Sofia

Semuanya selalu berupa ingatan-ingatan. Ia berasal dari masa lampau yang tak pernah dicatat. Ia mengerak menjadi partikel-partikel di dalam kepala. Lalu, pada suatu masa yang tak pernah direncanakan, ia akan menguar ke udara. Seperti hari ini. Saat saya berdiri di bibir pantai, di Mappadegat, Sofia mendekat dan menjelma melankolia dari musim panas.

Persisnya adalah hari penuh pertama. Setelah Mestre, Venezia, dan Redentore yang memabukkan. Hari itu begitu jauh. Tapi saya mengingatnya dengan detil-detil yang melenakan. Pada sebuah siang, di jalan-jalan kota. Setelah katedral Levski yang megah, setelah orang Afrika itu mengobrol sekenanya: tentang Amsterdam dan dosa-dosa masa muda.

Saya menuju galeri nasional: mencari-cari celah untuk mengisi hari, mencari kesenian untuk mengisi apa-apa yang kosong di dalam paru-paru. Adalah foto-foto tentang mulut yang terbuka. Sebuah epik. Saya selalu bingung bagaimana cara kerja seniman-seniman itu. Ide, mungkin saja, meletus di kepala mereka tanpa aba-aba. Setelahnya adalah maestro.

Jalan-jalan Sofia tampak terang. Taman kota menjadi tempat berteduh, dari matahari yang menyengat, di sebuah musim panas 30-an derajat di Balkan. Free walking tour di pagi hari telah menyandera tubuh ke dalam keringat-keringat. Shakira berpose di depan tulisan Sofia, di dekat gedung besar yang terlupakan. Di sini, orang begitu mudah melupakan sejarah.

Komunisme telah berakhir. Orang-orang sedang beranjak ‘Eropa Barat’. Ia telah jadi semacam ajektif, sebuah mantra development. Atas nama taraf hidup, atas nama uang di saku celana, anak-anak Bulgaria belajar melupakan kiri. Demi janji manis bernama Uni-Eropa. Mereka ingin setara. Mereka ingin lepas dari label itu: negara paling miskin di Uni Eropa.

Saya menyantap coklat dan cappuccino, di sebuah kedai antik dekat Vitosha. Shakira mulai bercerita tentang banyak hal: London, Australia, Spanyol, Balkan. Sehabis ini adalah Georgia, katanya. Di ujung malam, kita berpelukan di antara jendela. Gelas-gelas alkohol telah tandas bersama anak-anak dari Mexico City: tiga orang guru dan satu pengarang.

Hari pertama di Sofia telah berakhir begitu saja. Bulgaria telah membuka dirinya untuk saya. Tiga minggu yang menyenangkan akan berlalu. Begitu lekas, begitu membekas. Bulgaria is one of the best things that ever happened to me. Hari ini, di sebuah teras di Mappadegat, saya merindukannya dengan menggebu-gebu. Dengan keinginan untuk kembali.

(Mappadegat, 28 November 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s