Calvin Stengs dkk.

12 November 2016. Musim sudah begitu dingin di Wageningen. Saya menyiapkan sarung tangan, kupluk, dan perlengkapan lain untuk melawan udara yang dingin. Hari itu temperatur tak pernah lebih dari 5 derajat. Dari kamar di Haarweg, saya bersepeda melewati jalan-jalan kecil nan sepi, melalui banyak peternakan, sebelum tiba di Veenendaal setelah lebih dari 12 km mengayuh.

Itu akhir pekan. Dan artinya sepak bola. Saya ke Veenendaal untuk itu. GVVV Veenendaal berhadapan dengan Jong AZ Alkmaar dalam lanjutan Tweede Divisie. Di tribun, saya tak sendirian kedinginan. Bapak, ibu, pemuda, pemudi, dan anak-anak, semua tampak menggigil. Tangan selalu ada di kantung jaket. Syal rapat melindungi leher dan kupluk menutup telinga. Semua siap.

Di lapangan, situasi berjalan payah bagi GVVV. Sempat unggul lebih dulu, tuan rumah menyerah 1-4 dari Jong AZ. Tak ada yang terlalu spesial di lapangan hari itu, kecuali satu pemain yang menarik perhatian saya sejak pertama kali bola berada di kakinya.

Namanya Calvin Stengs, dengan nomor 34 di punggungnya. Larinya kencang di sisi kanan penyerangan Jong AZ. Akselerasinya merepotkan pertahanan GVVV. Satu gol ia sumbang di laga itu, dan gol terakhir tak lepas dari key pass-nya. Tapi, terlepas dari semua catatan itu, pergerakannya yang membuat saya terpikat sejak awal. “Suatu hari dia akan jadi pemain besar,” pikir saya dalam hati.

12 Mei 2019. Saya menonton streaming laga antara AZ Alkmaar dan PSV Eindhoven. Selain Ajax vs Utrecht, laga itu akan menentukan juara Eredivisie tahun ini. Di lapangan, pemain nomor 7 tampak familiar. Lalu, komentator menyebut namanya: Stengs.

Seketika saya mengingat siang yang dingin di Veenendaal itu. Stengs telah beranjak dari Jong AZ ke tim senior. Pelan-pelan ia memantapkan posisinya di AZ. Ia naik tingkat ke tim utama sejak musim lalu, namun baru pada musim 2018-19 namanya sering menghiasi susunan pemain AZ. Terhitung 20 kali ia tampil di Eredivisie, 19 di antaranya sebagai starter. Tiga gol dihasilkannya. Mungkin, beberapa tahun lagi, tebakan saya di Veenendaal bukan sekadar bualan belaka.

DSC_0685

Stengs-Stengs lain

Saya memang punya kebiasaan seperti itu: menonton seorang pemain untuk kali pertama, langsung terpikat, lalu menebak ia akan jadi pemain besar. Stengs bukan yang pertama. Beberapa di antaranya jadi kenyataan, tapi ada pula yang malah mandek kariernya. Namanya juga manusia, cuma bisa menebak-nebak.

Fredy Guarin, misalnya. Saya lupa kapan dan pada laga apa pertama kali menyaksikan Guarin lewat tv. Saat itu ia masih di FC Porto. Di lapangan tengah, ia berlari tanpa lelah dari satu kotak ke kotak lain, dengan atau tanpa bola. Saat itu ia belum dikenal banyak orang, tapi saya yakin ia ditakdirkan untuk klub yang lebih besar. Inter Milan akhirnya merekrutnya, tapi rasanya cukup sampai di situ ‘puncak’ karier Guarin.

Terkait Inter, ada satu pemain lagi: Mathias Ezequiel Schelotto. Awal 2013 silam, saya sempat menulis tentang Schelotto dan membandingkan dia dengan Mauro Camoranesi, legenda Juventus. Secara fisik, keduanya mirip: awak yang kurus dan rambut gondrong. Keduanya juga sama dalam hal posisi (gelandang kanan), negara kelahiran (Argentina), dan tim nasional (Italia – karena punya dua kewarganegaraan).  Schelotto mulai melesat bersama Cesena, tapi di Atalanta-lah saya “mengendus” bakatnya. Ia lalu dipanggil ke timnas Italia (meski hanya sempat bermain selama empat menit di laga persahabatan). Saya pikir ia akan jadi Camoranesi jilid dua. Tapi, setelah pindah ke Inter, kariernya justru perlahan redup.

Cukup sudah yang sendu-sendu. Dua nama terakhir harusnya (akan) lebih benderang. Pertama, Willian kala masih berkostum Shakhtar Donetsk. Skuat Shakhtar saat itu diisi Fernandinho, Douglas Costa, Henrikh Mkhitaryan, dan Luiz Adriano. Bahkan, bersama nama-nama itu, Willian tampak begitu menonjol. Liukan-liukannya meyakinkan saya bahwa dia terlalu besar untuk Shakhtar. Benar saja. Setelah transit sebentar di Anzhi, Willian berlabuh di Chelsea hingga kini dan bakatnya tak kunjung padam.

Yang terakhir, Frenkie De Jong. Saya pertama kali sadar oleh bakat besar Frenkie saat menonton langsung laga ADO Den Haag versus Ajax, September 2017. Ajax tampil biasa saja siang itu dan akhirnya pulang dengan satu poin. Tapi, pendar sinar Frenkie sudah terlihat di sana. Ia bermain di “posisi Pirlo” dan dari sana ia mengalirkan bola ke rekan-rekannya. Saya menonton bersama teman dan ia juga sadar. “Siapa pemain nomor 21, Tor?” tanyanya. Musim ini, kita semua tahu siapa Frenkie.

(Mei 2019)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s