Perenungan Digital

Angkot-angkot yang sepi penumpang di Jagakarsa membuat saya termangu. Apa yang telah diberikan ojek online dan bentuk-bentuk ‘revolusi digital’ lainnya? Sekadar disrupsi? Atau, total destruction?

Di kelas, saya menerangkan soal inovasi disruptif dengan elegi di kepala. Saya membayangkan apa yang hilang karena inovasi-inovasi itu. Di skena pejalan, misalnya, komunitas sudah tak banyak lagi. Apakah kita bergerak menjadi (semakin) lebih individualistik dan meninggalkan yang komunal?

Angkot, sebenarnya, memberi kita ruang (publik) untuk berinteraksi dengan warga masyarakat lain. Juga Miniarta yang kian lowong hari-hari ini. Saya selalu suka naik angkutan umum saat jalan-jalan, karena di sanalah sejumput sensasi tentang lokalitas bisa dirasakan. Di ojek online, semuanya cuma sekadar algoritma.

Entahlah. Hari-hari ini saya tiba-tiba saja banyak berpikir soal teori ini: bahwa revolusi digital, inovasi disruptif, atau hal-hal lain di sekitarnya telah membawa kita ke tatanan sosial baru yang lebih individualis. Kita mungkin bertaruh terlalu banyak dengan membiarkannya masuk terlalu dalam ke sendi-sendi kehidupan kita sehari-hari. Saya hanya takut tak ada jalan untuk pulang.

Saya tak tahu apakah paranoia semacam itu berlebihan. Teknologi digital dan berbagai turunannya membuat hidup kita kian (terasa) mudah. Kita cuma perlu duduk di teras dan makanan akan datang tepat di depan pagar. Dan, kita bisa berak sambil memesan tiket pesawat (voila!). Secara praktis, transaksi-transaksi itu memang membutuhkan orang lain. Namun, sebentar, adakah yang human-is di situ?

Entahlah, yang jelas mesin-mesin dan segenap algoritma ini terasa kian mengerikan. Rasanya ini bukan sekadar lagi disrupsi, tapi telah menjadi dominasi. Ia sudah menyetir epistemologi kita dan berusaha menutup ruang-ruang alternatif. Tapi itu cuma teori, kok. Semoga tidak.

Advertisements
Posted in ide

2 thoughts on “Perenungan Digital”

  1. Sangat mendalam, saya suka dengan paparan anda, Dan memang itulah yang terjadi bang. Android sudah membangun tembok pemisah diantara himpunan keluarga yang harmonik.

    Itulah Revolusi Digital, bang

    Regards, Abraham Santosa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s