Sibiu

Saya teringat Sibiu, pada sebuah malam yang terang di musim panas. Bukares memberi saya nyeri di perut, entah karena Tuborg atau croissant yang aneh. Maka, saya melewati jam-jam yang melelahkan di central station. Di ruang tunggu, saya nyaris menghabiskan seperempat The Wild Truth. Gadis-gadis Romania berpantat seksi memasuki ruangan, mengganggu kalimat-kalimat yang saya baca. Lalu jam kian dekat ke jadwal kereta.

Bukares-Sibiu, saya nyaris selalu sendiri di kompartemen. Jadi saya bisa tidur telentang. Saat terduduk, bukit-bukit hijau mengisi mata saya. Lalu sawah-sawah yang panjang dan lebar. Di Brasov, sepasang ibu-anak masuk ke kompartemen saya. Kami mengobrol seadanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Lalu mereka meninggalkan saya: pertama lewat obrolan berbahasa Romania, kedua secara literal keluar kereta.

Tiba di Sibiu, saya berjalan ke hostel masih dengan perut yang nyeri. Lalu saya keluar mencari makan di restoran Italia yang agak fancy. Saya ingin nasi. Maka, risotto adalah solusi. Restoran Cina ada entah dimana, jauh dari pusat kota. Tapi, nasi tak cukup mengusir nyeri. Tidur, pada akhirnya, adalah jawaban. Saya tidur begitu pulas di malam pertama di Sibiu. Namun, saya masih bangun dengan sedikit nyeri di perut. Tinggal sedikit lagi, pikir saya.

Saya mencari sarapan di carrefour: pisang dan yogurt, atas nama kesehatan. Seorang gadis Romania menemani saya sarapan, kita mengobrol dengan bahasa Inggris yang tak terlalu patah-patah. Ia berasal dari sebuah desa di selatan, di perbatasan dengan Bulgaria. Ia cerita, dulu ia sering dadah-dadah dengan orang-orang Bulgaria di seberang sungai. Di Eropa, sungai menyambungkan kota-kota, tapi juga menjadi garis pembatas.

Siang begitu terik di Sibiu. Perempuan-perempuan Romania begitu menggoda di musim panas. Rambut yang hitam dan baju seadanya. Lalu saya mengunjungi Jorge dan Thais di hostel sebelah. Bir urung bersahabat, jadi saya memesan jus jeruk. Ada seorang Kolombia yang diadopsi pasangan Norwegia sejak kecil. Ia tak berbahasa Spanyol. Wajahnya begitu Latino, tapi Nordic adalah budaya yang mengalir di darahnya. Ia adalah semacam hybrid.

Jorge dan Thais menukar uang untuk Dinar Serbia. Mereka akan menuju Beograd malam nanti. Dengan kereta menuju Timisoara, lalu ke perbatasan, lalu menyambung dengan entah apa hingga sampai ke tengah-tengah Serbia. Kami berpisah dengan pelukan. See you again. Saya akan menemui mereka di Beograd. Mereka telah memesan AirBnb selama sebulan. Setelah berpindah-pindah hostel, mereka kelelahan. Beograd akan menjadi semacam tetirah.

Dengan perut yang nyeri, tak banyak yang saya lakukan di sisa hari. Makan malam seadanya dan tidur yang cepat. Gadis Inggris itu tiba di sore hari. Dia akan tidur di kasur tepat di atas saya. Di malam hari, dia begitu gelisah karena dengkuran pria di kasur sebelah. Saya bangun begitu dini, kira-kira pukul enam. Taksi membawa saya ke terminal kecil di dekat stadion kecil. Flixbus itu tiba juga. Sebelas jam akan berlalu sebelum Budapest muncul di jendela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s