Masa Lalu

Banyak hal yang sudah selesai. Seperti masa lalu. Kita bisa saja menggambarnya ulang di dalam kepala, tapi itu hanya berhenti di situ saja. Yang berlalu telah berlalu. Kadang ia berupa nostalgi, kadang ia berupa pesan dari jauh. Kadang ia berupa bukan apa-apa – hanya sekadar lamunan di tengah malam yang kosong, saat kantuk tak jelang tiba.

Yang menarik adalah berubahnya nuansa. Mulanya memori masa lalu lebih berupa nostalgia yang elegis, tentang sesuatu yang sudah berakhir dan tak ada lagi di sini hari ini. Kita terus mengunyahnya dengan pasrah. Hingga, lambat laun, elegi itu berganti dengan perasaan kangen yang dewasa, yang tak mendamba yang lalu untuk terjadi lagi.

Mungkinkah kita tumbuh dewasa dengan cara seperti ini? Dengan membiarkan masa-masa yang sudah lewat – beserta kenangan tentangnya – mengajari kita perlahan tentang arti kehilangan, menerima, menyintas, dan pasrah? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau mungkin kita hanya terlampau kesepian di dunia yang hiruk pikuk ini.

***

Kota-kota melintasi kepala seperti rangkaian kereta yang berderap di punggung gunung. Satu per satu muncul di hadapan, tapi terlalu segera. Sepersekian detik hilang, berganti dengan yang lain. Begitu terus, hingga tiba-tiba kantuk datang dan lelap membunuh kereta-kereta imajiner itu. Menyudahi kota-kota yang berlarian liar di kepala.

Juga manusia-manusia. Kita berbagi spasi dengan yang lain. Dan dari spasi yang dibagi-bagi itu, cerita mengalir, terpotong-potong menjadi puzzle yang melengkapi keutuhan fragmen. Seringkali, kota tak ada artinya tanpa orang-orang di dalamnya, dimana kita berbagi waktu dan ruang dengan kerinduan masing-masing akan rumah.

Rumah. Dimana rumah? Kita pergi dari rumah, mencari rumah, mendapat rumah, mendamba rumah, kehilangan rumah, merindu rumah. Rumah, akhirnya, bukanlah kediaman. Atau tempat yang ajeg. Ia hanyalah alasan kita untuk bergerak, untuk selalu pulang, untuk selalu mencari yang bukan di sini hari ini. Untuk tersesat sekali lagi.

***

Kepingan-kepingan itu lalu berjejalan. Kadang kita harus melukiskannya, entah lewat kata-kata atau gambar. Tapi, lebih sering, kita membiarkannya hanyut entah kemana. Karena – bukan apa-apa – kita tak sanggup untuk bergerak. Kita pasrah diam mendapati takdir yang pilu ini, yang berwujud ingatan-ingatan dari masa yang lalu.

Lalu, apakah kita harus melawannya? Saya rasa tidak. Yang lalu akan selalu datang sebagai bayangan. Kita tak perlu cemas, karena ia sudah datang berkali-kali dan semua toh baik-baik saja. Justru, semua itu tanda yang asyik bahwa kita telah melalui waktu-waktu yang berharga. Senang dan sedih itu niscaya, berharga itu soal memilih.

Jadi begitu. Ketika nostalgia masa lalu menerkam, sebaiknya kita bernafas dengan tenang. Dan menutup mata. Dan kereta-kereta itu melintasi neuron-neuron yang menghubungkan hari-hari yang berjarak, kota-kota yang berjauhan, dan manusia-manusia yang terpisah. Bersama nostalgia, kita tak akan pernah benar-benar kesepian.

(Depok, 5 Mei 2019)

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s