Migrasi: Teori dari Travel

Travel yang saya tumpangi mulai menjauhi wilayah Grobogan dan perlahan memasuki Sragen kabupaten. Jalan-jalan kecil memisahkan sawah-sawah di kanan-kiri. Rumah-rumah penduduk tersebar di sekitarnya, di titik-titik yang sedikit lebih rimbun, seperti sedang mencari teduh di hari yang kemarau.

Pada sebuah kelokan, sang supir memulai narasinya. Di situ ada sebuah rumah kecil nan sederhana, lengkap dengan genteng batu bata merah yang lusuh terpanggang waktu. “Itu rumahnya model rumah desa lama ya?” ujar sang supir, memantik teori dari mulutnya sendiri. Saya, yang duduk di bangku depan, menimpali dengan “iya”. Saya mencatat ceritanya kemudian lewat recorder bernama ingatan.

Kira-kira beginilah ceracau sang supir.

Rumah bermodel jadul seperti itu dibangun bertahun-tahun lalu, mungkin sejak jaman pra-kemerdekaan. Yang memiliki rumah-rumah seperti itu, bisa ditebak, adalah keluarga petani. Setidaknya dulu. Sekarang petani-petani telah menua. Anak-cucunya sudah pergi ke kota untuk sekolah atau bekerja yang jauh dari persoalan tanah dan padi.

“Sudah jarang rumah model lama seperti itu, karena sekarang anak-anak desa banyak yang sukses di kota, lalu kembali untuk memperbaiki rumah orang tua dan kakek-neneknya. Modelnya ya jadi beda, tidak seperti dulu,” ucap sang supir cum pencerita.

Anak-anak desa yang sudah pindah ke kota itu memberi warna baru untuk rumah-rumah di pedesaan. Seperti mencetak garis yang memisahkan rumah desa model lama dan baru, jadul dan kekinian. Desa-desa tumbuh bersama keramik-keramik, dan genteng-genteng batu bata merah yang tahan terhadap matahari musim kemarau.

“Tapi ya kadang anak-anak kalo sudah ke kota malah lupa pulang ke desa. Kadang ya rumah di desa bukan diperbaiki, malah orang tuanya yang diajak pindah ke kota saja. Ngapain tinggal di desa,” lanjut supir di sebelah kanan saya, dengan mata lurus menatap aspal-aspal yang memisahkan padi-padi yang akan berakhir di piring-piring kita.

Pada mulanya, migrasi desa-kota memindahkan orang-orang dari desa ke kota. Lambat laun ia juga turut memindahkan rumah beserta isinya. Dan mengubah alamat di banyak KTP, dari tadinya warga desa jadi warga kota. Dan kota bertumbuh terus. Dan rumah-rumah model lama semakin jarang di temui di desa-desa.

(Sleman, 20 Juli 2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s