Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s