di-antara

Sebenarnya ini cerita tentang tipsy.

Ceritanya saya sedang ngobrol via Whatsapp dengan perempuan yang hobinya minum anggur, entah Merlot atau cap orang tua, kalau kata Silampukau. Dan kita membahas soal tipsy. Mungkin tak sepenuhnya ‘kita’, atau tak sepenuhnya ‘membahas’, karena saya merasa saat itu saya hanya melantur tidak jelas saja. Seperti saat ini, atau banyak saat-saat yang lain.

Ceritanya saya sedang menulis tesis tentang surfing. Dari salah satu artikel, saya jadi tahu bahwa area paling accessible buat main surfing disebut littoral area. Secara oseanografi, kata teman saya yang banyak tahu soal laut, littoral area adalah daerah dimana swell (gelombang) dari laut lepas mulai pecah, lalu menggulung menjadi surf. Ombak surf inilah yang jadi mainan surfer-surfer itu. Surfing, pada dasarnya, adalah apa yang dilakukan di littoral area tadi, di daerah yang, mengutip Anderson, both between and beyond land and sea. Ia berada di antara keduanya, tapi bukan keduanya. Ia ada di tengah-tengah. Seperti jembatan. Seperti spasi yang menghubungkan kata.

Di di-antara (in-between) itulah sebenarnya banyak hal terjadi. Surfing salah satunya. Anderson menyebutnya sebagai liminal space. Coba bayangkan kalau saya menulis tidak pakai spasi, andakanjadiagaksusahbacanya. Coba bayangkan kalau tidak ada jembatan, bagaimana caranya sepasang kekasih dari dua desa yang bersebrangan bisa ciuman. Tanpa disadari, kita berhutang pada banyak di-antara ini. Mungkin bukan hutang yang perlu dibayar sih, tapi tetap saja. Hutang adalah hutang.

Tipsy adalah salah satu di antara di-antara itu. Ia adalah posisi di antara mabuk dan tidak-mabuk, antara sadar dan tidak-sadar. Tapi ia bukan salah satunya. Ia bukan apa-apa. Ia hanya perantara. Ia nyaris menjadi mabuk atau sadar, tapi tidak keduanya. Pada titik itu, segalanya bisa terjadi. Kita bisa melantur, kita bisa tertawa, kita bisa menulis puisi seperti Kerouac. Tapi kita tidak mabuk. Tapi kita tidak sadar. Jadi, kita akan baik-baik saja. Kita masih bisa berpikir agak lurus layaknya orang sadar, tapi kita sudah memasuki fase agak enak layaknya orang mabuk. Disana, kesadaran dan ketidaksadaran bertemu, seperti dua orang yang berpapasan di jalan.

Menjadi tipsy, seperti halnya berjalan di jembatan atau mengetik spasi di komputer, sebenarnya adalah tentang jarak dan jeda. Selama ini, dalam kesadaran, kita berjarak dengan sesuatu yang sublim di dalam diri kita, yang kadang tak tersentuh oleh sobriety. Kesadaran memisahkan kita darinya, sampai kita minum atau menyerap substansi-substansi lain, dan sampai di titik itu: tipsy. Tapi awas jangan mabuk. Karena saat mabuk, semuanya akan berantakan. Yang sublim itu, bisa saja mengerikan. Kita harus memberinya garis batas. Seperti bluebird-nya Bukowski.

Dan, menyoal jeda, tipsy adalah area dimana kita tak perlu menjadi apa-apa. Kita belajar melupakan omong kosong di kampus dan kutipan-kutipan keren di novel. Kita mengambil jeda dari dunia, dari yang real, mungkin juga dari diri kita sendiri. Lalu, kita menjelma sesuatu yang berbeda, yang agak gamang, tapi sebenarnya adalah bagian dari diri kita, yang kita sembunyikan dalam-dalam, karena ia tak mendapat tempat di kesadaran. Tapi, sekali lagi, awas jangan sampai mabuk.

Ngomong-ngomong, ‘Diantara’ keren juga ya kalau jadi nama anak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s