Wageningse Blues

Selalu ada masa-masa seperti ini. Saat Wageningen menjelma rindu yang pelik.

Saya bangun pagi dengan tik-tok jam yang sunyi, yang membuat saya mengingat hari-hari ketika pertama kali pulang ke rumah, setelah dua tahun yang gegas di utara. Jam itu, lalu bunyi dentingnya setiap menit ke-00, entah bagaimana, memberi saya nostalgi tentang Wageningen yang murung.

Lalu saya menyeduh kopi. Dan mengingat Vonnegut. Dan mengingat ibu-nya Agata. Dan mengingat Brno. Lalu perlahan Eropa menyusun ulang dirinya di benak saya dengan fragmen-fragmen yang tak beraturan. Padova di musim panas, Zwolle di kejenuhan tesis, dan bangunan-bangunan reot di Belgrade.

Saya naik ke atas, mencoba mencari arti dari sebuah hari. Lalu membuka laptop, masuk ke Facebook, dan menemukan foto-foto Nederrijn dari posting seorang kawan yang masih belajar di Wageningen. Tempat favorit saya di seantero kota (ngomong-ngomong, saya merinding ketika menulis ini).

Setelahnya, jalur-jalur sepeda di kota itu masuk ke kepala. Saya membayangkan diri duduk di sadel dan melewati manusia-manusia yang tak dikejar apa-apa. Hidup, pada akhirnya, adalah tentang berjalan melewati sore yang menua. Kita tak perlu tergesa-gesa, karena toh sunset akan tiba pada waktunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s