Ambivalen(si)

~sebuah catatan akhir tahun.

Ambivalen(si) mungkin kata favorit saya tahun ini. Sejak Siberut hingga berbulan-bulan setelah predikat MSc diberikan di Wageningen, kata itu senantiasa diam di kepala. Ia telah menjadi semacam paradigma. Seperti kacamata yang lewatnya saya belajar memahami hal-hal di dalam dan sekitar saya. Tentu saja saya berhutang pada orang dan ombak Mentawai.

Saya menjalani turlap akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 di Siberut. Penelitian itu untuk tesis saya. Dan salah satu temuan terpentingnya adalah ini: ambivalensi. Orang Mentawai berelasi dengan ombak dengan ambivalensi yang seringkali tak mudah dipahami. Saya membungkusnya lewat berbagai sub-bab.

Pertama adalah soal ombak bagus (maeru koat). Di Mentawai, ombak bagus bisa berarti tak banyak hal. Ia tak pernah tunggal, selalu ambivalen, dan seringkali kontradiktif. Ombak besar misalnya bagus buat surfing tapi tidak untuk memancing. Sebaliknya, ombak kecil bagus buat berpergian tapi tidak untuk aktivitas wisata selancar. Pada dasarnya, orang Mentawai selalu punya alasan untuk merayakan ombak (bagus).

Kedua adalah kontradiksi takut/menyenangkan. Ombak sejak dulu ditakuti orang-orang Mentawai. Ia bersinonim dengan badai dan kemalangan. Tapi, itu bukan narasi satu-satunya. Terlebih sejak kemunculan wisata selancar, orang-orang mulai belajar memahami ombak sebagai nonhuman agency yang menyenangkan. Ia asyik dan menakutkan secara bersamaan. Ambivalensi seperti ini akan sulit dipahami oleh Descartes.

Ketiga adalah apa yang saya konsepsikan sebagai avoidance/encounter. Artinya orang Mentawai menjalin hubungan dengan ombaknya lewat tegangan yang ambivalen untuk menemui/menghindari. Terlebih buat mereka yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau, ombak mau tak mau harus ditemui. Juga untuk mereka yang doyan surfing. Tapi dalam pertemuan itu, mereka juga tahu bahwa menghindari adalah sebuah keharusan.

Keempat adalah hubungan asosiatif yang ambivalen antara ombak dengan badai dan kepiting (aggau). Di Mentawai, musim ombak adalah musim badai sekaligus musim aggau. Dua hal itu mengandung kontradiksi. Jika badai dihindari dan ditakuti karena berpotensi menghadirkan kemalangan, aggau justru dicari-cari dan dinanti karena bermakna rejeki. Dalam tensi antara bahaya dan nikmat itulah orang Mentawai hidup dengan ombaknya.

Terakhir adalah soal keintiman. Walau dihantui kengerian akan ombak, orang Mentawai menjalin relasi yang intim dengan ombaknya. Intim tak melulu harus yang manis-manis, atau yang romantis-romantis. Keintiman seringkali adalah kedekatan yang ambivalen, yang kontradiktif, yang tak mudah dimengerti. Ia adalah sebuah keharusan untuk merespon kehidupan.

Ambivalensi-ambivalensi itu membantu saya memahami banyak hal lain di luar Siberut, universitas, maupun jurnal-jurnal ilmiah. Ternyata kita tak pernah luput dari yang ambivalen-ambivalen di kehidupan sehari-hari. Tengoklah. Renungkanlah. Hidup itu nyatanya tak pernah hitam atau putih, baik atau buruk, rajin atau malas, pintar atau bodoh. Selama ini, cara-cara berpikir yang dualistik itu telah memenjara kewarasan kita.

Oleh karena itu, di awal saya menyebut ambivalen(si) sebagai paradigma. Ia membantu kita berpikir, memahami, merasa, melihat, mendengar, atau mengecap di luar konstruk-konstruk Cartesian. Dualisme-dualisme telah menyatron kehidupan kita, telah meng-over simplify hidup menjadi label-label dan garis-garis yang tegas. Padalah, kehidupan tak pernah sekaku dan semembosankan itu. Ia cair, tak berbentuk, dan bergaris putus-putus.

Garis putus-putus itu yang menjadi inti hidup. Ia menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Kita bisa menjadi apa saja. Tak harus hitam, tak harus putih. Tak harus baik, tak harus buruk. Kita adalah keduanya, atau bukan sama sekali, atau campuran keduanya. Kita bisa baik dan jahat sekaligus, kita jenius dan bodoh sekaligus, kita bahagia dan sedih sekaligus. Sejak dulu begitu. Cuma kita lebih sering lupa akan kenyataan sederhana itu.

Maka, di penghujung tahun ini, saya ingin mengingat lagi soal itu. Saya ingin merekonsiliasi ontologi dan epistemologi kita yang selama ini disandera cara-cara berpikir Cartesian. Saya ingin merayakan hidup yang penuh ambivalensi ini. Bahwa hidup itu enak dan penuh onak secara bersamaan. Seperti orang Mentawai dan ombaknya, kita selalu punya alasan untuk merayakan kehidupan. Mari tertawa/menangis bersama-sama di bumi.

(Depok, 28 Desember 2018)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s