Amstel

Kita berjalan di sepanjang Amstel, pada hari Minggu yang cerah di Amsterdam. Setelah menyesap Grolsch dan jus di rooftop Volkshotel, seraya mengunyah kalimat-kalimat elegis tentang keluarga, masa depan, dan peliknya menjadi anarko. Kita kehilangan banyak waktu dan kita mengejarnya. Tapi kita kelelahan.

Waktu memang jahanam, kata Silampukau, band asal Surabaya. Dan aku menelannya utuh-utuh saat kita berjalan melewati gang-gang sempit di sekitar sungai. Dan kau bawa diriku ke Massimo, “kedai es krim paling enak di Amsterdam”. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi yang jelas bibir kita belepotan di depan kedai, sambil menikmati kerumunan manusia yang menikmati akhir pekan yang asyik di kota.

Lalu kita bicara soal Italia. Kau soal Toscana, aku soal Umbria. Kita menyusun puzzle-puzzle yang menyusun imajinasi tentang sebuah negara di selatan, yang kita cintai dengan alasan dan retorika masing-masing. Aku calcio, kau bukit-bukit sunyi di Toscana. Tapi tentu saja Italia lebih dari itu. Ia rumit. Seperti kita.

Kau harus pulang dan mengayuh sepeda ke dekat pusat kota. Movie night. Kita berjalan melewati sebuah gedung jelek di pojok, sepertinya bekas gereja. Lalu bangunan-bangunan kecil, beberapa tampak miring. Dan kita berpegangan tangan sejenak di pinggir Amstel. Dan tertawa. Dan tersenyum. Dan aku (mungkin juga kau) akan mengingat senyum itu sebagai melankoli yang tak selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s