prosa paling tidak romantis

Sejujurnya aku tak ingin mengirim ciuman, atau pelukan, ke Jakarta. Kotak posmu tak akan diisi dengan surat dari jauh, dari tempat yang dibaca dengan kernyit di dahi. Aku tak ingin menciummu hari ini. Tak juga besok. Ciuman memperrumit hal-hal yang sederhana, kan? Ia membikin kita linglung oleh nestapa tentang birahi dan kata-kata yang disekap bibir-bibir yang bertaut. Harusnya kita lebih banyak berbahasa di balik senja Yogyakarta.

Maka, aku akan mengirim sepasang burung hantu ke jendela kamarmu. Mereka akan diam setiap malam, seperti sebuah serenada dari utara. Di sunyi malam, mereka akan menjadi bait-bait yang lirih yang mengandung melankoli. Kita tak perlu berbasa-basi lagi tentang filsafat atau gereja. Lupakan suara-suara dari internet. Kedua burung hantu itu akan menjelma aku; yang diam gagap tanpa suara, dengan doa tanpa aksara, kata, agama.

Disini, di musim yang hangat di eropa, aku akan terbahak melihatmu yang kehabisan nafas di kereta. Oh ibukota jahanam, beri aku sepotong udara dari surga! Dan kulahap roti-roti gandum dengan rakus, dengan bayangan tentang gorengan dan tahu isi di Cikini. Tersedak aku membayangkan piring-piring yang tandas dan jari-jari berminyak yang diseka oleh ludahmu. Aku akan tertawa tanpa permisi; atas nama hak paling asasi.

Jadi, aku memberimu kontradiksi-kontradiksi yang tak kau mengerti. Juga sunyi yang kau tak pahami. Juga bahasa yang tak terpermanai. Di titik-titik ini, kita akan kelelahan menyusun jembatan yang menghubungkan benua. Kita bergerak jauh dengan bayangan tentang gaun pernikahan dan tetek-bengek menjadi orangtua; tapi lupa mengecap nikmat dunia. Hari ini aku ingin menjadi apa saja. Atau tidak sama sekali, sayangku.

Tapi, selamat hari lahir! Ngomong-ngomong, aku mengingat Buffon. “I hate birthday,” katanya. Dia tak menyukai selebrasi, apalagi saat ia ada di pusat atensi. Untuk itu, ia memilih posisi paling kesepian di lapangan. Di bawah mistar gawang, tempat orang-orang yang tak ingin menjadi apa-apa. Kecuali menjadi tembok yang memisahkan garis tipis antara luka dan suka. Dari jauh, aku mengingatmu dengan bayangan tentang ojek di Senayan.

Lalu senja menua disini, di pukul 22 yang aneh. Aku akan membisikan doa yang tak dicatat, yang tak diajari yesus atau buddha. Kita juga akan menua (dan tak berubah). Tak ada yang perlu berubah. Kita berdua berjalan kaki, santai menuju ufuk di timur sana; tanpa pretensi, tanpa interpretasi, tanpa romantisasi. Kau dan aku berbagi es coklat yang meleleh dan kita tak perlu mengeluh tentang dunia yang gila. Kita kan tiba di indomaret!

(wageningen, 22 mei 2018 wib)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s