Remang/Tenang

: untuk Christal

Bagaimana jika aku meminjam cahaya dari matamu
agar aku bisa tetap membaca Murakami
saat rumahku murung karena lampu
tak kunjung menyala?

Ketika kota jadi remang
aku seketika teringat Ebay yang tenang
saat senang tak bersinonim dengan terang
dan ombak menjadi tembang yang sendu.

Di puncak-puncak lilin
aku ingin meniupkan namamu di situ
supaya ruang jadi kelam
dan gelap jadi selimut yang menidurkanku.

Apakah kita harus seperti laron
yang tak henti terbang mencari cahaya
dan mati dihunus lidah-lidah api
di ujung lilin-lilin yang kita sulut?

Aku ‘kan memilih bukan-terang
sebab neon-neon memberiku silinder
dan cahaya-cahaya dari ponsel
menanam radiasi di pusat retinaku.

Jadi, kenapa kita harus gusar
saat kota jadi tenang
dan sunyi jadi nyanyi
yang mengiringi malam-malam yang syahdu?

(5 Agustus 2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s