Semenjana #6

Saya selalu ingin menulis seperti Albert Camus. Kumpulan cerita pendeknya, Summer, adalah favorit saya ketika berangkat ke toilet. Singkatnya, saya selalu ingin menulis buku yang bisa orang nikmati ketika berak.

Fabien, pria tua dari Bordeaux itu, mengingatkan saya untuk hati-hati ketika bicara soal buku Camus yang saya baca saat buang air besar. “Banyak orang yang suka Camus, mungkin saja mereka akan merasa terhina karenanya,” ujar dia. Tapi, apa yang salah dengan berak dan buku yang menemani tai-tai keluar?

Toilet adalah tempat kudus, pikir saya. Saya selalu ingin memiliki toilet dengan buku-buku di dalamnya. Saya membayangkan ada sebuah rak kecil, tepat di atas toilet duduk, tempat saya menaruh buku-buku. Ketika tai nyemplung, saya akan merayakannya dengan sastra. Kira-kira begitulah cita-cita saya.

Setidaknya saya ingin orang membaca ketika berak. Saya berhutang pada Camus, juga penulis-penulis lain yang bukunya suka saya baca ketika di toilet. Di tengah kota yang bising, toilet adalah salah satu persembunyian yang saya ciptakan untuk melarikan diri ke puisi. Jadi, sebenarnya saya hanya ingin berbalas budi.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s