obrolan.

Perlahan kami memasuki wilayah HH, Hansestadt Hamburg. Saya turun di Heimfeld untuk mencari S-Bahn menuju Stade. Kami berpisah di sana, di tikungan jalan dekat bahnhof, di tengah sore yang makin gloomy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s