yang paling nyeri

Yang paling nyeri dari bangun kepagian adalah ingatan tentang rumah.

Hari ini, tidak seperti biasanya, saya terbangun jam enam pagi. Lalu saya gegoleran di sofa, lalu saya mandi. Setelah itu saya ke dapur, untuk menyeduh kopi.

Yang paling nyeri dari kopi adalah ingatan tentang rumah.

Kopi yang saya seduh dari Sorong, Kopi Senang. Wanginya, astaganaga, menguar dan seketika membentuk bayangan tentang teras dan dapur di rumah. Saya tiba-tiba teringat bapak dan nenek saya. Kita bertiga peminum kopi paling giat di rumah. Dulu waktu kecil, saya suka menciumi wangi kopi yang baru mereka seduh.

Pagi ini, saya meminum kopi untuk mereka.

Bangun kepagian juga membuat saya mengingat ritual-ritual pagi yang biasa saya lakukan di rumah. Seperti menonton berita olahraga di televisi, atau tidur-tiduran di sofa. Dulu sebelum bapak mengantar saya ke sekolah, saya suka malas-malasan dulu. Sebangun tidur, saya langsung minum susu, lalu beranjak ke sofa sejenak. Setelah mandi, saya ganti baju sambil nonton televisi.

Hari ini, saya membuka laptop untuk itu. Tapi ternyata berita pagi sudah habis — karena di Indonesia sudah siang.

Yang paling nyeri, dari semuanya, adalah waktu yang berjarak.

(Wageningen, 20 Juni 2018)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s