Jakarta di Torino

‘If you stay, then I will stay. Even though this town is not what it used to be.’

Di perpustakaan di Parco del Valentino, saya membayangkan Jakarta. Lalu saya membuka Spotify dan spontan mengetik ‘Jakarta’ di kolom search. Lalu lagu-lagu itu mengalun di telinga, seperti sepotong mimpi yang liris. Dan saya merindukan Jakarta dengan perasaan yang aneh. Disana ada kengerian tentang macet, tentang hal-hal yang asing di Eropa. Tapi, disana, saya merasa ada sesuatu yang akrab, yang tak pernah saya temui di kota-kota di utara. Entah apa. Mungkin semacam keterikatan yang subtil, kelekatan yang remeh, atau sense-of-belonging yang tak diinginkan.

Tak sehari dua hari kegiatan itu saya pelihara. Termasuk di perpustakaan di Lingotto, lagu-lagu tentang Jakarta menghiasi hari-hari saya menyusun tinjauan pustaka tentang air dan laut. ‘I forget Jakarta, all the friendly faces in disguise,’ kata Adhitia Sofyan. Di Torino, dua perasaan itu bertubrukan seperti biji-biji kopi di dalam blender. Saya membenci dan merindu secara bersamaan, seperti kisah cinta yang tak mudah. Pada Jakarta, sebenarnya saya merindu sesuatu yang kacau, yang chaotic. Sebab Eropa terlalu membosankan, terlalu lurus-lurus saja. Saya ingin mengendarai motor di trotoar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s