Rusia ’18

Piala Dunia seperti memberi kita mata baru. Yang ia tawarkan, sebenarnya, adalah kesempatan untuk melihat cara bermain sepak bola yang berbeda, beragam, plural. Yang universal itu cuma rekaan. Sudah sejak lama imajinasi kita – yang dimediasi televisi, internet, dan lain-lain – dikurung cara berpikir yang Eurosentris. Premier League, La Liga, Serie A, Bundesliga, dan liga-liga Eropa Barat beserta papan klasemennya selalu muncul jelas di kanal-kanal sepak bola. Dan kita merayakan Liga Champions (Eropa) dengan meriah/gairah. Sudah sejak lama, Eropa menyetir imajinasi dan cara berpikir tentang apa itu baik/buruk, modern/primitif, maju/berkembang, pusat/periferi, dan kategori-kategori Cartesian lain.

“Ketika sepak bola dimainkan, saya bersyukur akan keajaiban ini dan peduli setan tim atau negara mana yang main.” Kira-kira begitulah kata Galeano. Orang-orang mencari Messi atau Ronaldo atau Salah. Dan kita lupa anak-anak Senegal, Jepang, Panama, Tunisia, dan ratusan pemain lain sedang menjalani mimpi masa kecilnya. Di Rusia, harusnya kita sejenak melupakan narasi-narasi besar dan universalis tentang apa itu sepak bola yang baik dan belajar merayakan pluriversitas. Ada banyak cara untuk hidup dan bermain bola (atau tidak sama sekali!).

‘Menyadari’ selalu jadi langkah pertama setiap revolusi. Tanpanya, Soeharto akan duduk selamanya di istana. Tanpanya, kita akan selalu menelan mentah-mentah omong kosong Descartes. Jadi, yang diberikan hari-hari ini – from Russia with love – adalah kans; adalah jalan yang membawa kita pada kenyataan bahwa sepak bola dimainkan dengan banyak ide. Maroko-Iran, misalnya. Tak banyak yang tertarik. Orang-orang kadung menelan manifesto bahwa yang jago cuma Jerman, Brazil, Argentina, Spanyol, Prancis. Di lapangan, terlepas apa pun hasilnya (persetan hasil!), para pemain Maroko dan Iran memberikan seluruh keringatnya; dan memberi kita ingatan yang nostalgik tentang sepak bola yang asyik.

Memang sepak bola disulap jadi ruang olah manajemen. Dulu kita punya pelatih, sekarang kita punya manajer. Pelatih mengajak kita bermain, manajer mengajak kita bekerja. Itu kata Galeano (lagi). Bermain dan bekerja mengandung semesta yang berbeda. Orang bekerja dengan skema, yang kadang diulang-ulang, dan itulah kenapa Argentina tampak membosankan dan Jerman seperti kehabisan ide untuk mencetak gol. Bermain adalah sudut pandang yang tak ada di kamus orang-orang yang kepalanya sudah diisi mantra-mantra modern tentang efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan rumor-rumus neoliberal lainnya.

Hari-hari ini, betapa menyenangkannya melihat Iran, Nigeria, Korea Selatan, Peru. Mereka yang bermain sepak bola dengan gema yang diusung Galeano: sepak bola adalah kenikmatan yang menyakitkan. Hasil akhir, tentu saja, selalu bisa mengkhianati perasaan-perasaan kekanak-kanakan yang tumpah di lapangan; atau mengecoh orang-orang yang cuma mau menonton Neymar jatuh dan Messi kebingungan (lalu mengecek skor via livescore). Di 90 menit ++ yang sering kali dilupakan, yang banyak orang tak rela menghabiskan waktu kronosnya untuk itu, sepak bola yang asing sekaligus tak asing itu sebenarnya sedang dimainkan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s