Siena

Bus antarkota yang saya tumpangi melaju kencang, melewati padang-padang Toscana yang manis. Bus stop La Colonna-Monteriggioni terlewat sudah, sedang saya lupa memencet bel tanda berhenti. Maka tubuh saya dibawa sampai ke halte Colle di Val d’Elsa, kira-kira 15 menit dari pemberhentian yang semestinya.

Tiket saya hangus. Cazzo. Dan saya harus membeli lagi di kios kecil dekat halte. Saya tak mau apes lagi. Hari sebelumnya, petugas bus menilang saya gara-gara saya lupa memvalidasi tiket yang sudah saya beli. Cazzo. Lebih dari 40 euro terkuras dari rekening bank. Karma mungkin benar eksis. Saya mengingat 9 hari di Torino tanpa membayar bus.

Jangan dicontoh. Secara umum, kota-kota Italia memberi kesempatan kita untuk ugal-ugalan. Klakson lebih sering terdengar daripada di Belanda. Makin ke selatan makin chaotic. Dan saya suka yang kacau-kacau. Membuat saya merindu Jakarta. Meski sedikit. Tapi lupakanlah soal tilang di Siena itu. Saya kapok tidak membayar bus.

Monteriggioni adalah semacam kota (atau mungkin desa) kecil di provinsi Siena. Saya tak tahu kenapa saya kesini. Malam sebelumnya, Raymundo mengajak saya keluar kota Siena dan berjalan-jalan ke kebun anggur di sana hingga ke San Gimignano yang konon adalah produsen wine terbaik di wilayah Toscana. Tapi saya ogah bangun pagi.

Maka, saya memulai pagi dengan rileks. Seperti biasa. Ketika saya bangun, cahaya matahari sudah merayap memasuki 2-bed dorm berbentuk tenda di campground Colleverde. Kira-kira macam glamping lah. Lengkap dengan kasur yang empuk, colokan listrik, wifi, lampu, dan sepasang meja-kursi di depan masing-masing tenda. Melenakan.

Nyamuk-nyamuk menghabisi sekujur tubuh. Saya sibuk menggaruk-garuk dan mengecek bagian mana yang memerah digigit nyamuk. Toscana di musim panas adalah padang bermain bagi nyamuk. Suhu yang hangat membuat mereka berkembang biak dengan rakus dan menjadi buas. Saya teringat malam penuh nyamuk di Firenze.

Lupakan nyamuk. Selesai mandi, saya naik bus ke kota. Saya mendapati petugas yang sama yang menilang saya kemarin. Cazzo. Kali ini saya punya tiket yang valid. Saya tersenyum pahit ketika dia memeriksa tiket saya. Di kota, turis-turis berjejalan. Mereka/kami membentuk simfoni yang ribut, gerak-gerik yang simbolik, dan foto-foto yang klise. Di depan Piazza del Campo, saya hanya termenung tanpa alasan.

Mungkin saya bosan. Maka saya teringat ajakan Raymundo. Kenapa tidak keluar kota? Saya ingin kabur dari gerombolan turis rupa warna ini. Maka, saya turun ke loket bus yang terletak di bawah tanah dekat terminal bus di tengah-tengah kota, dekat pula dengan Stadio Artemio Franchi. Saya membeli tiket pulang pergi ke Monteriggioni.

Di sana, satu-satunya yang saya lakukan pada dasarnya adalah berjalan kaki. Wilayah Toscana, termasuk Siena, memiliki banyak jalur camino. Awalnya, saya hendak menuju kastil yang entah apa namanya. Tapi saya malah tersesat di salah satu jalur camino yang mengasyikkan. Super sepi. Saya cuma sempat bertemu satu orang sepanjang jalan-jalan kaki santai di sana, kurang lebih tiga jam.

Tersesat mungkin cara terbaik untuk menikmati perjalanan. Lanskap yang luas, kadang ditambah pernik bunga warna-warni di beberapa sisinya. Kontur yang naik turun. Dan, yang utama, tak ada manusia. Siena, dengan turis-turisnya yang berjubel di pusat kota, terasa begitu jauh. Saya berjalan sendiri tanpa arah tanpa tujuan hingga ke kedalaman hutan, hingga saya mulai ketakutan dan memutuskan untuk kembali.

Di bus stop La Colonna-Monteriggioni, saya bertemu lagi dengan pria yang sempat saya temui di jalur camino tadi. Ia hendak menuju San Gimignano rupanya. Jalur kami bertolak belakang. Saya kembali ke Siena, dan bergegas secepatnya menuju campground untuk menonton laga perempatfinal Piala Dunia, Prancis vs Belgia. Oh pub akan segera penuh, pikir saya dalam hati.

Singkat cerita Prancis menang malam itu. Orang-orang Prancis yang singgah di campground itu berpesta pora. Orang-orang Belgia pulang ke caravan masing-masing dengan muka tertekuk. Saya kembali ke tenda bersama Raymundo dengan biasa-biasa saja. Kami cuma kelelahan dihantam siang yang terik, baik di San Gimignano maupun Monteriggioni.

Lalu, perlahan malam justru memanjang bagi saya. Ketika saya hendak tidur pulas, dan baru selesai menggosok gigi, Laurenz memanggil nama saya. “Sarani?” tanyanya ragu. Karena gelap saya mendekat dan mendapati dirinya sedang duduk memasak pasta, tepat di belakang tenda saya. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di sebuah hostel di Bologna.

Jadi, demikianlah. Saya duduk dan mengobrol dengan anak Jerman itu hingga berjam-jam lamanya. Kami menghabiskan anggur putih yang ia bawa entah dari mana. Ia bercerita tentang perjalanannya di Ancona dan Roma. Ia begitu menyukai wilayah Marche, di pantai timur sana. Dan Roma begitu penuh oleh manusia. “But still beautiful,” tukasnya.

Bla bla bla bertukar. Saya menguap beberapa kali. Botol wine sudah kosong. Dan akhirnya good bye diutarakan. Dia akan ke utara, sedang saya akan ke selatan. Kami berpisah di depan tenda dan saya menikmati tidur yang pulas malam itu. Akumulasi dari mini camino, matahari musim panas, dan sebotol wine putih yang ditenggak dua orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s