Kind People

Orang baik ada dimana-mana, tulis seorang teman. Benar juga. Tapi mungkin tak sepenuhnya. Di banyak tempat, orang-orang lebih suka menebar ancaman, kebencian, dan ketakutan. Di Mentawai, semua itu tak ada. Saya selalu berpikir, selama disini, bahwa orang Mentawai adalah orang-orang paling baik yang pernah saya temui. Apapun definisi ‘baik’ itu, atau apakah baik-jahat hanya sekadar penjara konseptual, tak akan mereduksi persepsi saya tentang orang-orang Mentawai.

Tentu saja, saya tak akan luput membawa-bawa stereotip. Namun, saya tak peduli. Buat saya, stereotip bukan sesuatu yang negatif. Orang-orang telah lama menempelkan konotasi negatif pada kata ‘stereotip’. Yang berbahaya sebenarnya adalah generalisasi, bukan stereotyping.

Orang-orang Jawa, misalnya, dikenal sebagai orang dengan tutur kata yang halus. Tapi itu tak bersinonim dengan ‘baik’. Keris di punggung adalah simbolisasi untuk itu. Orang-orang Jawa, saya pikir, lebih suka berbicara di belakang, di balik kata-kata halus yang mereka utarakan. Di Toraja, kita bicara dengan lebih terus terang. Tapi, kadang-kadang kebiasaan itu malah jadi kebablasan. Perkelahian, entah mulut atau fisik, sudah jadi hal yang normal. Kita tak perlu mempersoalkannya.

Jelas sekali bahwa saya main aman dengan mengambil contoh Jawa dan Toraja. Keduanya mengalir dalam darah saya. Jadi, setidaknya saya tahu bahwa saya hidup dalam kontradiksi-kontradiksi itu. Baik-jahat selalu jadi persoalan yang relatif. Kita akan mendebatnya selamanya.

Dulu, bapak saya selalu bilang bahwa saya harus jadi orang baik. Itu yang utama. Pintar dan hal-hal lain adalah persoalan ke sekian. Baik adalah kunci. Tapi, menjadi baik bukan hal yang mudah. Saya pikir saya selalu gagal untuk menjadi baik, bahkan untuk sekadar menjadi tidak jahat. Di Siberut, saya mengingat nasihat bapak lagi, dengan contoh yang di depan mata. Orang-orang Mentawai, buat saya secara personal, adalah representasi paling paripurna untuk ‘orang baik’. Sejauh ini.

Sekarang saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa yang saya maksud ‘baik’ dan ‘orang baik’. Tapi saya pikir itu tak perlu. Usaha semacam itu akan menjadi kesia-siaan. Baik-jahat, sekali lagi, adalah personal dan relatif. Saya bisa menyebut ajektif ‘tulus’, ‘tidak pemarah’, ‘tidak pendendam’, ‘santai’, ‘tidak suka bikin masalah’, ‘tidak mencuri’, ‘tidak mengancam’, dan lain-lain untuk menjelaskan maksud saya. Tapi rasanya tidak perlu. Ini urusan yang lebih personal dari agama.

Sekarang, cita-cita saya cuma ingin jadi orang baik. Apa pun maksudnya.

(Muntei, 2 Januari 2018)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s