yang sederhana

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita bungkam. Juga oleh puisi. Atau roman yang melenakan. Kita berbagi ruang imajiner, dengan jarak yang membentang ribuan mil. Kata-kata sering patah di tengah, ditelan arus samudra, atau hanyut dilindas angin muson dari barat. Di kupingmu, musikku mengalun bak nyanyi yang sumbang.

Kita berlari, berlari, sesekali berjalan cepat. Tapi kita seperti lupa caranya berhenti. Kota menghisapku/mu habis. Masa depan merongrong seperti hantu yang mabuk. Dan Mentawai masuk sebagai alegori untuk revolusi. Atau wahyu. Sudut-sudut Siberut telah memberiku mata baru untuk memandang dunia. Lupakan Eropa, lupakan PBB.

Hari-hari ini hal-hal yang simpel, sederhana, sehari-hari, remeh, ugahari, dan apa-adanya menjelma manifesto. Aku membacanya dengan kerinduan yang telak; seperti seorang pecinta/pejuang yang lelah bertarung dan menguras keringat di medan dunia/laga. Bisakah kita berbagi secangkir cappuccino saja di sore yang makin oranye?

Titik-titik di buku membentuk ulang dirinya sendiri; menjadi kalimat-kalimat yang sukar. Anak manusia ditelan tensi-tensi yang mendidih di kepala: change/sustainability, berubah/berkelanjutan? Kita menelan retorika-retorika yang membikin pusing. Seperti seorang tua yang tak jelas mau apa. Dan kita lupa berhenti merenung.

Wageningen, 6 April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s